Search This Blog

Sunday, May 31, 2009

Sang Pagi dan Sang Uban


Pagi Hari di Lereng Gungung Dempo, Pagar Alam, Sumatera Selatan

Sarapan pagi telah dibuat, matahari telah menyembul dari pohon kelapa di pojokan rumah tetangga saya, seperti biasa. Saya baru saja mencabuti uban di kepala suami saya, ini tugas rutin saya setiap hari minggu pagi. Capek juga, leher saya agak pegal. Rasanya saya perlu keluar rumah sebentar.

Alam yang indah. Selamat pagi insan dunia, begitu sang pagi menyapa saya pagi ini. Ini pagi saya yang kesekian ribu kali. Hehe, saya lupa menghitungnya. Yang jelas jumlah pagi yang sudah saya lalui kira-kira sama dengan usia saya x 365 hari. Kira-kira seperti itulah. Anda, kalau mau, silahkan menghitung juga. Bagaimana, cukup banyak bukan !? Ya begitulah jumlah pagi yang telah kita lalui.


Entah apa saja yang telah saya dapatkan di pagi hari. Entah apa saja yang sudah saya lalui pada setiap pagi hari yang saya temui. Hm....coba saya ingat-ingat lagi. Rasanya di setiap pagi saya menemukan kesegaran, setiap pagi saya menemukan semangat di awal hari. Perasaan yang sama mungkin dirasakan setiap insan saat sang pagi menyapa. Saat terbangun pagi hari, setelah menggeliat, lalu melakukan stretching panjang, uahhhh, kita merasakan ada semacam energi baru menyapa kita. Lalu sang pagi, dengan sapaan pada sinar mentari nan lembut seakan mengingatkan kita bahwa ini hari ada banyak hal yang harus dilakukan. Bukan begitu ?

Ini pagi, seperti biasa pagi saya yang lainnya, saya minum kopi lagi. Kopi pagi ini terasa jauh lebih nikmat, setelah beberapa hari istirahat tidak ngopi karena flu dan batuk yang mendera saya. Ah, maknyus rasanya. Pagi saya terasa lebih sempurna dengan secangkir kopi. Ya, secangkir kopi menemani sang pagi menyempurnakan pengembaraan jiwa saya. Bedanya Senin sampai dengan jum'at saya minum kopi sekenanya saja, karena harus ngantor. Pada sabtu dan minggu, karena lebih santai, saya ngopi dengan penuh penghayatan. Maknyusnya lebih terasa. Saat sedang ngupi ini, maaf ini istilah slank di kampung saya, tidak sengaja saya menghampiri cermin di dekat meja saya. Sayapun berkaca sejenak. Astaga, saudara-saudara, saya melihat ada beberapa helai rambut di dekat telinga saya yang berwarna putih. Saya perhatikan di dekat kening, hah ada juga. Ya uban, hiks, ternyata beberapa uban halus telah menyembul juga di kepala saya.

Betapa uban rupanya telah tumbuh tanpa saya sadari. Ya, mungkin selagi saya ngupi setiap pagi itu, uban-uban itu tumbuh di kepala saya. He, saya harus tau diri toh, artinya telah begitu banyak pagi yang saya lalui sehingga uban-uban itu merasa berhak untuk menghiasi kepala saya. Kalau dilihat selintas rambut saya masih hitam mengkilat. tapi bila diamati dengan seksama, uban- uban itu telah cukup banyak muncul di kepala saya. Memang tidak kelihatan, karena uban-uban itu halus dan pendek. Dan takkala uban itu saya amati lagi, ah semburat warnanya indah juga. Seperti helaian kembang jambu yang jatuh tidak sengaja di kepala saya. Eksotis juga. Jadi biarkan saja. Saya ngupi saja lagi ya, ah....mantap.

Baiklah tuan dan nyonya uban, silahkan tumbuh di kepala saya bersama pagi indah yang saya rasakan ini. Saya tau kalian sedang mengingatkan saya bahwa saya harus memiliki jiwa yang matang dan terbaharui setiap hari dengan adanya kalian di kepala saya. Terimakasih tuan dan nyonya uban untuk sudah mengingatkan saya. Demikian renungan saya pagi ini saat menemukan uban di kepala saya. Anda pasti punya cerita sendiri tentang pagi, meski mungkin tanpa menemukan uban di kepala anda. Mari kita renungkan bersama.

Saturday, May 30, 2009

Perjalanan


Anda sering melakukan suatu perjalanan ? Bila iya selamat, anda termasuk orang yang beruntung. Hm..perjalanan. Setiap hari saya ke kantor, kecuali Sabtu dan Minggu (juga kalau tidak ada panggilan darurat), itu adalah perjalanan. Namanya perjalanan saya pulang-pergi dari rumah ke kantor. Kadang-kadang saya ke pasar (juga pada sabtu dan minggu), dari rumah menuju pasar. Ini jelas perjalanan juga, judulnya ke pasar. Atau bisa jadi saya seharian di rumah saja, tidak kemana-mana, yaitu pada sabtu dan minggu tadi. Saya berkutat membereskan rumah, mencuci, masak, berkebun, mengupdate blog, hehe. Ini perjalanan juga bagi saya. Judulnya long weekend di rumah saja, hihi (perjalanan, bagi saya, tidak melulu mengenai perpindahan tempat). Anda pernah TK, SD, SMP, SMA, dan seterusnya sampai sekarang, itu perjalanan juga. Judulnya perjalanan pendidikan formal anda. Si x pernah bekerja di perusahaan swasta selama 2 tahun, lalu di instansi A selama 11 tahun, sampai akhirnya berada di tempat kerjanya sekarang, itu adalah perjalanan pekerjaan si x, orang-orang menyebutnya riwayat perkerjaan atau riwayat karir si x.

Begitulah selintas tentang perjalanan. Saya punya pengertian sendiri soal perjalanan ini. Bagi saya perjalanan adalah suatu kegiatan, suatu proses dari sesuatu menuju sesuatu. Dari tidak tahu menjadi tahu. Dari tidak bisa menjadi bisa. Dari belum sukses menjadi sukses, dan seterusnya. Perjalanan adalah kegiatan yang memiliki tujuan tertentu. Tentu saja ada pencapaian akan sesuatu, meski kadang tidak disadari. Perjalanan bagi saya tidak harus mengenai perpindahan tempat. Proses pergulatan pemikiran dalam benak kita dari kita kecil sampai sekarang, itupun sebuah perjalanan. Perjalanan jiwa kita. Mudah-mudahan perjalanan jiwa kita mematangkan kita untuk lebih arif menata hidup. Anda pasti punya pendapat sendiri soal perjalanan ini kan, pastinya begitu. Ya semuanya benar-benar saja. Seperti biasa, saya tidak suka definisi ribet, silahkan menurut pengertian kita masing-masing saja.

Setiap hari, dalam perjalanan saya pulang pergi menuju kantor, saya melewati TPU Kandang Kawat, dekat rumah saya. Setiap melewati tempat itu, saya merasa saya sedang diingatkan bahwa perjalanan saya di dunia fana ini suatu saat nanti akan berakhir juga. Yah, berakhir dalam pusara seperti yang saya lihat di TPU itu. Pertanyaan berikutnya di benak saya adalah sudah siapkah saya menuju kesana ? inilah yang sering saya pikirkan. Tidak ada satupun manusia (normal) yang merasa sudah cukup bekal, siap menuju kesana. Rasanya sebagian besar kita, meski kita tidak takut menuju kematian, merasa belum cukup bekal menuju alam sana. Lalu apa yang harus kita lakukan, saya sering tercenung memikirkan hal tersebut. Saya kira anda juga sering memikirkannya. Dan jawabannya tentu bervariasi menurut kondisi kita masing-masing.

Ibu saya, alhamdulillah beliau masih sehat walau usianya sudah cukup sepuh, sering menasehati kami anak cucunya mengenai hal tersebut. Kira-kira seperti ini : "....berbuatlah apa hal terbaik yang bisa kau buat, lakukan yang terbaik dengan niat tulus. Kasihi sesamamu. Jangan pikirkan surga atau neraka. Berbuat baik, bukan untuk iming-iming surga atau karena takut neraka, tapi karena itulah yang harus kita lakukan. Kehidupan ini hakekatnya adalah sebuah perjalanan, selayaknya sebuah perjalanan persiapkan bekalmu dengan baik, perhatikan pula kondisi kendaraanmu selama dalam perjalanan.....", begitu jawaban beliau. Saya kira jawaban ibu saya sangat masuk akal bagi saya. Saya berusaha menjalankan nasehat beliau, melakukan hal terbaik dengan tulus semampu saya, meski tetap berusaha kritis dan waspada dalam melakukan hal apapun. Inilah sedikit renungan tentang "Perjalanan" sobat. Renungan di weekend saya yang cuma berkutat di rumah saja ini, hehe. Sekali lagi, saya yakin anda pasti punya pengalaman dan pendapat sendiri. Mari kita renungkan bersama.



Friday, May 29, 2009

Sejenak Kilas Balik dan Syukuran Atas PageRank


Orang bijak berkata, sesekali lakukan kilas balik terhadap apa yang sudah kita lakukan agar kita bisa introspeksi diri dan menata diri lebih baik ke depan. Maka sayapun mencoba melakukan hal tersebut. Ini berawal dari kejadian tidak disengaja kemaren sore. Saat mampir ke blog teman yang memiliki Google PageRank (PR) checker, iseng saya mengecek PR blog saya ini, alhamdulillah PR blog saya tidak nol lagi, sudah 3. Rupanya blog acak-acakan yang saya buat tanggal 2 Maret 2009 lalu (hampir 3 bulan) berkat dukungan para sahabat di dunia blogger ini mendapat apresiasi dari Om Google. Meski PR bukanlah segalanya, sama sekali tidak menjadi ukuran kualitas suatu blog, bagi saya ini patut disyukuri. Setidaknya ini bentuk apresiasi rasa syukur saya kepada para sahabat yang selama ini telah mendukung saya. Berkat anda semua, blog sederhana ini telah melesat dari nol menjadi 3 sejak ia dibuat. Untuk Sementara Banner PR Google ini saya pasang agak di depan, bukan untuk menepuk dada tapi untuk menunjukkan kepada para sahabat, inilah hasil kerja keras anda mendukung saya selama ini.


