Search This Blog

Sunday, October 31, 2010

Kedai Kopi Starbuck Ala Newsoul


Secangkir kopi selalu mantap dan mengalirkan ide bagi penggemar setianya. Begitupun bagi saya. Maka salahkanlah sakit perut yang tadi pagi tiba, bila ide ini muncul. Salahkan pula toilet saya yang ketika saya duduk disana selalu mendatangkan berjuta ide. Begitulah ide ini bermula. Setelah minum kopi, sudah otomatis (saya pasti) ke toilet. Saat sedang melamun disana, tiba-tiba muncul ide ingin mendirikan kedai kopi Starbuck ala Newsoul.

Ya, kedai kopi seperti Starbuck dengan penyesuaian-penyusuaian sebagaimana selera saya. Kedai kopi sederhana dimana orang bisa memesan berbagai jenis kopi kegemaran mereka dengan suasana santai. Boleh berlama-lama disana, sambil membaca atau sambil menulis. Ada perpustakaan. Ada jaringan internet. Tentu saja, disediakan pula toilet yang nyaman dan bersih.

He, entah kapan sejumput ide ini menjadi kenyataan. Mungkin harus menunggu saya pensiun. Alamak, masih lama. Rasanya sudah tidak sabar lagi. Ada yang punya ide tentang kedai kopi ala Newsoul ini....?

Saturday, October 30, 2010

Tanggal Berapakah Hari Ini....?


Dia terbangun. Tadi pagi, ketika bau nasi goreng tiba di penciumannya. Matanya mengerjab. Iapun bangkit sambil memeriksa tubuhnya, he, masih lengkap. Lalu menghampiri kaca, wajahnya masih sama. Mematikan lampu, kemudian membuka jendela. Matahari sudah menyambutnya. Tiba-tiba, ia baru merasakan kepalanya pusing. Ia merebahkan dirinya kembali di tempat tidur sambil bergumam, tanggal berapakah hari ini....?

Hm, betapa sebuah kelelahan dan kepusingan bisa membuat seseorang lupa tanggal dan hari. Begitulah. Ia teringat, sampai pukul enam sore kemarin ia masih di kantor. Menunggu bossnya, hendak mendiskusikan rencana roadshow ke lapangan. Siangnya baru selesai menggelar rapat teknis draft akhir dari pihak konsultant. Sambil menunggu sang boss, ia tersedak di kursi. Di punggungnya angin terasa mengumpul sangat banyak membuat tubuhnya menggigil. Tak ada yang diingatnya lagi selain pulang ke rumah setelah adzan maghrib berkumandang.

Sesampainya di rumah, makan. Lalu masuk ke kamar dan terjatuh di tempat tidur hingga bau nasi goreng membangunkannya. Kepalanya masih dipenuhi hal yang sama, tanggal berapakah hari ini....? Rasanya ingin akhir bulan ini berakhir saja. Sebab disana terjadwal beberapa hal yang memusingkan kepalanya. Ah, bulan-bulan terakhir yang berat. Segalanya berpacu dengan waktu.

Tak lama, ponselnya berdering. Nada khas panggilan dari seseorang,
"Kok belum datang..?"
"Memangnya kenapa..." jawabnya sambil meringis
"Jam 8 kan pernikahan Ema adikku, gimana sih...."
"Memangnya, tanggal berapa hari ini...", jawabnya lagi. Masih sambil menahan sakit kepalanya.

Tak ada jawaban. Panggilan ponsel itu ditutup sepihak dengan suara cukup tergesa. Lupa tanggal yang menjengkelkan bagi si penelpon rupanya. Maka siapakah yang bisa menjawab tanyanya tadi, tanggal berapakah hari ini.....?

Gambar diambil dari sini

Wednesday, October 27, 2010

Merapi dan Mbah Maridjan Penuhi Janji


Mbah Marijan sang juru kunci tak bergeming ketika orang-orang menyarankannya untuk mengungsi saat "Wedhus Gembel" Merapi mulai meletup. Sebab janji telah terpatri. Sebagaimana janji Merapi pada Mbah Marijan Sang Juru Kunci bahwa di letusan kemarin (Selasa, 26 Oktober 2010) keduanya akan bersama ke haribaanNya. Merapi tiba pada janji yang telah tercatat pada catataNya akan meletus pada tanggal tersebut. Begitu pula Mbah Marijan, ia tiba pada janji untuk menghadapNya. Janji bahwa setelah hari letusan itu ia tak akan lagi menjaga Merapi.

