Search This Blog

Tuesday, June 30, 2009

Seorang Ibu dan Seorang Jenderal

Saya sedang sendirian di ruangan saya, entah kemana rekan-rekan yang lain. Kepala saya, entah kenapa, sejak tadi gatal bercampur sedikit pusing, ingin menuliskan tentang "Seorang Ibu dan Seorang Jenderal" ini. Jadi, daripada gatal dan pusing ini berubah jadi sakit kapala berkepanjangan, ya saya tuangkan saja disini.

Tidak usah banyak prolog, karena waktu saya tidak banyak. Entah kemarin atau semalam, saya mendengar sepenggal berita tentang pasangan Seorang Ibu dan Seorang Jenderal di televisi. Itu lho pasangan capres nomor urut 1 (satu), tau kan ? Ketika istilah tersebut saya dengar waktu itu, hehe, saya jadi senyum-senyum sendiri. Tak jelas masuk kategori apakah senyum saya itu. Senyum senang, rasanya bukan. Senyum sinis juga bukan. Senyum masgul bukan juga. Mungkin senyum capek. Ya saya benar-benar capek......

Saya capek melihat kondisi kita selama ini. Capek bercampur sedikit muak. Apalagi menjelang pilpres ini. Seolah cuma jadi perang sindir dan perang figur. Figur seorang ibu, tentu sosok lembut juga mulia di mata siapa saja. Figur seorang jenderal, tentu diharapkan mampu bersikap tegas, ksatria, tangguh dan melindungi, itu yang diharapkan. Tapi entahlah, kok saya merasa pilpres ini, dengan segala tetek bengek di dalamnya, termasuk jualan-jualan image, pencitraan diri yang dimunculkan ke-3 pasangan itu cuma untuk memenuhi kepentingan mereka saja. Rakyat cuma dijadikan bulan-bulanan saja. Toh kita sudah pernah dipimpin oleh figur seorang ibu, pernah pula dipimpin seorang jenderal, lihatlah hasilnya. Tapi apapun, semoga perasaan-perasaan yang mendera saya ini sekedar perasaan semu saja. Semoga yang terbaik akan menjelma di negara kita tercinta ini.

Kembali ke figur Seorang Ibu dan Seorang Jenderal tadi, mudah-mudahan figur mulia dan hebat itu benar-benar mengalir dalam sosok kedua orang tersebut. Di luar kedua orang ini, semoga pasangan lain juga benar-benar menjiwai dan melaksanakan figur-figur yang mereka ciptakan. Semoga negara kita tercinta ini bangkit dari keterpurukannya, amin. Pilpres tanggal 8 Juli semakin dekat, tentu membutuhkan suara kita dalam hajat besar itu. Silahkan dianalisa ke-3 pasang calon tersebut. Termasuk pasangan dengan figur seorang Ibu dan seorang jenderal ini.

Begitulah tentang Seorang Ibu dan Seorang Jenderal ini teman. Mungkin tulisan tentang capek ini akan bersambung lagi mengingat ada 2 pasangan lagi, mungkin juga tidak. Apapun, setidaknya saya agak plong sekarang. Bagaimana pendapat dan harapan anda ?
Mari kita renungkan bersama.


Sunday, June 28, 2009

Lelaki Yang Berdiri di Pantai Saat Pagi Menyingsing




Suatu ketika, entah pada putaran bumi yang ke berapa pada porosnya di tahun ini. Seorang lelaki berdiri dalam gelap pagi. Menatap sekeliling dengan tatapan lelah tapi berbinar. Ya binar agak gelap, mungkin seperti binar setiap insan menyambut hari saat mentari belum muncul. Sesungguhnya pada setiap hari ketika pagi menyingsing, sang pagi sedang berbisik pada seisi alam ini. Bahwa hari selalu berputar, dan setiap hari akan dimulai dengan pagi yang menyingsing memberi semangat baru. Sayangnya tidak semua kita menghiraukannya. Lelaki itu melepas helaan sambil menghirup lagi hawa pagi. Pagi sebentar lagi menyingsing, begitu bisik udara di sekeliling.

Pagi ini menyingsing perlahan-lahan, agak malu-malu seperti perawan zaman dulu. Lelaki itu menengadah lagi menatap langit. Tatapan itu, andai bisa ditelisik dalam kegelapan pagi itu, begitu lelah, agak nanar kawan. Hp di sakunya berdering lagi, entah sudah kesekian kali. Lagi-lagi tidak ia gubris. Matanya masih menghadap ke timur, ke arah sang pagi menyingsing hari. Mata itu seperti menumpahkan seluruh rasa yang tergores dalam kehidupannya pada sang langit yang akan menyingsingkan pagi.

Beberapa menit setelah itu kegelapanpun berkurang, cahaya mulai muncul. Di timur itu, semburat jingga mentari mulai menggurat di langit meski sang mentari belum nampak. Lelaki itu masih tengadah ke langit. Ia seperti sedang menceritakan sesuatu yang memenuhi pikirannya pada langit menjingga itu. Entahlah. Lalu, setelah beberapa puluh menit, langit menjingga di timur itu seperti tersenyum dan memberinya sesuatu rasa, entah apa. Sesuatu menyeruak padanya, seperti saat ia merasa ada harapan pada kecewa yang timbul di dada ketika kehamilan sang istri sirna. Ya, ketika sang istri mengalami keguguran anak pertama mereka, ia menyepi di remang pagi. Menyaksikan matahari menyingsing di ufuk, lalu muncul semangat baru. Menyaksikan pagi yang menyingsing seperti mendengar nasehat orang bijak yang menasehati tanpa terasa menggurui, sejuk dan indah. Begitulah rasanya ketika itu, enam tahun yang lalu.

Kini, saat ini, di suatu tempat ia berdiri, rasa itu hadir lagi. Berdiri di pantai suatu teluk yang menghadap ke ufuk timur, menyaksikan mentari muncul dari persembunyaiannya sembari menumpahkan gundahnya. Pagi yang menyingsing datang bak menyingsingkan duka, menyembuhkan luka, dan menyejukkan. Ia tengadah ke langit lagi, wajahnya diterangi cahaya pagi yang mulai muncul. Tak berapa lama setelah itu menarik nafas panjang sambil tangannya meraih hp di saku kiri. tangannya kini sigap menuliskan sesuatu, pesan singkat.

Beginilah pesan yang dituliskan lelaki itu di hpnya, " Besok aku pulang sayang. Akan kuhadiri sidang pertama itu. Akan kupenuhi permintaanmu yang menginginkan perceraian kita. Entahlah apa yang akan terjadi nanti, mudah-mudahan itulah yang terbaik untuk kita...", demikian isi pesan di hp lelaki itu. Lalu jemarinya menekan pilihan "Kirim" ke suatu nama di daftar kontak hpnya, Istriku. Shreeet......, pesanpun terkirim. Cahaya pagi menerangi wajah lelaki itu, memperlihatkan sesuatu di wajah itu. Sudut kedua matanya membasah oleh air mata. Itu air mata ketiga dalam hidupnya setelah ibunya meninggal dunia, janin anak pertamanya lepas dari rahim sang istri, dan kini saat istri tercinta mengugat cerai dirinya.

Cahaya pagi yang menyingsing itu seperti mengerti perasaannya. Seperti memberinya kesejukan juga kekuatan. Bukankah tadi sang fajar menyingsing berkata bahwa hari akan selalu berputar, semua isi hari harus dilalui, dan setiap hari sang pagi akan memberi semangat baru. Wajahnya nampak tegas kini. Pandangan nanar tadi sirna bersama kegelapan fajar yang menghilang saat mentari muncul di ufuk timur itu, saat pagi menyingsing di garis pantai ini. Lelaki itu kini melangkahkan kaki menuju wisma tempat ia menginap. Pada langkah kaki ke tiga, ia nampak menggumamkan sesuatu. Rasa itu tak bisa kupaksakan. Betapa aku telah merenggutkan cinta istriku pada kekasihnya tujuh tahun yang lalu.

Ya, tujuh tahun yang lalu ia menelikung sahabatnya sendiri dengan merebut kekasih sahabatnya dengan alasan juga cara yang tak seorangpun tau (kecuali dirinya sendiri). Kini perempuan mantan kekasih sahabatnya yang telah enam tahun menjadi istrinya, ikhlas akan ia lepaskan. Sungguh, kecewa sudah pasti ia miliki. Tetapi...., perempuan yang telah menjadi istrinya itu tidak bisa ia kungkung perasaanya. Dan bukankah perempuan itu telah berusaha menjadi istrinya yang baik selama enam tahun ini, rasa itu tidak bisa lagi ia paksakan. Setidaknya perempuan yang menjadi istrinya itu telah membahagiakanya selama enam tahun, dan kini perempuan itu berhak mengejar kebahagaiaanya sendiri. Ia tidak tau apakah keputusannya sudah tepat, semoga inilah yang terbaik.

