Search This Blog

Wednesday, January 27, 2010

Ambil dan Sebarkanlah Dia

Apakah yang menjadi kedambaan.....?
Apakah yang ingin dirasakan.....?
Apakah yang dinantikan.......?
Apakah yang menjadi rebutan....?

Kasih
Ya kasih
Sekali lagi kasih
Boleh ditambah sayang

Dialah Kasih sayang
Ambilah dia
Dan sebarkanlah
Dengan penuh kasih

Begitulah tentang kasih sayang. Tandanya, wujudnya berada dimana-mana. Bahkan dalam rupa kelaparan dan kesakitanpun, didalamnya ada kasih. Demikian tersentuhnya saya akan tanda kasih pershabatan berupa award dari mas Albertus Goentoer Tjahyadi. Award indah ini saya ketahui lewat komentar beliau di blog saya. Segera saya ambil di rumahnya (Rumah Goen). Terimakasih sobat.




Saya persembahkan award indah penuh makna ini kepada siapa saja yang ingin dipenuhi kasih. Saya persembahkan kepada siapa saja yang mampir ke blog saya dan kebetulan belum memiliki award ini. Ambil dan sebarkanlah dia.

Monday, January 25, 2010

Perempuan Penangkap Angin

Perawakannya biasa saja, sedikit kurus. Rambutnya sebahu. Wajahnya, lumayan untuk bisa membuat laki-laki seperti saya menoleh padanya. Hal yang saya kenali pasti dari dirinya, dia terlihat begitu simpel, mudah, dan ringan. Itulah sedikit yang saya tau tentang dia.

Dia selalu melesat bersama angin. Hasratnya melesat. Jiwanya melesat. Idenyapun melesat. Melesat bersama angin. Itulah alasan kenapa saya menjulukinya "Perempuan Penangkap Angin". Dia terlihat berhasil menggandeng angin sehingga bisa melesat kemana saja. Ya, bahkan menembus ruang dan waktu, meski bukan raganya yang melesat.

Akan habis waktu untuk merenunginya, desis saya. Maka tentu tak usah saya pikirkan lagi dia. Terserah dia seperti apa, mengapa, dan bagaimana. Titik. Saya lalu mengangkat cangkir kopi saya. Menyeruputnya hingga rasa hangat itu menjalari lagi kerongkongan saya, sampai ke seluruh syaraf-syaraf pengindraan tubuh saya.

Hm....., mungkin asyik juga ya selalu melesat bersama angin. Begitulah pikiran usil saya tentang perempuan itu selalu muncul lagi dan lagi. Dia selalu bergerak. Tak pernah jenuh. Tak pernah suntuk. Tidak mengenal stagnasi. Selalu melesat. Selalu bergairah. Selalu ringan, seperti angin.

Tengah saya berpikir usil itu, tiba-tiba sesuatu memegang tangan saya. Sebuah tangan juga. Tangan yang terasa begitu dingin. Saat saya menoleh ke pemilik tangan itu, betapa terperanjatnya saya. Oh..., ternyata dia Perempuan Penangkap Angin itu,
"aku masuk angin, tolong keroki ya", ujarnya lirih. Wajahnya pucat.

Sayapun memucat. Pucat karena kaget (sedikit senang juga, entah kenapa). Jelas saya tak siap dengan adegan kilat ini. Saya selalu mengira perempuan itu telah berhasil menaklukkan angin. Saya selalu mengira perempuan itu telah berpadu serasi dengan sang angin. Ah...., ternyata dia bisa masuk angin juga. Dia kalah juga dengan angin.

Yah, tentu saja. Dia masih manusia biasa. Sehebat apapun dia menaklukkan angin, ada kalahnya juga. Mungkin dia memang sedang ingin kalah dengan angin. Mungkin juga saya selama ini salah mengira. Bukankah siapa menangkap dan siapa yang ditangkap itu tipis bedanya. Mungkin saja justru perempuan itulah yang telah ditangkap sang angin....!? Entahlah. Segala kemungkinan itu mungkin-mungkin saja. Toh selama ini saya cuma menilai apa yang tampak di mata kasat saya

Begitulah tentang Perempuan Penangkap Angin. Maaf, saya harus pamit lagi. Ya, betul, memenuhi permintaan perempuan itu, mengerokinya. Kasihan juga kan. Dan saya, he, tentu senang dengan kegiatan ekstra ini. Selamat malam.


