Search This Blog

Friday, July 30, 2010

Sajak Tepian Pagi



Sepi dan heningmu kukoyak
tadi sekali ketika fajar menyeruak

Kau bergeming pada kabutmu
menepi sambil tersenyum dibalik embun

Pada tepianmu aku tertawan
menyerah pada beningmu yang menawan

Aku milikmu wahai pagi
sebelum mentari membuatku kelu, biarkan aku menyepi

Monday, July 26, 2010

Newsoul Tentang Three Cups of Tea


Akhirnya pada sore menjelang senja, setelah berkutat lebih dari 24 jam, selesai juga saya menuntaskan buku Three Cups of Tea. Tidak dengan sekali tegakkan kepala melainkan harus berulang kali. Ya, saya harus berjuang maha hebat dengan beberapa kali meletakkan buku itu lalu menerawang memandang rumput hijau dan senja yang menghiasi langit kota saya.

Saturday, July 24, 2010

"Three Cups of Tea" Dari Balik Secangkir Kopi


Entah kenapa belum tuntas juga Three Cups Of Tea itu. Padahal sudah lama ia di hadapan saya. Sudah hampir 3 (tiga) minggu, bayangkan. Kalau itu teh betulan,pasti sudah basi ya, hehe. Tentu saja dia tidak basi sebab Three Cup of Tea berupa buku. Buku best seller, kata labelnya, yang sudah 3 minggu saya comot dari perpustakaan rumah kakak saya.

"Bagus gak yuk..?" tanya saya pada kakak ipar saya
"Bagus soul. Sangat bagus, baca deh" begitu jawab kakak ipar saya dengan sangat meyakinkan. Jadilah buku itu masuk kedalam tas saya bersama buku Kite Runner pada sebuah sore yang hangat, sepulang saya dari tempat kerja.

Maka pagi menjelang siang yang berangin ini saya pandangi lagi buku itu dari balik secangkir kopi saya. Hm, tetap saja mood saya belum tergerak. Ada apakah dengan sesuatu yang disebut "Mood" ini ? Rasanya tidak ada yang salah, kecuali rasa malas saat memandang buku itu begitu tebal, hiks. Akhirnya, tentu saja Three Cups of Tea itu masih gelap. Ya gelap sebab belum saya baca.

Begitulah. Dari balik secangkir kopi saya melihat sebuah buku yang sangat tebal, dan........sosok gadis cilik yang entah kenapa sinar mata dan wajahnya saya suka. Seperti ananda yang yang pernah hadir di mimpi saya. Malaikat kecil yang matanya bulatnya begitu indah. Baiklah malaikat kecil beri saya waktu sedikit lagi. Mungkin sore nanti. Ya nanti sore akan saya tuntaskan Three Cups of Tea ini dalam sekali tegakkan kepala. Bagaimana menurutmu kawan.....?

(Bersambung................... )

Friday, July 23, 2010

Anugrah Yang Harus Dijaga

Gerangan apakah yang membuat sang anak dilahirkan ke dunia.....? Sebuah tanya menganga padanya. Tentu bukan sekedar memenuhi takdirnya. Ya, sebuah proses yang didalamnya ada tanggung jawab juga kasih sayang. Begitulah sedikit gesah seseorang ketika ingat bahwa hari ini adalah Hari Anak Nasional.

Selamat Hari Anak Nasional. Semoga moment ini makin memberi pencerahan kepada para orang tua bahwa anak adalah anugrahNya yang harus dijaga. Jangan sia-siakan anak-anak kita. Jangan terlantarkan anak-anak kita. Jangan mengejar kebahagiaan diri sendiri tanpa memikirkan kebahagiaan anak-anak.

Dasarnya adalah cinta dan kasih sayang. Dengan cinta dan kasih sayang, kita akan selalu menjaga dan merawat anak-anak kita. Kita akan memberinya pendidikan yang baik. Bahkan Imunisasi jiwa berupa pendidikan ahlak dan agama yang mencukupi agar anak-anak kita memiliki jiwa yang bersih tanpa kontaminasi.

