Search This Blog

Tuesday, April 27, 2010

Desah Pada Sebuah Belantara Dunia

Tak biasanya dia terpaku pada pukul sebelas. Tak ada tawa lepas. Tak ada senyum renyah yang meretas. Sepenuhnya gemas. Gemas pada sesuatu. Apakah itu...? He, tak ada jawaban kecuali gesah yang mengendap di kedalaman jiwa.

Maka mampukah kau teruskan perjalanan pada belantara dunia yang semakin tak jelas...? Ya, negeri My oh My (yang disebut orang lain sebagai Negeri Para Bedebah atau Negeri Begajulan). Tentu saja, perjalanan ini belumlah usai. Meski belantara dunia ini semakin ta jelas, tetap ada sesuatu yang disebut harapan. Bukankah tetap ada cahaya bagi mereka yang mencariNya.

Izinkan saya meneruskan langkah merambahi belantara dunia ini. Tentu saja bersamamu, bersama mereka dengan cara kita yang berbeda. Ya, berbeda tapi tetap saling memberi ruang dengan takzim. Bukankah kita semua, dengan kelebihan dan kekurangan kita, hakekatnya adalah saling melengkapi.

Saya tak akan berarti tanpamu, tanpa kalian. Begitulah desahannya, seseorang anak manusia yang tadi terpaku pada pukul sebelas. Sekarang. hampir pukul duabelas. Selamat siang semua. Selamat mentas dan meretas di belantara kita.

Saturday, April 24, 2010

Kelana Malam


Sang kelana terbangun, tepat pukul sebelas malam kurang beberapa belas menit. Ia menyibakkan selimut kesayangan sambil berjingkat pelan-pelan. Nyaris tak menimbulkan suara. Cicak di dinding menatapnya sambil mengerjabkan mata. Seringai anehpun muncul di wajahnya. Seperti tersenyum tapi tidak tersenyum. Saya katakan saja itu seringai malam. Mungkin seringai itu menjadi penanda dimulainya pengelanaan malamnya.

Inilah saat malam menjadi milikku seutuhnya. Utuh sebab ia bisa kunikmati sepuasku. Malam yang bisa kucumbu semauku. Tak perlu terburu-buru, sebab besok hari minggu. Ini malam minggu yang tidak kelabu. Begitulah desahanya disela hembusan angin malam.

Hm, kelihatannya percumbuan itu sudah dimulai. Dia tenggelam ditelan sang malam. Dia duduk di sebuah meja. Jemarinya menari di atas keyboard laptop bututnya. Entah apa yang dikerjakannya. Sesekali wajahnya menengadah memandang ke depan, lalu meneruskan perhatiannya pada layar monitor. Di luar jendela, rembulan menemaninya sambil tersenyum.

Saya tetap tak paham gerangan apa yang membuatnya betah mejadi kelana malam saat ini. Apakah ada pekerjaan kantor yang harus segera ia selesaikan ...? Apakah ia sedang menulis sesuatu yang menurutnya penting...? Apakah ia sedang menulis sesuatu untuk membuat jiwanya bahagia...? Menulis novel misalnya atau menulis biografi seorang tokoh...? Sepenuhnya tak ada jawaban yang pasti. Saya menduga saja, bila ia rela menghabiskan malamnya untuk duduk di depan laptop bututnya, pastilah ia melakukan sesuatu yang menurutnya penting. Entah apa. Bila ia telah melakukan sesuatu yang menurutnya penting, tentunya jiwanya akan bahagia. Ya...semoga saja.

Maka....demi masa, wahai sang malam.... pelukalah ia erat. Sepenuhnya ia milikmu. Cumbulah ia bersama rembulanmu. Jangan lepaskan hingga ia menitikkan jelaga di sudut matanya. Saya, he, tentu saja akan segera tidur. Kepada kau sang kelana malam, saya serahkan malam ini untukmu. Sepenuhnya untukmu. Selamat malam.

Gambar diambil dari sini

Thursday, April 22, 2010

Bualan Angin Selatan Tentang Pose Dambaan

"Situasi seperti apa yang paling kau inginkan..?", tanya seseorang tiba-tiba padanya. Sudah lama sekali. Mungkin tiga tahun yang lalu.
"Tergantung suasananya...."
"maksudnya....?"
"Ya tergantung suasana hati saat itu..."
"Bila sedang ingin berbagi kasih sayang, jelas ingin berdua atau berkumpul dengan keluarga"
"Bila ingin suasana tenang yang sepi, jelas menyepi adalah pilihan..."
"Menyepi...., dengan suasana seperti apa?. Posenya bagaimana ...?" tanyanya lagi
He, pertanyaan aneh. Lebih aneh lagi, saat itu dia menjawabnya dengan antusias
"Seperti ini posenya.....saya sedang berbaring di padang rumput luas. Memandang langit yang bercahaya. Memandang bintang. Memandang bulan. Angin bertiup sepoi menggerakkan rerumputan dan menyibakkan rambut saya. Sebuah siluet rumput ilalang terpampang dengan anggun di hadapan saya. Indah bukan....?"