Maka siapakah yang bisa menolak janji padaNya....!? Tak ada. Janji Merapi telah tiba. Semoga janji Merapi berupa musibah letusan ini bisa memperkuat persaudaraan kita. Mari berdoa agar (alm.) Mbah Marijan dan semua handai taulan kita yang menjadi korban letusan Merapi diterima disiNya. Mari kibarkan duka untuk Merapi dan Mbah Marijan.


Foto diambil dari sini

Saturday, October 23, 2010

Etika dan Pengentasan Kemiskinan Ala Daun dan Semut

Mbah Darmo terkekeh sambil melinting rokok kegemarannya. Baru saja ia keluar dari rumahnya setelah meninggalkan pesawat televisi. Ia reflek menduduki bangku kayu, di bawah pohon jambu. Sembari ia terkekeh, ia mengepulkan asap rokok membentuk huruf "O" yang jadi keahliannya sejak muda. Di dalam rumah, televisi masih menayangkan berita tentang rencana studi banding para wakil rakyat ke Athena, kota Zeus dan Pilatus. Beberapa hari sebelumnya, iapun melakukan hal yang sama. Meninggalkan televisi sambil terkekeh saat tayangan berita studi banding pemberantasan kemiskinan ke Amerika.

Kenapakah mbah Darmo begitu...!? tak jelas jawabannya. Laki-laki tua itu tampak masih asyik dengan rokoknya. Sesekali angin bertiup menggetarkan kulit keriputnya. Tak lama, beberapa helai daun (seperti ada yang menyuruhnya) jatuh ke tanah. Gerakannya ritmis dan lembut. Tanpa suara, lalu berada di ujung kaki mbah Darmo.

Mbah Darmo, mematikan asap rokoknya. Spontan ia meraih si daun jatuh dan memandanginya begitu rupa. Ia tertegun. Saat kepalanya mendongak pada batang jambu di atasnya, ia dibuat terkesima. Serombongan semut berjalan beringan. Cepat, sigap dan kompak. Mbah Darmo kembali tertegun. Entah apa yang ia pikirkan.

Daun begitu beretika. Santun dan penuh kasih. Tanpa banyak bicara telah menyumbangkan nafas kehidupan dengan oksigen fotosintesisnya. Tak banyak menuntutu. Berjuang bagi kehidupan hingga masa gugurnya tiba, nyaris tanpa suara, Bukankah itu sangat beretika. Sementara para semut yang tangguh dan kompak telah bertahun-tahun berjuang untuk kesejahteraan kaumnya. Tanpa keributan apalagi gontok-gontokkan. Hidup saling melengkapi dan bahu membahu hingga selalu ada rumah dan pangan yang cukup buat mereka. Bukankah mereka telah mampu berjuang memerangi kemiskinan bagi kaumnya. Maka, mengapa manusia repot-repot berwacana belajar etika ke Athena. Belajar pengentasan kemiskinan ke Amerika. Bukankah pembelajaran itu ada pada dirinya sendiri. Ada di dekat mereka, kalau saja mereka membuka mata.

Begitulah gumaman mbah Darmo sambil terkekeh lagi. Angin yang tadi berhembus sepoi pada mbah Darmo ikut terkekeh. Kalau tidak begitu, tidak seru mbah, bisisknya. Kapan lagi jalan-jalan gratis ke luar Negeri, hahaha.

Wednesday, October 20, 2010

Tersesat

Rasanya ia baru saja memasuki rumahnya (setelah terseok-seok pulang dari tugas lapangan). Ya rumahnya. Maka mengapakah ia merasa tersesat !? Ia pandangi sudut rumahnya, masih rumah yang sama. Ia pandangi kamarnya, masih kamar yang sama. Ia pandangi wajahnya, masih wajah yang sama. Maka mengapakah ia merasa tersesat ...!?