Begitulah gumaman si lelaki yang berdiri di pantai itu saat pagi menyingsing. Cahaya mentari mulai penuh, hari mulai terang benderang. Ia teringat lagi pada bisik pagi menyingsing tadi. Hari selalu berputar. Suka tidak suka pada setiap putaran hari mustilah dilalui dengan penuh harapan karena setiap hari sang pagi akan datang menyingsing. Kini lelaki itu melangkahkan lagi langkahnya yang tadi terhenti. Sang pagipun seakan tersenyum menyaksikan langkah lelaki itu. Cahaya pagi menerangi sekeliling, seolah mengatakan kisah sangat pendek ini silahkan direnungkan sendiri.

Saturday, June 27, 2009

Kisah Kuntum-kuntum Kamboja Pada Suatu Tempat dan Suatu Ketika





Pada suatu ketika di suatu tempat indah, tempat bersemayam para dewata. Kuntum-kuntum Kamboja semarak menyeruak indah di setiap penjuru dan sudut. Seperti dara berbedak setelah mandi, sang kamboja merona membelah pagi. Menebar wangi dalam rupa cantik pada kuntumnya. Seseorang sedang mereguk segala wangi dan indah yang diberikan kuntum-kuntum kamboja itu, tertegun dengan takjub disana .

Kuntum-kuntum kamboja itupun membelah ketinggian, indah harmoni mewarnai biru langit. Ia kamboja tua nan tetap cantik di sudut hostel yang juga tua. Seseorang yang tadi tertegun, masih disana dengan rasa sulit diuraikan yang semakin penuh dan merona.

Kuntum-kuntum kambojapun menembus langit, saat sembah dan puja dilepas menghantar ke tempat peraduan para dewa. Seorang gadis dengan sekuntum bunganya menyelip di telinga tersenyum manis setelah melantunkan doa pada kuntum-kuntum kamboja yang merekah manis, semakin manis.

Ia kuntum-kuntum kamboja di tempat persinggahan para dewa. Seseorang bergumam semakin meresapi hal-hal yang dahulu tidak begitu ia hiraukan. Begitulah kuntum-kuntum kamboja pada suatu tempat dan suatu ketika. Ia tak sekedar bunga. Padanya, disana, tersimpan nuansa yang sulit dijabarkan dengan kata-kata. Tak sekedar indah dan wangi, entahlah. Lebih indah untuk diresapi saja kawan.


(Sanur, 24 Juni 2009)

Sunday, June 21, 2009

Kisah Setetes Embun Pagi


Dia cuma setitik noktah, bergelembung di pucuk dedaunan. Dia indah membulat, terlihat, he, agak pasrah. Dia hanya ada sebelum mentari tiba, kawan. Hanya ada di dinginnya hari yang menyingsing. Gelembung indah lembut dan menyejukkan saya pagi ini. Dia setetes embun pagi ini, saat mentari dari balik pohon kelapa di pojokan halaman tetangga belum muncul.

Tiba-tiba tangan jahil saya tidak sengaja tersentuh dahan dedaunan itu. Sang embun byar........buyar, lepas dan jatuh. Bulatan indah itu menghilang dari pandangan. Hanya tersisa dedaunan yang membasah dari jejak sang embun tadi. Saya.....terpana kawan, kehilangan kata-kata untuk beberapa jenak. Suasana hening muncul seketika, berpadu dengan hawa dingin pagi hari.

Kini saya tengah duduk sendiri memikirkan sang embun tadi. Secangkir kopi di tangan kanan telah saya hirup berkali-kali. Kehangatan muncul di tenggorokan, tapi tidak mampu menghapus bayangan sang embun tadi di benak saya. Dari kejauhan saya pandang dedaunan tempat sang embun tadi bertengger. Entah kenapa saya bangkit lagi menuju dedaunan itu. Masih pagi saat ini kawan.

Dedaunan basah sisa sang embun sudah di hadapan saya. Saya pandangi lagi begitu rupa, hiks maafkan saya telah membuatmu terbuyar dan lepas tadi, ujar saya lirih. Sedang saya begitu, tiba-tiba kebasahan embun itu seperti mengatakan sesuatu pada saya,
".... aku akan muncul lagi wahai insan. Tunggulah aku disini sebelum mentarimu setinggi pohon kelapa itu. Dalam seluruh dasawarsa aku hanyalah setetes embun tapi cahaya seluruh warsa berpendar dalam siklusku... esok pagi aku akan akan muncul lagi...". Begitulah ujar kebasahan embun, sebagaimana ujaran Al Mustafa pengelana dalam Taman Sang Nabi (The Garden of The Prophet, Kahlil Gibran). Lalu suasana kembali diam dan hening.

Saya sekali lagi terpana. Sekali lagi kehilangan kata-kata karena ujaran sisa kebasahan embun pagi ini. Dia begitu pasrah sekaligus tegar dan percaya diri. Itulah mungkin pesanNya yang disampaikan lewat setetes embun untuk semesta ini. Ya tetes embun ini mungkin hanyalah perantara untuk suatu pesan bahwa hidup adalah untuk dijalankan dengan rasa penuh penerimaan, sekaligus rasa percaya diri yang tinggi. Demikian kisah setetes embun pagi ini. Mari kita renungkan bersama.



Catatan :
Gambar diambil dari www.vavai.com

Friday, June 19, 2009

Lamunan Lelaki Di Atas Bukit

Senja hari di suatu noktah bumi. Seorang laki-laki sedang berdiri, sepi, sendiri. Rambutnya yang telah panjang sebahu meriap-riap diterbangkan angin. Kulit sawo matangnya mengkilat, terpanggang matahari. Sorot matanya tajam bak elang akan menukik mangsa. Terkadang, dalam beberapa kejab, sorot mata tajam itu terlihat hampa. Ia terlihat begitu lelah. Pada helaan nafasnya, ada jeda tak bernas. Ia berdiri di atas ketinggian sunyi senyap, pada suatu tempat yang ia sebut "Pesaranganku". Ia lelaki di atas bukit.

Tepat pada posisinya berdiri di atas bukit, disamping rumah yang lebih pantas disebut pondok, ia memandang ke bawah. Pandangan itu tertumbuk pada kota di bawah bukit. Segala yang ia lihat cuma seperti kotak-kotak mengelompok pada sekat-sekat. Itulah kota yang telah ia tinggalkan. Ya, kota yang telah membuatnya kecewa sehingga ia memutuskan untuk naik ke bukit itu. Kota yang dimatanya masih cuma berupa kotak-kotak hampa dan kehilangan makna. Lelaki itu kembali menunduk. Tertunduk kembali memandang kota kotaknyanya. Pandangan yang belum berubah di benaknya sejak ia meninggalkan kota itu tiga tahun yang lalu.

Angin sore kembali bertiup, meriakkan lagi rambutnya ke kiri dan ke kanan. Tiba-tiba, sesuatu benda bergerak lurus mengarah padanya. Semakin lama semakin besar hingga ia tersadar bahwa benda itu betul-betul menuju dirinya. Begitu ia membuka matanya lagi, seorang perempuan muda sudah berdiri di hadapannya dengan tersenyum. Ia tersekat. Kerongkongannya kering laksana sumur tua tak berair. Lidahnya kelu.

"Pulanglah ke tempatmu bang, jangan jadi pengecut...." perempuan itu membuka percakapan
"Kenapa aku harus pulang, supaya aku tambah merana", jawab lelaki itu acuh.
"Ya, supaya abang jadi realistis. Tidak semua hal bisa seseuai dengan harapan kita. Begitulah hidup. Setiap masalah dihadapi dengan lapang, dada, bukan dengan lari begini", si perempuan menjawab lagi.
"Apa pedulimu...?"
"Aku perduli bang, aku menyesal, aku mohon.........."
"Pulanglah sebelum adzan tiba. Tidak ada tempat untukmu disini" jawab si lelaki lagi. Tatapannya tetap tak bergeming. Hening setelah itu. Angin sore berhembus lagi meriapkan rambut dan menampar-nampar wajah dua anak manusia di bukit itu.

Perempuan yang mendatangi lelaki itupun akhirnya bergeming. Setelah mengatakan lagi sesuatu, sepertinya permintaan maaf, pernyataan penyesalan, perempuan itu menuruni bukit. Kini lelaki itu kembali menemukan dirinya sendiri di bukit itu. Di sudut bibir lelaki itu, tiba-tiba terukir senyuman menyeringai. Senyuman kepuasan karena telah mengusir perempuan yang datang menghiba padanya. Dunia ini terkadang harus kejam, lirih lelaki itu tertahan.

Laki-laki itu masih tersenyum. Senyuman yang sebenarnya sangat ganjil. Ya itulah angan semu seseorang yang sudah terlalu lama menyepikan diri. Sejak tiga tahun yang lalu lelaki itu mengkhayalkan suatu hari kekasih yang meninggalkannya demi menikah dengan lelaki lain akan datang meminta maaf padanya, memohon ia kembali. Kenyataannya, tidak ada perempuan yang mendatanginya di bukit itu sore ini. Itu cuma lamunan, khayalan. Ya harapan kosong lelaki di atas bukit itu. Sejak tadi ia cuma berdiri seorang diri sambil memandang kotanya di bawah bukit itu. Demikian kisah yang diterbangkan angin, saat seorang lelaki berdiri di atas bukit pada suatu senja berangin dan sunyi sepi. Kalau saja setiap manusia bisa lapang dada, introspeksi diri, sambil meyakini bahwa setiap sesuatu memiliki hikmah. Hehe, tentu tidak ada kisah basi ini.

