Search This Blog

Tuesday, November 30, 2010

Gumaman "Sebelas"

Ia bergumam menjelang pukul sebelas (malam). Sebelas gumaman sebelum memejamkan mata. Geram. Gemetar. Retak. Parah. Lelah. Kuyu. Kesal. Lemah. Kusam. Marah. Tapi lega. Pas sebelas. Gumaman diantara rasa lelah dan mata yang mengantuk. He, oleh-oleh perjalanan yang manis. Kenapa sebelas ? Entahlah. Mungkin karena ia suka angka sebelas. Kau, semoga gumamanmu indah, meski mungkin tak sebelas. Salam.

Wednesday, November 24, 2010

Rindu


Satu kata saja, rindu. Rindu teramat kuat yang pernah ia rasakan. Rindu pada suasana leyeh-leyeh, sambil tertawa ringan. Rindu minum kopi di balik awan (hiks, sampai rela merogoh kocek lebih dalam demi secangkir kopi). Rindu mendiskusikan rumor politik terkonyol yang muncul di tv pagi hari. Rindu menatap hujan yang memunculkan ide cerita di kepala. Rindu pada taman bunga mungil di samping rumahnya. Rindu yang tak mampu untuk sekedar dipupuskan sebab waktu yang tak lagi bersisa. Maka biarlah ia merindu. Rindu biru yang penuhi benaknya. Rindu ini, tetap saja hanya sebuah rasa (Rasa yang sering muncu tiba-tiba). Adakah yang juga sedang merindu ......?

Sunday, November 21, 2010

Mimpi Yang Tak Berbentuk

Seseorang tengah terpekur, tadi pagi. Duduk sendiri di samping kolam sisi kanan rumahnya. Suasana senyap mengendap-endap ia resapi dengan segenap jiwa. Angin bertiup sepoi-sepoi. Bau melati yang tumbuh di tepi kolam mewangikan dirinya. Kecipak air kolam karena ikan-ikan yang sesekali meloncat. Matanya terpejam. Suasana sejuk, wangi dan lembut itu membuainya.

Sambil matanya terpejam, di benaknya muncul lagi mimpinya yang tak berbentuk semalam. Ya, sebuah mimpi tak berbentuk menghampirinya. Mimpi yang baginya tak berbentuk sebab tak jelas ujung pangkalnya. Anehnya, meninggalkan kesan mendalam. Ia sedang berada di sebuah tempat berangin, sendiri. Tiba-tiba, entah apa sebabnya dengan jarinya ia melepaskan sebuah gerahamnya, lalu tanggal. Tanpa rasa sakit. Dengan sekali hentakkan saja gerahamnya terlepas. Aneh. Kelihatannya geraham dalam mimpinya itu adalah geraham tak berdaya yang sudah lama membusuk.

Maka mengapakah ia memikirkan mimpi tak berbentuk itu ? entahlah. Mungkin hanya reaksi alam bawah sadarnya. Sebuah pesan untuk mawas diri, bahwa sesuatu yang telah ia pasrah kan dalam dirinya pada waktunya akan menarik diri. Apakah itu ? entahlah.

Angin terus bertiup. Sang melati masih melepaskan wanginya yang lembut. Saat seseorang itu saya pandangi lagi, barulah saya tersadar. Kedua sudut matanya basah. Tangisan bahagiakah ? Tangisan pasrahkah ? Tangisan pahamkah ? Pertanyaan yang tak ada jawabannya untuk saya. Sungguh. Saat ia saya tingalkan, ia masih saja terpejam dengan kedua sudut mata yang basahnya. Tentu saja tak ada yang bisa saya lakukan. Angin telah menerbangkan saya menjauh darinya. Saya (setiupan bunga ilalang ini) hanya bisa berbisik padanya, " Kawan, doa saya menyertaimu. Salam....."

Wednesday, November 17, 2010

Rasa " Pengorbanan"

Entah mengapa, dia suka sekali aroma bandara. Terutama bandara internasional. Aroma penjuru dunia terhirup disana. Ya, tempat dimana semua jalur penerbangan dunia bertemu. Belum ada jawabannya kecuali senyum tipis yang muncul di wajahnya, Saat ini pukul 19.11 WIB, di bandara Soeta.

