Search This Blog

Thursday, December 31, 2009

A Contemplation The End Of The Year


The end of the year's near. Long weekend was here. It's nice. It's warm, and it's harmony. It's time for us to review our life journey. It's time to make a contemplation. Enjoy your long weekend. Enjoy your contemplation.

Here's a wise words of Dalai Lama....


"I believe that the very purpose of life is to be happy. From the very core of our being, we desire contentment. In my own limited experience I have found that the more we care for the happiness of others, the greater is our own sense of well-being. Cultivating a close, warmhearted feeling for others automaticaly puts the mind at ease. It helps remove whatever fears or insecurities we may have and gives us the strenght to cope with any obstacles we enconter. It is the principal source of success in life. Since we are not solely material creatures, it is a mistake to place all our hopes for happiness on external development alone. The key is to develop inner peace"

-Dalai Lama-


Have a wise contemplation with your own vision. Happy New Year 2010.

For my best friend Fanda, hehe, I dont have some word for those resolution. More than everything, I want the universe's better than the past. I want all of us have our own vision to make our life and our universe better. So..., let's take a good chance. Love yourself with honestly way.


Wednesday, December 30, 2009

Renungan Tentang Newsoul, Sayangi Dirimu



Malam mulai meringkuk lagi sobat. Untungnya, tidak hujan malam ini. Lalu, tanpa bisa saya hindari, tiba-tiba saja saya ingin menulis sesuatu. Maka, he, terpaksa buka laptop lagi lalu mulai menulis dengan judul di atas.

Tuesday, December 29, 2009

Desember Dan Setitik Air Di Kedua Sudut Matanya


Suatu sore di bulan Desember. Hujan baru saja reda. Jendela basah. Dedaunan dan ranting basah. Tanah membasah. Segalanya basah. Dan kebasahan itu melanda juga kedua sudut matanya. Ya, setitik air mengumpul di sudut kedua matanya.

Sudut mata yang membasah itu menyinarkan kilaunya. Kilau pada cahaya yang tiba pada retina bola matanya. Sementara, di retina bola mata yang lain, sebuah sinar juga berkilau. Entah sinar apa. Tak ia pahami. Tak pula bisa ia mengerti. Hanya, ia merasakan sinar itu adalah sinar yang dulu mempertemukan mereka. Sepasang anak manusia yang bertemu, hidup bersama dalam suka dan duka, lalu berpisah di bulan Desember.

Tiba-tiba, setitik air di sudut kedua matanya jatuh......perlahan-lahan. Tak bisa ia tahan. Begitulah tentang Desember dan setitik air di kedua sudut matanya. Sang Angin Selatan si saksi bisu cuma bisa terpaku. Betapa sinar titik airmata tadi telah menyilaukanya.

Gambar diambil dari sini

Sunday, December 27, 2009

Penumpahan Resah Di FB Yang membosankan


Kenapa saya bosan, kalau tidak bisa disebut eneg, dengan penumpahan resah sebagian besar orang-orang...? Belum ada jawabannya. Kenapa saya mulai muak dengan hasrat sebagian besar orang-orang yang begitu bernafsu ingin menasehati dan menceramahi orang lain...? Juga belum ada jawabannya. Begitulah kebosanan saya pada hingar bingar keresahan di FB. Sebuah situs jejaring sosial terlaris saat ini, yang mungkin juga anda ikuti.

Saya melihat status yang dituangkan berisikan nasehat, penggalan ayat suci dan hadist sangat dipaksakan, terlihat sekedar menutupi resah. Entahlah. Mungkin saya berlebihan. Ketika hal ini sempat saya kemukakan secara jujur di status saya. Salah satu dari penceramah instant itu menjawab secara terburu-buru. "mba.....saya sedang menasehati diri saya sendiri", begitulah katanya. Saya takjub. Kalau begitu kenapa tidak diresapi saja sendiri dalam hati, tanpa harus menumpahkannya di home, dan memaksa orang-orang untuk membacanya, ujar saya dalam hati, hiks.

