Search This Blog

Tuesday, September 28, 2010

Revolusi Cawan-cawan Kopi


Dini hari tadi, ketika terdengar kokok pertama ayam jantan dari kompleks sebelah seorang laki-laki tertegun menatap cawan kopinya. Cawan-cawan kopi yang entah kenapa seperti memberinya senyuman. Seperti memompa semangatnya hingga ia mereguk kopinya lagi dan lagi. Ya, telah bercawan-cawan ia mereguk cairan hitam kegemarannya itu ditengah deru angin dan limpahan hujan. Matanya mengerjab. Ia tersenyum. Apakah setara nilai "melek" karena bercawan-cawan kopi dengan "kepuasan jiwa" yang didapatnya ? Entahlah.

Di samping kanan cawan-cawan kopinya tergeletak laptop yang masih hangat, tanda belum lama digunakan. Di dalam laptop itu tersimpan beberapa file tulisan yang baru saja ditulisnya. Tulisan disebabkan revolusi. Revolusi cawan-cawan kopi, demikian ia menyebutnya. Disebutnya begitu karena cawan-cawan kopi itulah yang merevolusikan jiwanya.

Ya, bila jiwa meronta akan ketimpangan yang ada, hanya ada satu kata yang tepat "Lawan". Bila realitas kehidupan sisakan kekacauan di masyarakat, hanya ada satu kata "Lawan!". Iapun melawan. Ia meronta. Ia berevolusi merontokkan geramnya meski hanya berupa tulisan ditemani bercawan-cawan kopi.

Semoga ia tidak tersesat, begitulah bisik diam-diam beberapa cawan kopi yang memandanginya dengan sendu. Dan lelaki itu tertunduk dengan mata terkatup. Ketika orang-orang bergegas menuju tempat kerja, lelaki itu ambruk. Kantuk akhirnya menyerangnya. Adakah revolusi cawan-cawan kopinya akan hasilkan perubahan sebagaimana yang diinginkannya ....? He, entahlah kawan. Mungkin tergantung pada sisi mana kita memandangnya.

Friday, September 24, 2010

Tentang Istana Yang Sombong dan Tuli

Dia menunduk. Tangan kanannya menggenggam secangkir kopi. Kopi pagi yang isinya tinggal setengah. Tak lama, ia mengangangkat wajah. Matanya tampak berkilat-kilat. Kilatan yang biasanya adalah pertanda, ia sedang berjelaga. Berjelaga, istilahnya sendiri yang mungkin bisa diartikan sedang geram akan sesuatu. Ya, sesuatu telah membuat jiwanya meronta. Meronta karena himpitan aneka huru-hara di Negeri My Oh My tercintanya. Sesuatu tentang Istana Yang Sombong dan Tuli.

Dengan tidak berpanjang kata, inilah segenap jelaganya tentang Istana Yang sombong dan Tuli itu. Klik saja bila berkenan kawan. Saya menyingkir dulu. Biasa, melanjutkan aktivitas pagi ini. Sebab dunia terus berputar. Putaran mencari sesuap nasi dan sedikit kebarokahan. Selamat pagi semua.

Sunday, September 19, 2010

Newsoul Tentang "Chicken Soup for The Soul"



Rasanya sejak tahun 90'an seri tulisan Chicken Soup sudah banyak beredar. Tetap saja, saya tidak terlalu akrab dengan jenis tulisan ini. Saya tidak begitu menggemari jenis tulisan Chicken Soup, meski mungkin pernah membacanya. Maka ketika seorang teman, Anazkia, mengajak menulis buku keroyokan dengan jenis tulisan chicken Soup, he saya jadi nyengir kuda. Bingung. Artinya, saya harus mulai mengakrabkan diri dengan jauh jenis tulisan ini.

Tidak semua tulisan yang menggugah atau yang bersifat inspirasi bisa digolongkan sebagai jenis Chicken Soup For The Soul. Seri tulisan ini memiliki lisensi khusus. Rasanya seperti itu. Daripada dilanda penasaran sayapun ke toko buku mencari buku dengan kategori Chicken Soup ini. Tentu saja mudah sekali didapat (Seperti gambar di atas). Di halaman awal saya disambut oleh Puisi Maya Angelou berjudul "Wanita Hebat". Puisi yang membuat saya mual, entah kenapa. Saya buka isinya lebih lanjut. Beberapa tulisan saya baca selintas. Hehe, bahasanya terlalu mendayu-dayu. Buku itu akhirnya saya letakkan. Insyaallah lain waktu akan saya baca.

