Search This Blog

Thursday, December 31, 2009

A Contemplation The End Of The Year


The end of the year's near. Long weekend was here. It's nice. It's warm, and it's harmony. It's time for us to review our life journey. It's time to make a contemplation. Enjoy your long weekend. Enjoy your contemplation.

Here's a wise words of Dalai Lama....


"I believe that the very purpose of life is to be happy. From the very core of our being, we desire contentment. In my own limited experience I have found that the more we care for the happiness of others, the greater is our own sense of well-being. Cultivating a close, warmhearted feeling for others automaticaly puts the mind at ease. It helps remove whatever fears or insecurities we may have and gives us the strenght to cope with any obstacles we enconter. It is the principal source of success in life. Since we are not solely material creatures, it is a mistake to place all our hopes for happiness on external development alone. The key is to develop inner peace"

-Dalai Lama-


Have a wise contemplation with your own vision. Happy New Year 2010.

For my best friend Fanda, hehe, I dont have some word for those resolution. More than everything, I want the universe's better than the past. I want all of us have our own vision to make our life and our universe better. So..., let's take a good chance. Love yourself with honestly way.


Wednesday, December 30, 2009

Renungan Tentang Newsoul, Sayangi Dirimu



Malam mulai meringkuk lagi sobat. Untungnya, tidak hujan malam ini. Lalu, tanpa bisa saya hindari, tiba-tiba saja saya ingin menulis sesuatu. Maka, he, terpaksa buka laptop lagi lalu mulai menulis dengan judul di atas.

Tuesday, December 29, 2009

Desember Dan Setitik Air Di Kedua Sudut Matanya


Suatu sore di bulan Desember. Hujan baru saja reda. Jendela basah. Dedaunan dan ranting basah. Tanah membasah. Segalanya basah. Dan kebasahan itu melanda juga kedua sudut matanya. Ya, setitik air mengumpul di sudut kedua matanya.

Sudut mata yang membasah itu menyinarkan kilaunya. Kilau pada cahaya yang tiba pada retina bola matanya. Sementara, di retina bola mata yang lain, sebuah sinar juga berkilau. Entah sinar apa. Tak ia pahami. Tak pula bisa ia mengerti. Hanya, ia merasakan sinar itu adalah sinar yang dulu mempertemukan mereka. Sepasang anak manusia yang bertemu, hidup bersama dalam suka dan duka, lalu berpisah di bulan Desember.

Tiba-tiba, setitik air di sudut kedua matanya jatuh......perlahan-lahan. Tak bisa ia tahan. Begitulah tentang Desember dan setitik air di kedua sudut matanya. Sang Angin Selatan si saksi bisu cuma bisa terpaku. Betapa sinar titik airmata tadi telah menyilaukanya.

Gambar diambil dari sini

Sunday, December 27, 2009

Penumpahan Resah Di FB Yang membosankan


Kenapa saya bosan, kalau tidak bisa disebut eneg, dengan penumpahan resah sebagian besar orang-orang...? Belum ada jawabannya. Kenapa saya mulai muak dengan hasrat sebagian besar orang-orang yang begitu bernafsu ingin menasehati dan menceramahi orang lain...? Juga belum ada jawabannya. Begitulah kebosanan saya pada hingar bingar keresahan di FB. Sebuah situs jejaring sosial terlaris saat ini, yang mungkin juga anda ikuti.

Saya melihat status yang dituangkan berisikan nasehat, penggalan ayat suci dan hadist sangat dipaksakan, terlihat sekedar menutupi resah. Entahlah. Mungkin saya berlebihan. Ketika hal ini sempat saya kemukakan secara jujur di status saya. Salah satu dari penceramah instant itu menjawab secara terburu-buru. "mba.....saya sedang menasehati diri saya sendiri", begitulah katanya. Saya takjub. Kalau begitu kenapa tidak diresapi saja sendiri dalam hati, tanpa harus menumpahkannya di home, dan memaksa orang-orang untuk membacanya, ujar saya dalam hati, hiks.

Begitulah. Mungkin saya memang sedang berlebihan. Mungkin itulah jawabannya. Akhirnya, supaya aktivitas silaturrahim dengan kolega, karib dan kerabat di situs tersebut tetap berjalan lancar dan santai, orang-orang dengan kecenderungan tadi biasanya saya hindari. Sebuah cara instan juga. Bagaimana pendapat anda...?

Gambar diambil dari sini

Saturday, December 26, 2009

Semangkuk Tekwan Dan Gerimis





Gerimis tiba di kota ini. Gerimis ini, seperti ungkapan sebuah lagu, agak mengundang. Mengundang sebuah sensasi di jiwa, dan....mengundang rasa lapar. Maka terbersit segala keinginan akan berbagai makanan yang menggugah selera. Kali ini, tidak jauh-jauh, he, selera kampung muncul di benak. Tekwan. Ya betapa menyegarkan menikmati semangkuk tekwan hangat di tengah gerimis.

Maka seperti biasa, srat-sret-srut, sedikit berkutat di dapur. Jadilah sepanci tekwan yang siap disajikan untuk keluarga di tengah gerimis ini. Tekwan dan gerimis. Barangkali terdengar aneh, tapi rasanya, bagi keluarga saya, lumayan mantap. Selamat menikmati hari libur anda kawan. Mungkin selera khas sesuai keinginan anda sedang mengemuka juga saat ini. Bubur Manado, Gudeg Jogya, Iga Bakar Conro, Soto Madura, atau Coto makasar, apapun, hm...pasti membuat nyaman perut dan menghangatkan suasana di rumah. Saya dan keluarga hendak meneruskan soal Tekwan dan gerimis tadi ya. Selamat sore semua.

Friday, December 25, 2009

Alhamdulillah, Kalender Kembali Merah


Seperti kebahagiaan sang rumput liar yang mendapat curahan sinar matahari pagi, sebuah sukacita tiba hari ini. Ya, alhamdulillah, hari ini tanggal di kalender kembali merah. Kalender merah tiba, sukacitapun tiba. Menyenangkan mendapati hari yang tidak terburu-buru. Sarapan pagi dengan secangkir kopi hangat yang lumayan santai. Menikmati kicau burung. Memandang indahnya rerumputan liar. Memeriksa tanaman-tanaman kesayangan, dan tentu saja bercengkrama dengan keluarga. Libur telah tiba.

Maka mari kita nikmati libur singkat ini, sebelum libur lain (Tahun Baru) juga tiba. Betapa setiap hari, pun hari dengan kalender merah ini, harus disyukuri. Setidaknya kita mensyukuri selalu diberiNya anugrah. Pekerjaan, keluarga, dan kesempatan untuk saling berbagi. Maka mari bersyukur atas diberiNya juga kesempatan untuk sedikit mengendurkan syaraf dan otot yang kencang karena kesibukan kita. Selamat pagi semua. Selamat menikmati libur anda. Selamat Hari Natal bagi rekan-rekan yang merayakan. Sukses dan barokah untuk kita semua.

Wednesday, December 23, 2009

Hujan Di Sore Yang Sepi Itu


Entah telah berapa sore saja hujan turun di bulan ini ketika ia turun kembali di suatu sore yang sepi. Seperti hujan pada sore-sore sebelumnya, hujan kali itu merinai dengan niat bulatnya. Deras tanpa malu-malu. Dan entah kenapa kali itu si hujan membuat sang sore bertambah sepi. Ia membuat langit makin gelap. Tanaman-tanaman terlihat menengadah sekaligus mengaduh ketika ditimpa butirannya. Hewan-hewan terlihat diam tak bersuara. Orang-orangpun jadi enggan keluar rumah. Jalanan sepi. Suasana sepi. Begitulah tentang sebuah hujan di suatu sore yang sepi.

Ketika itu...., saya cuma bisa menatap sang hujan. Tentu sambil menikmati secangkir kopi. Ya secangkir kopi dimana saya bisa menghalau dingin dan sepi sore itu. Maka bagaimanakah menurutmu wahai Angin Selatan tentang hujan yang juga kau rasakan di sore yang sepi itu...? Tak ada jawaban. Saya cuma merasakan hembusannya. Hembusan yang juga terasa sepi. Dan sepi ini terasa indah kawan.

Gambar diambil dari sini

Monday, December 21, 2009

Dia Yang Meng"Ibu"kan Jiwanya


Dia ibu yang tak sempat melahirkan putranya, sebab kehadiran sang anak terenggutkan oleh waktu. Dia ibu yang mencoba meniupkan semangat pada jiwa anak-anak di sekitarnya meski mereka tak memanggilnya ibu. Dia ibu yang air matanya menetes saat menatap jiwa-jiwa perih itu berteriak memanggil "Ibu" pada ibu mereka. Selamat hari Ibu untuk semua ibu siapapun mereka. Begitulah ucapan lirih seseorang yang meng"ibu"kan jiwanya.

Gambar diambil dari sini

Sunday, December 20, 2009

Antara Haryo Pramoe dan Farah Quinn

Tidak sengaja tadi nonton acara Harmoni Alam (memasak di alam terbuka) si Haryo Pramoe (tau kan acara itu ?). Seperti biasa, cara memasaknya sederhana, dengan alat seadanya, dan di alam terbuka. Ketika saya melihat si Haryo memasukkan bahan isi lumpia ke kulit lumpia dengan menggunakan tangan. Ow, tangan bertato itu, pasti sudah cuci tangan, dengan PDnya mencengkam isi lumpia, lalu menggulungnya, hihihi. Terbayang saja masa jadi anak kost dulu, hehe. Masak oblok-oblok, istilah saya. Resep suka-suka, bahkan ngawur. Tapi karena anak kost maunya serba cepat, ya tidak masalah. Kalau untuk dimakan sendiri atau rame-rame teman saat kemping atau perjalanan off road, ya tidak masalah. Memasak itu tidak kaku, dan harus menyenangkan. Setiap laki-laki dan perempuan harus bisa memasak, katanya. Namanya juga acara Harmoni Alam, konsep acaranya seperti itu. Dan acara ini sukses.