Saturday, November 13, 2010

Kelebayan Yang Memabukkan

Lebay. Itulah hal yang ia rasakan saat ini. Lebay, istilah remaja yang sudah menjadi istilah kita semua untuk menggambarkan level "berlebihan" terhadap sesuatu. Bila kita menanggapi sebuah masalah dengan sangat berapi-api, mendayu-dayu, tidak proporsional, kita akan disebut lebay. Maka baginya, kehebohan kasus komentar Marzuki Alie atas bencana Mentawai, kehebohan salaman Tifatul Sembiring juga telah memasuki taraf "lebay". Sekedar berdebat, mengolok-olok, menghujat, memojokkan untuk kepengtingan masing-masing tanpa ada solusi. Begitulah kelebayan yang dia rasakan. He, mungkin dia sedang lebay juga.

Ya, bisa jadi dia memang sedang lebay. Lebay menghayati secangkir kopinya hingga rasa maknyus itu menjalari seluruh syaraf-syaraf tubuhnya dan memabukkan. Mau, melihat kelebayannya silahkan lihat disni, juga disini.

Mohon maaf bila kelebayannya menonjok tembok lebay anda. Salam lebay untuk anda semua. Hari sabtu dan minggu, mari kita gunakan untuk berlebay-lebay ria dengan keluarga. Selamat berakhir pekan. Salam.

Friday, November 12, 2010

Tanpa Kata, Hanya Secangkir Kopi Dalam Gelap

Secangkir kopi , cuma itu temannya. Saat itu lampu sengaja ia padamkan. Kegelapan terbentuk menyelubungi suasana. Diam yang ritmis, tapi hangat. Suasana yang pada saat-saat tertentu ia suka. Tanpa kata, hanya secangkir kopi dalam gelap. Ia nikmati suasana itu dengan penuh semangat dan mendalam sebagaimana kedalaman rasa tiap regukan kopinya.

Di dinding, cahaya dini hari yang menyingsing tiba pada selapis kaca. Cahaya yang membentuk keremangan di wajahnya. Sebelah tangannya mengangkat cangkir kopi, matanya terpejam. Maka ketika mereguk secangkir kopi dengan mata terpejam itulah sekelebatan pikirang muncul di benaknya.

"Tak bisakah dunia berhenti sejenak saja dari gunjang-ganjing yang menyesakkan ini ?"

Tentu saja tak ada jawaban untuk monolog dalam keremangan itu. Sebab hanya ada dia dan secangkir kopi dalam gelap.

Hari makin menyingsing. Ketika cahaya telah cukup menerangi, ia melihat secangkir kopinya telah tandas. Pada cangkir kopi yang berisi selapisan ampas itu, entah mengapa ia seperti melihat sebuah seringai. Rupanya seringai si Angin Selatan yang bergumam,

"Santailah sedikit kawan. Pandanglah dunia dengan senyum di jiwa, maka dunia akan selalu terlihat indah dan damai...".

Tak ada jawaban. Hanya desisan, "Pret...!". He, gumaman yang tak jelas.

Cangkir kopi dalam gelap yang telah tandas itu diam-diam lalu tersenyum. Begitulah dunia tanpa kata dengan secangkir kopi dalam gelap miliknya. Dunia yang cuma bergumam. Selamat pagi dunia, katanya.

Monday, November 8, 2010

Hujan Tampar Wajahku

Hujan tampar wajahku. Duniaku melesat meski ragu. Di sudut itu seorang anak kecil bermata sayu sedang menggigil, giginya gemeretuk. Di televisi, manusia-manusia berbalut debu merapi terlihat kuyu. Berita evakuasi korban letusan merapi yang mengharu biru. Tak cukup itu, pemakaman masal korban merapi hilangkan bengalku. Hujan ini tak hanya tampar wajahku, juga tampar jiwaku. Hujan ini, buatku pilu................

