Search This Blog

Tuesday, March 29, 2011

Cinta Dandelion



Dandelion menanti anginnya.

Bukan seperti budak tapi seperti kekasih yang mencinta

Dandelion tak jemu menunggu seperti dia menunggumu

Bukan untuk keindahan sebuah janji tapi demi kata setia

Pesan Di Pagi Buta

Dia berdiri disana. Sebuah saat yang jauh dari waktunya menjelaga. Angin berhembus seperti bisikkan segala sedu sedannya, entah kenapa terdengar indah. Kembang sepatu merah tua melambai manis meski warnanya masih samar sebab tertimpa kabut. Terbang, terbanglah rasa sebab buihnya tak lagi hadirkan gelombang indah di pantai kita. Ia mendesis tak jelas. Maka sebuah pesan ia tibakan kepada seseorang. Isinya, "Sudahlah. Bukankah diantara kita tetap harus saling mengingat dengan indah. Kita pisah". Pesan diterima menembus samudera. Lalu seseorang membaca pesan itu sambil tergagap. Saat itu tepat pukul 05.45 pagi. Ketel air sedang mencicit. Tepat waktu dimana betinanya biasa meyeduh secangkir kopinya.

Friday, March 25, 2011

Pemberontakan Sang Pemberontak


Pemberontakan sang pemberontak, tiba-tiba saja kata-kata itu memenuhi benak saya. Tepat ketika malam menelan sinar terakhir senja. Apakah salah manusia memberontak ? Jawabannya, bisa ya dan tidak. Tergantung pada hal apa pemberontakan itu dilakuan. Lalu sayapun tiba pada sebuah pertanyaan lagi, kepada apakah manusia layak memberontak...... ?

Wednesday, March 23, 2011

Di Taman Ini, Dua Jam Lagi


Di taman ini, menantimu cukup membuatku tak seperti sedang menunggu. Sebab hawa sejuk penuhi sekelilingku. Sebab melati dan kemuning hembuskan wanginya padaku. Sebab hamparan rumput hijau bak beledu berpadu serasi dengan beberapa bangku kayu yang terlihat rapi. Sebab para-para bunga ungu, entah jenis apa, merambat di gazebo, juga pepohonan membuatku teduh.

Sunday, March 20, 2011

Imaji Liar dan menggila, Tangkap Saja


Kemana kau saat imaji sedang tiba ? Tak perduli kau sedang dimana, sedang apa, sama siapa hiy, (seperti lirik lagu, entah lagu apa), sebelum ia menggelinding pergi, tangkap segera. Ya tangkap saja. Bila tidak, kau akan menyesal. Sebab imaji (yang sama) tidak datang dua kali. Imaji tidak datang pada sembarang orang, Hanya pada orang-orang yang dia pilih.

Jangan takut dengan imaji. Seliar apapun dia, tangkap saja. Segila apapun dia, tangkap saja. Siapkan secangkir teh atau kopi. Bila perlu mandi dulu dengan aroma theraphy supaya ia terpancing untuk datang. Bila ia sudah memilihmu menjadi tempat untuk ia datangi, ia akan selalu datang padamu kapan saja.

Setelahnya, jangan heran. Ia akan tiba hingga kau kewalahan. Mungkin saat kau sedang akan tidur. Mungkin saat kau sedang di toilet. Saat sedang di ruang tunggu pesawat. Saat sedang di angkot atau bus transjakarta. Saat sedang memandang hujan atau memandang daun-daun yang berguguran.

Ya berkawanlah dengan imaji sebab dia jadikan hidup lebih berwarna. Membuatmu takjub. membuat hidup jadi lebih hidup. Kau yang membutuhkan dia mengalir dengan lancar, pasti akan selalu menginginkannya. Maka bila dia telah tiba, seliar dan segila apapun dia, jangan ragu, tangkap saja.


NB: Tulisan ini lebih ditujukan untuk mereka yang gemar menulis, mereka yang menginginkan imajinya selalu mengalir.

Thursday, March 17, 2011

Serupa Deru Yang Mendebu



Serupa titik-tibik yang membeku

Serupa derai rinai hujan yang membiru

Serupa liukkan illang yang menari pilu

Serupa desah deru yang mendebu


Kau, sesuatu yang mendebu setelah menderu pada malam biru. Tak lebih dan tak kurang, hanya deru malam yang serupa debu. Setelahnya hanya kabut yang melukis langit dan sebagian menjadi embun pada daun-daun bambu. Sebagaimana desah sepotong malam birumu.


Tuesday, March 15, 2011

Nisan Hitam Ilalang

Saat daun-daun jatuh ke bumi di sebuah tempat sunyi. Tak ada burung gagak. Tak ada kamboja tapi kemuning. Tak ada sesiapa kecuali nisan, nisan hitam. Tidak memanjang bentuknya, tapi melebar rebah ke tanah di bagian sisi kepala jasad. Sebuah Taman Pemakaman. Dia tenang disana bersama nisannya. Sedang kau, entah dimana kau saat itu.

