Search This Blog

Sunday, February 28, 2010

Seseorang Ditelan Bumi

Dia hilang. Tak tau kemana. Tak ada kabar. Tak ada kata pamit. Seperti ditelan bumi. Sebatang pohon menemani saya yang sedang mencarinya. Maka tentu saja sebatang pohon itu cuma menatap saya lirih. Lirih dengan kepasarahannya. Sebab tak ada yang bisa dilakukanya kecuali menghibur saya. Saya yang sedang kehilangan seseorang. Seseorang yang seperti menghilang ditelan bumi.

Tak berapa lama, di tempat kami mencari seseorang itu, angin bertiup kencang. Sang pohon, terlihat gemetar. Dedaunannya meriap dengan galau. Saya tertunduk menatap tanah basah. Dan pohon itu mau tak mau sedikit meredam ketakutannya. Barangkali dia tak ingin memperlihatkan kecemasanya pada saya. Entahlah. Sang angin terlihat tak perduli. Dia terus berhembus kencang. Seperti menghembuskan hawa amarahnya pada sesuatu. Begitu...?. Sekali lagi, entahlah kawan.

"Jangan cari aku, bila suatu saat kau kehilanganku...!"
Itulah pinta seseorang yang saya cari itu, tiga belas bulan yang lalu. Sebuah ucapan yang tak saya anggap serius. Mengingat, dia sering mengeluarkan pernyataan anehnya saat sedang melayang dengan 'sentimental taste' miliknya. Hal yang sering membuat saya jengah padanya.
"Kecuali dirimu membawa sendok perak warisan ibuku, akan kucari dimanapun, hahaha...." jawab saya seenaknya.

Sungguh saya menyesali telah menyikapi pernyataannya dengan cara seperti itu. Saya benar-benar tak mengira dia serius dengan ucapannya. Tak adakah penyesalan yang tidak datang terlambat....?

Bedebah !. Bangsat !. Kampretttttt.....!!!!. Beberapa teriakan terdengar dengan lantang. Teriakan yang seolah menandingi suara deru angin. Ternyata mulut sayalah yang mengeluarkan teriakan itu. Arghhhh..., betapa melelahkan. Betapa menjengkelkannya. Saya terhempas di tanah basah yang tadi saya pandang. Sebatang pohon yang menemani saya memandangnya saya bertambah lirih. Lirih yang memucat.

Pada deru angin yang kesekian, setelah saya agak reda, sesuatu tiba pada saya. Sesuatu yang lembut dan ringan. Lembut selembut beledru. Ringan seringan kapas. Sesuatu yang tiba itu membisikkan sesuatu di telinga saya,
"Dia titip salam padamu..."
"Dia meninggalkanmu untuk sesuatu yang hampir menjadi seluruh dari kedambaan hidupnya....."
"Sekarang dia telah memliki kehidupannya sendiri....."
"Sebuah kehidupan yang dipilihnya bersama orang lain....."
"Dia memintamu untuk tabah....."
"Dan dia tau kau tabah kawan...."
Begitulah bisikan-bisikkan si sesuatu yang menghampiri telinga saya.

Saya terdiam. Lama sekali, hingga akhirnya menyadari betapa jauh perjalanan si sesuatu yang lembut dan ringan itu untuk menghampiri saya. He, entah kenapa saya tiba-tiba menjadi kehilangan kata-kata. Saya juga menjadi tenang. Tenang sekali. Ketenangan yang entah kenapa mengisi kepala saya. Barangkali karena saya telah sampai pada titik terjenuh dimana kesal saya sudah terlampiaskan dengan teriakan-teriakakan tadi. Mungkin saja. Dan saya baru menyadari, inilah arti deru yang angin yang tiba-tiba berhembus sangat kencang tadi. Dia membawa sesuatu yang lembut dan ringan itu untuk saya.

Saya memandangi sesuatu lembut dan ringan yang tiba pada saya dan tadi membisiki saya. Dia terlihat begitu lelah, tapi tetap dengan senyumnya. Saya pegang dia. Ya, dia, sehelai bunga illang. Saya letakkan dia di telapak tangan saya. Setelahnya, saya bisikkan juga sesuatu padanya,
"Katakan padanya kawan, saya tabah......"
"...tabah sampai akhir....."
"Sampai sayapun hilang ditelan bumi...."
"Tapi saya tak akan membuat orang mencari saya saat saya hilang ditelan bumi...."
"Jika saat itu tiba pada saya, maka itulah akhir hidup saya....."
"Saat itu saya memang ditelan bumi. Bumi menelan saya, saat pemakaman saya....."

"katakan padanya kawan..., bukankah saya lebih bertanggung jawab....."
"Saya lebih bertanggung-jawab untuk tidak membuat orang resah mencari saya...."
" Setidaknya saya pamit pada semesta ini dengan baik-baik, dengan kabar kematian saya....."


Begitulah isi bisikan saya pada sang ilalang. Saya belai dia. Saya cium dia dengan ciuman terlembut yang bisa saya berikan. Bukankah saya harus berterima kasih pada sesuatu yang telah memberi saya kabar. Bukankah saya harus memberi salam takzim pada sesuatu yang memberi saya kepastian akan pencarian saya pada seseorang. Tentu saja tidak ada jawaban. Sebatang pohon yang menjadi saksi terlihat diam. Dedaunannya tertunduk ke bumi. Beberapa detik setelahnya, si angin, tiba-tiba lagi, bertiup dengan kencang. Sang bunga ilalang telah hilang dari pandangan saya. Angin Selatan telah membawanya pergi. Saya yakin dia, si Bunga Ilalang, pergi untuk menghampiri seseorang yang saya cari. Dia akan menyampaikan bisikan saya.

Kisah inipun berakhir. Tepat saat saya tutup laptop butut saya. Betapa kabar tentang seorang sahabat dekat saya yang kehilangan suaminya (setelah kecelakaan mereka yang membuat sahabat saya itu tak bisa memiliki keturunan, rahim yang diangkat) telah menggerakkan saya menuliskan kisah ini. Setidaknya akan saya katakan pada sahabat saya itu, seseorang yang dicarinya boleh hilang ditelan bumi. Biarkan saja (kalau saya jadi sabahat saya, hehe, tentu saya tak akan mencarinya). Kita, mari tetap membumi. Menghuni bumi ini sambil berkarya dengan jujur dan tulus, sebelum bumi benar-benar menelan kita. Tentu saja sambil terus menghibur dan menguatkannya, sebisa saya.

Gambar diambil dari sini

Catatan :
Cerita di atas hanya rekaan (fiksi semata). Terinspirasi dari kisah sahabat sekaligus kerabat saya. He, saya sedang rajin menulis cerpen nih.

