Search This Blog

Friday, October 30, 2009

Ngopi Sore Sambil Melirik Cicak dan Buaya


Tadi sore kejadiannya. Sebetulnya tidak niat bikin kopi. Saya ngopi biasanya ya cuma pagi. Entah kenapa, saat keluar dari kamar mandi, seekor cicak di dinding tiba-tiba menjatuhkan kotorannya di dekat kaki saya. Dan saat tv saya setel, sebuah stasiun tv sedang menayangkan Merebaknya kasus "Cicak VS Buaya". Ketika channel saya alihkan, rupanya semua sedang menayangkan kasus Cicak VS Buaya. Ya, memang waktunya penanyangan Berita Sore. Hah....., menyebalkan juga. Rasanya saya perlu membuat syaraf di kepala saya berdenyut. Secangkir kopi akhirnya saya buat. Jadilah saya ngopi sore tadi sambil melirik kasus Cicak dan Buaya itu.

Kasus yang saya tonton tadi, bagi saya sangat jauh dari menarik, bahkan sangat menjengkelkan. Bagaimana mungkin sesama mahluk melata itu menjadi saling bermusuhan. Cicak kok melawan buaya...!?. Konon begitulah kalimat awal sehingga kisah Cicak dan Buaya itu merebak. Saya benar-benar tidak habis pikir, kok mereka jadi begitu. Sedang saya berpikir seperti itu, cicak yang bertengger di dinding itu tiba-tiba mengeluarkan suara ganjil. Seolah berkata,
"Masih bisa ngupi di tengah suasana carut-marut negerimu mbakyu..."
"Musibah beruntun, korban Lumpur lapindo masih belum tuntas, gempabumi beruntun, sekarang kasusku sama mas buaya, masih bisa ngupi .......?" tanya lagi si cicak seperti meledek.

Pertanyaan itu sedang saya pikirkan jawabannya. Tentu tadi sambil menghabiskan kopi, daripada kopi yang sudah saya buat mubazir kan. Bagaimana menurut anda, jawaban untuk pertanyaan si cicak tadi......?


Sambil saya memikirkan jawaban pertanyaan si cicak tadi, kesempatan ini saya gunakan juga untuk memajang award dari beberapa sahabat setia saya:
  1. Stiawan Dirgantara (Minggu, 26 Oktober 2009).





2. Tanda cinta Nelli Lingga Yunara (Senin, 14 September 2009). Maaf ya bu Nelli karena tidak dilabelli award maka tanda cinta ini nyaris terlupakan.



Award dan tanda cinta ini saya persembahkan kepada seluruh teman, siapa saja yang mampir dan berkomentar di postingan ini. Selamat beraktivitas. Selamat malam semua.

Thursday, October 29, 2009

Sebelum Mengering dan Menguap (Sesobek Kertas Yang Ditemukan Seorang Suami)


Seorang laki-laki masuk ke rumahnya mengendap-endap saat malam telah dua per tiga. Tangannya yang lelah masih bisa memutar kunci dengan trampil, nyaris tanpa suara. Ketika ia telah masuk ke dalam rumah lalu mencari minuman dingin kegemarannya, ia menemukan secarik kertas tertempel di pintu kulkas. Beginilah isinya,


Sebelum Mengering dan Menguap kata-kata
kutulis saja pesan untukmu sayang
tertempel di pintu kulkas
tempat pertama yang kau buka setelah teras

Sebelum mengering dan menguap pada lelapku
telah kuhidang makanan untukmu
tentu di meja makan itu
buka saja bila kau perlu

Sebelum mengering dan menguap asaku
susul saja aku di tempat tidur
dekap aku bila kau rindu
bangunkan aku bila kau ingin aku mendekapmu


Seketika laki-laki itu merasa kerongkongannya tercekat. Dipandanginya wajah sang istri dengan masgul. Wajah manis itu kini terlihat begitu lelah, menyulutkan rasa bersalah di benak lelaki itu. Perjalanan panjang mereka jadi tergambar begitu jelas di benaknya. Betapa mahal harga sebuah perjuangan, kesetiaan. Ada rasa sesal merambat pelan. Entah kenapa.