Thursday, June 18, 2009

Bejo Tertawa Di Malam Jum'at

Malam perlahan-lahan beranjak di suatu kota nun jauh disana. Di salah satu rumah di kota itu, seorang laki-laki bernama Bejo sedang tertawa saat ini. Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Saat ini hari di kalender menunjukkan tulisan Kamis. Kalau hari ini kamis, maka besok adalah hari jum'at. Artinya, malam ini adalah malam jum'at. Entah jum'at kliwon atau pahing atau legi, Bejo tidak tau pasti. Tiba-tiba, wakakak........Bejo tertawa lagi melihat tayangan kesayangannya di televisi.

Ya Bejo atau siapapun berhak tertawa dengan alasan mereka masing-masing. Menurut Bejo ada banyak alasan orang tertawa. Pertama karena senang, ini disebut tawa bahagia atau tawa girang. Kedua karena ada sesuatu yang lucu, ini disebut tawa senang juga.... tapi lebih sering disebut ngakak. Ketiga karena ada sesuatu yang datang tiba-tiba, lalu membuat geli sendiri, ini disebut tawa tergelitik, ada yang menyebutnya senyum-senyum sendiri. Itulah alasan-alasannya, setidaknya ini menurut Bejo.

Seseorang datang mengabarkan gaji anda naik, pasti anda (meski malu-malu) tertawa, inilah tawa bahagia. Anda nonton extravaganza, atau opera van java, melihat banyak kelucuan yang membuat anda terpingkal-pingkal, inilah tawa karena lucu atau disebut ngakak tadi. Seseorang lewat di hadapan anda, rupanya ada yang tidak beres pada dirinya tanpa ia sadari, misalnya risleting lupa ditarik, atau hal-hal konyol lain, pasti anda akan tertawa tergelitik akan hal ini. Anda akan senyum-senyum sendiri. Begitulah. Setiap orang punya pendapat dan alasan sendiri tentang hal ini.

Begitupun Bejo malam ini. Lihatlah, sayang anda tidak bisa melihatnya, sekarang dia sedang senyum-senyum sendiri. Sekitar 20 menit sebelumnya bukankah dia sedang tertawa terpingkal-pingkal melihat melihat tayangan lucu di televisi. Ya pasti ada banyak alasan Bejo tertawa di malam jum'at ini. Yang pertama tadi, jelas karena dia melihat hal yang lucu. Sedangkan yang kedua, senyum-senyum sendiri tadi, .....mari kita tanya Bejo.

Setelah seseorang mendesaknya, akhirnya mau juga Bejo menjawab mengapa dia tertawa-tawa kecil, alias senyum-senyum sendiri tadi. Inilah jawaban bejo....karena besok hari Jum'at, artinya weekend sudah di depan mata. Besok Jum'at, maka biasanya keesokan harinya lagi adalah Sabtu dan minggu, weekend lagi. Saatnya untuk santai, melepaskan kejenuhan pekerjaan. Alasan kedua bejo, (he, jangan ngiri ya), ini adalah malam jum'at dimana dia akan mengajak istrinya untuk melakukan sesuatu yang mereka sebut "Sunnah Rasul". Seseorang itu kaget demi mendengar alasan bejo. Astaga. jadi inilah alasan bejo tertawa sendiri, senyum-senyum kecil di malam jum'at ini...? Dasar Bejo !

Begitulah Bejo yang sedang tertawa di malam jum'at ini. Apakah anda sedang tertawa juga seperti Bejo ? Bila iya selamat, anda memiliki alasan tertawa, anda pasti sedang bahagia. Bila tidak, bila memungkinkan, mari kita cari alasan untuk tertawa, meski dengan alasan yang berbeda dengan alasan bejo. Sebab tertawa itu akan membuat bahagia jiwa, merelakan syaraf-syaraf tegang anda. Dengan tertawa, akan membuat otak kita lebih fresh, sehingga jadi pengantar kita menemukan solusi dari masalah yang kita hadapi, katanya. Mari kita tertawa selagi kita bisa tertawa. Mari kita renungkan bersama. Oh ya, maaf postingan ini tanpa gambar, sebab Bejo keberatan gambarnya yang sedang tersenyum saya tampilkan disini.

Wednesday, June 17, 2009

KDRT Dan Bu Siti


Gerangan apakah KDRT itu ? Apakah mahluk baru dari planet Mars ? Kenapa ia begitu asing di telingaku ? Demikian bu Siti mengeluh tak jelas. Bu Siti, he, jelas tidak jelas dengan KDRT. Yang dia tau, pagi-pagi menyiapkan pak Bas Kopi, suami satu-satunya, pertama dan terakhir. Ketika cucunya nan Ayu bernama Diah menghempaskan koran yang sedang dibacanya, sambil berteriak "KDRT" lagi, bu Siti cuma melongo.

Nyai (nenek dalam bahasa di Sumatera Selatan), KDRT itu artinya Kekerasan Dalam Rumah Tangga yang dilakukan suami atau istri. Misalnya suami suka menjahati istri, suka memukul, menyakiti hati dan menyiksa perasaan istri, termasuk menelantarkan istri/keluarga, nah itulah KDRT. Begitu Diah cucu bu Siti menjelaskan dengan sabar. Bu Siti tetap tidak mengerti. Yang dia tau rumah tangga adalah dipinang seorang laki-laki, kemudian lahir anak-anaknya. Tidak ada, dan tidak tau apa itu kekerasan dalam rumah tangga. Saat Diah menjelaskan kata-kata itu pikirannya menerawang pada masa dulu, dulu sekali. Saat ayah Diah belum lahir ke bumi ini.

Saat itu adalah hari yang terang benderang bagi bu Siti. Seorang laki-laki muda ditemani kedua orang tua si lelaki muda, datang menemui orang tua bu Siti. Dia tidak begitu kenal lelaki muda itu, selain sebagai pemuda satu kampung dengannya. Tak lebih seminggu setelahnya lelaki muda itu meminangnya. Lelaki muda itu sanggup memenuhi permintaan ayahanda bu Siti, Mas kawin berupa cincin emas, 2 ekor kerbau, dan 80 batang kayu Tambosu (Tembesu) dalam waktu satu minggu. Permintaan yang cukup sulit dipenuhi, mengingat Tambosu adalah jenis kayu yang paling bagus sekaligus paling sulit dicari di tempat itu. Tidak ada pemuda lain yang sanggup memenuhi permintaan ayahandanya karena kayu Tambosu tersebut. Usianya delapan belas tahun saat itu, tamat cuma sekolah rakyat mungkin karena dibesarkan ibu tiri setelah ibunya meninggal dunia. Itulah hari paling terang benderang dalam hidup bu Siti.

Begitulah awal bu Siti membina Rumah tangganya. Kemudian lahirlah ayahanda Diah, lalu lahir pula para paman dan bibinya. Maka setiap hari adalah rasa mengabdi yang tertanam dalam jiwa bu Siti. Suami yang mengasihi (dengan caranya sendiri), anak-anak yang mengerti dengan kondisi. Lima tahun setelah menikah, si lelaki muda yang menjadi suaminya terserang penyakit yang menyebabkan ia tidak bisa menggarap sawah. Bu Sitilah yang perkasa turun ke sawah. Tidak hanya itu, pada hari kalangan (pasar pekan) bu Siti akan mendayuh perahu menelususri anak sungai Musi, menjual pisang, ubi, juga sayur-sayuran. Pulangnya ia membawa minyak goreng, sabun cuci, rokok paper buat suami, dan uang yang digunakan dengan sederhana dan baik. Semuanya dilakukan bu Siti dengan rasa syukur dan ikhlas, juga cinta yang besar kepada keluarganya. Anak-anak mereka sekolahkan dengan baik. Tidak ada keluhan, tidak ada kekerasan, setidaknya begitu yang dia rasakan. Bila kata ikhlas dan tawakal itu ada, juga rasa salin g memahami dan saling mengerti, tidak akan ada kekerasan dalam rumah tangga. Begitulah menurut bu Siti. Hal yang dialami bu Siti begitu sederhana, bersahaja, mengalir lancar saja. Sedangkan rumah tangga orang-orang sekarang begitu rumit. Itulah kenapa bu Siti tidak mengerti dengan kehidupan Rumah Tangga zaman kini, apalagi dengan istilah KDRT.