Begitulah kalau lelaki yang memasak. Bagaimana kalau perempuan yang memandu acaranya ? Salah satu contoh Farah Quinn. Chief cantik itu selain mengebyar layar kaca dengan keahlian memasak ala hotel berbintang, juga menampilkan sentuhan khasnya. Cantik, seksi, dan ilmu kulinernya mantap. Saat ia memasak aura kecantikannya makin terlihat. Lihatlah tanganya yang langsing itu ketika memeras jeruk nipis atau memecahkan telur, sampai otot-otot lengannya terlihat. Katanya itu semakin membuat dia terlihat anggun. Dan acaranyapun sukses.

Jadi Antara Haryo Pramoe dan Farah Quinn, masing-masing punya gaya sendiri, sesuai dengan jenis penonton yang ditargetkan. Kedua acara itu sukses. Kalau kita sedang di perjalanan, sedang riset, sedang di daerah terpencil dimana kita harus memasak sendiri dengan peralatan sederhana, mungkin lebih cocok mengikuti gaya memasak Haryo Pramoe. Nah..., kalau kita sedang ada banyak waktu, sedang di rumah, peralatan lengkap, bahan ada, ya tidak ada salahnya mencoba memasak ala Farah Quinn. Selain menyenangkan keluarga, pasti menyenangkan diri sendiri. Mumpung libur, ayo silahkan dicoba bagi yang suka memasak. Selamat meghabiskan weekend.

Friday, December 18, 2009

Call Me Bloggerita, Bisik Zahra

Call me bloggerita....., suara lembut itu meminta dengan syahdu. Dialah senorita Zahra Lathifa. Seorang blogger dari Pekanbaru. Seorang ibu yang mencintai anak-anaknya dan selalu menginginkan kebahagiaan. Maka saya jawab, tentu saja sobat. Sebab anda memang bloggerita (blogger wanita). Maka inilah wujud permintaan lembutnya.





Ya sebuah award indah. Saya pilih ini dari tiga pilihan yang diberikan untuk para bloggerita. He, pas tadi mampir ke tempat Trimatra, ternyata selera kami sama (kenapa Trimatra pilih jatah yang buat para blogger wanita...?, hayo jawab Tri. Becanda ya, suka-suka Trimatra dong mau pilih yang mana).

Kebetulan gambarnya burung dengan latar warna biru yang lembut. Sang burung sedang terbang dan membawakan bingkisan. Sebagaimana sebuah bingkisan yang selalu dinanti, semoga semangat para blogger untuk selalu berbagi empati dan support senantiasa ada. Terimakasih sobat atas award indah ini.

Award ini saya anugrahkan untuk para bloggerita yang lain, yaitu
Semoga berkenan. Ayo para blogger dan bloggerita, semangat dan mari sebarkan cinta.

Thursday, December 17, 2009

Si Perdu Narsis Di Tepi Kolam Pada Suatu Pagi


Entah kapan dan dimana saya pernah membaca beberapa penggal kalimat tentang Narcissus sang tanaman pengagum dirinya sendiri yang tumbuh di tepi kolam sehingga lahirlah istilah Narsis. Apakah di salah satu roman zaman dahulu yang saya baca saat masa SMA ...? Apakah di salah satu sajak Sapardi Djoko Damono...? Masih belum ada jawabannya. Betul-betul ketidakjelasan yang menimbulkan penasaran.

Maka tanpa saya tau sebabnya, pada suatu pagi yang masih agak gelap, berdirilah saya di tepi kolam yang entah dimana. Sepi saja suasana disana. Dingin berkabut lembut yang perlahan-lahan mulai hangat oleh sinar matahari. Ketika matahari mulai menerangi dengan terang benderang, pemandangan kolam dan sekitarnya mulai jelas terlihat. Kolam yang tidak begitu luas. Agak sedikit lebih besar dibanding empang ikan di Balai Diklat tempat saya bekerja awal dulu. Kolam yang bentuknya agak menyempit di ujung kanan, menyerupai estuarium sebuah delta.

Di atas permukaan kolam ada beberapa tanaman teratai mengambang dengan bunganya yang putih. Agak jauh dari kolam tumbuh beberapa rumpun ilalang dengan bunga bak harum manis langsing yang juga berwarna putih. Di tepi kolam terlihat beberapa perdu kecil dengan bunga bulat seperti lonceng berwarna kuning. Inikah sang Narcissus...? Tentu saja sang perdu tidak menjawab. Dia tampak malu-malu, sibuk dengan dirinya sendiri. Saat saya tatap air kolam di bawah sang perdu tumbuh, tampaklah sang perdu dengan senyumnya percaya dirinya yang anggun. Ternyata sang perdu sedang menatap dirinya sendiri dengan bangga di air kolam. Sayapun tersentak. Meski ia mungkin bukan perdu Narcissus yang dimaksudkan tulisan yang pernah saya baca, ialah Sang Narsis. Ya salah satu perdu narsis yang hidup di tepi kolam.

Betapa sebuah kelegaan memang harus dihargai. Maka sayapun menghargai kelegaan yang dimiliki sang perdu terhadap dirinya sendiri. Bukankah ini salah satu perwujudan rasa syukur terhadap apa yang ada dalam diri. Cuma, kalau sering-sering seperti sang perdu yang tidak mau jauh dari kolam tempatnya berkaca, maka menjadi narsis yang berlebihan. Begitukah ? Entahlah.

Sepenuhnya senyap saja. Angin di sekitar kolam mulai membelai-belai kulit saya dengan berani. Selain itu, saya takut sesuatu dalam diri saya tak bisa saya kendalikan. Segera saya jauhi kolam itu, he, takut menjadi narsis. Sungguh sebagian kita (saya, anda) telah menjadi narsis tanpa kita sadari. Begitukah ? tanya si angin Selatan. Sekali lagi, entahlah.

Gambar diambil dari sini

Wednesday, December 16, 2009

Rani Oh Rani, Ketika Rayuan Itu Dikumandangkan

He, sebetulnya saya tak begitu perduli soal si Rani oh Rani ini. Malas saja memikirkannya mengingat pekerjaan saya lebih membutuhkan perhatian. Dan semalam, juga pagi ini, sesuatu tiba-tiba membuat sata tersentak. Ketika rayuan dengan nada cekikan dan manja sang Rani oh Rani dikumandangkan.

"Bapak...., jangan ngambek dong...."
"Aku ikut ke Eropa yak...."
"Besok main yak...."
"Bapak...., suami aku ditangkap..."
"Al Amin, hihi...."

Serta merta syaraf kegeraman saya bangkit. Tentu bukan geram pada sang Rani oh Rani itu. Geram pada sesuatu yang telah membuat cekikikan dan bisikan manja itu menjadi sebuah kekacauan berdarah, menghebohkan, dan makin mengonjang-ganjingkan para kadal dan buaya. Ampuni kami Rabb.......atas dunia yang tak mampu kami tata ini.

Tuesday, December 15, 2009

Cinta Kita, Dimana Kehangatan Selalu Ada


Kenamanakah tujuan sang pengembara...?
Mencari cinta dimana kehangatan selalu ada
Dimanakah cinta tanyanya
Di jiwa yang selalu hangat

Maka cintailah cinta
Cinta pada semesta dimana cinta bukan dusta
Cintailah cintaNya
Cinta dimana kehangatan selalu ada

Gambar diambil dari sini

Sunday, December 13, 2009

Sebuah Sentuhan Jiwa


Apakah jiwa hanya dimiliki benda yang hidup....? Tentu saja, bila jiwa kita artikan sebagai seseuatu pemberi nyawa yang membuat suatu benda bernafas. Dan jiwa yang saya maksudkan disini, lebih kepada ruh atau aura, hal yang membuat sesuatu, benda mati sekalipun, memiliki aura yang hidup.

Maka lihatlah sebuah lukisan, sebuah patung, atau sebuah vas bunga. Bila ia memancarkan aura kepada lingkungan di sekitarnya, bagi saya ia memiliki jiwa. Tentu ini menurut saya. Pandapat lain, apapun, ya sah-sah saja.

Saya pernah melihat sebuah lukisan seakan tersenyum pada saya. Saya pernah melihat sebuah restoran yang konsep penataannya menyentuh jiwa saya, seakan melambai-lambai mengajak saya masuk ke dalamnya. Saya pernah melihat sebuah pondok yang seakan menawarkan kehangatan untuk berteduh.

Artinya...... bila konsep jiwa ini diterapkan pada sebuah bisnis, maka inilah yang mereka sebut daya tarik. Ya...., awal daya tarik adalah sentuhan jiwa di dalam sebuah benda. Barangkali inilah yang diterapkan para pengusaha agar produk mereka disukai konsumen. Bisnis yang memiliki konsep menyentuh jiwa. Bisnis yang tidak sekedar bisnis. Bisnis yang memikirkan kepuasan jiwa pelanggan. Barangkali ya.

Rasanya ini berlaku tidak hanya pada bidang bisnis. Apapun produk yang kita hasilkan, sebuah konsep pemikiran, sebuah proyek besar atau kecil, sebuah tulisan, sebuah lukisan, sebuah benda kerajinan tangan, dan sebagainya, seyogyangnya memiliki jiwa. Dengan demikian produk yang kita hasilkan tak sekedar produk, tapi sebuah kehangatan jiwa. Bagaimana menurut anda.....? Anggap saja ini selingan pemikiran di hari minggu. Begitulah bisik si Angin Selatan kawan.

Gambar diambil dari sini

Saturday, December 12, 2009

Pagi Di Atas Daun


Pagi di atas daun. Ia akan selalu tiba tanpa bisa ditolak kedatangannya. Seperti tibanya sinar mentari yang menyembul di balik pepohonan setiap hari. Pagi di atas daun ini menimbulkan nuansa tersendiri saat saya tatap. Di atasnya ada setetes embun. Embun yang juga tak bisa ditolak kedatangannya. Bahkan selalu ditunggu sang daun. Maka daun dan embun saling melengkapi keindahan pagi ini. Pagi di atas daun, hm.....indah bagi saya. Betapa semesta selalu mengalir dan mengajari kita tentang sesuatu, apa saja, yang tertangkap oleh jiwa kita yang terbatas ini. Selamat pagi dunia.