Ya anak adalah anugrah yang harus dijaga, disayangi dan dilindungi. Sebab padanya ada sumber cinta yang terus mengalir. Sebagaimana janji saya pada ssahabat saya, bang Iwan, posting ini saya turunkankan sambal berharap semoga anak-anak Indonesia dapat mencapai kondisi yang baik, kondisi yang sesuai dengan kebutuhan masa kanak-kanaknya.


Tuesday, July 20, 2010

Luwak, Ketika Sang Pengerat Menaikkan Harga Kopi


Dia sedang berbaring membayangkan nikmatnya secangkir kopi luwak. Hm, luwak. Luwak.Luwak. Rasanya bukan nama yang asing. Ingatannyapun menggelinding pada kisah masa kecilnya dulu. Ya, dalam keluarganya kopi luwak bukanlah hal yang asing. Kakeknya sering mendapat kiriman kopi luwak dari keluarga mereka di tiuh (desa dalam bahasa ibunya). Ibunyapun sering menceritakan tentang proses pembuatan kopi luwak yang konon maha nikmat itu dan mahal harganya. Begitulah. Ingatan tentang kopi luwak itupun meluntur seiring waktu hingga berita tentang fatwa MUI seputar kopi luwak mengemuka di televisi.

He, jadi merasa aneh kalau MUI jadi sibuk berkutat mengeluarkan fatwa tentang kopi luwak. Apa pengetahuan mereka tentang kopi luwak itu minim sehingga harus lewat serangkaian penelitian baru mengeluarkan fatwa halal.

Ia mengernyitkan dahi. Bila hewan saja begitu besar andilnya membantu petani kopi, kenapa kita manusia malah hanya repot berdebat. Luwak saja berjuang keras menaikkan harkat kopi kampung kita sehingga seluruh dunia mencari kopi luwak kita, kenapa kita tidak. Jadi mari pupulerkan kopi luwak kita. Mari meluwak.

Monday, July 19, 2010

Tiga Kuntum Mawar


Seseorang sedang terbungkuk menatap seonggok tanaman dengan batang berduri, tepat ketika secangkir kopinya tandas. Tanaman itu tengah berbunga, bunga yang disebut orang sebagai "Mawar". Kuntum bunga yang indah. Jumlahnya tiga. Ya tiga kuntum mawar.

Senyumnyapun mengembang demi menatap tiga kuntum mawarnya. Ternyata hari ini tanggal 3. Tiga kuntum mawar itu seolah menyambut tanggal hari ini. Iapun tergelak. Mawarpun peka rupanya, hehe. Kebetulan yang menyenangkan.

Maka kepada siapakah tiga kuntum mawar ini akan dipersembahkan...? Sebuah tanya muncul begitu saja di benaknya. Sambil menatap tiga kuntum mawar itu, ia merenung hingga menemukan jawabannya.

Kuntum pertama, akan kuberikan pada seorang yang menurutku paling membutuhkannya. Perempuan baik hati tapi pemurung, di kantornya. Semoga sekuntum mawar itu akan cukup menghiburnya dan membuatnya tersenyum. Iapun memotong kuntum pertama mawar tersebut.

Kuntum kedua, akan kuberikan kepada ibuku. Ibu, perempuan paling berjasa dalam hidupku. Darahku berasal darinya. Seperti itulah ia sering berujar. Pasti ibuku kan bahagia. Sebelum ke kantor nanti akan kuhantarkan sekuntum mawar ini ke makam ibuku desisnya sambil memetik kuntum kedua dari sang mawar.

Kuntum ketiga....., ia masih memikirkannya sambil tangannya menyentuh kuntum terakhir mawar tersebut. Tiba-tiba, aduh!, ia berteriak kecil. Rupanya duri sang mawar telah menusuknya. Tusukan kecil yang membuat gerakan tangannya terhenti. Ia amati lagi kuntum terkahir bunga mawar itu. Sekuntum mawar yang terlihat memelas. Seperti sedang berkata,

"Aku untukmu. Kau membutuhkan harumku juga ronaku. Biarkanlah tetap disini mengharumi halamanmu. Memberi indah sampai aku layu..."