Begitulah. Mungkin saya memang sedang berlebihan. Mungkin itulah jawabannya. Akhirnya, supaya aktivitas silaturrahim dengan kolega, karib dan kerabat di situs tersebut tetap berjalan lancar dan santai, orang-orang dengan kecenderungan tadi biasanya saya hindari. Sebuah cara instan juga. Bagaimana pendapat anda...?

Gambar diambil dari sini

Saturday, December 26, 2009

Semangkuk Tekwan Dan Gerimis





Gerimis tiba di kota ini. Gerimis ini, seperti ungkapan sebuah lagu, agak mengundang. Mengundang sebuah sensasi di jiwa, dan....mengundang rasa lapar. Maka terbersit segala keinginan akan berbagai makanan yang menggugah selera. Kali ini, tidak jauh-jauh, he, selera kampung muncul di benak. Tekwan. Ya betapa menyegarkan menikmati semangkuk tekwan hangat di tengah gerimis.

Maka seperti biasa, srat-sret-srut, sedikit berkutat di dapur. Jadilah sepanci tekwan yang siap disajikan untuk keluarga di tengah gerimis ini. Tekwan dan gerimis. Barangkali terdengar aneh, tapi rasanya, bagi keluarga saya, lumayan mantap. Selamat menikmati hari libur anda kawan. Mungkin selera khas sesuai keinginan anda sedang mengemuka juga saat ini. Bubur Manado, Gudeg Jogya, Iga Bakar Conro, Soto Madura, atau Coto makasar, apapun, hm...pasti membuat nyaman perut dan menghangatkan suasana di rumah. Saya dan keluarga hendak meneruskan soal Tekwan dan gerimis tadi ya. Selamat sore semua.

Friday, December 25, 2009

Alhamdulillah, Kalender Kembali Merah


Seperti kebahagiaan sang rumput liar yang mendapat curahan sinar matahari pagi, sebuah sukacita tiba hari ini. Ya, alhamdulillah, hari ini tanggal di kalender kembali merah. Kalender merah tiba, sukacitapun tiba. Menyenangkan mendapati hari yang tidak terburu-buru. Sarapan pagi dengan secangkir kopi hangat yang lumayan santai. Menikmati kicau burung. Memandang indahnya rerumputan liar. Memeriksa tanaman-tanaman kesayangan, dan tentu saja bercengkrama dengan keluarga. Libur telah tiba.

Maka mari kita nikmati libur singkat ini, sebelum libur lain (Tahun Baru) juga tiba. Betapa setiap hari, pun hari dengan kalender merah ini, harus disyukuri. Setidaknya kita mensyukuri selalu diberiNya anugrah. Pekerjaan, keluarga, dan kesempatan untuk saling berbagi. Maka mari bersyukur atas diberiNya juga kesempatan untuk sedikit mengendurkan syaraf dan otot yang kencang karena kesibukan kita. Selamat pagi semua. Selamat menikmati libur anda. Selamat Hari Natal bagi rekan-rekan yang merayakan. Sukses dan barokah untuk kita semua.

Wednesday, December 23, 2009

Hujan Di Sore Yang Sepi Itu


Entah telah berapa sore saja hujan turun di bulan ini ketika ia turun kembali di suatu sore yang sepi. Seperti hujan pada sore-sore sebelumnya, hujan kali itu merinai dengan niat bulatnya. Deras tanpa malu-malu. Dan entah kenapa kali itu si hujan membuat sang sore bertambah sepi. Ia membuat langit makin gelap. Tanaman-tanaman terlihat menengadah sekaligus mengaduh ketika ditimpa butirannya. Hewan-hewan terlihat diam tak bersuara. Orang-orangpun jadi enggan keluar rumah. Jalanan sepi. Suasana sepi. Begitulah tentang sebuah hujan di suatu sore yang sepi.

Ketika itu...., saya cuma bisa menatap sang hujan. Tentu sambil menikmati secangkir kopi. Ya secangkir kopi dimana saya bisa menghalau dingin dan sepi sore itu. Maka bagaimanakah menurutmu wahai Angin Selatan tentang hujan yang juga kau rasakan di sore yang sepi itu...? Tak ada jawaban. Saya cuma merasakan hembusannya. Hembusan yang juga terasa sepi. Dan sepi ini terasa indah kawan.