Thursday, December 10, 2009

Savanna Diantara Kepulan Asap Kopi


Ritual menikmati secangkir kopi sore ini agak lain. Entah kenapa tiba-tiba ingin diiringi "Savanna" si Toure (Ali Farka Toure). Maka jadilah sore tadi saya mencari-cari Savanna pada perangkat musik di laptop butut saya. Savanna diantara kepulan asap kopi. Hm.....nikmat.

Ya, tidak hanya sensasi nikmatnya secangkir kopi yang saya rasakan. Sensasi berada di padang rumput luas dengan angin semilir dan dengan lengkingan khas si Toure menambah kelengkapan rasa. Rasa nyaman dan lega sambil menghilangkan lelah pulang kerja. Rasa dilepaskan dari penat yang menumpuk setelah selama 2 (dua) hari meninggalkan si angin selatan menunaikan tugas luar. Betapa kesibukan kadang menyita kegembiraan kita.

Begitulah indahnya savanna diantara kepulan asap kopi. Diantara denting gitar dan lengkingan suara Ali Farka Toure dan diantara kepulan asap secangkir kopi, saya melihat anak-anak kecil, ibu-ibu rumah tangga, remaja, bapak-bapak, bahkan nenek-nenek, penuh semangat mengunpulkan koin (koin dukungan) untuk Prita Mulyasari. Diantara savanna dan kepulan asap kopi itu sayapun melihat dengan lega bahwa tanggal 9 Desember kemarin berlalu dengan cukup tenang (tanpa chaos seperti yang dikhawatirkan mereka).

Betapa jalan keluar dan kelegaan seperti ini harus dirayakan. Meski hanya dengan memutar lagu savanna sambil menghirup secangkir kopi. Ya kita semua, mari kita cari sesuatu yang patut kita syukuri. sekecil apapun, pasti ada kan.

Gambar diambil dari sini

Monday, December 7, 2009

Si "Motif Lain" Yang Menggemparkan

Si motif lain sedang gencar dibahas disana-sini. Si motif lain ini, kenapa begitu menggemparkan ? Kenapa begitu ditakuti.....? Saya geleng-geleng kepala diantara rasa lelah saya. Heran, agak bercampur jengkel. Saat mandi tadi, saya sempat merenung singkat. Mahluk menakutkankah si motif lain itu...?

Hm, tentu saja bukan saya yang akan menjawabnya (wong saya sedang bertanya). Saya masih tetap merasa heran yang bercampur agak jengkel tadi. Sambil mengeringkan rambut di depan laptop butut ini izinkanlah saya melepaskan keheranan saya.

Apakah si motif lain ini ditakutkan karena motifnya aneh, langka, atau berbahaya. Motif apa ya kira-kira..., motif abstrak, motif klasik, motif surealis ala Salvador Dali...? Mungkin si motif lain inilah yang diletakkan secara paksa pada bu Prita (dikira motifnya mencemari keindahan kain lorri si Omni). Mungkin si motif lain ini diduga telah bertengger untuk acara demo yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 Desember nanti (2 hari lagi ya). Demo Hari Anti korupsi, konon katanya ditunggangi motif lain ?

Entahlah. Apakah kita sudah menjadi begitu berlebihan dalam memelihara syak wasangka kita. Sekali lagi entahlah. Semoga ketakutan akan adanya motif lain ini tidak menggetarkan langit sehingga malah mendorongnya menjadi sebuah kenyataan. Semoga saja tidak. Saya cuma berharap tangal 9 Desember nanti tidak terjadi macet, apalagi chaos disana. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Jadi, sambil tetap waspada, mari tepiskan ketakutan akan adanya motif lain ini. Mari........

Sunday, December 6, 2009

Seseorang yang Menggugat Rasa


Ia seperti air laut yang menepi dan surut,
ketika sesuatu di dada menciut ke titik nol.
Ia seperti air laut menerjang dan pasang,
ketika sesuatu di dada membuncah tak bertepi

Bila ia adalah busa, maka ia adalah secuil busa di tengah samudera luas. Begitulah kira-kira keberadaanya di alam semesta ini. Ia seseorang, seorang manusia, yang menapaki bola raksasa bernama "Bumi" ini. Dan seseorang ini, tanpa bisa dicegah oleh waktu, menggugat rasa.

Rasa apakah yang ia gugat....? Pertanyaan ini seketika muncul. Dan jawabannya adalah.....rasa yang tak menggenapkan. Rasa yang dirasa-rasa. Rasa yang ketika muncul membuat sesuatu mengelegak di dada. Rasa yang membuat pandangan menjadi gelap, dan menyesakkan. Rasa itulah yang harus digugat. Gugatlah dengan nurani yang ada. Bukankah perjalanan hidup sepanjang jalannya telah mengajari kita.

Maka perlukah lagi kita menggugat bahagia dan tidak bahagia. Perlukah kita menggugat kepedihan kita. Perlukah kita menggugat ketidakpuasan kita. Masing-masing kita akan menjawabnya dengan keinginan kita sendiri. Seseorang pernah berkata atas rasa tidak bahagia kita, kepedihan dan kesedihan kita, perihnya akan menghujam seperih yang kita izinkan. Maka tentu saja ia akan mendera kita sepanjang kita mengizinkannya.

Mari gugat hati nurani kita. Sepanjang perjalanan dunia yang semakin tua, perasaan sering menipu kita. Sedang hati nurani, ia tak pernah membohongi kita.
Kita adalah apa yang kita pikirkan. Selamat melangkahkan kaki menapaki bola raksasa bernama "Bumi" ini dengan rasa yang kita inginkan.

Secangkir Kopi Tanpa Goreng Ubi



Pagi yang menggeliat seperti biasanya. Diawali kokok ayam yang terdengar sayup-sayup di komplek sebelah. Inilah rutinitas awal hari. Seperti biasa, tentu saja dengan secangkir kopi. Lalu entah darimana datangnya, sebuah keinginan tiba-tiba muncul begitu saja. He, ingin menikmati secangkir kopi ditemani sepiring goreng ubi. Sebuah keinginan sangat sederhana bukan. Tapi menjadi sulit mengingat dimana saya bisa mencari sepiring goreng ubi saat ini juga.

Saya terdiam, memandangi secangkir kopi saya. Ya secangkir kopi tanpa goreng ubi. Tentu saja sulit memenuhi sebuah keinginan bila datangnya mendadak seperti ini. Secangkir kopi saya terlihat kelu. Maka tidak ada yang bisa saya lakukan selain segera berkompromi dengan hati. Kopi saya sudah terhidang. Saya harus segera meminumnya sebelum cairan hitam kesukaan saya itu menjadi dingin, meski tanpa goreng ubi.

Shruuuuup......., saya mereguknya dalam diam. Sepotong roti akhirnya terasa bak goreng ubi. Saya mereguk kembali cangkir kopi saya, kembali dalam diam. Dalam regukan diam dan hening ini saya merenung. Begitulah sebuah keinginan. Bahkan untuk sepiring goreng ubipun kita harus berkompromi dan bersabar. Saya harus menyiapkan 2-3 kilo ubi di rumah. Jadi kalau keinginan itu datang, saya tinggal srat-sret, membuat goreng ubi.

Ya sepiring goreng ubi atau sebentuk keinginan yang lain, apapun itu, tentu harus direncanakan. Bukankah begitu kawan. Dan harapan kadang tidak sesuai dengan kenyataan, kompromi dengan hati harus dilakukan. Begitulah. Untung sekedar ingin goreng ubi. Kalau tiba-tiba ingin ngopi plus sepiring Salmon dari Laut Tengah, dan saya sedang ngidam, hiks apa jadinya. Selamat pagi semua. Saya mau menghabiskan kopi saya lagi ya, meski tanpa goreng ubi. Selamat menikmati akhir pekan.

Gambar diambil dari sini

Thursday, December 3, 2009

Ketika Kasih Sayang Menyapa Semesta


Pada suatu pagi yang biasa-biasa saja. Setangkai anggrek dengan bunga mungil menguning (Golden Shower) menyapa pagi dengan rasa indah yang seadanya. Dan rasa indah yang seadanya itu, entah kenapa saya suka. Ada kepercayaan diri yang teguh tersirat didalamnya. Ia menyatakan sesuatu yang dahsyat dalam diamnya. Saya, tentu saja menyukai sesuatu yang alamiah seperti ini. Keindahan tak berarti bila tiada keyakinan. Ya, keyakinan sederhana itu ada pada sang Golden Shower yang pagi itu lantang menyeruak ke alam menyapa dunia. Seketika, pagi itu menjadi begitu istimewa di mata saya. Subhanallah.

Maka curahan kasih sayang sang Golden Shower seperti mengingatkan saya akan sapaan kasih para sahabat blogger. Beberapa waktu yang lalu beberapa sahabat telah menganugrahi saya award. Inilah mereka dan awardnya :

  1. Insanitis37
Blogger yang membincang spiritualitas, sastra, dan laku kritis ini memberikan award biru yang indah




2. Award dari Anni Rostiani
Perempuan bijak penyuka makna resonansi kehidupan ini menganugrahkan award spesial ini



3
. Award dari Aditya
Ya Aditya, sang blogger kreatif juga ceria kita menganugrahkan award indah ini




4
. Award dari Curhat Fanda (01 Desember 2009)
Award keren ini diterima mbak Fanda, sang bookaholic kita, dari mas Cahyadi



Terimakasih kepada para sahabat yang terus menyapa saya dengan sapaan kasih sayangnya.