Kenapa saya mual ? Apa yang salah dengan buku yang saya baca ini ? Apa yang salah dengan pengertian saya tentang "Chicken Soup For The Soul" selama ini. Segera saja saya searching ke wikipedia. Chicken Soup for the Soul adalah sebuah seri buku, biasanya menampilkan kumpulan cerita inspirasional padat dan pendek dan essai motivasi. Lisensi seri ini dikelola oleh Jack Canfield dan Mark Victor Hansen. Disebut Chicken Soup For The Soul, karena jenis tulisan ini ditujukan sebagai penggugah jiwa. Sebagaimana sup ayam (chicken soup) yang sangat baik dan dibutuhkan bagi mereka yang sedang lemah/sakit.

Ya, tidak ada yang salah dengan seri Chicken Soup For The Soul, kecuali gaya tulisannya yang terlalu mendayu-dayu buat saya. Asli, ini karena selera saya memang buruk, haha. Hanya saja secara secara tidak saya sadari mungkin tulisan saya, meski berbeda gayanya, sudah mengarah ke jenis tulisan Chicken Soup For The Soul. Mungkin beberapa teman lain telah sering pula membuat jenis tulisan Chicken Soup For The Soul dengan gayanya masing-masing.

Begitulah sedikit ulasan tentang Chicken Soup For The Soul. Siapapun bisa membuat jenis tulisan ini dengan gayanya masing-masing. Saya, tentu saja ala "Newsoul" dan tidak dengan bahasa yang mendayu-dayu. Sekarang, cari inspirasi dulu ah untuk pesanan Anazkia.

Friday, September 17, 2010

Sajak Pagi Para Ulat


Serupa deru kemarau, dedahan kuranggas
Seperti rintik hujan dedaunan kutebas
Setiupan aku membuatku terhempas
Sejak itu aku bebas lepas

Bila dedaunan tak lagi bersisa
maka kuhempaskan diri di bilah lepas.
tergolek disini hingga kupahami makna bebas lepas
dan kau mentari pagi menerangi dengan sinar membias.

Tuesday, September 14, 2010

Doa Setangkai Ilalang Jalang



Di ketinggian menatap matahari terbenam, setangkai ilalang sedang tersenyum. Senyum lirih dari bisikan paling lirih di muka bumi. Senyum yang tak sekedar senyum. Ia sebuah doa. Doa jalang dari ilalang jalang.

"Tuhan, hentikkan ankara para jalang. Sebab telah banyak ankara ditumpahkan para jalang yang tersesat di muka bumi ini. Ada pendeta berniat membakar Al Qur'an. Ada Oknum yang dianggap muslim menusuk seorang pendeta dan mengganggu peribadatan sebuah gereja. Demi kedamaian di bumimu yang semakin tua ini, hentikan mereka Tuhan....."

Itulah doa paling jalang di muka bumi ini. Doa dari setangkai ilalang jalang. Tapi ilalang jalang itu, mungkin lebih bernyali dibanding para pengecut yang menjadi pemimpin di muka bumi ini. Semoga Dia mengabulkan doa setangkai ilalang jalang itu, amin.

Sunday, September 12, 2010

Serenade Sri Gemurah

Ketika bulan Syawal sudah tanggal tiga, dia terlihat muram. Wajahnya kosong. Tatapannya hampa walau ia selalu tersenyum. Diam-diam daun jambu yang bayangannya jatuh di kolam menatapnya tanpa berkedip. Suasana sepi meski tak mencekam. Sri Gemurah, nama asal saja yang diberikan si daun jambu, sedang bertekuk lutut di dalam kamarnya.

Sri Gemurah gundah. Usia sudah meninggi, idaman hati belum juga pasti. Sri Gemurah menghela nafas jengah. Tak berapa lama, Sri Gemurah menarik tas sandang mungilnya. Tepat ketika "Ping" pesan ponsel Ontarionya bergema. Teman-temannya mengajak melatih pita suara di rumah karaoke langganan. Senyumnya segera mengembang. Senyum bahagiakah ? Entahlah.

Aduhai, Sri Gemurah dadanya bergemuruh. Mengapakah kau begitu rumit, tanya si daun jambu. Akankah terus kau kibarkan targetmu atas sang idaman. Lelaki tampan, kaya, dan lembut....??? Bukankah sang idaman sejatinya tak bisa ditarget serupa itu. Berdoa sajalah agar Dia memilihkan orang yang tepat untuk berada di sisimu. Berdoalah yang ikhlas. Berlakulah tulus dan Ikhlas. Dengan begitu langkahmu akan menjadi lebih ringan dan kau akan terlihat bersahaja.

Begitulah nyanyi sunyi si daun jambu. He, entah kenapa terdengar bak serenade malam untuk Sri Gemurah. Apakah Sri Gemurah paham makna "Laku tulus dan bersahaja"......??? Sekali lagi, entahlah.