Saturday, February 27, 2010

Berakhir Di bawah Hujan


Siang yang menghujan di sebuah kota. Hujan yang tidak begitu saja tiba. Ia tiba diawali mendung. Mendung yang membuat kota yang biasanya panas itu menjadi sejuk. Sejuk yang menjadi hambar bagi sesorang. Dia seseorang yang berdiri di bawah hujan dengan payung merah di tangan. Entah kenapa.

Dia bergegas mencari payung begitu langit kotanya menumpahkan hujan. Matanya sendu. Sorot resah mulai terlihat di wajahnya. Ia berjingkat menaikkan sedikit celana panjang yang dikenakannya. Menyusuri jalanan di bawah hujan. Hujan yang seakan tak mau mengerti keresahannya. Hujan yang makin menderas. Hujan yang makin menggila. Dia terus berjalan di bawah hujan.

"Hey, taukah kau sudah berapa lama ia berjalan di bawah hujan...?", tanya si angin selatan, seperti biasa, tanpa diminta. Tentu saja saya tak menjawab. Saya sibuk memperhatikan sesorang di bawah hujan ini. Sudah dua kelokan gang ia lalui. Lima rumah ia telah masuki untuk menanyakan sesuatu. Menayakan apa, tak jelas bagi saya. Saya hanya bisa memandangnya dari jauh saat payung merah itu ia letakkan. Saat saya mendekat lagi, wajahnya masih memperlihatkan mimik resah. Kedua sudut matanya mulai membasah. Saya masih belum menemukan jawaban.

Itulah kesibukan saya mengikuti sesorang yang resah dan gelisah menyelusuri jalan di bawah hujan. Payung merah milik seseorang yang saya ikuti itu menjadi saksi. Betapa seseorang itu, kebetulan perempuan, resah mencari sesuatu (entah apa). Dan betapa saya yang mengikuti perempuan itu sibuk begitu rupa. Si Angin Selatan, he, cuma geleng-geleng kepala.

Tiba-tiba, di perempatan gang ketiga, di sebuah gardu pos ronda, perempuan itu berteriak histeris,
"Ica......, kemana saja nak...?"
Seorang anak kecil yang disapa Ica menjawab teriakan itu dengan menghambur dan memeluk perempuan itu sambil berkata,
"Bunda....."
"Ica tadi keluar main ujan..." jelas si kecil terbata-bata. Keduanya berpelukan erat.

Saya menjadi kelu. Pos ronda itu juga berisikan seorang laki-laki setengah baya, penjual gorengan dengan gerobak keliling yang sedang berteduh juga dari hujan. Perempuan itu lama terdiam. Tak ada kata-kata yang keluar dari bibirnya, kecuali memandang sang anak dengan rasa khawatir yang belum sirna. Saya melihat dia memeriksa tubuh sang anak sekilas dengan rasa resah yang begitu kuat sambil matanya memandang si penjual gorengan dengan pandangan galau. Itu kekhawatiran seorang ibu. Saya bisa memakluminya. Siapa yang tidak khawatir menemukan anak sedang bersama orang asing. Apalagi kisah kriminali pedofilia sedang gencar diberitakan (kasus babe dan sebagainya). Si Angin Selatan kembali menggeleng-gelengkan kepala sambil mengumpat, "....Dasar perempuan. Khawatir, curiga yang berlebihan....". Umpatan yang tidak saya perdulikan.

Hujan akhirnya berhenti. Tepat saat perempuan itu menggandeng anaknya meninggalkan pos ronda. Perempuan itu menganggukkan kepala mengucapkan sesuatu kepada laki-laki penjual gorengan. Mengucapkan terimakasih, mungkin saja. Mungkin juga menanyakan nama dan alamat laki-laki itu, siapa tau nanti ketauan ada apa-apanya dengan si anak. Entahlah kawan. Saya tak bisa memastikan jawaban sesungguhnya. Ketika itu juga saya yang tadi menempel di ujung payung merah perempuan itu tercampakkan secara tak sengaja Hiks, perempuan itu mengibaskan payungnya.

Begitulah sebuah kisah di bawah hujan. Maka sayapun berakhir. Saya terjerembab pada kubangan air hujan di sisi kanan pos ronda itu. Sebab saya hanya setiupan bunga ilalang yang tertiup si angin selatan dan tadi menempel pada payung perempuan itu. Meski saya berakhir di kubangan hujan, setidaknya saya ikut bangga dan lega. Sudut mata perempuan itu sudah bersinar lagi. Wajah kuyunya telah cerah kembali. Bukankah perjalanan saya di bawah hujan menemani mereka tidak sia-sia.

Ya, betapa di bawah hujan resah bisa tiba dan bisa pula berakhir. Dan di bawah hujan, cinta diantara ibu dan anak (perempuan itu dan anaknya) menjadi semakin kuat. Meski saya berakhir, tidak mengapa. Hahaha...., gelak usil si Angin Selatan menggema. Tak jelas kenapa...? Mungkin mentertawakan sentimental taste saya siang ini. Biarkan saja dia. Bagaimanapun kisah di bawah hujan ini telah berakhir dengan lega dan diam-diam.

Friday, February 26, 2010

Hari Yang Sempurna Untuk Melesat

Sebuah hari yang mendung sejak pagi tiba di hadapan seseorang. Dia yang sejak tadi menggelepar saja di pembaringan. Jangan tanya kenapa sekarang dia menggelepar. Mungkin lelah dengan ritual malam Jum'atan semalam, hm, entahlah. Di luar matahari tak jelas berada dimana, sudah setinggi apa. Dia tertutup awan. Maka sepenuh hari itu telah melahirkan ide di benak sang seseorang tersebut. Ya, mau apalagi. Tidak ada pilihan lain, ini hari yang sempurna untuk melesat. Melesat dengan indah, harapannya.

Lesatan pertama, dapur. Dia berkutat sejenak disana. Memasak air. Membuat secangkir kopi dan secangkir teh. Juga membuat teman kopi dan teh itu hingga layak disebut sarapan yang sekenanya. Sarapan bersama keluarga. Ini lesatan pertama.

Lesatan kedua, membuka laptop bututnya. Inilah melesat yang sesungguhnya baginya. Disini dia bisa melesat kemana saja. Tadi baru saja melesat ke sosok Lena Maria Klingvall. Penyanyi gospel yang terlahir tanpa lengan, dengan kaki yang juga tidak utuh. Lena Maria yang telah membuat air matanya meleleh. Betapa keterbatasan tidak membuat seseorang jadi lemah. Lena Maria Klingvall, telah menunjukkan bakat besarnya (penyanyi, sekarang juga menulis). Lena Maria Klingvall yang sinar matanya selalu tersenyum. Seakan memberi senyumnya kepada siapa saja untuk selalu melesat dengan indah.