Sompret, kampret, bangsat, ia mengumpat. Dunia yang ia diami selama ini tetap dunia yang sama. Hanya saja, kekacauan semakin bertambah. Orang hidup dengan kekacauan yang berusaha ditularkan kepada orang lain. Kebencian yang disebarkan dan ditebarkan.

Ia terhenyak. Begitulah kesesakkan yang melanda jiwa ketika menemukan hal yang menjengkelkan. Link menjengkelkan yang diberikan temannya masih saja ada, bahkan bertambah. Maka, sekali lagi ia merasa tersesat.

Sunday, October 17, 2010

Atta Dan Wina, Ketika Kemayaan Menggamit Mahligai Kenyataan


Sore tengah bersiap menjadi malam. Di batasnya ada senja yang menjingga. Dua pasang anak manusia saling pandang dengan tersenyum samar. Mahligai keduanya siap menyamudra. Atta dan Wina, dua hati bertaut di dunia maya.

Undangan mereka sudah saya terima. Sayang, hajat baik itu tak bisa dipenuhi, maka inilah pengganti diri atas undangan tersebut. Anggap saja kado dari sesama sahabat. Sebagaimana janji saya dengan seorang teman, Fanny Fredlina.

Begitulah bila sebuah kemayaan akhirnya menjadi mahligai nyata. Siapakah yang bisa meramalkan jalan hidup manusia !?. Tidak ada. Tapi, he, tetap saja pandangan saya tidak berubah. Kalian yang bercinta di dunia maya, berhati-hatilah. Jangan percaya pada sang maya sebelum melihat sang nyata. Atta dan Wina, hubungan mereka nyata. Awalnya saja mereka berkenalan di dunia maya. Keduanya serius. Silaturrahim mereka berlanjut di dunia nyata.

Senjapun tiba. Maka dengan diri diiringi senyum sang senja, dari lubuk hati terdalam saya mengucapkan: "Selamat menempuh hidup baru Bang Atta dan Wina". Kayuhlah bahtera. Menyamudralah dengan cinta. Doa kami menyertai kalian. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah hingga akhir masa.

Friday, October 15, 2010

Batam, Diantara Semarak Pantun dan Wangi Parfum


O......Raja Ali Haji pahlawan Negeri Gurindam
kami datang meski tak bersampan
O..... Para Hang pahlawan tak gentar geram
kami datang meski hanya kelana berawan

Batam, angan saya menggelora diantara semarak pantun dan wangi parfum. Begitulah bila sebuah perhelatan digelar disana. Pantun mengalir deras bak aliran Sungai Panas dan Sekupang. Pembukaan rapat diselingi pantun. Acara diskusi diselingi pantun. Penyampaian pleno dimulai dengan pantun. Bahkan penutupan acarapun disemarakkan oleh pantun. Semuanya berpantun. Panitia berpantun. Peserta yang datang dari berbagai penjurupun (belajar) berpantun. Dan diantara gempita pantun, merebaklah wangi parfum. Katanya, Batam adalah sentra penjualan parfum cukup besar di tanah air.

Maka tanpa bisa dicegah, pantun asal jadi seketiba berkelebat di kepala saat saya tiba di Batam, salah satu sudut Provinsi Kepulauan Riau. Kota yang saya sebut negeri para Hang. Tak cukup dengan Hang Tuah, ada Hang Jebat, juga Hang Nadim. Sete;ah mendarat di bandara penuh sesak dengan taksi yang bermurah hati menawarkan harga damai dan melintasi kawasan sepi, akhirnya tiba di kawasan Nagoya, Sungai Jodoh. Entah kenapa namanya begitu.

Tak heran bila kota ini sering dijadikan tempat rapat skala nasional. Bukan saja karena semarak pantun dan parfum. Bukan saja karena kawasan Jodoh-Nagoya dipenuhi oleh hotel bintang tiga dan empat yang cukup representatif sebagai tempat pertemuan. Tapi, mungkin, lebih disebabkan karena lokasi kota Batam sangat strategis. Konon disukai oleh para wisata(wan) dinas yang tinggal menyebrang ke Negeri Singa (Singapura) untuk berbelanja. Tentu saja, tidak berlaku untuk saya yang harus segera pulang.