Itulah jawabannya ketika itu. Jawaban yang membuat seseorang yang bertanya itu tersenyum. Entah apa maknanya. Lucunya, tiba-tiba pula, saat ini, dia ingin merasakan ketenangan yang menjadi kedambaannya itu. Merasakan pose yang paling diinginkannya. Berbaring di padang rumput pada malam penuh bintang. Memandang suasana langit dengan kehangatan jiwa. Merasakan hembusan angin yang menyejukkan. Tentu saja,..... tanpa ada ular, tanpa kalajengking, serta tanpa hewan buas lainnya. Betapa menyenangkannya. Itulah pose yang paling didambakannya saat ini. Begitulah. Dia memikirkan pose itu sambil tersenyum.

"He, tidak aneh", bisik si Angin Selatan. Seperti biasa, muncul tanpa diminta
"Itu memang dirimu sekali" bisiknya lagi.
Tentu saja. Apa yang bisa dilakukan si Angin Selatan selain memakluminya. Memaklumi dan memahami meski tak mengerti.

"Cuma aku yang bisa begitu padamu sayang...,,,,"

Kata-kata yang terakhir tentu saja bualan si Angin Selatan. Jangan percaya bualannya. Jangan hiraukan dia. Silahkan direnungkan bila berkenan. Siapa tau anda juga punya pose kedambaan. Selamat malam semua.

Wednesday, April 21, 2010

Terbanglah Rasa

Terbanglah rasaku. Mengapung di awan biru. Menggulung di lamun ombak yang juga biru. Terbang diantara para capung dan burung. Begitulah desahan seseorang yang terbaring memandang langit yang menggantung dan seperti menunggu.

Ia tergugu. Ketika itulah sebait doa terlepaskan "Terjadilah kepadaku apa yang menjadi rencanaMu....". Suaranya lirih, bisikan yang nyaris tak terdengar. Suasanapun hening seketika. Apakah pertanda langit memberikan restunya...? Entahlah

Dia terbaring lagi. Terbaring sambil melepaskan rasa, katanya. Rasa lelah. Rasa jengah. Dan rasa ber"asa". Ya asa, harapan. Semuanya dilepaskan. Dilepaskannya dengan segenap rasa pasrah dan segenap kelegaan. Kelegaan yang menghangatkan jiwa, katanya.

Maka, seperti biasa, tentu saja saya tak ingin mengganggunya. Saya biarkan ia menerbangkan rasanya dengan lega. Semoga kelegaan itu berarti sebuah kepasarahan. Juga keyakinan atas rencana baikNya. Bukankah apa yang terjadi pada siapa saja adalah hal yang terbaik untuknya menurut Dia Sang Maha. Semoga. Inilah harapan saya sang Bunga Ilalang padanya (dia yang sedang terbaring ini). Harapan yang sangat biasa saja kawan.

Tuesday, April 20, 2010

Jeda Tengah Hari Tadi

Sepi saja baginya. Padahal suara hiruk-pikuk nyata terdengar. Kosong saja pemandangan baginya. Padahal suasana ramai di sekitarnya. Perempuan lelah menatap hari yang sudah setengah. Tengah hari tiba padanya kawan.

Ya tengah hari tadi saat ia berjeda sejenak. Jeda pada sajak bisu jiwa. Jeda akan segala gelak dan gejolak dunia. Wahai, kau......tak kan bisa tepiskan segala gejolak dunia. Tapi, bahwa "Dia" kau butuhkan untuk kau mengadu dan bergesah, siapa yang sanggup menapikannya...? Tak kan ada. Karenanya, saya hormati masa jedamu kawan, kapan saja kau ingin. Begitulah bisik sang Bunga Ilalang saat menatap seorang perempuan lelah tengah hari tadi.

Maka jangan paksa saya untuk menjelaskan apa, mengapa dan bagaimana. Tak semua hal harus jelas dan lugas seperti minum segelas air atau menyantap semangkuk bakso kawan. Pahami saja bahwa bila seseorang tiba pada lelahnya, maka ia berhak berjeda sejenak. Jeda untuk mencari lagi keseimbangan jiwa dan raga. Ya.....pahami saja, kalau mau. Kalau tidak, ya tidak usah hiraukan. Begitulah bisik sang bunga Ilalang lagi. He, rupanya dia masih saja begitu. Tiba-tiba, flash....., ia menghilang. Ia ditelan hari. Angin Selatan menerbangkannya.

