Search This Blog

Wednesday, March 31, 2010

Budaya Pop, Pengekor, Latah, Atau Ikut-ikutan....?

Pagi menjelang siang yang cukup hangat. Tiba-tiba saja, sebuah bisikkan sang ilalang, seperti biasa, membuat saya tercenung tentang sesuatu. Baiklah saya mulai saja kawan. Ketika Andy Warhol mulai mempopulerkan Seni Komersil, yang sering kita sitir sebagai Budaya Pop, maka kata populer itu dikejar orang dengan banyak cara. Orang bergerak cepat. Orang membuat gerakan pragmatis, bahkan terkesan instan untuk meraih kesuksesan. Di masa depan orang hanya butuh limabelas menit untuk terkenal, begitu ucap Warhol. He, maka tidak heran bila orang melakukan banyak cara praktis supaya cepat dikenal, lalu komersil.

Beberapa minggu lalu, di situs jejaring sosial yang sedang digandrungi (Facebook), saya menemukan sebuah promosi besar-besaran. Promosi novel "Maryam Mah Kapok". Tentu saja yang promosi adalah penulisnya (silahkan dibrowsing namanya). Ya, sebagaimana kita tahu, karena situs ini gratis, mungkin juga karena gaungnya yang begitu dahsyat, maka promosi selalu gencar dilakukan lewat FB. Tidak hanya oleh mereka yang amatiran, juga oleh mereka yang sudah punya nama cukup tenar.

Begitu melihat judul buku yang dipromosikan tersebut, sebuah pikiran lain tiba-tiba saja muncul di benak saya. Maryam mah Kapok...... dan.....Maryamah Karpov. Hehe, barulah saya tersadar mengapa judul buku itu terdengar nyaman di telinga saya. Rupanya sudah ada sebuah novel berjudul "Maryamah Karpov" oleh Andrea Hirata. Jadi.......? Ya, judul yang mirip itulah yang agak membuat saya miris.

Kenapa orang harus membuat sebuah karya yang memiliki kemiripan judul dengan karya orang lain ? Seakan-akan ingin mendompleng kesuksesan karya yang judulnya mirip tersebut.
Gejala apakah ini....? He, pertanyaan yang belum ada jawabannya. Krisis ketidakpercayaan diri. Budaya pop mengambil jalan pintas. Trick supaya cepat laris. Atau ini bagian dari budaya latah, ikut-ikutan. Budaya pengekor. Entahlah kawan.

Begitulah. Ini terjadi hampir di seluruh bidang. Tentu saja semuanya sah-sah saja. Hanya, saya pribadi (meski cuma penulis blog amatiran), sejauh ini masih memiliki harga diri yang tinggi untuk tidak melakukan pendomplengan ketenaran terhadap karya orang lain. Sebab saya percaya, kreativitas kita akan menjadi berkurang begitu kita melakukan hal-hal seperti ini. Bukankah kita memiliki sense kita sendiri yang khas. Bukankah kita memiliki harga terhadap sense kita sendiri tanpa harus mengusik/mengutak-atik sense milik orang lain. Bagaimana menurut anda teman ? Bila berkenan, mari kita renungkan bersama.

Tuesday, March 30, 2010

Ringan Juga Indah


Bila untuk menjadi indah harus dilalui dengan keruwetan, he, lebih baik tidak. Indah, bagi saya, adalah soal keserasian antara visualisasi dan filosofi yang tertanam. Maka setangkai bunga ilalang ini, sekali lagi bagi saya, indah. Selain indah, dia juga ringan. Sederhana bukan.

Ringan lebih dulu harus ada daripada indah. Bila indah tapi tidak ringan, he, tidak menarik bagi saya. Ya, dia (bunga Ilalang ini) ringan karena seadanya dan sederhana. Sebuah kesederhanaan, sejauh ini selalu berhasil memukau saya. Saya suka sesuatu yang ringan dan indah.
Ini menyangkut bagaimana saya memaknai keindahan untuk diri saya sendiri, juga ketika saya memaknai keindahan yang ada di sekitar saya. Karenanya, he, saya enggan berdandan yang berat. Saya lebih suka berdandan ringan (hiks, mungkin disebabkan malas juga)

Begitulah. Bunga ilalang di atas adalah sebuah selingan yang lumayan bagi saya. Lumayan untuk menghilangkan rasa sebah setelah makan siang. Bila anda suka, nikmati saja. Atau carilah sesuatu yang ringan dan indah di sekitar anda. Pasti akan anda temukan, asal sedikit membuka mata. Nikmatilah. Manjakan diri anda dengan sensasinya. Selamat siang kawan.

Monday, March 29, 2010

Sense Yang Aneh, Partai Dianggap Milik Keluarga

Hari yang merangkak, begitu cepat. Kegelapan muncul di sebuah kota. Lampu-lampu jalanan telah dinyalakan. Seseorang tiba di rumahnya. Mungkin sekitar sejam yang lalu. Ya, setengah jam setelah adzan Maghrib.

