Search This Blog

Monday, November 30, 2009

Seperti Apa Rasanya Terbebas dari Hawa Nafsu... ?

Jokpin (Joko Pinurbo) mengilhami saya membuat judul tulisan ini (dari puisinya Seperti Apa Terbebas dari Dendam Derita). Sebuah ide yang sudah lama menganga di benak, tapi belum menemukan bentuk untuk dituangkan. Tiba-tiba saja, malam ini ia seperti mendapat jalan untuk dialirkan. Maka mari kita awali dengan sebuah pertanyaan "Seperti Apa Rasanya Terbebas Dari Hawa Nafsu ?"

Mari Mulai Lagi


Ya mari mulai lagi. Setelah libur 3 hari, ini hari secangkir kopi terasa nikmat sekali. Mari terburu-buru lagi. Terbangun oleh alarm HP sepuluh menit sebelum terdengar adzan shubuh. Menggeliat sejenak lalu ke kamar mandi, membasuh muka dan seterusnya. Melakukan sedikit kegiatan domestik yang sangat penting, membuat sarapan, menyeduh secangkir kopi, secangkir teh, dan seterusnya. Setelahnya mandi plus lain-lain hingga siap berangkat ke tempat kerja. Mari mulai lagi pengembaraan hari. Sebagaimana hari biasanya, hari ini milik kita kawan. Begitulah bisikan si Angin Selatan, seperti biasa. Ya, semoga hari ini membawa kesuksesan dan kebarokahan bagi kita semua.

Friday, November 27, 2009

Semesta Berkurban Untuk Kita



Mendung yang melingkupi sejak shubuh menjelang, menyejukkan suasana. Tapak dara yang menyambut pagi dengan senyum ungunya yang indah. Kecipak air di kamar mandi saat muka dibasuh dengan kesejukan sebuah do'a. Maka lengkaplah kesempurnaan kesejukkan hari ini. Ya, hari ini sebagaimana setiap hari yang lain, semesta berkurban untuk kita. Idul Adha menjelang kawan.

Saya, seperti biasa, agak segan mengurai sesuatu secara panjang lebar dengan demi menuangkan sebuah peristiwa. Ikhwal Idul Adha bukankah dengan mudah bisa kita selancari (googling atau wikiing saja). Biarkanlah kita saling merangkai makna sepenangkapan kita secara terbatas ini. Maka Idul Adha bagi saya spiritnya adalah bagaimana kita berkurban bagi orang-orang di sekitar kita, bagi lingkungan kita, bagi alam semesta ini sebagaimana jejak sang Nabi (Ibrahim AS). Sebagaimana semestapun telah berkurban, menyerahkan semua yang indah dan membahagiakan untuk kita nikmati.

Selamat Idul Adha 1430 H. Maaf lahir dan bathin. Semoga setiap detik nyang kita rangkai mendatangkan kesuksesan dan kebarokahan bagi dunia. Dengan begitu pengurbanan semesta untuk kita tidak sia-sia.

Wednesday, November 25, 2009

Little House On The Prairie, Spirit Sebuah Harapan


Sudah lama sekali harapan itu terbentuk. Saya ingat-ingat lagi, ya memang sudah lama sekali. Sejak zaman saya masih bocah, kira-kira berusia sama dengan tokoh Laura Inggals dalam film tersebut. Sebuah harapan ingin mendiami rumah mungil nan tenang di padang rumput. Rumah mungil dengan situasi yang digambarkan dalam serial Little House on The Prairie (Mudah-mudahan ada yang masih ingat film serial ini ya).

Ternyata sudah selama itu harapan tersebut saya pendam. Saat tadi ingatan saya kembali ke belakang tentang penyebabnya. Rasanya....tidak ada. Semuanya mengalir begitu saja. Harapan itu tumbuh tanpa saya sadari sejak saya masih bocah kecil dengan mata bening dan berambut ekor kuda yang senang berlari-lari menyongsong jam tayang serial itu. Seperti harapan sang Laura Inggals (gadis kecil tokoh utama film tersebut) yang ingin menjadi tumbuh dengan semangat keberanian dan kemurnian yang kuat. Seperti itulah harapan itu tumbuh.

Begitulah. Bila orang lain menangkap spirit film itu sebagai bentuk kesederhanaan kehidupan dengan kedaiamaian yang indah di dalamnya, saya he justru menangkap bahwa kesederhanaan dan kemurnian itu terus bertumbuh di dalam kedamaian. Menangkapnya dalam bentuk yang indah dan harmony dengan sikon kita, itu yang sulit. Rasanya, harapan mendiami rumah mungil dengan spirit seperti itu hingga kini belum saya gapai. Saya hidup dengan spirit ketergesaan kota besar. Jauh dari harapan semula yang dulu.

Mungkin ini alasan terpendam saya ingin segera hidup di tempat yang tenang dan damai, dengan spirit kesederhanaan dan keberanian yang terus bertumbuh. Seperti rerumpun rumput liar yang tumbuh di padang rumput. Tetap tegar dan kuat meski angin terus menerpa. Tetap bertahan meski kemarau kadang mendera.

Begitulah spirit harapan itu. Rumah sih sudah mungil, tapi suasananya yang belum dapat. Situasi yang tenang tanpa kebisingan, padang rumput yang luas, beberapa hewan ternak. Angin yang terus bertiup sepoi-sepoi menerbangkan rumput dan bunga liar di halaman. Ah indahnya bila harapan itu terwujud. Bila tidak, hehe, saya masih bisa menciptakan, menghadirkan suasananya di benak. Itu usaha paling terakhir. dan paling logis yang bisa saya lakukan. Masyaallah....., What a nice phantasy of a country girl, kekeh si Angin Selatan. He, terdengar seperti cibiran Nellie Oleson.


Gambar diambil dari sini

Tuesday, November 24, 2009

Menunggu dan Akhirnya Kuciwa

Menunggu dan akhirnya kuciwa (kuciwa = kecewa yang sangat kecewa), pernah tidak anda merasakannya ? Saya pernah, semalam kejadiannya. Menunggu munculnya pernyataan sikap sang Pakwo tentang gejolak dan gonjang-ganjing di negeri My oh My ini, dan akhirnya cuma kecewa yang saya dapat. Kecewa karena pernyataan pakwo yang tidak jelas, mengambang, dan membungungkan. Apakah perasaan ini cuma saya saja yang merasakan...? Entahlah.

