Search This Blog

Saturday, May 29, 2010

Sore Di Sebuah Rawa


Tidak sengaja terdamparlah saya beserta rombongan di sebuah rawa. Kala itu perut sudah merasa lapar, penatpun mendera. Maka menepilah kami ke sebuah Rumah Makan di tengah Rawa. He, tentu saja saya mengagumi ide briliant si pembuat Rumah Makan. Bagaimana tidak, rumah makan itu ditata sedemikian rupa. Dengan pondok-pondok dari kayu berplitur dan pemandangan rawa. Angin sepoi-sepoi menerpa dari segala penjuru.

Tengah kami menikmati hidangan dengan lahapnya, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada bayangan sesosok manusia. Kiranya seseorang sedang menjala ikan di rawa itu Rupanya telah sejak lama ia berendam di dalam rawa. Kadang menebarkan jalanya, kadang memeriksa jala dan memasukkan hasil tangkapannya ke dalam ember kecil. Kelihatannya sore itu tak cukup banyak ikan yang ia dapat, hanya gondang (siput sawah) dan sedikit kijing. Seketika lidah saya menjadi kelu. Entah kenapa.

Betapa kontradiftifnya. Kami makan sedemikian lahapnya dengan hidangan aneka rupa, Sementara seseorang di tengah rawa itu tengah kedinginan mencari beberapa ekor ikan. Terlebih lagi, setelah saya lihat secara seksama, hiks, ternyata dia seorang perempuan. Saat saya bidik ia memalingkan muka. Tentu saja saya tak bisa memaksanya menoleh. Saya diliputi rasa aneka rupa. Entah kenapa pula saya jadi teringat dengan kisah Nelayan dan keluarganya yang pernah saya tulis. Begitulah Sore di sebuah rawa yang akhirnya menjadi kelu buat saya.

Thursday, May 27, 2010

Bra Merah Tak Bertuan

Sore yang redup telah mempertemukan saya dengan sebuah bra merah. Saya temukan benda itu di sela semak belukar pinggir jalan. Tersamgkut di para-para tetumbuhan, entah tumbuhan jenis apa. Bra merah tak bertuan. Entah kenapa tiba-tiba saya terpana padanya. Barangkali karena ia sebuah Bra. Mungkin juga karena warna merahnya yang menyolok mata. Dan tentu saja ia diam saja saat dipandangi sedemikian rupa. Bukan saja karena ia benda mati. Lebih karena ia tak bertuan.

Maka kemanakah tuannya...? begitulah tanya yang mengemuka di benak. Meski dipenuhi debu benda itu terlihat masih menantang. Padanya ada sedikit busa. Juga kawat penyangga yang disukai para perempuan untuk membusungkan dada. Kemanakah tuannya...??? Pertanyaan itu muncul lagi. He, tentu saja tak ada jawaban.

Sementara itu, di balik tanah yang masih merah sesosok jasad tengah membusuk berkawan para rayap dan cacing tanah. Konon itu jasad seorang perempuan. Perempuan yang menjadi korban tabrak lari. Saat itu sedang ada penertiban PSK. Seorang perempuan lari menghindari pengejaran petugas. Naas ia tertabrak sebuah truk besar yang melintas bak sapi gila. Perempuan itu tewas seketika. Konon lagi, 3 bulan sebelumnya perempuan itu baru pulang dari sebuah negeri asing sebagai TKW sang pahlawan devisa. Seluruh gaji setiap bulan selalu ia kirimkan kepada sang suami di tanah air. Begitu ia tiba di kampungnya, sang suami sedang memeluk istri barunya. Duniapun gelap baginya. Entah kenapa nasib membawa perempuan itu menjadi seorang PSK hingga truk gila itu melepaskan penderitaannya. Meninggalkan dunia fana ini untuk selamanya.