Setelah ke Lena Maria, lesatan ketiga, ia membuka sitenya sejenak. Menyapa beberapa sahabat, hingga tersadar ada permintaan sahabat yang belum ia penuhi. Tag 7 Buku Yang Mempengaruhi Hidup dari mbak Fanda. Mohon maaf, bila tag ini dikerjakan tidak sesuai harapan mbak Fanda. Buku yang mempengaruhi hidupnya, rasanya lebih dari 7 buku. Tapi tidak semua yang mempengaruhi hidupnya masih disimpan sekarang. He, cara dia mungkin aneh dibandingkan orang lain. Dia tidak menjadikan buku sebagai panduan yang selalu dibuka kapan saja. Buku yang mempengaruhinya, setelah dibaca, efeknya tersimpan di jiwa. Setelahnya buku tersebut malah raib entah kemana. Ada yang dipinjam orang tidak kembali. Ada juga yang diambil pemiliknya karena buku itu buku pinjaman. Tetapi...., meski buku-buku itu tak lagi bersamanya, pengaruhnya tetap tinggal di jiwa. Antara lain, Ayah dan Ibu-Naquib Mahfouz, Si Tolol Gimpel-Isaac Bashevis Singer, Bumi Yang Subur-Pearls S.Buck. Sedangkan buku yang mempengaruhi hidup dan sampai sekarang masih ada bersamanya, ya "Kehidupan" ini (selain Al Qur'an). Inilah yang selalu dia baca. Kehidupan dimana kita bisa mengambil hikmah tentang banyak hal. Gambar di bawah ini adalah beberapa buku yang disukainya. Buku yang ia turunkan dari rak bukunya.



Lesatan keempat. Menikmati lagu Savanne lagi, sambil mencari gambar setiupan bunga ilalang yang tergeletak di meja. Sayangnya gambar ilalang yang seperti dia inginkan belum didapat. Akhirnya cuma melesat ke Savanne, menceburkan diri di padang rumput luas dengan beberapa pohon yang menyembul seadanya. Juga beberapa zebra. Savanne yang menghangatkan jiwa.

Begitulah sebuah hari yang sempurna untuk melesat. Melesat di hari libur memang lebih leluasa. Hari libur yang cukup panjang telah tiba. Mari melesat menikmati hari libur ucapnya. Sekejab setelahnya seseorang tadi sudah menghilang. Tak jelas melesat kemana dia. Saya tutup saja tulisan ini. Selamat menikmati hari libur kawan.

Thursday, February 25, 2010

Semangat Putih


Seputih melati. Seputih Kemuning. Seputih hati perawan tulus (semoga setiap perawan itu tulus hatinya, sebuah doa). Seputih hati jiwa bayi yang baru terlahir di dunia, dan seputih-putih lainnya. Putih akan selalu putih. Putih tetaplah putih. Maka putih itu selalu saya kenakan, sebisa yang saya lakukan.

Putih di hati. Putih di jiwa. Putih di hirupan bau Kemuning yang diberikan seseorang. Putih seputih nasi yang baru saya tanak tadi pagi. Putih ini putih kami. Semoga putih itu tak sekedar menjadi warna pakaian yang kami pakai (yang gambarnya anda lihat di atas). Semoga menjadi semangat putih di benak. Maka mari putihkan jiwa kita, kalau kita mau.

Begitulah renungan saat menatap gambar sendiri (gambar saya dan rekan-rekan kerja). Bagi yang mau kenalan dengan rekan-rekan kerja saya, boleh, lewat email ya. Selamat pagi kawan. Mari semangat melaksanakan aktivitas kita hari ini, dengan jiwa putih.

Wednesday, February 24, 2010

Pagi Yang Menjendela



Pagi tiba lagi. Pagi ini mengapa begitu menjendela di benak saya...? Belum ada jawabannya. Entah kenapa, tiba-tiba saja ada keinginan kuat ingin segera membuka jendela. Ada keinginan kuat ingin duduk berlama-lama di tepi jendela. Maka selepas sholat shubuh ini sang jendela segera saya buka. Inilah pagi yang menjendela bagi saya.

Jendela dibuka, kesegaranpun tiba. Tak hanya itu, sang jendela memberi tau aktivitas dunia. Dia memperlihatkan apa yang ada di luar sana. Jendela di atas, bukan jendela saya. Jendela ini menampilkan pepohonan. Jendela saya tidak. Jendela saya juga tak memiliki pemandangan gunung. Tak ada pemandangan air terjun. Tapi pagi ini, dari jendela saya tiba bunga ilalang yang diterbangkan angin. Tentu, tiba juga si Angin Selatan. Maka jendela saya yang malu-malu ini lebih menggairahkan bagi saya. He, rupanya pagi ini menjendela bagi saya karena sang ilalang mengirimkan bunganya untuk saya.

Begitulah pagi yang menjendela. Kawan, bukalah jendelamu selagi masih bisa. Jendela yang memang jendela, jendela jiwa juga. Kesegaran, sebuah semangat, mungkin akan tiba untukmu. Selamat pagi. Selamat beraktivitas.

Monday, February 22, 2010

Sentimentil Taste

Hari yang sudah Senin lagi. Saya sedang berkutat dengan aneka kesibukan hari ini. Tiba-tiba saja, hiks ingin menyepi sejenak. Maka saya cari pojokan ruang saya, dan mulai menyetel i-like music saya. Mendengarkan lagu sentimentil yang lebih banyak gitar akustiknya, kegemaran saya "Savanne". Lagu yang cukup membuat jiwa saya basah lagi. Saya seolah sedang berbaring di padang rumput luas dengan jiwa yang menari.

Ya, saya sedang Sentimentil kawan. Sense yang mentil, haha. Katanya itu normal. Sentimentil itu biasa. Wajar. Sesekali sentimentil, membebaskan diri dengan menderaikan air mata, meluapkan segala emosi, bahagia, senang, sedih, marah, kesal, menumpahkan kesalahan pada orang lain secara mendayu-dayu, tidak apa-apa. Asal jangan sering-sering. Dan...., upayakan (terutama sentimentil yang sifatnya marah, kesal, benci kepada orang lain) cukup dalam hati saja. Supaya kesannya kita tidak jadi menuduh orang lain telah menyakiti kita.


Begitulah. Saya sering heran dan takjub bila melihat diantara kita yang sering mendayu-dayu membuat pernyataan telah disakiti orang lain. Sepertinya kita gemar sekali menyalahkan orang lain. Bukankah batas antara siapa yang menyakiti dan siapa yang disakiti itu tipis sekali..!?. Ini sedikit himbauan saja, himbauan yang lebih ditujukan unuk diri sendiri, agar tidak dengan mudahnya "merasa" telah disakiti. sebentar-sebentar berkata dan meratap, disakiti. Disakiti. Sekali lagi, disakiti....!?