Gambar diambil dari sini

Monday, December 21, 2009

Dia Yang Meng"Ibu"kan Jiwanya


Dia ibu yang tak sempat melahirkan putranya, sebab kehadiran sang anak terenggutkan oleh waktu. Dia ibu yang mencoba meniupkan semangat pada jiwa anak-anak di sekitarnya meski mereka tak memanggilnya ibu. Dia ibu yang air matanya menetes saat menatap jiwa-jiwa perih itu berteriak memanggil "Ibu" pada ibu mereka. Selamat hari Ibu untuk semua ibu siapapun mereka. Begitulah ucapan lirih seseorang yang meng"ibu"kan jiwanya.

Gambar diambil dari sini

Sunday, December 20, 2009

Antara Haryo Pramoe dan Farah Quinn

Tidak sengaja tadi nonton acara Harmoni Alam (memasak di alam terbuka) si Haryo Pramoe (tau kan acara itu ?). Seperti biasa, cara memasaknya sederhana, dengan alat seadanya, dan di alam terbuka. Ketika saya melihat si Haryo memasukkan bahan isi lumpia ke kulit lumpia dengan menggunakan tangan. Ow, tangan bertato itu, pasti sudah cuci tangan, dengan PDnya mencengkam isi lumpia, lalu menggulungnya, hihihi. Terbayang saja masa jadi anak kost dulu, hehe. Masak oblok-oblok, istilah saya. Resep suka-suka, bahkan ngawur. Tapi karena anak kost maunya serba cepat, ya tidak masalah. Kalau untuk dimakan sendiri atau rame-rame teman saat kemping atau perjalanan off road, ya tidak masalah. Memasak itu tidak kaku, dan harus menyenangkan. Setiap laki-laki dan perempuan harus bisa memasak, katanya. Namanya juga acara Harmoni Alam, konsep acaranya seperti itu. Dan acara ini sukses.

Begitulah kalau lelaki yang memasak. Bagaimana kalau perempuan yang memandu acaranya ? Salah satu contoh Farah Quinn. Chief cantik itu selain mengebyar layar kaca dengan keahlian memasak ala hotel berbintang, juga menampilkan sentuhan khasnya. Cantik, seksi, dan ilmu kulinernya mantap. Saat ia memasak aura kecantikannya makin terlihat. Lihatlah tanganya yang langsing itu ketika memeras jeruk nipis atau memecahkan telur, sampai otot-otot lengannya terlihat. Katanya itu semakin membuat dia terlihat anggun. Dan acaranyapun sukses.

Jadi Antara Haryo Pramoe dan Farah Quinn, masing-masing punya gaya sendiri, sesuai dengan jenis penonton yang ditargetkan. Kedua acara itu sukses. Kalau kita sedang di perjalanan, sedang riset, sedang di daerah terpencil dimana kita harus memasak sendiri dengan peralatan sederhana, mungkin lebih cocok mengikuti gaya memasak Haryo Pramoe. Nah..., kalau kita sedang ada banyak waktu, sedang di rumah, peralatan lengkap, bahan ada, ya tidak ada salahnya mencoba memasak ala Farah Quinn. Selain menyenangkan keluarga, pasti menyenangkan diri sendiri. Mumpung libur, ayo silahkan dicoba bagi yang suka memasak. Selamat meghabiskan weekend.

Friday, December 18, 2009

Call Me Bloggerita, Bisik Zahra

Call me bloggerita....., suara lembut itu meminta dengan syahdu. Dialah senorita Zahra Lathifa. Seorang blogger dari Pekanbaru. Seorang ibu yang mencintai anak-anaknya dan selalu menginginkan kebahagiaan. Maka saya jawab, tentu saja sobat. Sebab anda memang bloggerita (blogger wanita). Maka inilah wujud permintaan lembutnya.





Ya sebuah award indah. Saya pilih ini dari tiga pilihan yang diberikan untuk para bloggerita. He, pas tadi mampir ke tempat Trimatra, ternyata selera kami sama (kenapa Trimatra pilih jatah yang buat para blogger wanita...?, hayo jawab Tri. Becanda ya, suka-suka Trimatra dong mau pilih yang mana).