Begitulah kisah perempuan yang jasadnya tengah membusuk itu. Konon, dialah si tuan (pemilik) bra merah tersebut. Betapa menggenaskannya. Malang tak dapat ditolak, mujur tak dapat diraih bagi mereka yang kehilangan asa. Mohon maaf, bila saya terlalu terpana pada sebuah bra tak bertuan yang saya temukan di jalan tadi. Kisah ini, hanya halusinasi saya.

Wednesday, May 26, 2010

Ilalang Terbang Senja


Memandangmu diterbangkan angin, ada rasa lega. Lega yang berpadu dengan kelembutan rasa. Sebab kau masih bisa melambai. Itu membuatku bahagia. Maka terbanglah ilalangku. Kibaskan kembang putihmu. Melayang lepas dan tibalah dihadapanku. Dan saat ini kukatakan padamu, terimakasih telah tiba padaku saat senja menyapa. Kau selalu bisa menyentuh "rasa"ku sebagaimana biasa. Terbanglah ilalangku. Terbanglah kepadaku, kapan saja kau ingin

Sunday, May 23, 2010

Menarilah.....

Menarilah wahai pikiran bebas
Sebelum langkah tinggalkan bekas
Sebelum rinai menjadi deras
Sebelum rasa kibaskan asa

Maka diapun menari
tepat ketika "rasa"nya menarikan asa.
Kau, menarikah "rasa"mu...?
Menarikan asa kah....?

Tuesday, May 18, 2010

Rahasia Kehidupan Adalah "Bersungguh-sungguh"

He, saya sedang muak pada sesuatu yang kesannya (bagi saya) seperti mem"bebek"i dan mem"bodoh"i orang lain, apalagi ikut-ikutan ide orang lain tanpa menganalisa. Betul, saya sedang muak dengan hal tersebut. Apa saja yang kesannya seperti menggurui, indoktrinasi atau ikut-ikutan, he, saya sebal. Oleh sebab itu biasanya saya malas membaca/menonton sesuatu yang sifatnya seperti itu. Mohon maaf kalau ada yang tidak sepakat ya.

Karena alasan kenyamanan, demi terlepas dari rasa muak itu, saya lebih suka menjauhi hal-hal tersebut sembari terus melakukan hal yang saya sukai. Memerdekakakn diri dari belenggu ide orang lain asyik kan. Selama tidak merugikan orang lain, kenapa tidak.

Begitulah. Bila selama ini saya mencari-cari kalimat cespleng apa yang cocok dengan jiwa saya menyangkut "Rahasia Kehidupan"nya Rhonda Byrnes, mungkin saya telah menemukan apa yang saya cari. Secara tak sengaja saya menonton acara Mario Teguh di sebuah stasun tv. Ternyata.......... jawaban cespleng untuk saya tentang apa sebenarnya Rahasia (agar Kehidupan sukses dan barokah versi saya) adalah "Bersungguh-sungguhlah pada kehidupan, maka kehidupanpun akan bersungguh-sungguh memperhatikan anda".

Ya, bersungguh-sungguhlah, maka kesuksesan akan bersungguh-sungguh menghampiri anda. Itulah cara mengejar impian. Impian apa saja, impian ingin kaya, impian ingin hidup sukses, impian agar hidup barokah. Tariklah kesuksesan dalam kehidupan kita secara bersungguh-sungguh, maka kesuksesan itu akan menghampiri kita secara bersungguh-sungguh pula. Sederhana dan cespleng bukan !? Rasanya ini cocok buat saya. Bagaimana menurut anda....?

Sunday, May 16, 2010

Bunga Ilalang dan Sang Kelana


Bunga Ilalang tiba lagi. Tiba menghampiri sang Kelana di pagi yang lembab. Dia berdiri tepat di hadapan sang kelana, seperti ingin mengatakan sesuatu. Sang kelana terperangah. Keduanya hanya saling memandang dan membisu. Kelembaban pagikah yang membisukan mereka....? Entahlah.