Seperti biasa, begitu tiba di rumah, ia menghempaskan tas kerja dan melepas segala pernak-pernik busananya. Setelahnya mandi dan menghadapNya. Maka setelah hal-hal tersebut, he, tidak sengaja ia melihat tayangan televisi. Berita yang membuatnya mual.

Sebuah channel menayangkan berita tentang seorang ketua partai politik sedang mempersiapkan calon penggantinya, anak lelakinya. Calon yang diluar perkiraan. Selama ini orang-orang mengira yang diinginkan sang ketua partai sebagai calon penerus adalah putrinya. Ternyata, sang ketua partai, kebetulan perempuan (tau kan) justru menginginkan sang putra yang selama ini tidak dikenal sebagai calon penerusnya. Hehehe, bukan main. Wacana yang menggegerkan. Rupanya sang ketua partai mulai pecah kongsi dan sang suami. Begitukah ? Entahlah kawan.

Dia, hiks, jadi bergidik. Bergidik campur muak. Muak yang menimbulkan rasa mualnya tadi. Dia, tentu saja tidak tertarik dengan issue "mengadu-domba anak" yang diungkap beberapa media. Memangnya partai itu milik keluarga mereka apa ? Seenak jidatnya saja mencalonkan anak-anaknya sendiri sebagai calon wakil ketua partai. Tidak adakah calon yang betul-betul layak dari partai itu, di luar keluarga tersebut....!?

Pertanyaan yang belum terjawab. Beginilah kalau Partai poiitik dianggap milik keluarga. Sebuah sense yang aneh di negeri My oh My ini. Maka untuk melupakan kejengkelannya, seseorang yang sedang merasa muak itu melesat sejenak ke rumah mayanya. Entah sampai kapan ia akan berada disana. Bagaiamana menurut anda kawan ? Silahkan dituangkan bila berkenan.

Saturday, March 27, 2010

Gurindam Gulana Lepas


Gulananya menggurindam
Mengawan tak berbekas
Bebas lepas
Di lengkung cakrawala

Oh gemawan awan
Tangkap gulananya
Kibaskan kebas
Menelan sang jumawa

Gulananya menggurindam
Bebas lepas
Jumawapun menghilang lekas
Di lengkung cakrawala


Bandara Soeta, 27-03-2010
Menunggu lepas landas

Wednesday, March 24, 2010

Sejenak Di Balik Warnet, Bandung


Gerangan apa yang harus dilakukan? Begitulah seseorang bertanya ketika tiba di sebuah kota tugas perlawatannya. Acara pembukaan masih lama, nanti malam. Maka entah mengapa akhirnya tiba juga ia ke sebuah warnet. He, tinggal menyebrang kawan.

Sudah lama tidak ke warnet. Ini warnet pertama yang ia datangi sejak lima tahun yang lalu. Tadi sedikit jeprat-jepret suasana warnet. He, khas sekali, ditata ala saung, dengan sekat dari bambu dan rotan. Maka suasana khas juga sejuk itu cukup melenakannya. Iapun tenggelam sejenak pada si warnet.

Tentu saja tak banyak yang bisa dilakukan. Buka blog. Buka FB. Buka apalagi...? Hanya itu. Lucunya, ia harus memanggil sang teknisi untuk menggunakan PC warnet, hehe, ampun. Begitulah. Jadi biarkan saja ia sejenak tenggelam di balik warnet, di Bandung, sang Paris van Java ini. Mungkin setelahnya ia akan mencari sedikit penganan hangat. Apa ya...? Ah, mie kocok saja. Lumayan kan sore-sore menghangatkan perut dengan mie kocok. Sambil menunggu kedatangan Susy Ella. Ayo la, buruan.

Monday, March 22, 2010

Terbang Senja

Katamu kan terbang
ya, saat senja tiba
Bukankah katamu lelah kepakkan sayap
He, tidak saat senja tiba

Katamu muak pada senja
benar tapi ia tak bisa kutolak
Bukankah sebaiknya lupakan saja dia
He, tidak kawan sebab ia jalanku pulang

Jadi katamu harus kau songsong senja
sebab senja tak bisa kau tolak
senja jalanmu pulang padaNya
He, kau yang direngkuh senja

Katamu senja telah menjemput
maka kau dekap erat sang senja
senjamu tiba tidak tiba-tiba
maka kaupun terbang bersama senja



Palembang, 22 Maret 2010
Dipersembahkan kepada para capung, burung
dan seluruh mahluk yang terbang ke sarang ketika senja
Juga untuk seseorang, he, yang merasa
senjanya telah tiba

Sunday, March 21, 2010

Rasa Manis Kita

Rasa Manis, tentu saja manis. Semanis gulali arum manis. Semanis senyum perempuan atau lelaki kita tercinta di pagi hari. Semanis tawa indah anak-anak kecil di sekitar kita. Semanis sapaan bunga-bunga di taman yang memberikan keharuman dan keindahannya. Semanis rasa manis tipis berpadu pahit secangkir kopi saya, he, tentu saja

Inilah Rasa Manis dari sahabat kita Yans dalam Jeda.