Monday, April 19, 2010

Membaralah Impian

Akhirnya, dengan alasan memenuhi janji, berangkatlah saya bersama teman-teman sepulang kerja tadi menyaksikan film "Menebus Impian". Gratis. Tidak saja karena gratis, teman saya begitu semangat sampai ia membuat undangan di FB dalam rangka promosi film tersebut. Saya kira saya harus menghargai jerih payahnya. Itulah alasan saya rela ikut rombongan teman-teman menonton film tsb.

Alur cerita, biasa. Biasa bagi saya bisa diartikan tidak ada istimewanya. Seperti film penyuluhan KB yang saya tonton ketika saya kecil dulu. Meski begitu pesan bahwa setiap orang harus punya impian, masuk juga ke kepala saya. He, saya kira ini lebih disebabkan saya melihat contoh nyata di sekililing saya. Ada teman yang begitu gigih berjuang untuk mengejar impian menjadi kaya, maka ia kaya. Ada yang begitu tekun belajar untuk mengejar impiannya menjadi dokter, lalu menjadi dokter. Terlebih lagi saya melihat impian yang penuh semangat dari teman yang sedang promosi film tersebut.

Ya, film itu bercerita tentang impian para sales Grand Vision, yang akhirnya tercapai. Ya, film ini mengandung proraganda sebuah produk marketing (MLM), tentu saja tidak usah saya sebut. Teman saya begitu bersemangat menyebarkan prospek produknya. Kapan saja, kepada siapa saja. Dan saya melihat dia mulai berhasil menyebarkan visi tersebut. Dia berhasil meraih penghargaan sebuah BMW. Hasil sebuah impian. Bekerja dengan penuh semangat sambil berdoa, katanya. Mintalah akan Dia apa saja, apa saja. Setelahnya tutuplah doa kita dengan sebuah keyakinan sekaligus kepasrahan "Terjadilah kepadaku apa yang menjadi rencanaMu....."

Begitulah. Sayapun merenungi hal ini. Ya......setiap orang harus mempunyai mimpi. Mari kejar impian kita. Mengejar impian selain harus penuh semangat juga dengan sebuah keyakinan bahwa kita memerlukan ridhoNya. Ketika saya sedang merenungkan hal ini, pada waktu yang sama, saat membuka blog ini saya menemukan sebuah pesan dari bang Iwan. Ada award buat saya kata beliau. Award bang Iwan sekaligus mengingatkan saya akan award bang Pendi. Maka membaralah impian.

Inilah award-award tersebut :

1. Award dari Bang Pendi



award



2. Award Setiawan Dirgantara




Untuk memanjangkan silaturahmi saya persembahkan kedua award di atas kepada sahabat baru saya, yaitu :

Hdsence dan Ika_SweetyOrange

Dengan sedikit syarat dari pemberi Award sebagai berikut :
  1. Memberikan award ini ke teman blogger lainnya, minimal satu orang. Hal ini akan menjadikan antar sahabat saling menyapa sehingga memberikan efek silaturahim yang memperpanjang umur, InsyaAllah.
  2. Menuliskan minimal satu kalimat motivasi atau kalimat penyemangat atau nasihat yang memacu pikiran positif untuk kita semua. Boleh mengutip dari kata-kata motivator dunia ataupun dari manapun, asal disebut sumbernya ya.. :) Tapi kalau punya kalimat sendiri atau nasihat dari orang tua/teman/saudara yang ingin dibagi, pastinya boleh juga..
Demikian sobat. Mari mengejar impian kita dengan penuh semangat membara. Bekerja dengan penuh semangat dan senantiasa mengharap ridhoNya. Selamat malam semua.


Sunday, April 18, 2010

Alangkah Lucunya Negeri My Oh My


Tidak sengaja tadi, barusan saja, saya menyaksikan tayangan "Showbuzz" di salah satu stasiun tv. Salah satunya tentang sebuah film garapan Dedy Mizward "Alangkah Lucunya Negeri Ini". Judul yang serta-merta mengingatkan saya dengan segenap perasaan saya. Perasaan saya yang terdalam dan terkerdil. Betapa Lucunya Negeri My oh My.

Lihat saja, segala hal lucu tampil ke permukaan. Meski kasus menyedihkan sekalipun terasa lucu. Kita mulai dengan kasus berakhiran "i", kasus Antasari dan kasus century. Setelahnya kasus berakhiran "us", Kasus Gayus, Markus. Lalu kasus berakhiran "a", kasus Koja, kasus artis hot maju di pilkada, hehehe, bukan main. Semuanya berebut tampil. Belum selesai satu kasus, kasus yang lain muncul.