Kata-kata yang seketika membuat gunting tanaman yang tadi berada di tangannya kini terjatuh. Ia tak mengerti. Mungkin tak perlu ia mengerti. Hanya sebuah pesan yang mungkin dittiipkan langit lewat sang mawar untuknya. Sepertinya mengingatkan dirinya sendiri. Bahwa diapun memerlukan wangi juga senyum indah sang mawar. Setidaknya untuk memberi wangi dan menambah seri jagad halamannya ini. Begitulah kejadian di salah satu sudut bumi, tepat pada tanggal tiga, he, lupa bulannya. Selamat pagi.

Gambar diambil dari sini

Saturday, July 17, 2010

Teri Dibalik Rempeyek


Pagi tiba lagi. Pagi yang meriap-riap dengan sinar mentari di ufuk timur dan serangkaian kicau burung (entah burung jenis apa). Pagi yang meriah dengan secangkir kopi dan sepiring nasi goreng, dan, he, sepiring rempeyek. Rempeyek yang berseri. Sebab dibalik rempeyek ada teri.

Teri dibalik rempeyek yang tiba-tiba sudah dihadapannya. Teri yang sudah luluh lantak mengelana di jagad ini hingga ia berada dibalik rempeyek dan tiba padanya. Teri yang seolah berkata,

"Aku menyusup ke dalam dunia mengelana di lautan dan di daratan hingga berada dibalik rempeyek ini untuk memeriahkan "rasa"mu. Renyahku, untuk lengkapi "rasa"mu. Kau, meriahkanlah semestamu dengan "rasa"mu. Sebab rasa membuat hidup lebih berwarna. Rasa yang bisa memberi renyah, indah dan damai semesta ini.

Diapun tertegun. Hm, pesan teri dibalik rempeyek yang patut direnungkan. Entah dia memahami atau tidak dengan pesan itu, kelihatannya "rasa"nya mulai terlengkapi dan makin meriah. Terlihat dari caranya menyantap nasi goreng yang penuh semangat, dengan kriuk-kriuk rempeyek teri itu, hehe.

Ya, teri dibalik rempeyek. Dibalik sesuatu ada sesuatu. Sesuatu yang membuatnya menjadi berbeda. Berbeda yang membuat dunia menjadi meriah. Semoga meriah yang indah dan bermanfaat. Maka tepiskan curiga dari pemeo lama seputar sesuatu dibalik rempeyek. Mari berseri. Selamat pagi semua.

Wednesday, July 14, 2010

Pekat......!

Bukankah siang belumlah waktu yang pekat sebab ia baru sepertiga hari. Tetapi, entah kenapa, siang ini dia merasa pekat. Ya, dia yang sedang memekat. Segala yang dilihatnya menjadi pekat. Secangkir kopi jam 6 pagi tadi, pekat. Segelas jus mangga, terlihat pekat. Semangkuk kecil cuka pempek, pekat juga. Dan, sekitar jam 10 tadi, semangkuk mie celor, he, pekat rasanya. Pekat tapi nikmat. Ya, segalanya menjadi pekat.

Dunia dalam kepekatan. Kepekatan yang tiba-tiba seperti memeluknya begitu erat. Erat yang juga pekat. Ya kau sang pekat, iringi saja langkahku agar memekat rasanya. Rasa yang kutoreh dengan sedikit keringat bahkan setetesan air mata. Sebab hidup adalah perjuangan. Dan Perjuangan adalah sebuah kepekatan. Pekat yang mengkristal dari segala rasa.

Kau, memekatkah rasamu.....? sebuah tanya muncul begitu saja di benaknya, entah kepada siapa. Tentu saja tak ada jawaban. Cuma setiupan sepoi dingin yang dirasakannya. He, itu jawaban tak berbentuk si Angin Selatan, seperti biasa bila ia enggan. Enggan itu, ah itu kepekatan juga. Diapun berdamai dengan sang pekat sambil berbisik, selamat siang kawan .....!