Maka mari berbagi Rasa manis. Satu untukku, satu untukmu. Tebarkanlah rasa manis ini kawan. Kepada siapa saja, kemana saja. Dengan begitu rasa manis akan mengitari kita semua. Bukankah duniapun akan terasa indah, dan manis. Yans sahabat kita yang yang telah lama berjeda dari blognya. Ayo main lagi katanya. Selamat blogging lagi yans. Dan terimakasih atas award Rasa Manis ini.

Award Rasa manis dari Yans ini saya anugrahkan kepada :
  1. Fanda
  2. Buwel
  3. Anazkia
  4. Yolliz
  5. Nineta

Rasa Manis kedua, dari sahabat kita yang kreatif, hangat dan penuh kasih, Nineta




Aku mengasihimu, kata Nineta. Mari tebarkan kasih kita kepada siapa saja, kemana saja. Karena award ini sudah disebarkan langsung kepada para blogger, maka bagi yang belum punya award ini, jangan sungkan, silahkan diboyong.

Saturday, March 20, 2010

Impiannya Tentang Sembilang


Malam terus beranjak membangunkan seseorang dari tidurnya. Dia yang terbangun dengan sebuah pikiran lama di benaknya. Ya, sebuah impian terukir padanya, telah sejak lama. Impian tentang Sembilang, Taman Nasional Sembilang. Surga Mangrove Dari Selatan. Entah kenapa, malam ini tiba-tiba saja impian ini tampil lagi. Seperti tabir yang terkuak. Seperti layar lebar yang sedang menayangkan kisah. Sembilang seperti memanggil-manggil dirinya.

Maka tanpa membuang waktu, tentu saja setelah membasuh muka, ia mengumpulkan pikirannya tentang Sembilang. Menggenapkan segala ingatannya tentang Sembilang. Berkonsentrasi mengingat-ingat Taman Nasional itu. Sembilang. Sembilang....Sembilang......oh Sembilang. Flash...., iapun tiba disana.

Sebuah surga yang hijau dan indah. Hutan mangrove dengan beranekea ragam flora dan fauna khas menyambutnya. Ia berlari-lari sepanjang pinggiran estuarium. Bertelanjang kaki sambil mengamati mangrove dengan akar-akarnya yang terlihat ketika air laut surut. Ada beberapa ekor kepiting sedang berlari-lari. Di dekat akar bakau, saat kepalanya menunduk terlihat udang sedang mengendap-endap. Pemandangan yang menakjubkkan baginya. Ketakjuban yang dibarengi kebahagiaan yang melegakan. Ia berjalan lagi. Menyusuri garis pantai berbakau itu hingga matahari tepat di atas kepala.

Sembilang, betapa ia sebuah surga yang indah juga menenangkan. Indah dan menenangkan baginya, mungkin tidak bagi orang lain. Hehe, siapa perduli. Dia terkekeh sendiri sambil terus membidik ke segala penjuru mencari moment dan angle yang indah untuk diabadikan. Hari yang indah dan menakjubkan telah tiba untuknya.

Dia terus berjalan. Berjalan ke arah barat hingga rasa lapar menyadarkannya untuk kembali ke penginapannya. Sebuah guard house berbentuk rumah panggung sederhana milik Taman Nasional itu. Ia disambut dengan menu unik tapi lezat, sekali lagi, baginya (mungkin tidak bagi orang lain). Nasi dari padi yang baru dipanen dan ditanak secara tradisonal dengan periuk. Ikan Sembilang segar yang dibakar. Sambal mangga mengkal. Lalap daun jambu mente. Dan semangkuk pindang udang. Hm, pas dan tentu saja cocok bagi lidahnya. Sungguh sebuah makan siang yang lezat, sekali lagi, baginya. Iapun makan dengan lahap hingga isi piringnya tandas.

Setelah makan siang itu usai, akhirnya ia tersadar, semuanya hanya bagian dari pengumpulan pikiraannya tentang Sembilang. Astaga, untunglah makan siang (dalam pikiran) itu sudah selesai. Kalau tidak, he, penasaran kan. Begitulah sebuah impian tentang Sembilang. Ini membentuk keinginan kuat di benaknya bahwa impian ini harus diwujudkan.

Ya, bukankah sebuah mimpi bisa diraih kalau kita berusaha. Hanya perlu direncanakan dengan matang. Cuti tahunan barangkali akan diambilnya untuk mewujudkan impian ini. Mungkin Desember, Januari atau bahkan bulan sebelumnya, Ya, Oktober. Konon dari bulan Oktober hingga Januari ribuan burung-burung Siberia sedang bermigrasi ke Sembilang. Bukankah sebauh moment yang menakjubkan melihat burung-burung Siberia mendarat ke Sembilang. Baiklah, Sembilang tunggulah ia disana.
...!

Friday, March 19, 2010

Sepuluh Menit Tentang Semalam

Seseorang sedang terpekur. He, hari yang berlari. Dikatakannya berlari sebab ia begitu cepat berpacu kawan. Berpacu dengan waktu. Pagi yang menyibak malam. Siang yang menegangkan. Sore yang cuma sekilas. Dan nanti, malam akan menyergap. Seperti itulah pacuan hari. Isinya, beraneka. Beraneka dan beragam rupa kesibukan hingga dia tak sempat menengok rumah maya tercinta ini.