Kebetulan gambarnya burung dengan latar warna biru yang lembut. Sang burung sedang terbang dan membawakan bingkisan. Sebagaimana sebuah bingkisan yang selalu dinanti, semoga semangat para blogger untuk selalu berbagi empati dan support senantiasa ada. Terimakasih sobat atas award indah ini.

Award ini saya anugrahkan untuk para bloggerita yang lain, yaitu
Semoga berkenan. Ayo para blogger dan bloggerita, semangat dan mari sebarkan cinta.

Thursday, December 17, 2009

Si Perdu Narsis Di Tepi Kolam Pada Suatu Pagi


Entah kapan dan dimana saya pernah membaca beberapa penggal kalimat tentang Narcissus sang tanaman pengagum dirinya sendiri yang tumbuh di tepi kolam sehingga lahirlah istilah Narsis. Apakah di salah satu roman zaman dahulu yang saya baca saat masa SMA ...? Apakah di salah satu sajak Sapardi Djoko Damono...? Masih belum ada jawabannya. Betul-betul ketidakjelasan yang menimbulkan penasaran.

Maka tanpa saya tau sebabnya, pada suatu pagi yang masih agak gelap, berdirilah saya di tepi kolam yang entah dimana. Sepi saja suasana disana. Dingin berkabut lembut yang perlahan-lahan mulai hangat oleh sinar matahari. Ketika matahari mulai menerangi dengan terang benderang, pemandangan kolam dan sekitarnya mulai jelas terlihat. Kolam yang tidak begitu luas. Agak sedikit lebih besar dibanding empang ikan di Balai Diklat tempat saya bekerja awal dulu. Kolam yang bentuknya agak menyempit di ujung kanan, menyerupai estuarium sebuah delta.

Di atas permukaan kolam ada beberapa tanaman teratai mengambang dengan bunganya yang putih. Agak jauh dari kolam tumbuh beberapa rumpun ilalang dengan bunga bak harum manis langsing yang juga berwarna putih. Di tepi kolam terlihat beberapa perdu kecil dengan bunga bulat seperti lonceng berwarna kuning. Inikah sang Narcissus...? Tentu saja sang perdu tidak menjawab. Dia tampak malu-malu, sibuk dengan dirinya sendiri. Saat saya tatap air kolam di bawah sang perdu tumbuh, tampaklah sang perdu dengan senyumnya percaya dirinya yang anggun. Ternyata sang perdu sedang menatap dirinya sendiri dengan bangga di air kolam. Sayapun tersentak. Meski ia mungkin bukan perdu Narcissus yang dimaksudkan tulisan yang pernah saya baca, ialah Sang Narsis. Ya salah satu perdu narsis yang hidup di tepi kolam.

Betapa sebuah kelegaan memang harus dihargai. Maka sayapun menghargai kelegaan yang dimiliki sang perdu terhadap dirinya sendiri. Bukankah ini salah satu perwujudan rasa syukur terhadap apa yang ada dalam diri. Cuma, kalau sering-sering seperti sang perdu yang tidak mau jauh dari kolam tempatnya berkaca, maka menjadi narsis yang berlebihan. Begitukah ? Entahlah.

Sepenuhnya senyap saja. Angin di sekitar kolam mulai membelai-belai kulit saya dengan berani. Selain itu, saya takut sesuatu dalam diri saya tak bisa saya kendalikan. Segera saya jauhi kolam itu, he, takut menjadi narsis. Sungguh sebagian kita (saya, anda) telah menjadi narsis tanpa kita sadari. Begitukah ? tanya si angin Selatan. Sekali lagi, entahlah.

Gambar diambil dari sini

Wednesday, December 16, 2009

Rani Oh Rani, Ketika Rayuan Itu Dikumandangkan

He, sebetulnya saya tak begitu perduli soal si Rani oh Rani ini. Malas saja memikirkannya mengingat pekerjaan saya lebih membutuhkan perhatian. Dan semalam, juga pagi ini, sesuatu tiba-tiba membuat sata tersentak. Ketika rayuan dengan nada cekikan dan manja sang Rani oh Rani dikumandangkan.