Bila kita sering sekali "merasa" telah disakiti, mungkin kita perlu introspeksi diri, barangkali....kitalah yang salah. Terlalu mudah "merasa" sakit hati, terlalu gampang "merasa" disakiti perasaannya. Perasaaan-perasaan itu, bila diungkapkan sama saja artinya kita telah menuduh orang telah menyakiti kita. Padahal, mungkin kita saja yang terlalu lebay, terlalu memanjakan diri sendiri. Mungkin orang yang telah kita tuduh menyakiti kita tidaklah seperti yang kita kira. Mungkin kita salah menduga.

He, lebay menggelorakan sentimentil taste. Itulah istilah sang ilalang saat kemarin sore dia datang lewat bunga putihnya yang beterbangan. Ya, bagus juga saya renungkan. Saya kira, siapa saja boleh merenungkannya bila berkenan. Mari kita bebaskan diri kita dari sentimentil taste yang lebay kawan. Tentu saja kalau kita mau. Selamat siang semua. Selamat beraktivitas. Semoga kesuksesan dan kebarokahan menjadi milik kita semua.

Gambar di atas tentu bukan saya, diambil dari sini

Sunday, February 21, 2010

Suatu Hari Pada Dapur dan Kasur

Suatu hari seseorang menghayati dapur dan kasur (tanpa sumur ya). Entah kenapa tiba-tiba saja ia tertarik menghayati kegiatan domestik ini. Padahal tiap hari kita semua melakukannya. Ya, kita semua, laki-laki dan perempuan, maaf kalau seseorang yang ini tidak menganggap urusan dapur sebagai urusan domestik kaum perempuan.

Baiklah kita beralih lagi ke seseorang tadi. Dia, seperti biasa, terbangun sekitar sepuluh menit sebelum adzan shubuh. Srat sret srut seadanya yang menghabiskan waktu sekitar setengah jam. Lalu, iapun duduk dengan mata lurus ke depan di hadapan layar monitor komputernya. Seseorang yang lain sedang tergolek di kasur, seperti biasa juga. Kelihatannya itu irama rutin hidup mereka.

Seseorang yang di depan layar komputer terlihat asyik dengan sesuatu di kepalanya. Setelah sekian lama, dia menutup komputernya. Sementara, seseorang yang tadi masih tergolek di tempat tidur terbangun.
"Huaahhhhhh", suaranya membahana.

"Mau nasgor gak soul...?, ucapnya sambil merapikan rambut di depan cermin
"Mau, tanpa belacan ya", sebuah jawaban terdengar. Jawaban santai, sekenanya dari seseorang yang disapa Soul.

Itulah komunikasi yang terjadi pada sebuah ruangan yang memuat kasur. Betapa hari itu mereka ingin menghayati dan menikmati rutinitas pada dapur dan kasur. Praktis hari tu keduanya berkutat pada ruangan yang memuat dapur dan kasur. Sebab ini hari libur kawan. Hari dimana mereka lebih punya waktu untuk menghayati dapur dan kasur. Tak ada ide menggreget yang menghentak minta dituangkan. Sepenuhnya ingin menghayati dan menikmati dapur dan kasur.

Sebelum pamit tadi, salah seorang dari mereka berkata bahwa saya boleh menitip sesuatu. Baiklah kesempatan ini saya gunakan untuk memajang sesuatu. Cinderamata indah dari para sahabat. Inilah dia :




Syifa, perempuan penuh taste indah dari medan menganugrahi saya The Hottest Female Blogger. Award yang sudah pernah saya terima, sudah saya pajang dan saya bagi-bagikan kembali. Kini, sebagaimana hidup adalah sebuah siklus, award indah ini kembali lagi pada saya. Terimakasih Syifa.

Elpa, gadis lembut dari Bumi Parahyangan yang sedang berda di Malaysia ini menganugrahkan award yang sama dengan Syifa, The Hottest Female Blogger Award. Terimakasih Elpa. Karena award tersebut sudah pernah saya terima dan saya pajang, tidak usah dibagi lagi ya.






Gadis cilik putri mbak Reni ini kecil-kecil sudah jago membuat award lewat otak-atik photoscape. Sa, tante pajang satu ya, yang paling tante suka. Terimakasih Shasa. Terus semangat ya.

Demikianlah kawan. Hari yang seperti berlari. Sayapun harus bergegas, tak ingin mengganggu mereka. Kepada para sahabat, bila ada yang belum memiliki award di atas dan berkenan mengambil award tersebut, silahkan jangan sungkan. Selamat siang. Selamat melanjutkan akhir pekan untuk semua.

Saturday, February 20, 2010

Tiga Hari Tanpanya

Tiga hari tanpanya,
tiada gairah
tiada semangat
tiada rasa

Tiga hari tanpanya,
tiada kuhirau sang ilalang

tiada kuhirau si angin selatan
tiada kuhirau sesiapa

Tiga hari tanpanya,
tiada celoteh riang
tiada gelak tawa
tiada inspirasi menggelora

Tiga hari tanpanya,
cukup sudah masanya
maka kini kusambut ia
tentu penuh sukacita

Tiga hari tanpanya, usai sudah !, teriak seseorang. Kini sang seseorang dan sang Dia berdekapan dengan hangat. Tentu saja. Sebab dia dan sang Dia memang tak bisa terpisahkan. Inilah catatan seseorang yang telah menderita "Tiga Hari Tanpanya" karena flu yang mendera. Betapa secangkir kopi begitu berarti baginya. He, betapa menggenaskannya. Begitulah suara usil si angin selatan, seperti biasa, mengemuka tanpa diminta.

Friday, February 19, 2010

Your Own Sense, Your Own Purity

Sukakah anda memakai baju yang sudah dipakai orang....? Sukakah anda menggunakan sesuatu yang sedang jadi trendsetter (hampir semua orang menggunakannya)...? Sukakah anda ikut-ikutan membidik apa yang sedang dibidik orang.....? Jawabannya tentu tergantung sikon kita masing-masing.

Jawaban saya, tidak. Saya tidak suka menggali apa yang sedang digali orang. Kecuali ada hal mendesak yang perlu diluruskan menurut nurani saya. Saya tidak suka menggunakan idiom/diksi yang dibuat orang seolah-olah saya yang menciptakan. Saya lebih suka membuat idiom/diksi ala saya sendiri, suka-suka saya. Saya tidak suka ikut-ikutan. He, kalau orang lain seperti itu, ya biarkan saja. Toh itu cuma meransek kreativitasnya sendiri. Hanya sebagai kawan, ini sedikit nasehat dari saya.....ayo kreatiflah dengan sense anda sendiri. Milikilah sesuatu yang disebut "Your Own Sense, Your Own Purity". Sense milik anda sendiri, kemurnian milik anda sendiri. Itu akan terasa lebih nikmat dan nyaman. Tentu saja ini cuma pendapat saya pribadi. Bagaimana menurut anda...?