Baiklah, dia berjeda sejenak pada kesibukan hari ini (hari yang tidak terasa sudah Jum'at lagi). Sepuluh menit saja tentang kejadian semalam. Malam yang berkesan. Malam yang mendebarkan. Malam yang menegangkan. Lebih menegangkan dari malam jum'at yang biasanya. Mandi keringat. Melelahkan. Dan akhirnya melegakan.

Ya, tentu saja. Apa yang bisa dilakukan bila sakit perut tiba-tiba mendera ? Menegangkan baginya. Bolak-balik kamar mandi. Keringat dingin mengucur. Akhirnya lega juga setelah minum obat pencegah diare. Begitulah tentang semalam kawan. Mohon maaf bila kesibukannya dalam beberapa minggu ini membuat dia tak sempat mengunjungi anda. Bagaimanapun, dia akan mengunjungi anda semua pada saat-saat jeda. Selamat siang semua. Selamat beraktivitas. Semoga kesuksesan dan kebarokahan menjadi milik kita semua.

Tuesday, March 16, 2010

Dia Berguguran



Dia berguguran, tepat ketika pagi menggantikan malam
Dia berguguran, tepat saat seseorang terjaga oleh suara alam
Dia berguguran, tepat saat cicit burung gereja hinggap di dahan
Dia berguguran, tepat ketika sang lelayu menghampiri, tak bisa dilawan

Maka kemanakah berpaling segala indah dan wewangi yang ada padanya....?
Tetap ada padanya, hingga dia menciut, kering dan akhirnya sirna
Maka kemanakah dia sang keindahan dan keharuman...? tanyanya
Tetap ada, pada kuntum-kuntum baru, di setiap penjuru alam

Sesungguhnya setiap keindahan dan keharuman alam akan selalu ada. Dimana saja, kapan saja, jika kita membuka mata jiwa kita. Maka hadirkan pula indah dan harummu, di jiwamu kawan. Ia tak akan binasa, tak akan berguguran selama kita menginginkannya ada. Begitulah bisikkan sang ilalang, pagi ini kawan.

Sunday, March 14, 2010

Kunang-kunang Tak Tiba Padanya Malam Itu


Sebuah malam telah tiba hingga membentuk bayangan hitam di dinding. Rupanya bayangan seseorang yang tengah berdiri di pinggir beranda rumah panggung. Rumah panggung yang disediakan untuk tamu sebuah Taman nasional di Ujung selatan Pulau Sumatera. Seseorang itu tengah menanti kunang-kunang tiba untuknya malam itu. Malam yang membuatnya rela menanti berlama-lama hinga tengah malam tiba dan jengahnyapun tiba. Rupanya sang kunang-kunang tak mengetahui betapa ia begitu dinanti. Kunang-kunang tak tiba padanya malam itu.

Ia melunglai dan medesah panjang. Keinginannya gagal terwujud. Ketika nafas panjangnya tiba di akhir jeda, tiba -tiba saja ia seperti mendapat ilham. Ia bergegas menghubungi staf Taman Nasional tersebut. Ia memerlukan jaringan internet satelit mereka. Tak sampai setengah jam, peralatan yang dibutuhkannya telah siap ia gunakan. Ia berselancar mencari sang kunang-kunang. Akhirnya ia menemukan serombongan hewan tersebut menari-nari dengan kerlap-kerlip sinar indah di hadapannya. Bahkan seekor kunang-kunang bisa ia lihat dengan jelas sedang menjungkit pada sehelai daun di layar monitor sebuah komputer Taman nasional itu. Pemandangan yang sangat menakjubkan baginya.

Tak berapa lama seseorang itu, kebetulan laki-laki, meraih saku kanannya. Sebuah handphone telah berada di tangannya. Ia terlihat sibuk memutar beberapa angka hingga wajahnya terlihat tersenyum sambil berkata,
"Sayang.....kunang-kunangnya begitu indah.."
"Alhamdulillah, tercapai juga keinginan kita....."
"Pandanglah kunang-kunang itu untukku....."
"Jangan lupa direkam ya..."
"Sudah. Lihatlah nanti, begitu indah, gerakannya ritmis, seperti menari...."
"alhamdulillah. Sayang....janin kita bergerak-gerak, seolah ia merasakan juga keindahan kunang-kunang yang sedang kau pandang itu", suara sang istri di ujung sana, terdengar begitu bersemangat.

Begitulah percakapannya dengan sang istri. Ketika percakapan telepon itu terhenti, dia merasa begitu miris. Bahagia sekaligus sedih. Bahagia karena merasakan kebahagiaan istrinya. Sedih karena telah berbohong demi keinginan sang istri. Ya, sebuah keinginan yang agak ganjil. Keinginan agar sang suami merekamkan kunang-kunang yang sedang terbang. Keinginan aneh seorang istri yang sedang hamil. Entahlah.