Mengapa orang-orang sekarang ribut dengan KDRT ? tanya bu Siti lagi. Diah hanya terdiam. Cucu bu Siti itu kehilangan kata-kata untuk menjawab pertanyaan bu Siti. Ia sedang tertegun merenungkan kisah rumah tangga bu Siti, neneknya. Bila rumah tangga telah ada sejak zaman Adam dan Hawa, kenapa baru di zaman ini orang ribut dengan masalah KDRT ? Ya karena orang sekarang banyak tuntutannya. Mungkin karena orang sekarang sudah sadar dengan HAM....? Tidak ada orang yang mau menderita, tidak ada orang yang mau mengalami kekerasan, begitu kan. Setiap permasalahan dalam RT mudah sekali mencuat ke permukaan. Begitu banyak masalah KDRT tereskpose ke permukaan, sehingga munculah UU No 23 tahun 2004 tentang Penghapusan KDRT. Mungkin karena tuntutan hidup semakin tinggi, banyak perempuan juga menopang RT dengan bekerja, dan mereka jelas tidak ingin menderita (he siapa yang mau, seru Diah sinis) . Entahlah. Diah masgul sendiri. Demikianlah sobat. Anda mungkin punya pendapat sendiri, mari kita renungkan bersama. Hari ini cukup melelahkan bagi saya. Tapi mari, kita bantu bu Siti supaya mengerti apa itu KDRT.

Tuesday, June 16, 2009

Jangan Lewat Jam Lima, Sayang


Jangan lewat jam lima, sayang. Begitu pesan seorang istri kepada suaminya. Sang suami menganggukkan kepala, si istri merasa girang. Hari itu terbang laksana pesawat terbang. Suing, suing......ternyata sudah lewat dari pukul lima. Bukankah jam lima sore dan bukan lima pagi...?, sang istri bergumam tak mengerti. Sejak tadi ia duduk meringkuk, terpekur di sudut kamar. Kini sudah 5 jam lewat dari jam lima sore sebagaimana janji.

Sang suami yang berjanji langkahnya sedang terhenti. Kendaraan yang jadi piranti sedang mogok tanpa diketaui sebab yang pasti. Di sisi kirinya seorang perempuan lain lagi sedang tergolek lesi. Tak berapa lama setelah itu si lelaki meraih hp di saku celana yang tadi pagi disiapkan istri. "Sayang, aku telat neh....mobil mogok, kerusakan busi.... sekarang masih di kota kecamatan x". Begitulah kata-kata yang keluar dari mulut si lelaki untuk istrinya yang sedang menanti. Sementara tangan kiri si lelaki membelai lembut tubuh perempuannya tadi.

Jangan lewat jam lima, sayang. Perempuan itu mencoba melupakan kata-kata itu. Iapun bangkit dari ringkuk lamunannya. Di bibirnya muncul senyuman tipis. Senyuman tipis yang berbaur dengan doa yang juga tipis. Tuhan dimanapun suami hamba berada, lindungi dia. Doa tipis yang terlontar itu cukup membuatnya lega. Sejurus setelah itu kantuk hebat mendera sang perempuan. Iapun masuk ke pembaringan.

Jangan lewat jam lima, sayang. Demikian kisah yang dibisikkan sang angin pada seseorang manakala kisah seorang istri bernama Cici yang di dahinya ada luka menggores muncul di televisi. Entah Cici siapa, entah pula Cici yang mana. Ini hanya rekaan. Betapa cinta sering mendatangkan luka. Dan ini luka dalam bingkai bernama "KDRT" yang sedang trendy. Menyesakkan. Begitulah gumamnya lagi. Akhirnya, seseorang itupun masuk ke pembaringan menyusul belahan hati yang telah hampir 30 menit menanti. Pasutri itu melanjutkan malam mereka lagi.

Monday, June 15, 2009

Pagi Ini Datang Lagi



Pagi ini datang lagi..........

Datang tidak terbirit-birit. Datang dari balik sebuah bukit. Semburat jingga muncul lagi menghias langit.

Pagi ini datang lagi..........
Datang seperti hari kemarin dan kemarinnya lagi. Ada hawa wangi dini hari, ada setetes dua noktah mengembun di dedaunan hari

Pagi ini datang lagi..........
Datang pula wangi bunga kopi tertiup angin pagi. Datang pula wangi dari aroma khas kayu bakar di tungku pak tani yang sedang merebus ubi.

Pagi ini datang lagi..........
Datang dengan suara sayup-sayup dari TOA sebuah masjid. Seperti seruan, sambutlah pagimu dengan seruan pada illahi.

Pagi ini datang lagi.........
Datang-datanglah pagi. Seorang insan sedang menghirup pagi pada secangkir kopi yang tersaji. Datanglah ini pagi dengan semua pertanda ini. Sebuah gumaman terlontar lagi, dari balik kepulan kopi ini pagi. Seringai seperti senyuman muncul pada wajah itu, saatnya memulai hari kawan. Besok pagi ini akan datang lagi.

Saturday, June 13, 2009

Daun-daun Jatuh Ke Bumi




Pagi muncul lagi. Seperti biasa, setiap hari selalu begini (andai setiap hari bisa santai begini, he dan sayangnya tidak). Ada sapaan pagi, ada kicauan burung-burung yang sedang hinggap di dahan, ada udara yang sejuk, dan tentu saja ada secangkir kopi yang mengepul. Hawa panas kopi membangkitkan birahi. Birahi untuk menulis di ini pagi.

Sedang asyik menulis ini, tiba tiba sehelai daun jatuuuhhhh....., pyah. Pelan dan indah, begitulah. Entah kenapa moment jatuhnya sehelai daun itu istimewa bagi saya. Rupanya angin bertiup menghempaskan dahan-dahan sebatang pohon jambu. Itu jambu air dan bukan jambu klutuk. Hempasan angin itulah yang tadi menerbangkan sehelai daun hingga ia terjatuh. Tak lama setelah itu angin kembali berhembus. Sehelai daun jatuh lagi, menyusul daun-daun lain. Ya beberapa helai daun jambu itu jatuh lagi. Merekalah daun yang rentan terhadap hembusan angin, daun yang sudah tua dan menguning. Sedikit saja angin berhembus, jatuhlah mereka ke bumi.

Tiba-tiba, saya kehilangan selera menuliskan apa yang tadi sedang saya tulis. Beberapa menit setelahnya jemari saya membuka new tab pada si lappie, membuka blog ini. Maka mulailah saya merenung pada tulisan ini, disaksikan daun-daun jatuh tadi. Kemudian saya mengambil hp saya yang sudah tidak baru lagi. Menjepret sana-sini pada sang daun yang jatuh tadi.

Daun daun jatuh itu tidak lagi berseri. Wajahnya pucat pasi. Saat saya tatap mereka, daun-daun jatuh itu seakan menggumamkan sesuatu pada saya. Inilah katanya, seandainya mereka bisa berkata, jangan buang waktu wahai dirimu insani. Gunakan harimu untuk sesuatu yang kau yakini pada dunia ini. Raihlah harapan dan asamu pada dunia ini. Sebelum dirimu jatuh dan layu seperti aku. Demikian kata-kata para daun layu itu kepada saya, andai mereka bisa berkata. Saya terpana demi mendengar bisikan maya itu.

Sementara, di atas kepala saya, dedaunan hijau sedang melaksanakan tugas mulianya pada alam ini. Berfotosintesis, memberikan udara segar bagi kita semua. Mereka tampak sigap, segar dan ada rona bangga juga pada mereka. Lalu daun-daun hijau itupun mengangguk, seakan membenarkan bisikan para lelayu rekannya yang tadi jatuh ke bumi. Hembusan angin rupanya telah membuat dedaunan hijau itu seperti mengangguk-angguk. Saya sedikit terperangah. Entah kenapa. Demikian renungan pagi ini kawan. Mari bersemangat menjalani hari, jelang cita-cita dan asa, sebelum kita bernasib seperti daun jatuh tadi, menguning, layu, jatuh ke bumi, dan akhirnya akan membusuk. Mari kita renungkan bersama. Mohon izin kawan, saya minum kopi lagi.

Friday, June 12, 2009

A Paradise Views For You






If someday the work my you dizzy
If someday the cases make you crazy
If someday the world make you angry
If everything gone with the wind, and you sad

Here's some paradise views for your soul in this weekend. Five amazing beach in the world. My best friend Zumairi forward this pictures to me. Five beachs with five colours (red sand, pink sand, white sand, green sand, and black sand). Please enjoy it before you take your weekend. I hope those pictures can inspiring you. Thanks God for all Your Paradise Views. Thanks God for all Your amazing and lovely place. Maha suci Dia, subhanallah.


Thursday, June 11, 2009

Bukan Karena Sambal Yang Kepedasan

Malam sedang merangkak pelan. Saya dan suami baru saja selesai makan malam. Menunya sederhana. Tadi dibeli di sebuah rumah makan yang juga sederhana di tikungan jalan. Kata suami saya sesekali beli tidak apa-apa. Tidak banyak pilihan, sudah sore soalnya. Jadi ya pilih sekenanya saja. Sambal ijo, dendeng batokok, dan sayur kacang panjang tumis. Yang penting ada sayuran, ada protein dari dendeng, dan tentu saja ada sesuatu penggungah selera makan, ya sambal ijo tadi.