Thursday, February 18, 2010

Sebuah Savanna Pagi Ini


Saya berjalan di savanna pagi ini. Entah kenapa tiba-tiba saja saya berada di savanna itu. Savanna dengan hamparan rumput yang luas. Savanna yang diantara hamparan rumputnya menyembul beberapa pohon berdiri dengan seadanya. Savanna yang membawa saya menjauh dari keriuhan yang biasanya.

Maka savanna itu membuat saya sedikit lega. Saya terjauh sejenak dari engkau, dia, dan mereka. Savanna itu mendekap saya begitu erat. Erat dan hangat. Hangat dan juga ceria. Maka jangan ganggu saya bila saya sedang berada di savanna itu. Itulah saat saya sejenak menyepi , mengisi rongga jiwa dengan kehangatan.

Betapa bahagianya bisa melesat ke dalam savanna. Sebelum keluar dari sang savanna, saya sedikit berbisik padanya,
"bolehkah saya kembali lagi kemari di lain waktu...?"
"Silahkan, kapan saja kau ingin". Itulah jawaban sang savanna. Jawaban yang sangat membuat saya bertambah lega.

Begitulah. Saat music I-like saya putus. Suara Ali Farka Toure pun terhenti. Saya seketika melesat keluar dari Savanna. Betapa Savanne dari Ali Farka Toure itu telah menyegarkan saya untuk kembali menekuri hiruk pikuk dunia. Selamat pagi semua.

Gambar diambil dari sini

Tuesday, February 16, 2010

Ilalang dan Angin Selatan, Ketika Monolog Tak Lagi Sebuah Monolog

Seringkali saat sedang merenung, bermonolog dengan pikiran sendiri di depan komputer butut saya, sentilan datang tiba-tiba. Sentilan dari sang Ilalang dan si Angin Selatan. Saat itu juga monolog saya tak lagi sebuah monolog. Mungkin telah menjadi dialog. Ya....dialog antara saya dan sang ilalang. Atau antara saya dan si Angin Selatan. Bisa jadi pula antara saya dengan keduanya.

Begitulah. Saat ini saya sedang merenunginya. Sesungguhnya saat sedang merenung sendiripun, sebenarnya kita tak benar-benar sedang sendiri.Jangan bilang karena ada malaikat di sisi kanan-kiri kita ya. Itu tentu saja. Hanya, saya tidak sedang menyoroti kehadiran para malaikat itu (tentu saja, itu bukan bidang saya). Persis, saya hanya ingin sedikit merenungi ini dari sisi "kemunculan sisi lain" dari diri kita.

Ya, sisi lain. Pernahkan kita terpikir bahwa kita memiliki berbagai sisi, berbagai karakter. Ada karakter kita yang tegar, keras, acuh. Pada sisi lain, kita punya pula karakter konyol, santai, iseng, ceria, dan lain-lain. Rasanya saya mengalami ini. Teman-teman saya juga mengalami ini. Bukan keperibadian ganda. Wajar. Normal, kata mereka.

Maka saat saya sedang bermonolog, sisi tegar, acuh dari diri saya kadang suka menyentil monolog saya lewat sang ilalang. Saat saya sedang merenung di depan komputer saya, sisi iseng, yang ringan, jahil muncul sebagai si Angin Selatan. Mereka adalah beberapa sisi dalam diri saya. Keduanya bersatupadu, meningkahi imaji saya. Saat itulah monolog tak lagi sebuah monolog. Tentu saja ini menurut saya. Anggapan saya. Anggapan yang mungkin tidak penting-penting amat bagi orang lain, EGP, hehe. Bagaimanapun, mungkin anda punya pendapat kawan...........? Silahkan dituangkan disini, tentu saja bila berkenan.

Monday, February 15, 2010

Anwar Putra Bayu, Lahir Bersama Bayu

Sosoknya biasa saja. Sedikit kurus, berkumis, dan berkacamata. Itulah Anwar Putra Bayu, seniman, sastrawan Sumatera Selatan yang cukup mengemuka. Saya mengenal karya-karya beliau sejak saya SMA. Biasanya berupa puisi, cerpen, atau catatan pada kolom seni/budaya di Harian Sumatera Ekspress dan Sririjaya Post. Beberapa karyanya yang saya suka, Sajak pulau Kemarau, Sembunyi Dari Angin Musim Penghujan, Kotaku Telah tenggelam, Lelaki itu.

Dia lahir bersama bayu, mungkin. He, sungguh saya tidak tau mengapa beliau menamakan dirinya seperti itu. Saya menduga karena dia memproklamirkan kehadiran bersama sang Bayu. Sang Bayu yang membawa kesejukan bagi orang-orang di sekitarnya. Tak pelak, kehadirannya di jagad seni/budaya Sumatera Selatan bak angin segar yang membasahi savana kering.

Dia juga penyuka kopi, sama seperti saya. Tapi, tentu saja dia bukan Sang Angin Selatan yang sering saya sebut dalam tulisan saya. Bukan. Saya ketemu beliau saja cuma sekali di acara sahabat saya Saut Situmorang (seniman garang tapi periang) pada acara bedah buku "Politik Sastra"nya. Meski bertemu cuma sekali, karena sosoknya yang "Low Profile" beliau cepat dekat dengan siapa saja. Beberapa kali beliau mengajak saya hadir di acara kesenian/ teatrikal di Palembang, karena kesibukan, ......tidak bisa saya penuhi.

Begitulah tentang Anwar Putra Bayu. Beliau seorang blogger juga. Blognya bisa dilihat disini. saya pamit dulu. Ya, Sang Angin Selatan mengingatkan saya, pekerjaan sudah menanti. Selamat pagi semua. Selamat beraktivtas.

Sunday, February 14, 2010

Separuh Nafasnya Pada Hujan


Separuh nafasnya terbang bersama hujan. Seseorang tergelak. Kadang tergolek di pembaringan kala langit menumpahkan hujan. Hujan yang seakan tak ingin reda. Seperti menumpahkan segenap rasa. Seperti sebuah tangisan langit. Lalu menangisi apakah sang langit....?


Begitulah tanyanya pada hujan. Hujan, he, tentu saja tidak menjawab. Byur.....byur....byur....,. Cuma rintiknya yang terdengar. Semakin deras. Semakin menggila. Dan, hujan ini meski terdengar seperti tangisan langit, juga menimbulkan kelegaan. Sebuah kelegaan yang tak jelas. Entahlah. Paling tidak di sudut jiwanya ia merasakan sebuah kelegaan, hujan ini menyejukkan kotaku. Hujan ini juga menyejukkan hatiku, desisnya sambil tersenyum.

Separuh nafasnya terbang bersama hujan. Nafas yang tadi berisikkan kemarahannya. Kemarahan yang (tentu) juga tak jelas bagi kita. Maka begitu hujan turun, kemarahan tak jelasnya itu menjadi reda. Hujan telah menemaninya merenungi semua. Hujan itu membantunya membuang nafas kejengahan sekaligus kemarahannya.

