Search This Blog

Tuesday, June 29, 2010

Menunggu Capung


Di mencakung menunggu capung. Mencangkung di mejanya. Ya, dari mejanya ia melihat capung mendengung di dahan lengkung. Capung dinanti sejak rasa jengah menggelembung. Dia telah lama menunggumu wahai capung.

Capung menggerung. Sayap hijau bening bak kaca, kepala biru. Seketika dia rasakan jiwanya melesat bersama capung. He, rasanya ikut terbang bersama capung meninggalkan setumpuk pekerjaan di meja yang menggunung.

Meski sang capung bukannya capung yang dikejarnya ketika kecil dulu, melihat kepakkan sayapnya, he, cukuplah menggenapkan asanya lagi. Begitulah melesat sejenak ke layar notebook menunggu capung. Mencapung, ah indah juga.

Sunday, June 27, 2010

Secangkir Kopi Di Tengah Savanna


Tak bisa dihalangi. Ketika secangkir kopi dengan asap mengepul tiba di hadapannya, keinginan untuk melesat ke tengah savanna begitu meledak-ledak, hehe. Maka berangkatlah dia dengan peralatan seadanya memasuki savanna. Ya, savanna lagi.

Savanna di pagi hari begitu terasa indahnya. Langit yang cerah. Matahari belum menyentakkan teriknya. Serombongan fauna tampak berlari-lari ringan. Beberapa pohon menyembul dari savanna seperti mengucapkan salam kepadanya. Ah, indah baginya.

Maka mari savanna kan jiwa. Begitulah ajakannya saat melesat ke dalam savanna sambil menghirup secangkir kopi. Savanne nya (alm) Ali Farka Toure yang itu lagi. Tak bisa dipungkiri, kenikmatan secangkir kopi itu, he, seperti berlipat-lipat. Adakah yang juga mau melesat kesana sembari menghirup secangkir kopi....?

Saturday, June 26, 2010

Ilalang Tentang Lan Fang

Ketika sebuah sore yang berangin menyapa, tiba-tiba saja sang ilalang merasa jengah. He, jengah yang sedikit bercampur malu. Ya, malu. Malu karena terlambat tahu tentang Lan Fang. Kemarin sore kejadiannya. Kejadian yang tidak disangka-sangka di sebuah toko buku.

Karya Lan Fang ada di tumpukan sebuah toko buku di kotanya. Lan Fang, "Perempuan Kembang Jepun". Entah kenapa seperti ada kekuatan magnet yang menarik tangannya untuk membolak-balik halaman buku itu. Ia tiba di halaman pertama. Di situ tertera,

Aku belajar bicara pada hening. Karena sepi sudah akrab denganku...........(dst)

He, seketika dia suka. Hal yang jarang ia lakukan. Biasanya ia akan suka atau tidak pada seorang penulis setelah membaca utuh tulisannya. Sekali ini lain. Meski baru membaca tulisan pengantar dan sedikit profilnya di halaman terakhir. Dia seperti menemukan dirinya sendiri pada Lan Fang. Hehe, betapa naifnya dia. Diapun menjadi jengah, bercampur sedikit malu tadi.

Barulah dia teringat beberapa sahabatnya sudah pernah mengulas Lan Fang. Barangkali itulah yang menggerakkannya untuk membuka buku Perempuan Kembang Jepun saat membaca nama penulisnya Lan Fang. Selera dia (sang Ilalang) memang payah. Harus ada kekuatan besar untuk menggerakkannya membeli buku dari penulis yang belum dikenalnya.

Baiklah. Lan Fang maafkanlah dia terlambat tahu tentang dirimu. Tidak ada kata terlambat bukan. Siapa tahu dia akan bertemu dirimu di Nepal dan Tibet saat melanglang buana kelak (He, negeri dambaan kalianpun sama). Maka Lan Fang melesatlah dirimu bersama mimpi dan heningmu.