Keempat award keren ini saya persembahkan kepada :

Sebagai ungkapan rasa terimakasih, saya persembahkan gambar Golden shower saya di atas kepada para sahabat (baik sahabat lama maupun sahabat baru) yang telah saling berbagi, saling support diantara kita, yaitu :
  1. Fanda
  2. Anni Rostiani
  3. Insanitis37
  4. Aditya
  5. http://amriawan.blogspot.com/
  6. Munir Ardi
  7. Becce_lawo
  8. Zahra Lathifa
  9. RanggaGoBloG
Semoga berkenan. Semoga persahabatan kita makin menghangatkan jagad blogosphere dan membawa kebarokahan bagi kita semua dan bagi dunia sebagaimana sapaan kasih sayang sang Golden Shower kepada semesta ini.

Wednesday, December 2, 2009

Pesan Sehelai Daun Yang Jatuh Ke Bumi


Entah sudah helaian ke berapa dalam hitungan angka manusia ketika sehelai daun jatuh lagi ke bumi, disini. Sehelai daun jambu, jambu air dan bukan jambu klutuk. Seperti helaian yang telah jatuh sebelumnya, sehelai daun yang baru jatuh ini meninggalkan pesan.

" Aku tiba memenuhi janji siklusku. Siklusku tiba pada janji dimana aku harus jatuh ke bumi, dengan pertolongan sang angin. Maka pada sang angin yang telah meniupkanku salam takzim harus diberikan. Aku tumbuh berupa tunas hijau muda malu-malu. Menjadi daun segar warna hijau tua. Berfotosintesis untuk semesta untuk sekian lama. Akhirnya tiba jua pada bagian dimana warna hijauku mulai pupus, digantikan semburat kekuningan yang menjadi coklat. Itulah tanda akhir sikulusku. Sang angin menghantarkanku pada haribaan bumi. Maka lihatlah kalian wahai penghuni semesta, janji pada akhir siklus kita akan tiba. Berkaryalah dengan liukan indah nan harmonis sebisa yang kita lakukan sebelum tiba pada akhir siklus yang tak bisa ditolak kedatangannya...."

Saya termangu, merenungi pesan sehelai daun yang jatuh ke bumi itu. Apakah ini pesan yang layak untuk kita renungkan bersama ? Entahlah. Mari kita renungkan untuk menjawabnya.

Monday, November 30, 2009

Seperti Apa Rasanya Terbebas dari Hawa Nafsu... ?

Jokpin (Joko Pinurbo) mengilhami saya membuat judul tulisan ini (dari puisinya Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita). Sebuah ide yang sudah lama menganga di benak, tapi belum menemukan bentuk untuk dituangkan. Tiba-tiba saja, malam ini ia seperti mendapat jalan untuk dialirkan. Maka mari kita awali dengan sebuah pertanyaan "Seperti Apa Rasanya Terbebas Dari Hawa Nafsu ?"

Mari Mulai Lagi


Ya mari mulai lagi. Setelah libur 3 hari, ini hari secangkir kopi terasa nikmat sekali. Mari terburu-buru lagi. Terbangun oleh alarm HP sepuluh menit sebelum terdengar adzan shubuh. Menggeliat sejenak lalu ke kamar mandi, membasuh muka dan seterusnya. Melakukan sedikit kegiatan domestik yang sangat penting, membuat sarapan, menyeduh secangkir kopi, secangkir teh, dan seterusnya. Setelahnya mandi plus lain-lain hingga siap berangkat ke tempat kerja. Mari mulai lagi pengembaraan hari. Sebagaimana hari biasanya, hari ini milik kita kawan. Begitulah bisikan si Angin Selatan, seperti biasa. Ya, semoga hari ini membawa kesuksesan dan kebarokahan bagi kita semua.

Friday, November 27, 2009

Semesta Berkurban Untuk Kita



Mendung yang melingkupi sejak shubuh menjelang, menyejukkan suasana. Tapak dara yang menyambut pagi dengan senyum ungunya yang indah. Kecipak air di kamar mandi saat muka dibasuh dengan kesejukan sebuah do'a. Maka lengkaplah kesempurnaan kesejukkan hari ini. Ya, hari ini sebagaimana setiap hari yang lain, semesta berkurban untuk kita. Idul Adha menjelang kawan.

Saya, seperti biasa, agak segan mengurai sesuatu secara panjang lebar dengan demi menuangkan sebuah peristiwa. Ikhwal Idul Adha bukankah dengan mudah bisa kita selancari (googling atau wikiing saja). Biarkanlah kita saling merangkai makna sepenangkapan kita secara terbatas ini. Maka Idul Adha bagi saya spiritnya adalah bagaimana kita berkurban bagi orang-orang di sekitar kita, bagi lingkungan kita, bagi alam semesta ini sebagaimana jejak sang Nabi (Ibrahim AS). Sebagaimana semestapun telah berkurban, menyerahkan semua yang indah dan membahagiakan untuk kita nikmati.

Selamat Idul Adha 1430 H. Maaf lahir dan bathin. Semoga setiap detik nyang kita rangkai mendatangkan kesuksesan dan kebarokahan bagi dunia. Dengan begitu pengurbanan semesta untuk kita tidak sia-sia.

Wednesday, November 25, 2009

Little House On The Prairie, Spirit Sebuah Harapan


Sudah lama sekali harapan itu terbentuk. Saya ingat-ingat lagi, ya memang sudah lama sekali. Sejak zaman saya masih bocah, kira-kira berusia sama dengan tokoh Laura Inggals dalam film tersebut. Sebuah harapan ingin mendiami rumah mungil nan tenang di padang rumput. Rumah mungil dengan situasi yang digambarkan dalam serial Little House on The Prairie (Mudah-mudahan ada yang masih ingat film serial ini ya).

Ternyata sudah selama itu harapan tersebut saya pendam. Saat tadi ingatan saya kembali ke belakang tentang penyebabnya. Rasanya....tidak ada. Semuanya mengalir begitu saja. Harapan itu tumbuh tanpa saya sadari sejak saya masih bocah kecil dengan mata bening dan berambut ekor kuda yang senang berlari-lari menyongsong jam tayang serial itu. Seperti harapan sang Laura Inggals (gadis kecil tokoh utama film tersebut) yang ingin menjadi tumbuh dengan semangat keberanian dan kemurnian yang kuat. Seperti itulah harapan itu tumbuh.

Begitulah. Bila orang lain menangkap spirit film itu sebagai bentuk kesederhanaan kehidupan dengan kedaiamaian yang indah di dalamnya, saya he justru menangkap bahwa kesederhanaan dan kemurnian itu terus bertumbuh di dalam kedamaian. Menangkapnya dalam bentuk yang indah dan harmony dengan sikon kita, itu yang sulit. Rasanya, harapan mendiami rumah mungil dengan spirit seperti itu hingga kini belum saya gapai. Saya hidup dengan spirit ketergesaan kota besar. Jauh dari harapan semula yang dulu.

Mungkin ini alasan terpendam saya ingin segera hidup di tempat yang tenang dan damai, dengan spirit kesederhanaan dan keberanian yang terus bertumbuh. Seperti rerumpun rumput liar yang tumbuh di padang rumput. Tetap tegar dan kuat meski angin terus menerpa. Tetap bertahan meski kemarau kadang mendera.

Begitulah spirit harapan itu. Rumah sih sudah mungil, tapi suasananya yang belum dapat. Situasi yang tenang tanpa kebisingan, padang rumput yang luas, beberapa hewan ternak. Angin yang terus bertiup sepoi-sepoi menerbangkan rumput dan bunga liar di halaman. Ah indahnya bila harapan itu terwujud. Bila tidak, hehe, saya masih bisa menciptakan, menghadirkan suasananya di benak. Itu usaha paling terakhir. dan paling logis yang bisa saya lakukan. Masyaallah....., What a nice phantasy of a country girl, kekeh si Angin Selatan. He, terdengar seperti cibiran Nellie Oleson.


Gambar diambil dari sini

Tuesday, November 24, 2009

Menunggu dan Akhirnya Kuciwa

Menunggu dan akhirnya kuciwa (kuciwa = kecewa yang sangat kecewa), pernah tidak anda merasakannya ? Saya pernah, semalam kejadiannya. Menunggu munculnya pernyataan sikap sang Pakwo tentang gejolak dan gonjang-ganjing di negeri My oh My ini, dan akhirnya cuma kecewa yang saya dapat. Kecewa karena pernyataan pakwo yang tidak jelas, mengambang, dan membungungkan. Apakah perasaan ini cuma saya saja yang merasakan...? Entahlah.

Sudahlah, jangan banyak berharap. Banyak hal yang tidak kita pahami. Seperti juga ada banyak jalan keluar yang belum kita lihat. Begitulah sebuah suara muncul dari si Angin Selatan di sisi kanan saya. Sayapun mengamini. Ya, semoga kekisruhan di negeri My oh My ini segera tuntas. Kalau tidak, lupakan saja. Mari kita urus saja pekerjaan kita. Tentu supaya tidak tambah kuciwa.

Saturday, November 21, 2009

Secangkir Kopi Dengan Rasa "Aneh" Soal Anggodo

Kejadiannya tadi pagi, saat saya sedang minum kopi bersama keluarga. Kebiasaan yang buruk, kami terbiasa minum kopi sambil nonton berita. Sedang saya asyik menyeruput kopi, tiba-tiba saja seorang penelpon sebuah acara interaktif di sebuah tv mengagetkan saya. Ya, seorang ibu (ibu A dari Jakarta) berkomentar dengan suara gemetar menahan marah, melepaskan uneg-unegnya soal Anggodo di Edititorial Pagi sebuah stasiun tv.

"Anggodo itu Dajjal. Kenapa dia dibiarkan bebas, karena orang-orang takut dengan nyanyiannya. Kalau dia nyanyi lagi maka banyak pihak penting yang tersangkut. Jadi daripada mereka malu di dunia, mereka membiarkan Anggodo masih bebas. Dari rekaman yang disajikan di MK, nenek-nenek saja tau kalau Anggodo itu bersalah. Dan dia masih saja dibiarkan bebas, tidak ditangkap. Mudah-mudahan laknat segera turun untuk mereka ....!"