Tuesday, July 13, 2010

Kebahagiaan dan Kedamaian Ala Dalai Lama


Jauh dari tempat saya berdiri, di sudut Dharamsala, diantara dentingan genta, Sang Dalai Lama kembali menghembuskan pesannya. Pesan tentang kebahagiaan dan kedamaian. Katanya, bahagia sejati adalah soal kepuasan sejati dalam hidup. Maka untuk mendapat kepuasan sejati hidup kita haruslah bermakna. Hidup yang bermakna adalah apabila hidup kita memberikan manfaat bagi orang-orang di sekitar kita.

Begitulah pesan Dalai Lama. He, entah kenapa saya seperti ditarik untuk mendengarkan pesannya. Ketika kemarin lusa sahabat saya memberitahukan akan ada wawancara ekslusif Desi Anwar dengan Dalai Lama di salah satu stasiun tv kita, kesempatan itu tentu saja tidak saya sia-siakan. Sebuah moment yang seperti telah memesan ruangnya untuk saya hampiri.

Ya, kita adalah manusia berjumlah sekitar 6 milyard yang menghuni planet bernama"Bumi", hakekatnya adalah sama. Bagaimana kita memberi ruang poada diri kita senndiri untuk memberi makna pada kehidupan ini sebagai ruang tempat kita berinteraksi dengan harmoni. Bahwa berbeda agama, suku/ras, pendidikan, latar belakang, adalah sesuatu yang memperkaya dan memberi warna indah pada semesta. barulah kedamaian akan tercipta. Bukankah begitu kawan.....?

Sunday, July 11, 2010

Sarang Wati

Kemanakah Wati pulang mengistirahatkan raga bila senja telah menjelang......? Begitulah tanya handai taulan pada sang Wati. Maka sang Watipun menjawab, ke sarangku, Sarang Wati. He, jangan anggap Wati sebagai seekor burung. Dia gadis jelita, primadona pada zamannya. Rumahnya tepat di pinggir jalan sebuah kota. Agak menjorok ke belakang dengan undakkan tanah yang lebih tinggi, sebuah paviliun rumah tersebut berdiri dengan megah bertuliskan "Sarang Wati". Itulah kamar Wati si gadis jelita.

Tanpa sengaja, kemarin, saya melintas tepat di hadapan rumah dengan paviliun bertuliskan "Sarag wati" itu. Memandangnya lagi, hm, melahirkan sejuta kenangan. Betapa tidak, ketika kecil dulu saya mengangankan memiliki kamar seperti sang Wati. Sering minta pada orang tua saya agar dibuatkan kamar khusus bertuliskan "Sarang Newsoul", hehe. Keinginan yang tidak tercapai. Dan ketika melintas di depan "Sarang Wati" tersebut, ingatan itu muncul lagi. Sayang rumah dengan paviliun "Sarang Wati" itu kini dalam kondisi tidak terawat. Menimbulkan rasa prihatin memandangnya.

Maka kemanakah sang wati....? Pertanyaan yang tak saya miliki jawabannya. Wat, Wati, Wati..., ah saya ingat, beliau sebaya dengan kakak perempuan saya yang nomor satu. Saya ingat-ingat lagi rasanya ketika SD saya pernah sekelas dengan adiknya, Dewi (Entah kenapa saya pernah sekelas dengan Dewi, padahal Dewi ketika itu usianya jauh di atas kami teman sekelasnya). Sayang sekali saya putus kontak dengan Dewi. Sayapun kehilangan jejak sang Wati.

Sarang Wati masih saya pandangi. Pohon-pohon tinggi menutupi paviliun itu, untung masih bisa terbaca tulisan "Sarang Wati"nya. Kelihatannya keluarga itu sudah tidak lagi berada di sana. Rumah itu sangat tidak terawat. Bagian kiri rumah dihuni oleh yang menunggu rumah utama, memberi pemandangan jemuran pakaian semrawut yang membuat mata saya tak nyaman.