Sudahlah, jangan banyak berharap. Banyak hal yang tidak kita pahami. Seperti juga ada banyak jalan keluar yang belum kita lihat. Begitulah sebuah suara muncul dari si Angin Selatan di sisi kanan saya. Sayapun mengamini. Ya, semoga kekisruhan di negeri My oh My ini segera tuntas. Kalau tidak, lupakan saja. Mari kita urus saja pekerjaan kita. Tentu supaya tidak tambah kuciwa.

Saturday, November 21, 2009

Secangkir Kopi Dengan Rasa "Aneh" Soal Anggodo

Kejadiannya tadi pagi, saat saya sedang minum kopi bersama keluarga. Kebiasaan yang buruk, kami terbiasa minum kopi sambil nonton berita. Sedang saya asyik menyeruput kopi, tiba-tiba saja seorang penelpon sebuah acara interaktif di sebuah tv mengagetkan saya. Ya, seorang ibu (ibu A dari Jakarta) berkomentar dengan suara gemetar menahan marah, melepaskan uneg-unegnya soal Anggodo di Edititorial Pagi sebuah stasiun tv.

"Anggodo itu Dajjal. Kenapa dia dibiarkan bebas, karena orang-orang takut dengan nyanyiannya. Kalau dia nyanyi lagi maka banyak pihak penting yang tersangkut. Jadi daripada mereka malu di dunia, mereka membiarkan Anggodo masih bebas. Dari rekaman yang disajikan di MK, nenek-nenek saja tau kalau Anggodo itu bersalah. Dan dia masih saja dibiarkan bebas, tidak ditangkap. Mudah-mudahan laknat segera turun untuk mereka ....!"

Saya tercekat mendengarkan pelampiasan uneg-uneg Ibu A itu. Seketika cangkir kopi saya sisihkan. Kopi itu tiba-tiba saja terasa jadi aneh, sengak dan pahit. He, rasa Anggodokah ini ? Teman saya yang sok tau pernah berkata Anggodo itu artinya Raksasa. Raksasa, mahluk mengerikan, baunya pahit. Begitukah ? Entahlah.

Kembali ke uneg-uneg ibu A tadi, saya kira apa yang berkecamuk di benak Ibu A itu mungkin banyak berkecamuk di benak orang-orang lain, penduduk negeri kita tercinta ini. Itu sudah seperti rumor umum. Di acara wawancara ekslusif stasiun tv lain membahas rekaman yang diputar di MK, Anggodo dengan terang-terangan telah mengakui penyuapan uang yang dilakukannya. Aneh dan ajaibnya keadaan di negeri kita ini, beberapa nama yang pernah tersangkut kasus penyuapan telah divonis, Anggodo si penyuap kelas kakap yang yang sudah menambah kerusakan moral bangsa ini dibiarkan saja bebas. Bebas, tidak tersentuh. Tidak diproses secara hukum.


Begitulah secangkir kopi dengan rasa aneh soal Anggodo ini. Banyak hal yang saya tidak mengerti sebagai orang awam di negeri ini. Ketidak mengertian ini rasanya tidak cukup dipahami dengan hanya berdoa agar kebenaran segera terungkap. Tetapi kekuatan doapun tidak bisa diremehkan. Bila Dia berkendak, apa yang tidak mungkin. Saya harus menghilangkan rasa geram ini dulu agar doa saya bisa dipahamiNya. Atau apakah kita perlu membuat gerakan memohon penangkapan atas Anggodo ? Masalahnya, apa Anggodo itu cuma satu ? Bagaimana menurut anda...?

Friday, November 20, 2009

Rembulan dan Seekor Belalang Yang Hinggap di Dahan

Gerangan apa yang membuat malam menjadi begitu indah, syahdu, dan magis (Malam adalah magis, komentar Baho pada suatu ketika, lupa kapan).......? Salah satunya menurut saya adalah karena adanya rembulan. Rembulan, tidak hanya menerangi dengan cahayanya, juga memantulkan biasan sinar dan bayangan indah di segala penjuru. Dan keindahan dan kemagisan sang malam menjadi begitu sempurna saat seekor belalang hinggap di dahan dilatari sang rembulan. Jadilah Rembulan dan seekor belalang yang hinggap di dahan itu menjadi sesuatu kekayaan semesta yang begitu indah.

Dan keindahan itu mutlak menjadi milik saya, tentu saja. Ya seorang sahabat telah menganungrahkannya untuk saya. Sebuah award spesial dari Fanda dengan gambar seekor belalang yang hingap di dahan dilatari sang rembulan. Hal yang membuat saya terkesima, sahabat saya itu ternyata mampu menangkap pengejawantahan rasa yang ada di dalam jiwa saya.



Itulah award yang dianugrahkan sahabat kita itu untuk saya. Award yang juga spesial telah dibagikan kepada beberapa sahabat yang lain disesuaikan dengan karakternya masing-masing. Sesuatu yang sulit dilakukan, mungkin saya tak mampu melakukannya. Terimakasih Fanda.

Tentang Fanda, rasanya tidak perlu banyak dikomentari lagi. Siapa yang tidak kenal sang pecinta buku dengan blog berjudul Baca Buku Fanda itu. Beliau salah satu sahabat terbaik saya di jagad blogosphere ini. Beliaulah yang saat awal saya membuat blog rajin menyemangati. Sejak itu tentu saja sebuah persahabatan adalah saling mensupport. Betapa support seorang sahabat sangat berarti. Kalau ada yang ingin melihat bagaimana Fanda menemukan saya yang saat itu baru tercemplung di jagad blogosphere, bisa klik disini.