Gambar diambil dari sini

Note: Persembahan untuk sang Angin Selatan,..... supaya kau senang

Sunday, January 24, 2010

Simfoni Yang Indah


Sebuah simfoni yang indah tiba-tiba saja menghampiri saya. Alunannya membuat saya terharu, dan sedikit berkaca-kaca, entah kenapa. Begitulah saat sebuah lagu yang berjudul "Simfoni Yang Indah" yang dianyanyikan ulang Once terdengar di telinga. Alun sebuah simfoni.......kata hati disadari......

Saya sedkit merenung tadi. Bila perputaran jagad ini adalah sebuah simfoni semesta, maka simfoni itu tentu selalu mengalun. Seperti gemercik air di mata air yang jernih, indah membasahi jiwa. Seperti suara deru angin yang sepoi meniup sela-sela hari, menyejukkan. Seperti kicau burung yang hinggap dan beterbangan di angkasa, senandungnya indah. Seperti suara gemuruh ombak yang menyapu bibir pantai, deburannya menimbulkan suara indah. Itulah simfoni yang indah semesta ini.


Hanya saja, sesekali simfoni yang indah itu jadi tertutup oleh keriuhan yang kita timbulkan. Suara bom yang menakutkan. Anak-anak yang menangis di pertempuran. Gonjang ganjing politik yang mengharu-birukan bahkan memporak-porandakan dunia, hiks. Betapa kita telah merusak simfoni yang indah itu. Bahkan kesibukan kita mengejar deadline pekerjaan kadang telah membuat simfoni yang indah itu menjauh dari telinga kita.

Tapi tetap saja, simfoni yang indah itu terus berputar untuk kita. Meski tidak kita sadari, meski tak sempat kita dengarkan, simfoni yang indah dari semesta terus mengalun. Maka bila jiwa kita lelah, membutuhkan sebuah ketenangan yang indah, carilah simfoni semesta kita. Carilah di sedikit cakrawala. Carilah di alam pedesaan. Carilah di pantai atau di balik lereng bukit. Carilah dimana saja. Bahkan disamping kiri dan kanan kita, ada simfoni indah semesta ini. Dimana saja akan kita temukan, sepanjang kita menginginkannya. Selamat pagi kawan, mari kita nikmati simfoni indah semesta ini.

Saturday, January 23, 2010

Ambil Tanpa Sisa , Reguklah selagi Bisa


Matahari menyinari
Cakrawala membiru
Angin menderu
Awan putih menghiasi

Semuanya berkah
Ambilah tanpa sisa
reguklah selagi bisa
Hingga Diapun berkata.....

Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan......?

Gambar diambil dari sini

Thursday, January 21, 2010

Limabelas (15) Buku Newsoul


Seperti sebuah sentilan di telinga, sebuah tag dari sahabat saya Fanda tiba kemarin. Limabelas (15 ) buku yang disukai....!? Ya, seperti sentilan bagi saya. Permintaan itu telah menyentakkan saya akan bacaan saya akhir-akhir ini. Sayapun merenung. Merenung lalu menjadi malu pada diri sendiri. Betapa akhir-akhir saya sangat jarang membaca.

Begitulah kenyataannya. Saya sering membeli buku. Biasanya sekali ke toko buku, paling sedikit saya memborong 5-6 buku yang menarik minat saya. Lucunya, entah karena kesibukan saya, mungkin pula karena mood menguap, saya kehilangan selera untuk membaca buku-buku itu. Ada lho, buku yang sudah lebih dari setahun saya beli, sampai sekarang belum sempat saya baca. Sayapun merenung lagi, apa sebabnya.

Ternyata sudah lama hal ini mendera saya. Maka semalaman tadi saya berjuang keras, merenungi apa sebabnya ? akhirnya saya menemukan jawabannya. Hiks, mungkin karena akhir-akhir ini saya lebih suka membaca buku semesta (membaca diri, membaca alam, membaca lingkungan. Ya, berinteraksi dan merenungi adalah membaca bagi saya) jadi jarang membaca buku yang sebenarnya buku (buku yang berupa kumpulan kata-kata dalam sekian puluh atau ratus halaman kertas). Mungkin karena karena interaksi saya dengan kehidupan telah membuat saya tidak lagi suka dengan hal-hal teoritis yang dikonsepkan orang lain lewat buku. Biasanya, bila saya kecewa/kesal dengan apa yang dituliskan orang dalam bukunya, belum selesai saya bacapun buku itu saya lempar. Sekedar ingin tau saya tentang tau apa trend/ide baru dari buku baru, ya saya cari lewat internet. Kadang sekedar baca review yang dituliskan teman-teman seperti review mbak Fanda, bang Iwan, Shinta, atau Anazkia.