Wednesday, June 23, 2010

Luruh Dan Terlena

Sebuah pesan singkat tiba padanya tadi sore,
"Kalo sudah nyampe rumah, cari bungkusan di pot kemuning. With love"
Pesan singkat yang membuat penasaran. Diapun bergegas ke pojok kanan beranda depan, menghampiri pot kemuningnya. Betul saja, sebuah bungkusan mungil ditemukannya. Bungkusan yang jadi wangi dengan taburan bunga kemuning. Seketika jiwanya luruh dan terlena.

Begitulah sensasi yang dirasakannya. Betapa tidak, ia menemukan dambaanya. Kumpulan lagu-lagu Daniel Sahuleka (di dalamnya ada lagu "Judy") dalam sebuah kaset. Ya, kaset. Seperti yang dulu pernah dimilikinya. Haha, pastilah Bejo sedang tertawa saat ini. Betapa mudah membuatnya luruh dan terlena. Hm, sentimental taste lagi. Lebih baik saya (si bunga ilalang ini) menepi, sulit untuk dipahami......

Sunday, June 20, 2010

Sepotong Malam Biru


Disebutnya ini malam yang biru. Sebab ia biru. Ia memeluk sang bulan dengan pagutan. Meluruh pada ranting. Meliukkan angin yang hembuskan dingin padanya. Kutawan kau sahaja, kata sang malam padanya. Iapun tertunduk. Sepertinya pasrah nikmati malam biru. Maka sepotong malam birupun melaju. Kau, adakah malammu juga membiru.....?

Saturday, June 19, 2010

Kangen Mus


Pagi yang indah dan cukup lenggang datang menyapa. Pagi dimana dia bisa minum secangkir kopi dengan cukup santai. Begitulah pagi miliknya. Entah kenapa tiba-tiba ia kangen si Mus. Kangen yang tak jelas baginya, hehe. Ingatan yang tiba-tiba terbang melingkungi masa remajanya dulu. Mulai dari Tanda-tandanya. Lalu ke arti kehidupan. Hm, itu lagu-lagu si Mus yang dulu begitu ia suka. Semuanya punya kenangan.

Ya pagi ini sebuah sentimental taste yang tak jelas tiba lagi padanya. Gerangan apa yang menggerakkannya, mana saya tahu. Tak jelas. Yang saya tahu, dia begitu menikmati suasana. Wajahnya sumringah. Sebuah rasa menggerakkanya untuk menyetel youtube si Mus. Maka melayanglah dia bersama si Mus.

Inikah tanda-tandanya.....
Bunga asmara......
Ingin bersemi sekali lagi...
Tanda-tandanya.....

Itulah gesah seseorang yang sedang dilanda sentimental yang membuat wajahnya sumringah. Berkat kenangan pada lagu-lagu si Mus (Mus Mujiono). penyanyi favoritnya dulu. Ya bukankah cinta memang selalu ada. Tanda-tandanya tentu bisa menyapa siapa saja. Maka bila tanda-tanda cinta menderamu, rasailah ia. Nikmatilah ia. Sebab cinta kan buat hidup jadi lebih indah dan bermakna. Bukankah begitu kawan....!?

Tanda Tandanya By Mus Mujiono.mp3

get more free mp3 & video codes at www.musik-live.net


Wednesday, June 16, 2010

Kehangatan Yang Enggan Dibagi

Seseorang sedang asyik dibuai kenikmatan. Kenikmatan yang memang miliknya. Kenikmatan yang hangat, katanya. Hangat yang membuai dan membuatnya bahagia. Itu nampak jelas di wajahnya. Wajah yang sumringah. Berseri-seri bak sinar pagi yang menyingsing.

Tiba-tiba ada yang mengganggu kehangatannya. Tentu saja ia tepiskan. Ketika sang pengganggu mengendap-endap mendekati miliknya, segera ia halau dengan tegasnya. Rupanya, he, sang pengganggu sangat agresif dan tak kenal lelah. Saat ia sedikit lengah, sang pengganggu berhasil menghampiri dan mengambil alih miliknya. Iap menjadi berang. Mukanya memerah,. Iapun berkata,

"Ambilah untukmu saja..."
"Tak sudi aku berbagi" tegasnya lagi sambil meninggalkan sesuatu yang menjadi miliknya itu.