"Beri aku waktu sedikit lagi. Kan kubuat puisi lirih untukmu...." sang kelana membuka percakapan
"Terlirih dari yang bisa yang kubuat..." ucapnya lagi

Tak ada jawaban. Bunga Ilalang hanya mengangguk tepat ketika angin bertiup. Dari balik deru angin, terdengar gesekan gerakannya. Seakan sebuah ucapan,
"Tak perlu terburu-buru. Aku tiba karena rinduku padamu...."

Maka demi mendengar itu seketika wajah sang Kelana membuncahkan sebuah rasa, entah apa. Rasa yang sulit dilukiskan dengan kata-kata. Dia spontan menghujani Bunga Ilalang dengan ciuman. Ciuman berupa bidikan kameranya. Maka pagi yang lembab itupun menjadi hangat bagi keduanya.

Begitulah Bunga Ilalang dan Sang Kelana, dua sahabat yang lama tidak bertemu. Saya, tentu saja tak ingin menganggu mereka. Saya maklum arti sebuah kerinduan. Adakah yang juga merasakan rindu (pada seseorang) saat ini.......?

Saturday, May 15, 2010

Lukanya

Pagi yang hangat sedang mendekap. Sekaligus pagi dengan Angin Selatan yang membawa saya ke sebuah tempat nun jauh....disana. Menghampiri seorang (kebetulan perempuan) yang sedang berjingkat diantara tanaman kesayangannya. Di sebuah taman halaman rumah. Perempuan cantik dengan rambut sebahu.

Konon dia terluka. Begitulah kabar yang sepoi-sepoi terdengar. Ketika saya tatap wajahnya, hm, kelihatannya dia baik-baik saja. Wajahnya terlihat bahagia. Hari-harinya ceria. Maka saya tepiskan soal kabar konon tersebut. Saya pandang lagi wajahnya lekat-lekat. Mencoba mengingat-ingat bagaimana gelagatnya akhir-akhir ini. Ah, biasa saja. Kata siapa dia terluka....?

"Ini, dalam kan....", tiba-tiba saja ia mengangkat ujung celana panjangnya. Dia memperlihatkan sebuah bekas luka di kakinya. Belum sempat saya jawab, dia berkata lagi,
"Sudah lama, luka kena pisau rumput".

He, tentu bukan luka itu yang saya maksudkan. Kelihatannya dia tak memperdulikan kemasgulan saya.

"Masih penasaran dengan luka saya...?
"Sudahlah, jangan terlalu lebay. Luka, seperti halnya bahagia, tidak menimpa siapapun tanpa membawa hikmah bukan"
"Berkat luka ini banyak hikmah yang terasa. Setidaknya saya jadi lebih berhati-hati, mawas diri dalam melangkah". Itulah komentarnya sambil memperlihatkan lagi bekas lukanya.

Ketidakperdulianya pada lukanya membuat saya sedikit merenung tadi. Tidak penting lagi bagi saya apakah dia memang pernah terluka (hati) atau tidak. Mungkin saja dia memang pernah terluka. Bila dia tidak begitu perduli pada lukanya. Juga tidak terjebak pada sikap "terlalu menghayati luka". Tidak menyalahkan kondisi, apalagi menyalahkan orang lain atas lukanya. Bukankah itu sebuah sikap yang layak saya hormati.

Ya, seperti yang dikatakannya tadi, luka (apapun jenis lukanya), seperti halnya bahagia bisa menimpa siapa saja. Lukanya, lukamu, luka siapa saja, adalah obat sekaligus kekuatan awal untuk bangkit. Maka wahai para pemilik luka, jangan bersedih. Luka adalah sebuah bahagia bila direnungkan hikmahnya. Tentu saja bila kita mau belajar dari arti sebuah luka, hehe. Mudah-mudahan tidak terdengar terlalu lebay. Selamat merenungkan luka, dan jauhi luka selagi bisa. Saya si Bunga Ilalang pamit dulu, Angin Selatan kelihatannya siap melesatkan saya lagi.