Selesai makan, hiks, perut saya agak melilit. Sudah 2 kali ke belakang. Kerongkongan terasa panas, telinga berdenging-denging. Badan terasa agak berat. Pusing juga. Saya ngomel-ngomel kesal. Jadi mau marah saja rasanya. Suami sudah beberapakali jadi sasaran kekesalan saya malam ini. Untungnya dia anteng saja. Dia santai, nonton tv sambil menghisap sebatang rokok.

"Sudah tau perutnya gak kuat, kok pilih makanan yang serba pedas", ujar suami saya sembari mengepulkan asap rokok.
"Ya abis buru-buru, adanya cuma itu". jawab saya tambah kesal
"Kan bisa disiasati waktu makannya, sambalnya sedikit saja" ujar suami saya lagi
"Pengen, abis enak", jawab saya lagi
"Ya sudah kalau begitu. Artinya kamu sendiri yang salah gak bisa memperkirakan porsi makanan yang pas. Kamu gak bisa menakar berapa sendok sambal yang pas buat kamu", sela suami saya lagi, masih sambil merokok.

Saya tentu saja kesal. Biasanya sambal ijo di rumah makan itu tidak sepedas tadi, kenapa mereka merubah rasa ya. Saya sebal karena rasa tidak enak yang saya dera ini. Ini semua gara-gara sambal sialan itu. Begitulah saya menggerutu. Sedang saya menggerutu lagi itu, entah kesekian kali, perut saya agak melilit lagi. Sayapun bergegas lari ke kamar mandi.

Di kamar mandi segalanya menjadi jelas. Saya jadi lemas. Tamu bulanan saya rupanya datang. Padahal ia tidak saya harapkan, dan sudah 3 hari lewat dari jadual. Inilah alasan sebenarnya kenapa rasa kesal dan tidak enak itu tiba. Gejala marah-marah dan perut melilit tadi bukan karena sambal yang kepedasan, tapi karena tamu bulanan ini. Ampuni saya Tuhan sudah menimpakan kekesalan kepada orang lain. Dan yang saya nanti gagal lagi, astaghfirullahh.........

Segera saya menghambur ke pelukan suami saya. Tak tau harus berkata apa. Saat saya pandang mata suami saya, saya tau bahwa ia tau apa yang saya alami. Ia tau apa yang saya rasakan. Saya menjadi semakin tidak tahan, sedih bercampur jengah. Segera saya benamkan lagi kepala saya ke dadanya.
Demikian kisah seorang perempuan dan suaminya pada suatu malam. Malam ini terus merangkak teman. Silahkan direnungkan bila anda berkenan.


Ruang-ruang Mengerang Panjang

Ruang (terbuka) Yang Dikhayalkan Seseorang

Ruang dan waktu sebuah kota, pada suatu ketika. Segalanya tampak seperti erangan. Jalanan penuh sesak. Macet panjang. Suara klakson hingar bingar bercampur debu. Dalam kemacetan itu, segerombolan anak jalanan, gelandangan dan pengemis, menyerbu jalanan, menengadah meminta-minta pada mobil dan kendaraan lain yang terjebak dalam kemacetan. Seorang yang sedang tergesa hendak mengikuti acara, maha penting katanya, menyumpah-nyumpah dalam mobilnya.

Sebelumnya orang itu melewati sudut lain kota itu. Sudut pinggiran kota dimana gubuk reyot muncul, berserakan sangat tidak rapi. Ada bayi dalam salah satu gubuk reyot itu, menangis mita ASI. Bayi hanya ditemani sang nenek, yang tentu saja ASInya sudah mengering. Ibu si bayi sedang berkeliaran ke kota, membawa list sumbangan pembangunan sebuah mesjid. Bapak si bayi, entah berada dimana. Sementara di salah satu kamar hotel, seorang laki-laki pegawai tata kota itu sedang bercumbu dengan perempuan yang bukan istrinya. Saya menemui pak Wibowo sebentar, begitu pesan si lelaki pada sekretarisnya ketika meninggalkan ruangan kerja dengan meja penuh map berserakan.

Di sebuah ruangan penuh sesak, seseorang yang menyumpah-nyumpah di mobil tadi akhirnya tiba juga. Ia terlihat begitu lelah. Ia terpekur panjang. Dalam keterpekurannya tiba-tiba mucul bayangan hijau, luas, teduh dan menenangkan. Bayangan itu cukup membantunya. Oksigen di kepalanya kini kembali terisi. Ia merindukan ruang luas tempat bercengkerama ceria seperti dulu. Saya merindukan lapangan luas hijau dimana dulu saya bermain kasti, dan lompat tali itu, lirihnya sambil tersenyum tipis. Ya ruangan hijau terbuka yang kini susah didapat di kota itu. Tak lama setelah itu ia mengangkat kepala. Acara yang katanya maha penting tadi sudah dimulai sejak satu jam yang lalu.

Begitulah. Orang yang terpekur (juga sebelumnya menyumpah-nyumpah dalam mobil) itu, dan orang-orang lainnya tadi adalah pengisi ruang yang bernama kota itu. Mereka semua berada dalam ruang entah terbuka atau tertutup. Dan ruangan besar bernama kota itu, seharusnya menjadi tempat mereka berbagi. Kau ada di hati saya wahai insan, adakah saya ada dalam hatimu...? Bila aku ditata dengan baik, kesemrawutan itu mungkin tidak akan terjadi. Begitu erangan lirih sang ruang. Dan sayangnya para insan penghuni ruang kota itu belum bisa berbagi ruang dengan baik dan indah. Penataan ruang belum dilakukan dengan baik. Kisah semrawut itu terus terjadi. Ruang-ruang itu terus mengerang panjang.


Wednesday, June 10, 2009

Suatu Sore Tanpa Bra

Perempuan itu berbegas membuka pintu begitu ia tiba di di rumah. Hari ini terasa begitu panas, gerahhhhh. Ia menggumam perlahan, terdengar seperti ucapan....astaghfirullahaladzim. Ia melepas sepatu, meletakkan tas kerja, lalu masuk ke kamarnya. Stop cukup sampai disitu saja, kita tidak boleh ikut masuk ke kamarnya.

Di kamarnya, dengan beberapa gerakan perempuan itu melepas bajunya, melepas roknya. Semuanya, satu persatu dilepas. Terakhir melepas sesuatu yang memiliki kaitan di punggung, dan bertali di bahi, bra. Kini ia tanpa bra. Ah,....enak juga. Ia duduk dan berdiri berlama-lama dalam kamarnya tanpa bra itu. Untunglah ia cuma sendiri di rumahnya. Sang suami belum pulang kerja. Tak lama setelah itu ia meraih handuk, lalu masuk ke kamar mandi.

Setelah mandi selesai, perempuan itu tergoda untuk melakukan hal yang baru pertama kali ia lakukan. Sesuatu yang membuat nafasnya lega tadi, berpakaian tanpa bra. Sesekali tanpa bra, enak juga. Anda, kalau anda perempuan pasti merasakan apa yang perempuan itu rasakan bila hawa panas muncul sepanjang hari. Cobalah sesekali tanpa bra, kalau cuma anda dan suami yang ada di rumah tentunya. Begitulah gumam perempuan itu sembari menyetel televisi. Angin sore ia rasakan masuk dari jendela, lalu menembus pori-pori kulitnya. Perempuan itu tampak terlena menonton berita di tv. Lalu chanel pun dialihkan berganti-ganti.

Sedang menonton tv itu, perempuan tanpa bra itu tiba-tiba seperti mendengar suatu suara. yang entah darimana asalnya. A
nggota tubuh kita adalah hak kita, tetapi akan diminta pertanggungjawabannya kelak di hari nanti. Entah kenapa, perempuan itu menjadi jengah sendiri. Ia segera beranjak ke kamar, untuk mengenakan benda yang mengait di bahunya tadi. Saya yakin ia hanya belum terbiasa saja, barangkali. Kenapa ia begitu kejam pada dirinya sendiri, gumam saya tak mengerti...? Bukankah tidak ada hal mendasar (laranganNya) yang dilanggar perempuan tadi ? Entahlah. Ya barangkali karena ia belum terbiasa tadi. Angin sore terus berhembus pelan tapi pasti. Seolah berkata, Posting ini jangan diambil hati.



Kisah Nasi Uduk Pagi Itu



Suatu hari, entah kenapa tiba-tiba saja saya ingin sekali makan Nasi uduk. Keinginan yang sangat wajar, tidak berlebihan kan. Sekedar ingin sarapan pagi dengan Nasi uduk. Lalu suatu hari pula suami membawakan saya sebungkus nasi uduk. Anehnya begitu tersaji di hadapan saya, kok saya tidak begitu berselera. Sementara suami saya makan nasi uduk itu dengan lahapnya.