Kelihatannya ia benar-benar enggan berbagi. Ya, siapakah yang mau berbagi milik ? Anda mau ? Saya tidak. Itulah gesah seseorang yang tadi pagi sedang asyik menikmati hangatnya suasana. Dalam hal ini ia benar-benar tak ingin berbagi.

He, tentu saja ia enggan berbagi. Begitulah keasyikan seseorang yang sedang menikmati kehangatan secangkir kopi. Ia enggan berbagi kehangatan secangkir kopinya dengan seekor lalat, hehe. Lalat yang tadi pagi mengendap-endap lalu berhasil masuk ke dalam secangkir kopi hangatnya.

Huff, saya tak sanggup meneruskan kisah ini kawan. Terlalu menggelikan bagi saya melihat wajahnya yang mengkerut karena secangkir kopinya berhasil dibajak sang lalat. Secangkir kopi yang terpaksa ia tinggalkan karena telah dimasuki sang lalat, hehe. Selamat pagi semua.

Tuesday, June 15, 2010

Senyum Sepotong Ranting


Sepertinya dia memang menanti saya. Begitulah perasaan yang muncul di benak ketika menemukan sepotong ranting di sore yang sepi dan berangin. Dia seperti seperti memanggil-manggil saya. Seperti ingin saya temukan. Entahlah. Itulah yang saya rasakan kemarin sore. Saya seperti digerakkan menoleh pada sepotong ranting yang tergeletak di pingir jalan. Ranting yang mendenting ke bumi.

Sayapun memungutnya. Entah mengapa jadi tertarik pada sepotong ranting itu. Ranting bisu yang seperti menghiba pada saya. Dan, he, ketika saya letakkan ia pada pot keramik kecil di sudut ruangan. Ternyata ia memberi suasana lain. Ada sentakkan mesra menyapa. Dia tak lagi terlihat sebagai sepotong ranting bisu. Ia jadi seperti sepotong ranting yang tersenyum. Senyum misterius disaputi pencahayaan ruang yang pas baginya.

Saya pandangi ia dengan seksama sambil duduk di sudut ruangan ditemani lagu "Judy" Daniel Sahuleka yang entah mengapa tiba-tiba juga seperti minta saya setel untuk menemani sang ranting, hehe. Wahai Judy (akhirnya ranting itu saya beri nama "Judy"), diamlah di sudut itu dan tersenyumlah selalu. Ya, bahkan sepotong ranting bisupun bisa tersenyum. Maka mengapakah kau tahan senyummu.....? Tersenyumlah.

Saturday, June 12, 2010

A River Journey


Sebuah lintasan arus mengalir. Lepas. Bebas. Ia bergerak mencari Muara. Seperti halnya lintasan kehidupan yang juga mencari muara. Maka menganaklah Sungai Musi. Bak sebuah lintasan arus dengan cabang-cabangnya yang khas. A River Journey. Begitulah judul yang saya berikan pada gambar ini.

Sepasang anak manusia tengah menjauhi keramaian. Suara air yang tak sekedar kecipak. Arus deras. Rasa takut akan derasnya arus dan licinnya bebatuan. Barangkali itulah sensasi yang muncul. Tak jelas siapa mereka. Tak penting untuk diusik dan diusut. Hanya sebuah jepretan di tengah tugas perlawatan yang entah kenapa seperti berteriak-teriak minta saya abadikan, hehe. Adakah yang juga ingin berada di tengah arus itu....?

Thursday, June 10, 2010

Berhentilah Selagi Bisa


Berhentilah Selagi Bisa !

Kau, para penzina
Para Peselingkuh

Berhentilah selagi bisa. Bertaubatlah selagi masih ada waktu. Sebab dunia terus berputar. Tak selamanya sang waktu bisa menyimpan cerita hitammu dalam diam. Bila Dia berkehendak, dalam sekejab semuanya akan terbongkar. Begitulah pesan tiba-tiba si Bunga Ilalang ketika sang hari mendekapnya dalam senyuman. Entah kenapa ia meninggalkan pesan seperti itu. Barangkali bosan dengan berita televisi yang itu-itu juga. Yah mungkin begitu.