Betapa menggenaskannya saya. Saya telah menjadi pragmatis, skeptis, egois, sok tau, atau bodoh entahlah kawan. Saya menjadi malu pada diri saya sendiri. Tapi saya kira saya harus akui ini apa adanya supaya tidak mengada-ada. Maka limabelas buku yang disukai Newsoul, mohon maaf sebagian besar adalah buku lama. Hal yang saya ingat, tentang apa saja buku paling berkesan yang pernah saya baca. Inilah dia :
  1. Komik Gundala (lupa siapa penulisnya)
  2. Seri Winnetou (Dr.Karl May)
  3. The Prophet, Mirror of Soul, dll (Kahlil Gibran)
  4. The Good Earth (Pearl S.Buck), tentu saja saya baca terjemahannya, Bumi yang Subur
  5. Ayah dan Ibu (Naguib Mahfouz). Hampir semua karya Mahfouz saya sukai
  6. Si Tolol Gimpel (Isaac Bashevis Singer). Karya yang memenangkan nobel, saya baca terjemahannya.
  7. Manusia Kamar (Seno Gumira Ajidarma)
  8. Olenka (Budi Darma)
  9. Lewat Tengah Malam (Sidney Sheldon)
  10. Saman, Larung (Ayu Utami). Meski tidak suka dengan konsep kepenulisannya, saya harus jujur akui saya suka plot penuturan dalam karyanya. Entah kenapa mengingatkan saya pada plot penuturan Naguib Mahfouz.
  11. Hujan Bulan Juni (Sapardi Djoko Damono), hampir terlupa
  12. La Tahzan (Dr.Aidh Al Qarni)
  13. Tersenyumlah (Dr Aidh Al Qarni)
  14. Quantum Ikhlas (Erbe Sentanu), ini pelajaran tiada akhir
  15. Quantum Tahajud (An.Ubaedy)
Mohon maaf ya Fanda, bila tag ini tidak sesuai dengan harapannya. Saya berterimakasih sekali sudah ditag. Akhirnya saya jadi tau kenapa akhir-akhir ini saya jarang membaca buku, menggenaskan ya.

Demikian sahabat. Dan untuk memanjangkan silaturrahim tag ini, maka saya anugrahkan tag ini kepada sahabat yang lain, yaitu :
  1. Mbak Annie
  2. G
Silahkan direnungkan dan dilaksanakan, bila berkenan. Selamat pagi sahabat. Selamat beraktivitas.

Gambar diambil dari sini

Wednesday, January 20, 2010

Catatan Langit Tentang Jika dan Maka


Jika awan menutup matahari, maka mendung tiba
jika awan mendungkan langit, maka hujanpun tiba
Jika awan tibakan hujan, maka resah atau suka cita tiba
Jika itu resah atau sukacita tiba, maka salahkah awan ....!?

Jika resah atau sukacita tiba, maka segala kisah bisa tercipta
Jika kisah dengan segala asa tercipta, maka ramai jagad
Jika ramai jagad menghentakkamu, maka nikmatilah
Jika menikmatinya berbeda, maka jangan salahkan sesiapa

Carilah indahnya selagi rinainya bisa kau pandang.

Note : Sebuah catatan Langit pada gelisah dan sukacita yang tiba di musim penghujan ini.

Gambar diambil dari sini

Monday, January 18, 2010

Menulis, Membebani Atau Melepaskan Beban....!?


Malam mulai merambat di sebuah kota. Angin Selatan sedang membelai-belai wajah saya ketika hasrat ingin menuliskan tulisan dengan judul di atas mengemuka begitu saja. Baiklah saya tepiskan dulu si Angin Selatan ini.

Sekarang kita langsung saja kawan. Bagi anda, menulis itu membebani atau melepaskan beban...!? Silahkan direnungkan. Saya yakin, masing-masing kita akan punya jawaban sendiri (Silahkan nanti anda tuangkan, kalau berkenan). Bagi saya pribadi, menulis adalah cara saya saya mengungkapkan pikiran saya. Menulis adalah cara saya menyapa semesta. Apa saja hal yang ada di benak saya, saya renungkan lalu saya tuangkan dalam bentuk tulisan. Ya di blog ini. Berhubung saya penulis amatiran, penulis blog.