Tiba-tiba, laki-laki itu ingin mendekap dan didekap perempuan itu dalam gelap. Selanjutnya, tentu saja hanya mereka saja yang tau, sebab gelap dan sensor. Betapa hawa mengering mudah sekali menjadi basah dan berasa lagi bagi mereka. Entah sampai kapan. Begitulah bisik angin selatan.

Gambar diambil dari sini

Tuesday, October 27, 2009

Sepot Kemuning Dari Mas Umar


Suatu sore yang hampir gelap, setelah hujan reda. Saya tengah memandangi sepot (Bunga) Kemuning pemberian Mas Umar. Sebuah pot keramik agak besar berisikan Kemuning dibonsai yang sedang mekar. Gerombolan bunganya yang kecil, putih dan harum menambah indah suasana sore. Hujan yang baru reda, bau tanah basah, dan keindahan untaian bunga nan harum dari pot kemuning itu.

Saya jadi teringat si pemberi tanaman itu, Mas Umar. Itu nama yang saya berikan. Saya tidak tau siapa namanya yang sebenarnya. Pokoknya saya sebut dia Mas Umar. Rambutnya nyaris botak, karena itu saya sebut dia Umar (Untung Masih Ada Rambut). Tentu saja dia tidak protes saya sebut begitu, wong cuma saya sebut dalam hati. Saya tidak sempat menanyakan namanya.

Pada suatu siang menjelang sholat Johor berjamaah di kantor saya. Tengah saya akan memasuki toilet perempuan di masjid kantor, tiba-tiba saya nyaris ditabrak di pintu toilet oleh seseorang. Saat saya menoleh ke arah penabrak itu, saya melihat seorang laki-laki sedang memperlihatkan muka meringis dan memegang perutnya,
"Maaf mbak, saya darurat sakit perut. Toilet laki-laki sudah terisi. Tolong ya....", demikian kata-kata yang meluncur dari orang itu. Saya tidak sempat menjawab. Badan saya, saya geser memberinya jalan. Secepat kilat, orang itu sudah melesat ke dalam toilet. Tak lama terdengar suara khas benda meluncur ke toilet diiringi suara kecipak air kran.

"Alhamdulillah, terimakasih banyak ya mbak", itu kata-kata yang meluncur dari bibir orang itu, setelah ia menyelesaikan hajatnya di toilet.
"Tiba-tiba saja saya mengalami mules hebat saat akan antri wudhu di masjid ini", sambungnya lagi. Saya perhatikan orang itu. Hampir sebaya saya, mungkin lebih muda sedikit. Perawakanya tinggi, tidak gemuk, juga tidak kurus. Wajahnya agak bulat, berkacamata, dan rambutnya nyaris botak. Lumayan ganteng kalau tidak botak, ujar saya dalam hati. Diapun berlalu setelah saya mengangguk. Saat itu saya hanya membathin, paling tidak dia sudah terhindar dari musibah malu karena buang air besar di celana, kalau saja tadi tidak menyerobot saya di pintu toilet tersebut.

Itulah pertemuan pertama saya dengan Mas Umar. Setelah kejadian itu, saya sempat beberapa kali bertemu dengannya pada jam sholat Johor di masjid kantor saya. Ya masjid kantor saya, karena berdekatan dengan beberapa kantor lain, sering juga didatangi pegawai lain di sekitar kantor kami untuk berjamaah bersama. Setiap kali bertemu, dia mengangguk sopan, diriingi senyum tipis. Atin, teman saya sempat bertanya, "Siapa sul....?" Saya jawab saja, mas Umar. Teman saya mengangguk-angguk, mengira nama si botak itu betul-betul Umar.

Tiba-tiba, sekitar 3 bulan setelah kejadian di pintu toilet masjid kantor, mas Umar menghampiri saya setelah selesai shalat Johor berjamaah.
"Mbak saya mau pindah kantor, mutasi ke kota asal saya di Jawa..."
"Titip ini ya mbak, buat mbak", katanya sambil menunjuk sepot kemuning yang sedang mekar di pojok masjid. Tentu saja saya jadi bingung. Atin, teman saya yang usil sibuk mencubiti lengan saya,
"Wah terimakasih, kenapa diberikan ke saya...?" tanya saya tidak sadar
"Gak tau saya mbak, saya gak sempat mikir lagi. Entah mengapa saat melihat bunga ini saya ingin memberikannya ke mbak. Tolong diterima ya...", begitu imbuhnya lagi. Saya tidak sempat berkata apa-apa, apalagi menanyakan siapa namanya, dia sudah berlalu.