Setelah mewasiatkan nisan, diapun mewasiatkan warisan. Semua benda miliknya telah diwasiatkan untuk dibagikan. Ya, semua miliknya sudah diwariskan jauh sebelumnya kepada siapa yang membutuhkannya. Permohonan maaf kepada kerabat telah dilakukan. Kau, entah dimana kau saat itu ?

Maka adakah kau paham kenapa dia ingin menerbitkan pesannya ? Adakah kau paham kenapa dia terus menulis ? Adakah kau paham kenapa dia menyiapkan segala sesuatunya ? Sebab....., sebab bila masa itu tiba, dia tidak lagi mengingat masanya di dunia dengan penyesalan. Bukankah segala sesuatunya teah diselesaikan dengan damai.

Kau, diamanapun dirimu berada saat itu, tetaplah berhembus kepada segala yang ingin meringankan dirinya. Sebagaimana kau menghembuskan dirimu padanya hingga ia tersenyum dan melambai pada dunia.

(Pesan Ilalang kepada Angin Selatan)

Friday, March 11, 2011

Gerobak Buruk, Sapi Gila


Seseorang sedang terpekur menatap berita televisi. Tubuhnya lelah, pikirannya sedang penuh. Entah berita apa saja yang telah ia saksikan hingga dahinya berkerut dan senyumnya yang tadi ada mendadak lenyap dari wajahnya. Mungkin berita seputar kehebohan dan keruwetan The Age dan Wikileaks Mungkin tentang berita Tsuami di Jepang. Maka tiba-tiba saja ia ia merasa dunia ia telah begitu kacau dan tua, lalu teringat sebuah pemeo lama di kampungnya. Gerobak Buruk, Sapi Gila.

Maaf bila anda asing dengan istilah itu. Sebab dia belum menemukan padanan kata yang pas. Agak malas memikirkan padanan katanya. Begitulah ia mendesis sambil menghirup secangkir kopinya, masih dengan dahi berkerut. Ya ya ya. Mungkin maknanya sama dengan sebuah situasi yang ditunjukkan oleh sebuah gerobak buruk ditarik oleh sapi gila. Bayangkanlah bila sebuah gerobak buruk ditarik oleh sapi gila...!? bagaimana jalannya gerobak itu...?

Sebab apakah dia mendadak memikirkan pemeo lamanya, Gerobak Buruk (butut), Sapi Gila itu..? Entahlah. Ia tak menjawab. Menurut anda, apa yang dipikirkannya ? Kira-kira berita apa saja lagi yang telah ia saksikan di televisi tadi hingga ia berpikir seperti itu?

Ya, bisa banyak kemungkinan. Dan bisa pula cuma pikiran alam bawah sadarnya saja, bahwa tubuh yang lelah dan pikiran yang penuh itu perlu beristirahat (jika tidak akan fatal, seperti halnya gerobak buruk, sapi gila). Sebab akhir pekan telah tiba. Mari beristirahat dan menikmati hari dengan tersenyum. Singkirkan kesumpekkan. Salam.

Wednesday, March 9, 2011

"Wani Piro", Sebuah Parodi Miris

Hari yang masih pagi. Ia menghela nafas sambil menghirup secangkir kopi. Wangi kopi pun seperti berlomba menarik perhatiannya dengan tayangan televisi yang tengah ia nikmati. He, sensasi pagi yang biasa. Meski biasa ia merasakan sebuah parodi yang membuatnya miris sekaligus tertawa terbahak-bahak. Apakah itu...?

Friday, March 4, 2011

Kau, SenyumYang Merupa Gelora Ini Pagi



Wajahmu sumringah, matahari tertawa
Kau menyungging senyum, angin menghembus hawa sejuk
Kau menengadah, daun-daun jatuh ke tanah sambil berkata"fana"
Kau semburatkan cahaya indah di sinar matamu, pagi menyambut dan biaskan gelora sejuk meski mendung.

Kau, senyum yang merupa gelora ini pagi
.

Wednesday, March 2, 2011

Selamat Datang Marchie



Marchie tiba lagi, sudah dua hari. Tak bisa berlari, tak bisa dipungkiri. Meski ia kutepiskan sambil tersenyum tipis, tetap saja ia merona manis. Ah, marchie. Ia bak gadis cantik. Menggugah rasa. Menawan jiwa dengan seloka ketika pagi meng"elegi". Selamat datang Marchie. Biarpun dunia tempatku berpijak terus meronta dan meradang dengan kasus century, atau pecahnya koalisi, tetap saja kau tiba dengan tersenyum manis.

Semoga tibamu mendatangkan gelegar rasa yang membuat jiwa-jiwa di banyak penjuru menjadi tersenyum manis. Seindah senyum Marchie, gadis manis yang merupa pada bulan ini. Salam.

Kepada Blogger Pencuri Resep, Blog Resep Enak Nusantara Dan Lain Sebagainya

Kelakuan lama ya, copy paste punya orang, tulisan lalu ditulis ulang dan diterbitkan di blognya tanpa menyebutkan  sumber. Ya setua hasrat ...