Saya tercekat mendengarkan pelampiasan uneg-uneg Ibu A itu. Seketika cangkir kopi saya sisihkan. Kopi itu tiba-tiba saja terasa jadi aneh, sengak dan pahit. He, rasa Anggodokah ini ? Teman saya yang sok tau pernah berkata Anggodo itu artinya Raksasa. Raksasa, mahluk mengerikan, baunya pahit. Begitukah ? Entahlah.

Kembali ke uneg-uneg ibu A tadi, saya kira apa yang berkecamuk di benak Ibu A itu mungkin banyak berkecamuk di benak orang-orang lain, penduduk negeri kita tercinta ini. Itu sudah seperti rumor umum. Di acara wawancara ekslusif stasiun tv lain membahas rekaman yang diputar di MK, Anggodo dengan terang-terangan telah mengakui penyuapan uang yang dilakukannya. Aneh dan ajaibnya keadaan di negeri kita ini, beberapa nama yang pernah tersangkut kasus penyuapan telah divonis, Anggodo si penyuap kelas kakap yang yang sudah menambah kerusakan moral bangsa ini dibiarkan saja bebas. Bebas, tidak tersentuh. Tidak diproses secara hukum.


Begitulah secangkir kopi dengan rasa aneh soal Anggodo ini. Banyak hal yang saya tidak mengerti sebagai orang awam di negeri ini. Ketidak mengertian ini rasanya tidak cukup dipahami dengan hanya berdoa agar kebenaran segera terungkap. Tetapi kekuatan doapun tidak bisa diremehkan. Bila Dia berkendak, apa yang tidak mungkin. Saya harus menghilangkan rasa geram ini dulu agar doa saya bisa dipahamiNya. Atau apakah kita perlu membuat gerakan memohon penangkapan atas Anggodo ? Masalahnya, apa Anggodo itu cuma satu ? Bagaimana menurut anda...?

Friday, November 20, 2009

Rembulan dan Seekor Belalang Yang Hinggap di Dahan

Gerangan apa yang membuat malam menjadi begitu indah, syahdu, dan magis (Malam adalah magis, komentar Baho pada suatu ketika, lupa kapan).......? Salah satunya menurut saya adalah karena adanya rembulan. Rembulan, tidak hanya menerangi dengan cahayanya, juga memantulkan biasan sinar dan bayangan indah di segala penjuru. Dan keindahan dan kemagisan sang malam menjadi begitu sempurna saat seekor belalang hinggap di dahan dilatari sang rembulan. Jadilah Rembulan dan seekor belalang yang hinggap di dahan itu menjadi sesuatu kekayaan semesta yang begitu indah.

Dan keindahan itu mutlak menjadi milik saya, tentu saja. Ya seorang sahabat telah menganungrahkannya untuk saya. Sebuah award spesial dari Fanda dengan gambar seekor belalang yang hingap di dahan dilatari sang rembulan. Hal yang membuat saya terkesima, sahabat saya itu ternyata mampu menangkap pengejawantahan rasa yang ada di dalam jiwa saya.



Itulah award yang dianugrahkan sahabat kita itu untuk saya. Award yang juga spesial telah dibagikan kepada beberapa sahabat yang lain disesuaikan dengan karakternya masing-masing. Sesuatu yang sulit dilakukan, mungkin saya tak mampu melakukannya. Terimakasih Fanda.

Tentang Fanda, rasanya tidak perlu banyak dikomentari lagi. Siapa yang tidak kenal sang pecinta buku dengan blog berjudul Baca Buku Fanda itu. Beliau salah satu sahabat terbaik saya di jagad blogosphere ini. Beliaulah yang saat awal saya membuat blog rajin menyemangati. Sejak itu tentu saja sebuah persahabatan adalah saling mensupport. Betapa support seorang sahabat sangat berarti. Kalau ada yang ingin melihat bagaimana Fanda menemukan saya yang saat itu baru tercemplung di jagad blogosphere, bisa klik disini.

Begitulah. Rasanya saya perlu membagikan award spesial itu kepada beberapa sahabat yang menurut perkiraan saya memiliki karakternya yang cocok dengan award tersebut. Paling tidak karena tulisannya selalu sarat makna, indah, syahdu dan magis bagi saya. Anggap saja award ini sebagai pengingat persahabatan antara anda, saya dan Fanda. Inilah beberapa sahabat yang saya anugrahi award tersebut :
  1. Tisti Rabbani
  2. Ivan Kavalera
  3. SeNja
  4. Ajeng
  5. Rosi Atmaja
  6. Insanitis37
  7. Ahmad Flamboyant
  8. Sigit Purwanto
  9. Ernut
Semoga berkenan. Pada setiap malam menjelang, mari kita ingat sang rembulan dan seekor belalang yang hinggap di dahan ini agar malam kita menjadi semakin indah dan syahdu. Selamat pagi semua, selamat beraktivitas.

Wednesday, November 18, 2009

Akhir Sebuah Kontemplasi, Tentang Sebentuk Keyakinan, Cinta, Secangkir kopi, Setumpuk Buku, Hp dan laptop Butut



Malam telah menjemput saya dari keriuhan hari. Bau sabun cair yang segar serta kucuran air saat mandi, perbincangan yang ceria dengan Bejo, dan secangkir kopi malam ini cukup membantu membangkitkan sesuatu yang tertimbun di kedalaman benak saya. Hah...., akhirnya tiba juga saya pada akhir kontemplasi yang tadi pagi tak tuntas. Ini tentang Sebentuk keyakinan, cinta, secangkir kopi, setumpuk buku, Hp dan laptot butut.

Ya.....bila kehidupan adalah sebuah perjalanan panjang umat manusia, maka kehidupan kita adalah perjalanan kita. Seyogyangnya sebuah perjalanan membutuhkan bekal. Tentang perjalanan hidup saya sendiri, tentu saja membutuhkan bekal. Sesuatu yang harus saya bawa agar perjalanan saya berlangsung lancar dan menyenangkan. Tadi saya telah memilah-milah hal-hal apa saja yang harus saya miliki agar hidup saya berarti. Maka inilah yang harus saya miliki, setidaknya menurut saya saat ini, yaitu sebentuk keyakinan, cinta, secangkir kopi, setumpuk buku, hp dan laptop. Tentu ini versi saya ya, saya yakin setiap orang punya pendapat sendiri.

Kenapa Hp dan laptop ? Hp sarana saya berkomunikasi dengan sahabat dan kolega, juga sebagai kamera bagi saya. Sedangkan laptop tempat saya menuangkan ide, pikiran, dan uneg-uneg saya. Mengapa secangkir kopi ? He, kalau belum ngopi saya agak lesu. Minum kopi membuat pikiran saya semakin lancar mengembara (mungkin ini hanya sugesti saya saja ya). Mengapa cinta ? Nah yang ini tidak perlu dijawab, semua sudah tau jawabannya. Hanya saja cinta bagi saya tidak perlu dilabelli dan dibatasi. Cinta padanya, cinta pada si dia, suami/istri (misal cinta saya pada Bejo). Bila dilabelli dan dibatasi akan membuat kita terbelenggu. Cinta pada manusia bisa memudar karena waktu, bahkan karena tibanya sang maut. Biarkanlah cinta menjadi cinta. Cinta sebagai bentuk pengasih dan penyayang Dia Sang Maha Segala yang mengalir pada diri kita manusia untuk kita sebarkan kepada semesta ini.

Bagaimana bila tidak ada Hp dan laptop, bisakah kita merekam peristiwa, menuangkan ide dan pikiran dan uneg-uneg kita ? Rasanya bisa. Saya pikir secara mendalam tadi, ya.... bisa. Saya bisa merekamnya dalam benak saya, saya bisa menuangkannya di dedaunan, saya bisa membisikkan ke sang angin, kepada rerumputan dan kepada langit, yang akan memendarkannya kepada semesta. Bagaimana bila tidak ada setumpuk buku ?, hehe saya bisa membaca buku alam. Semesta ini adalah buku seru sekalian alam. Dia bisa mengajarkan banyak hal yang bisa kita petik, kalau saja kita mau. Bagaimana bila tidak ada cinta...? Hehe, cinta tidak akan pernah berakhir. Alirannya akan selalu mengisi alam ini. Kitalah yang sering memutus alirannya, mematikan rasa cinta kita. Bagaimana bila tidak ada keyakinan ? Pasti mandeg, kita tidak akan bisa melangkah. Kalaupun melangkah, langkah kita tidak terarah, sempoyongan kan.

Begitulah sebuah kontemplasi yang tadi pagi tak tuntas. Sayapun seperti diingatkan bahwa bekal saya, bekal anda, bekal kita semua hanya bisa berarti bila kita masih mengarungi perjalanan hidup ini. Bekal kita tidak berarti lagi bila kita tak lagi bisa melanjutkan perjalanan kita, bila kita telah meregang nyawa. Selagi belum terlambat, manfaatkalah waktu anda, manfaatkanlah bekal anda, apapun itu. Khusus yang ini, ini hanya peringatan untuk diri saya sendiri. Bukankah saya, kita semua harus merenungi perjalanan hidup kita. Hari ini hari lahir saya dalam hitungan tahun masehi, alhamdulillah saya diberiNya kesempatan mengisi hari hingga sejauh ini. Semoga saya bisa memanfaatkan sisa perjalanan saya dengan baik. Selamat malam semua.

Gambar diambil dari sini

Sebuah Kontemplasi Pagi Yang Tak Tuntas


Sebuah kontemplasi yang tak tuntas tiba pada pagi yang bercahaya ini. Entah kenapa tidak ada rasa kesal pada hal ini (biasanya, he, saya benci hal yang tak tuntas). Maka tadi pada hirupan kopi yang kesekian, saya hela nafas sejenak. Ya.....kontemplasi ini biarlah tak tuntas. Akan saya beri ia waktu seharian, kapan saja ia mau. Bukankah hidup adalah sebuah perjalanan panjang penuh kontemplasi. Maka biarkanlah kontemplasi pagi ini tak tuntas. Ia akan berdetas menyusuri jejak hari. Secangkir kopi yang isinya tinggal separuh saya hirup lagi. Selamat pagi kawan semua. Selamat beraktivitas.