Adakah pantun kan semakin semerbak di negeri Para Hang itu dengan semakin merebaknya wangi parfum...? Entahlah. Semoga saja. Semoga parfum menjadikan "rasa" berpantun itu tetap ada dan menggelora. Semoga pantun tak kalah harum dan merona dibanding sang parfum.

O.....Batam Negeri Gurindam
kami menggolak rasa yang memantun
O.....Negeri Para Hang budaya nan memendam
kami pamit menggamit semerbak parfum

Gambar diambil dari sini

Sunday, October 10, 2010

Musim Telah Berganti


Buku-buku pelajaran sekolah, dulu mengatakan bahwa negeri kita adalah negeri dengan 2 musim. Musim kemarau dan musim hujan. Kini, he, rasanya tidak cocok lagi. Musim itu telah berganti. Bukan lagi musim hujan dan musim kemarau. Melainkan musim debat dan musim bencana. Ramai dan meriah tapi tanpa solusi. Menggelora di semua sudut hingga tiba bencana yang bertubi-tubi. Banjir, gempa bumi, aneka kecelekaan, aneka kehebohan dan kegegeran di banyak institusi.

Begitulah negeri dengan musim yang kini terasa asing. Negeri dengan aneka perngeyelan. Mereka yang berada di dalam sistem banyak salahnya. Sementara, yang diluar sistem banyak bacotnya. Yang di dalam sistem bertahan merasa benar dengan aneka argumen. Yang diluar sistem ngotot menyalahkan. Ketika masih di luar sistem begitu lantang memperotes ini dan itu. Saat sudah masuk ke dalam sistem, begitu tenangnya. Lupa pada perjuangan yang dulu dia teriakkan. Hal yang diingat cuma perjuangan untuk kaum/golongannya sendiri.

He, betapa musim yang aneh ini begitu memuakkan. Seperti memandang sekumpulan burung saat senja yang tiba-tiba terlihat bak sekawanan burung nazar. Entah kenapa. Ups, hanya lengguhan seseorang dari balik secangkir kopi. Selamat pagi.

Wednesday, October 6, 2010

Pagimu "i" Mendiksi




Bekumu jadi puisi

Jengahmu jadi diksi

Tatapanmu elegi

Renungmu tak bertepi



Hujan meriap sendiri

Kau yang sibak nurani meski ngeri

Dan senyummu tetap berseri

Hadapi, jangan lari

Monday, October 4, 2010

Ballada Laki-laki Pemberes Tali

Si Pemberes Tali. Begitulah orang-orang menjulukinya. Ia, kebetulan laki-laki, yang tak bisa diam bila melihat tali. Entah rafia, entah nylon, tali apa saja. Ia benci melihat benda itu tergeletak tidak menentu. Tidak saja karena membuat suasana berantakan. Juga karena sebuah rasa. Rasa jengah yang tak jelas. Entah mengapa, ia gelisah bila menemukan tali tergeletak. Dengan sekali hentakkan ia akan membereskannya. Ia akan menggulung tali itu dengan rapi lalu menyimpan sang tali di kotak. Begitulah.

Hingga sebuah hari tiba padanya. Hari dimana semua kotak penyimpanan tali miliknya telah terisi. Tak ada lagi tempat untuk menyimpan tali. Bak diturunkan dari langit, sore itu ia mememukan seutas tali (agak besar) tergeletak di lantai ruang makan. Nalurinya muncul. Serta merta diraihnya tali itu sambil ia mereka-reka akan dimanakah ia menyimpan si tali.

Otaknya berputar. Seakan ada yang membisiki, tali itu dibawanya keluar rumah. Ia berjalan ke halaman. Tepat di bawah pohon nangka tua langkahnya terhenti. Kepalanya mendongak ke atas sambil berbisik lirih "Tak ada tempat lagi, kuletakkan saja tali ini di dahan nangka...". Iapun mengambil tangga.