Sunday, November 7, 2010

Nole Me Tangere

Ya Nole Me Tangere. Kata-kata itu tentu saja bukan mantera. Itu kata-kata milik Jose Rizal, sesorang yang pernah dikisahkan guru sejarah saya sebagai pahlawan dari Philiphina. Nole me tangere, kata guru saya artinya adalah "Jangan ganggu saya". Konon kata-kata itu memiliki kekuatan dahsyat saat muncul di zamannya. Ya, ia tak sekedar untaian kata-kata melainkan sebuah pesan moral melawan penjajah ketika itu.

Entah kenapa kata-kata itu muncul di benak saya. Tak ada alasan yang jelas. Hm, ya...ya...ya, mungkin hanya kebosanan saya pada suasana usik-mengusik yang tertangkap tanpa sengaja oleh saya. Di sebuah komunitas, saya menemukan aroma tersebut. Orang mengusik orang lain entah memang ingin mengkritisi atau sekedar ingin tenar. Sebagai contoh, mengusik fiksi di kompasiana sebagai sampah. Mengusik sang pengusik. Mengusik seseorang bernama Agnes Davonar. Dan lain sebagainya. Akhirnya....., jengah saya tiba.

Meskipun, jujur saja, di satu sisi usikkan itu membukakan mata saya. Saya yang selama ini hanya menulis tanpa menoleh ke tulisan orang lain jadi tau beberapa nama. Saya jadi tau siapa itu Agnes Davonar. Ya, sebuah pengusikkan pada dasarnya akan melahirkan sikap kritis. Tapi, di sisi lain, saya merasa tersesat. Tersesat pada lorong pengap. Rasanya jiwa saya jadi kerdil kalau saya menghirup aroma pengusikkan itu. Entahlah.

Tidak sehat buat saya bila saya harus sibuk mengusik orang lain. Tidak sehat buat jiwa saya bila saya sibuk mengkritisi karya orang lain tapi lengah terhadap karya saya sendiri. Lebih baik saya mengkritisi diri saya sendiri. Bukankah tiap orang punya kelemahan dan kekurangan. Jadi, kenapa harus mengusik orang lain.

Sekedar ajakan saja, marilah setiap kita berkarya sebaik-baiknya tanpa harus mengusik orang lain. Mencamkan pada diri bahwa orang lain punya eksistensi diri yang harus kita hormati. Jadi, mari menyadari bahwa setiap orang pada dasarnya tak ingin diganggu. Seperti pesan Jose Rizal, "Nole me tangere". Tentu saja ini cuma pendapat pribadi. Bila ada orang lain yang begitu bersemangat mengusik orang lain, pasti itu haknya. Karenanya dunia ini jadi penuh warna. Salam.

Saturday, November 6, 2010

Jus Mangga Ishoma


Bagi pekerja kecil seperti saya, Ishoma (Istirahat Makan dan Sholat) bisa juga digunakan untuk selingan membuka blog. Ya, blogging kalau sedang mood dan tidak begitu sibuk bisa saya lakukan setelah sholat Johor. Segelas jus mangga adalah pilihan lumayan buat saya. Bisa menurunkan rasa sebah setelah makan siang. Menyegarkan, juga meringankan langkah saat blogging. Jus mangga ishoma yang segar.

Maka ketika melesat dengan segelas jus mangga ishoma, cukup banyak hal yang saya temui. Ide-ide lucu, mendatangkan ispirasi lalu bisa jadi kisah untuk diposting. Jus mangga ishoma, jelas lumayan segar dan mendatangkan ide. Sesekali berselingkuh dengan jus mangga, semoga tidak membuat secangkir kopi saya jadi cemburu, hehe.

Anda suka jus mangga....? Tergantung selera ya. Suka atau tidak, kalau mau bolehlah membaca hasil perlesatan saya dengan segelas jus mangga ishoma, dalam kisah "Perempuan Dengan Segelas Jus Mangga". Selamat berkahir pekan. Semoga suasana menyenangkan bisa anda nikmati bersama keluarga. Saalam......