Saya ingat bulan awal saya membuat blog ini, ada banyak sahabat yang begitu rendah hati telah sudi berbagi ruang dengan saya di jagad blogosphere ini meski saya pendatang baru di jagad blogosphere ini. Bahkan mereka tidak segan-segan duluan memajang blog saya (yang PR nya masil nol itu) di blogroll mereka tanpa saya minta. Mereka yang tak terlupakan itu adalah Mbak Fanda, Zumairi, Tisti Rabbani, Jeng Sri, Boykesn, Advintro, Pak Nayel. Lalu bertambah lagi, munculah Sekar Lawu alias Mbak Ayik, Sibaho , duCkY..., AWS_ngofaTIDORE , Ika Rahutami, Itik Bali. Berikutnya ada Mas Wawan, Mellyta, Eri-communicator, Ahmad flamboyant, Antaresa, Putra Sigit, Cak Narto, mbak Penny, Mbak Ernut, Bang Ais si mantan penyamun, dan Mbak Reni. Kalau ada lagi sahabat yang menampilkan blog saya di blogroll mereka, tanpa setahu saya, mohon maaf dan tentu saja terimakasih, dan mohon saya diingatkan. Begitulah dukungan para sahabat terhadap blog sederhana ini. Saya tidak tau apa pertimbangan teman-teman, mungkin mereka melihat kesablengan, hehe maksudnya semangat saya dalam menulis. Apapun itu, saya ucapkan terimakasih serta penghargaan saya yang mendalam terhadap anda semua.

Baiklah kesempatan syukuran ini saya gunakan juga untuk memajang award-award yang telah diberikan oleh beberapa sahabat setia saya. Yang pertama dari sahabat saya yang baik hati dan selalu setia mengunjungi saya, selalu memberikan support dan selalu menghujani saya dengan award yaitu Mbak Fanda (diposting tanggal 8 Mei 2009).





Dari Mbak Fanda lagi (diposting tanggal 16 Mei 2009)




Masih dari Mbak Fanda (Award tanggal 5 Mei 2009) yang memilih saya sebagai salah satu Guest Writter, pada postingannya Ada Apa Menjelang Posting ke-100.

Berikutnya lagi adalah award dari mas Tovarossi (23 Mei 2009) yang membagikan award lewat undangan tasyakuran yang dikirimkannya.


Kemudian lagi award Seti@wan Dirgant@ra (tanggal 24 Mei 2009) yang sering menemani saya ngupi di pagi hari.






Award yang sama dari mas Tovarossi dan Bang Iwan tadi diberikan lagi oleh Mbak Reni yang baik hati dengan blog sangat indah itu (27 Mei 2009) sebagai oleh-oleh beliau dari melakukan perjalanan. Terimakasih mbak Reni.


Berikutnya lagi award dari anak nelayan (maaf sudah lama sekali, tangal 19 Ap0ril 2009). Ini kekhilafan saya, maklum sudah agak tua, pelupa, jadi agak lama menampilkannya.


Juga masih dari Anak nelayan (tanggal 19 Mei 2009) saat saya berkunjung ke blognya.





Begitulah. Award-award di atas saya persembahkan kembali kepada seluruh sahabat saya, baik yang telah sudi menampilkan link blog saya dalam blogroll mereka atau yang belum. Pokoknya kepada siapa saja yang telah sudi berbagi ruang dan hati dengan saya, siapa saja yang mampir ke blog ini memberikan komentar. Silahkan dipilih awardnya mana yang anda belum punya, mana yang anda suka. Akhirnya semoga persahabatan kita di jagad blogosphere ini tetap terus terjalin dengan baik. Mengakhiri tulisan ini, izinkan saya menyitir sebuah ungkapan lama dari kearifan lokal di kampung saya. Manusia yang baik adalah manusia yang membuka hatinya secara tulus kepada dirinya sendiri juga kepada orang-orang di sekitarnya, semoga kita dapat terus menjalankanya.

Wednesday, May 27, 2009

Saat Matamu Telah Sayu



Saat matamu telah sayu, adakah itu pertanda ini hari telah banyak karsa kau cipta ?

Saat matamu telah sayu, adakah itu pertanda ini hari telah banyak jelaga dunia kau renggutkan ?

Saat matamu telah sayu, adakah itu pertanda ini hari telah banyak senyum kerabat kau kuak ?

Saat matamu telah sayu, adakah itu pertanda ini hari telah lelah raga akan kelana dunia ?


Saat matamu telah sayu, adakah itu pertanda kau ingin segera rebahkan segenap jiwa ragamu pada malam yang semakin meninggi ?

Saat matamu telah sayu, adakah itu pertanda...........,

Tiba-tiba saja pertanyaan itu terhenti. Sebuah suara lain muncul dengan nada lelah juga jengah. Rupanya suara si empunya mata:

"Berhentilah bertanya wahai sobat, waktuku tak banyak. Aku hanya ingin pejamkan mata sebab esok telah menanti banyak rencana untuk dijadikan nyata. Biarlah kubawa tanyamu itu dalam mimpiku...". Hening seketika. Tak lama, mata itupun terpejam.



Tuesday, May 26, 2009

Kesabaran Bebek dan Manusia

Bebek adalah mahluk penyabar, begitu pula manusia, katanya. Pernah dengar istilah itu cuek bebek ? Ya rata-rata kita pasti pernah mendengar istilah itu. Apa sih maksudnya ? Sebagian besar kita mungkin akan menjawab cuek bebek adalah sikap tidak perduli pada lingkungan, pokoknya jalan terus apa yang dia lakukan, apa yang dia inginkan tancap saja. Begitulah sebagian kita mengartikan kata cuek bebek.

Nah coba anda perhatikan gambar di atas. Gambar itu saya peroleh dari rekan blogger juga, Zumairi, adinda dari Malaysia. Kata Zumairi gambar itu diforward orang kepadanya. Lalu Zumairi meneruskan gambar itu kepada saya. Sekarang gambar itu sedang anda lihat. Mungkin sebagian anda sudah pernah melihat gambar ini. Saya baru melihatnya setelah diforward Zumairi tadi. Saya agak terkesima dengan gambar itu, makanya saya jadikan bahan postingan saya sore ini.

Baik, kita perhatikan lagi gambar itu. Pertama kali melihatnya, saya senyum-senyum sendiri, lucu melihat bebek anak beranak itu. Betul-betul cuek. Santai saja mereka berjalan beriringan di tengah ramainya lalu lintas. Tidak perduli pada kondisi jalan yang ramai, tidak perduli betapa banyak orang yang ingin bergegas mencapai tujuan, tidak perduli bahwa jalan itu bukan untuk mereka (namanya juga hewan) mereka tetap santai. Busyet kata saya. Lalu ketika melihat ekspresi muka bule yang sampai turun dari mobilnya demi melihat dan memastikan segerombolan bebek itu berlalu dengan aman dari jalan raya, saya betul-betul tidak tahan. Saya ngakak sobat. Betul-betul hiburan sore yang indah untuk saya.

Setelah saya pandang lagi gambar itu, saya jadi heran sendiri kenapa tadi saya tertawa, apakah menurut saya si bule itu bodoh mau-maunya menunggu gerombolan bebek itu lewat ? Meskipun ekspresi si bule itu kelihatan geram (geram ? mungkin hanya menurut saya saja), setidaknya dia sudah sabar sekali mau memberi kesempatan kepada keluarga bebek itu untuk lewat dengan aman dan damai. Sementara kalau di negara kita, taroklah di kota saya, orang-orang jelas tidak mau menunggu si bebek. Paling-paling suara klakson dibesarkan, lalu bebek-bebek itu akan dihalau, diusir dengan hush, hush, hush, supaya cepat berlalu. Atau mungkin lebih parah lagi, ada yang langsung menabraknya.


Bebek memang mahluk penyabar, yang oleh kita sebagian sikap sabar bebek tadi kita sebut sikap cuek, sehingga muncul istilah cuek bebek. Sementara manusia seharusnya lebih sabar dari si bebek, walau tidak boleh secuek bebek itu. Dan sikap positif itu sudah ditunjukkan oleh si bule dalam gambar di atas tadi. Kenapa saya mentertawakan hal positif yang belum tentu mampu saya lakukan ? Saya jadi malu sobat. Demikian renungan saya sore ini, renungan setelah flu agak mereda (berkat doa anda sekalian). Apa yang akan anda lakukan bila segerombolan bebek seperti gambar di atas melintas di depan kendaraan anda (entah roda dua atau roda empat) atau saat anda sedang jalan kaki sekalipun) saat anda sedang terburu-buru ?, mari tuangkan disini.

life is not measured by the number of breaths we take-
but by the moments that take our breath away

Monday, May 25, 2009

Perempuan Di Malam Dengan Serangan Flu Menghebat Itu


Tidak ada yang bisa dilakukan kecuali pasrah, berdamai dengan seluruh rasa tidak enak akibat flu itu. Baru saja berencana weekend bersama suaminya ke kampung halaman mereka, tiba-tiba saja serangan flu tiba padanya. Si suami, karena urusan keluarga yang penting di kampung tidak bisa menunda kepergiannya. Ia, perempuan itu, pasrah tinggal di rumahnya, ah wong cuma flu. Flu di negaranya, di kotanya, apalagi di kampung halamannya, bukan dianggap penyakit serius. Bahkan lebih dari separuh orang di negaranya mengganggap flu bukan penyakit, cuma bersin-bersin dan batuk-batuk kan.

Maka ketika malam tiba dan serangan flu itu menghebat, perempuan itu menikmati dengan sepenuh hati segenap gejala tidak enak yang ia rasakan. Kepala pusing, cekot-cekot, gigi ngilu serasa akan rontok, bersin plus batuk , serta ingus encer yang terus mengalir dari hidung tanpa bisa dibendung. Sesekali sang suami menelepon menanyakan keadaannya. Perempuan itu cuma menjawab, "Ah gak apa-apa sayang, nanti aku ke dokter dekat komplek kita ini".