"Bapak...., jangan ngambek dong...."
"Aku ikut ke Eropa yak...."
"Besok main yak...."
"Bapak...., suami aku ditangkap..."
"Al Amin, hihi...."

Serta merta syaraf kegeraman saya bangkit. Tentu bukan geram pada sang Rani oh Rani itu. Geram pada sesuatu yang telah membuat cekikikan dan bisikan manja itu menjadi sebuah kekacauan berdarah, menghebohkan, dan makin mengonjang-ganjingkan para kadal dan buaya. Ampuni kami Rabb.......atas dunia yang tak mampu kami tata ini.

Tuesday, December 15, 2009

Cinta Kita, Dimana Kehangatan Selalu Ada


Kenamanakah tujuan sang pengembara...?
Mencari cinta dimana kehangatan selalu ada
Dimanakah cinta tanyanya
Di jiwa yang selalu hangat

Maka cintailah cinta
Cinta pada semesta dimana cinta bukan dusta
Cintailah cintaNya
Cinta dimana kehangatan selalu ada

Gambar diambil dari sini

Sunday, December 13, 2009

Sebuah Sentuhan Jiwa


Apakah jiwa hanya dimiliki benda yang hidup....? Tentu saja, bila jiwa kita artikan sebagai seseuatu pemberi nyawa yang membuat suatu benda bernafas. Dan jiwa yang saya maksudkan disini, lebih kepada ruh atau aura, hal yang membuat sesuatu, benda mati sekalipun, memiliki aura yang hidup.

Maka lihatlah sebuah lukisan, sebuah patung, atau sebuah vas bunga. Bila ia memancarkan aura kepada lingkungan di sekitarnya, bagi saya ia memiliki jiwa. Tentu ini menurut saya. Pandapat lain, apapun, ya sah-sah saja.

Saya pernah melihat sebuah lukisan seakan tersenyum pada saya. Saya pernah melihat sebuah restoran yang konsep penataannya menyentuh jiwa saya, seakan melambai-lambai mengajak saya masuk ke dalamnya. Saya pernah melihat sebuah pondok yang seakan menawarkan kehangatan untuk berteduh.

Artinya...... bila konsep jiwa ini diterapkan pada sebuah bisnis, maka inilah yang mereka sebut daya tarik. Ya...., awal daya tarik adalah sentuhan jiwa di dalam sebuah benda. Barangkali inilah yang diterapkan para pengusaha agar produk mereka disukai konsumen. Bisnis yang memiliki konsep menyentuh jiwa. Bisnis yang tidak sekedar bisnis. Bisnis yang memikirkan kepuasan jiwa pelanggan. Barangkali ya.

Rasanya ini berlaku tidak hanya pada bidang bisnis. Apapun produk yang kita hasilkan, sebuah konsep pemikiran, sebuah proyek besar atau kecil, sebuah tulisan, sebuah lukisan, sebuah benda kerajinan tangan, dan sebagainya, seyogyangnya memiliki jiwa. Dengan demikian produk yang kita hasilkan tak sekedar produk, tapi sebuah kehangatan jiwa. Bagaimana menurut anda.....? Anggap saja ini selingan pemikiran di hari minggu. Begitulah bisik si Angin Selatan kawan.

Gambar diambil dari sini

Saturday, December 12, 2009

Pagi Di Atas Daun


Pagi di atas daun. Ia akan selalu tiba tanpa bisa ditolak kedatangannya. Seperti tibanya sinar mentari yang menyembul di balik pepohonan setiap hari. Pagi di atas daun ini menimbulkan nuansa tersendiri saat saya tatap. Di atasnya ada setetes embun. Embun yang juga tak bisa ditolak kedatangannya. Bahkan selalu ditunggu sang daun. Maka daun dan embun saling melengkapi keindahan pagi ini. Pagi di atas daun, hm.....indah bagi saya. Betapa semesta selalu mengalir dan mengajari kita tentang sesuatu, apa saja, yang tertangkap oleh jiwa kita yang terbatas ini. Selamat pagi dunia.