Friday, May 14, 2010

Jum'at Membiru

He, tak biasanya, Jum'at begitu membiru. Biru seperti langit biru. Biru sebiru laut dengan ombak yang menggulung. Biru selayaknya semangat yang membahana di jiwa. Maka mengapakah biru ini membuat bahagia...? Padahal waktu berpacu begitu cepat. Padahal pekerjaan menumpuk seakan tak pernah habis. Memikirkannya, akan habis waktu terbuang. Jadi, mari nikmati saja biru ini selagi ia masih membahana, Bagaimana Jum'atmu kawan....?

Wednesday, May 12, 2010

Rahasia Hidup Yang Menakjubkan


Tak disangka, tiba-tiba saja Kembang Sepatu Kuning menyapa saya dengan senyum indah pagi ini. Sapaan yang mau tak mau membuat saya menoleh padanya. Rupanya dia mekar pagi ini. Hm, sapaannya sejuk, juga lembut. Seketika saya diluluhlantakkan sang bunga. Hati saya lumer, rasa rahagia muncul begitu saja. Apa begitu saja...? He, tidak juga. Saat keluar rumah saya berkata pada diri saya, saya ingin hari ini indah dan barokah. Maka pagi tadi keindahan itu saya dapatkan, walau sangat sederhana. Saya sempat terpana.

Baiklah semua, atau sebagian besar anda, sudah tahu ya tentang "The Secret" nya Rhonda Byrnes. Orang-orang sukses dalam hidupnya karena mengetahui rahasia menjalankan hidup dengan sukses. Jadi tanpa perlu berpanjang kata, mari temukan rahasia hidup anda yang menakjubkkan. Mari menarik apa saja keinginan positif kita dalam genggaman. Jadikan mimpi kenyataan dengan cara indah, mengharap ridhoNya.

Siapa yang yang ingin bahagia, maka bahagiakan hati anda. Berpikirlah hal-hal positif, jauhkan dari kekhawatiran dan rasa was-was belerlebihan. Siapa yang ingin kaya maka berusahalah kaya, bekerja keras dengan sungguh-sungguh. Siapa ingin hidupknya barokah maka lakukanlah hal-hal yang membarokahi dunia dan barokah bagi sekitar kita. Hanya itu.

Begitulah. Sejauh yang saya tahui cara ini cukup manjur untuk menjalani hidup dengan lebih ringan dan lebih seimbang. Masing-masing kita punya rahasia agar hidup kita lebih menyenangkan. Paling tidak, mari tarik hal-hal positif dari semesta ini untuk menjadi hal positif dalam hidup kita. Maka hidup pasti lebih menyenangkan. Tentu dengan cara positif pula. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Bagaimana menurut anda....?

Monday, May 10, 2010

Hujan Sepetik'an Gitar


Tiba-tiba hujan turun bak sekelebat bayangan. Ringan juga ritmis. Tepat ketika terdengar suara gitar mulai dipetik. Hujanpun reda setelah petikan gitar itu usai. Maka dikatakannya hujan itu seperti sepetik'an gitar. Rinainyapun indah, sendu, dan syahdu bak nada petikan gitar. Begitulah gesah seseorang ketika hujan tiba sore tadi. Hujan singkat yang syahdu dan indah. "Kaukah yang memetik gitar itu....?"

Friday, May 7, 2010

Betapa Naifnya Sesuatu Bernama "Selera"

He, judul di atas adalah hal empiris yang saya alami. Mungkin juga dirasakan oleh sebagian besar orang. Ya sesuatu yang disebut "Selera". Kenapa saya sebut "Selera" sebagai sesuatu yang naif, karena kita sering kekanak-kanakan, tidak rasional menyikapi selera kita. Begitu pula ketika kita menyikapi selera orang lain.

Pernahkan anda merasa yakin sekali bahwa apa yang anda baca, anda dengar, anda lihat itu bagus, sedang.biasa saja, atau tidak bagus, atau bahkan jelek sekali....? Mungkin pernah, tidak pernah, atau jarang, atau bahkan sering sekali. Jawabannya tergantung kondisi kita maisng-masing. Padahal, selera kita belum tentu bisa mewakili pandangan umum (selera) masyarakat. Selera tidak bisa disamaratakan. Selera orang bisa berbeda-beda. Semua sudah tahu ya.