Begitulah. Tapi perempuan itu rupanya tidak ke dokter. Malas, paling obatnya antibiotik yang itu-itu juga, diberi paracetamol, dan lain-lain, cuma meracuni tubuh dengan bahan-bahan kimia obat itu, keluh perempuan itu dalam hati. Setahunya flu itu obatnya cuma beristirahat, banyak minum air putih yang hangat. Maka sepanjang malam perempuan itu cuma tidur. Tidurnya tidak nyenyak. Sesekali ia terbangun. Sakit ini terasa indah juga, dengan sakit kita jadi merasakan betapa berharganya saat sehat, gumam perempuan itu sendiri.

Di kepalanya lamat-lamat ia mendengar lantunan lagu lama, dia lupa penyanyinya. Ingat 5 perkara sebelum 5 perkara, itulah judul lagu itu. Yah 5 perkara yang harus diingat sebelum 5 perkara lain tiba. Sehat sebelum sakit (yang sedang ia rasakan). Muda sebelum tua, kaya sebelum miskin, lapang sebelum sempit. Dan perkara terakhir adalah hidup....sebelum mati. Tak terasa demi mendengar lagu itu, air mata mengalir di sudut kedua matanya. Membasahi pipinya, meninggalkan rasa hangat disana.

Begitulah malam dengan serangan flu menghebat pada perempuan itu. Malam terus merangkak. Ya merangkak pelan menemani sang bulan menjemput sang mentari tiba di ufuk timur. Perempuan itu menyeka air matanya dengan ujung mukena yang ia kenakan.

Saturday, May 23, 2009

Antara Saya, Marie Antoinette, Atuzah Dan Secangkir Kopi


Saya sedang minum kopi di dinginnya udara pagi kota saya. Sementara saat sedang pagi juga, jauh menembus ruang dan waktu, ya sekitar 300 tahun sebelum saat ini, Marie Antoinette juga sedang minum kopi yang disajikan para pelayan di kastilnya yang indah. Di gubuknya, di pelosok Mogadishu, Atuzah sedang minum kopi pula bersama suami, ayahnya, ibunya dan 5 anak mereka. Ya, menembus ruang dan waktu seperti yang tadi saya bilang, kami bertiga sedang minum kopi. Sama-sama kopi, mungkin sama-sama maknyus rasanya bagi kami masing-masing. Yang membedakan cuma jenis kopinya, suasananya, posisi/dimensinya (ruang dan waktu), ya kan. Anda kalau saat ini baru bangun, ayo bikin kopi atau teh atau susu sesuai selera anda supaya anda segar.

Bagaimana segar bukan setelah ngopi atau ngeteh. Baik kita lanjutkan pengembaraan jiwa kita. Rupanya Marrie Antoinette sedang melirik saya, andai kami hidup dalam satu masa, dan dia mengenal saya (untunglah tidak ya, hihi). Lirikan matanya menyipit di sudut matanya. Ya...ini barangkali yang disebut lirikan agak sinis. Kenapa rupanya...? Saya juga tidak tahu. Mungkin, biasalah pandangan kaum borju, kaum jetset, kalau melihat kebersahajaan, kesederhanaan kelompok di luar mereka. Pandangan agak menghina, sambil dalam hati mereka berujar, untunglah kami tidak mengalami hidup membosankan seperti itu.

Sementara saya, kalau saya boleh jujur, ah sama saja pongahnya seperti Marie tadi. Sudut mata saya juga agak menyipit. Kalau ini bukan menghina, tapi lirikan memvonis. Dalam hati saya berkata, untunglah saya tidak mengalami hedonisme hidup seperti itu, hidup dalam kubangan dosa, jadi budak nafsu, apa indahnya...., sama saja kan jahatnya. Itu jawaban jujur saya mewakili sekian juta manusia di dunia ini yang posisi dan kondisinya serupa saya. Harap sabar ya, hehe, saya cuma mewakili suara teman-teman saya, kaum saya. Kaum menengah, miskin tidak, jetset jauh, kebetulan hidup dari keluarga memengah yang bisa mengakses teknologi, lumayan melek, katanya.

Atuzah sedang melirik kami berdua (saya dan Marie Antoinette). Lirikannya memelas, agak hampa, setengah putus asa. Hey kalian berdua, berhenti saling menghujat, jerit Atuzah. Lihatlah kami yang terpuruk dan sangat menggenaskan ini. Kenapa cuma bisa memandang saja, kalian rupanya tidak lebih dungu dari unta. Begitu kata Atuzah, datar, tanpa ekspresi. Spontan, jeritan hampa Atuzah itu menyentakkan kami berdua. Jadi jengah, tapi malu sekali rasanya menemukan keegoisan diri sendiri. Marrie, walau hatinya membenarkan jeritan atuzah tadi, tetap dengan leher tegak dan anggunnya melanjutkan mereguk kopinya. Sayapun begitu, mereguk kopi saya dengan gaya tidak perduli saya, gaya maknyus kopi kampung. Tetapi, jauh di lubuk hati kami yang paling dalam, kami trenyuh pada kehidupan Atuzah di gubuk reyotnya yang menggenaskan.

Ya sebenarnya kamipun mengakui kelebihan kami masing-masing. Saya dan Marie mengagumi ketegaran dan kesabaran Atuzah. Saya, begitu mengagumi Marie Antoinette, untuk hal-hal yang tidak saya punyai. Saya kagum pada semangat hidupnya, saya kagum pada petualangannya, walau tidak ingin menirunya. Saya kagum dengan kecantikan dan passionnya yang digilai hampir semua lelaki di zaman itu. Dan Marie, setidaknya dia kagum pada kebersahajaan saya. Dia kagum pada kontrol jiwa ketimuran saya. Masih menurut Marie, saya bisa lebih bebas mengeskpresikan diri tanpa terikat pada ukuran status sosial, gengsi dan lain-lain. Dia juga kagum pada keeksotisan sikap saya. Hush, benar lho, begitu dia berbisik tadi.


Bagaimana menurut Atuzah ?. Bagi Atuzah, Marie Antoinette dengan kekuasan dan powernya (kecantikan yang memikat hampir sebagian besar lelaki paling berpengaruh di dunia saat itu) bisa menjadi dewa penolong mereka. Bagi Atuzah, saya dengan jiwa sosial sederhana ala dunia ketiga yang saya miliki, saya bisa jadi pelopor utuk menolong dia dengan cara saya. Menurut Atuzah kami berdua adalah kaum yang jauh lebih beruntung dari dirinya, betapa inginnya Atuzah menjadi kami. Sayang, juga masih menurut Atuzah, kami kurang perduli. Kami sibuk dengan urusan kami masing-masing. Begitu kata Atuzah lagi, sambil mereguk kopinya pelan dan menundukkan kepala.

Begitulah sepenggal cerita tentang saya, Marie Antoinette, dan Atuzah. Kami bertiga adalah metofora dari beberapa sosok manusia di dunia ini. Kita sangat tahu bahwa kita sangat tidak berhak menilai secara bebas, menghakimi, memvonis orang lain. Tapi seringkali kita lupa, lalu terus melakukannya. Kita tidak pernah tau apakah yang kita lakukan atau yang orang lain lakukan adalah dosa atau tidak. Sebab dosa tidak sekedar apa hal yang dilarang yang tertera di kitab suci kita, jauh lebih luas dari itu. Kemampuan kita manusia sangat terbatas kan. Bukan begitu...?

Kami bertiga (saya, Marie Antoinete, dan Atuzah) mereguk kembali kopi kami, dengan senyum kecil yang menyungging di bibir kami masing-masing. Di benak kami bertiga, ada kata yang terukir, dunia ini indah bila kita saling memaklumi, saling memahami, saling menghargai. dan tentu saja akan semakin indah dan damai bila kita saling membantu. Ya keperdulian dengan empathy, serta ketulusan yang kita miliki, sesuai kemampuan kita. Mari kita renungkan bersama sambil anda meneruskan pula minum kopi, susu, atau teh anda. Selamat pagi semua.






Friday, May 22, 2009

Alhamdulillah, Jum'atpun Tiba


Alhamdulillah, Burung-burung Migran di Sembilang Masih Bisa Terbang Bebas

Alhamdulillah masih tiba pada hari ini, semoga tidak ada yang sia-sia. Alhamdulillah sudah di kantor sejak pagi tadi, semoga yang dikerjakan hari ini bermanfaat dan barokah. Alhamdulillah, hp saya tertinggal di rumah. Lumayan tenang bekerja tanpa gangguan dering hp, hehe. Mudah-mudahan tidak ada yang mendesak dan gaswat pada kring telefon atau sms di hp itu yang tertinggal itu.

Alhamdulillah It's Friday, terbitan berkala si teman di FB setiap hari jum'at. Mudah-mudahan saya kebagian membaca isinya hari ini. Friday...? Wah, alhamdulilah, ternyata ini hari Jum'at. Biasanya (kalau belum berubah) setelah Jum'at pasti sabtu lalu setelahnya minggu, artinya libur lagi, weekend lagi. Alhamdulillah, betapa waktu terus mengalir dengan lancarnya, seperti aliran riak air Sungai Musi. Begitu gumaman saya dalam hati saat ini, agak malu sebetulnya karena belum banyak yang saya lakukan di dunia ini. Apapun teman, mudah-mudahan kita bisa mengisi setiap detiknya dengan bertanggung jawab sehingga layak kita mengucap Alhamdulillah, Puji Tuhan, atau sebutan pujian apapun.



Wednesday, May 20, 2009

Sembilang, Surga Mangrove Dari Selatan










Jika angin utara telah membuatmu jengah dengan kelana. Jika angin barat telah begitu acap kau kunjungi. Jika angin Timurpun telah sering kau bujuri. Maka selatanlah arah yang baru yang bisa kau tuju. Ya biarkan angin selatan membawa jiwa dan ragamu. Indah berkelana ke penjuru selasahnya. Di selatan ini ada surga teman. Sembilang namanya, surga mangrove dari selatan.