Apa saja hal yang membebani pikiran saya, uneg-uneg, rasa jengah, bahkan asa, saya tuliskan dalam tulisan saya. Bisa berupa renungan, fiksi, gerutuan, curahan jiwa, puisi, dan lain-lain. Lumayan plong. Tidak perlu capek-capek menggunakan pengeras suara. Tidak perlu menjambangi orang satu persatu. Dan yang paling penting, tidak perlu diedel-edel oleh dewan redaksi, hihi, ide saya bisa sampai ke semua pembaca blog ini. Beban jadi berkurang. Mudah-mudahan pula tidak ada orang yang terbebani oleh tulisan saya, wuih, mudah-mudahan tidak. Kalaupun iya, ya salah sendiri kenapa tidak membuka hati atas beda pendapat, hehe. Becanda ya.

Rasanya saya pernah menyampaikan bahwa membuat blog bagi saya adalah seperti mendapatkan cara memecahkan bisul tanpa merasa sakit (tanpa anestesi ya G). Dan semoga .... orang lain, sedikit banyak jadi ikut tau cara memecahkan bisul tanpa merasa sakit itu (sekali lagi tanpa anestesi).

Jadi sepanjang kita menulis dengan kemurnian jiwa kita, dengan kejujuran, santai saja. Jangan merasa terbebani. Blog hanya tempat kita menyalurkan ide. Bila sedang tidak ada ide, atau sedang tidak mood, ya keluar sebentar dari jagad blogosphere. Setelahnya, hm...pasti "greng" lagi. Kecuali kalau kita membuat blog untuk mencari uang, maka kita harus lebih serius menjaga/mengisi blog kita.

Begitulah menulis bagi saya. Saya sedang belajar menulis yang tidak sekedar menulis dari si Angin Selatan, ini istilah dia lho. Saya sedang belajar, agar apapun tulisan saya (gerutuan sekalipun), selain melepaskan beban saya, sedikit banyak bisa membantu siapa saja mengenali dirinya sendiri. Dengan begitu semesta ini akan menjadi lebih indah dan damai. Tentu hal yang tidak mudah. Tetapi, karena sang Angin selatan selalu mengawal saya, dan agak galak juga, mau tidak mau saya mencoba belajar hal tersebut.

Kembali ke judul di atas. Bagaimana menurut anda, menulis itu membebani atau melepaskan beban....!? Mari kita tuangkan secara santai dan apa adanya disini. Saya, he, mau meneruskan menikmati hembusan sepoi-sepoi sang Angin Selatan ini. Selamat malam semua.

Note: Tulisan ini terinspirasi dari beberapa sahabat saya yang sedang ingin jeda sejenak

Gambar diambil dari sini

Sunday, January 17, 2010

Menjadi Cantik dan Sexy


Ayin berkata bahwa memelihara kecantikan adalah wujud dari mensyukuri pemberian Tuhan, dimanapun berada. Jadi adalah hal yang wajar kalau kegiatan mempercantik diri itu dia lakukan di apartemen Pondok Bambunya, hiks. Inuel, he, walau tak menuai reaksi menghebohkan seperti Ayin, sibuk juga mempercantik blognya agar tampil lebih feminin, dan sexy (ya kan nuel).

Hm, saya pribadi setuju saja dengan pemenuhan "rasa" menjadi cantik dan sexy ini, sepanjang tidak mengurangi kenikmatan secangkir kopi saya, hehe. Maka cantik bagi saya......kalau saya mandi paling tidak 2 kali sehari. Tidak lupa gosok gigi pagi dan menjelang tidur. Menjaga kebersihan kulit, kuku, dan rambut. Wajah, he malah tidak begitu diperhatikan (bersyukur dengan apa yang ada). Asalkan bersih dan dipasang senyum yang memancar dari dalam, bla-bla-bla. Itulah cantik bagi saya. Sedang sexy, ah tidak terlalu mudeng. Rasanya kalau saya sudah di depan laptop, ditemani secangkir kopi, dan dikawal si Angin Selatan di sisi saya, maka saya sexy sekali. Menurut saya lho.