Teman saya bilang, santai saja. Toh kita sedang belajar. Belajar demokrasi. Belajar menjadi sebuah negeri yang bangkit. Untuk bangkit, bukankah harus ditebus dengan perjuangan. Semua kejadian dan kasus yang menimpa Negeri My oh My ini, itulah nilai pengorbanan akan perjuangan kita, katanya. He, pengorbanan yang mahal. Saya sempat tidak setuju dengan teori asal teman saya itu. Tapi, setelah saya renungkan lagi, ada benarnya juga. Bagaimana menyikapi semua kasus yang terjadi, itulah pengorbanan kita semua. Supaya pengorbanan itu tidak menimbulkan rasa sakit, ya anggap saja ini pengorbanan yang lucu.

Pelajaran yang sangat mahal harganya. Bila kejadian demi kejadian, kasus demi kasus terus saja tampil tanpa ada penyelesian yang jelas, bukankah artinya kita tidak belajar apa-apa dari kejadian yang kita alami di Negeri My oh My ini......? Harus dianggap "lucu" saja terus supaya tidak kuciwa...? Kita lupakan saja sembari ngupi atau main gitar atau belanja di mall, lalu pulang ke rumah dengan perasaan segar...? Entahlah. Coba saja kita lihat gambar di atas. Mungkin menggambarkan bahwa kelucuan Ngeri My oh My ini bisa membuat seorang gadis menelungkupkan wajahnya. Karena kecewakah..., atau karena malu....? Sekali lagi, entahlah.

Jawabannya berpulang pada diri kita masing-masing. Masing-masing kita punya cara menyikapi hal ini. Paling tidak, mari mulai dari diri sendiri, mulai dari yang kecil, dan mulai dari sekarang. Untuk membantu Negeri My Oh My bangkit, ayo setiap kita bangkit dan benahi diri dengan cara kita masing-masing. Tentu saja para petinggi Negeri My Oh My ini harus lebih dulu bangkit dan sadar. Bagaimana menurut anda.......?

Friday, April 16, 2010

Simburi Aku, Simboer Tjahaya

Dia tengadah menatap langit tapi matanya terpejam. Sambil terpejam, dia tersenyum. Senyumnya tipis, setipis kabut. Juga ringan, ringan seringan awan. Sambil terpejam (sekaligus tersenyum itu) dia berbisik,......"Simburi aku, Simboer Tjahaya....!"

Ya, Simboer Tjahaya, kitab Hukum Adatnya yang menghilang. Maka berdesahlah dia....simburi aku., Simboer Tjahaya. Kurang lebih bermakna, sirami aku, Simboer Tjahaya. Mengapa begitu......? Entahlah kawan. Barangkali dia merasakan kekeringan hawa di sekitarnya. Kering akan cahaya. Cahaya indah yang menerangi kehidupan.

Pernahkah anda mendengar tentang Simboer Tjahaya...? kalau belum, he, bukan hal yang aneh. Di tempat asalnya, Sumatera selatan, kampung halamannya, kitab Undang-undang adat yang dibuat pada abad ke-16 oleh Ratu Sinuhun (istri Raja Palembang pada saat itu) telah dilupakan. Simboer Tjahaya, nama sistem sekaligus undang-undang yang pernah berlaku efektif dalam masyarakat Sumatera Selatan selama ratusan tahun. Kitab ini merupakan kitab undang-undang hasil perpaduan hukum adat yang berkembang secara lisan di pedalaman Sumatera Selatan dengan ajaran Islam.

Padahal kitab ini ketika masih digunakan telah menunjukkan kebersahajaan sekaligus keberhasilan menjadikan masyarakat hidup teratur dan tertib. Hubungan sosial seperti etika pergaulan, hak dan kewajiban warga adat. pemeliharaan lingkungan hidup, administrasi pemerintahan adat, relasi jender, diatur dalam kitab Adat Simboer Tjahaya ini.


Tokoh kita pelan-pelan mulai membuka matanya. Matanya mengerjab. Di benaknya masih tersimpan banyak renungan tentang Simboer Tjahaya. Dia sangat menyayangkan meredupnya kitab Simboer Tjahaya ini. Menurutnya, inilah kearifan lokal yang telah berhasil dibuat dalam sebuah kitab undang-undang adat. Sebuah karya yang patut diacungi jempol. Perjuangan yang yang sangat besar menurutnya. Tidak kalah besar besar, bahkan menurutnya lebih besar, dibandingkan perjuangan ibu Kartini yang melakukan korespondensi tentang kemajuan kaumnya (perempuan) dengan para sahabat-sahabat Belandanya.