Beginilah bila sebuah keindahan tidak dirawat dengan baik. Menimbulkan goresan pada keinangan indah yang pernah ada. Seperti hempasan ombak yang mengggelegar di pantai, sebuah pertanyaan tiba-tiba saja menganga di benak saya. Sarang Wati, dimanakah tuanmu (Wati) berada kini....?

Friday, July 9, 2010

Seringai Sang Absurd

Ketika pagi menyingsing tadi, dia melintas sambil tersenyum di depan saya. Entah sudah berapa lama dia tersenyum. Senyum dengan gayanya yang khas. Senyum dengan sunggingan di kedua sudut bibir yang seperti menyeringai. Senyuman seseorang yang menganggap dunia hanya sebagai panggung absurditas. Begitulah kira-kira pikiran sang absurd yang selalu pesimis dan agak sinis pada dunia. He, bagi saya dia memang sedikit aneh.

Malas memikirkannya. Lebih enak menganggap kehadirannya juga sebagai sebuah hal yang abdsurd. Dia absurd, maka tentu senyumnyapun absurd. Bila kita tulus dan optimis, maka tentu kita menatap semesta ini juga sebagai sebuah kenyataan yang patut digeluti dengan perbuatan nyata yang tulus. Entah berbuahkan sukses atau belum, itu perkara lain.

Kini, ketika tiba di ruangan kerja saya, dan membuka laptop butut ini, tiba-tiba saja ingin menuliskan senyum sang absurd yang sering menyeringai itu. Paling tidak bisul saya bisa pecah, hehe. Setelahnya, ya biarkanlah dia dengan seringainya itu. Saya ingin tersenyum nyata saja. Senyum yang memang karena saya ingin tersenyum. Sebab kita adalah apa yang kita pikirkan. Sebab dunia, meski fana, layak digeluti dengan perjuangan tulus yang nyata. Kau, apakah seringaimu absurd.......?

Tuesday, July 6, 2010

Senyum Bermandikan Cahaya

Senyumnya indah. Tak kenal lelah. Tak ada nestapa. Tak pernah berpaling. Senyum bermandikan cahaya. Cahaya sepanjang hari. Bahkan ketika kegelapan hampir tiba.

Begitulah dia, sang mawar merah muda di halaman muka. Dia yang pertama kali menyapa saat seseorang keluar halaman rumahnya. Dan dia pula yang menyapa dengan senyum manis ketika seseorang itu pulang kembali ke rumah, melalui halaman muka lagi. Senyum sang mawar merah muda seperti meluluhlantakkan segala lelah. He, seperti melayang di awan saat memandangnya. Tiba-tiba teringat penggalan syair lagu "Mawar Merah" Vina Panduwinata,

Oh bunga mawar merah.
mereguk air bumi
bermandikan sindar mentari...

Oh bunga mawar merah.
walau nanti kau layu
namun harummu tetap abadi
harummu abad
harummu tetap abadi
harummu abadi......

Lagu yang cukup pas maknanya saat memandang senyum sang mawar merah muda. Maka, he, mari abadikan senyum kita. Seperti senyum sang bunga yang bermandikan cahaya. Selamat pagi semua.

Sunday, July 4, 2010

Jangan Terlantarkan Mereka

Tak sengaja dia menonton televisi. Sebuah Berita tentang 4 anak yang terlantar belum mendapat bantuan pemerintah di rumah kontrakkan mereka yang tidak layak huni. Sang ayah dipenjara karena dilaporkan mencuri. Sedangkan ibu, kabur dengan pria lain (pria yang melaporkan motornya dicuri itu). Dari berita itu pula dia melihat bagaimana keempat kakak-beradik itu melangsungkan hidup mereka. Sang kakak memasak dengan kayu bakar yang bercampur kresek, di dalam rumah. Sang adik menyapu. Ada pula yang mencuci piring.