Begitulah. Rasanya saya perlu membagikan award spesial itu kepada beberapa sahabat yang menurut perkiraan saya memiliki karakternya yang cocok dengan award tersebut. Paling tidak karena tulisannya selalu sarat makna, indah, syahdu dan magis bagi saya. Anggap saja award ini sebagai pengingat persahabatan antara anda, saya dan Fanda. Inilah beberapa sahabat yang saya anugrahi award tersebut :
  1. Tisti Rabbani
  2. Ivan Kavalera
  3. SeNja
  4. Ajeng
  5. Rosi Atmaja
  6. Insanitis37
  7. Ahmad Flamboyant
  8. Sigit Purwanto
  9. Ernut
Semoga berkenan. Pada setiap malam menjelang, mari kita ingat sang rembulan dan seekor belalang yang hinggap di dahan ini agar malam kita menjadi semakin indah dan syahdu. Selamat pagi semua, selamat beraktivitas.

Wednesday, November 18, 2009

Akhir Sebuah Kontemplasi, Tentang Sebentuk Keyakinan, Cinta, Secangkir kopi, Setumpuk Buku, Hp dan laptop Butut



Malam telah menjemput saya dari keriuhan hari. Bau sabun cair yang segar serta kucuran air saat mandi, perbincangan yang ceria dengan Bejo, dan secangkir kopi malam ini cukup membantu membangkitkan sesuatu yang tertimbun di kedalaman benak saya. Hah...., akhirnya tiba juga saya pada akhir kontemplasi yang tadi pagi tak tuntas. Ini tentang Sebentuk keyakinan, cinta, secangkir kopi, setumpuk buku, Hp dan laptot butut.

Ya.....bila kehidupan adalah sebuah perjalanan panjang umat manusia, maka kehidupan kita adalah perjalanan kita. Seyogyangnya sebuah perjalanan membutuhkan bekal. Tentang perjalanan hidup saya sendiri, tentu saja membutuhkan bekal. Sesuatu yang harus saya bawa agar perjalanan saya berlangsung lancar dan menyenangkan. Tadi saya telah memilah-milah hal-hal apa saja yang harus saya miliki agar hidup saya berarti. Maka inilah yang harus saya miliki, setidaknya menurut saya saat ini, yaitu sebentuk keyakinan, cinta, secangkir kopi, setumpuk buku, hp dan laptop. Tentu ini versi saya ya, saya yakin setiap orang punya pendapat sendiri.

Kenapa Hp dan laptop ? Hp sarana saya berkomunikasi dengan sahabat dan kolega, juga sebagai kamera bagi saya. Sedangkan laptop tempat saya menuangkan ide, pikiran, dan uneg-uneg saya. Mengapa secangkir kopi ? He, kalau belum ngopi saya agak lesu. Minum kopi membuat pikiran saya semakin lancar mengembara (mungkin ini hanya sugesti saya saja ya). Mengapa cinta ? Nah yang ini tidak perlu dijawab, semua sudah tau jawabannya. Hanya saja cinta bagi saya tidak perlu dilabelli dan dibatasi. Cinta padanya, cinta pada si dia, suami/istri (misal cinta saya pada Bejo). Bila dilabelli dan dibatasi akan membuat kita terbelenggu. Cinta pada manusia bisa memudar karena waktu, bahkan karena tibanya sang maut. Biarkanlah cinta menjadi cinta. Cinta sebagai bentuk pengasih dan penyayang Dia Sang Maha Segala yang mengalir pada diri kita manusia untuk kita sebarkan kepada semesta ini.

Bagaimana bila tidak ada Hp dan laptop, bisakah kita merekam peristiwa, menuangkan ide dan pikiran dan uneg-uneg kita ? Rasanya bisa. Saya pikir secara mendalam tadi, ya.... bisa. Saya bisa merekamnya dalam benak saya, saya bisa menuangkannya di dedaunan, saya bisa membisikkan ke sang angin, kepada rerumputan dan kepada langit, yang akan memendarkannya kepada semesta. Bagaimana bila tidak ada setumpuk buku ?, hehe saya bisa membaca buku alam. Semesta ini adalah buku seru sekalian alam. Dia bisa mengajarkan banyak hal yang bisa kita petik, kalau saja kita mau. Bagaimana bila tidak ada cinta...? Hehe, cinta tidak akan pernah berakhir. Alirannya akan selalu mengisi alam ini. Kitalah yang sering memutus alirannya, mematikan rasa cinta kita. Bagaimana bila tidak ada keyakinan ? Pasti mandeg, kita tidak akan bisa melangkah. Kalaupun melangkah, langkah kita tidak terarah, sempoyongan kan.

Begitulah sebuah kontemplasi yang tadi pagi tak tuntas. Sayapun seperti diingatkan bahwa bekal saya, bekal anda, bekal kita semua hanya bisa berarti bila kita masih mengarungi perjalanan hidup ini. Bekal kita tidak berarti lagi bila kita tak lagi bisa melanjutkan perjalanan kita, bila kita telah meregang nyawa. Selagi belum terlambat, manfaatkalah waktu anda, manfaatkanlah bekal anda, apapun itu. Khusus yang ini, ini hanya peringatan untuk diri saya sendiri. Bukankah saya, kita semua harus merenungi perjalanan hidup kita. Hari ini hari lahir saya dalam hitungan tahun masehi, alhamdulillah saya diberiNya kesempatan mengisi hari hingga sejauh ini. Semoga saya bisa memanfaatkan sisa perjalanan saya dengan baik. Selamat malam semua.

Gambar diambil dari sini

Sebuah Kontemplasi Pagi Yang Tak Tuntas


Sebuah kontemplasi yang tak tuntas tiba pada pagi yang bercahaya ini. Entah kenapa tidak ada rasa kesal pada hal ini (biasanya, he, saya benci hal yang tak tuntas). Maka tadi pada hirupan kopi yang kesekian, saya hela nafas sejenak. Ya.....kontemplasi ini biarlah tak tuntas. Akan saya beri ia waktu seharian, kapan saja ia mau. Bukankah hidup adalah sebuah perjalanan panjang penuh kontemplasi. Maka biarkanlah kontemplasi pagi ini tak tuntas. Ia akan berdetas menyusuri jejak hari. Secangkir kopi yang isinya tinggal separuh saya hirup lagi. Selamat pagi kawan semua. Selamat beraktivitas.

Gambar diambil dari sini

Tuesday, November 17, 2009

Mengkriminalkan dan Mendzalimi......!?