Begitulah tentang Simboer Tjahaya dalam renungan tokoh kita ini. Dia kembali tersenyum sambil membisikkan hal yang sama, "Simburi aku..., Simboer Tjahaya...." Saya tutup tulisan ini sebelum rasa kantuk menyerang saya. Sebelum si Angin Selatan (yang berada di samping ini) mulai menganggu saya. Selamat malam semua.

Wednesday, April 14, 2010

Malam Tertimpa Hujan Di Sebuah Makam

Malam telah tiba, membentuk bayangan hitam di sebuah makam. Tiba-tiba langit menumpahkan hujan, tak bisa ditahan. Malampun tunduk pada kedatangan hujan. Maka tertimpalah malam oleh sang hujan. Gerimiciknya membuat malam semakin dingin. Pilu. Membekukan perasaan gelisah mereka yang resah.

"Hujanku tiba lagi.......", sang malam berbisik sendiri
"Ya, meski kau tak minta....." jawab hujan diantara rinainya
"Kapan saja kau ingin, jangan sungkan..." bisik sang malam lagi

Dalam bisikannya, rupanya sang malam menangis. Menangis dalam diamnya yang terkulai. Sementara itu, di alam kuburnya (bukan di dalam kubur ya), seseorang yang konon ulama sedang menangis pula. Menangis dalam isakan paling menyayat yang bisa terdengar oleh para malaikat.

"Kenapa kau menangis..." tanya malaikat
dia tak menjawab
"Apa yang kau tangisi....? tanya sang malaikat lagi
"Hamba menangisi darah yang tertumpah karena hamba tuan", terbata-bata diapun menjawab
"Darah siapa...?
"Darah mereka yang sia-sia.....yang tertumpah di makam hamba......"
Malaikat menyimak
"Betapa sentimentilnya mereka. Tak seharusnya mereka membuang energi untuk hamba yang sudah tak bernyawa....." sang ulama berkata lagi
"Seharusnya energi mereka digunakan untuk berjuang agar tak ada lagi manusia di sekitar mereka yang kelaparan......, agar tak ada lagi para anak-anak terlantar dan para pesakitan akhirnya meregang nyawa karena tak ada biaya untuk berobat......"
"Untuk perjuangan seperti itulah energi mereka seharusnya diberikan, bukan buat hamba yang telah wafat ini..." sang ulama kembali terguguk berlinangan air mata.

Tentu saja malaikat tak menjawab. Cuma berdehem, entah apa maknanya. Begitulah sebuah malam yang tertimpa hujan di sebuah makam. Saya pamit dulu kawan, hendak merenungkan kisah ini. Siapapun silahkan merenungkannya bila berkenan.

Monday, April 12, 2010

Senyum Perempuan Ilalangku


Tak sengaja saya menangkapnya dalam gerakkan sore sebelum senja tiba. Dia...., Perempuan Ilalangku. Dia tergolek dengan senyum khasnya. Dia terlihat menyeringai. Menyeringai pada saya. Lama saya tatap dia......., tapi tak jua saya temukan apa makna senyumnya ?, apa makna pandangan matanya ?

Setelah sekian puluh menit sejak moment itu saya abadikan, saya tatap lagi dia. Saya coba lagi memahami makna pandangan matanya secara seksama. Barulah saya paham. Pandangan matanya, sebenarnya cuma ingin mengatakan "Inilah aku, yang ingin menjalani hidup sebagai manusia biasa. Manusia dengan sifat manusia, bukan malaikat. Padaku ada ceria, ada senyum, ada kesal, kadang juga marah. Itulah aku. Mungkin tidak sama denganmu....."

Saya terhenyak. Barulah saya paham kenapa tiba-tiba sore kemarin ia memunculkan dirinya pada saya. Dia ingin saya merenung tentang hal ini. Bersikaplah ringan dan wajar sebagaimana manusia dengan sikap manusia, bukan malaikat. Yah....., seharusnya memang begitu. Kita manusia fana. Hanya, kefanaan itu tetaplah dibingkai dengan kejujuran sikap. Jujur pada hati nurani. Seperti itulah hidup bila ingin dijalani secara manusiawi.

Sunday, April 11, 2010

Sebuah Kepedasan dan Ketegasan


Pagi menjelang siang yang cerah. Secerah senyum semangkuk pare tumis yang telah dihidangkan. Saya tak sempat tertegun, tapi langsung tergugah. Tergugah pada keceriaan sang pare. lihatlah, dia terlihat ceria, sekaligus menantang. Hijau bercampur merah. Paduan warna yang menarik bagi saya. Izinkan saya menyantap sarapan saya kawan. Sarapan sekenanya selera saya.

Hem..., alhamdulillah, terasa nikmat. Nikmat yang membuat kenyang. Kenyang yang membuat saya ingin berleha-leha sejanak. Seperti itulah. Tentu saja membuka laptop hingga jemari saya menari-mari di atas keyboard menuliskan tulisan ini, menjadi pilhan saya. Sayapun asyik di depan laptop butut ini.