Entah kenapa saat melihat mereka berempat, dengan mata lugu mereka, begitu lahap menyantap nasi putih dengan telor dadar dalam piring plastik, matanya menjadi berkaca-kaca tanpa ia sadari. Kemanakah keadilan....? Keempat kakak beradik itu menyambung hidup dengan bantuan sembako dari para tetangga. Sementara pemerintah (setempat) yang seharusnya membantu anak-anak terlantar tersebut belum menurunkan tangan saktinya.

Kemanakah kita...? Ya, sebagian besar kita mungkin larut dalam berita Ariel, Luna Maya, dan Cut Tari. Mungkin membahas ketiga trio itu sambil makan sate. Sambil minum secangkir capucinno hangat di sebuah cafe. Atau membicarakannya dalam seminar tentang "Lifestyle Para Artis"...!? Entahlah kawan. Dia yang matanya beraca-kaca itu merasa sangat geram. Ingin rasanya mencari orang tua keempat kakak beradik itu untuk medampratnya. Jangan hanya bisa melahirkan, ulurkan kasih sayangmu untuk anak-anak yang kau lahirkan. Ck.....ck...ck, mohon maaf dia menjadi begitu sentimentil. Selamat pagi semua.

Saturday, July 3, 2010

Jendela Tak Bertuan


Telah lama dia tertegun disana. Ya, disana. Memandangi sebuah jendela yang disebutnya "Jendela Tak Bertuan". Saat itu, sore mendung berangin yang menggugurkan beberapa helai daun mahoni di sisinya. Seperti melengkapi sebuah kekuatan yang menggerakannya untuk berada disana, entah apa.

Jendela Tak Bertuan yang dipandangnya masih seperti bentuknya limabelas tahun yang lalu. Jendela di sisi kanan sebuah rumah. Rumah yang sangat dikenalnya. Ya, sebuah rumah dengan jendela yang dulu selalu menanti untuk memandangi dirinya berjalan kaki pulang dari sekolah.

Seseorang akan setia menantinya melintasi jalannan kecil dari jendela di lantai 2 rumah tersebut. Ketika itu, he, barangkali ini yang disebut insting, ia reflek sedikit mendongak dan melihat seseorang (kebetulan laki-laki) yang sedang memandanginya. Seseorang laki-laki yang akhirnya menganggukkan kepala dengan takzim padanya sambil tersenyum tipis. Sikap yang cukup membuatnya heran. Biasanya remaja lelaki sebayanya akan melambaikan tangan. Atau bahkan turun untuk mengejarnya dan mengajak berkenalan. Tapi laki-laki pemilik jendela itu selalu begitu. Ia dengan sabar menunggunya berjalan pulang sekolah hanya untuk menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis. Seperti itulah selama beberapa bulan

Pada hari ke tujuh bulan ke-3 setelah kejadian rutin itu terjadi, di sebuah harian lokal kotanya ia menemukan sebuah tulisan berupa cerpen yang berjudul "Dia yang Kupandangi Dari jendela". Konyolnya, setelah tuntas membaca cerpen itu, he, dia merasa cerpen itu menceritakan tentang dirinya. Adegan pertemuan dengan memandang dari jendela itu sama persis dengan kejadian yang dia alami. Bagaimana dia berjalan sambil tersenyum ceria. Kadang sedikit berjingkrak sambil mengobrol dengan teman-temannya, persis ditulis dalam cerpen itu. Dia merasa penulis cerpen itu adalah laki-laki yang selalu memandanginya dari jendela sepulangnya dari sekolah. He, untuk gadis lugu seusianya, barangkali wajar dia didera rasa seperti itu. Sebuah rasa aneh yang lalu menjadi sirna dan nyaris terlupakan sejak ia meninggalkan kota ini setamat SMU.