Dua kata di atas, mengkriminalkan dan mendzalimi, jadi kata-kata yang populer sekarang ya. Si A mengatakan B telah mengkriminalkan dirinya. B pun mengaku begitu telah dikriminalkan oleh si A. Si C pun mengaku telah dikriminalkan oleh si A dan seterusnya. Ya, mereka merasa telah dikriminalkan dan didzalimi oleh seterunya. Padahal jelas-jelas mereka bukan seteru, tapi mitra. Aneh ya, tapi demikianlah faktanya.

Singkat kata, itulah yang sekarang menari-nari, berseliweran, dan berusaha saling membentuk opini publik lewat berita-berita di televisi juga di media cetak. Seakan berebut simpati, dan berebut ingin dianggap benar. Dan semuanya mengaku setuju untuk membangun kembali kehormatan dan harga diri bangsa ini. Bukan main......

Lalu apakah yang harus kita lakukan sebagai anak bangsa di luar kelompok A dan B ataupun C itu....? Tentu saja hal yang paling logis bagi saya adalah terus melakukan aktivitas kita, pekerjaan kita, tanggung jawab kita dengan baik. Larut dalam carut-marut hanya akan memperkeruh suasana. Bila ingin mengatakan pendapat, urun rembug terhadap perkembangan wacana atau diskusi mengenai hal-hal tersebut, lakukanlah dengan cara yang baik dan penuh tanggung jawab. Setelahnya mari kita berdoa agar kondisi carut marut ini segera terselesaikan dengan baik.

Seorang pengacara dari salah satu kelompok tadi mengatakan " Apa gunanya saling mengkriminalkan dan saling mendzalimi... ?, jelas tidak ada guna. Kita sepakat ingin membangun bangsa ini. Ya...saya setuju, saling mengkriminalkan dan saling mendzalimi jelas tidak berguna, malah semakin mempurukkan diri sendiri, dan memperpuruk bangsa ini. Mari masing-masing kita mulai merubah mindset kita, hidup hanya berarti bila dilakukan dengan penuh kemanfaatan, dengan cara yang benar. Seyogyanga kita tidak melakukan hal-hal yang merugikan diri sendiri dan keluarga hanya karena emosi dan kepicikan pikiran (misal seperti si Evan itu). Jangan saling mengkriminalkan dan saling mendzalimi tentu saja. Bagimana menurut anda.......?

Sunday, November 15, 2009

Percengkramaan Pagi dan Berkebun Cungdiro Ala Newsoul








Selamat pagi semua. Pagi yang indah dan patut disyukuri, seperti biasa. Matahari yang pelan-pelan memunculkan diri di ufuk timur. Tetes embun yang juga pelan-pelan mengering seiring dengan datangnya sinar mentari. Dan kicauan burung, he bukan burung yang merasa tersesat dulu itu lho. Betapa indah suasana pagi. Maka pagi yang indah ini tentu saja sayang untuk dilewati begitu saja. Sayapun segera bercengkrama dengan pagi.

Hasil percengkramaan itu, apalagi kalau bukan menikmati pagi dengan secangkir kopi, dan setelahnya ke luar rumah menikmati pagi yang mulai meninggi. Kali ini saya mengajak anak-anak untuk melihat tanaman Cungdiro saya. Seperti yang gambarnya anda lihat, itulah tanaman Cungdiro. Ya...sebagian kita sudah tidak asing dengan tanaman ini. Ada yang mengenalnya sebagai Wild Tomato, Tomat Chery, Tomat Kecil, dan sebagainya. Di Sumatera Selatan sendiri, tanaman ini dikenal dengan beragam nama, Cungdiro, cungkediro, Ranggam, cungdire, cungkedire, dan lain-lain.

Menu kuliner Sumatera Selatan tidak bisa terlepas dari Cungdiro. Barangkali karena rasanya yang lebih menyegarkan dibandingkan tomat. Asam dan manisnya pas di lidah Orang Sumsel. Tentu saja, karena kondisi alam Sumatera Selatan sebagian besar adalah dataran rendah, tanaman ini lebih populer dibandingkan Tomat. Maka sambal cungdiro (cabai. sedikit garam, terasi dan gula) sangat digemari. Aneka gulaipun akan lebih sedap bila diberi asam dengan cungdiro ini. Begitulah yang saya tau.

Kembali ke percengkramaan pagi ini. Anak-anak begitu ceria memandang tanaman itu. Meski mereka baru bisa memandangnya, ini cukup membahagiakan saat melihat mereka antusias memperhatikan perkembangan tanaman ini. Mulai dari berbunga, menjadi buah hijau yang kecil, buah yang membesar, lalu menguning dan memerah yang siap dipetik. Moment yang membahagiakan saya.

Ini weekend yang begitu sederhana tapi indah bagi saya. Bagaimana dengan weekend anda...? Saya yakin pasti sangat menggelora. Have a nice weekend. Saya masuk dulu sobat, menghabiskan kopi saya yang tinggal seperempat gelas tadi, sayang kan.

Saturday, November 14, 2009

Kiamat Sudah Dekat, Siapkah Kita....?


Selamat sore kawan. Weekend yang indah, tadi pagi sudah dimulai dengan kopi-durian. Saya baru saja beres dengan aktivitas sore saya. Lumayan santai, seperti weekend yang biasa. Tadi saat saya baru saja membuka laptop, sebuah stasiun tv membahas soal Film Kiamat 2012. He, rupanya kiamat sebentar lagi ya. Tahun 2012, tinggal 3 tahun lagi menurut film itu. Sudah dekat ya......

Entah sekedar menghembuskan wacana kontroversial, sekedar membuat sesuatu yang beda, film ini cukup menghebohkan. Di kantor heboh, arisan keluargapun membahas film ini. Tentu saja saya tidak sedang menulis resensi film, saya belum nonton filmnya. Saya sekedar meninjau wacana kiamat sudah dekat yang dihembuskan film itu. Kapan terjadinya, secara mutlak ini rahasiaNya. Satu pertanyaan menggelinding begitu saja di benak, seandainya kiamat sudah dekat, siapkah kita.....?