Yah sudah, bikin saja sendiri, sesuai selera kamu, begitu saran suami. Maka pada suatu hari yang tenang, karena masih dini hari, akhirnya saya bikin sendiri juga nasi uduk itu. Saya bikin seperti selera saya, sesuai dengan bayangan enak yang saya inginkan. Ada pergedel, ada irisan ketimun, ada sambal keringan tempe, ada telur dadar. Cukup menghabiskan energi dan waktu untuk membuatnya. Begitu selesai, dan siap disantap, hiks, saya kehilangan selera. Saya cuma makan beberapa sendok. Suami saya memandang saya dengan mengernyitkan dahi. Nasi uduk itu akhirnya dia habiskan sendiri.

Yah....ternyata saya bukan nasi uduknya yang saya inginkan. Saya ingin suasana saat saya makan nasi uduk itu dulu. Cuma nasi uduk dalam pincuk kecil daun pisang. Di dalamnya ada secuil sambal tempe, sedikit bihun goreng, sedikit telur dadar yang cuma berupa irisan kecil dan tipis pula. Tapi uenaknya maknyus. Saya makannya bersama teman satu kamar kost, Dini. Yah...sekitar jam 6.30 pagi, Tri, anak mbak Tini penjual nasi uduk dekat kost akan datang mengetuk pintu kamar kami.

"Nasi uduk, mbak" katanya sambil mengulurkan dua bungkus kecil nasi uduk pada saya. Tidak sampai 20 menit setelah itu kami, saya dan Dini, segera menyantapnya.
"Nasi uduk gratis emang enak ya", ujar Dini mengerdipkan mata
"Sering-sering aja mas S kirim nasi uduk buat kita, hihi", kata Dini sambil minum tehnya.

Sampai di ingatan itu, lidah saya benar-benar kelu. Betapa saya telah mengecewakan sseorang yang berinitial S itu. Saat asa cinta yang kala itu terajut indah. Jangan tanya kenapa. Begitu banyak kisah dibelokkaanNya dari rencana semula tanpa kita tahu sebabnya. Apapun alasannya, harus kita terima. Itulah yang terbaik untuk kita.

Kini, betapa ingin saya makan nasi uduk itu lagi, ya nasi uduk yang itu, bersama Dini lagi.
Yah....nasi uduk dalam pincuk daun pisang itu. Betapa maknyus rasanya. Sayangnya, saya tidak bisa kembali ke moment Nasi uduk yang dulu itu lagi. Ah, kenapa pula menginginkan suasana yang sudah lewat, saya mengutuk diri sendiri. Bukankah setiap cerita, setiap kisah memiliki masanya sendiri. Kadang, tiba-tiba saja, kita menjadi tidak rasional. Alasanyapun kadang tidak kita pahami. Begitulah. Demikian kisah Nasi uduk saya. Saya di cerita ini Nasi uduk ini bukanlah saya penulis postingan ini, harap dipahami ya para sahabat. Saya minum kopi saya dulu. Selamat pagi semua.



Tuesday, June 9, 2009

Mitos Kecantikannya Naomi Wolf, Apa Hanya Masalah Perempuan...?



Siang ini, begitu buka email di yahoo, saya lihat ada banyak pesan baru. Salah satunya dari Naomi Wolf, penulis buku Mitos Kecantikan, The Beauty Myth itu. Sudah lama saya mengadd beliau untuk menjadi teman di Facebook. Ya semenjak saya baca bukunya yang berjudul "Gegar Gender" (judul asli "Fire With Fire") yang diberikan teman saya Titik, konsultan UNFPA . Setelah sekian lama, dan saya nyaris lupa, rupanya ada jawabannya. Inilah jawabannya: " I have decided not to use this Facebook page but to focus on this one instead .........(sebuah link). I hope you'll come find me there (if you haven't already) and join in the conversation. Thanks!, naomi." Setelah saya klik link tersebut, hehe, rupanya mbakyu Naomi minta saya menjadi fansnya. Baiklah, menyenangkan orang itu berpahala kan. Sayapun klik permintaan menjadi fansnya. Mau tidak mau, pesan tadi mengingatkan saya akan sosok Naomi Wolf, lalu tergoda untuk memposting tulisan ini. Kalau anda ingin tau lebih jauh sosok Naomi, lebih lengkap klik disini.

Saya bertanya-tanya dalam hati .... Mitos Kecantikan, apakah hanya masalah perempuan ? Mari kita telusuri dulu pendapat Naomi itu. Mitos Kecantikan adalah suatu bentuk destruktif dari kontrol sosial dan merupakan reaksi terhadap meningkatnya status perempuan; di mana kini perempuan lebih dihargai dan diperhitungkan secara profesional baik dalam dunia bisnis maupun politik, demikian ujar Naomi. Jutaan perempuan di dunia ini menganggap bahwa kecantikan adalah soal penampilan seksual lahiriah, seperti paras wajah, bentuk tubuh, payudara, rambut indah, dan lain-lain. Dan hal tersebut memperlihatkan bagaimana mitos pandangan tersebut telah merusak perempuan dan membuat mereka terobsesi untuk meraih citra ideal tentang kesempurnaan fisik. Bahkan tidak sedikit perempuan yang mau merusak dirinya sendiri karena terperangkap oleh mitos kecantikan tersebut. Sebagai contoh semakin banyak perempuan menderita bulimia dan anoreksia serta meningkatnya popularitas bedah plastik untuk memenuhi standard kecantikan yang tidak masuk akal tersebut.

Saya tercenung sejenak sahabat saat menuliskan artikel ini di depan compie. Seperti biasa saya kurang tertarik dengan pelabelan ini perempuan itu laki-laki. Bukan issue feministnya yang ingin saya bidik. Saya ingin mengajak kita semua melihat fakta ini sebagai masalah kita bersama. Saya tidak menafikan bahwa yang diungkapkan Naomi benar adanya. Cuma, hm...rasanya keinginan untuk menjadi cantik atau tampan, itu alamiah ya. Itu naluri manusia. Perempuan ingin menjadi cantik, laki-laki ingin menjadi tampan demi mendapat perhatian dan pengakuan dalam lingkungan sosialnya. Ini saya kira wajar. Saya kira masalah penampilan fisik tidak melulu masalah perempuan. Saya lihat sekarang laki-laki juga sudah sangat mementingkan penampilan, banyak juga laki-laki juga yang hari-harinya sibuk mengurus penampilan, banyak juga yang menjalani bedah plastik, ada yang bahkan sibuk setiap minggu ke salon untuk facial, creambath, merawat rambut, pedicure-menicure (he, katanya ini jenis laki-laki metroseksual).

Ya, hal diatas masih wajar. Menjadi tidak wajar kalau personnya menjadi harus tersiksa untuk mencapai keinginan tersebut. Dan perempuan dikatakan lebih terobsesi akan nilai-nilai penampilan fisik. Ini karena prosentase kasus mungkin lebih banyak terjadi pada perempuan. Lihatlah kasus bedah plastik yang merenggut korban jiwa, rata-rata adalah perempuan. Atau kasus kerusakan wajah karena salah pemakaian kosemetik pemutih. Dengan kata lain, perempuan lebih dituntut untuk tampil cantik oleh lingkungannya. Tidak semua perempuan bisa jadi terobsesi pada standar yang dibuat oleh lingkungannya. Tidak semua perempuan memiliki posisi yang rentan tersebut. Biasanya hanya terjadi pada perempuan yang tidak memiliki penghasilan sendiri, semata-mata bergantung pada laki-laki (suami atau pacar). Tetapi ada juga perempuan yang memiliki penghasilan sendiri, bahkan bisa menghidupi suami atau pacar justru sangat terobsesi dan akhirnya menjadi korban penyiksaan akan standar nilai cantik tersebut. Yaitu mereka yang dituntut untuk selalu cantik, mereka yang memang modal pekerjaanya adalah kecantikan penampilan, misal artis. Tentu saja tidak semua artis seperti itu.

Harapan Naomi, seperti harapan kita juga, bahwa perempuan dapat mematahkan mitos tersebut karena hakikinya perempuan mempunyai kebebasan untuk memilih tanpa harus khawatir dan ketakutan pada nilai mereka sebagai perempuan. Harapan saya, kita semua, baik laki-laki atau perempuan harus yakin dulu dengan diri kita masing-masing. Bahwa kita adalah mahluk berharga dan berguna bagi lingkungan kita, kehadiran kita diperlukan oleh keluarga kita, lingkungan kita, terlepas dari ukuran apakah menurut orang lain kita cantik atau tampan tersebut. Marilah kita merenung, perlukah kita menjadi cantik atau tampan dengan ukuran yang telah ditetapkan oleh lingkungan kita ? Kitalah yang tau jawabannya. Masalah ini adalah masalah kita semua, baik kita laki-laki atau perempuan, meskipun kita bukan korban atau penganut mitos tersebut. Kita memiliki saudara perempuan, adik-kakak, ibu, istri, pacar (bagi anda yang laki-laki), tante, keponakan, sepupu, atau bahkan teman perempuan, yang mungkin harus kita selamatkan, kita jauhkan dari mithos tersebut. Mari kita renungkan bersama. Saya makan siang dulu ya.