Thursday, December 10, 2009

Savanna Diantara Kepulan Asap Kopi


Ritual menikmati secangkir kopi sore ini agak lain. Entah kenapa tiba-tiba ingin diiringi "Savanna" si Toure (Ali Farka Toure). Maka jadilah sore tadi saya mencari-cari Savanna pada perangkat musik di laptop butut saya. Savanna diantara kepulan asap kopi. Hm.....nikmat.

Ya, tidak hanya sensasi nikmatnya secangkir kopi yang saya rasakan. Sensasi berada di padang rumput luas dengan angin semilir dan dengan lengkingan khas si Toure menambah kelengkapan rasa. Rasa nyaman dan lega sambil menghilangkan lelah pulang kerja. Rasa dilepaskan dari penat yang menumpuk setelah selama 2 (dua) hari meninggalkan si angin selatan menunaikan tugas luar. Betapa kesibukan kadang menyita kegembiraan kita.

Begitulah indahnya savanna diantara kepulan asap kopi. Diantara denting gitar dan lengkingan suara Ali Farka Toure dan diantara kepulan asap secangkir kopi, saya melihat anak-anak kecil, ibu-ibu rumah tangga, remaja, bapak-bapak, bahkan nenek-nenek, penuh semangat mengunpulkan koin (koin dukungan) untuk Prita Mulyasari. Diantara savanna dan kepulan asap kopi itu sayapun melihat dengan lega bahwa tanggal 9 Desember kemarin berlalu dengan cukup tenang (tanpa chaos seperti yang dikhawatirkan mereka).

Betapa jalan keluar dan kelegaan seperti ini harus dirayakan. Meski hanya dengan memutar lagu savanna sambil menghirup secangkir kopi. Ya kita semua, mari kita cari sesuatu yang patut kita syukuri. sekecil apapun, pasti ada kan.

Gambar diambil dari sini

Monday, December 7, 2009

Si "Motif Lain" Yang Menggemparkan

Si motif lain sedang gencar dibahas disana-sini. Si motif lain ini, kenapa begitu menggemparkan ? Kenapa begitu ditakuti.....? Saya geleng-geleng kepala diantara rasa lelah saya. Heran, agak bercampur jengkel. Saat mandi tadi, saya sempat merenung singkat. Mahluk menakutkankah si motif lain itu...?

Hm, tentu saja bukan saya yang akan menjawabnya (wong saya sedang bertanya). Saya masih tetap merasa heran yang bercampur agak jengkel tadi. Sambil mengeringkan rambut di depan laptop butut ini izinkanlah saya melepaskan keheranan saya.

Apakah si motif lain ini ditakutkan karena motifnya aneh, langka, atau berbahaya. Motif apa ya kira-kira..., motif abstrak, motif klasik, motif surealis ala Salvador Dali...? Mungkin si motif lain inilah yang diletakkan secara paksa pada bu Prita (dikira motifnya mencemari keindahan kain lorri si Omni). Mungkin si motif lain ini diduga telah bertengger untuk acara demo yang akan dilaksanakan pada tanggal 9 Desember nanti (2 hari lagi ya). Demo Hari Anti korupsi, konon katanya ditunggangi motif lain ?

Entahlah. Apakah kita sudah menjadi begitu berlebihan dalam memelihara syak wasangka kita. Sekali lagi entahlah. Semoga ketakutan akan adanya motif lain ini tidak menggetarkan langit sehingga malah mendorongnya menjadi sebuah kenyataan. Semoga saja tidak. Saya cuma berharap tangal 9 Desember nanti tidak terjadi macet, apalagi chaos disana. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Jadi, sambil tetap waspada, mari tepiskan ketakutan akan adanya motif lain ini. Mari........