Saat saya tengah mengingat kejadian itu di sore setelah siangnya saya diberi sepot kemuning itu, Bejo suami saya pulang. Mata Bejo tertumbuk pada sepot kemuning itu, mungkin keharuman sang kemuning telah menuntun matanya mencari sumber bau harum tersebut.
"Baru beli...?" tanya Bejo sambil meletakkan tas kerjanya
"Dikasih orang.."
"Kok sepertinya aku kenal pot tanaman ini...." ujar Bejo lagi saat dia perhatikan wujud pot beserta tanaman kemuning tersebut.
"Seperti pot yang ada di rumah si X", Bejo menyebut nama seseorang
"Siapa X...?"
"Itu temannya mas Budi"
"Kemarin mas Budi sempat cerita mas X itu baru dapat musibah, istrinya di kampung minggat dengan laki-laki lain. Lalu mas X mengurus mutasi lagi, kembali ke kampungnya..."
"Ah pot bunga dengan tanaman kemuning dimana-mana kan hampir sama" jawab saya merasa aneh
"Ukiran keramiknya, bentuk potnya, sampe lekuk kawat tanaman ini sama banget sul" tandas Bejo lagi. Entah kenapa kali ini Bejo jadi begitu bersemangat menceritakan orang lain, tidak seperti biasanya. Saat itu saya tidak begitu perduli. Saya masih saja memandangi sepot kemuning itu. Lagi-lagi entah kenapa, jauh di lubuk hati saya ada perasan iba menyayat dalam saat mata saya menatap tanaman itu.

Setelah perasaan iba campur aneh saya agak reda, saya tanya lagi Bejo bagaimana ciri-ciri, perawakan si X tersebut. Jawaban Bejo cukup mengagetkan saya, persis sama dengan mas Umar yang memberi saya sepot kemuning itu. Saya betul-betul tidak habis pikir. Saat akan ke kamar mandi, Bejo masih sempat berujar,
"Sul, saya baru ingat wajah kamu agak mirip dengan istri si X..."
"Bener...., saya sempat liat foto mereka yang dipajang di ruang tamu...", sambung Bejo lagi saat saya memperlihatkan mimik tak percaya.

Begitulah. Entahlah kebenarannya. Wajah pasaran seperti saya, memang banyak mirip dengan orang lain. Saya malas memikirkan kebenarannya. Hal yang saya tau Mas Umar telah memberi saya sepot kemuning miliknya untuk saya rawat, untuk saya pelihara. Itu saja. Titik.

Kini Kemuning dalam pot itu sudah hampir setahun saya rawat. Bunganya makin semarak, dan semakin harum. Demi masa, bila benar kisah yang dialami mas Umar adalah kisah si X teman dari teman suami saya itu, saya hanya berdoa agar dia dikuatkan, diberiNya ketabahan. Semoga kisah lain yang indah sudah bersamanya kini. Rasanya itulah harapan paling logis yang bisa saya lepas saat kisah aneh ini muncul.

Sepot kemuning dari mas Umar sekarang sudah beranak pinak. Sudah saya pecah anaknya dan saya pindah ke dua buah pot lain. Sepot kemuning utama dari mas Umar itu masih saya pandangi. Saya letakkan di pojok kanan beranda depan. Bila angin menghampirinya, maka keharuman kemuning itu menyebar ke seluruh penjuru yang dihembuskan sang angin. Setiap kali wanginya tiba di penciuman saya, saya memanjatkan doa agar mas Umar (meski saya tidak tau nama sebenarnya, apalagi bin nya) diberi kebahagiaan dan keharuman hidup sebagaimana harum kemuning yang telah diberikannya ini. Semoga keharuman dan keindahannya semakin membahana dan mengiringi kemudahan langkah mas Umar agar menata hidup lebih baik. Amin.....!