Sunday, June 7, 2009

Nelayan dan keluarganya Di Suatu Hari Yang Mendung dan Menghujan


Suatu sore dengan awan menggelap di langit, nelayan berperahu menjala ikan. Satu dua ekor ikan didapat, ditempatkan dalam ember hitam pekat. Di rumah si nelayan, sang istri dengan 3 bocah kurus sedang menunggu si nelayan pulang dengan setia. Tidak lupa sang ibu dan 3 anaknya itu berdoa agar si nelayan selamat dan membawa pulang ikan. Di meja kayu yang mulai melapuk dan pinggirannya sudah penuh guratan, kangkung rebus dan sambal tiga (disebut sambal tiga karena terbuat dari 3 bahan, cabe, garam dan sedikit terasi) sudah siap.

Langit mendung sudah menggayut, si nelayan hatinya lunglai. Mendung ini pertanda aku harus segera pulang, desisnya. Sekilas ia tatap ember hitamnya, 2 ekor ikan sembilang agak besar, 1 ekor ikan baung sepanjang lengan, 2 genggam ikan seluang, dan 3 ekor udang sungai yang juga agak kecil. Apa boleh buat, menjala ikan tak lagi dapat dijalankan, langit mulai meneteskan rintiknya. Iapun bergegas pulang. Di tengah sungai beberapa tangan melambai meminta tumpangan.

Di tepian sungai saat perahu merapat, seorang laki-laki bertopi dan berkalung akar bahar menemuinya. Ikan sembilang, ikan baung berpindah tangan ke lelaki bertopi itu. Sang nelayan menerima 2 lembar lima ribuan, dan beberapa lembar uang ribuan. Hujan mulai deras, sang nelayan berlari sambil menenteng embernya. Di ember yang ditetesi air hujan itu, masih terdapat 2 genggam ikan seluang dan 3 ekor udang kecil tadi.

Hujan makin menderu. Tiba di rumah sang nelayan disambut sang istri dengan senyuman, 3 bocah berhamburan memeluk si nelayan sambil berteriak " Bapak pulang...!". Istri sang nelayan segera menerima ember berisi seluang dan udang itu sambil berujar pelan, "Alhamdulillah, kita masih beroleh lauk ikan malam ini...". Dan masih bisa membeli 2 kilo beras untuk besok, sekerat sabun mandi, juga setengah liter minyak goreng, ujarnya lagi, yang ini cuma ia ucapkan dalam hati.

Malam itu kebahagiaan kecil nan sederhana tetap terjadi di rumah kecil di tepian anak sungai Musi. Di luar rumah
si nelayan, hujan makin menderu-deru meningkahi gelak tawa mereka. Betapa rasa bahagia yang sederhana ini mudah sekali tercipta pada insan-insan kecil itu, nelayan dan keluarganya ini.


Saturday, June 6, 2009

Sebuah SMS Tiba Pagi Sekali


Hari masih pagi sekali. Matahari belum muncul di ufuk. Belum selesai seorang perempuan melipat mukenanya pagi ini, sebuah pesan singkat, sms tiba ke hpnya. Seperti biasa kedatangan sms itu ditandai oleh bunyi-bunyian dengan nada khas 2 kali. Setelah si perempuan membaca isi sms yang baru tiba itu, wajahnya nampak berubah. Suasana hening seketika.

Perempuan itu terlihat lemas, duduk saja di tepi tempat tidur memandang suaminya yang masih tertidur. Tak lama sang suami terbangun. Lalu terdengar suara gemercik air dari kamar mandi, si suami mengambil air wudhu. Kelelahan, baru tidur 2 jam, membuat si istri tidak tega membangunkannya saat adzan shubuh tadi. Perempuan itu masih duduk di tepi tempat tidur, suaminya nampak tergesa sholat.

Perempuan itu masih akan melanjutkan duduk terdiam di tepi tempat tidur, andai sang suami tidak memintanya membuatkan secangkir teh. Dengan langkah lemah perempuan itu melangkah ke dapur.
"Kamu kenapa...?" tanya sang suami. Perempuan itu cuma menjawab dengan gelengan kepala.

Secangkir teh untuk suami telah tersaji. Begitu pula secangkir kopi untuk dirinya. Perempuan itu menghela nafas panjang. Mulutnya nampak menggumamkan sesuatu. Lalu dengan sigap tangannya menghapus sms yang tiba pagi sekali tadi. Wajah perempuan itu agak memucat. Di luar rumah matahari mulai muncul di langit timur. Sms yang dihapus perempuan itu lalu terbang bersama angin, menguap ke langit pagi, diam dan hening.

Langit pagi tersenyum kelu menyambut sms yang dihapus tadi. Beginilah isinya, seandainya kita sempat membacanya, "Inanalillahi wa'innailahi roji'un. Win, Salmanmu mengalami kecelakaan kemarin lusa di Abu Dhabi tempatnya bekerja. Nyawanya tidak dapat diselamatkan, kemarin sore meninggal dunia". Pengirim sms Roni, sahabat karib perempuan itu dulu. Sedangkan Salman adalah mantan kekasih yang sudah melamar perempuan itu. Entah kenapa mereka tidak jadi menikah dan perempuan itu menikah dengan laki-laki yang kini menjadi suaminya ini. Kabar terakhir yang didengar perempuan itu, Salman bekerja di Abu Dhabi. Dan sampai akhir hayatnya Salman tidak pernah menikah dengan siapapun. Mungkin inilah yang membuat perempuan itu terdiam lemas cukup lama saat sms itu tiba pagi sekali tadi. Kini pagi sudah menjelang. Perempuan itu minum kopinya pelan-pelan. Cerita ini semata-mata hanya rekaan.

Thursday, June 4, 2009

Kembang Jambu Jatuh Ke Tanah..........



Kembang jambu jatuh ke tanah..........
Yai sedang merokok nipah di sudut garang rumah panggung tua.
Nyai sedang terbungkuk menanam padi di sawah.
Seorang anak kecil yang sedang liburan sekolah memperhatikan kembang jambu jatuh ke tanah.

Kembang jambu jatuh ke tanah..........
Yai tetap merokok di garang sambil menyesali penyakitnya, tatapannya tak lari dari nyai yang sedang di sawah.
Nyai masih membungkuk di sawah, sambil teringat ia harus cepat pulang untuk memasak di rumah.
Si anak kecil sudah naik ke garang meminta sang Yai bercerita tentang kisah si Pahit Lidah.

Kembang jambu jatuh ke tanah..........
Yai terperangah saat melihat betapa cantiknya nyai menunju rumah dengan helaian sari kembang jambu jatuh menimpa wajah bulatnya.
Nyai tersenyum pada yai, senyumnya indah dan ikhlas membuat yai menangis lagi di dalam dada.
Si anak kecil tertawa lepas, tawa lugu memandang yai dan nyainya saling tersenyum.

Kembang jambu jatuh ke tanah..........
Yai melepaskan rokoknya demi mendengarkan panggilan nyai, makan siang sudah tiba.
Nyai sudah menanti di dalam rumah dengan hidangan yang sudah siap tergelar di tikar pandan.
Si anak kecil kembali dengan ceria lugunya lebih dulu menyendok nasi ke pinggan.

Kembang jambu jatuh ke tanah..........
Yai, nyai dan si anak kecil makan siang dengan lahapnya, sementara paman dan bibi sedang asyik bekerja dan bersekolah di kota. Kisah ini tak hapus di benak sang anak kecil sampai saat ini, saat kembang jambu itu masih terus jatuh ke tanah. Ingatan kepada betapa Yai dan nyai saling mencinta, saling menghormati dan saling berkorban begitu kuat. Air matanya menetes dan kembang jambu itu juga mengiringi dengan jatuh ke tanah...........


Sedikit keterangan :
  • Yai, Kakek, dalam bahasa beberapa daerah di Sumatera Selatan
  • Nyai, Nenek dalam bahasa beberapa daerah di Sumatera Selatan
  • Garang, Sebutan untuk beranda rumah panggung di Sumatera Selatan
  • Si Pahit Lidah, Legenda masyarakat Sumatera Selatan, lebih lengkap klik disini
  • Gambar, diambil dari www.bloggaul.com

Wednesday, June 3, 2009

Renungan Sore Soal Kasus Prita Mulyasari

Sore yang cukup indah sambil minum kopi. Ya ini dua sore berleha-leha menghilangkan penat sepulang kerja sejak kemarin, dengan menonton berita televisi. Kesempatan yang agak jarang bisa saya nikmati, hehe. Dan dua sore ini cukup membuat saya merenung sambil mengernyitkan dahi. Kemarin soal jilbab loro, hari ini tentang kasus Prita Mulyasari. Mau Tau cerita lengkapnya klik saja disini .