Ya, entah kita siap atau tidak kiamat pasti terjadi. Entah kiamat memang sudah dekat atau masih jauh, kiamat pasti terjadi. Tentu saja statement ini hanya berlaku bagi kita, siapapun yang meyakini adanya hari akhir. Artinya, hidup ini akan berakhir. Apakah kita menyaksikannya atau tidak, hidup kitapun akan berakhir (yang ini tentu saja pasti terjadi). Artinya hidup yang sementara ini seyogyangya kita isi dengan hal yang bermanfaat. Bermanfaat bagi diri kita sendiri, bagi keluarga kita, lingkungan kita, seru sekalian alam ini. Bukan karena takut dengan kiamat, bukan pula karena sekedar takut neraka (ingin meraih syurga) tapi karena itulah yang semestinya menurut saya.

Kiamat bagi saya adalah masa berakhirnya kehidupan ini. Kiamat tentu perlu diwaspadai karena bila kiamat sudah terjadi tidak ada lagi yang bisa kita lakukan. Bila hati nurani kita telah mati, maka kiamatpun telah terjadi di jiwa kita. Tentu hidup kurang bermakna bila hati/jiwa kita telah kiamat. Kiamat bagi saya memang akan terjadi. Kiamat kecil sebagai tanda akan terjadinya kiamat besar konon sudah banyak terjadi. Jadi mari siapkan diri kita untuk melakukan yang terbaik.

Bila kiamat memang sudah dekat, sepanjang kita melakukan hal yang bermanfaat, positif, baik diri sendiri, keluarga kita, lingkungan kita, juga bagi seluruh isi alam ini, mengapa harus takut dengan kiamat. Tidak usah terlalu kita hiraukan soal tahun 2012 yang disinyalir akan terjadi kiamat. Intinya, anggap saja film itu sedang mengingatkan kita bahwa kiamat sudah dekat. Bagi yang belum menikah (Buwel, Trimatra, Anazkia, Fanda, Fanny, Ivan, Ahmad Flamboyant, Ranny, Inuel, Itik Bali, Dicky Polar, pokoknya semua para lajang) cepatlah menikah sebelum terlambat, iya kan. Selamat sore kawan. Bagaimana menurut anda......?


Gambar diambil dari sini

Friday, November 13, 2009

Gelora November Dengan Durian dan Award Spesial


November yang indah disini kawan. Langit disini tidak saja menjatuhkan hujan, juga menjatuhkan durian. Anak-anak di sebuah dusun kecil menemukan 5 butir durian di halaman pak Dullah pagi tadi. Maka bersukacitalah mereka sembari melaporkan hasil temuannya kepada sang empunya durian. Durian yang semalam dirontokkan sang angin selatan. Durian-durian yang juga berjatuhan di halaman wak Nur, di halaman bu Naz. Durian-dimana-mana. Durian yang wanginya semerbak memenuhi langit disini. Musim durian telah tiba. Betapa Gelora November semakin bertambah dengan Durian.

Ya musim durian tiba lagi disini. Musim pesta durian tentu saja, juga musim penyakit. Buah berduri itu begitu lezat bagi kebanyakan orang. Kelezatan yang harus diwaspadai. Dibalik kelezatan durian, dibalik kelezatan apapun tentu saja, menyimpan masalah bila dikonsumsi secara berlebihan dan tidak pada tempatnya. Misalnya makan durian terlalu banyak. Perempuan hamil makan durian lebih dari 5 biji (misal lho....). Orang yang memiliki penyakit asam urat, kolesterol tinggi harus berhati-hati makan durian. Makan durian di pesawat, tentu masalah. Yah...bau harum durian yang khas itu agak rawan hingga bisa menimbulkan rasa mual, bahkan muntah. Jadi, mari sambut musim durian ini dengan sukacita dan juga berhati-hati.

Gelora November ini tidak saja bertambah karena tibanya musim durian tadi, juga karena tibanya sebuah cinderamata persahabatan. Sebuah award dari Becce_lawo. Award yang unik juga spesial yang disini (Rabu, 11 November 200() . Terimakasih kawan.













Becce_lawo adalah seorang pemuda dari Sengkang, Sulawesi Selatan. Konon, kata pak Munir, Becce_lawo adalah nama sejenis penganan dari Sulawesi Selatan terbuat dari tepung ketan yang disangrai. Barangkali nama itu ingin mengekspresikan sebuah ketulusan nan sederhana selayaknya kue tradisional yang begitu kita sukai dan selalu membuat rindu.

Sang becce_lawo mengatakan award unik dan spesial tersebut dibagi-bagi sebagai surprise ingin berbuat manis (baik) kepada para sahabat di jagad blogosphere. Setiap sahabat mendapat award yang unik dan spesial. Satu qoute yang indah saya temukan di blognya.....Hanya ingin berbuat baik. Bersama kita mengubah dunia. Sebuah keinginan yang indah bukan. Thanks for being my friend too. Bagi yang belum kenal, ayo silahkan ke blognya.

Thursday, November 12, 2009

Dua Perempuan Di Tengah Padang Ilalang Kering


Di suatu noktah di bumi ini, saat hari tengah terik. Dua perempuan tengah berjalan di tengah padang ilalang kering. Langkah kedua perempuan itu tegap. Matahari tepat di atas kepala keduanya. Pada benak mereka, sejuta harap dan impian tentang hidup yang baik bagi keluarga mengalir hangat di benak saat keduanya bergegas pulang sambil menjunjung setumpuk rumput dan kayu bakar di kepala.

Dua perempuan yang tidak sengaja saya temukaan saat kerinduan saya akan ilalang muncul lagi secara tiba-tiba siang ini. Bukan Ilalang indah seperti yang dulu saya temukan. Ini sehamparan ilalang kering. Dan keringnya ilalang ini mengapa malah menghadirkan gejolak indah nan penuh semangat di benak...? Sesuatu yang saya tak sanggup menjawabnya.