Ketika langit berhenti menumpahkan hujan. Segalanya menjadi ringan dan terang. Tanah basah. Dedaunan basah. Bunga-bungaan basah. Jiwanyapun basah. Sang hujan telah membasahinya dengan kesejukkan. Diapun bergegas memenuhi janji sebuah pertemuan di taman kotanya.

Friday, February 12, 2010

Sekali lagi, Setetes Embun



Setetes embun bertanya pada sang kelana,....."Tapi dalam seribu tahun aku tetap setes embun". Sang Kelana menjawab, "Bukankah cahayasegala warsa bersinar dalam siklusmu. Sebab kau dan kehidupan adalah satu" (Kahlil Gibran, Taman Sang Nabi)

Setetes embun menyinari dan menyejukkan siklus kehidupan. Sukakah kita bila jiwa kita berisikan kesejukan bak setetes embun....? Jika suka, maka mari kita mengembunkan jiwa kita. Bila hati kita sedang gerah, jiwa sedang marah, pikiran sedang sumpek, maka menghadirkan setetes embun di jiwa kita (sesuatu yang tadi saya sebut"Mengembunkan Jiwa") akan sangat menolong kita.

Begitulah. Setetes embun hanya ada di pagi hari, setetes embunNya di jiwa kita bisa kita hadirkan setiap saat, asal kita mau.
Mari mari mengembunkan jiwa kita, bila kita berkenan.

Tuesday, February 9, 2010

Obrolan Ilalang dan Angin Selatan, "Kembali Kepada Fitrah Hati Nurani, Katakan Tidak Pada Korupsi"

Butuh waktu cukup lama bagi ilalang untuk merenungi ini. Tak cukup sehari. Tak cukup seminggu.. Bahkan tak cukup sebulan atau dua bulan bila tak menemukan esensinya. Maka pada suatu sore yang bercahaya, saat langit mulai menjingga, ilalangpun berkata, "Aha...., ini dia jawabannya".

Ya, setelah sekian lama berkontemplasi., memejamkan mata, membiarkan angin meliukkan dahannya ke kiri dan ke kanan. Melatih kepekaan, mencari suara terdalam di relung jiwa. Sang ilalang akhirnya menemukan jawaban atas pertanyaanya soal pemberantasan korupsi.


Tiba-tiba saja, saat sang illalang tengah sibuk memikirkan ini, si Angin Selatan menghembuskan sepoinya pada ialang sambil berkata,
"Tau apa kau soal korupsi bila dirimu kokoh mengakar disini,,,,?", pertanyaan usil si angin selatan, seperti biasanya,
Hening sesaat, sampai terdengar lamat-lamat jawaban sang ilalang.
"Ragaku memang disini. Aku mengakar begitu kuat, karena aku sang ilalang. Tapi jiwaku, bukankah mengembara bersamamu......"
"Aku mengembara lewat helaian bungaku yang ringan dan putih bersamamu"
"Kita mengembara mengisi tiap celah desa dan kota. Mengembara ke segala penjuru kota tanpa disadari manusia"
" Kita mengembara mengisi segala ceruk, melihat tingkah polah mereka...."
"Bukankah telah cukup banyak yang kita lihat, kawan.....?" tambah sang Ilalang lagi. Tentu saja tak ada jawaban. Si Angin Selatan cuma mendesis mengiyakan.

Mereka terus bercakap-cakap. Kadang lirih, kadang begitu berapi-api. Obrolan iseng yang mengemuka begitu saja saat serumpun ilalang yang tumbuh di tepi pagar sebuah komplek digerakkan ke kiri dan ke kanan dahannya oleh hembusan sang angin selatan. Tadi sore, kejadiannya, di sebuah kota..

Bagi sang ilalang, memberantas korupsi tak akan bisa selama manusia masih dipenuhi keserakahan, penghambaan pada materi yang berlebihan. Tak akan bisa dicapai selama manusia bertekuk lutut pada nafsu duniawi. Tak akan bisa dicapai selama manusia tak lagi bisa membedakan mana yang hak dan mana yang bathil.


Seperti yang mereka saksikan, korupsi terjadi di semua lini. Terlihat mengakar begitu kuat, Ada penjual makanan keliling menggunakan bahan pengawet berbahaya, menggunakan mie, saos dan kecap kadaluarsa demi meraih keuntungan lebih banyak. Ada penjual BBM pinggir jalan mengoplos dagangannya. Ada berita yang cukup menghenyakan, ayam yang tidak layak konsumsi, tiren (mati kemaren) diolah dan dijual di pasaran. Banyak pegawai sering korupsi waktu. Banyak pengusaha membuat proyek tidak sesuai spesifikasi. Dan lain sebagainya.

Demikianlah korupsi yang tampak oleh sang ilalang dan angin selatan. Semakin tinggi level pelakunya semakin besar nilai korupsinya. Korupsi begitu meraja dan melela. Manusia korupsi dengan berbagai alasan. Karena lapar. Karena terdesak. Karena ingin untung besar dan serakah. Bila kemiskinan tidak bisa membuat manusia bersabar, maka apalagi bila mereka sudah kaya, mereka akan semakin serakah. Korupsi tetaplah korupsi. Tidak ada yang bisa ditolerir bila memang ingin memberantasnya, desis ilalang

Begitu banyak organisasi,/badan/komisi yang mengurusi pemberantasan korupsi, korupsi tetap merajalela di negara ini. Begitu banyak program/kegiatan yang dicanangkan untuk pemberantasan korupsi, hasilnya sangat jauh jauh dari harapan. Korupsi terus terjadi dengan dahsyat. Akankah manusia membiarkannya...? Tentu saja tergantung keinginan mereka sendiri.

Itulah fakta yang dilihat sang ilalang dan si Angin Selatan. Bila banyak yang tak perduli pada masalah ini, tentu saja korupsi akan terus terjadi. Bila manusia tidak bersatupadu memberantas korupsi, maka bagaimana mereka bisa mengatasinya dengan jitu.

Semua manusia Indonesia harus kembali kepada fitrah. Kembali pada fitrah sebagai manusia yang menjalani hidup ini dengan hati nurani. Hati nurani yang selalu menolak melakukan hal yang bathil. Hati nurani yang selalu menolak mengambil sesuatu yang bukan haknya. Hati nurani yang selalu menyuruh kita untuk bersikap jujur. Itulah solusi bagi masalah Pemberantasan Korupsi. tanpa kembali ke hati nurani, korupsi akan terus terjadi Bila semua manusia Indonesia telah kembali kepada fitahnya, sebagai manusia yang mendengarkan nuraninya. Korupsi sedikit demi sedikit akan menurun. Pemberantasan korupsi akan bisa ditegakkan.


