Search This Blog

Friday, December 31, 2010

Sepi dan kosong Yang Syahdu


Sepi. Sepenuhnya tak ada suara, kecuali suara hati sendiri. Kosong. Tak ada siapapun. Tak ada keriuhan. Bahkan tak ada Dalai Lama, Bunda Teresa atau siapapun. Hanya ada si Dia. Sepi dan kosong yang sengaja ia jelang dan ia bentuk di setiap penghujung tahun. Sepi dan kosong yang syahdu, kataya.

Thursday, December 30, 2010

Sajak Secangkir Kopi



Secangkir kopi buatmu luruh

Matahari pelan-pelan naik meski mendung

Mendung yang tak buat kau redup

Sebab secangkir kopi dalam mendung berimu sauh


Sajak secangkir kopi ini telah buat kau berseri

Lengkapi elegi akhir tahun ini

Tinggal beberapa kabut pagi lagi

Tunggu saja ia tiba dua hari lagi



Gambar diambil dari sini

Tuesday, December 28, 2010

Bila Esok Itu Tak Ada

Seseorang menekuri malam yang meninggi. Pada tekuran kesekian, benaknya dipenuhi beberapa hal yang tiba-tiba hinggap dan tak mampu ia tolak. Bayangkanlah bila esok itu tak ada. Bayangkanlah bila ini malam adalah saat terakhir kita bersama raga. Bayangkanlah bila hanya ada hari-hari kemarin, tak ada esok. Terbayangkankah....?

Tak ada jawaban kecuali monolognya di ujung malam. Ya.... bila terbayangkan, resapilah. Bila ia bayangan tak jelas arah, tanyalah kenapa pada jiwa. Bila ia bayangan menakutkan, buanglah rasa takut itu. Bila ia bayangan yang indah kepasrahan, sambutlah. Apapun itu syukurilah. Setidaknya kita masih diberi kesempatan untuk memikirkan seandainya esok itu tak ada.

Bila esok itu tak ada buat saya, he, begitulah monolognya, tentu saja dia ikhlas. Ikhlas telah merengkuh hari-hari kemaren yang penuh warna meski mungkin tak sempurna. Sebab tak selamanya lengkung langit bisa dijadikan tempat menengadah bagi manusia.. Akan ada saatnya ia tertutup pada sebagian manusia yang telah tiba masanya. Mungkin tertutup pada dia, padamu, pada siapa saja. Maka, mari berjuang agar saat esok itu tak ada buat kita, si lengkung langit tersenyum untuk kita. Salam.

Sunday, December 26, 2010

Malam Ini, Jangan Lupa Nonton Bola Ya

Ponsel saya berdering, baru saja, dengan nada khas tanda tibanya pesan singkat. He, benar saja sebuah pesan dari si bonek sohib saya,

"Malam ini, jangan lupa nonton bola...."

"Ya, kalau gak ketiduran. Sudah di Bukit Jalil ya ?" balas saya

"Iya dong. Doakan 3-1", jawabnya lagi

Begitulah pesan terakhir itu tidak lagi saya balas. Malas saja. Namanya juga bukan pengemar bola. Kalaupun saya sampai nonton bola, paling sekedar ingin tau skor, siapa pencetak gol, siapa nama kiper. Biar tidak ketinggalan berita kalau terjadi obrolan atau diskusi bola di kantor, he.

Tapi malam ini, berhubung sudah final AFF Indonesia melawan Malysia, saya siap-siap untuk nonton bola. Sudah pasti juga mendoakan supaya Indonesia menang melawan Malaysia. Skor berapa sajalah. Saya sudah menyiapkan adonan bakwan yang tinggal digoreng, sukun yang sudah dipotong-potong plus kacang kulit untuk penganan nonton bola nanti.

Ya, meneruskan pesan si bonek teman saya tadi, malam ini jangan lupa nonton bola. Semoga pertandingannya berjalan tertib dan lancar. Semoga Tim Garuda menang melawan Harimau Melayu, amin. Anda, sudahkah bersiap-siap....?

Thursday, December 23, 2010

Back To Root, Komering

Tiga Gadis Komering, 1929

Tak kan kokoh sebatang pohon bila akarnya lemah, apalagi bila tak berakar. Begitulah nasehat seorang kerabat. Maka diapun mencari akarnya. Ya, meski terserak dan tercabut, akar itu masih ada. Hanya perlu dijaga agar kokoh, tertanam kuat di tempatnya.

Dimanakah tempatnya ? Di jiwa. Di nilai-nilai budaya peninggalan zaman lampau yang ditegakkan. Sejenak dia tergugu dan merasa malu. Betapa lama ia telah tercabut dari akar karena ketidakpedulian. Sejak itu, tanpa ragu dia menunjukkan akarnya. Komering. Komering. Komering. Sebuah daerah di Sumatera Selatan dengan bahasa dan budaya khas yang melekat. Ya dia kembali ke akarnya. Back to root, komering. Sebagaimana kearifan lokal yang teruang dalam sajak lama Komering,

"Adat lembaga sai ti pakaisa buasal jak Belasa Kapampang, Sajaman rik tanoh pagaruyung pemerintah bunda kandung, Cakak di Gunung Pesagi rogoh di Sekala Berak, Sangon kok turun temurun jak ninik puyang paija, Cambai urai ti usung dilom adat pusako"


Terjemahannya berarti "Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang, Sezaman dengan ranah pagaruyung pemerintah bundo kandung di Minang Kabau, Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Berak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka, Kalau tidak pandai tata tertib tanda tidak berbangsa

Begitulah tentang dia yang kembali pada akarnya. Kau, carilah akarmu. Jangan sampai zaman melindasmu hingga tercerabut dari akar. Salam

Tuesday, December 21, 2010

Tak Seorangpun, Hanya Kau


Malam yang makin meninggi. Lampu yang telah dipadamkan. Di kegelapan seseorang menerawang. Cahaya bulan di tingkap angin sinari wajahnya seperti membawanya ke sebuah tempat maha luas. Jiwanya basah. Kedua sudut matanya basah, entah kenapa. Tapi itu bukan kesedihan. Itu sebuah kelegaan yang menyeruak. Sebuah rasa tiba-tiba muncul begitu saja diantara penat dan lelah di ujung malam,

"Tak seorangpun, hanya kau....." desisnya tertahan di tenggorokan.