Sembilang, Taman Nasional Sembilang, suatu kawasan mangrove dengan segala biota dan kelengkapan habitatnya. Ini adalah kawasan alami karunia Illahi, surga mangrove yang indah. Kawasan ini terletak di kabupaten Banyuasin, Provinsi Sumatera Selatan. Sekitar 4 jam perjalanan dari kota Palembang. Ini kawasan mangrove asli dengan alam yang membentuknya, bukan kawasan buatan yang sengaja dibuat manusia, dengan luas 205.750 hektar. Menurut hasil survey Wetland International Indonesia Programme tahun 2004 mangrove disana adalah mangrove terbaik dan terluas untuk Indonesia Bagian Barat. Menurut hasil survey Carbon and Environmental Research tahun 2008 mangrove kawasan Sembilang adalah mangrove terbaik di Dunia setelah Papua. Ada 17 spesies mangrove (mangrove sejati), 6 spesies mangrove ikutan, 8 spesies tumbuhan hutan rawa. Bahkan jenis yang dibeberapa tempat telah punahpun ada disana. Selain itu kawasan Sembilang memiliki keanekaragaman flora lain seperti berbagai jenis anggrek, berbagai jenis palem. Begitupula keanakeragama fauna. Mamalia seperti harimau (Kucing Bakau, Harimau Sumatera, Macan Dahan), berbagai jenis kera, berbagai jenis bajing, lutung, pesut dan Lumba-lumba Bangkok. Berbagai jenis reptil juga ada yaitu Buaya Muara dan Buaya Sinyulong, ada juga biawak dan sebagainya. Berbagai jenis burung, kepiting, udang rawa, lobster, udang putih, udang Dogol, Udang Windu, ikan kerapu, ikan belanak, juga ikan Sembilang yang khas disana. Pada bulan Oktober ribuan burung migran dari berbagai negara termasuk dari Siberia akan memenuhi langit sembilang dan menukik disana mencari makanan di kawasan itu. Pemandangan sangat indah yang gambarnya bisa anda lihat di atas.

Bagi anda yang menyukai keaslian alam, menyenangi dan menghayati keaneragaman hayati yang suatu bentangan alam, maka Taman Nasional Sembilang adalah alternatif di kawasan selatan Sumatera yang bisa anda kunjungi. Datanglah kesana teman, anda akan menemukan surga disediakan Tuhan untuk kita pada kawasan mangrove ini. Saya pernah sekali kesana, hm...rasanya mau lagi saya kesana. Saya tidak pernah melupakan kecipak air Sungai Sembilang menjilati kaki saya, dimana di mata kaki saya merayap kepiting. Begitu pula dengan debur ombak laut dari Selat Bangka di sudut lain kawasan itu, membahana di jiwa. Datanglah ke Sembilang teman, surga mangrove dari selatan.

Demikian soul jorney saya hari ini. Ini oleh-oleh saya mengikuti rapat Konsultasi Publik Rencana Penetapan Jangka Panjang Taman Nasional Sembilang. Ya selama 2 hari (kemarin dan hari ini) saya ditugaskan boss saya menghadiri acara itu. Lumayan capek. Tapi, capek itu tidak seberapa dibandingkan catatan yang bisa saya petik. Rasanya jiwa saya mengelana kembali ke kawasan itu. Taman Nasional Sembilang, potensi Sumatera Selatan yang selayaknya dikembangkan, dijaga, juga dilestarikan. Bila hiruk pikuk dunia melenakan dan akhirnya membuat lelah, maka alam semesta dengan keindahannya ini adalah anugrah Tuhan yang bisa menghibur jiwa kita. Begitulah Taman Nasional Sembilang dalam catatan saya, salah satu dari anugrah dan nikmat Tuhan berupa bentangan alam indah yang pernah saya lihat. Saya akhiri catatan saya ini dengan pesan alam ini untuk kita.....Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan.....!? Mari kita renungkan bersama.

Tuesday, May 19, 2009

Nanar Saya Pandang Bakwan Itu......

Ya bakwan. Di sekitar Jawa Barat, penganan ini disebut Bala-bala. Di Palembang kami menyebutnya Godo-godo, kadang disebut pula Pempek Gendum (orang Palembang menyebut terigu dengan gendum). Saya suka sekali bakwan. Kenapa...? karena rasanya gurih, saya lebih suka jenis makanan gurih daripada yang manis. Warnanya banyak, tergantung jenis sayuran yang dimasukkan, jadi tentu bergizi. Selagi hangat dimakan dengan segigitan cabe rawit atau cuka empek-empek, atau saos, uh lezat. Jadi teman minum kopi atau teh, tambah asyik.

Inilah resep bakwan saya. Semangkok kecil tepung terigu (kira-kira 250 gram), 2 butir telur, garam halus secukupnya, 2-3 siung bawang putih dihaluskan, sayuran yang sudah dipotong-potong sesuai selera, daun bawang 2 batang, daun seledri sesuai selera, air bersih secukupnya. Semua bahan diaduk, lalu digoreng. Kali ini sayuran yang saya masukkan adalah wortel yang diiris dadu, begitupula kentang, ah supaya warnanya jadi cantik dan agak meriah, saya tambahkan sedikit irisan jagung manis, daun bawang dan seledri tentu saja.

Bakwan saya sudah jadi, sejak 20 menit yang lalu. Warnanya cantik, ada merah dari wortel, kuning dari kentang dan jagung manis, hijau dari daun bawang dan seledri. Sayang kabel data hp saya tinggal di kantor, jadi saya tidak bisa menampilkan gambarnya (gambar menyusul saja, kapan-kapan ya). Lama saya pandangi bakwan ini. Hah, cuma tinggal sebuah bakwan . Ya tinggal sebiji (padahal tidak ada bijinya) di piring ini. Ini gara-gara setelah menggoreng tadi saya sibuk membuka laptop saya, dan buka blog ini. Saat kembali ke meja di depan tv, tempat sepiring bakwan tadi saya letakkan, ternyata, hiks, cuma tersisa sebiji. Suami saya, anteng menghisap rokoknya, pura-pura tidak mengerti saat saya lirik dia. Abis enak sih, begitu dia menjawab singkat, sambil senyum-senyum tidak jelas. Menyebalkan, gerutu saya.

Saya tidak percaya jawaban suami saya. Pasti karena dia sebel lihat bakwan yang warnanya meriah itu. Dia tidak suka warna-warni seperti saya. Akhir-akhir ini dia memang sedang sensitif dengan warna. Dia suka warna biru, ya seperti sukanya pada mas Biru kata Advintro. Mungkin dia tidak suka kombinasi warna dalam bakwan itu. Padahal supaya adil, sudah saya letakkan bakwan ini ke piring biru. Ah, jangan-jangan dia makan semua bakwan tadi supaya warna-warni bakwan tadi tidak begitu menonjol. Jangan-jangan supaya warna birunya yang menonjol, dia habiskan bakwan-bakwan tadi. Hm..., ya dia memang tidak suka koalisi warna-warni tadi. Saya pandangi lagi bakwan itu, kesal, campur sedih. Nanar saya pandangi bakwan itu, akhirnya....nyam-nyam. Bakwan yang tinggal sebiji itu saya masukkan ke mulut saya. Rasanya lumayan juga, saya juga heran, pantas suami saya menghabiskannya. Rupanya saya membuat bakwan itu takarannya pas kali ini teman. Mungkin pula karena sedang bahagia, jadi memasaknya dengan hati, lalu rasanya jadi lumayan uenak. Saya lirik suami saya, dia pura-pura tidak melihat sambil terus menghisap rokoknya. Dalam hati saya berkata, maafkan saya sayang, sudah sempat berburuk sangka tadi, hehe.

Sekarang bakwan itu sudah tidak bisa lagi saya pandang, sudah habis semua. Yang tersisa, cuma piring biru menyebalkan ini, cepat-cepat saya singkirkan ke dapur. Demikian kisah bakwan saya pagi ini teman. Silahkan direnungkan kalau mau, saya mau siap-siap mandi dulu. Selamat pagi semua.

Monday, May 18, 2009

Memandang Dari Jendela


Ya jendela, kita semua punya jendela. Jendela adalah tempat kita memandang, tepatnya mengintip, dunia luar kita. Bagi saya jendela itu penting, sangat penting. Coba bayangkan bila rumah kita tidak mempunyai jendela, apa yang terjadi...? Pengap kan, juga membosankan. Begitulah rasanya. Entah kalau ada diantara kita yang tidak menyadari arti penting jendela.

Tadi pagi, selesai melipat mukena saya, ya sekitar 65 menit setelahnya, saya buka jendela kamar saya, tentu saja setelah mematikan lampu kamar. Hm....saya melihat pemandangan yang menyejukkan mata saya. Saya melihat tanaman-tanaman saya menyembulkan semburat keindahannya dari balik jendela itu. Saya melihat alam di luar sana menyapa saya. Mereka berkata, selamat pagi bu, hari yang indah bukan. Kira-kira, begitulah sapaan bunga-bungaan, sapaan udara, sapaan langit, sapaan tanah, kalau saja mereka bisa bicara. Yah, jendela adalah pengantar kita melihat sekilas dunia luar. Kalau ingin melihat lebih jelas, tentu kita harus keluar dari tempat kita duduk atau berdiri.

Iseng, saya tanya suami saya, apa yang kamu lihat di luar itu ?. Dia menekukkan muka (sedang kesal karena urusan pekerjaannya) tidak menjawab, malah bersiap menyulut sebatang rokok. Menjengkelkan memang, gerutu saya sambil segera membuka kaca jendela kamar, menghindar dari asap rokok. Tengah saya membuka kaca jendela kamar kami itu, demi melihat matahari sudah muncul dibalik pohon kelapa tetangga, tiba-tiba dia berkata wah pagi ini saya harus menemui Pak Budi (tentu bukan pak Boediono yang itu, hehe) jam 7.30 ini. Rupanya suami saya memperhatikan juga pemandangan di luar jendela itu. Rasain, baru tau itulah gunanya jendela.