Ya, cantik dan sexy, adalah hak setiap perempuan. Apapun boleh dilakukan untuk mencapai hal tersebut, sepanjang tidak merugikan orang lain, apalagi merugikan negara ya.
Untuk saya pribadi ada tambahan lagi, tidak melanggar ketentuanNya. Begitulah. Pagi ini saya bangun dengan senyum, tiba-tiba saja saya merasa cantik dan sexy. Entah kenapa. Maka setelah melipat ujung mukena saya, menghidupkan kompor. Membuat sedikit sarapan seadanya, mulailah saya merenung tentang hal ini. Duduk di depan laptop butut saya, lalu menuliskan perasaan saya tentang cantik dan sexy yang sedang anda baca ini.

Cantik dan sexy itu juga sangat relatif. Tiap orang punya pendapat sendiri. Hal yang penting adalah bagaimana agar dengan cantik dan sexy yang dipunyai tiap perempuan, semesta ini menjadi semakin indah dan damai. Bagaimana menurut anda....?. Tidak apa-apa kan kita sedikit merenung keluar dari pakem yang sudah dibuat orang-orang di hari minggu yang santai ini. Silahkan dituangkan, jangan malu-malu. Selamat pagi semua.

Friday, January 15, 2010

Kesejukan Untuk Sang Ballerina


Dia bergerak hanya bertumpu pada ujung jari kaki. Tidak sekedar bergerak. Dia meliuk ke kiri dan kanan. Berputar, maju, dan terkadang membuat gerakkan mundur. Semuanya mengikuti irama musik yang mengalun indah. Dia menari. Sebuah tarian yang indah.

Tiba-tiba saja, dia membuat gerakan menunduk lalu pruk terpuruk mencangkung di lantai. Mungkin saja dia lelah. Siapapun bisa lelah. He, itu bukan sekedar lelah, sang angin selatan kembali usil. Lihatlah bahasa tubuhnya, dia sedang tidak bahagia. Dia sedang memiliki masalah. Mungkin saja dia sedang terluka. Begitulah jika sebuah suara dari sisi kanan saya, suara Angin Selatan, muncul.

Kalau begitu hiburlah dia, tantang saya pada sang angin selatan. Sebuah tantangan asal bercampur jengkel sebetulnya mengingat dia sering sok tau. Tapi tak lama, he...aneh juga. Wajah sang ballerina berangsur-angsur ceria. Dagunya terangkat lagi. Bahkan kini dengan senyum yang menyungging. Saya setengah tak percaya,
"Apa yang kau lakukan.....?" tanya saya pada si Angin Selatan
"Cuma memberinya kesejukan"

Sampai disana renungan saya terhenti. Entahlah. Tapi itulah yang terjadi. Setelah si Angin Selatan mendekati sang ballerina, dan memberinya kesejukan (tentu saja dengan kelembutan tiupannya), sang ballerina kembali ceria. Dia telah kembali menari mengikuti alunan musik indah itu (katanya Andante in F dari sang Mozart). Ternyata ampuh juga sesuatu yang bernama kesejukan itu ya. Jika kesejukan yang kita berikan bisa membantu kerabat kita yang sedang bersedih atau berduka, kenapa tidak kita lakukan. Bagaimana menurut anda sobat....?

Gambar oleh Sisse Brimberg, diambil dari sini

Wednesday, January 13, 2010

Terpaku Padamu


Aku terpaku padamu
luluh lantakkan segala padaku, kamu
Aku terkulai juga menarikan tarian rasamu
tersentak, tersintak oleh cinta, resah, juga amarahmu

Aku tak bisa lari darimu, sungguh
terpaku dan menunggu kehadiranmu
Aku tertawan olehmu telah sekian lama, sungguh
Bukankah aku ditakdirkan memang untukmu

Note : Catatan sang penanda angin untuk sang Angin Selatan

Monday, January 11, 2010

Malam Yang Memekat


Seseorang baru saja usai dengan aktivitas seharian. Gelap malam menyambutnya saat ia tiba di pintu rumah. Sepot kemuning dari seseorang juga menyambutnya di pojok kanan beranda depan. Lalu, musik instrumen meyambut (tentu saja setelah ia menyetelnya). Bau harum kemuning dan musik instrumen itu memberinya ketenangan. Setelah mandi, segala lelahpun sirna.

Maka ketika malam pelan-pelan memekat, he, ia sudah terlelap. Perduli setan dengan gelap malam. Perduli setan dengan berita heboh hari ini soal Ayin yang kamar selnya super mewah. Perduli apa dengan teman-temannya yang sedang asyik berkumpul di sarang penyamun. Ia tertidur pelan-pelan. Begitu khusuk dengan tidurnya hingga sebuah suara tangisan menggema. Si kecil terbangun. Hp pun berdering, belahan jiwa mengabarkan sudah tiba di kota tujuan dinas luarnya. Tetap saja malam ini merangkak pelan-pelan. Di luar ada bulan. Tepat di balik dahan yang seperti menari. Malampun semakin lengkap, dan semakin memekat kawan.