Ada yang mengunggah saya dari kepedasan dan ketegasan sang pare tumis ini. Bahwa kepedasan memberi rasa 'greng" yang menghenyakkan rasa kita. Rasa yang menimbulkan kesan mendalam di benak. meski rasa pedas bisa membuat sakit perut, bahkan bisa menimbulkan usus buntu karena cabe yang sengaja digiling kasar, tetap saja membuat rindu. Tetap saja semangkuk pare tumis dengan paduan cabe giling kasar, sedikit teri atau ebi akan menggugah selera saya. Menimbulkan keinginan kuat untuk menyantapnya.

Tetap saja saya harus waspada. Jangan sering-sering makan makanan pedas, dengan taste sangat kuat dan tegas seperti ini. Kesehatan penting untuk dijaga. Jadi....., mari sedikit berhati-hati dengan kepedasan dan ketegasan rasa sang pare tumis ini. Begitulah naluri saya mengingatkan. Ketika kalimat itu tiba-tiba saja memenuhi kepala saya, sebuah suara lain menggema pula. Hati-hati pula dengan kepedasan sikap dan ketegasan kita. Tanpa kita sadar ketegasan sikap yang tidak pada tempatnya, meski kita sukai, akan membuat jiwa kita sendiri yang sakit.Sakit karena menyimpan kepedasan yang akan membuat jiwa kita tergores oleh kepedasan tersebut. Seperti kepedasan cabe yang akan merusak lambung dan usus kita. Mari kita renungkan.

Friday, April 9, 2010

Janji Sang Keranji

Lihatlah sang keranji. Berseri. Kadang sedikit meliuk diterbangkan angin. Selalu tersenyum. Senyum penuh percaya diri. Tidakkah kau lihat saya memandangnya dengan tersenyum pula ? Hehe, tentu saja tidak. Manalah bisa setiupan bunga ilalang nan tipis seperti saya bisa terlihat. Meski menempel di sang keranji. Keranji....keranji.....tetaplah berseri. Keranji...keranji tetaplah dengan rasamu. Tepatilah janjimu. Itulah pinta saya.

Keranji...Keranji, janjinya tak usang oleh waktu. Akan selalu memberi rasanya. Kecut tapi membuat rindu. Begitulah janji keranji pada saya. Rupaya keranji memang tak pernah ingkar janji. Saat saya cicip tadi (entah dari mana datangnya, di rumah saya menemukan sepiring keranji) dia tetap memberi rasa yang sama. Kecut dengan sedikit rasa manis. Rasa yang saya rindukan. Rasa yang telah berpuluh tahun lalu saya kecap.

Ingatan sayapun terbang sesaaat. Tertumbuk pada keranji yang lain. Teman kecil saya dulu, si pemanjat keranji ulung. Sahabat yang selalu memberi saya setangkai buah keranji hasil petikannya. Sahabat yang saya gelari "Keranji". Keranji, dimakah kau kini......? Keranji.....keranji, masihkah kau kan tepati janji.....?

Thursday, April 8, 2010

Serenade Remang-remang


Tiba-tiba sang remang-remang menyapanya. Tentu saja, sebab lampu telah dimatikan. Rasa kantuk telah menyerang, tak sanggup ditolak kedatangannya. Rasa kantuk yang berpadu pula dengan kelelahan. Paduan yang sempurna untuk segera meremangkan kamar. Maka keremangan itupun tiba berbarengan dengan serenade yang muncul di jiwa. Peristiwa ini segera ia namanakan "Serenade Remang-remang"

"Nanananana.......padadampadadam........tralaalalala........", jiwanya melantunkan nyanyian. Entah nyanyian apa. Tak jelas. Tak usah pula hiraukan apa nadanya. Mungkin hanya nyanyian lelah. Bahkan sebuah doapun terdengar bak nyanyian baginya. Dan sayapun tersadar, malam ini Malam Jum'at. Pantas saja seseorang yang menjadi tokoh dalam tulisan ini melantunkan nyanyian, hehe. Ritual Malam Jum'at akan tiba. Maka serenade remang-remang ini tentu akan bertambah syahdu bagi mereka. Mungkin. ........

Wednesday, April 7, 2010

Suatu Hari, Ribuan Hari Setelah Hari Ini

Seseorang tengah beristirahat, mungkin dua jam sepulang kerja, duapuluh menit setelah adzan Isya terdengar. Di hadapannya ada secangkir kopi yang masih mengepul. Komputernya dinyalakan. Dia menyetel musik kegemarannya. Tiba-tba saja, entah darimana datangnya, dia membayangkan suatu hari, ribuan hari dari hari ini. Apa yang kira-kira akan terjadi...? Begitulah sebuah pikiran yang entah kenapa mendadak muncul di kepalanya. Pikirannyapun segera beterbangan membayangkan hal tersebut.