Tuesday, November 2, 2010

Penulis, Bukan Pilihan Untuk Para Pemalas

Tiba-tiba saja sebuah pertanyaan yang telah lama mengendap di kepala muncul kembali. Apakah (menjadi) penulis adalah pilihan hidup para pemalas...? He, tentu saja saya menjawab tegas, tidak. Penulis, bukan pilihan untuk para pemalas. Bila seorang pemalas ingin menjadi penulis, pasti "Kemalasan"nya akan menghambat pencapaian cita-cita. Maka mengapakah profesi Penulis diidamkan oleh sebagian besar para pemalas...? Nah, kalau ini mungkin sedikit mendekati kebenaran.

Pikiran di atas memang tidak muncul tiba-tiba. Beberapa orang di sekitar saya sering mengatakan keinginan mereka ingin menjadi seorang penulis. Ketika saya perhatikan, kelihatannya itu hanya sebuah cara untuk menutupi kekurangan. Mungkin juga sebuah cara untuk menutupi sebuah kemalasan, tiidak bisa bekerjasama dengan orang lain. Sikap negatif yang selalu berusaha mencari kambing hitam. Cenderung selalu menyalahkan orang lain dan menyalahkan kondisi bila menemui hal yang tidak menyenangkan. Maka bayangkanlah bila orang-orang berpikiran negatif dan pemalas seperti itu bercita-cita menjadi penulis. Bagaimanakah hasilnya ? Bagaimanakah mutu tulisannya...!?

Bagi saya (profesi) penulis (selain membutuhkan kejujuran hati nurani), pasti membutuhkan perjuangan dan kerja keras. Bila menjadi penulis adalah cara hidup, sebuah profesi (bukan sekedar menulis di blog di waktu senggang seperti saya) maka harus dilakukan dengan sebuah kesungguhan dan kejujuran pada hati nurani. Sebab pikiran negatif akan menghasilkan sesuatu yang berjiwa negatif pula (pasti tidak menarik membacanya). Dan kemalasan akan menjauhkan rezeki. Kemalasan akan menimbulkan ketumpulan pikiran. Menjadi penulis mungkin memang lebih santai, tidak terikat waktu. tetap saja harus rajin mengasah kekuatan "kepenulisannya". Kalau tidur saja, mungkin tulisannya kurang berjiwa, hambar, dan jelas tidak sejiwa dengan situasi yang ada.

Kawan, tulisan ini hanya uneg-uneg saja dan tidak menggenaralisir. Jelas, hanya cocok untuk kasus yang saya temui. Ya, saya yang sedang sedih melihat orang-orang berjiwa kerdil di sekitar saya yang menatap dunia dengan penuh kesombongan. Berhenti bekerja hanya karena sikap keras yang tidak bisa bekerjasama dengan orang lain, juga rasa malas. Lalu dengan santainya berkata"Ingin menjadi penulis saja". Hiks, betapa nelangsanya saya mendengar pernnyataan itu.

Monday, November 1, 2010

Selamat Datang "Sweet November"


Tulisan ini jelas tak berkaitan dengan film "Sweet November" yang diperankan Keanu Reeves. Ini hanya tentang manisnya bulan November dalam kenangan seseorang. November yang baginya terasa indah. Tidak hanya hari kelahiran, juga karena hari pernikahannya digelar di bulan November.

Maka ketika hari ini menyapanya, tanpa dinyana ia disambut dengan sebuah pemandangan indah. Di halamannya mekar 3 kuntum mawar hingga ia berdesah "Kenapa hari ini begitu manis...?". Jawabannya, karena sudah tiba di november. November yang manis, sweet november.

Ya, selamat datang November. Semoga kemanisan itu merahmati seru sekalian alam, desahnya seraya bangkit lalu tersenyum. Meski masih berkutat dengan hari-hari yang terasa berat di 2 (dua) bulan menjelang akhir tahun, meski berita duka menyeruak dari berbagai pelosok negeri, ia begitu bersemangat. Dalam senyumnya ia mendesis, "Kusambut kau November dengan segenap jiwa...". Hiks, betapa melankolisnya.

5 Cara Maksimalkan Diri Ketika #DiRumahAja Saat Pandemi Covid-19

Beginilah situasi saat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang harus membatasi pergerakan guna...