Pada bayangan belakang kedua perempuan itu, saya melihat semangat. Seolah keduanya tengah berjalan tepat di depan saya. Seakan saya bisa mendengar dengus nafas mereka juga obrolan singkat keduanya tentang beras, gula, garam yang tinggal secuil di gubuk mereka. Dan tiba-tiba saja saya teringat pada Atuzah, tokoh rekaan pada postingan saya dahulu. Entahlah. Mungkin itulah jawaban kenapa gejolak itu hadir dengan indah di benak.

Dua perempuan yang berjalan di tengah padang ilalang kering itu menghadirkan semangat. Seperti semangat seluruh perempuan di seluruh penjuru dunia yang menginginkan gubuknya berasap karena ada yang bisa dimasak disana, dengan tawa anak-anak mereka berderai di dalamnya. Ini seperti menyadarkan saya, bahwa hari yang sudah Kamis ini musti disyukuri. Ya bukankah kita semua musti bersyukur bahwa ada banyak hal yang bisa kita lakukan untuk keluarga kita, untuk sekitar kita, untuk alam ini. Bukankah begitu kawan....?

Tuesday, November 10, 2009

Nyanyian Parau Seekor Cicak


Ini bukan cicak yang sedang dibicarakan banyak orang. He, maaf saja sekarang saya sedang tidak tertarik membicarakan cicak yang itu. Ini cicak versi saya sendiri. Cicak sebagai mahluk kecil yang senang mengendap-endap, memperhatikan sekitarnya dengan mata nyaris tak berkedip. Ini cicak di dinding, dan dinding itu adalah sebuah permukaan tempatnya bertengger. Cicak di dinding sebagaimana yang sering kita dengar dalam lagu "Cicak Cicak di dinding". Sayangnya, nyanyian sang cicak terdengar parau.

Begitulah. Di tengah tatapannya mengawasi aneka aktivitas mahluk di sekitarnya, cicak ini sering bernyanyi sendiri. Nyanyian dalam versinyanya sendiri. Benarkah nada nanyiannya, hanya ia sendiri yang tau. Bagi orang lain terdengar parau. Parau karena lagunya tak memiliki harmony antara rima dan ritmanya. Parau karena syairnya hanya berisi kritikan tak jelas. Kritikan dengan sindiran satir yang tak memiliki juntrungan. Parau karena di ujung lagu tak ada nada indah berisi solusi bagaimana agar nyanyiannya tidak sia-sia. Parau karena lagunya tak memiliki kesimpulan.

Cicak itu mungkin ada di sekitar kita semua. Bila kita hanya menatap sekitar kita dengan pandangan satir ala kita sendiri, mengkritik tanpa ada solusi, maka kita telah menjadi Cicak yang menyanyi parau.
Telahkah kita menjadi cicak yang sekedar mengendap-endap mengawasi sekitarnya sambil bernyanyi parau...? Mari kita renungkan.

"Inipun parau kawan", tiba-tiba saja si angin selatan membisikkan itu kepada saya. Yah, mungkin inipun parau. Saya cuma ingin mengatakan bahwa catatan ini juga ditujukan kepada diri saya sendiri. Setelahnya, mari kita berharap semoga kita jangan menjadi cicak yang cuma bisa mengendap-endap, menjatuhkan kotoran ke bawah seenaknya, dan menyanyi parau. Karena lagu parau kita hanya akan membuat dunia ini semakin fals nadanya. Mari bernyanyi lagu indah saja. Atau mari kita belajar dulu melihat dunia secara indah sehingga lagu kitapun menjadi indah. Bukankah begitu kawan...?

Gambar diambil dari sini

Sunday, November 8, 2009

Sebuah Orgasme Sore Yang tak Menyenangkan


Dia membisu, duduk menyudut di sisi kamar. Suasana sepi saja. Tidak mencekam, tidak pula mengharu-biru. Sepi yang biasa. Suasana yang biasa. Di luar, awan mulai menggelapkan langit. Matahari mulai memunculkan sinar kejinggaannya yang khas. Dia masih saja membisu pada sore yang biasa ini. Sepenuh wajahnya menyiratkan suatu kata "....sebuah orgasme sore yang tak menyenangkan...".

Begitulah hal yang dirasakannya. Ia tersenyum sekilas sambil bangkit dari duduknya. Bila hari adalah liukkan persenggamaan manusia dan semesta, maka ia lebih menyukai pagi daripada sore. Sebab pagi selalu meluapkan energi kegembiraan. Pagi selalu memberi semangat. Apakah karena pagi adalah awal hari hingga seluruh energi terbuka padanya...? Entahlah. Ia memang lebih menyukai pagi ketimbang sore. Itulah alasan kenapa persenggamaan hari pada sore membuahkan orgasme yang tak menyenangkan baginya.

Ia sering mengutuk sore karena lelahnya telah membuatnya tersungkur menatap sisa hari. Saat ini saja, setelah lelah dengan persenggamaan harinya, ia memegang seekor ikan yang telah membeku dari refrigerator dengan rasa lelahnya. Ikan yang harus diolah menjadi masakan lezat di meja makan. Sang ikan memandangnya dengan lelah mata yang membeku. Ikan itu seakan menjerit padanya sambil berkata "Tolong, jangan masak kuning lagi....". He, tentu saja ia tak menjawab. Dengan sekali lemparan, sang ikan terjerembab dalam baskom plastik untuk segera diolah.

Betapa sore ini, seperti sore-sore lain yang tak sempat ia nikmati, sangat melelahkan baginya. Yah...sebuah orgasme sore yang tak menyenangkan, ulangnya lagi. Bukankah sorepun harus dilewati bila ingin mendapatkan esok pagi yang indah dan berenergi itu...? Bukankah begitu kawan... ? Tak ada jawaban. Di sisi kanan hanya ada angin selatan menggerakkan rambutnya ke kiri dan ke kanan.

Gambar diambil dari sini

Saturday, November 7, 2009

Titik Dimana Kita Berdiri

Ya, titik dimana kita berdiri jelas bukan titik yang sama. Noktah kita berbeda. Saya berdiri di titik saya. Anda berdiri di titik anda sendiri. Sedang mereka, ya berdiri di titik mereka. Begitulah bisikan sepoi-sepoi sang Angin Selatan di sisi kanan saya soal Titik Dimana Kita Berdiri. Saya baru saja merampungkan kegiatan domestik saya di hari libur (mencuci, memasak, dan memeriksa tanaman saya). Hari yang sederhana, tapi denting detiknya tadi tiba-tiba saja menghantarkan saya pada perenungan ini.