Untuk itu, semua pihak, semua lini harus bertekad sama. Bertekad kuat untuk merubah mindset, merubah pola pikir. Semua pihak seyogyanya membersihkan jiwanya dari kontaminasi keserakahan duniawi. Semua pihak harus Bertekad kuat untuk kembali kepada fitrah, pada hati nurani yang sebetulnya menolak melakukan korupsi. Sebagai langkah awal, semua pihak harus mengatakan tidak pada korupsi,
  • Seluruh komponen masyarakat, semua level, sepakat kembali kepada fitrah, kembali pada hati nurani. Katakan tidak pada korupsi. Dengan begitu seluruh sendi kehidupan akan dijauhkan dari korupsi. Pedagang berdagang dengan jujur, menjauhi korupsi. Pegawai, pengusaha, guru, semua profesi, menjalankan profesinya dengan jujur, menjauhi korupsi.
  • Seluruh para pihak (stakeholder), organisasi/badan/komisi pemberatasan korupsi harus lebih dulu mengamalkan tekad kembali pada fitrah, hati nurani ini. Bila tidak, pemberantasan korupsi hanya akan menjadi sekedar bualan mereka. Sekedar menjadi sumber periuk nasi saja.
  • Pemerintah, apalagi. Harus lebih jujur dan tegas kembali pada hati Nurani. Merekalah yang harus lebih dulu menanamkan dan menjalankan tekad ini. Tentu diperlukan ketegasan, niat baik, dan tekad yang kuat. Penegakan hukum atas korupsi tidak akan bisa tegas selama aparat sendiri tidak bersih. Bila pemerintah menjalankan program pembangunannya secara jujur, tentu saja kesejahteraan rakyat akan meningkat. Kesejahteraan rakyat, yang meningkat secara tidak lagsung akan mengurangi minat melakukan korupsi pada rakyat kecil. Bukankah katanya bila program pemberantasan kemiskinan dilaksanakan dengan baik, kemiskinan akan menurun. Seharusnya kan.
Begitulah obrolan sederhana sang illlalang dan Angin Selatan soal pemberantasan korupsi. Sebuah obrolan seadanya (berdasarkan fakta yang mereka lihat). Mereka berdua (apalagi saya) sudah cukup muak dengan banyaknya organisasi/badan/komisi, program/kegiatan yang digadang-gadangkan dan dicanangkan sebagai pemberantas korupsi, Toh korupsi makin marak. Menimbulkan perseteruan dan konflik ala cicak dan buaya yang membuat miris.

Semoga kita bisa sedikit merenunginya. Semoga manusia Indonesia bisa kembali kepada fitrahnya sebagai manusia yang mendengarkan nuraninya. Nurani yang menolak korupsi. Katakan Tidak Pada Korupsi. Dan, he, saya tambahkan catatan mereka berdua dengan menyitir motto Aa' Gym, bila ingin melakukan perubahan besar, maka setiap diri harus memulai. dari diri sendiri. Mulai dari yang kecil. Dan mulai dari sekarang. Hm, kelihatannya sang illalang dan angin selatan setuju dengan kalimat Aa'Gym itu. Mereka tampak tersenyum.

Hari mulai gelap. Siluet ilalang yang dahannya tengah bergerak dihembus Angin Selatan itu semakin eksotis di mata saya. Selamat bercengkerama kawan, bisik saya pada mereka. Biarkan kami merenungi obrolan sederhana kalian. Maka marilah kita renungkan, tentu saja bila kita berkenan.

Monday, February 8, 2010

Ayo Gebrak Mood Kita


Apakah kita sering merasa tidak bahagia dan begitu menghayati rasa tidak bahagia kita..... ?

Apakah kita sering merasa telah gagal dalam hidup lalu menyesali hidup kita.....?

Apakah kita sering tiba-tiba kehilangan semangat hidup...?

Apakah kita termasuk orang yang tergantung suasana hati....?


Bila jawaban atas pertanyaan diatas adalah "Ya", maka tentu saja kita tidak akan bahagia. karena kita telah memutuskan diri kita untuk tidak bahagia. Rasa tidak bahagia, suasana hati yang tidak nyaman akan terus bertengger di hati kita sepanjang kita mengizinkannya. Hal yang perlu dilakukan adalah ayo gebrak mood kita. Kitalah yang menciptakan dan menggali mood di hati kita agar selalu bergairah, selalu "in the good-mood". He, maaf, saya sedang begitu bersemangat untuk menuliskan ini, entah kenapa.

Seorang sahabat saya pernah berkata, batas antara bahagia dan tidak bahagia itu bahkan lebih tipis dari sekulit ari. Ya, batasnya begitu tipis. Jika batasnya begitu tipis, mengapa tidak kita dobrak saja. Bukankah Tuhan tidak mungkin menciptakan kita secara iseng-iseng. Pasti ada rencana besar dibalik penciptaan kita. Bila saat ini rencana, keinginan, harapan kita belum tercapai, maka jangan berkecil hati. Katakan pada diri kita bahwa rencana yang lebih baik menunggu untuk menjadi kenyataan bagi kita. Introspeksi diri, lalu ambilah hikmahnya.

Begitulah. Bila kita ingin bahagia, maka pikirkanlah kebahagiaan. Jadikan hati kita selalu penuh syukur, selalu bisa melihat kebahagiaan dibalik semua kejadian. Kitalah yang mengendalikan suasana hati kita. Faktor di luar diri cuma pelengkap. Kitalah nakhoda dari jiwa/hati kita. Di luar kita tentu saja Dia, Sang Khaliq, dimana kita harus selalu berdoa agar diberiNya petunjuk, ketenangan dan ketentraman jiwa. Ya, kita adalah apa yang kita pikirkan. Bisakah....? tergantung diri kita sendiri. Selamat siang semua. Tulisan ini, lebih ditujukan untuk diri saya sendiri.

Sunday, February 7, 2010

Aroma Pagi Ini


Pagi yang indah dan beraroma tiba untuk saya. Pagi, sebagaimana tiap bagian hari (siang, sore dan malam), selalu beraroma. Aromanya bisa kita sukai atau tidak kita sukai. He, bagi saya kadang ada pagi yang beraroma duka, saat kita sedang sedih. Ada pagi yang beraroma ceria saat kita terbangun dengan rasa bahagia. Ada pula pagi yang biasa saja, hambar, saat kita malas melakukan apa-apa.

Begitulah. Aroma pagi tentu tergantung dengan suasana hati kita. Sejauh ini, suasana hati, kadang tidak selalu tercipta dari kondisi jiwa. Bisa juga dipengaruhi hal-hal di luar diri kita. Bahkan bisa spontan dipengaruhi oleh apa yang kita lihat, apa yang kita dengar, dan apa yang cium dari aroma sekitar.