Laki-laki itu tampak sedikit sibuk. Srat, sret srut, pyar....buk...! Sebuah suara berdebam terdengar dengan keras. Si lelaki pemberes tali terkapar di lantai dengan lidah menjulur. Rupanya sebelum menggantungkan talinya ke dahan nangka, ia mengikatkan tali itu pada lehernya. Itulah hari dimana ia merasa dunia begitu dungu. Hari dimana ia merasa dirinya dungu bak tali yang sering dibereskannya. Semua yang dilakukannya terasa salah. Segala yang dilihatnya terasa janggal. Maka terjawablah sudah mengapa selama ini ia selalu gelisah bila melihat tali. Mungkin karena takdirnya berakhir diujung seutas tali. Oh...., misteri kehidupan.

Sunday, October 3, 2010

PesanNya di Lengkung Langit



Tengah ia bersiap akan keluar rumah, tiba-tiba saja tatapannya tertuju di lengkung langit. Lengkung langit yang tak lagi biru melainkan berawan gelap. Mendung. Pertanda akan hujankah ? Entahlah. Cuaca memang tidak bisa diduga. Setengah jam sebelumnya langit sangat terang benderang.

Sambil sedikit menggerutu, iapun mereka-reka langkah. Mau tidak mau, antisipasi menghadapi hujan deras yang akan turun harus dilakukan. Ia lalu mengangkat jemuran di belakang rumah. Memasukkan beberapa pot tanaman hias indoor yang tadi ia keluarkan. Menelpon Dewi, sahabatnya, kalau ia tidak jadi pergi arisan kelompok (perempuan kinnyis-kinyis, he, begitulah ia menyebutnya) yang selalu mengajaknya bergabung arisan. Apa lagi.....? Ah, membuka tutup gentong di bawah talang air. Lumayan untuk menyiram tanamannya pada hari-hari selanjutnya.

Hujanpun turun bak tangisan langit. Lalu mereda dengan sendirinya hingga ia terlupa. Beberapa jam setelah itu, ketika ia sedang menyeduh secangkir kopi kegemarannya, hp yang ia letakkan di meja berdering.

"Ya halo......"
"Apa, Dewi kecelakaan....."
"Tempat arisan kebakaran karena konslet listrik........"

Ia melunglai. Pandangannya gelap sejenak. Setelah beberapa puluh menit barulah pandangannya terang. Sambil menyesap kopi untuk menenangkan diri, ia teringat bahwa tadinya ia pun berencana ikut dalam acara arisan tersebut. Untunglah tidak jadi. Ternyata, langit mendung yang ditatapnya dengan menggerutu itu telah menyelamatkannya dari sebuah musibah. Betapa pesaNya menyebar dalam banyak hikmah dan dimana saja. Bahkan di lengkung langit. Hidup yang penuh misteri. Begitulah ia berbisik sambil bersiap ke rumah sakit membesuk sahabatnya tadi.

Friday, October 1, 2010

Selamat Datang Oktober


Oktober kita tiba, sebuah suara tiba-tiba saja menyergap benaknya. Ya, oktober tiba. Bulan penuh kisah bagi banyak orang. Bulan indah. Bulan ceria. Apalagi, hm....bulan ketika Bejo melamarnya, hehe. Ya, selamat datang oktober. Mari sambut sang Oktober, serunya gembira. Sayang, tak ada apapun yang layak ia persembahkan kecuali secangkir kopi. Kopi yang dibuatnya ketika menyibak selimut. Hm, selimut yang disibak ketika bangkit dari tempat tidur setelah flu yang menyerangnya.

Oktober, mari jalin kisah indah lagi sebagaimana kisah manis yang menggetarkan langit. Sebagaimana kisah sendu yang uraikan air mata sendu nan bahagia jiwa-jiwa yang lega. Dan selama secangkir kopi selalu hangat dengan rasa semriwing yang menggoda, sang Oktober akan selalu hangat dan indah. Semoga. Salam.

Sia-sia, Mampus kau Dikoyak-koyak Sepi

Demi apa, pagi -pagi tadi saya sudah baca puisi. Ya demi komunitas Kompasianer Palembang  (Kompal) yang mendampuk saya sebagai salah satu d...