Begitulah teman, cerita tentang jendela pagi ini. Jendela yang kita lihat tidak sama. Tentu saja. Saat anda membuka jendela anda, pemandangan yang anda lihat tidak sama dengan yang saya lihat. Kita berpijak di bumi yang sama, dilengkungi langit yang sama, tetapi apa yang kita lihat tidak sama. Jendela kita tidak sama, sebab rumah kita tidak sama. Kita hidup di lingkungan yang berbeda, jelas pemandangan di luar rumah kita juga tidak sama. Apa yang kita lihat di luar sana tidak saja tergantung dari jendela mana kita memandang. Terkadang, tergantung dari jendela jiwa kita juga. Saat sedang resah, saat sedang gundah, saat ingin sedang menyepi, mungkin kita tidak ingin memandang dunia luar dari jendela rumah kita. Walaupun kita melihatnya, kita tidak bisa melihat keindahannya. Kita tidak bisa melihat sapaan dunia luar dengan menyenangkan. Saat itu kita perlu memandang diri kita dan dunia luar dengan jendela jiwa kita. Sesuatu yang disebut orang dengan merenung dan introspeksi diri. Bagi saya, memandang dunia luar dari jendela itu menyenangkan, apalagi bila kita memandangnya dengan jendela jiwa kita juga. Demikian soul journey saya hari ini teman. Apa yang anda lihat dari jendela anda saat ini ?, mari kita renungkan bersama.







Saturday, May 16, 2009

Percakapan Pak Belalang dan Bu Daun Soal Pendaftaran Capres-Cawapres


Pak Belalang terlihat anteng nangkring di helaian Bu Daun sore ini. Mereka terlihat kompak, dan agak mesra, tidak seperti biasanya. Ya sore ini kelihatannya mereka sedang mengobrolkan sesuatu. Asyik sekali sampai mereka berdua tidak menyadari kalau saya sedang mengamati. He, tepatnya nguping percakapan mereka. Perihal apa sih ? Wuih jangan tanya, mereka berdua tidak mau ketinggalan dengan gunjang-ganjing dunia ini . Ya...., soal Pendaftaran Capres-Cawapres yang sedang ramai dibicarakan ini.

Bu Daun, "Jadi sudah pasti pak, cuma tiga pasang yang maju...?"
Pak Belalang, " Ya gitulah. Sampeyan mau berapa lagi. Wong itu saja sudah merepotkan, bakal 2 putaran bu..."
Bu Daun, "Wah kalau cuma 3 pasang itu, gak sreg saya pak "
Pak Belalang, "Lha memang kenapa bu ?"
Bu Daun, terlihat agak masgul, " Halah pak, gak ada yang meyakinkan bagi saya. SBY terlalu lamban, Mega cuma bisa nangis aja, Yusuf Kalla, kok bagi saya terlihat licik, ambisius banget, dan menjengkelkan.."
Pak Belalang, kalem seperti biasa, "Sabar bu, paling tidak diantara 3 pasang itu kan ada yang terbaik. Ya terbaik diantara yang buruk"
Bu Daun, terdiam sejenak.
Pak Belalang, "Mega kalau didampingi Prabowo mungkin bisa lebih tangkas.."
Bu Daun, " Ah itu lagi....., saya malah heran kenapa Prabowo mau mendampingi Mega, kenapa gak sekalian dia aja yang jadi Capres"
Pak Belalang, "Ya sikonnya gak memungkinkan bu. Jelas dia mau banget jadi Capres, tapi inilah kompromi"
Bu Daun, "Atau jangan-jangan dia mau mendampingi karena si TK sudah sakit-sakitan, jadi bisa agak leluasa dia nanti"
Pak Belalang, matanya mengerjab karena kaget dengan prediksi itu, "Ah ya gak dong bu, gak boleh se'udzon lho"
Bu Daun, "Jadi nanti pilih yang mana dong pak ?"
Pak Belalang, sambil batuk-batuk kecil, " Ya kalau saya jelas pilih yang terbaik diantara 3 pasang itu"
Bu Daun, "Siapa...? ah saya tau yang bapak kagumi itu kan, yang kalem, sopan, dan bijak itu...!?"
Pak Belalang, "Ya rahasia dong. kalaupun iya, itu masuk akal juga kan"
Bu Daun, "Terserah bapak deh, itu kan haknya sampeyan. Kalau saya mending golput saja..."
Pak Belalang, agak terperangah campur jengkel, "Wah jangan bu. Tapi, ya...itu hak ibu juga"
Pak Belalang ,lagi, sambil mengingat-ingat pidato tokoh idolanya itu, " Saran saya sebaiknya milih lho, itu kalau ibu mau jadi pelaku sejarah bagi perjuangan bangsa kita ini".
Bu Daun, "Pak eling, eling, kita ini cuma daun dan belalang, bukan manusia....."

Maka demi ucapan Bu Daun itu, tiba-tiba percakapanpun terhenti. Keduanya baru tersadar kalau mereka hanya serimbunan Daun dan seekor belalang, jelas saja tidak akan ikut dalam pilpres nanti. Saya jadi agak kecewa. Padahal, hehe, tadi asyik mendengarkan obrolan sok tau mereka.

Demikian kawan lamunan dan renungan saya saat tengah ke halaman samping rumah saya. Lagi-lagi menemukan seekor belalang sedang nangkring di tanaman saya. Ya, barusan tadi saya keluar rumah sejenak. Hawa agak panas di dalam. Mungkin akibat makan tekwan (sejenis Sup Bakso Ikan, makanan khas Palembang) dengan sambal yang agak kebanyakan tadi. Saya masuk kedalam rumah lagi ya, pasti anggota keluarga saya juga sudah selesai makan tekwannya. Silahkan anda ikut melamun juga merenung kalau mau. Kalau mau merasakan sedapnya tekwan saya, ya silahkan mampir kesini, ke rumah saya. Selamat sore semua.

Pagi Yang Menggeliat


Uaaagh...!, Selamat pagi semua. Seperti biasa, pagi ini indah. Alhamdulillah, saya masih bisa tiba pada hari ini, kalau tidak anda tidak akan menemukan posting baru saya lagi ya. Ya, seperti biasa pagi ini menggeliat seperti geliat anda saat terbangun dari tidur. Pagi yang biasa, tunggu sampai anda menemukan apa istimewanya pagi ini.

Apa...? ya anda sendiri dong yang tau. Coba periksa kelengkapan anggota tubuh anda, lengkap ? Baik teruskan periksa anggota rumah anda, suami/istri, anak, periksa rumah anda beserta isinya. Bagaimana lengkap semua seperti biasa. Selamat, anda menemukan hari yang biasa kalau begitu. Bila ada yang tidak lengkap, maka anda menemukan hal istimewa (walau mungkin menjengkelkan bagi anda). Itu musibah namanya, semoga musibah tidak menimpa anda. Bila semua itu lengkap, pasti akan menjadi istimewa, tergantung apa yang saat ini anda rasakan di jiwa anda. Periksa saja. Iya kan, kadang ada rasa bahagia, atau syukur yang terasa lebih indah dan lebih maknyus, atau bahkan sebaliknya, itulah istimewanya.


Bagi saya setiap geliat pagi adalah istimewa. Keistimewaan geliat pagi adalah soal rasa dan harapan yang kita miliki, yang ingin kita capai dan kita wujudkan hari itu. Setiap pagi tentu berbeda, karena itu tentu istimewa. Pada geliat pagi saat ini, saat kopi yang tengah mengepul ini saya hirup, keistimewaan itu rasanya lebih hidup. Lebih hidup karena saya libur, jadi agak leluasa menata hari saya, sesuai keinginan saya. Saya tidak perlu berangkat terburu-buru seperti hari senin sampai dengan jum'at. Hari ini adalah milik saya dan keluarga.

Ya hari ini saya libur mingguan seperti biasa (weekend katanya). Bagi saya akan jadi hari istimewa karena sebentar lagi saya akan berkebun, bercengkerama dengan tanaman-tanaman saya. Agak siang sedikit saya akan ke toko buku mencari Rahasia Kaum Falasha, novel karya Si Mahardika Zifana, teman saya itu. Sore nanti saya akan bikin tekwan, sejenis sup bakso ikan, makanan Palembang kegemaran keluarga saya. Hm...rasanya istimewa dan menyenangkan, bagi saya tentu saja.

Begitulah rencana istimewa saya pada geliat pagi ini yang juga istimewa ini. Itulah renungan singkat saya sembari minum kopi pagi saya. Bagaimana geliat pagi anda? Anda pasti tadi sudah menggeliat juga kan. Semoga geliat pagi anda juga melahirkan rasa syukur dan kebahagiaan di hati anda. Pada geliat pagi kita ada asa dan harapan yang mencuat, entah itu muncul saat kita baru membuka mata, atau muncul dari balik kepulan asap hangat secangkir kopi atau teh kita. Ayo kita renungkan, ayo berbagi rasa disini.

Thursday, May 14, 2009

Telat......



Pagi tadi, duluan boss saya tiba di kantor daripada saya. Bagi saya ini telat, telat mendahului beliau. He, malu rasanya kalau boss duluan tiba di kantor. Ini gara-gara saya terlalu menghayati ritual sarapan pagi saya (yang gambarnya anda lihat di atas). Sinchan, tokoh kartu lucu yang sesekali saya tonton ini, sering telat tiba di sekolahnya. Sementara di rumahnya bu Siti senyum-senyum sendiri saat Bambang anaknya minta maaf karena telat mengabari sudah sampai dari perlawatannya ke Beijing. Surti , katanya telat bulan. Kata si Bejo itu akibat roknya terangkat diterbangkan angin. Kipli telat bayar SPP, kata bodrox karena uang SPP itu dia pakai buat jajan dan kongkow-kongkow. Advintro Irama (hihi, habis mirip Ridho Irama) telat mengabari teman-temannya kalau dia ikut kontes. Dan Fanda, tidak pernah telat memberi kasih sayang kepada saya lewat guguran kelopak bunga Sakura di blognya (he, mohon maaf belum semua teman bisa saya tampilkan namanya disini, maklum orang gaptek seperti saya tentu agak kewalahan) .

Ya, ada berjuta cerita tentang telat, mengalir lalu menguap di dunia ini. Telat yang disengaja atau tidak disengaja. Telat yang diinginkan atau tidak diinginkan. Telat yang disenangi atau dibenci. Begitulah, banyak jenis telat, dan banyak cerita seputar kata "Telat" ini. Saya sendiri, dalam 6 tahun ini ingin sekali telat. Telat yang agak lama. Ya barang 9 bulan 10 hari , telat bulan, lalu pyar, melahirkan. Rupanya, hiks, Tuhan belum mengabulkan usaha saya dan suami meski hampir tiap malam kami memadu kasih.