Lima hari yang lalu ia mendapat cuti besar untuk liburan. Kesempatan yang tidak disia-siakannya untuk berlibur ke kota asalnya disini. Entah kenapa dia begitu bersemangat menelusuri jejak lamanya. Termasuk jejaknya berjalan kaki pulang sekolah dulu. Hingga diapun berada di tempatnya menghentikan kendaraannya. Dia seolah digerakkan untuk selalu melintasi jalan itu, rumah itu, hanya untuk memandangi jendela tak bertuannya. Disebutnya Jendela Tak Bertuan sebab sejak kedatangannya ke kota ini, telah lima sore ia berada di posisi dimana seseoorang memandanginya dari jendela sepulang sekolah dulu, jendela itu selalu tertutup. Dan ini adalah hari kelimanya memandangi jendela itu.

Jam yang hampir sama, suasana yang tidak banyak berubah. Sudah lima sore ia menghentikan kendaraannya hanya untuk berlama-lama memandangi jendela itu. Entah mengapa. Sepertinya ia mengharapkan laki-laki pemilik jendela itu akan membuka jendelanya lagi untuk menganggukkan kepala sambil tersenyum tipis padanya seperti dulu. Dan dia baru menyadari bahwa Suasana sore ini agak lain. Sore ini rumah itu cukup ramai. Jendela Tak Bertuannya itu ternyata dibuka, walau cuma sedikit dibuka. Seketika ada perasaan aneh yang memenuhi benaknya. Diapun memberanikan diri untuk mendekati dan memasuki halaman rumah itu.

Akhirnya, terjawablah sudah rasa aneh yang hampir seminggu ini menderanya. Pemilik Jendela Tak Bertuan itu berpulang. Berpulang ke sang Pemilik Sejati Kehidupam untuk selamanya. Baru siang tadi jenazahnya dibawa ke kota ini lagi. Kecelakaan. Seperti itulah cerita yang didengarnya dari para pelayat. Beberapa celoteh lain dari pelayat sempat pula dia dengar. Hiks, ternyata laki-laki yang berpulang itu memang pemilik Jendela Tak Bertuannya. Seorang penulis yang cukup dikenal. Barangkali dia saja yang tak begitu mengenal sosok kepenulisan laki-laki itu disebabkan kesibukkannnya. Mungkin juga karena dia tak begitu berminat pada dunia kepenulisan.

Beberapa jurus setelahnya, dia nekat memasuki rumah itu dan bergabung dengan para pelayat. Di sudut kiri ruangan tempat jenazah disemayamkan, di sebuah meja kecil, tersusun beberapa buku hasil karya sang pemilik jendela. Salah satu sempat ia buka-buka. Sebuah Kumpulan Cerpen. Di dalamnya ada cerpen yang dulu pernah dibacanya dimuat di harian lokal kotanya limabelas tahun yang lalu, "Dia yang Kupandangi Dari Jendela". Di bawah penutup cerpen tersebut, ada sebuah tulisan kecil dengan warna gelap. Teruntuk Soelistya, seseorang yang sangat mirip Alm.istriku. Ya, Soelistya adalah namanya.

Betapa semuanya terasa aneh baginya. Cuti panjang yang telah membawanya pulang kembali ke kotanya. Perasaan aneh yang seperti menuntunnya untuk rela selama lima sore memandangi Jendela Tak Bertuannya itu. Ternyata semuanya untuk menggiringnya berada di sore ini, dan menemukannya dengan kejadian ini. Akhir dari kisah sang pemilik jendela. Betapa hidup adalah sebuah misteri.


Palembang, 02 Juli 2010

Thursday, July 1, 2010

Ilalang Menyikapi Moralitas dan Budaya Bangsa

Dini hari yang dingin menghantarkan saya berkutat dengan tema "Menyoal Moralitas dan Budaya". Hal pertama yang mengganggu di benak saya adalah kata "Menyoal". Tetapi, karena sudah sepakat dengan penggagas ide (Trimatra) maka sayapun sepakat dengan beliau. Tidak pada persoalan batas antara moralitas dan budaya timur dan barat, tapi lebih kepada bagaimana kita melihat masalah ini sebagai sesuatu yang membumi secara universal (ketika kita berinteraksi di dunia fana ini) tanpa kita harus kehilangan jati diri kita.

