Search This Blog

Friday, April 29, 2011

Kehidupan Di Atas Kematian

Angin sedang berhembus ketika sore tadi tiba dan ia melintas disana. Tak terhindarkan, pikiran ini muncul kembali. Pikiran lama yang memenuhi ruang-ruang di kepala. Pikiran tentang sebuah Taman yang teduh. Taman dimana dua sisi kehidupan terlihat nyata. Taman Pemakaman Umum. TPU dekat rumahnya. He, kau tak akan merasakan auranya sebelum melihatnya langsung. Aura dimana kehidupan mengalir di atas kematian, menyatu dengan nyata.

Sunday, April 24, 2011

Sketsa Sisa Hujan



Hujan tak berbekas kemarin dan tadi. Kau, entah dimana. Mungkin sedang menatap sisa-sisa hujan juga di tempatmu. Entahlah. Maka kukais sisa hujan ini. Bukan mengais rintiknya tapi melihatnya pada sepot suplir pemberianmu dulu yang tiba-tiba munculkan tunas barunya. Kau tau, telah berapa lama ia menutup diri dan meranggas karena kemarau ? He, aku tak yakin kau tau. Tapi sudahlah. Kusketsakan saja sepot suplir itu. Biar kau tau rupa sepot suplirmu itu dalam sketsanya. Adakah kau masih bisa mengenalinya ? Kabari aku jawabanmu. Salam.

Thursday, April 21, 2011

Ratu Sinuhun, Perempuan Pejuang Penghasil "Simboer Tjahaya"

Angin berhembus sibakkan rambut Ratu Sinuhun. Bukan untuk perlihatkan gemulai sibakkan rambutnya, tapi untuk beri ia semangat. Semangat untuk berjuang bagi kemaslahatan semestanya. Di buminya berpijak, Ratu Sinuhun berpikir jauh ke depan. Ia berjuang tak kenal lelah agar masyarakatnya hidup dalam sebuah tatanan yang teratur dan tertib. Maka perjuangannya menghasilkan "Simboer Tjahaya".

Ya, Ratu Sinuhun, istri Raja Palembang ketika itu membuat sebuah Sebuah kitab berisikan hukum adat yang dipakai di Sumatera Selatan. Kitab "Simboer Tjahaya" yang hingga beberapa dasawarsa sangat efektif mengatur sendi-sendi kehidupan masyarakat di Sumatera Selatan. Perjuangan yang sangat holistik dan nyata. Buat saya, perjuangan Ratu Sinuhun sangat heroik dan mengagumkan. Sangat wajar bila beliau diusulkan sebagai Pahlawan Nasional.

Ratu Sinuhun, seorang Kartini yang terlupakan. Meski begitu, buat saya perjuangannya sangat mengagumkan dan dahsyat. Selamat Hari Kartini. Semoga Perempuan Indonesia dapat berkarya leluasa demi kemaslahatan dunia di sekitarnya. Salam.

Sunday, April 17, 2011

Malam Pembunuhanku


aku mencari kata
suara-suara
nada-nada
warna-warna

tak ada apa-apa
tak sesiapa
hanya suara
di kepalaku

bukan aku tapi Kau
Kau yang ada di kepalaku
setelah kubunuh'Aku"ku
maka suaraMu bisa kudengar

(betapa aku tak berkutik dan menyerah pada pembunuhan ini)

Sajak Kabut




Aku temukan seonggok kabut lepas

Tipis, kelabukan mata saat ia di hadapanku

Tak miliki bentuk yang jelas

Tak tertangkap di jemariku



Membias dan menghilang

Tak terjamah hanya terasa

Terpandangi saat ia melintas pulang

Lalu tiada, binasa



Kabut yang sirna

Lalu ada selapis tipis kelabu entah dimana

Rasanya di dada

Mengisi ruangnya sambil ia tertawa



Gambar diambil dari sini

Saturday, April 16, 2011

Menatap Rupa Kotaku


Menatap Rupa kota pada ruang-ruangnya. He, baru tersadar bahwa meski ada di dalamnya kita tak punya banyak kesempatan untuk menatap kota tempat kita tinggal begitu rupa. Maka pada dua malam lalu kutatap kotaku. Ruang-ruang berkilau terpampang. Udara segar juga sendu. Langit yang seperti memagil-mangggil.