Gambar diambil dari sini

Tuesday, November 17, 2009

Mengkriminalkan dan Mendzalimi......!?

Dua kata di atas, mengkriminalkan dan mendzalimi, jadi kata-kata yang populer sekarang ya. Si A mengatakan B telah mengkriminalkan dirinya. B pun mengaku begitu telah dikriminalkan oleh si A. Si C pun mengaku telah dikriminalkan oleh si A dan seterusnya. Ya, mereka merasa telah dikriminalkan dan didzalimi oleh seterunya. Padahal jelas-jelas mereka bukan seteru, tapi mitra. Aneh ya, tapi demikianlah faktanya.

Singkat kata, itulah yang sekarang menari-nari, berseliweran, dan berusaha saling membentuk opini publik lewat berita-berita di televisi juga di media cetak. Seakan berebut simpati, dan berebut ingin dianggap benar. Dan semuanya mengaku setuju untuk membangun kembali kehormatan dan harga diri bangsa ini. Bukan main......

Lalu apakah yang harus kita lakukan sebagai anak bangsa di luar kelompok A dan B ataupun C itu....? Tentu saja hal yang paling logis bagi saya adalah terus melakukan aktivitas kita, pekerjaan kita, tanggung jawab kita dengan baik. Larut dalam carut-marut hanya akan memperkeruh suasana. Bila ingin mengatakan pendapat, urun rembug terhadap perkembangan wacana atau diskusi mengenai hal-hal tersebut, lakukanlah dengan cara yang baik dan penuh tanggung jawab. Setelahnya mari kita berdoa agar kondisi carut marut ini segera terselesaikan dengan baik.

Seorang pengacara dari salah satu kelompok tadi mengatakan " Apa gunanya saling mengkriminalkan dan saling mendzalimi... ?, jelas tidak ada guna. Kita sepakat ingin membangun bangsa ini. Ya...saya setuju, saling mengkriminalkan dan saling mendzalimi jelas tidak berguna, malah semakin mempurukkan diri sendiri, dan memperpuruk bangsa ini. Mari masing-masing kita mulai merubah mindset kita, hidup hanya berarti bila dilakukan dengan penuh kemanfaatan, dengan cara yang benar. Seyogyanga kita tidak melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan keluarga hanya karena emosi dan kepicikan pikiran (misal seperti si Evan itu). Jangan saling mengkriminalkan dan saling mendzalimi tentu saja. Bagimana menurut anda.......?

Sunday, November 15, 2009

Percengkramaan Pagi dan Berkebun Cungdiro Ala Newsoul








Selamat pagi semua. Pagi yang indah dan patut disyukuri, seperti biasa. Matahari yang pelan-pelan memunculkan diri di ufuk timur. Tetes embun yang juga pelan-pelan mengering seiring dengan datangnya sinar mentari. Dan kicauan burung, he bukan burung yang merasa tersesat dulu itu lho. Betapa indah suasana pagi. Maka pagi yang indah ini tentu saja sayang untuk dilewati begitu saja. Sayapun segera bercengkrama dengan pagi.

Hasil percengkramaan itu, apalagi kalau bukan menikmati pagi dengan secangkir kopi, dan setelahnya ke luar rumah menikmati pagi yang mulai meninggi. Kali ini saya mengajak anak-anak untuk melihat tanaman Cungdiro saya. Seperti yang gambarnya anda lihat, itulah tanaman Cungdiro. Ya...sebagian kita sudah tidak asing dengan tanaman ini. Ada yang mengenalnya sebagai Wild Tomato, Tomat Chery, Tomat Kecil, dan sebagainya. Di Sumatera Selatan sendiri, tanaman ini dikenal dengan beragam nama, Cungdiro, cungkediro, Ranggam, cungdire, cungkedire, dan lain-lain.

Menu kuliner Sumatera Selatan tidak bisa terlepas dari Cungdiro. Barangkali karena rasanya yang lebih menyegarkan dibandingkan tomat. Asam dan manisnya pas di lidah Orang Sumsel. Tentu saja, karena kondisi alam Sumatera Selatan sebagian besar adalah dataran rendah, tanaman ini lebih populer dibandingkan Tomat. Maka sambal cungdiro (cabai. sedikit garam, terasi dan gula) sangat digemari. Aneka gulaipun akan lebih sedap bila diberi asam dengan cungdiro ini. Begitulah yang saya tau.

Kembali ke percengkramaan pagi ini. Anak-anak begitu ceria memandang tanaman itu. Meski mereka baru bisa memandangnya, ini cukup membahagiakan saat melihat mereka antusias memperhatikan perkembangan tanaman ini. Mulai dari berbunga, menjadi buah hijau yang kecil, buah yang membesar, lalu menguning dan memerah yang siap dipetik. Moment yang membahagiakan saya.

Ini weekend yang begitu sederhana tapi indah bagi saya. Bagaimana dengan weekend anda...? Saya yakin pasti sangat menggelora. Have a nice weekend. Saya masuk dulu sobat, menghabiskan kopi saya yang tinggal seperempat gelas tadi, sayang kan.

Saturday, November 14, 2009

Kiamat Sudah Dekat, Siapkah Kita....?


Selamat sore kawan. Weekend yang indah, tadi pagi sudah dimulai dengan kopi-durian. Saya baru saja beres dengan aktivitas sore saya. Lumayan santai, seperti weekend yang biasa. Tadi saat saya baru saja membuka laptop, sebuah stasiun tv membahas soal Film Kiamat 2012. He, rupanya kiamat sebentar lagi ya. Tahun 2012, tinggal 3 tahun lagi menurut film itu. Sudah dekat ya......

Entah sekedar menghembuskan wacana kontroversial, sekedar membuat sesuatu yang beda, film ini cukup menghebohkan. Di kantor heboh, arisan keluargapun membahas film ini. Tentu saja saya tidak sedang menulis resensi film, saya belum nonton filmnya. Saya sekedar meninjau wacana kiamat sudah dekat yang dihembuskan film itu. Kapan terjadinya, secara mutlak ini rahasiaNya. Satu pertanyaan menggelinding begitu saja di benak, seandainya kiamat sudah dekat, siapkah kita.....?

Ya, entah kita siap atau tidak kiamat pasti terjadi. Entah kiamat memang sudah dekat atau masih jauh, kiamat pasti terjadi. Tentu saja statement ini hanya berlaku bagi kita, siapapun yang meyakini adanya hari akhir. Artinya, hidup ini akan berakhir. Apakah kita menyaksikannya atau tidak, hidup kitapun akan berakhir (yang ini tentu saja pasti terjadi). Artinya hidup yang sementara ini seyogyangya kita isi dengan hal yang bermanfaat. Bermanfaat bagi diri kita sendiri, bagi keluarga kita, lingkungan kita, seru sekalian alam ini. Bukan karena takut dengan kiamat, bukan pula karena sekedar takut neraka (ingin meraih syurga) tapi karena itulah yang semestinya menurut saya.

Kiamat bagi saya adalah masa berakhirnya kehidupan ini. Kiamat tentu perlu diwaspadai karena bila kiamat sudah terjadi tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Bila hati nurani kita telah mati, maka kiamatpun telah terjadi di jiwa kita. Tentu hidup kurang bermakna bila hati/jiwa kita telah kiamat. Kiamat bagi saya memang akan terjadi. Kiamat kecil sebagai tanda akan terjadinya kiamat besar konon sudah banyak terjadi. Jadi mari siapkan diri kita untuk melakukan yang terbaik.

Bila kiamat memang sudah dekat, sepanjang kita melakukan hal yang bermanfaat, positif, baik diri sendiri, keluarga kita, lingkungan kita, juga bagi seluruh isi alam ini, mengapa harus takut dengan kiamat. Tidak usah terlalu kita hiraukan soal tahun 2012 yang disinyalir akan terjadi kiamat. Intinya, anggap saja film itu sedang mengingatkan kita bahwa kiamat sudah dekat. Bagi yang belum menikah (Buwel, Trimatra, Anazkia, Fanda, Fanny, Ivan, Ahmad Flamboyant, Ranny, Inuel, Itik Bali, Dicky Polar, pokoknya semua para lajang) cepatlah menikah sebelum terlambat, iya kan. Selamat sore kawan. Bagaimana menurut anda......?


Gambar diambil dari sini

Friday, November 13, 2009

Gelora November Dengan Durian dan Award Spesial


November yang indah disini kawan. Langit disini tidak saja menjatuhkan hujan, juga menjatuhkan durian. Anak-anak di sebuah dusun kecil menemukan 5 butir durian di halaman pak Dullah pagi tadi. Maka bersukacitalah mereka sembari melaporkan hasil temuannya kepada sang empunya durian. Durian yang semalam dirontokkan sang angin selatan. Durian-durian yang juga berjatuhan di halaman wak Nur, di halaman bu Naz. Durian-dimana-mana. Durian yang wanginya semerbak memenuhi langit disini. Musim durian telah tiba. Betapa Gelora November semakin bertambah dengan Durian.

Ya musim durian tiba lagi disini. Musim pesta durian tentu saja, juga musim penyakit. Buah berduri itu begitu lezat bagi kebanyakan orang. Kelezatan yang harus diwaspadai. Dibalik kelezatan durian, dibalik kelezatan apapun tentu saja, menyimpan masalah bila dikonsumsi secara berlebihan dan tidak pada tempatnya. Misalnya makan durian terlalu banyak. Perempuan hamil makan durian lebih dari 5 biji (misal lho....). Orang yang memiliki penyakit asam urat, kolesterol tinggi harus berhati-hati makan durian. Makan durian di pesawat, tentu masalah. Yah...bau harum durian yang khas itu agak rawan hingga bisa menimbulkan rasa mual, bahkan muntah. Jadi, mari sambut musim durian ini dengan sukacita dan juga berhati-hati.