Gambar diambil dari sini

Saturday, January 9, 2010

Kasihan Sekali Kamu Wok.......


Dia tepat dihadapan saya. Saat itu langit mulai menumpahkan hujan. Wajahnya masih berminyak seperti dulu. Rambutnya, he, masih juga awut-awutan, dan...gondrong. Tangan kanannya siap mengangkat secangkir kopi. Tiba-tiba, tangan kirinya meraih kerupuk putih lalu dicelupkan ke gelas kopinya. Gelas kopi itu kini hitam dengan hiasan butiran minyak. Saya memandangnya dengannya kening berkernyit. Rupanya dia melihat keheranan saya
"Belum pernah coba ya...?" tanyanya sambil menghirup kopi berminyak itu.
"kasihan sekali kamu...." desisnya sambil memperlihatkan mimik nikmat menghirup kopi tadi.

Lima belas menit sebelumnya, setelah agak berdebat, dia berhasil menggiring saya memasuki sebuah kedai gerobak kopi. Mata saya agak risih memandang ember hitam pencuci piring dan gelas yang airnya telah sangat keruh di pojok bawah gerobak. Dia menangkap pandangan protes saya. Tetap saja saya kalah berdebat dengannya,
"Belum pernah coba makan di tempat enak seperti ini...?" tanyanya
"Dulu pernah, kan sama kamu", protes saya
"Belum pernah coba lagi setelah itu......?"
Saya menggeleng,
"Kasihan sekali kamu" desisnya lagi.

Tiga hari sebelumnya, dia menelpon saya
"Aku mau ke sana soel.." sebuah suara acuh tapi butuh terdengar
"Asek sama Dewi kan...?" teriak saya senang
"Sendiri..." Jawabnya lagi
"Lha Dewimu kemana...?"
"Sudah minggat"
"Lho kenapa wok ....?"
"Mana kutau soel, mungkin bosan, mungkin dia punya pacar baru, meneketehe..."
Astaga wok. Kok bisa begitu. Memangnya cinta kalian yang hebat dulu hilang. Memangnya ada kata bosan...?. Memangnya Dewi bisa selingkuh...?"
"Bisa saja soel. memang kamu baru tau ya kalau cinta hebat itu bisa luntur...!?"
"Kamu baru tau kalau orang bisa bosan, bisa selingkuh meski dia seorang istri ?
Sebelum saya menjawab, dia berkata lagi,
"Kasihan sekali kamu soel......"

Begitulah. Berdebat dengan sepupu, sekaligus teman sepermainan saya sejak kecil itu, tidak akan pernah ada habisnya. Saya tidak tau apa yang sebenarnya terjadi padanya. Hal yang saya tau dia selalu santai, spontan, energik, sedikit acuh, tapi baik hati. Meski begitu saya yakin, dibalik sifat santai, spontan, energik dan acuhnya itu dia pasti menyimpan luka. Maka diam-diam saya berkata dalam hati "Kasihan sekali kamu Wok....". Sebuah kata yang terdengar hambar. Sungguh saya tak tau apa rasa hati saya saat itu. Seketika saya teringat, sepuluh tahun yang lalu sayalah yang mengenalkan Dewi teman karib saya pada sepupu saya itu. Betapa hidup adalah sebuah misteri.

Kini saya mengingat pertemuan dengan Dewok tadi. Di luar langit mendung dan menjadi gelap. Hujanpun turun seperti sebuah tangisan langit. Ya, mungkin langit mewakili tangisan hati Dewok yang berusaha sekuat tenaga tegar. Saya seolah melihat bayangan Dewok sedang membentangkan tangannya dengan gagah. Seakan menerima semuanya dengan tegar, sebagaimana gayanya yang saya kenal. Tetap saja bathin saya ngilu. Kasihan sekali kamu wok......., kata-kata hambar itu tanpa sengaja terucap lagi.

Gambar diambil dari sini

Friday, January 8, 2010

Sekali Lagi, Ilalang.....