Ia segera memasukkan CD rekamannya. Tengah ia memasukkan CD tersebut ke dalam sampulnya, sebuah suara mengejutkannya,
"Ayah kenapa memangis....?, anak gadisnya tiba membawakannya segelas teh hangat. Tentu saja tak menjawab. Buru-buru membereskan peralatannya. Astaghfirullah, desahnya. Betapa mengingat-ingat kejadian lama bisa membuat dirinya tak sadar meneteskan air mata.

Itulah ingatannya tentang Kunang-kunang yang tak tiba padanya malam itu. Kejadian lama saat dia berjuang memenuhi keinginan istrinya. Keinginan yang begitu sulit untuk ia penuhi. Dan sungguh, penyesalanpun tak ada gunanya. Istri tercintanya meninggal dunia saat melahirkan anak pertama mereka. Gadis yang tadi membawakannya segelas teh hangat. Siti Kurnia Kunangwati, nama yang terdengar ganjil di mata teman-temannya .

Ya kunang-kunang telah membuat anaknya, Siti Kurnia Kunangwati, berlonjak kegirangan ketika masa janinnya dulu. Bukan kunang-kunang yang dilihatnya di langit Taman Nasoinal tersebut. Itu kunang-kunang yang direkamnya dari sebuah situs geografi terkemuka. Dan kunang-kunang tetaplah kunang-kunang. Dimanapun, hewan itu selalu memilki kharismanya sendiri. Ia selalu bersinar dan berkilau indah, seindah mata Siti Kurnia Kunangwati. Begitukah ? Entahlah kawan. He, buktikan saja bila kalian bertemu dengannya.

Gambar diambil dari sini

Saturday, March 13, 2010

Menghamba Pada Nurani

Bila Dia menitipkan kebenaranNya pada sebuah titik bernama Nurani, maka mari menghamba pada nurani kita. Ya, mari kita sederhanakan saja. Sebab sederhana itu memudahkan. Sederhana itu meringankan. Dan marilah melakukan apa saja suara kebenaran yang menggelora di jiwa kita. Tanpa harus menjadikannya rumit. Tanpa harus mempertanyakan pahalanya bagi kita.

Tentu saja saya cuma terpekur. Terpekur merenungkan bisik sang bunga Ilalang samibl menatap langit-langit kamar. Ketika ini juga panggilanNya berkumandang. Maaf, saya harus bergegas memenuhinya. Maafkan saya juga telah menyampaikan bisikkan sang Ilalang tentang "Menghamba pada Nurani" tadi. Tentu saja ini cuma bisikan. Tepiskan saja bila tidak berkenan. Selamat sore kawan.

Thursday, March 11, 2010

Ditelan Hari


Ditelan hari. Itulah yang dirasakannya. Terbangun sepuluh menit sebelum adzan shubuh, setelahnya tenggelam dalam aktivitas dini harinya. Berangkat kerja, dan tiba di rumah kembali saat hari mulai gelap. Seperti itulah hari-hari menelannya sobat. Diapun tak bisa berkutik. Sepenuhnya tunduk pada gerakan sang hari. Pagi yang menyibak kegelapan. Siang yang merangkak. Sore yang tiba sekilas. Dan akhirnya, malam menyergapnya.

Maka maafkanlah dia sobat bila ia tak sempat mengunjungimu. Bukannya dia tak ingin. Raganya sudah terkulai saat ia tiba kembali di rumah. Terlebih masih berkutat lagi melakukan hal-hal domestik di rumah. Tak banyak yang bisa ia lakukan bila kesibukan seperti bulan-bulan ini begitu menelannya. Bertahan pada rindu. Ya, ia merindukan putaran orbitmu. Karenanya, ia berjanji akan mengunjungimu bila waktu sudah berpihak lagi padanya. Mungkin Sabtu atau Minggu kawan.

Begitulah dia yang ditelan hari. Dia yang juga sedang mengenang 40 hari kepergian ibundanya, malam ini. Semoga arwah sang bunda diterima dengan layak disisiNya. Semoga hari yang menelannya memberikan restunya. Paling tidak, semoga apa yang dilakukannya saat ditelan hari bermanfaat dan barokah. Yah, semoga saja.

Wednesday, March 10, 2010

Senja Tiba di Negeri My oh My

Hampir senja di negeri My Oh My. Tepat pukul lima sore lebih limapuluh menit saat ini. Seseorang baru saja tiba dari kelananya. Kegelapan mulai terbentuk di ufuk barat. Tentu dengan semburat jingganya. Sayang, bukan semburat jingga di wajah sesorang yang baru tiba itu. He, itu semburat gelap. Semburat keruh. Semburat yang tiba bersamaan saat dia mendapati tayangan hiruk pikuk di televisi.

Oh..... Negeri My Oh My yang terus mengalunkan irama hiruk-pikuknya. Belum selesai hiruk-pikuk pansus century, sidang paripurna yang mencengangkan, sekarang..... Dulmatin. Begitulah desahannya. Tak bisakah kau berikan sedikit saja hal yang menyenangkan bagi kami...? tanyanya dengan dahi berkernyit. Tentu saja tak ada jawaban. Si Angin Selatan sedang tak berminat menjawab desahannya. Hm, tak seperti biasanya.