Gelora November ini tidak saja bertambah karena tibanya musim durian tadi, juga karena tibanya sebuah cinderamata persahabatan. Sebuah award dari Becce_lawo. Award yang unik juga spesial yang disini (Rabu, 11 November 200() . Terimakasih kawan.













Becce_lawo adalah seorang pemuda dari Sengkang, Sulawesi Selatan. Konon, kata pak Munir, Becce_lawo adalah nama sejenis penganan dari Sulawesi Selatan terbuat dari tepung ketan yang disangrai. Barangkali nama itu ingin mengekspresikan sebuah ketulusan nan sederhana selayaknya kue tradisional yang begitu kita sukai dan selalu membuat rindu.

Sang becce_lawo mengatakan award unik dan spesial tersebut dibagi-bagi sebagai surprise ingin berbuat manis (baik) kepada para sahabat di jagad blogosphere. Setiap sahabat mendapat award yang unik dan spesial. Satu qoute yang indah saya temukan di blognya.....Hanya ingin berbuat baik. Bersama kita mengubah dunia. Sebuah keinginan yang indah bukan. Thanks for being my friend too. Bagi yang belum kenal, ayo silahkan ke blognya.

Thursday, November 12, 2009

Dua Perempuan Di Tengah Padang Ilalang Kering


Di suatu noktah di bumi ini, saat hari tengah terik. Dua perempuan tengah berjalan di tengah padang ilalang kering. Langkah kedua perempuan itu tegap. Matahari tepat di atas kepala keduanya. Pada benak mereka, sejuta harap dan impian tentang hidup yang baik bagi keluarga mengalir hangat di benak saat keduanya bergegas pulang sambil menjunjung setumpuk rumput dan kayu bakar di kepala.

Dua perempuan yang tidak sengaja saya temukaan saat kerinduan saya akan ilalang muncul lagi secara tiba-tiba siang ini. Bukan Ilalang indah seperti yang dulu saya temukan. Ini sehamparan ilalang kering. Dan keringnya ilalang ini mengapa malah menghadirkan gejolak indah nan penuh semangat di benak...? Sesuatu yang saya tak sanggup menjawabnya.

Pada bayangan belakang kedua perempuan itu, saya melihat semangat. Seolah keduanya tengah berjalan tepat di depan saya. Seakan saya bisa mendengar dengus nafas mereka juga obrolan singkat keduanya tentang beras, gula, garam yang tinggal secuil di gubuk mereka. Dan tiba-tiba saja saya teringat pada Atuzah, tokoh rekaan pada postingan saya dahulu. Entahlah. Mungkin itulah jawaban kenapa gejolak itu hadir dengan indah di benak.

Dua perempuan yang berjalan di tengah padang ilalang kering itu menghadirkan semangat. Seperti semangat seluruh perempuan di seluruh penjuru dunia yang menginginkan gubuknya berasap karena ada yang bisa dimasak disana, dengan tawa anak-anak mereka berderai di dalamnya. Ini seperti menyadarkan saya, bahwa hari yang sudah Kamis ini musti disyukuri. Ya bukankah kita semua musti bersyukur bahwa ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk keluarga kita, untuk sekitar kita, untuk alam ini. Bukankah begitu kawan....?

Tuesday, November 10, 2009

Nyanyian Parau Seekor Cicak


Ini bukan cicak yang sedang dibicarakan banyak orang. He, maaf saja sekarang saya sedang tidak tertarik membicarakan cicak yang itu. Ini cicak versi saya sendiri. Cicak sebagai mahluk kecil yang senang mengendap-endap, memperhatikan sekitarnya dengan mata nyaris tak berkedip. Ini cicak di dinding, dan dinding itu adalah sebuah permukaan tempatnya bertengger. Cicak di dinding sebagaimana yang sering kita dengar dalam lagu "Cicak Cicak di dinding". Sayangnya, nyanyian sang cicak terdengar parau.

Begitulah. Di tengah tatapannya mengawasi aneka aktivitas mahluk di sekitarnya, cicak ini sering bernyanyi sendiri. Nyanyian dalam versinyanya sendiri. Benarkah nada nanyiannya, hanya ia sendiri yang tau. Bagi orang lain terdengar parau. Parau karena lagunya tak memiliki harmony antara rima dan ritmanya. Parau karena syairnya hanya berisi kritikan tak jelas. Kritikan dengan sindiran satir yang tak memiliki juntrungan. Parau karena di ujung lagu tak ada nada indah berisi solusi bagaimana agar nyanyiannya tidak sia-sia. Parau karena lagunya tak memiliki kesimpulan.

Cicak itu mungkin ada di sekitar kita semua. Bila kita hanya menatap sekitar kita dengan pandangan satir ala kita sendiri, mengkritik tanpa ada solusi, maka kita telah menjadi Cicak yang menyanyi parau.
Telahkah kita menjadi cicak yang sekedar mengendap-endap mengawasi sekitarnya sambil bernyanyi parau...? Mari kita renungkan.

"Inipun parau kawan", tiba-tiba saja si angin selatan membisikkan itu kepada saya. Yah, mungkin inipun parau. Saya cuma ingin mengatakan bahwa catatan ini juga ditujukan kepada diri saya sendiri. Setelahnya, mari kita berharap semoga kita jangan menjadi cicak yang cuma bisa mengendap-endap, menjatuhkan kotoran ke bawah seenaknya, dan menyanyi parau. Karena lagu parau kita hanya akan membuat dunia ini semakin fals nadanya. Mari bernyanyi lagu indah saja. Atau mari kita belajar dulu melihat dunia secara indah sehingga lagu kitapun menjadi indah. Bukankah begitu kawan...?

Gambar diambil dari sini

Sunday, November 8, 2009

Sebuah Orgasme Sore Yang tak Menyenangkan


Dia membisu, duduk menyudut di sisi kamar. Suasana sepi saja. Tidak mencekam, tidak pula mengharu-biru. Sepi yang biasa. Suasana yang biasa. Di luar, awan mulai menggelapkan langit. Matahari mulai memunculkan sinar kejinggaannya yang khas. Dia masih saja membisu pada sore yang biasa ini. Sepenuh wajahnya menyiratkan suatu kata "....sebuah orgasme sore yang tak menyenangkan...".

Begitulah hal yang dirasakannya. Ia tersenyum sekilas sambil bangkit dari duduknya. Bila hari adalah liukkan persenggamaan manusia dan semesta, maka ia lebih menyukai pagi daripada sore. Sebab pagi selalu meluapkan energi kegembiraan. Pagi selalu memberi semangat. Apakah karena pagi adalah awal hari hingga seluruh energi terbuka padanya...? Entahlah. Ia memang lebih menyukai pagi ketimbang sore. Itulah alasan kenapa persenggamaan hari pada sore membuahkan orgasme yang tak menyenangkan baginya.

Ia sering mengutuk sore karena lelahnya telah membuatnya tersungkur menatap sisa hari. Saat ini saja, setelah lelah dengan persenggamaan harinya, ia memegang seekor ikan yang telah membeku dari refrigerator dengan rasa lelahnya. Ikan yang harus diolah menjadi masakan lezat di meja makan. Sang ikan memandangnya dengan lelah mata yang membeku. Ikan itu seakan menjerit padanya sambil berkata "Tolong, jangan masak kuning lagi....". He, tentu saja ia tak menjawab. Dengan sekali lemparan, sang ikan terjerembab dalam baskom plastik untuk segera diolah.

Betapa sore ini, seperti sore-sore lain yang tak sempat ia nikmati, sangat melelahkan baginya. Yah...sebuah orgasme sore yang tak menyenangkan, ulangnya lagi. Bukankah sorepun harus dilewati bila ingin mendapatkan esok pagi yang indah dan berenergi itu...? Bukankah begitu kawan... ? Tak ada jawaban. Di sisi kanan hanya ada angin selatan menggerakkan rambutnya ke kiri dan ke kanan.

Gambar diambil dari sini

Saturday, November 7, 2009

Titik Dimana Kita Berdiri

Ya, titik dimana kita berdiri jelas bukan titik yang sama. Noktah kita berbeda. Saya berdiri di titik saya. Anda berdiri di titik anda sendiri. Sedang mereka, ya berdiri di titik mereka. Begitulah bisikan sepoi-sepoi sang Angin Selatan di sisi kanan saya soal Titik Dimana Kita Berdiri. Saya baru saja merampungkan kegiatan domestik saya di hari libur (mencuci, memasak, dan memeriksa tanaman saya). Hari yang sederhana, tapi denting detiknya tadi tiba-tiba saja menghantarkan saya pada perenungan ini.

Titik dimana saya berdiri, biasanya titik dengan aksis X dan Y yang terpola acak. Hanya, tetap X dan Y yang saling menyinkronkan walau mereka tak saling kenal. Sedangkan aksis anda, walau beda koordinatnya saya kira tida jauh berbeda. Paling tidak meski pola kita berbeda, pada akhirnya kita menuju muara yang sama. Meskipun titik kita berbeda, faktanya kita sering bertemu di jagad ini. Kita bertemu di jagad nyata, di jagad mayapun begitu. Tentu saja. Jagad ini satu, kita menempati bumi yang sama. He, saya kira alasannya bukan sekedar itu saja.

Kita sering bertemu di jagad ini juga karena karena ada sesuatu pada kita semua. Kita memiliki siklus energi semesta yang sama. Ya walaupun koordinat kita berbeda, polanya berbeda, arah aliran konon menuju titik yang sama. Perjalanan energi semesta ini seperti sebuah siklus. Kita bergerak ke titik yang sama. Barangkali inilah alasan kenapa spirit dan soul pemikiran seseorang dimasa lampau muncul kembali pada sesosok teman kita, kerabat atau pada kita sendiri. Aliran spirit/ide/soul berputar dan menyebar di alam semesta ini, Lalu beputar memasuki bentuknya sendiri. Demikianlah. Mungkin ini juga alasannya kenapa kejahatan dengan pola yang selalu baru tapi nadanya sama dengan kejadian lama juga selalu muncul dari zaman ke zaman.