Titik dimana saya berdiri, biasanya titik dengan aksis X dan Y yang terpola acak. Hanya, tetap X dan Y yang saling menyinkronkan walau mereka tak saling kenal. Sedangkan aksis anda, walau beda koordinatnya saya kira tida jauh berbeda. Paling tidak meski pola kita berbeda, pada akhirnya kita menuju muara yang sama. Meskipun titik kita berbeda, faktanya kita sering bertemu di jagad ini. Kita bertemu di jagad nyata, di jagad mayapun begitu. Tentu saja. Jagad ini satu, kita menempati bumi yang sama. He, saya kira alasannya bukan sekedar itu saja.

Kita sering bertemu di jagad ini juga karena karena ada sesuatu pada kita semua. Kita memiliki siklus energi semesta yang sama. Ya walaupun koordinat kita berbeda, polanya berbeda, arah aliran konon menuju titik yang sama. Perjalanan energi semesta ini seperti sebuah siklus. Kita bergerak ke titik yang sama. Barangkali inilah alasan kenapa spirit dan soul pemikiran seseorang dimasa lampau muncul kembali pada sesosok teman kita, kerabat atau pada kita sendiri. Aliran spirit/ide/soul berputar dan menyebar di alam semesta ini, Lalu beputar memasuki bentuknya sendiri. Demikianlah. Mungkin ini juga alasannya kenapa kejahatan dengan pola yang selalu baru tapi nadanya sama dengan kejadian lama juga selalu muncul dari zaman ke zaman.

Begitulah kawan. Barangkali itulah alasan kenapa kita sering "merasa" sreg, dekat, familiar dengan orang tertentu walau sebelumnya kita tidak saling kenal atau sebaliknya. Alasannya karena tempat dimana kita berdiri , alam semesta ini, adalah tempat dimana energi berupa spirit/ ide dan pikiran kita yang bernama umat manusia ini mengalir, menghilang, lalu muncul lagi dengan bentuk baru tapi ide dasarnya tetap sama.

Wallahu a'lam bishawab. Silahkan direnungkan bila berkenan. Paling tidak mari kita renungkan bahwa selain titik dimana kita berdiri, ada titik-titik lain yang juga harus kita akui keberadaannya, kita hormati dan kita pahami. Titik milik orang lain, kelompok lain yang sebetulnya sama saja muaranya dengan titik milik kita, yaitu menginginkan kebaikan bagi dunia ini. Kalaupun ada yang menyebrang arah, yah....cuma sedang salah arah saja. Saya pamit dulu ya. Angin selatan baru saja menghantarkan suara khas dari masjid di dekat rumah saya, adzan Johor yang berkumandang. Selamat siang semua.

Gambar diambil dari sini

Friday, November 6, 2009

Kursus Poligami, Cuma 3 Bulan..., Pemberantasan Mafia Hukum 100 Hari


Hari mulai gelap, saya baru saja usai mandi. Sambil mengeringkan rambut dengan kipas angin di dekat meja, saya duduk di hadapan laptop butut saya hingga tulisan dengan judul di atas sampai kepada anda. Kursus Poligami Cuma 3 Bulan..., Pemberantasan Mafia Hukum 100 Hari.

Siapa berminat poligami...? ada kursus yang bisa diikuti agar poligami yang dilaksanakan berjalan sukses dan lancar. Konon materi kursus adalah pemahaman tentang syarat dan ketentuan berpoligami, dan tips-tips melaksanakan poligami agar poligaminya berjalan dengan baik. Barangkali yang dimaksud adalah supaya berjalan sukses, adem, dan tentram. Itulah informasi yang saya terima. Sebuah stasiun tv baru saja menayangkan acara bertajuk "Menyoal Klub Poligami". Ya, Klub Poligami dari komunitas Global Ikhwan yang berada di negara tetangga kita.


Tanpa berniat ikut-ikutan menyoal apakah klub tersebut salah atau benar, tulisan ini cuma ingin mengatakan bahwa poligami adalah soal pilihan hidup yang seharusnya dilakukan dengan penuh tanggung-jawab. Kelihatannya....poligami pada klub tersebut agak lebih teratur. Setiap anggota yang berniat melakukan poligami, harus mengikuti kursus selama 3 bulan tadi. Setelahnya, masih diteliti, ditest oleh sang pemimpin apakah yang bersangkutan memenuhi syarat. Bahkan perempuan yang akan dipoligami ditentukan/disetujui oleh sang pemimpin.

Ya poligami dalam klub tersebut tidak dilakukan atas kemauan dan selera si lelaki yang akan berpoligami. Dan kembali lagi bahwa poligami adalah soal pilihan hidup. Faktanya memang hak hidup sesorang untuk mengambil keputusan akan berpoligami atau tidak. Telah memenuhi syaratkah yang bersangkutan berpoligami ? Yang bersangkutanlah yang tau. Artinya, dia sendiri yang menentukan dan dia (tentu pluas anak dan istri) lah yang menanggung, merasakan, apakah hidupnya akan tentram atau sebaliknya penuh konflik, RT yang berantakan, terjadinya kemelut, dan lain-lain. Betapa kehati-hatian diperlukan dalam mengambil keputusan dalam hidup. Sekali lagi, ini soal pilihan dan hajat hidup orang per orang.

Entry kedua tulisan ini adalah.....Pemberantasan Mafia Hukum masuk dalam Program 100 hari Pemerintahan SBY. Entry ini tadi pagi saya dengar, dan tadi muncul kembali di kepala saya, saat usai ngopi sore ini. Mafia hukum, fakta yang banyak terjadi. Suatu sisi hukum tidak lagi menjadi alat untuk menegakkan keadilan, malah dijadikan cara untuk melakukan kejahatan. Seseuatu yang berujung pada pencarian keuntungan, konspirasi, sebuah sindikat. Begitulah. Tentu saja saya sangat setuju dengan program Pemberantasan mafia Hukum ini. Sayapun berharap program 100 hari pemberantasan Mafia Hukum ini berjalan sukses dan lancar. Semoga saja tidak sekedar shock theraphy untuk menenangkan masyarakat.