Saya cuma ingin mengatakan bahwa kepada diri sendiri kita boleh memanjakan selera kita. Tetapi, pada saat kita berinteraksi, memberi apresiasi terhadap sesuatu di luar diri kita, katanya kita harus berhati-hati. Ini bisikan si Bunga Ilalang lho. Saya kira itu betul. Bahkan selera kita pribadi bisa berubah kan. Jadi, kenapa kita harus memaksakan diri memberi penilaian atas sesuatu di luar diri kita dengan selera kita. Kalau kita melakukannya, maka kita telah menjadi naif.

Saya sedang menulis ini sambil sedikit menahan senyum atas kekonyolan saya terhadap sesuatu yang bernama "Selera" itu. Belum lama, teman-teman kantor mengajak saya Nobar film Iron Man-2. Semula, karena saya sudah menggarisbawahi bahwa saya tidak suka film dengan genre sciene fiction, saya malas diajak menonton film itu. Entah kenapa, karena ini ajang kebersamaan saya mau juga. Dan ternyata, hehehe, saya suka film itu. Artinya bila sampai detik ini saya masih tidak suka semua jenis film Bolywood, tidak suka jenis lagu mendayu-dayu ala Pance Pondaag, Obie Mesakh, bukan tidak mungkin suatu hari nanti saya akan suka. Entahlah. Mungkin saja kan.

Pernah pada suatu hari sahabat saya Anazkia yang jebolan "Rumah Dunia" mengkritik tulisan saya maka dengan entengnya tidak saya perdulikan kritikannya. Bila dalam ilmu kimia ada reaksi maka akan ada reaksi, dalam etika tulis menulis bila ada sanggahan/kriitk maka ada hak jawab, reflek saya jawab Anazkia. Kiblat tulisan kita berbeda na. Saya tidak suka aturan dan gaya tulisan "Rumah Dunia". Saya suka gaya tulisan Ayu Utami, Budi Darma, Seno Gumira Ajidarama, termasuk gaya tulisan Naquib Mahfudz. Kamipun bediskusi lewat email (hehe, lucu ya na).

Itulah salah satu contoh, bahwa kita bisa naif menyikapi sesuatu bernama "selera". Jadi bagaimana supaya tidak terlalu naif ? Jalan keluarnya, masing-masing kita harus saling menghargai selera saja. Sebab sesuatu menyangkut selera relatif sifatnya. Mungkin itulah alasan kenapa sampai detik ini saya tidak berani mengkritik gaya tulisan orang lain, karena saya sadar bahwa selera saya tidak bisa saya paksakan untuk menilai karya orang lain. Mungkin selera saya jelek, atau bahkan aneh bagi orang lain. Paling-paling saya menghimbau agar setiap kita menulis dengan gaya dan selera kita sendiri, sesuatu yang saya sebut your own puity, your own vision, your own style. Begitulah. Mari kita renungkan bila berkenan.

Wednesday, May 5, 2010

Berapa Mei Yang kau Minta ?

"Berapa Mei yang kau minta ?" sebuah suara tiba-tiba muncul di telinganya. Tak jelas suara siapa dan suara apa. Sepenuhnya mengambang. Dan sepertinya diapun tak begitu bersemangat untuk menjawab. Dia terlihat asyik menatap gambar di hadapannya.

"Berapa Mei yang kau minta ?" suara itu muncul lagi. Sekali ini dia memberi perhatian pada suara itu. Kepalanya terangkat. Pandangannya beralih dari gambar yang tadi sedang ditatapnya. Dia memejamkan mata sambil memikirkan jawabannya.

"Mei apakah yang saya minta...?, dia balik bertanya. Tentu saja cuma pertanyaan gumaman pada dirinya sendiri.
"Saya tak pernah meminta Mei. Tak pernah menanti Mei. Hanya dia selalu datang menghampiri sebagaimana bulan-bulan lain", jawabnya sekenanya. Pertanyaan tadi aneh, baginya.. Dan, he, jawabannyapun sama anehnya. Dia terkekeh sendiri sambil menghirup kopi sore yang mulai dingin. Mungkin sang Mei memintanya untuk sedikit merenung.