Tentu saja tidak banyak yang berubah. Paling-paling kerut di sekitar mata mulai bertambah. Uban mulai banyak. Selebihnya, he, masih tetap seperti ini. Tetap tidak menyukai hal yang mendayu-dayu. Tetap tidak menyukai basa-basi yang berlebihan. Tetap berpikir dengan logika dan jiwa bebasnya. Tetap mbeling, mungkin. Dan lain-lain.

Betulkan seperti itu...? Tentu saja tak seorangpun yang tau pasti. Jelas itu hanya harapannya. Itu keinginaannya. Jawabannya bisa ya, bisa tidak. Tentu saja. Siapakah yang bisa memastikan bahwa ribuan hari dari hari ini dia si tokoh kita ini, kebetulan perempuan, masih menghuni bumi ini dalam keadaan hidup. !? Tidak ada yang bisa memastikan.

Diapun tercenung. Ya......., apapun bisa terjadi. Lebih dari apapun, Dia cuma berharap suatu hari, ribuan hari dari hari ini, seandainya dia masih hidup, adalah hari dimana dia masih memiliki nyali untuk berpikir menggunakan rasio dengan jiwa bebas. Semoga saja, seandainya hari itu masih tiba untuknya, setidaknya dia masih bermanfaat bagi keluarga dan orang-orang di sekitar saya, dan diridhoiNya. Bila masih bernyali tapi tidak ada ridho dariNya, hanya membuat kemungkaran, bukankah artinya hidup hanyalah kesia-siaan.

"Sudahlah. Jangan terlalu banyak yang dipikirkan. Jalani saja hidup seadanya", suara usil si Angin Selatan, seperti biasa muncul tanpa diminta. Tentu saja dia tak menjawab. Dia asyik mereguk secangkir kopinya. Pada regukan kelima, sebuah senyuman menyeringai di wajahnya, entah karena apa. Saya malas memikirkannya. Lebih baik saya tinggalkan saja dia yang sedang tersenyum ini. Mungkin dia tersenyum membayangkan kehidupannya ribuan hari lagi bersama keluarganya, bersama Bejonya...? Entahlah.

Saya benar-benar tak sempat memikirkan dia lagi. Si Angin Selatan menerbangkan saya kembali. Menembus kabut malam. Menembus gerimis yang melanda kota ini. Meninggalkan dia, yang tengah merenungkan suatu hari, ribuan hari dari hari ini miliknya. Selamat malam semua. Bila anda berkenan silahkan direnungkan suatu hari, ribuan hari dari hari ini milik anda.

Tuesday, April 6, 2010

Sensasi Pagerank

Senang, senang yang biasa, itulah yang saya rasakan ketika pak Munir memberi tahu kalau Pagerank (PR) blog saya sudah level 4. Senang, tentu saja. Tapi senangnya biasa. Saya nyaris kehilangan rasa terhadap PR ini. Hal yang saya tau adalah menulis dan terus menulis. Saya menuliskan apa saja yang memenuhi benak saya. Menuliskan apa saja yang memberi kesan mendalam di jiwa. Itu saja.

Ketika esok harinya saya (iseng) memeriksa PR blog saya satunya, hueks, saya tambah kehilangan selera terhadap PR ini. Percaya tidak, blog yang belum cukup berumur sebulan sejak saya bikin, pengunjungnya masih sedikit, he, diberi PR 3 oleh si Google. Sayapun mulai berpikir, he, bisa jadi PR Google ini tidak valid. Sensasinya aneh. Bukankah kesalahan bisa saja terjadi ? Hasil kerja mesin, seringkali kurang berkesan bagi saya.

Hal yang saya rasakan sekarang, PR 4, nyaris hambar. Rasanya tidak memberi efek-efek apa-apa bagi blog ini. Bisa dikatakan tidak ada gregetnya. Kecuali kalau dengan PR 4, ada tawaran iklan yang menarik bagi saya (iklannya rasional, prosedurnya simpel, memiliki spirit yang sinergis dengan blog ini), barulah menimbulkan greget buat saya, hehehe.

Begitulah kawan. Jujur, greget PR tidak lagi seperti masa awal membuat blog ini. Dulu, begitu dapat PR 3, senangnya bukan kepalang. Sekarang, biasa saja. Tapi...yah, seperti kata Trimatra, bagimanapun saya harus bersyukur. Artinya Google menghargai blog saya. Semoga blog ini bermanfaat, dan barokah, amin. Semoga demikian pula dengan blog anda semua. Jadi, ayo terus menulis. Menulis sesuatu yang memenuhi benak tanpa harus menghiraukan soal PR ini. Selamat malam semua.