Maka aroma pagi ini, hm......menggelora tapi juga menenangkan. Terbangun oleh suara adzan yang lamat-lamat terdengar. Bau secangkir kopi saya, seperti biasa. Tak cukup itu, bau nasi goreng muncul juga melengkapi bau secangkir kopi tadi. Saat membuka jendela depan, hm kemuning menyambut saya dengan keharumannya yang mempesona dan menenangkan. Lalu, berita di televisi yang membuat saya kadang menghela nafas, kadang tertawa. Untungnya, tetap membuat saya merasa nikmat menghirup secangkir kopi dan menyantap sepiring nasi goreng saya. Mungkin artinya porsi hingar bingar berita tv masih dalam taraf yang bisa saya tolerir. Entahlah. Saya anggap saja begitu.

Bagaimana aroma pagi anda ? Semoga juga menggelora dan ceria. Mari nikmati aroma pagi kita selagi hari masih pagi. Sebab pada pagi terdapat semangat awal hari. Mari reguk dan rasakan aroma pagi. Aroma pagi hari minggu, biasanya ceria dan indah kan.

Gambar diambil dari sini

Friday, February 5, 2010

Ketika Dua Bunga Menyapa

Darimanakah keindahan itu berasal ?
Darimanakah keharuman itu muncul menyapa kita ?
Dimanakah kumbang selalu hinggap ?
Bunga, itulah bunga

Merekalah awal dimana kebahagiaan itu tercipta
Merekalah kasih sayang dunia
Merekalah penerus yang akan menjaga semesta
Ya, itulah bunga

Maka mari kita sayangi dan kita jaga Bunga-bungaan kita.

B
egitulah rasa jiwa ketika dua bunga menyapa saya. Yah, para gadis kita yang menyapa jagad blogosphere kita dengan award indah mereka. YolliZZ dan Minomino.

1. Award Yolistiayu yusuf (4 Februari 2010)
Bunga pertama, YolliZZ. Gadis Palembang yang manis-lembut dan suka mencurahkan isi hati dengan coretan kehidupan di blognya ini baru saja merayakan setahun usia blognya.



2. Award kedua dari Minomino (30 Januari 2010)

Bunga kedua Minimino. Gadis cantik bermata besar yang tidak suka durian dan sangat gemar ngalor-nguidul, berceloteh soal apa saja di blognya. Minomino menganugrahkan sebuah award manis untuk saya. Sebuah award yang diperoleh dari sahabatnya.




Terimakasih YolliZZ dan Minomino. Semoga makin mewangi dan merona ya. Keep writing. Keep blogging.


Award indah ini saya persembahkan kepada :
  1. Syifa Ahira
  2. Fi
Semoga berkenan. Selamat malam sobat.

Secangkir Kopi Pahit di Rinai Hujan.



Ya, entah kenapa pagi ini saya ingin kopi pahit. Kopi dengan gula sangat sedikit. Begitulah pesan saya pada adik saya (kebetulan keluarga masih berkumpul di rumah setelah acara nujuh hari semalam). Maka jadilah saya reguk secangkir kopi pahit di pagi yang masih merinaikan hujan ini.

Ah......, shruuuup. Begitulah regukan demi regukan menghangatkan tenggorokan. Begini rasanya kopi yang sangat pahit. Kesan pahitnya begitu kuat, tapi rupanya lebih menghangatkan badan. Beginilah hidup. Pahit kehidupan akan lebih menghangat jiwa dan membuat kita kuat.

Seperti itulah kira-kira pesan almarhumah ibu saya. Saat saya reguk lagi secangkir kopi pahit ini, hm.....pahitnya yang hangat itu seakan juga menghangatkan jiwa saya. Kelihatannya pesan ibu saya ada benarnya. Paling tidak itulah yang saya rasakan saat ini. Secangkir kopi pahit di rinai hujan ini menjadikan saya hangat dan kuat. Tentu berkat kasih sayang dan doa (almarhumah) ibu saya dulu. Selamat pagi semua.

Gambar diambil dari sini

Tuesday, February 2, 2010

Perempuan Ilalangku

Kusebut ia Perempuan Ilalangku. Sebab ia sangat menyukai Ilalang si rumput liar. Ilalang. Ilalang. Ilalang. Dan sekali lagi Ilalang. Tak pernah ia jemu pada rumput liar itu. Ia selalu merindukan ilalang. Entah kenapa.

Meski tak jelas kenapa, seperti itulah kerinduan perempuan ilalangku pada sang ilalang. Kerinduan yang selalu tiba saat ia rasakan jengah. Kerinduan yang selalu tiba saat ia butuh suasana hening yang hangat. Seperti halnya ia rindukan suasana saat kembang jambu jatuh ke tanah. Entah kenapa.

Maka tak berani kuggangu perempuan ilalangku. Kecuali mencium keningnya. Mencium telinganya dengan lembut. Mengelus rambutnya dalam senyap senja tadi. Tentu saja diam-diam lewat sepoi gerakanku. Sungguh, tak berani kulakukan lebih dari itu. Sebab aku hanya Angin yang selalu dinanti untuk meniupkan ilalangnya agar meliuk indah. Aku hanya angin yang ditunggu untuk menjatuhkan dan membuat gerakan ritmis saat kembang jambu dan para dedauanan jatuh ke tanah.

Begitulah selintas tentang perempuan Ilalangku. Betapa beberapa hari ini ia merindukan ilalang dengan alasan yang tak kuketahui secara pasti. Tentu saja. Sebab aku hanya angin seperti yang kukatakan tadi. Aku hanya si Angin Selatan yang selalu disampingnya, kapan saja ia ingin.

Monday, February 1, 2010

Tak Ada Yang Bisa MenghalangiNya


Tak ada yang bisa menghalangi jatuhnya daun-daun yang berguguran
Tak ada yang bisa mencegah tunas baru tumbuh menghijau
Tak ada yang bisa menahan datangnya kegelapan merayapi hari
Tak ada yang bisa mencegah matahari menyembul dari ufuk timur

Pun....tak ada yang bisa menahan kepergian hakiki sang tercinta
Tak ada yang bisa dibuat selain melepaskan
Meski tak ada yang bisa membuang saat kepedihan menyergap
Tak ada pula yang bisa menentang saat rasa menerima itu tiba

Semua berjalan pada siklusNya
Semua berputar pada garis edarnya
Semua ada masanya
Semuanya adalah hikmah

Tak ada yang bisa menghalangiNya

Note: Persembahan untuk almarhumah Ibunda tercinta Hj.Siti Rahma

Menelusuri Rempah/ Bumbu Pada Kuliner Sumatera Selatan

Sumber Foto : faktualnews.com Jika rempah-rempah adalah daya tarik atau pemikat datangnya Portugis dan Belanda ke Indonesia pada zama...