Akhirnya senja tiba di Negeri My oh My. Seseorang itu segera mematikan televisi. Mungkin ini satu-satunya cara menghindari hiruk-pikuk Negeri My oh My ini, desahnya lagi. Si Angin Selatan masih tak berniat menjawab. He, benar-benar tak seperti biasanya. Dia cuma menghembuskan sepoinya pada wajah seseorang itu. Maka seseorang itu kembali berdesah, ....... mari nikmati senja yang tenggelam ini kawan sambil berharap hiruk-pikuk itu juga tenggelam. Begitulah desahannya. Senjapun tenggelam, kegelapan menelannya.

Monday, March 8, 2010

Hari Perempuan Sedunia, Ketika Para Istri Memperebutkan Kursi Bupati

Seseorang hampir saja tersedak saat melihat tayangan "Suara Anda" di televisi. Tersedak karena kaget......? Tersedak karena merasa lucu....? Tersedak karena merasa aneh...? Belum ada jawabannya. Mungkin karena heran bercampur kaget. Atau karena heran bercampur miris. Entahlah, alisnya meninggi. Biasanya itu menandakan dia sedang kesal.

"IstrikuRebutan Kursi Bupati", itulah judul berita (hiks, judul yang bombastis) yang dipilih salah seorang pemirsa tv yang tak sengaja ia tonton. Ya, dua istri Bupati Kediri maju di Pilkada. Istri pertama Bupati Kediri mencalonkan diri menjadi Calon Bupati Kediri. Istri kedua (di bertita tv tadi disebut sebagai istri siri), tak mau kalah, ikut mencalonkan diri sebagai calon Bupati Kediri. Maka persainganpun berlanjut. Tak hanya di ranjang, berlanjut ke persaingan memperebutkan Kursi Bupati. Hahahaha, dia tertawa membahana. Tertawa hingga mengeluarkan air mata. Mungkin tawa miris. .

Saya tentu paham apa yang harus saya lakukan padanya. Saya bisikkan sesuatu di telinga kanannya, barusan saja,
"Biarkan saja kawan"
"Siapapun berhak punya keinginan"
"Siappaun berhak menunjukkan nyalinya"
"Mungkin dengan begitu mereka justru saling menghargai"
"Mungkin tidak ada persaingan, kecuali persaingan sehat, mungkin......"

Itulah bisikkan saya padanya. Kelihatannya dia maklum dengan bisikkan saya. Mungkin juga dia tak perduli. Entahlah. Beberapa jenak setelah tawa mirisnya mereda, dia membuka laptop bututnya. Tentu saja akan asyik disana hingga kantuknyanya tiba. Sebelum saya pamit dan kembali diterbangkan si Angin Selatan, saya cuma ingin mengatakan sesuatu....., menjadi perempuan (apalagi dengan kasus seperti ini) ternyata tidak mudah ya. Bagaimana menurut pendapat anda (Hari ini kan Hari Perempuan Sedunia)....?

Sunday, March 7, 2010

Jangan Membencinya


Kukatakan padamu, "Jangan membencinya....". Ya jangan sekali-kali membencinya. Sebab percuma membencinya. Dia tak akan perduli. Bukan kau saja yang dia pikirkan. Ada banyak manusia yang menantinya. Jadi jangan membencinya.

Ya, ada banyak manusia yang menantinya. Suami-istri yang sedang bercengkarama dengan mesra ditemani secangkir kopi atau teh menghabiskan libur mereka. Para gadis atau jejaka malas yang tambah meringkuk menaikkan selimut menikmati tidur nyenyaknya. Penjual gorengan yang mangkal di pos ronda. Dan tentu saja para rawa (di daerahmu) yang sangat merindukan kebasahannya. Rawa yang merindukan hujan. Rawa yang murka karena karena kehilangan wilayah kekuasaannya. Rawa yang terus ditimbun demi keserakahan manusia yang terus menimbunya demi berjengkal-jengkal lahan untuk hunian mereka. Dan sebagainya.

Sudahlah. Sebelum aku semakin melantur, kukatakan lagi padamu, "Jangan membencinya". Nikmatilah dia dengan rasa cinta yang bisa kau hadirkan. Sebab dia adalah anugrahNya. Keserakahan kalian manusia saja yang membuat sebagian kalian manusia merasakannya sebagai bencana, hingga kalian membencinya.

Benar. Itulah bisikan sang Ilalang pada saya saat saya tengah menikmati secangkir kopi ditemani goreng ubi sore ini. Pesan agar saya tak membenci hujan. Yah...semoga saya tidak membenci hujan. Rasanya tidak. Sejauh ini hujan menambah kenikmatan saya mereguk secangkir kopi. Entah telah berapa puluh cangkir kopi, mungkin pula beratus, telah saya reguk dengan regukan yang terasa bertambah nikmat karena diiringi hujan. Jadi, jangan membencinya kawan. He, saya meneruskan pesan sang ilalang tadi. Selamat sore semua.