Sunday, December 6, 2009

Seseorang yang Menggugat Rasa


Ia seperti air laut yang menepi dan surut,
ketika sesuatu di dada menciut ke titik nol.
Ia seperti air laut menerjang dan pasang,
ketika sesuatu di dada membuncah tak bertepi

Bila ia adalah busa, maka ia adalah secuil busa di tengah samudera luas. Begitulah kira-kira keberadaanya di alam semesta ini. Ia seseorang, seorang manusia, yang menapaki bola raksasa bernama "Bumi" ini. Dan seseorang ini, tanpa bisa dicegah oleh waktu, menggugat rasa.

Rasa apakah yang ia gugat....? Pertanyaan ini seketika muncul. Dan jawabannya adalah.....rasa yang tak menggenapkan. Rasa yang dirasa-rasa. Rasa yang ketika muncul membuat sesuatu mengelegak di dada. Rasa yang membuat pandangan menjadi gelap, dan menyesakkan. Rasa itulah yang harus digugat. Gugatlah dengan nurani yang ada. Bukankah perjalanan hidup sepanjang jalannya telah mengajari kita.

Maka perlukah lagi kita menggugat bahagia dan tidak bahagia. Perlukah kita menggugat kepedihan kita. Perlukah kita menggugat ketidakpuasan kita. Masing-masing kita akan menjawabnya dengan keinginan kita sendiri. Seseorang pernah berkata atas rasa tidak bahagia kita, kepedihan dan kesedihan kita, perihnya akan menghujam seperih yang kita izinkan. Maka tentu saja ia akan mendera kita sepanjang kita mengizinkannya.

Mari gugat hati nurani kita. Sepanjang perjalanan dunia yang semakin tua, perasaan sering menipu kita. Sedang hati nurani, ia tak pernah membohongi kita.
Kita adalah apa yang kita pikirkan. Selamat melangkahkan kaki menapaki bola raksasa bernama "Bumi" ini dengan rasa yang kita inginkan.

Secangkir Kopi Tanpa Goreng Ubi



Pagi yang menggeliat seperti biasanya. Diawali kokok ayam yang terdengar sayup-sayup di komplek sebelah. Inilah rutinitas awal hari. Seperti biasa, tentu saja dengan secangkir kopi. Lalu entah darimana datangnya, sebuah keinginan tiba-tiba muncul begitu saja. He, ingin menikmati secangkir kopi ditemani sepiring goreng ubi. Sebuah keinginan sangat sederhana bukan. Tapi menjadi sulit mengingat dimana saya bisa mencari sepiring goreng ubi saat ini juga.

Saya terdiam, memandangi secangkir kopi saya. Ya secangkir kopi tanpa goreng ubi. Tentu saja sulit memenuhi sebuah keinginan bila datangnya mendadak seperti ini. Secangkir kopi saya terlihat kelu. Maka tidak ada yang bisa saya lakukan selain segera berkompromi dengan hati. Kopi saya sudah terhidang. Saya harus segera meminumnya sebelum cairan hitam kesukaan saya itu menjadi dingin, meski tanpa goreng ubi.

Shruuuuup......., saya mereguknya dalam diam. Sepotong roti akhirnya terasa bak goreng ubi. Saya mereguk kembali cangkir kopi saya, kembali dalam diam. Dalam regukan diam dan hening ini saya merenung. Begitulah sebuah keinginan. Bahkan untuk sepiring goreng ubipun kita harus berkompromi dan bersabar. Saya harus menyiapkan 2-3 kilo ubi di rumah. Jadi kalau keinginan itu datang, saya tinggal srat-sret, membuat goreng ubi.

Ya sepiring goreng ubi atau sebentuk keinginan yang lain, apapun itu, tentu harus direncanakan. Bukankah begitu kawan. Dan harapan kadang tidak sesuai dengan kenyataan, kompromi dengan hati harus dilakukan. Begitulah. Untung sekedar ingin goreng ubi. Kalau tiba-tiba ingin ngopi plus sepiring Salmon dari Laut Tengah, dan saya sedang ngidam, hiks apa jadinya. Selamat pagi semua. Saya mau menghabiskan kopi saya lagi ya, meski tanpa goreng ubi. Selamat menikmati akhir pekan.