Pada sebuah kegelapan yang memeluk sang fajar, serumpun ilalang membuat saya tertegun. Ilalang itu tetap sempat memberi siluet indahnya meski kegelapan masih mengitari. Begitulah. Kekaguman saya pada Ilalang, tak pernah lekang oleh waktu. Setiap saat, setiap moment, saya suka ilalang. Ilalang nan sepi dan jauh, Malam dengan Ilalang dan seekor Belalang, Dua Perempuan Ditengah Padang Ilalang. Ilalang selalu membawa ceritanya sendiri. Maka tulisan inipun, mohon maaf, sekali lagi tentang ilalang.

He, kau pengagum ilalang, apakah sekedar kekokohan dan ketegarannya nya yang membuatmu suka...? Si Angin Selatan kembali mengusik saya. Tidak itu saja kawan, Ilalang mampu memberikan keindahan yang tidak dipunyai sekuntum mawar dan seuntaian anggrek. Ilalang selalu bisa memberi keindahan berupa siluet dan gerakkan diterbangkan kaummu (angin) yang sangat indah dan khas bagi saya. Kekhasannya bagi saya mengagumkan. Filosopi kehidupan sang Ilalang indah sekaligus khas bagi saya. Itulah sebabnya saya suka ilalang. Ada yang bisa kita pelajari dari ilalang. Mari menjadi khas dengan gaya kita masing-masing. Selamat pagi (yang masih dini hari) kawan, selamat beraktivitas.

Tuesday, January 5, 2010

Sore Yang Tersenyum, Jingga


Begitulah kata-kata yang tiba-tiba muncul di benak. Sore yang tersenyum. Padahal, mendung menghiasi langit sore ini. Mendung yang muncul sejak tadi dan tak mau pergi. Tetap saja sore ini kelihatan tersenyum. Pada mendungnya ada senyum. Senyum tipis setipis kabut. Bukan kabut sutra ungu tapi kabut sutra jingga. Jingganya memberi kesan ceria bagi seseorang yang tengah menatap langit. Mungkin itulah kenapa sore ini kelihatan tersenyum baginya. Langit mendung, dan semburat jingga itu meski malu-malu muncul merona dengan indahnya.

He, kau kalah dengan sang sore sobat. Sebuah suara jahil, seperti biasa, muncul dari sisi kanannya. Suara Sang Angin Selatan. Sedang sore yang sedang mendung ini saja mampu menebarkan senyum indahnya, mengapa kau tidak...., sambung Sang Angin Selatan lagi. Seketika seseorang itu malu pada sang sore. Senyumnyapun mengembang segera. Ia harap itu mampu merontokkan kabut, hehe, seandainya saja bisa.

Sunday, January 3, 2010

Cermin Retak


Seorang musafir yang lelah tengah menatap dirinya dengan cermin. Wajah lelahnya terlihat aneh. Kemudian dia miringkan cermin untuk memandang ha;l-hal di samping kanan dan kirinya, juga terlihat aneh. Cermin disorongkan kebelakang, benda-benda di belakangnya itu juga terlihataneh. Segalanya jadi aneh. Si musafir lalu mendesis menjauhkan cerminnya.

Gerangan apa yang terjadi pada semesta ini sehingga semuanya terlihat aneh ? tanyanya sambil kembali mendesis. Apakah Tuhan marah ? Apakah para pendosa sudah sedemikian mabuknya sehingga semesta ini menjadi aneh ? tanyanya lagi. Tentu saja tidak ada jawaban. Si musafir yang tengah sendiri itu lalu membaringkan tubuhnya.

Tiba-tiba saat ia membaringkan tubuhnya itu, kaki kanannya merasakan sebuah kesakitan pada kulit kakinya. Apakah gerangan ? desisnya lagi. Oh.....cerminku retak, teriaknya. Ya, cerminnya retak. Sesuatu yang baru ia sadari saat kulit kakinya merasakan goresan. Mungkin hentakkan kakinya tadi telah membuat sang cermin retak. Retak parah.

Cermin retak itu ia pandangi begitu rupa. Seksama dan berlama-lama. Hm....mungkin retaknnya sudah lama, dan ia baru menyadari. Barulah ia memahami mengapa segalanya terlihat aneh tadi. Cermin retak, tentu tak bisa lagi digunakan memandang sesuatu dengan jernih. Sedangkan berdebu saja akan membuat pandangan cermin menjadi kabur, apalagi bila ia sudah retak.