Demikian renungan singkat saya tentang telat. Sobat, anda punya cerita juga kan tentang telat, mari tuangkan disini. Saya mau siap-siap bahan dulu. Biasa, untuk menghadiri rapat, mewakili boss saya itu. Buru-buru nih, takut telat......


Tuesday, May 12, 2009

Ilalang Nan Sepi dan Jauh


Adalah aku sang ilalang nan sepi dan jauh. Meliuk-liuk di tiupan angin, ke kiri dan ke kanan, kadang tak tentu arah. Adalah aku ilalang sepi nun jauh disana. Jauh dari ramai raga-raga sibuk dengan segala kelana. Adalah aku sang ilalang nan jauh dari segala gegap gempita dunia. Adalah aku ilalang itu.

Begitulah suara-suara yang muncul ketika saya memandangi beberapa tangkai ilalang. Sementara, di meja ini, saat ini, saya masih terus merenungi ilalang itu. Ya ilalang yang secara tidak sengaja baru saja saya temukan di jagad maya ini. Ilalang itu, entah kenapa, begitu menyentakkan jiwa saya. Ia terlihat anggun di lengkung cakrawala yang biru. Pada kesunyiannya, saya menemukan ketenangan nan indah. Hal yang jarang dimiliki oleh kita insan yang berpacu dengan waktu.

Adalah saya yang merenungi ilalang itu saat ini, di meja ini, saat perut sudah agak keroncongan minta diisi. Antara rasa lapar dan sentakkkan rasa yang tadi saya bilang, mari sahabat kita renungkan kesunyian dan ketenangan ilalang itu. Inilah soul journey saya saat ini sobat. Mari kita makan siang dulu. Setelahnya, mari kita renungkan lagi.

Sunday, May 10, 2009

Nikmatilah Setiap Curahan.....





Saya sedang di beranda halaman depan rumah saya sobat. Ya terpaksa balik lagi ke blog ini demi menuangkan sesuatu yang memenuhi kepala saya. Di hadapan saya terhampar pemandangan untaian bunga mungil berderet memanjang. Ya Golden Shower, demikian bunga yang anda lihat ini disebut orang. Golden Shower, curahan emas.

Pandanglah olehmu bunga ini, sobat. Ia cantik bukan. Kuntum mungilnya yang berwarna kuning keemasan, melandai indah. Menyejukkan dan menyenangkan bagi siapa saja yang memandangnya. Ia memang seperti sedang menyirami, mencurahkan kita kasih sayang dengan keindahannya itu. Mungkin inilah alasan kenapa bunga ini dinamakan Golden Shower. Hm...saya menikmati curahan keindahannya saat ini.

Bicara soal curah-mencurah ini, pikiran saya melayang lagi. Hehe, saya ingat setiap detail kegemaran saya. Kalau JengSri baca postingan ini (sayang dia sedang menghilang) mungkin dia akan menganalisa termasuki type seperti apakah saya ini. Ya saya senang dengan setiap curahan yang ada di dekat saya. Senang pada mentari mencurahkan sinarnya, asal jangan terlalu panas. Senang pada tanaman-tanaman saya yang setiap hari mencurahkan kaeindahannya. Saya senang dicurahi suami saya kebahagiaan (he, tentu saja). Saya senang mandi menggunakan shower. Bagi saya selain menghemat air, ada sensasi tersendiri saat mandi menggunakan shower, saya merasa seksi. Dan, ah saya baru menyadari, mungkin inilah alasan kenapa saya senang sekali kalau masuk ke blog Fanda. Ya, karena begitu saya memasuki blog sobat saya itu, daun-daun berguguran menyambut kehadiran saya. Rasanya seakan-akan, he, para malaikat sedang turun ke bumi memberkati saya dengan curahan daun-daun berguguran itu. Begitulah. Intinya saya menyukai dan menikmati setiap curahan rasa dan keindahan di sekitar saya.

Ya, setiap curahan dari semesta alam ini, apapun bentuknya, bagi saya adalah anugrah. Setiap anugrah harus ditangkap, dan diolah dengan baik. Itulah yang disebut dengan mensyukuri nikmat. Barangkali ada pula curahan yang membuat kita menyernyitkan dahi, bahkan membuat kita agak menderita, itupun harus kita sikapi dengan baik. Tidak setiap curahan semesta ini adalah hal yang menyenangkan bagi kita. Curahan yang tidak menyenangkan tadi, oleh sebagian kita dipandang sebagai ujian hidup, dan sebagainya. Nikmati saja, lalu siasati dengan bijak dan cermat, semampu yang kita bisa. Begitu kan kata orang tua kita dulu. Itu juga yang dikatakan oleh orang yang sedang duduk disamping saya ini.

Memori di kepala saya mengingat sebuah lagu lama "....shower me with your your love....." , saya lupa siapa penyanyinya. Ya, siapa yang tidak suka dicurahi kasih sayang, siapa yang tidak suka disirami dengan cinta. Semua tentu mau. Tetapi apapun bentuk curahan semesta ini, mari, nikmatilah setiap curahannya. Olah dan rasai oleh jiwa kita. Ini hal besar bagi saya, meski mungkin bagi orang lain ini sepele. Ya, tidak setiap orang mampu menikmati dan mensyukuri setiap curahan anugrah yang diberikan alam ini. Jadi bersykurlah kita yang masih bisa. Sebagian besar kita justru terperangkap pada kesibukan duniawi yang semu. Padahal bila kita renungkan, kita akan menemukan sisi indah dari menikmati curahan semesta ini, dan itu akan mempermudah kita menerima anugrah lain yang mungkin lebih besar. Sekali lagi, mari nikmati setiap curahan, dan ....mari kita curahi pula semesta alam ini dengan kasih sayang kita. Demikian soul journey saya hari ini sobat, mari kita renungkan bersama.




Thursday, May 7, 2009

Bersama Memandang Bulan Di Atas Pangkuan


Sebentar lagi purnama tiba sayang, begitu bisikan suami terdengar di telinga saya pada suatu malam. Ya, lalu kenapa ? saya balik bertanya. Bukankah purnama itu indah ? Tidakkah kau ingin memandangnya bersamaku barang sejenak saja...? Suami saya itu kembali bertanya. Saya diam, he, kebiasaan kalau sedang tak berselera menjawab (sebab baru selesai berdebat soal stick golf dan caddy). Lalu saya menyingkir dari pelukannya. Lebih enak minum kopi rasanya ketimbang memikirkan pertanyaan dan pernyataannya tadi. Dan klining klining, denting sendok menyentuh cangkir saya. Sementara, saat tengah mengaduk kopi itu, di jendela kaca terlihat bulan purnama muncul dari balik awan. Ah indah sekali rupanya.


Sambil tersenyum kecut, saya sodorkan secangkir teh kepada suami saya. Dan saya, ya minum kopi dong. Bulan purnama sudah muncul, indah sekali rupanya, kata saya padanya. Aku ingin memandangnya dalam pangkuanmu sayang...!, ujar suami saya. Uph, kopi yang tengah saya hirup nyaris memuncrat dari mulut saya mendengar ujarannya itu. Hehe, pangku saja sendiri, jawab saya menanggapi permintaan anehnya tadi. Ia menarik tangan saya. Ayo kita keluar. Sebelum keluar ia mengambil sesuatu benda bulat agak besar ke dapur.


Setengah enggan saya mengikutinya. Kami sudah di halaman belakang rumah kami. Ini halaman berumput yang cukup luas. Saat saya sedang memandang bulan di langit, ia meninggalkan saya sejenak. Ia membawa benda bulat tadi ke arah kolam ikan kami. Ya baskom itu sekarang telah berisi air. Duduklah, lalu pangku baskom ini, kata suami saya sambil meletakkan baskom itu di pangkuan saya. Apa yang kau lihat disitu ? tanya suami saya. Saya pandang baskom berisi air itu, ya ada wajah saya yang remang-remang terlihat disana. Ah begini caranya, tukasnya menjauhkan wajah saya sedikit. Harus pelan-pelan dicoba, jangan terlalu dekat melihat ke baskom itu, jangan terlalu jauh. Pada sudut 105 derajat antara kaki yang berselonjor dan leher saya, saya melihat bulan di pangkuan saya. Ya bulan dalam baskom berisi air yang saya pangku. Ah senangnya, bulan purnama itu sekarang jadi milik kami, dalam baskom ini.


Kami bersama-sama memuaskan memandang bulan di pangkuan saya. Bila kepala kami berebut ingin memandang bulan itu di baskom, maka, he, yang tampak di air adalah wajah kami berdua. Tapi bila kami mengatur posisi lagi, tidak terlalu jauh, tidak terlalu mendekat ke baskom, kami melihat lagi bulan di pangkuan saya. Kami bisa memiliki bulan ini tanpa mengusiknya sedikitpun. Purnama itu masih tetap di langit kokoh, di atas sana. Siapapun tetap bisa memandangnya. Dan saat itu kami bisa memandangnya berdua di pangkuan saya.


Sambil menikmati keindahan bulan ini pikiran saya menerawang pada renungan terdalam yang bisa saya lakukan saat itu. Ternyata, kalau kita bisa kreatif dalam menatap dan memandang hidup, apa yang kelihataanya sangat tinggi dan jauh dari jangkauan ternyata bisa kita miliki dalam pangkuan. Ya ya ya, tentu dengan berusaha sedemikian rupa, dengan bersungguh-sungguh, dan tetap dengan tidak mengusik apapun dan siapapun. Kami bisa bersama memandang bulan purnama di pangkuan. Malam itu, diantara kegembiraan itu, saya mencuri-curi pandang kepada suami saya, hehe, saya semakin cinta padanya.

