Search This Blog

Tuesday, January 31, 2012

Hujan Jatuh Satu Satu, Kunang-kunang di Sembilang

Hujan jatuh satu-satu di luar jendela semalam itu. Tepat saat seseorang menutup catatannya yang menganga di mesin menulisnya. Maka ketika tetes hujan jatuh satu-satu itu, rasanya seperti mendengar teriakan  kelegaan yang ritmis...

Monday, January 23, 2012

Niat Dan Semangat, Kunang-kunang di Sembilang

Adalah ruh yang membuat sebuah tulisan hidup. Maka ruh itu saya usahakan ada di naskah saya. Mona saya hadirkan di setiap nafas saya. Jujur, ini sebuah usaha yang berat. Sebab selain menyelesaikan naskah "Kunang-kunang di Sembilang" ini, kegiatan lain cukup banyak dan cukup menyita waktu.

Tuesday, January 17, 2012

Jakarta Dikepung Macet dan Diancam Banjir, Maka Rosapun Membadai...

He, sungguh ini hari yang indah buat saya. Sebab hari ini saya sudah beberapa kali tersenyum. Maka inilah hikmah hidup di negara besar gemah ripah loh jinawi ini. Rasa bahagia itu, begitu mudah didapat. Bahkan di sudut-sudut hari menjelang gelap tiba.

Friday, January 13, 2012

Mona, Gadis Kecil Dengan Kunang-kunang di Matanya

Seorang perempuan setengah baya sedang duduk di sebuah kursi. Mendung sedang tiba di langit kotanya. Sambil duduk, matanya menatap ke luar jendela. Hinggap di langit mendung yang kini telah berwarna hitam. Sebelah tangannya memegang telpon genggam. Sebelah lagi, membolak-balik buku catatan kecil yang sudah lusuh juga usang.

Saturday, January 7, 2012

Diantara Bajingan Dan Homo, Pilih Mana..?

Maka salahkanlah acara "Stand-up Comedy" di sebuah stasiun televisi hingga seorang perempuan muda, yang oleh orang-orang disebut cewek, berkata bahwa laki-laki itu hanya ada 2. Kalau bukan Homo, ya bajingan. Glek, saya tercekat. Apa iya begitu..? 

Friday, January 6, 2012

J50K, Mengikat Ending dan Konflik Dengan Sinopsis

Lihatlah bakau dan pedada. Meski beda mereka saling menyapa. Saling bergandengan tangan ketika dedaunnya dihembuskan angin itu. Akarnyapun bercengkrama dalam satu belitan di lumpur pantai itu. Sebab angin menyatukan mereka. Sebab lumpur membuat mereka bertemu di tepian pantai itu. Maka apakah beda itu masih miliki maknanya ..? (Kunang-kunang di Sembilang)

Sunday, January 1, 2012

Jon dan Mona, Kunang-Kunang di Sembilang

Ia berjalan menuju pos jaga. Suara air yang memecah bibir pantai di akar bakau dan pedada seolah jadi musik pengiring baginya. Sambil melangkahkan kaki menuju pos jaga, tanpa bisa dicegah angannya terbang. Terbang lagi pada kejadian lama saat ia dan Mona bertemu. 

Kunang-kunang di Sembilang, Lanjutan...

Ombak tak henti membuncah. Sudah 2 jam ombak ini menemaninya. Setiap desah ombak adalah seperti erangan buatnya. Erangan jiwanya yang selalu menyebut nama itu. Mona. Mona. Mona. Betapa Mona telah membelenggunya.

Sebuah Prolog, Kunang-Kunang di Sembilang

Tanjung Lago, April 2011

Seorang laki-laki berjalan sendiri. Langkahnya gontai. Wajahnya, jangan tanya. Seperti menyimpan pertanyaan tak berjawab. Matanya nanar. Di bahunya melekat sebuah ransel hitam. Sambil berjalan, laki-laki itu mengeluarkan telpon genggamnya. Jemarinya menekan huruf demi huruf,

Kepada Blogger Pencuri Resep, Blog Resep Enak Nusantara Dan Lain Sebagainya

Kelakuan lama ya, copy paste punya orang, tulisan lalu ditulis ulang dan diterbitkan di blognya tanpa menyebutkan  sumber. Ya setua hasrat ...