Sejak kapan masyarakat sebagai konsumen tidak boleh curhat, mengeluarkan keluhannya ?. Padahal bu Prita cuma menuliskan uneg-uneg dari kejadian yang dia alami di surat pembaca di suatu situs, ya berupa surat elektronik. Sambil saya ngopi ini, saya merenung sendiri, apa sebabnya sehingga sampai berujung penahanan? Ya, saya kira salah satunya adalah karena tidak semua pihak rela dibeberkan kesalahannya, dikritik. Padahal kritik itu katanya sarana untuk memperbaiki kondisi agar di kemudian hari menjadi lebih baik. Seperti pesan bu Prita sendiri di surat elektroniknya itu, agar masyarakat lain tidak mengalami apa hal yang telah ia alami. Kalau pihak yang diritik itu pihak berduit, pihak yang memiliki power, dengan mudahnya ia menggunakan kekuasaannya untuk memberangus kritik. Mungkin inilah hal yang telah dialami bu Prita.

Saya berpikir lagi, Mungkinkah Undang-undang ITE itu tidak tepat kalau ditujukan kepada bu Prita ? Sebab bu Prita dalam kerangka menuntut keadilan akan haknya sebagai konsumen berupa curhat di surat pembaca, juga dalam rangka koreksi kepada pihak RS tersebut agar masyarakat lain tidak mengalami hal serupa. Bukan sekedar fitnah tidak berdasar. Belajar dari kejadian ini, tidak ada salahnya kita sama-sama merenung, mungkin lain kali curhat seperti ini dilakukan secara langsung saja, misal secara kekeluargaan, dengan bahasa yang bijak dan arif. Bila masih tidak diindahkan bisa dilakukan pengaduan lewat YLKI, atau menuntut secara hukum pihak RS.

Kata tv tadi bu Pritha dibebaskan dari status tahanannnya menjadi tahanan kota. Ini, salah satunya adalah berkat dukungan dari berbagai kalangan yang begitu besar kepada bu Prita. Mudah-mudahan kasus ini bisa diselesaikan dengan baik. Pasti ada hikmah yang bisa kita petik dari kasus ini. Demikian renungan sore saya. Anda pasti punya pendapat sendiri soal kasus ini, mari kita renungkan bersama.



Tuesday, June 2, 2009

Renungan Singkat Tentang Jilbab Loro

Agak tersentak saya, ketika tadi sore nonton tv yang selintas mengulas soal "Jilbab Loro". Beberapa tv antusias memberitakan Jilbab Loro itu. Anda nonton tidak ? Kalau nonton alhamdulillah, bisa langsung klik dengan judul postingan saya ini. Bila tidak, ini sedikit penjelasan saya. Ya Jilbab Loro ini merk dagang, brand image yang diciptakan para pedagang di pasar Tanah Abang untuk jualan mereka, ya jilbab (tau kan ?). Kenapa loro, ya karena ikon mereka memang dua perempuan berjilbab, Ibu Mufidah dan ibu Uga, para nyonya dari pasangan capres-cawapres JK-Win itu.

Para pedagang, namanya juga orang jualan ya, memang harus jeli menangkap peluang pasar. Itu pula komentar dikemukakan para Jilbab Loro tadi ketika mereka ke pasar Tanah Abang dan bertemu dengan para pedagang disana yang meminta izin mereka untuk menggunakan nama mereka berdua, Mufidah-Uga. Kedua Ibu-ibu itu dengan antusias pula, menyambut positif gebrakan dagang para pedagang pasar Tanah Abang. Yah, ikon memang dibutuhkan untuk mendongkrak penjualan suatu produk. Jauh sebelumnya di pasaran produk jilbab/kerudung ini pernah beredar merek, kerudung Benazir, kerudung mbak Tutut, jilbab Zaskia, dan lain-lain. Inilah yang menjadi perhatian saya, bukan yang lain-lain.

Jilbab Loro, mudah-mudahan merek itu membawa hikmah bagi pedagang. Bila si Jilbab Loro ini juga bisa mendongkrak ketenaran kedua perempuan itu, dan sampai kepada tujuan mulia mereka untuk mendukung para suami, saya kira ini keinginan yang wajar saja. Jilbab Loro diidentikkan dengan kedua perempuan itu. Inilah simbiosis mutualisma antara para pedagang dengan kedua perempuan tadi. Apakah para pemilih nanti akan memilih karena hal ini, saya kira ini pikiran lain. Bagi saya yang rasional adalah melihat kapasitas capres-dan cawapres itu, bukan pasangan hidupnya, bagi saya lho. Kalau anda punya pendapat lain, silahkan saja. Cuma, saya kira kita memilih berdasarkan pertimbangan yang rasional, bukan karena pertimbangan di luar itu. Bila ini dijadikan strategi kampanye, lucu juga ya. Tapi sah-sah sajalah, atau sutralah, hehe. Kadang ada banyak hal yang membuat saya senyum-senyum sendiri di negeri tercinta ini. Inilah sedikit renungan saya, silahkan bila anda juga punya pendapat sendiri. Saya cuma mohon kita mengeluarkan pendapat tanpa menyinggung SARA. Selamat malam sahabat.


Sarapan Pagi dan Award Ala Palembang






Selamat pagi semua. Anda sudah minum kopi, teh atau susu pagi ini ? Kalau belum ayo bikin dulu. Minuman pagi akan menyegarkan kita, memberi kita energi dan semangat untuk mengawali hari. Tapi minum kopi atau teh saja tanpa ada teman si kopi atau teh itu, ah tidak asyik. Kalau saya bilang, he itu namanya kopi atau teh nekat. Jelas tidak asyik, malah bisa menimbulkan maagh bila minum kopi atau teh saja tanpa ada penganan pengantar pada saat perut masih kosong. Jadi, ayo kita cari makanan sarapan pagi buat teman si kopi atau si teh kita tadi.

Nah kali ini saya, karena tinggal di Palembang, teman ngupi saya adalah tekwan (sudah pernah saya bilang kan, sejenis sup bakso ikan khas Palembang). Dan he, ini tekwan kemaren sore (disimpan di kulkas) yang sudah saya hangatkan lagi. Rasanya,hm....masih sedap, masih maknyus. Mau coba, silahkan. Kalau anda tidak mau sarapan tekwan, silahkan saya ada pilihan kuliner lain seperti gambar di atas. Ada Srikaya Ketan, ada rujak mie, dan ada pempek lenggang. Ayo dicicipi.

Supaya sarapan pagi kita tambah maknyus, kesempatan ini saya gunakan untuk bagi-bagi award bikinan saya sendiri (foto dijepret oleh teman kantor saya). Cuma anda harus maklum, award bikinan orang gaptek itu, mungkin jauh dari sempurna. Tapi kalau tidak saya coba, kapan saya bisa. Meski hasilnya masih acak-acakan, hehe, saya bangga dengan award bikinan sendiri ini.

Award bergambar Jembatan Ampera di malam hari (moment saat tahun baru) itu saya persembahkan untuk beberapa sahabat yang setia memberi saya semangat, sebagian sangat setia melempari saya award terus dan terus. Sahabat-sahabat tersebut adalah :
  1. Fanda yang selalu mendukung saya dengan tidak bosan-bosannya mensupport dan memberi saya award.
  2. mbak Reni, ibu yang baik hati ini, juga sering mengirimi saya award setiap kali dia dianugrahi sahabat lain award.
  3. Seti@wan Dirgant@Ra, teman ngupi di pagi hari
  4. Yudie, si unforgetable yang humoris dan baik hati.
  5. Eden.apesman, si perempuan feminist sahabat saya
  6. Ahmad flamboyant, si penyair dari semarang
  7. Boykesn, yang sering menginspirasi dengan musik khasnya yang indah
  8. JengSri, teman ngupi sambil ngocol di malam hari
  9. Buwel, sahabat yang akhir-akhir ini sering berpantun.
  10. TRIMATRA, sahabat blogger yang tips dan tricknya jitu banget
Ini award murni tanpa embel-embel pe-er, hanya mohon anda pajang di blog anda jadi saya bisa melihatnya dengan bangga. Demikian sobat, kita sarapan pagi lagi yuk.

Monday, June 1, 2009

Pada Malam Bertabur Bintang Itu..........


Pada malam bertabur bintang itu..........
Sulastri tak dapat memicingkan mata barang sedetikpun, Slamet sang suami belum juga pulang.

Pada malam bertabur bintang itu..........
Slamet tak dapat melepaskan diri dari intrograsi pak Polisi di polsek x karena wajahnya mirip seseorang.

Pada malam bertabur bintang itu..........
Seseorang bernama Sugandi yang wajahnya mirip Slamet sedang asyik menenggak botol minuman dengan gambar topi miring sambil memeluk Eva sang biduan OT cafe itu.

Pada malam bertabur bintang itu..........
Budiman anak si Eva biduan sedang menangis karena demam menghebat di pelukan sang nenek.

Pada malam bertabur bintang itu..........
Seseorang sedang memikirkan dirinya sendiri, lalu tertunduk lemah menangisi keegoisannya. Gerangan apakah yang lebih fatal dan tragis pada insan selain hal yang seperti ini ? Untunglah dia segera menyadarinya.

Menelusuri Rempah/ Bumbu Pada Kuliner Sumatera Selatan

Sumber Foto : faktualnews.com Jika rempah-rempah adalah daya tarik atau pemikat datangnya Portugis dan Belanda ke Indonesia pada zama...