Kotaku pada malam yang bercahaya. Seperti apakah ia ? Entahlah. Sinarnya seperti senyuman indah. Perjalanan mulai dari rumah. Bertemu seorang teman sebagaimana janji. Mampir ke Tempat pembelian oleh-oleh Pempek "Saga" Palembang. Lalu ke Resto Musi River Side menjamu tamu. Disana, terpampang view yang lumayan indah. Jembatan ampera yang berkilau ditimpa cahaya.

Rupa yang sulit dilukiskan. Datang, datanglah ke kotaku. Kau akan temukan hentakan geliatnya ketika siang. Aneka kuliner khas akan menyambutmu. Aneka jenis pempek, tekwan, model, laksan, celimpungan, mie celor dan lain-lain. Tentu saja, juga aneka jenis kain tenun khas seperti kain songket, kain jumputan dan pelangi. Ketika malam tiba, kau akan temukan rupanya yang bercahaya. Salam.

Tuesday, April 12, 2011

Kebebasan Menulis dan Membaca


Menulis dan membaca adalah kebutuhan. Seperti halnya aktivitas lain, ia akan menarik bila dilakukan dengan jiwa yang bebas. Sebab kebebasan adalah hal yang paling indah dan paling utama. Ketika menulis dan membaca, mari bebaskan diri kita dari tekanan. Bebaskan diri kita dari himpitan. Bebaskan diri kita dari apapun yang membuat kita tidak nyaman.

Menulis dan membaca seyogyanya dilakukan dengan sense yang murni. Menulis karena memang ingin menulis. Tulislah sesuatu yang memang ingin dituliskan. Menulislah dengn cara kita masing-masing. Begitupun dengan "Membaca". Bacalah apapun, bahkan semesta ini, dengan cara kita masing-masing. Bacalah sesuatu karena kita memang ingin membacanya. Jangan membaca sesuatu yang tidak disukai. Jangan membaca karena terpaksa.

Menulis dan membaca yang dilakukan dengan kebebasan, hasilnya pasti menyenangkan. Bukankah jiwa yang bebas adalah hal utama yang dibutuhkan untuk mendapatkan sense yang murni, Maka kebebasan menulis dan membaca adalah kekebasan yang layak dicoba. Maka, coba saja. Salam.

Monday, April 11, 2011

Secangkir Kopi Pemantik Rasa



Sebuah pagi hambar rasanya tanpa secangkir kopi. Sebuah rasa menjadi tidak jelas rupa dan bentuknya tanpa secangkir kopi. Maka bila segalanya menadi begitu, tidak bisa tidak, kujemput rasaku dengan secangkir kopi. Ya ya ya, ini secangkir kopi pemantik rasa

He, pagi ini ia diseduh di tempat kerja. Tidak bisa kopi kampung, hanya kopi sachet yang siap seduh. Apa boleh buat, berdamai dengan apa yang ada. Sesekali, tidak mengapa. Mari ngopi dulu. Sebab secangkir kopi akan buat hari lebih ber'Rasa".

Wednesday, April 6, 2011

Matilah Kau !

Matilah kau !. Bukan kau si Fulan dan si Budi atau si Wati dan si Dewi. Tapi kau...., ya kau. Kau yang terperosok pada lubang yang tak kau kira. Kau yang sering tak mengerti arti dahaga si kelana. Kau yang sering menangis pada malam mencari kejora dan Kunang-kunang.