Wednesday, May 6, 2009

Melati Di Tiupan Angin







Suatu sore yang sebetulnya indah, andai raga ini sedang sehat. Tetapi berbaring saja seharian, rasanya cukup membosankan. Maka, sejenak keluarlah saya dari peraduan putih itu. Kini udara segar menyentuh kulit saya, hm....lembut dan agak dingin seperti ciuman kupu-kupu. Saat tengah merasakan cumbuan angin di kulit saya itu, tiba-tiba mata saya tertumbuk pada seonggok perdu di bawah pohon jambu. Ya perdu hijau kecil merunduk dengan kuntum-kuntum putih nan indah. Melati, melati putih, melatiku.

Segera saja saya berjongkok mengamati si mungil nan indah itu. Ia begitu indah, dan jelas begitu putih. Ya si mungil nan putih juga indah. Semerbak wanginya begitu menggoda dan seperti menyapa saya . Hehe, ia seperti berkata pada saya "Selamat datang wahai insan, wangiku ini untukmu". Tentu saja saya terima dengan sepenuh hati. Saya suka dengan segenap sapan indah alam ini.

Angin kecil menggoyang-goyangkan dahannya ke kiri dan ke kanan. Nyaris menyulitkan saya mengambil 1-2 petik gambarnya. Dan tanpa hirau dengan hasilnya, gambar itu berhasil juga saya dapat. Lega rasanya. Angin terus bertiup. Saya amati lagi melati ini saat angin terus bertiup. Ia kembali tergoyang ke kiri dan ke kanan. Kelihatannya ia sangat tenang, dan menikmati permainan gerakan angin, wanginya semakin menebar.

Saat angin agak membesar, gerakan dahan melati tak lagi sekedar ke kiri dan ke kanan, meliuk-liuk hilang kendali, tapi ia tetap tenang dan wanginya menebar sungguh kuat ke penciuman saya. Angin membesar lagi, saya nyaris meninggalkan melati itu mengingat kondisi saya yang sedang tidak fit. Tetapi sesuatu seperti menahan saya. Saya tetap berjongkon disitu, lalu plok !, satu kuntumnya terlepas oleh hempasan angin. Gerakannya begitu ritmis, lembut, nyaris tanpa terlihat.

Saya begitu terkesima pada apa yang saya lihat. Flora mungil ini ternyata memiliki sejuta kekuatan. Meski sesuatu menghamtam dan menghempaskannya ia tetap tenang (tentu saja karena ia cuma flora), tapi lihatlah meski ia tercampakkan ia tetap tersenyum indah dan mewangi. Pada kuntum yang terhempas tadi saya masih jelas melihat keindahannya, keindahan yang seperti tersenyum dengan senyuman pasrah. Serta merta saya pungut kuntum itu lalu saya cium sepenuh hati. Wanginya tetap menyejukan jiwa seperti saat pertama kali saya memandang dan mencium aromanya saat masih di dahan tadi. Aduhai, adakah kita memiliki kekuatan dan ketenangan ala melati ini...!?

Saya masih merenunginya sahabat. Saat tulisan ini saya buat, mata saya agak berkaca-kaca, he, jiwa melankolis ini kadang sukar dibendung. Tetapi sungguh saya merasa begitu kecil dan tak berarti dibandingkan melati mungil nan indah itu. Melati itu, dalam keheningan dan kesendiriannya, begitu kuat. Bandingkanlah kita dengan melati, bahwa hidup terkadang memberikan pilihan berupa hempasan gelombang. Jelas itu kita hadapi, tapi biasanya, saat badai tengah kita hadapi, kita begitu panik kesana kemari. Ketenangan baru bersama kita lagi saat badai telah berlalu, saat kita sudah bisa mengambil hikmah. Melati mungil itu telah memberi saya pengajaran yang indah pada sore kemarin. Ketenangannya begitu lembut dan anggun saat angin menghempas. Memandang melati, melati di tiupan angin, memberi makna yang dalam kalau kita renungi. Demikian soul journey saya hari ini teman. Mari berbagi dan kita renungkan bersama.

Tuesday, May 5, 2009

Saut Situmorang, Kebebasan Berpikir dan Persahabatan Itu Indah


Kemarin lusa, seorang teman mengirim pesan ke inbox FB saya. Mbak Elly saya sedang di Muara Enim, ada acara sastra. Tanggal 4 Mei saya ke Palembang, acara peluncuran buku saya, jam 2 siang di gedung x, datang ya. Begitu isi pesan sahabat saya itu (Saut Situmorang). Saya jawab, ok Ut, saya usahakan datang, terimakasih infonya.

Maka kemarin sayapun izin 2 jam dari pekerjaan kantor demi teman saya itu. He, ini pertemuan pertama kami. Selama ini kami berteman di dunia maya, lewat FB. Tapi saya mengikuti perkembangan Saut (maksudnya membaca tulisan-tulisannya) juga lewat milis, lewat blog wordpressnya. Pertemuan pertama, sebagaimana anda punya pengalaman juga, tentu sangat berkesan (nanti saya ceritakan). Ditengah sakit kepala saya, serta badan yang saya rasakan agak greges, saya bersabar menunggu panitia menyiapkan acara, padahal saya datang kesana sudah telat 30 menit dari jam 2 siang. Ini biasa saja. Saya sabar menunggu sambil sesekali memegangi kepala saya yang berdenyut.

Akhirnya acarapun dimulai. Jreng...jreng...jreng....Saut tampil membahana dengan suara bassnya yang khas itu. Tentu dengan penampilannya yang khas juga. Rambut gimbal, berkaos oblong dan bercelana pendek ala dia. Lucu juga, meski ini pertemuan pertama, saya langsung merasa akrab dengan Saut. Sebelum acara itu dimulai kami sempat ngobrol singkat. Apa yang saya lihat sekarang sama dengan apa yang saya lihat tentang Saut baik di FB, di milis, dan di wordpressnya. Tidak ada yang berubah, tidak ada yang lain, sama saja. Apa artinya ?, artinya sahabat saya itu seseorang yang konsisten dengan sikap dan pernyataannya. Ini sikap yang saya hargai, sikap yang saya sukai. Salut buatmu sobat, puji saya dalam hati. Selesai acara, saya tergopoh-gopoh pulang, suami sudah menjemput.

Yah begitulah pertemuan pertama kami. Mungkin saat ini sahabat saya itu sedang berada di pesawat yang membawanya kembali ke Jogya. Persahabatan bagi saya lebih dari sekedar bagai kepompong, hehe. Saya bersahabat dengan siapa saja, dari kalangan manapun. Senang-senang saja bersahabat dengan Saut. Persabatan akan memperkaya jiwa, meluaskan cakrawala. Diluar polemik yang ditiupkan Saut tentang banyak hal, tentang TUK dan GM (Teater Utan Kayu dan Goenawan Moehammad), tentang politik sastra itu, persahabatan itu indah. Berteman dengan Saut menambah khazanah saya tentang kebebasan berpikir. Yah kebebasan berpikir Saut dengan teman-teman dari kelompok lain saya hargai. Seperti halnya sayapun mempunyai kebebasan untuk memilih dan memilah mana pikiran mereka yang saya anggap benar dan mana yang saya anggap kurang tepat. Setidaknya saya salut dengan seorang anak manusia gigih berjuang membela haknya. Seorang Saut atau siapapun tentu boleh berjuang melawan hegemoni. Berjuang melawan dominasi dan legitimasi atas sastra yang dilakukan sekelompok orang. Ini yang dilakukan sahabat saya itu. Semoga perjuanganmu berhasil sobat. Harapan saya, semoga sahabat saya itu tidak lupa untuk terus berjuang juga memajukan kelompok Boemipoetranya. Lebih maju dari sekarang tentu saja.

Yah inilah Saut Situmorang dari sisi kekebasan berpikir dan persahabatan dalam renungan saya. Inilah soul journey saya pagi ini, dengan kepala yang masih belum sembuh karena masuk angin, masih agak cenut-cenut. Tidak ada kopi hari ini. He, kalau sedang masuk angin saya tidak berani minum kopi. Pagi ini cukup teh saja. Bagaimana menurut anda teman renungan saya kali ini ? Mari kita renungkan lagi bersama.

Saturday, May 2, 2009

Tentang Keunikan Dan Kekhasan Usaha


Ada banyak Anggrek, Yang Ini Unik Bagi Saya Karena Tanaman Sendiri

Ya keunikan itu dimana-mana diperlukan, terlebih pada era globalisasi sekarang ini. Tadi pagi secara tidak sengaja saya melihat tayangan di salah satu televisi kita. Saya lupa judul acaranya, yang jelas acara itu menampilkan sosok Bob Sadino. Ya, siapa yang tidak kenal sosok beliau. Wirausahawan sukses, sedikit nyentrik dan tentu saja unik, pemilik Kemchicks yang terkenal itu. Setelah sekuel iklan, begini ucapan Bob Sadino yang masih saya ingat, modal untuk bisnis itu tidak harus uang. Selama kita memiliki badan yang sehat juga pikiran yang sehat (tidak sedang gila, tidak sedang terganggu ingatan atau sedang stress berat, hihi ) kita bisa mengelola usaha (bisnis) dengan sukses. Tentu saja asal kita bersungguh-sungguh. Kata-kata bersungguh-sungguh ini asli saya yang menambahkan. Iya kan, apapun yang kita lakukan tidak akan berhasil bila kita tidak bersunguh-sungguh. Beliau mengambil contoh seorang yang tidak memiliki modal berupa uang bisa memulai usaha (hanya bermodalkan badan sehat dan pikiran sehat) dengan membantu menjualkan produk telur milik tetangganya ke warga sekitar kampung. Karena beliau yang ngomong, yah saya percaya. Saya pernah baca biografi beliau, beliau pernah jadi supir, jadi pedagang telur, dan sebagainya, sebelum jadi sukses seperti sekarang.

Bagi saya hal itu kedengarannya sangat masuk akal. Memang itulah modal utama setiap orang untuk melakukan usaha. Rasanya kalau setiap orang memiliki pemikiran seperti itu, tidak akan ada lagi pengangguran di Indonesia. Jadi sebagai modal awal memulai bisnis adalah punya badan sehat dan pikiran sehat. Soal lain-lain akan berjalan mengiringi. Bila kedua modal itu telah kita optimalkan sedemikian rupa dan bersungguh-sungguh, kita akan menemukan cara untuk memoles kuseksesan. Sebetulnya kita tinggal searching saja, ada banyak teori tersimpan di mesin pencari. Kiat-kiat sukses berbisnis, teori brand image, personal branding, dan lain-lain.