Berhentilah Selagi Bisa !

Pesan si Bunga Ilalang (Berhentilah selagi bisa) di atas mungkin cocok juga bila ditujukan kepada:

Kita yang malas dan suka menunda pekerjaan
Kita yang suka mengeluh dan sibuk mengurusi hal yang tidak penting
Kita yang sering tidak amanah
Kita yang suka mengambil hak orang lain

Mari kita renungkan. Mohon maaf bila ada yang tidak berkenan. Selamat siang semua.

Tuesday, June 8, 2010

Catatan Sebelum Gelap Tiba

Kegelapan hampir tiba. Ya, senja sudah di depan mata. Seseorang baru saja tiba di rumahnya. Langit mendung menyambut. Hujan baru saja reda. Dedaunan basah. Samar-samar ia bisa mencium bau tanah yang tersiram air hujann.

Hujan, he, seperti biasa selalu menyejukkan baginya. Ia suka suasana hujan, juga suasana setelah hujan. Suasana sejuk dengan ranting dan dedaunanan yang basah membuat jiwanya juga basah. Kebasahan jiwa, hm...., siapa yang tidak suka. Dia suka. Sayapun suka.

Ya, inilah catatan di jiwanya sebelum kegelapan tiba. Agaknya ia menyukai situasi dimana ia bisa tiba di rumah sebelum gelap. Ada sebuah kelegaan, entah kenapa. Setidaknya bisa sholat maghrib bersama keluarga. Mungkin itulah alasannya. Kegelapan, sebentar lagi kau tiba. Selamat datang. Sapalah kami dengan romantismemu yang paling dalam dan paling menyentuh jiwa. Begitulah desisnya kawan.

Saturday, June 5, 2010

Setangkai Kembang Jambu


Ia berdiri di sebuah tempat sunyi dimana angin menerpa dari segala penjuru. Sebuah tempat dimana ia bisa memandangi setangkai Kembang jambu. Kembang jambu yang seketika membuat jiwanya meleleh. Ingatannya tertumbuk pada Kisah kembang jambu Jatuh Ke Tanah yang pernah dibuatnya.

Matanya mulai terpejam. Angin yang mengelilinginya makin menderas. Membuat jiwanya melesat juga meleleh. Lalu mengalir pada kenangan masa kecil. Kembang jambu jatuh ke tanah selalu bisa membuat kedua sudut matanya basah. Kebasahan yang bukan karena kesedihan. Kebasahan karena kebahagiaan. Bahagia karena memiliki kenangan masa kecil indah yang dibawanya kemana saja.

Maka disyukurinya saat indah sore ini. Saat dimana ia bisa berada pada tempat dengan angin yang menerpa dari segala penjuru ini. Juga untuk setangkai kembang jambu yang menawan jiwanya tadi. Alhamdulillah. Kelihatannya ia telah meleleh sebagaimana yang diinginkannya saat berkemas kemarin. Adakah yang juga sedang meleleh saat ini....?

Friday, June 4, 2010

Ia Berkemas


Seseorang tengah berkemas pada suatu hari. Bersiap-siap hendak menuju suatu tempat. Kelihatannya barang sehari atau 2 hari. Baju yang disiapkan cuma 2 pasang. Dua buah jeans dan 2 buah kaos lengan panjang. Benda lainnya, ya, cuma hp, laptop bututnya yang setia, dan kamera digital. Hendak kemanakah ia...? He, entahlah

Tiba-tiba ia berbisik,
"Aku ingin meleleh...". Bisikkkan yang absurd maknanya bagi saya. Meleleh....!? keinginan yang tak jelas.
"Kenapa ingin meleleh..." saya balik bertanya
"Sebab kepala sudah penuh. Sense sudah beku....tentu harus dicairkan..."
"Ah bilang saja sedang bosan dengan suasana. Pengen liburan" tukas saya
"Begitulah" jawabnya sigap.