Saturday, March 6, 2010

Kecupan Di Kuncup Pagi


Pagi yang indah. Kuncup pagi yang tiba dengan sumringah. Sumringah dengan dengan aneka rasa pada keindahannya. Maka sayapun, tentu bahagia dengan kuncup pagi yang sumringah ini. Matahari yang perlahan-lahan muncul dari balik pohon jambu (Jambu air dan bukan jambu klutuk) milik tetangga sebelah rumah. Sinarnya yang seakan mengecup saya. Di halaman, aneka bunga-bungaan juga menyapa saya. He, seolah mereka juga mengecup saya. Sebuah kecupan di kuncup pagi yang menggelora.

Maka sukakah kita dikecup oleh si kuncup pagi...? Tentu tak akan kita rasakan bila kita lewatkan sang pagi. Sesekali rasakanlah kecupan pagi kawan. Geloranya akan membawa kita pada semangat menikmati hari. Sepanjang hari, terlebih pada akhir pekan ini. Selamat berakhir pekan buat semua. Saya mau melanjutkan merasakan kecupan kuncup pagi ini. Tentu saja juga dengan secangkir kopi. Sebelum pamit, saya persembahkan kado indah dari sahabat kita semua Hendriawanz pada setahun hari jadi blog saya beberapa hari yang lalu. Hendriawanz, sahabat yang hangat dengan dua kalimat yang sampai saat ini selalu menyertainya : Mengalirlah di jalanmu. Jangan menyerah.....



Selain kado dari Hendriawanz, saya persembahkan sebuah kecupan indah dari pulau Bali. Ya award dari Gadis ayu kita, Itik Bali.
Inilah award dari Itik Bali, gadis cantik yang kreatif dan memliki sense of humor yang mantap,



Selamat milad untuk Blogger Bertuah. Ucapan dan doa tulus telah saya berikan. Semoga Blogger Bertuah membawa kebarokahan buat semua. Semoga belum terlambat ya. Maklum cukup sibuk minggu ini, mungkin mulai pikun juga, hehe. Kepada sahabat yang sudah memberi saya award dan belum saya pajang, tolong ingatkan saya.

Demikian kecupan kuncup pagi ini. Kado dan award tersebut silahkan dibawa pulang bagi siapa saja yang berkenan. Selamat pagi semua. Selamat berakhir pekan.

Friday, March 5, 2010

Jum'at, Hari Dengan Bra Hitam

Dia menelasak kontainer plastik miliknya tepat pukul enam, tadi pagi. Mencari-cari sesuatu, bra hitam. Benda yang dicari segera ditemukan. Dikenakan dengan cepat, tak cukup lima menit. Tiba-tiba, terdengar suara,
"Gak sekalian CD nya hitam juga ?" suara si Angin Selatan. Seperti biasa, muncul tanpa diminta
"Aturan siapa harus semuanya hitam " jawabnya acuh
"Ya biar matching saja, dunia mode bilang begitu kan ?"
"Hehe, itu aturan, etika yang mereka buat kan"
"...jadi, karena mereka masih manusia, ya boleh dong dilanggar. Suka-suka saja"

Itulah percakapan singkatnya dengan si Angin Selatan. Ini hari Juma'at rupanya. Hari jum'at adalah hari menggunakan batik di kantornya. Karena batik yang dikenakannya, bahkan sebagian besar batik miliknya berwarna gelap, dia memutuskan hari Jum'at ini menggunakan bra hitam. Alasan yang saya tak ketahui sebabnya.

Mari sambut dunia hari Jum'at. Hari yang dalam semingu ini seperti menelannya. Menelan dengan kesibukan yang menggila. Boss yang tiba-tiba minta diadakan rapat percepatan revisi RTRW. Maka tentu dia harus memastikan persiapan acara tersebut.
"Sudahlah jangan ganggu saya lagi", ujarnya pada saya dengan wajah ditekuk. He, tentu saya harus menghormati pemintaannya. Semoga hari ini sukses dan barokah untukmu, bisik saya padanya.


Begitulah Jum'at dengan bra hitam dalam gumamannya. Saya pamit dulu. Ya, tentu saya harus terbang lagi, si Angin Selatan terlihat sedang bersiap-siap akan menerbangkan saya. Semoga kesuksesan dan kebarokahan itu juga menjadi milik anda semua, meski anda tak mengenakan bra hitam hari ini. Tentu saja, dunia toh bukan melulu milik perempuan, apalagi milik perempuan dengan bra hitam yang seleranya tidak saya mengerti, hehe. Selamat pagi semua.

Wednesday, March 3, 2010

Perempuan Anting Sebelah Dan Para Kampret

Dia sedang menyepi di sudut ruangan. Antingnya cuma sebelah. Ya, anting sebelah. Sudah sebulan dia begitu. Mungkin sengaja begitu, mugkin karena hilang tidak sengaja. Entahlah. Kelihatannya dia tidak perduli. Kelihatannya juga dia sangat nyaman berada di sudut ruangannya. Kepalanya sesekali mengangguk-angguk. Dia bersenandung. Senandung yang entah apa lagunya.