Sekarang lebih khusus lagi, bila kita ingin usaha/bisnis kita sukses, tentu bisnis kita harus punya posisi dan keunikannya sendiri. Bila tidak, orang tidak akan menoleh pada produk kita. Kembali ke jualan telur tadi, andai kita yang melakukan bisnis itu maka mari kita pikirkan cara bagaimana supaya seluruh warga kampung kita mau berlangganan telur pada kita, tidak lagi membeli dari tempat lain. Ya kita harus melakukan sesuatu, sesuatu yang memiliki keunikan, hal khas yang tidak didapat dari tempat lain. He, pasti sebagian kita akan nyeletuk, ah telur dimana-mana sama saja bentuknya. Ya memang sama, tetapi kita bisa melakukan polesan-polesan. Bahwa telur yang kita jual dijamin segar. Dikemas dalam tempat yang baik dan bersih. Dilakukan grading berdasarkan ukuran telur. Bila perlu telurnya sudah dicuci bersih sehingga ibu-ibu bisa langsung meletakkannya di lemari es. Ya, banyak kreasi yang bisa kita lakukan. Bila perlu kita mengantarkan telur dengan pakaian khusus yang cerah, dan dengan senyum khas yang selalu menyungging di bibir kita, hehe.

Bila dianalaogikan blog kita adalah usaha/bisnis kita. Hm..masih ingat kan definisi bisnis, semua kegiatan yang berorientasi pada keuntungan. Keuntungan kan tidak selalu berupa uang. Maka jadikan blog kita memiliki kekhasan, keunikannya yang tersendiri, sesuatu yang tidak ditemui para pembaca di blog lain. Ada yang disebut kategori, apa hal khusus yang kita bahas disana. Kita bisa melakukannya dengan gaya kita, dengan mind dan soul yang kita miliki. Dengan begitu blog kita akan khas kita. Anak-anak sekarang mengatakannya "Gue banget". Sesuatu yang gue banget itu tidak harus sangat hebat, cukup unik saja. Bila kita terkungkung dengan kata-kata blog hebat, blog terbaik, kita akan terbebani. Kalau sudah terbebani, rasanya tidak nyaman lagi. Bagi anda yang orientasi blognya mencari keuntungan berupa tambahan uang (penghasilan), coba saja resep ini.

Rasanya....itu yang saya lakukan dengan blog saya, meski, he, blog saya belum masuk dalam urutan 100 blog dalam mesin pencari . Meski, lagi, saya tidak berorientasi pada uang. Saya tidak begitu tertarik untuk menjadi blog yang terbaik. Selain karena itupun rasanya tidak mungkin (ya saya mengukur kemampuan saya dong). Saya cuma ingin dengan soul journey saya ini (dengan my own purity, my own soul), blog saya memiliki keunikan dan kekhasannya sendiri dan bermanfaat bagi pembacanya. Saya ingin sahabat-sahabat blogger saya, atau siapapun yang membaca blog saya menemukan manfaat juga kekhasan tersendiri pada blog saya. Dan semoga mereka menyukai sesuatu yang khas saya tadi. Bila suatu saat saya menghilang dari jagad blogosphere ini orang tetap akan merindukan saya dengan kenangan yang baik karena saya telah memberikan sesuatu yang bermanfaat unik dan khas ala saya kepada mereka. Hehe, stop sebelum saya ngawur lagi.

Omong-omong soal khas tadi, jujur tadi pagi saya mencoba-coba mengganti warna blog saya. Hasilnya sebenarnya lumayan. Tapi, begitu saya amati lagi dengan seksama, dari beberapa angle, kok rasanya saya merasa asing dengan blog itu. Rasanya ah "gak gue banget". Lalu saya ganti lagi warnanya ke warna semula, hitam. Saya pikir-pikir lagi kenapa saya suka warna blog saya hitam, meski beberapa teman mungkin saja mengatakan hitam itu suram. Padahal hitam juga bukan satu-satunya warna favorit saya, saya juga suka warna lain. Ah, saya menemukan jawabannya, karena saya suka kopi. Hampir seluruh postingan, saya buat saat saya sedang minum kopi. Seperti sore ini, ada kopi dan pisgor disamping saya. Kopi saya khas, agak kental, tidak begitu manis, maknyus dan tentu saja hitam warnanya. Demikian soul journey saya hari ini teman. Bagaimana pendapat anda, pasti anda punya renungan sendiri soal bisnis atau blog khas dan unik tadi ?, mari kita renungkan bersama.



Friday, May 1, 2009

Bersihkan Lubang Anda Itu......!

Hush, jangan berpikir aneh dulu dengan judul di atas. Baca saja dulu cerita saya sampai selesai. Anda punya lubang kan ? Saya juga punya, kita semua tentu punya lubang. Nah, kalau anda merasa punya lubang, ini ajakan serius saya, bersihkan lubang anda itu. Tapi terserah anda, ini cuma ajakan, himbauan saja.

Saya teringat akan kebiasaan saya akhir-akhir ini. Sudah hampir 4 (empat) bulan rasanya seperti lahir kembali. Tiap hari saat mandi saya akan telaten sekali membersihkan seluruh lubang yang saya punya. Lubang telinga, lubang hidung, lubang (tepatnya celah) di kuku-kuku saya, lubang di puser, serta seluruh lubang saya yang lain. Semuanya, tanpa kecuali. Rasanya ada sensasi sendiri mandi sembari membersihkan lubang ini, kadang sambil bernyanyi-nyanyi kecil. Pokoknya menyenangkan. Selesai mandi, segar sekali. Dan puas tentu saja, karena seluruh lubang-lubang saya sudah bersih. Rasanya geli dan risih saja kalau badan saya masih menyimpan kotoran di lubang -lubang tersebut. Itulah alasan saya suka mandi berlama-lama setiap pagi. Dan suami saya, hehe, protes.

Siang ini, sekitar 30 menit yang lalu, seorang teman (kebetulan laki-laki) menghampiri meja saya. Saat dia menghampiri meja saya saya lihat kukunya menghitam tanda jarang dibersihkan. Dia protes, tepatnya curhat mengenai bos kami. Tidak adil, tidak fair, begitu dia mengomentari bos kami itu. Saya bersabar mendengarkan keluhannya. Kenapa saya tidak mendapat perhatian seperti si x, padahal kemampuan kan sama saja...? Ujarnya setengah memelas setengah jengkel. Saya masih mendengarkan dengan sabar. Si x sebentar-sebentar dikasih proyek ini -itu (maksudnya kegiatan ekstra yang ada embel-embelnya), saya tidak. Padahal rasanya saya lebih bisa, katanya lagi. Kali ini ia kelihatan benar-benar jengkel. Cukup kata saya dalam hati, gantian sekarang saya yang jengkel. Sayangnya lidah saya kelu. Saya merasa terjerembab ke dalam lubang hitam. Ah pengap, jerit saya dalam hati. Tetapi untuk mengekspresikan kejengkelan itu padanya saya tidak tega. Bagaimanapun dia teman saya. Saya terdiam sejenak sambil menata dan memilih kata-kata yang tepat untuk membantu teman saya itu.

Ya, saya maklum dengan masalahmu itu. Tapi coba, kita pelajari bersama dengan sabar, kenapa bisa terjadi seperti itu. Coba kita introspeksi diri dengan pelan-pelan dan tenang, dan harus berpikir positif. Si x mendapat kesempatan karena dia mau bekerja sungguh-sunguh dengan cara yang benar, dan hasilnya benar. Tidak langsung memikirkan cipratan uang yang akan dia peroleh. Tapi lebih karena rasa tanggung-jawab dan profesionalismenya. Saya tidak membela si x lho, tukas saya reflek. Cobalah renungkan, kata saya lagi. Kelihatannya dia tidak puas dengan jawaban saya, lalu meninggalkan meja saya. Saya juga tidak puas teman, kata saya membathin sendiri.

Sudah hampir jamnya sholat Jum'at. Saya masih teringat curhat teman saya tadi. Ya, saya tau sebetulnya kelemahannya, itu kelemahan kita semua. Sering negative thinking, rasa iri yang besar kepada orang lain. Merasa diri mampu dan bisa boleh-boleh saja, itu percaya diri (PD) namanya, tapi tetap harus jelas dulu parameternya. Apa ukurannya kalau kita bisa...? Misal setiap diberi pekerjaan bisa diselesaikan dengan benar, tepat waktu. Ukuran benarnya tentu ada kriterianya tersendiri, ada patokannya, bos tentu itu yang dia pegang. Ya, inilah akibatnya kalau hati/jiwa kita tidak bersih, berlubang-lubang. Jiwa yang berlubang ?

Hehe, sungguh saya tidak tau apakah jiwa itu ada lubangnya. Maksud saya adalah jiwa kita pasti tidak selalu rata (benar). Pasti ada bengkoknya, ada celah dan lubang-lubangnya juga. Ya itu manusiawi sekali. Menjadi tidak manusiawi bila kita membiarkan lubang di jiwa kita berisi kotoran, dengan kata lain tidak pernah kita bersihkan. Karena itulah kita semua harus sering-sering membersihkan lubang di jiwa/hati kita. Banyak caranya, saya kira kita semua sudah paham. Sebagai langkah awal membersihkannya adalah dengan banyak merenung terhadap diri kita sendiri. Renungi dan evaluasi perbuatan dan langkah kita, termasuk mengevaluasi pikiran-pikiran kita.

Tinggal saya sendiri di ruangan. Para perempuan sedang keluar makan siang. Para lelaki juga keluar, alasannya sholat Jum'at. Mudah-mudahan setelah sholat Jum'at teman saya yang curhat tadi mendapat pencerahan. Paling tidak diberi ketenangan dalam hatinya. Saya mau siap-siap makan siang dulu. Inilah soul journey saya hari ini teman, mari kita renungkan bersama.


5 Cara Maksimalkan Diri Ketika #DiRumahAja Saat Pandemi Covid-19

Beginilah situasi saat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang harus membatasi pergerakan guna...