Ya, adakah yang mampu menolak rasa itu bila ia tiba...? Tak ada. Sebab Ialah Sang Maha, sebuah kekuatan yang tak seorangpun bisa menampiknya.


Gambar diambil dari sini

Friday, December 17, 2010

Sebatang Serai, Dari Kuliner Thailand Hingga Manado dan Sumsel

Seorang putri dari kerajaan zaman lampau di Hindia Belakang tengah bersiap meningalkan tanah airnya bersama sang pangeran. Sepasukan armada sudah disiapkan, layar telah terkembang. Di tangannya sebuah guci keramik siap dibawa serta. Guci yang didalamnya telah diletakkan beberapa batang serai dengan akarnya, juga beberapa genggam tanah hitam subur. Tak lama sang putri dan pangeran berlayar meningalkan tanah air mereka dengan guci keramik berisikan serai. Sejarah yang terlupakan.

He, kisah di atas hanya ada di pikiran saya saja. Saya yang tengah merenung sambil memandang sebatang serai di halaman belakang rumah saya. Ya, serai, bumbu Indonesia yang aromanya khas. Serai (Cymbopogon nardus), salah satu bumbu yang selalu terdapat dalam beberapa masakan Indonesia, bahkan di Asia tenggara. Ingat Tom Yam, hm, masakan Thailand itu sangat terasa aroma serainya (ditambah daun jeruk baunya makin menggoda). Dalam kuliner Manado, serai juga dominan (kemarin baru mencoba sup ikan khas Manado di beautika sekitar Dr.Moestopo) ) berpadu aromanya dengan beberapa pucuk daun kemangi. Dalam dunia kuliner Sumatera Selatan, seraipun hampir selalu ada dalam hampir semua masakan, terutama pindang.

Ya Tom Yam, Sup Ikan Manado, dan Pindang Sumsel adalah beberapa contoh masakan yang didominasi oleh aroma serai. Sama sedapnya. Setelah merenung iseng tadi, saya jadi berpikir, mungkin saja serai telah dibawa oleh nenek moyang kita dari hindia belakang dulu (Indochina), hehe. Maka, wajar jika 'taste" Tom Yam, Sup Ikan Manado, dan Pindang Sumsel memiliki sebuah garis kesamaan meski masing-masing punya ciri khas sendiri. Anda, pasti kenal serai. dengan aneka fungsi dan manfaatnya. Bisa jadi masakan di daerah anda juga didominasi oleh serai. Selamat pagi. Salam.

Saturday, December 11, 2010

Melati Pagi Ini

Dia masih setia dengan wanginya. Segar dengan beberapa tetes embun yang masih menempel. Sederhana. Tak banyak menuntut pada dunia. Tak minta dilihat, tapi wanginya yang tulus selalu menuntun kita untuk menoleh padanya meski ia bersembunyi di balik belukar. Melati pagi ini, menginspirasi dan menenangkan jiwa. Cukuplah ia saja tuk tiba pada kesimpulan bahwa dunia ini indah. Bahwa ketulusan dan penerimaan pada segala yang menjadi milik kita (meski sederhana ), selalu membuat indah. Salam.

Tuesday, December 7, 2010

Angin Yang Tak Tergambar


Siang menjelang sore yang teduh menghampirinya. Pada sebuah tempat menanti, seperti biasa. Tempat minum kopi yang menyenangkan. Disampingnya, seorang gadis ayu duduk memegang telepon genggam. Wajahnya teduh, juga ramah. Angin menerpa wajah si ayu, meriapkan rambutnya ke kiri dan ke kanan.

Friday, December 3, 2010

Hujan Sepenuh Hari


Bukan lagi ia sepenggalan hari. Bukan pula hujan Sepetikan gitar seperti dulu. Ini hari, hujan begitu meraja. Sebab ia menyirami bumi sepenuh hari. Sejak pagi hingga kegelapan terbentuk, ia terus basahi bumi.

Seseorang ditelan hari diiringi hujan sepenuh hari ini. Seperti lecutan manis yang membuat ia terjaga. Terjaga yang membuatnya asyik bergelut dengan beberapa pekerjaannya hingga usai. Sebab hujan sepenuh hari ini seakan menyandera. Ya, hujan sepenuh hari ini lumayan membuatnya lega. Setidaknya sepertiga persiapan pekerjaannya untuk minggu depan telah ia lakukan diiringi deraian hujan. Hujan sepenuh hari ini, adalah rahmatNya yang meimpahi bumi. Bak seloka yang tak pernah putus mensyahdukan semesta.

Begitulah kisah hujan sepenuh harinya. Hari ke-3 Bulan Desember yang menghujan dengan indah. Kau, bagaimana Khabarmu kawan ? Bagaimana harimu ? Apakah juga dikawani oleh hujan ? Apapun, semoga menyenangkan dan membawa kebarokahan. Salam.

Gabar diambil dari sini

5 Cara Maksimalkan Diri Ketika #DiRumahAja Saat Pandemi Covid-19

Beginilah situasi saat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang harus membatasi pergerakan guna...