Ya, bagi saya pribadi hakekatnya barat dan timur itu intinya sama saja. Sama-sama bertujuan akhir mensejahterakan umat manusia. Bila moralitas dan budaya barat lebih menekankan pada kebebasan berpikir dan bertindak secara bertanggung jawab, maka moralitas dan budaya timur pada kesantunan ketimurannya. Dan jati diri budaya kita tidak sekedar pada hal-hal yang sifatnya artificial, sekedar memakai batik, bangga pada wayang, songket, dan sebagainya.

Kembali ke ide bagaimana kita melihat masalah ini sebagai sesuatu yang membumi secara universal tanpa kita harus kehilangan jati diri kita. Saya kira ini soal mengawinkan ide dan soul Barat dan timur tersebut. Secara pribadi saya bangga dengan budaya Sumatera Selatan yang saya miliki. Bagaimana saya dibesarkan dengan legenda Si Mata Empat dan si Pahit Lidah. Anak perempuan harus hormat dan segan kepada saudara laki-lakinya. Saudara laki-laki harus menyayangi dan menjaga saudara perempuannya. Perempuan harus tegar (ini adat budaya komering ala orang tua saya). Kalau datang ke pesta sesekali menggunakan songket Palembang. Tiap hari Jum'at saya memakai batik, kadang batik khas Palembang. Di luar itu jiwa saya suka melesat mengembara dengan kebebasan berpikir dan bertindak secara bertanggung jawab milik barat yang sebut di atas, tanpa saya harus mengamalkan ide "freesex", atau prinsip hedonis mereka yang berlebihan. Cara ini tentu saja masih saya akan pilah-pilah mana yang baik untuk saya teruskan kepada anak cucu saya.

Menyikapi moralitas bangsa kita yang akhir-akhir ini, he, memang membuat miris. Sebagian besar masyarakat kita telah kebarat-baratan secara salah kaprah. Lihatlah kasus video porno mirip artis yang sekarang merebak. Mencengangkan dan membuat bergidik. Kalaulah hal tersebut disebabkan mereka mengamalkan budaya "freesex" barat, itu karena pengamalannya setengah-setengah. Hanya mau melakukan kebebasan berpikir dan bertindak tapi tidak dilakukan secara bertanggung jawab. Melakukan freesex, tapi masih malu untuk mengakui. Tidak siap dengan resiko yang akan dihadapi. Ini juga akibat budaya"malu" timur kita yang diteggakkan tidak pada tempatnya. Berani berbuat tapi malu mengakui.

Tapi.....ya seperti kita ketahui bersama urusan moral adalah urusan pribadi masing-masing kita. Faktanya, mau tidak mau kita semua (masyarakat, pemerintah, lembaga/institusi swasta), harus juga memikirkan hal ini. Bagaimana membekali anak-anak kita dengan bekal moral yang cukup dan kepribadian yang kuat. Hal yang bisa dilakukan lewat kurikulum sekolah, dan bagaimana masyarakat sendiri (hal terkecilnya adalah keluarga) membekali anak-anaknya dengan bimbingan moral agama dan kearifan lokal milik kita. Hal disebut Astri Ivo sebagai Imunisasi Jiwa. Kita bisa kalau kita mau.

Saya tercenung kawan. Pikiran saya tiba-tiba lekat pada sang ilalang. Lihatlah ilalang. Ilalang ada di timur dan barat. Sebagaimana angin akan membawa bunganya melintasi timur dan barat tanpa ia kehilangan akar tempatnya tumbuh. Ia tetap kokoh berada di tempatnya. Tumbuh dengan bersahaja. Ia tegar meski angin selalu bertiup menggoyangnya. Begitulah seharusnya kita mempertahankan jati diri kita.

Pesona Labu Kuning, Menjalar di Tanah dan Merambah di Hati Penggemarnya

Sumber Foto : pixabay.com Dalam bayangan saya akan hari tua. Ada sebuah rumah kayu mungil dengan halaman luas. Pada halaman luas itu ...