He, ternyata meleleh baginya adalah melelehkan kebosanan, melelehkan kebekuan sense. Begitukah ? Entahlah. Mungkin saja. Kelihatannya masuk akal. Sebuah rutinitas bisa saja membuat bosan. Bila bosan mendera, sudah tentu harus mencari suasana lain. Mungkin itulah alasannya berkemas.

"Hendak kemanakah ...?"
"Maunya sih ke TN Sembilang....."
"Tapi liburnya cuma sabtu dan minggu, ya ke rumah kakakku saja. Numpang mancing, sekalian cari inspirasi disana"
Saya kira tadi dia akan menjawab ke Paris, Singapore atau ke Bandung, haha. Berkemas hendak sowan ke rumah sudaranya, entah dimana. Baiklah itu haknya.

Saya memperhatikan dirinya berkemas. Memperhatikannya sedemikian rupa dengan harapan saya diajak serta liburan. Tapi, tanpa diajakpun saya akan ikut serta. Pasti itu. Ya, tentu saja. Bagaimana mungkin dia bisa pergi bebas tanpa saya. Tak akan bisa. Dia dan saya (si Angin Selatan) kan satu paket. Semoga ini menjadi liburan singkat yang indah bagi kami. Akhir pekan telah tiba, tidakkah kau ingin berkemas juga.....?

Wednesday, June 2, 2010

Ia Memeluk Malam


Ia memeluk malam. Pelukannya erat dan hangat. Hangat hingga wajahnya tersenyum sumringah. Hangat karena sang malam juga memeluknya erat dan hangat. Di ranting sebatang pohon beberapa ekor burung benyanyi dan menari. Nyanyian dan tarian yang indah juga syahdu. Kesyahduan yang membuat rindu, katanya.

Malam itu semakin beranjak. Rembulan muncul dari balik dahan yang perlahan meninggi hingga bisa ia pandang dari balik jendela. Malampun tak sekedar syahdu, juga romantis. Maka pelukannya kepada sang malam bertambah erat. Pelukan yang seakan tak ingin terlepas. Sebab sang malam akan meninggalkannya tepat saat fajar merekah. He, ia seperti tak rela ditinggalkan sang malam. Maka iapun merapatkan pelukannya kepada malam.

Kau, sukakah kau memeluk malam,,,,,???, tiba-tiba sebuah pertanyaan ditujukannya kepada saya. Pertanyaan dari Si Bunga Ilalang yang tengah memeluk malam. Tentu saja saya jadi gelagapan. Namun, diam-diam saya jawab pertanyaan itu, tentu saja suka. Sebab pada malamlah saya menghilangkan penat. Pada malamlah saya menggenapkan indahnya sebuah hari. Begitulah rasanya. Selamat malam semua.

Tuesday, June 1, 2010

Senyuman Awal Bulan Juni



Tadi pagi setelah selesai sholat shubuh dan membuat sarapan sekenanya, saya setel lagi "The Secret". Film yang selalu menggugah dan menyemangati. Pikirkan apa yang menjadi keinginan kita, bukan pada apa yang tidak kita inginkan. Selaraskan apa yang kita minta dengan kesungguhan dan perjuangan. Dengan begitu kita akan menarik keinginan kita menjadi kenyataan. Hm......, sebuah pengunggahan yang lumayan buat saya.

Ketika saya buka jendela kamar, sang angin seketika menerobos menghampiri saya. Hawa segar mengelilingi dengan penuh kelembutan. Sekuntum anggrek ungu juga menyapa saya. Menggugah rasa terdalam saya. Seperti sebuah ciuman hangat yang menyapa. Barulah saya tersadar, he, ini hari pertama di bulan Juni tahun ini.

Maka sayapun tersenyum sebagaimana senyum sang bunga. Inilah senyuman di awal Bulan Juni. Selamat datang Juni yang indah. Mari tarik keinginan indah kita menjadi kenyataan yang indah. Tidak saja untuk kita, untuk semesta di sekitar kita.

Pesona Labu Kuning, Menjalar di Tanah dan Merambah di Hati Penggemarnya

Sumber Foto : pixabay.com Dalam bayangan saya akan hari tua. Ada sebuah rumah kayu mungil dengan halaman luas. Pada halaman luas itu ...