Rabb, betapa bodohnya diriku yang renta ini, ucapnya tergugu. Sang Angin selatan di samping kanan cuma meniupkan sepoinya pada musafir tua itu. Bila jiwa adalah sebuah cermin, manakah bisa kau pandang semesta ini dengan jernih jika cerminmu retak. Untuk memandang dirimu sendiripun tak akan bisa. Begitulah bisikkan Sang Angin Selatan.

Haripun semakin merangkap hingga semburat jingga di ufuk mulai terlihat. Sang musafir tua sibuk memperbaiki cerminnya. Apakah masih bisa...? desisnya lagi. Entahlah sobat, sang Angin Selatan menjawab tanpa diminta.

Gambar diambil dari sini

Saturday, January 2, 2010

Tarian Pagi Bersama Sang Kupu-kupu

Pagi yang menari. Sebuah untaian nafas hari dengan ritme ceria menjelma pagi ini. Ya.....pagi ini seperti menari. Pagi yang masih diliputi sejumput kabut. Ranting dan dedaunan yang masih basah oleh sang embun. Sebuah pagi yang sempurna indahnya.

Tiba-tiba dari balik perdu mungil di sebelah kanan saya muncul mahluk yang juga mungil. Mahluk indah bersayap berwarna biru. Dia kupu-kupu biru. Bukan kupu-kupu dari Bantimurung tentu. Kupu-kupu indah dan berkilauan dari sang Seiri.



Seiri Hanako muncul dengan kupu-kupu indah itu. Sebuah award indah yang berkilauan.



Tengah saya menatap pagi yang menari dengan tarian kupu-kupu itu, tiba-tiba dua mahluk kecil muncul melengkapi tarian pagi ini. Dua kucing kecil menengadah, berlari-lari di bawah sang kupu-kupu yang sedaqng terbang. Keduanya terlihat begitu ceria. Betapa keindahan tarian pagi ini menjadi makin sempurna. Itulah yang saya rasakan saat mbak Reni muncul dengan kedua kucing mungilnya.


Photobucket


Begitulah sebuah tarian pagi hari ini. Seiri Hanako, sahabat baru kita yang selalu muncul dengan untaian kata-kata puitis. mbak Reni, ...ibu cantik yang selalu ceria dan hangat. Terimakasih sobat atas anugrah award indah ini.

Dan agar award-award ini dapat menambah keindahan hari anda juga, saya persembahkan award-award di atas untuk sahabat kita yang lain :
Semoga berkenan. Selamat beraktivitas. Semoga hari selalu menari indah bagi kita semua.

Friday, January 1, 2010

Malam Pertama


Malam Pertama, hm....tentu saja saat-saat paling indah dan mengesankan. Malam yang ditunggu-tunggu setiap insan. Ya, ini malam adalah malam pertama saya. Malam pertama kami. Tentu saja saya menunggunya. He, agak berdebar-debar juga.

Tadi setelah maghrib anak-anak masih berceloteh. Masih minta makan malam seperti biasa. Masih minta didongengkan seperti biasa. Bejo masih saja makan dengan lauk kegemarannya. Lalu apa bedanya ? Apa yang membedakan malam ini dengan malam-malam sebelumnya atau malam-malam setelahnya ? Masih saya pikirkan jawabannya. Sambil saya memikirkan ini, rupanya diluar bulan agak malu-malu muncul dari balik dahan jambu air saya saat saya pandang dari jendela kamar.

Ya malam ini, seperti malam-malam yang lain, tetap saja indah dan magis bagi saya. Bedanya malam ini adalah lanjutan hari dimana tengah malam tadi terompet pergantian tahun dibunyikan. Malam ini adalah malam dimana saya mersa lebih plong. Setidaknya karena saya memiliki tekad untuk menggapai hari-hari yang lebih baik di tahun ini. Tekad untuk lebih berta'aruf mengenal diri dan semesta dengan tulus dan jujur. Dan malam ini adalah awal dimana saya mendapatkan suasana indah dengan tekad tersebut. Malam ini adalah malam pertama saya tidur di tahun 2010.

Begitulah kawan. Dan, kelihatannya pintu kamar saya sudah tidak sabar ingin segera dimasuki. Baiklah. Saya istirahat dulu ya. Selamat menikmati juga malam pertama anda di tahun ini. Selamat malam semua.

Gambar diambil dari sini

Alis Lintah Atau Alis Sinchan si Bonga

Entah kenapa disebut alis lintah. Mungkin karena bentuknya yang ganjil, menyerupai lintah yang kekenyangan. Entahlah.