Ya, mau tak mau diapun mulai merenungkan jawaban pertanyaan (berapa Mei yang kau minta?) tadi. Ya.., pertanyaan tak terduga yang tiba di hari ke-5 bulan Mei ini. Maafkanlah saya bila tak hirau padamu wahai Mei, desahnya sembari meletakkan cangkir kopinya. Sepanjang hidupnya tidak ada moment penting yang terjadi di bulan Mei. Dia lahir bulan November (Bejonya lahir bulan Februari). Menikah bulan November. Peristiwa lain...? Entahlah. Bila sampai detik ini dia tak menanti Mei, artinya memang tidak ada peristiwa berkesan terjadi di bulan Mei. Sekali lagi entahlah.

He, sudahlah. Mungkin suara itu hanya mengingatkan bahwa Mei, sebagaimana bulan-bulan lain, harus juga disambut dengan penuh sukacita. Bukankah waktu terus berjalan. Bukankah kita tidak tau berapa Mei lagi yang akan kita nikmati. Mungkin seperti itu. Mungkin juga ini pertanda bahwa akan ada banyak peristiwa indah terjadi di bulan Mei. Semoga. Anggap saja seperti itu, sederhana kan.

Jadi...., saya menerima berapapun Mei yang diberiNya untuk saya. Berapapun, semoga itu barokah buat saya. Barokah buat semua. Itulah jawabannya untuk pertanyaan (berapa Mei yang kau minta ?) tadi. Selamat datang Mei. Lebih baik terlambat daripada tidak (menyambutmu) kan. Selamat malam semua.

Monday, May 3, 2010

Secangkir Kopi Di Balik Awan



Hampir saja matanya terkatup ketika rasa kantuk menyerangnya. Rasa kantuk yang sulit untuk dilawan. Maka ketika sebuah suara muncul di telinga menawarinya minuman sebagai teman camilan dalam kotak, serta merta dia memilih secangkir kopi. Ya, secangkir kopi. Secangkir kopi dalam cangkir plastik mungil plus 2 potong roti.

Diapun menikmati secangkir kopi sambil memandang awan yang bergulung. Hm...., nikmat. Sensasinya seperti sedang menari di balik awan. Indah, ringan dan lincah. Pada setiap hirupan, matanya tak lepas menatap awan yang bergelombang seperti kapas. Gulungan awan putih seperti melambai memberinya semangat Dan he, sulit melukiskan suasana yang didapatnya pada moment itu. Ada rasa tenang yang muncul ketika sudut matanya menatap awan yang menyaput langit kali itu. Baginya, meski sederhana, pemandangan awan yang ditatapnya seperti sebuah lukisan tentang ketenanganNya. Entah kenapa. Dan dia menyukainya. Di sudut matanya yang menatap awan, terlepas harap semoga setiap langkah, pekerjaaan dan kegiatan selalu mendapat perlindungan dan barokah dariNya. Semoga saja.

Begitulah sensasi menikmati secangkir kopi sambil menatap awan yang dirasakan sesorang pada sebuah sore. Sambil menuliskan sensasi menikmati secangkir kopi di balik awan ini, dia berharap agar para sahabat juga mendapat kebarokahanNya. Harapan yang disertai permohonan maaf karena baru bisa menulis lagi. Selamat beraktivitas. Semoga kita semua mendapat kesuksesan dan kebarokahan di setiap langkah kita. Begitulah asa yang terlepas saat ia menatap awan ditemani secangkir kopi. Selamat sore semua.

Pesona Labu Kuning, Menjalar di Tanah dan Merambah di Hati Penggemarnya

Sumber Foto : pixabay.com Dalam bayangan saya akan hari tua. Ada sebuah rumah kayu mungil dengan halaman luas. Pada halaman luas itu ...