Thursday, September 9, 2010

Menyongsong Sang Fitri


Ufuk timur masih gelap di tempat saya berdiri. Tapi sebentar lagi matahari akan menyembul dari balik pepohonan. Hari yang bergerak sangat cepat. Tidak terasa, besok Sang Fitri kan tiba. Meski kemarin kantor memberi dispensasi boleh pulang siang tadi, tetap saja ini hari terasa bak melompat. Seakan waktu yang ada tak cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Urusan yang itu belum beres, urusan yang lain sudah menanti. Beginilah hari-hari menjelang kedatangan Sang fitri.

Sang Fitri sebentar lagi kan tiba. Anak-anak sudah girang dengan persiapan baju barunya. Para ibu, sibuk berkutat dengan segala persiapan menyongsong Sang Fitri ini. Kue kering, meski hanya seadanya tetap perlu dipersiapkan. Saya, he, cukup beli saja. Selain itu, kue basah (maksuba, lapis legit, dan delapan jam) juga perlu dibuat. Nah yang ini saya kami buat sendiri, minta tolong adik saya. Ketika kue kering sudah tersusun rapi di toples barulah memikirkan kue basahnya. Cukup menyibukkan.

Maka jangan heran bila fisik semakin lelah. Untunglah masih bisa diatur agar persiapannya sederhana dan praktis. Biasanya saya mulai sangat sibuk mulai hari ke-3 menjelang kedatangan Sang Fitri. Karena kue kering dan basah sudah selesai. Hari ini tinggal mempersiapkan ketupat dan aneka gulainya. Pempek, alhamdulillah, ada kakak saya yang mengantarkan pempek.

Begitulah kesibukan menyongsong kedatangan Sang Fitri. Semoga saat tiba Idul Fitri besok kami sekeluarga masih diberi kesehatan dan karunia. Begitu pula anda sekalian. Semoga Sang Fitri membawa kebarokahan buat kita semua. Selamat menyongsong Idul Fitri 1 Syawal 1431 H. Dari lubuk hati yang paling dalam, kami sekeluarga mengucapkan "Maaf lahir dan Bathin".

Tuesday, September 7, 2010

Seribu Tulisan

Seribu cinta membersit
Seribu kasih di mayapada
Seribu getaran langit
Seribu gelombang rasa

Ketika dihadapkan pada angka seribu (1.000) maka yang ada di benak saya adalah sebuah angka yang besar. Seribu malam, banyak malamnya. Seribu puisi, hm puisi yang banyak. Seribu bulan, hm malam Lailatul Qadar. Seribu, bukanlah sekedar angka. Ia sebuah pencapaian yang panjang.

Begitupun dengan makna seribu postingan. Sebuah proses yang menggetarkan dan memakan waktu yang lama. Itulah makna seribu postingan dari sahabat blogger kita, Sang Cerpenis, yang beberapa waktu lalu merayakan postingan ke-1000. Seribu (1.000) tulisan, hebat. Dan beliau memberikan kita award indah ini.



Terimaksih sobat. Semoga semangat seribu postingan itu menular hingga sayapun mampu mencapai seribu postingan. Bagi saya, jika saya mencapainya, semoga itu seribu tulisan yang melegakan hati nurani. Sudah berapakah tulisan anda ?

Sunday, September 5, 2010

Akankah Bang Toyib Pulang Lebaran ini ....???


Bila burung saja pulang ke sarang ketika senja sebelum lebaran, apalagi kita manusia. Maka, akankah Bang Toyib pulang lebaran ini....??? entahlah. Semoga saja. Tulisan ini adalah repost dari tulisan saya yang dimuat di Kompasiana (dengan judul yang sama, disini/ tanggal 18 Agustus 2010). Semoga bermanfaat.

Lebaran masih beberapa hari lagi, entah kenapa tiba-tiba saja saya teringat Bang Toyib. Padahal, he, kenal juga tidak. Ya, Bang Toyib, tokoh antah berantah perantau yang sudah 3 kali lebaran tidak pulang-pulang. Setiap kali bulan Ramadhan dan lebaran, nama Bang Totib begitu fenomenal.

Saya jadi ingat lagi lagunya,

“Tiga kali puasa, tiga kali lebaran, abang tak pulang-pulang sepucuk surat tak datang….”

Owh, lagu yang sungguh mendayu-dayu sekaligus lucu.

Seketika lagu itu mengingatkan saya juga pada lagu Kucing Garong dan Keong Racun. Begitulah tokoh antah berantah yang ada di lagu-lagu lucu kita. Siapapun mereka, marilah kita doakan agar Bang Toyib juga para kucing garong dan keong racun dapat merasakan lebaran yang syahdu bersama keluarga. Siapapun yang memiliki kemiripan karakter seperti mereka, baik laki-laki maupun perempuan, semoga ramadhan tahun ini bisa sedikit membukakan mati hati mereka. Semoga saja.