Haripun makin gelap, tidak terasa kawan. Saat secangkir kopi sore saya tandas, saya baru menyadari kalau 3 bulan dan 100 hari itu tidak terpaut jauh, nyaris hampir sama. Kursus poligami cuma 3 bulan, dan pemberantasan Mafia hukum 100 hari. Betapa singkat target yang diberikan. Entahlah. Apapun alasannya, saya yakin kedua hal ini bukanlah keputusan yang tanpa pertimbangan matang. Demikian renungan hari ini. Silahkan pula anda renungkan bila berkenan. Selamat malam, mari lanjutkan akktivitas kita.

Thursday, November 5, 2009

Sebuah Pusaran "Pasaran"

Entah kapan rasa ini ini mengemuka di benak. Kelihatannya sudah lama sekali. Ya.....sebuah rasa dimana saya mengamali suatu kondisi masuk ke pusaran "pasaran". Pusaran/ mainstream dimana saya merasa performance saya (wajah, gaya bicara, gaya bersikap yang lain) memiliki banyak kemiripan dengan orang lain. Itu yang saya anggap "Pasaran" tadi.

Ya, seperti melihat sebuah arus pusaran. Setiap kali saya mengikuti sebuah event, sesi, atau tidak sengaja berada di suatu tempat, saya selalu mengalami suatu kondisi dimana kebanyakan orang yang baru saya temui mengatakan "..... anda mirip sekali dengan si ini, si anu, si itu ,teman dekat atau saudara saya. Wajahnya, cara bicaranya, cara tersenyum (cara marah...?, he, saya belum tanya) " Maka sampailah saya pada arus yang disebut pasaran tadi, saya anggap saja wajah saya pasaran, performance saya pasaran. Titik.

Saya tidak tau apakah anggapan saya benar. Saya tidak tau apa pastinya penyebab kondisi tersebut. Apakah betul saya memang mirip dengan kebanyakan orang...? Atau kebetulan saja orang yang mengatakan begitu sebetulnya sedang mengalami dejavu atas kesuaian, kemiripan filosopis hidup yang ia miliki dengan yang saya punya. Barangkali pada setiap performance pasaran tadi, sebetulnya ada kekhasan/kekhususan yang mungkin cocok, sesuai dengan pengalaman bathin kita. Kecocokan yang lalu membuat kita merasa familiar. Entahlah.

Jawabannya bisa dua-duanya. Bagaimana menurut pendapat anda sobat ? Siapa tau ada pandangan alternatif yang lain lagi. Kalau berkenan, mari kita renungkan. Selamat pagi semua. Selamat beraktivitas.

Tuesday, November 3, 2009

Awal Yang Baik Untuk Fenomena dan Persepsi

Fenomena dan persepsi, dua hal yang sering berkaitan. Apa yang kita lihat, kita dengar, kita rasakan, itulah fenomena. Sedangkan cara kita memandang sebuah fenomena, dipengaruhi oleh persepsi kita masing-masing. Betapa selama ini persepsi sering mempengaruhi kita dalam pengambilan sebuah keputusan, menyikapi suatu fenomena. Mungkin telah menuntun kita mengambil keputusan keliru.

Kenapa di republik ini kita lebih banyak berdebat dan ributnya daripada menyelesaikan persoalan bangsa dengan baik dan tangkas...?. Jawabannya, karena kita sibuk melihat sesuatu dengan persepsi kita masing-masing. Sibuk mempertahankannya dengan aneka pertimbangan kita masing-masing (asap dapur kita, gengsi kita, dll). Menyikapi satu fenomena yang sama, bermacam-macam jawaban yang timbul. Itulah alasan kenapa bangsa ini sulit untuk maju.


Begitulah sedikit pengantar seorang Muhammad Tasrif, seorang profesor pengajar di ITB yang ahli Spasial Dinamik. Pemodelan Spasial Dinamik pada rencana pengembangan wilayah, salah satu tugas yang harus diiukuti oleh seorang pegawai kecil seperti saya.

Acara itu tentu saja menarik, dan menyegarkan. Terlebih, he, saya melihat semangat seorang, meski sudah tua, begitu besar. Semangat pada romantisme hidup juga idealisme yang menggugah. Setidaknya itu membuat saya cukup terpana. Ternyata kita masih menyimpan sosok-sosok penuh idealisme seperti Profesor Muhammad Tasrif ini. Di ujung sesi kemarin, beliau menutup pertemuan dengan perlunya melihat fenomena dengan kejernihan. Dan kejernihan hanya bisa kita kita peroleh dengan kejujuran, jujur pada hati nurani kita.

Itulah awal yang baik bagi sebuah fenomena dan persepsi yang saya maksudkan. Yaitu kejernihan yang dilandasi kejujuran. Tentu bukan kalimat saya, kalimat Prof. Tasrif tadi. Saya hanya menyarikannya saja. Mari kita renungkan bersama. Tugas saya masih sampai hari Jum'at. Saya harus menyiapkan diri dulu sobat. Selamat pagi. Selamat beraktivitas.

Sunday, November 1, 2009

Unguku Tiba Dalam Hembusan Angin Pagi November


Unguku Tiba Dalam Hembusan Angin Pagi November


Bila unguku tiba pagi ini
tentu tiba pagi sekali
bersamaan dengan datangnya cahaya
Cahaya di atas ranting saat november tiba

Bila unguku tiba dalam pandangmu
maka tangkaplah ia dalam retina matamu
keluarkan janji sehembusan angin
seperti janji jiwa menyerikan dunia dalam dekapan pagi

Bila unguku tiba dalam hembusan angin pagi
maka liarnya kan sibbakkan rambutmu
seperti sibakkan cahaya mentari saat pagi
dan Novemberpun mewangi lembut menderu

Pesona Labu Kuning, Menjalar di Tanah dan Merambah di Hati Penggemarnya

Sumber Foto : pixabay.com Dalam bayangan saya akan hari tua. Ada sebuah rumah kayu mungil dengan halaman luas. Pada halaman luas itu ...