Gambar diambil dari sini

Thursday, December 3, 2009

Ketika Kasih Sayang Menyapa Semesta


Pada suatu pagi yang biasa-biasa saja. Setangkai anggrek dengan bunga mungil menguning (Golden Shower) menyapa pagi dengan rasa indah yang seadanya. Dan rasa indah yang seadanya itu, entah kenapa saya suka. Ada kepercayaan diri yang teguh tersirat didalamnya. Ia menyatakan sesuatu yang dahsyat dalam diamnya. Saya, tentu saja menyukai sesuatu yang alamiah seperti ini. Keindahan tak berarti bila tiada keyakinan. Ya, keyakinan sederhana itu ada pada sang Golden Shower yang pagi itu lantang menyeruak ke alam menyapa dunia. Seketika, pagi itu menjadi begitu istimewa di mata saya. Subhanallah.

Maka curahan kasih sayang sang Golden Shower seperti mengingatkan saya akan sapaan kasih para sahabat blogger. Beberapa waktu yang lalu beberapa sahabat telah menganugrahi saya award. Inilah mereka dan awardnya :

  1. Insanitis37
Blogger yang membincang spiritualitas, sastra, dan laku kritis ini memberikan award biru yang indah




2. Award dari Anni Rostiani
Perempuan bijak penyuka makna resonansi kehidupan ini menganugrahkan award spesial ini



3
. Award dari Aditya
Ya Aditya, sang blogger kreatif juga ceria kita menganugrahkan award indah ini




4
. Award dari Curhat Fanda (01 Desember 2009)
Award keren ini diterima mbak Fanda, sang bookaholic kita, dari mas Cahyadi



Terimakasih kepada para sahabat yang terus menyapa saya dengan sapaan kasih sayangnya.

Keempat award keren ini saya persembahkan kepada :

Sebagai ungkapan rasa terimakasih, saya persembahkan gambar Golden shower saya di atas kepada para sahabat (baik sahabat lama maupun sahabat baru) yang telah saling berbagi, saling support diantara kita, yaitu :
  1. Fanda
  2. Anni Rostiani
  3. Insanitis37
  4. Aditya
  5. http://amriawan.blogspot.com/
  6. Munir Ardi
  7. Becce_lawo
  8. Zahra Lathifa
  9. RanggaGoBloG
Semoga berkenan. Semoga persahabatan kita makin menghangatkan jagad blogosphere dan membawa kebarokahan bagi kita semua dan bagi dunia sebagaimana sapaan kasih sayang sang Golden Shower kepada semesta ini.

Wednesday, December 2, 2009

Pesan Sehelai Daun Yang Jatuh Ke Bumi


Entah sudah helaian ke berapa dalam hitungan angka manusia ketika sehelai daun jatuh lagi ke bumi, disini. Sehelai daun jambu, jambu air dan bukan jambu klutuk. Seperti helaian yang telah jatuh sebelumnya, sehelai daun yang baru jatuh ini meninggalkan pesan.

" Aku tiba memenuhi janji siklusku. Siklusku tiba pada janji dimana aku harus jatuh ke bumi, dengan pertolongan sang angin. Maka pada sang angin yang telah meniupkanku salam takzim harus diberikan. Aku tumbuh berupa tunas hijau muda malu-malu. Menjadi daun segar warna hijau tua. Berfotosintesis untuk semesta untuk sekian lama. Akhirnya tiba jua pada bagian dimana warna hijauku mulai pupus, digantikan semburat kekuningan yang menjadi coklat. Itulah tanda akhir sikulusku. Sang angin menghantarkanku pada haribaan bumi. Maka lihatlah kalian wahai penghuni semesta, janji pada akhir siklus kita akan tiba. Berkaryalah dengan liukan indah nan harmonis sebisa yang kita lakukan sebelum tiba pada akhir siklus yang tak bisa ditolak kedatangannya...."

Saya termangu, merenungi pesan sehelai daun yang jatuh ke bumi itu. Apakah ini pesan yang layak untuk kita renungkan bersama ? Entahlah. Mari kita renungkan untuk menjawabnya.

5 Cara Maksimalkan Diri Ketika #DiRumahAja Saat Pandemi Covid-19

Beginilah situasi saat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang harus membatasi pergerakan guna...