Akankah Bang Toyib pulang lebaran nanti ? Entahlah. Sangat tergantung bagaimana mereka meramadhankan jiwa mereka. Bila ramadhan kali ini mampu meramadhankan jiwa mereka, mungkin saja. Apapun jawabannya, mari kita berdoa agar para Bang Toyib pulang lebaran ini.


Saturday, September 4, 2010

Lingkaran Kehilangan dan Diketemukan

Sedang hujan disini. Lumayan deras bak tangisan langit. Hujan yang seperti membuka keinginan saya untuk menulis. Baiklah, selagi niat itu terbuka tentu saja ia harus dipenuhi. Tak memakan waktu lama, sayapun sudah di hadapan laptop butut ini.

Ini tentang sebuah lingkaran. Lingkaran Kehilangan dan diketemukan. Konon, begitulah perjalanan aneka dzat dan ma'rifat di dunia fana ini. Tidak ada sesuatu yang benar-benar hilang melainkan ia akan ditemukan, meski ditemukan oleh orang lain. Persis di sebuah titik hingga merangkai sebuah lingkaran sebagaimana siklus kehidupan.

Ketika kita kehilangan benda kesayangan kita, hakekatnya benda itu tidaklah hilang. Entah kapan dan dimana Ia akan ditemukan oleh orang lain. Bahkan ketika kita dengan sengaja menghilangkan sesuatu yang menjadi milik kita (dengan kata lain membuangnya), itupun tidak akan benar-benar hilang. Entah kapan dan dimana, akan ada yang memungutnya. Bukankah begitu kawan.

Maka hal yang harus kita ingat adalah jangan dengan sengaja membuat orang lain secara terpaksa kehilangan sesuatu yang menjadi miliknya. He, itu namanya merampok milik orang lain. Jangan memungut benda atau sesuatu yang masih menjadi milik orang lain, itu namanya mencuri. Tentu saja kehilangan yang seperti itu akan menimbulkan rasa tidak enak, tidak ikhlas pemiliknya. Hanya......, bila kita kembalikan lagi bahwa semua benda/dzat yang menjadi milik kita adalah titipanNya, maka siapapun tentu harus bersiap-siap bahwa sewaktu-waktu akan kehilangan hal/benda yang menjadi miliknya.

Inilah sedikit renungan singkat tentang lingkaran kehilangan dan diketemukan. Sebuah renungan yang sudah lama mengendap di kepala. Untunglah hujan ini membantu saya mengeluarkannya. Lumayan plong. Terimakasih pada hujan deras yang mengguyur kota saya hingga telah membukakan endapan renungan ini. Bila berkenan, silahkan pula direnungkan. Selamat sore kawan.

Friday, September 3, 2010

Lugu


Aku lugu, lebih dari yang kau kira
aku tak tau banyak hal yang sangat kau tau
tetap saja, aku tak ingin tau
sebab itulah aku lugu, bahkan lebih dari yang kukira

Begitulah keluguan beberapa tangkai ranting yang menjuntai ke udara. Baru saja ia bergesah pada saya. Ia mendengar banyak hal yang berputar di udara, tetap saja ia tak tau. Keluguan yang dibaluti kesombongankah ? Entahlah. Sepanjang yang saya tau keluguannya tetap saja indah. Sebab itu keluguan berbalutkan kebersahajaan. Sesuatu yang saya suka.

He, kadang rasanya ingin jadi lugu saja. Lugu untuk tidak tau apa-apa gonjang-gonjang di negeri tercinta. Dengan begitu tidak memusingkan kepala ini. Andai saja bisa. Dan bila ketenangan di negeri tercinta ini identik dengan keluguan, maka marilah kita melugu (menjadi lugu) saja, hehe. Selamat sore ranting lugu. Salam takzim saya padamu.

Wednesday, September 1, 2010

Secawan Kopi Panas dan Sepasang Kelopak Mata Berkantung

Aku secawan kopi panas
matamu berkantung
aku kepulkan asap
wajahmu kuyu

Cawanku menatapmu lekat
kau masih saja kuyu
ketika ku tandas tak bersisa
kelopak matamu masih berkantung

Telah beribu cawankah aku kau teguk hingga kelopak matamu berkantung...???
Telah beribu jelagakah menusuk pandangan hingga wajahmu kuyu...???
Telah berjuta nestapakah kau rasa hingga kau tampak tak ber"asa"...???
Telah latahkah dirimu dirimu hingga tak mampu tuk sekedar berjeda....???

Maaf, cuma pertanyaan bodoh dari si kopi panas yang tak paham makna mata berkantungmu.

Menelusuri Rempah/ Bumbu Pada Kuliner Sumatera Selatan

Sumber Foto : faktualnews.com Jika rempah-rempah adalah daya tarik atau pemikat datangnya Portugis dan Belanda ke Indonesia pada zama...