Sunday, April 4, 2010

Mengalunlah Ombak


Fotografer : Edwardsyah

Pantai indah di sebuah pagi yang sepi. Ombak membuncah. Mengalunkan riaknya. Lepaskan marah. Lepaskan resah. Lepaskan suka. Lepaskan cinta. Lepaskan jengah. Lepaskan tawa. Lepaskan segala. Byur....., pyar......, !. Riakmu kandas di tepian menghempas sepasang kaki sang kelana. Begitulah alunan ombak ketika pagi menyingsing. Ombak yang membuncahi renungan sang kelana. Kelana yang mengelana sepanjang alunan ombak.

Ombak kembali mengalun. Kelana tersenyum. Senyum lepas. Kelepasan yang berpadu kelegaan. Maka jangan ganggu sang kelana kawan. Biarkan dia mengelana bersama ombak yang mengalun. Lepaskan jengah. Menjauh sejenak dari dunia sampah. Begitu katanya. Saya, he, tentu tak mengerti, tapi bisa memahaminya. Beginilah arti saya bagi sang kelana. Memahami meski tak mengerti. Maka saya (si Angin Selatan), tentu saja harus terus mendampinginya mengelana. Mengalunlah ombak, bisiknya lagi. Saya terdiam. Dalam hembusan sepoi saya, saya mengamini. Ya, mengalunlah ombak.........

Thursday, April 1, 2010

Rasa Yang Meng"April", Menghujamnya


Seseorang tengah berdiri di sebuah noktah bumi. Titik pada sekian derajat Lintang Utara dan entah berapa derajat Lintang Selatan. Dia tengadah menatap langit. Langit yang ditaburi bintang di hadapannya kawan. Langit itu memberi rasa yang sedikit beda baginya. Ada rasa yang menghujam. Entah rasa apa. Rasa yang sulit didefinisikan.

Setelah sekian belas menit, akhirnya seseorang yang sedang menatap langit itupun mendesah. Mendesah karena tersadar bahwa ini adalah hari pertama di bulan April. Ya inilah rasa yang meng"April". Ia sebut saja begitu. Sebab rasa itu biasanya akan tiba bersamaan dengan tibanya bulan April. Sebuah rasa yang lahir dari keceriaan menyambut bulan April. Sebuah rasa yang muncul dari letupan jiwa ketika bulan April tiba. Diapun tersenyum. Akhirnya terdefinisikan juga rasa itu. Rasa yang meng"April".

Ketika dia tengah tersenyum, senyum dalam hati, sesuatu menghunjam jiwanya. Sesuatu dengan kebahagiaan yang merona. Seolah warna hijau mengitari dirinya. Sejuk. Lembut. Memagut lubuk hati hingga sebuah kelegaan dan kedamaian muncul. Mungkin seperti menghujamnya anak panah dari busur sang pencinta dan penyayang.

He, dia tergelak sendiri begitu menyadari angannya telah terbang begitu jauh. Mundur jauh melewati hitungan hari ini. Hari ketika cinta pertama yang bersemi di bulan April. Betapa lamanya. Beginilah sensasi yang dirasakanya setiap April tiba. Sambil tersenyum, tiba-tiba ia membungkuk. Menghampiri sebuah bau-bauan yang tiba ke penciumannya. Beberapa kuntum mawar di pojok kanan tempatnya berdiri rupanya tengah mekar. Mawar mungil dengan bau khasnya yang lembut. Mawar yang seketika diraih dan diciuminya dengan sepenuh rasa.

He, memandangnya seperti itu, menakjubkan bagi saya. Tapi, sudahlah. Saya harus beringsut meninggalkan dia yang tengah berbahagia ini. Saya tak ingin mengganggunya. Setidaknya saya bahagia dia masih menyimpan kebahagiaan lamanya hari ini. Hari saat bulan April tiba. Saya Si Bunga Ilalang harus mengelana lagi kawan. Kemana saja si Angin Selatan akan membawa saya. Kemanapun. Kapan saja ia ingin.

Sebelum si Angin Selatan menerbangkan saya lagi, saya ingin berdoa untuk anda semua. Semoga April anda juga meletupkan rasa bahagia dan keceriaan. Seperti indahnya tanda indah persahabatan dari pak Munir

Mari, meng"April"lah rasa kita. Selamat malam semua.

Kepada Blogger Pencuri Resep, Blog Resep Enak Nusantara Dan Lain Sebagainya

Kelakuan lama ya, copy paste punya orang, tulisan lalu ditulis ulang dan diterbitkan di blognya tanpa menyebutkan  sumber. Ya setua hasrat ...