Begitulah kawan. Barangkali itulah alasan kenapa kita sering "merasa" sreg, dekat, familiar dengan orang tertentu walau sebelumnya kita tidak saling kenal atau sebaliknya. Alasannya karena tempat dimana kita berdiri , alam semesta ini, adalah tempat dimana energi berupa spirit/ ide dan pikiran kita yang bernama umat manusia ini mengalir, menghilang, lalu muncul lagi dengan bentuk baru tapi ide dasarnya tetap sama.

Wallahu a'lam bishawab. Silahkan direnungkan bila berkenan. Paling tidak mari kita renungkan bahwa selain titik dimana kita berdiri, ada titik-titik lain yang juga harus kita akui keberadaannya, kita hormati dan kita pahami. Titik milik orang lain, kelompok lain yang sebetulnya sama saja muaranya dengan titik milik kita, yaitu menginginkan kebaikan bagi dunia ini. Kalaupun ada yang menyebrang arah, yah....cuma sedang salah arah saja. Saya pamit dulu ya. Angin selatan baru saja menghantarkan suara khas dari masjid di dekat rumah saya, adzan Johor yang berkumandang. Selamat siang semua.

Gambar diambil dari sini

Friday, November 6, 2009

Kursus Poligami, Cuma 3 Bulan..., Pemberantasan Mafia Hukum 100 Hari


Hari mulai gelap, saya baru saja usai mandi. Sambil mengeringkan rambut dengan kipas angin di dekat meja, saya duduk di hadapan laptop butut saya hingga tulisan dengan judul di atas sampai kepada anda. Kursus Poligami Cuma 3 Bulan..., Pemberantasan Mafia Hukum 100 Hari.

Siapa berminat poligami...? ada kursus yang bisa diikuti agar poligami yang dilaksanakan berjalan sukses dan lancar. Konon materi kursus adalah pemahaman tentang syarat dan ketentuan berpoligami, dan tips-tips melaksanakan poligami agar poligaminya berjalan dengan baik. Barangkali yang dimaksud adalah supaya berjalan sukses, adem, dan tentram. Itulah informasi yang saya terima. Sebuah stasiun tv baru saja menayangkan acara bertajuk "Menyoal Klub Poligami". Ya, Klub Poligami dari komunitas Global Ikhwan yang berada di negara tetangga kita.


Tanpa berniat ikut-ikutan menyoal apakah klub tersebut salah atau benar, tulisan ini cuma ingin mengatakan bahwa poligami adalah soal pilihan hidup yang seharusnya dilakukan dengan penuh tanggung-jawab. Kelihatannya....poligami pada klub tersebut agak lebih teratur. Setiap anggota yang berniat melakukan poligami, harus mengikuti kursus selama 3 bulan tadi. Setelahnya, masih diteliti, ditest oleh sang pemimpin apakah yang bersangkutan memenuhi syarat. Bahkan perempuan yang akan dipoligami ditentukan/disetujui oleh sang pemimpin.

Ya poligami dalam klub tersebut tidak dilakukan atas kemauan dan selera si lelaki yang akan berpoligami. Dan kembali lagi bahwa poligami adalah soal pilihan hidup. Faktanya memang hak hidup sesorang untuk mengambil keputusan akan berpoligami atau tidak. Telah memenuhi syaratkah yang bersangkutan berpoligami ? Yang bersangkutanlah yang tau. Artinya, dia sendiri yang menentukan dan dia (tentu pluas anak dan istri) lah yang menanggung, merasakan, apakah hidupnya akan tentram atau sebaliknya penuh konflik, RT yang berantakan, terjadinya kemelut, dan lain-lain. Betapa kehati-hatian diperlukan dalam mengambil keputusan dalam hidup. Sekali lagi, ini soal pilihan dan hajat hidup orang per orang.

Entry kedua tulisan ini adalah.....Pemberantasan Mafia Hukum masuk dalam Program 100 hari Pemerintahan SBY. Entry ini tadi pagi saya dengar, dan tadi muncul kembali di kepala saya, saat usai ngopi sore ini. Mafia hukum, fakta yang banyak terjadi. Suatu sisi hukum tidak lagi menjadi alat untuk menegakkan keadilan, malah dijadikan cara untuk melakukan kejahatan. Seseuatu yang berujung pada pencarian keuntungan, konspirasi, sebuah sindikat. Begitulah. Tentu saja saya sangat setuju dengan program Pemberantasan mafia Hukum ini. Sayapun berharap program 100 hari pemberantasan Mafia Hukum ini berjalan sukses dan lancar. Semoga saja tidak sekedar shock theraphy untuk menenangkan masyarakat.

Haripun makin gelap, tidak terasa kawan. Saat secangkir kopi sore saya tandas, saya baru menyadari kalau 3 bulan dan 100 hari itu tidak terpaut jauh, nyaris hampir sama. Kursus poligami cuma 3 bulan, dan pemberantasan Mafia hukum 100 hari. Betapa singkat target yang diberikan. Entahlah. Apapun alasannya, saya yakin kedua hal ini bukanlah keputusan yang tanpa pertimbangan matang. Demikian renungan hari ini. Silahkan pula anda renungkan bila berkenan. Selamat malam, mari lanjutkan akktivitas kita.

Thursday, November 5, 2009

Sebuah Pusaran "Pasaran"

Entah kapan rasa ini ini mengemuka di benak. Kelihatannya sudah lama sekali. Ya.....sebuah rasa dimana saya mengamali suatu kondisi masuk ke pusaran "pasaran". Pusaran/ mainstream dimana saya merasa performance saya (wajah, gaya bicara, gaya bersikap yang lain) memiliki banyak kemiripan dengan orang lain. Itu yang saya anggap "Pasaran" tadi.

Ya, seperti melihat sebuah arus pusaran. Setiap kali saya mengikuti sebuah event, sesi, atau tidak sengaja berada di suatu tempat, saya selalu mengalami suatu kondisi dimana kebanyakan orang yang baru saya temui mengatakan "..... anda mirip sekali dengan si ini, si anu, si itu ,teman dekat atau saudara saya. Wajahnya, cara bicaranya, cara tersenyum (cara marah...?, he, saya belum tanya) " Maka sampailah saya pada arus yang disebut pasaran tadi, saya anggap saja wajah saya pasaran, performance saya pasaran. Titik.

Saya tidak tau apakah anggapan saya benar. Saya tidak tau apa pastinya penyebab kondisi tersebut. Apakah betul saya memang mirip dengan kebanyakan orang...? Atau kebetulan saja orang yang mengatakan begitu sebetulnya sedang mengalami dejavu atas kesuaian, kemiripan filosopis hidup yang ia miliki dengan yang saya punya. Barangkali pada setiap performance pasaran tadi, sebetulnya ada kekhasan/kekhususan yang mungkin cocok, sesuai dengan pengalaman bathin kita. Kecocokan yang lalu membuat kita merasa familiar. Entahlah.

Jawabannya bisa dua-duanya. Bagaimana menurut pendapat anda sobat ? Siapa tau ada pandangan alternatif yang lain lagi. Kalau berkenan, mari kita renungkan. Selamat pagi semua. Selamat beraktivitas.

Tuesday, November 3, 2009

Awal Yang Baik Untuk Fenomena dan Persepsi

Fenomena dan persepsi, dua hal yang sering berkaitan. Apa yang kita lihat, kita dengar, kita rasakan, itulah fenomena. Sedangkan cara kita memandang sebuah fenomena, dipengaruhi oleh persepsi kita masing-masing. Betapa selama ini persepsi sering mempengaruhi kita dalam pengambilan sebuah keputusan, menyikapi suatu fenomena. Mungkin telah menuntun kita mengambil keputusan keliru.

Kenapa di republik ini kita lebih banyak berdebat dan ributnya daripada menyelesaikan persoalan bangsa dengan baik dan tangkas...?. Jawabannya, karena kita sibuk melihat sesuatu dengan persepsi kita masing-masing. Sibuk mempertahankannya dengan aneka pertimbangan kita masing-masing (asap dapur kita, gengsi kita, dll). Menyikapi satu fenomena yang sama, bermacam-macam jawaban yang timbul. Itulah alasan kenapa bangsa ini sulit untuk maju.


Begitulah sedikit pengantar seorang Muhammad Tasrif, seorang profesor pengajar di ITB yang ahli Spasial Dinamik. Pemodelan Spasial Dinamik pada rencana pengembangan wilayah, salah satu tugas yang harus diiukuti oleh seorang pegawai kecil seperti saya.

Acara itu tentu saja menarik, dan menyegarkan. Terlebih, he, saya melihat semangat seorang, meski sudah tua, begitu besar. Semangat pada romantisme hidup juga idealisme yang menggugah. Setidaknya itu membuat saya cukup terpana. Ternyata kita masih menyimpan sosok-sosok penuh idealisme seperti Profesor Muhammad Tasrif ini. Di ujung sesi kemarin, beliau menutup pertemuan dengan perlunya melihat fenomena dengan kejernihan. Dan kejernihan hanya bisa kita kita peroleh dengan kejujuran, jujur pada hati nurani kita.

Itulah awal yang baik bagi sebuah fenomena dan persepsi yang saya maksudkan. Yaitu kejernihan yang dilandasi kejujuran. Tentu bukan kalimat saya, kalimat Prof. Tasrif tadi. Saya hanya menyarikannya saja. Mari kita renungkan bersama. Tugas saya masih sampai hari Jum'at. Saya harus menyiapkan diri dulu sobat. Selamat pagi. Selamat beraktivitas.

Menelusuri Rempah/ Bumbu Pada Kuliner Sumatera Selatan

Sumber Foto : faktualnews.com Jika rempah-rempah adalah daya tarik atau pemikat datangnya Portugis dan Belanda ke Indonesia pada zama...