Kau..., ya kau. Kau yang tak mengerti kelembutan rasa orang lain. Kau yang memaksakan orang lain mengukur baju dengan ukuranmu. Kau yang bersembuyi dalam ceruk hitam bernama "Aku". Matilah (jiwa) kau. Hanya dengan mati jiwamu maka akan tumbuh kau yang baru. Kau yang bisa memahami bahwa dunia ini luas, tak seperti isi kepalamu.

Ah, siapakah yag tidak memiliki "Aku"...!? Semua insan miliki "Aku"nya masing-masing. Maka berhati-hatilah kita.

Monday, April 4, 2011

Secangkir Kopi dan Endorsement

Pagi pecah, dia menggeliat dan sedikit terperangah. Pagipun tumpah ruah, serupa deru biskota tua. Buatnya, ini entah hitungan hari ke berapa menujuNya. Maka tersadarlah ia, haripun perlu digeluti seperti penari salsa dan bukan diajak berkelahi seperti dulu. Sebab telah usai masanya berkelahi dengan hari. Ia hanya ingin menari bersama hari.

Secangkir kopi ia buat setibanya di tempat kerja. Tak ada setangkup roti, apalagi sepiring goreng ubi. He, malah ia harus membuat sebuah endorsement. Sebuah halaman bagi para komentator bukunya. Begitulah informasi yang ia terima. Ya ya ya, baiklah. Pagi ini, diantara kesibukan kerja, secangkir kopi ini akan berpacu dengan sehalaman endorsement yang sedang ia cari. Semoga perburuannya berhasil. Salam.

Friday, April 1, 2011

Ilalang, Kukuh Tak Bertepi


Seperti apakah rasanya selera atau taste yang sudah terbentuk begitu kuat, mengakar begitu dalam ? He, saya tidak menemukan padanan kata yang tepat. Saya sebut saja itu sebagai selera yang kuat, kukuh tak bertepi. Maka begitulah rasanya taste yang ada di kepala saya. Mungkin terlalu kuat mengakar pada pakem yang membentuknya.

Secangkir kopi yang enak buat saya, ya kopi kampung asli. Syukur-syukur kalau bisa mendapatkan kopi luwak. Tidak terlalu manis, tidak begitu kental. Ia harus diseduh dengan air yang sedang mendidoh, bukan air termos. Cangkir yang digunakan untuk menyeduhnya harus diuapkan dulu pada ujung mulut ketel yang mencicit, hehe.

Saat membaca fiksi atau apa saja, kalau kebetulan saya membuka link yang disodorkan orang, biasanya saya akan langsung berhenti bila menemukan kalimat, "Dia/perempuan itu berdiri dengan anggunnya,,..." atau "Semilir angin......". Untunglah saya jarang membaca, kecuali dulu saat masa remaja. Pstttt, buku yang sampai tamat saya baca pada era sekarang cuma novel "Saman" dan "Larung" karya Ayu Utami, entah kenapa saya suka kedua buku itu.

Kenapa saya jarang membaca tapi gemar menulis...? Jawabannya, karena saya tidak punya banyak waktu untuk membaca. Kenapa punya waktu untuk menulis, karena menulis adalah sebuah kebutuhan. Kebutuhan untuk mengungkapkan pengembaraan di jiwa. Kebutuhan untuk mengolah sesuatu yang bergolak di kepala agar tak menjadi bisul.


Begitulah pengakuan Ilalang pada saya, baru saja. Ilalang, ah kukuh tak bertepi. Seleranya memang aneh. Ya ya ya, seaneh apapun, setiap orang pasti punya "Taste"nya sendiri. Itu sesuatu yang nyata dan menjadi hak siapa saja. Selamat datang April. Selamat berakhir pekan buat semua. Salam.

5 Cara Maksimalkan Diri Ketika #DiRumahAja Saat Pandemi Covid-19

Beginilah situasi saat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang harus membatasi pergerakan guna...