Di televisi kisruh ruang sidang para anggota dewan yang terhormat terus menggelegar. Hari ini pembahasan Sidang Paripurna. Tentu saja dia tidak melihat lagi, pesawat tv sudah ia matikan. Bosan katanya. Dagelan yang tidak lucu. Butet Kartarejasa dalam monolognya berkata, asem tenan !. Dia menggumam, kampret.....!. Untungnya cuma gumaman. Gumaman dia yang sedang tidak perduli. Tidak perduli yang disebabkan bosan. Bosan pada situasi yang baginya mampet. Semoga bosannya cuma sementara, harapan saya. Biasanya setelah bergumam perempuan itu akan bersemangat lagi. Semoga saja.

Perempuan dengan sebelah anting itu terus bergumam sambil mangangguk-anggukan kepala. Tiba-tiba, saat tangannya iseng membuka akun FBnya, dia tergelak sendiri. Edan, gerutu saya. Di layar hp, sebuah status salah satu temannya, mau tak mau terbaca juga oleh saya: " Sak karepmu...!". Teman yang mungkin sama edannya dengan dia. Entahlah kawan. Di bawah status itu terlihat banyak komentar. Rupanya itu gerutuan dan komentar soal kisruh ruang sidang di senayan kemaren. Juga soal sidang paripurna hari ini. Begitu rupanya.

Heh, gantian sekarang saya yang bergumam, cuma dalam hati. Perempuan dengan anting sebelah itu kelihatannya masih menganguk-anggukan kepala dengan musik kegemaranya di sudut ruangan. Perempuan aneh, gumam saya. Pikirannya kadang mengembara melompati ruang dan waktu. Dan dia terus saja menggumam. Kampret.......!

Tuesday, March 2, 2010

Setahun Bersama Ilalang dan Angin Selatan


Lihatlah dia yang tengah membinarkan dirinya pada sepotong pagi......, hm seperti sedang menyapa. Kadang seperti sedang tersenyum. Kadang seperti sedang melambai. Dia si Bunga Ilalang. Bunga Ilalang yang sering mendatangi saya dengan bisikannya. Tadi dia tiba lagi pada saya. Kedatangan yang tak bisa saya tolak, seperti biasanya.

Begitulah. Bila si Angin Selatan sudah menghentakkan hembusannya, saya harus bersiap. Biasanya itu pertanda kedatangan si Bunga Ilalang. Ilalang dan Angin Selatan, dua mahluk dan dzat yang telah berkolaborasi dengan serasi bagi saya. Lihat saja, telah ribuan tahun dan ribuan kilometer sang angin telah menerbangkan bunga ilalang. Bukankah itu bentuk kolaborasi yang telah teruji. He, bagi saya keduanya berkolaborasi dengan indah demi kesetiaan mereka pada saya. Kini genap setahun masa perkongsian mereka.

Tanpa terasa telah setahun saya ditemani Ilalang dan Angin Selatan. Ya, setahun yang lalu Blog (sebagai tempat menuangkan bisikan Ilalang dan Angin Selatan) ini saya buat. Tepatnya pada tanggal 02 Maret 2009. Memulai dengan postingan "Sayangi Dirimu", itulah ide awal blog ini. Blog ini adalah tempat saya menyuarakan pendapat/pandangan pribadi saya, sebagaimana setiap kita memiliki visi kita masing-masing dalam mengisi semesta ini. Blog ini adalah tempat saya menyampaikan uneg-uneg sambil meninggalkan pesan dalam berbagai rupa (renungan, inspirasi, puisi, cerpen). Sesuatu yang saya sebut "Memecahkan bisul tanpa merasa sakit".

Bila ada sahabat yang ingin menyampaikan sesuatu tentang blog ini, masukkan dan saran, silahkan dituangkan. Mau meninggalkan kesan ala hendriawan (7 hal tentang Newsoul, hehe), boleh juga. Mau mengevaluasi blog ini, kalau ada yang mau, ya silahkan. Misal terlalu aneh, terlalu mbeling, terlalu hambar, terlalu sepi (tanpa iklan), terlalu manis (he, hueks....), silahkan saja. Silahkan, bebas dan santai saja. Saya menghargai kalau ada tanggapan yang jujur dan apa adanya, yang gokil sekalipun.


Dan......sebagai ucapan terimakasih, saya persembahkan award sederhana yang saya buat. Ini wujud rasa cinta saya pada semua sahabat. Sahabat yang selama ini telah menjadi tempat berbagi dan mensupport blog ini. Silahkan diambil oleh siapa saja, tentu saja bila berkenan. Selamat pagi semua, saya ngopi dulu ya.



Kepada Blogger Pencuri Resep, Blog Resep Enak Nusantara Dan Lain Sebagainya

Kelakuan lama ya, copy paste punya orang, tulisan lalu ditulis ulang dan diterbitkan di blognya tanpa menyebutkan  sumber. Ya setua hasrat ...