Gambar diambil dari sini

Sunday, October 25, 2009

Sesuatu Yang Bernama Pemberdayaan


Masih soal pemberdayaan. Kali ini tanpa embel-embel "perempuan". Juga tanpa secangkir kopi, mengingat hari sudah siang. Ini Pemberdayaan bagi semua, baik laki-laki ataupun perempuan. Ya pemberdayaan (empowerment) supaya menjadi lebih berdaya dan memiliki kekuatan (powerful). Entry ini tidak melintas begitu saja. Sudah lama memenuhi kepala. Dan sekarang menyeruak lagi, tak bisa dibendung gara-gara saya berbincang-bincang dengan keponakan saya.

Ya, apapun profesi kita, pegawai kantoran, pegawai negeri, buruh, guru, dosen, wiraswastawan, ibu rumah tangga, dan lain-lain, pasti memerlukan pemberdayaan. Tentunya supaya kehidupan kita menjadi lebih baik, mapan, tidak memble (maaf belum menemukan padanan kata yang pas). Bagi saya pribadi, pemberdayaan itu wajib dilakukan setiap manusia. Bila anda adalah orang yang berjuang memberdayakan diri anda sendiri dan orang-orang di sekitar anda dengan cara yang benar dan mulia, maka anda adalah manusia berdaya, pahlawan bagi keluarga anda. Bahkan anda telah menjadi Rahmatan lil 'alamin, katanya.

Pemberdayaan, masih menurut saya pribadi, itu awalnya adalah berpikir positif. Penuhi pikiran anda dengan angan dengan rencana positif bagi hidup anda. Mudah-mudahan, diiringi dengan niat baik dan kerja keras, anda akan berhasil memberdayakan diri anda sendiri. Itulah yang tadi saya katakan kepada keponakan saya. Sebut saja namanya Menik. Sudah berkeluarga dengan satu anak. Menik bosan di rumah hanya menjadi Ibu Rumah tangga. Setiap hari menunggu suami pulang kerja, akhirnya merasa memble sendiri. Saya katakan lagi, banyak usaha yang bisa dilakukan di rumah, asal mau. Kamipun lalu berdiskusi tentang contoh-contoh usaha yang dimaksud. Menikpun lalu menjadi penuh semangat.

Begitulah. Jadi, kenapa kita harus merasa tidak berdaya...? Kenapa ada banyak manusia di sekitar kita yang merasa tidak berdaya...? Padahal kita bertanggung jawab untuk memberdayakan diri kita sendiri. Pemerintah, atau lembaga yang ada di sekitar kita sifatnya hanya membantu. Tentu saja yang paling utama harus memberdayakan diri sendirii ya yang punya dirilah. Jadi, bagi siapa saja yang sedang memble dan kebetulan membaca tulisan ini, ayo bangkit. Berdayakan dirimu. Dengan begitu dunia akan menjadi indah.

Gambar diambil dari sini

Saturday, October 24, 2009

Pemberdayaan Perempuan Diantara Kepulan Asap Kopi

Kenapa perempuan perlu diberdayakan....? Itu pertanyaan yang muncul pagi ini. Pertanyaan yang terbentuk begitu saja dibalik kepulan asap secangkir kopi pagi saya. Sebelum kita jawab, saya mau menghirup kopi saya dulu ya. Shruuup...., nikmatnya. Mata saya jadi berbinar-binar. Syaraf di kepala, he, rasanya berdenyut. Begitulah sensasinya menghirup secangkir kopi.

Baiklah kembali ke pertanyaan saya tadi. Jawabannya mungkin beragam. Tapi, paling tidak dalam logika saya perempuan perlu diberdayakan karena perempuan dianggap lemah. Jawaban yang tidak mengenakkan, tapi begitulah situasinya. Maka di republik tercinta ini tidak aneh kalau kita memiliki Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Pengkotakkan yang sulit dihindari di negara dunia ketiga, kata teman saya.

Selamat kepada bu menteri yang baru saja dilantik. Pasti karena kebodohan saya kalau selama ini tidak begitu tau kiprah beliau terhadap pemberdayaan perempuan Indonesia. Saya lebih kenal kiprah Nursyahbani Katjasungkana, Butet Manurung, Suciwati Munir, Rieke Diah Pitaloka, dibanding beliau. Ini jelas kebodohan saya. Saya baru tau beliau aktif di Kowani, inipun kebodohan saya. Sayapun tidak begitu tau apa sumbangsih nyata yang telah diberikan Kowani terhadap Pemberdayaan perempuan Indonesia, lagi-lagi ini juga kebodohan saya.

Yah, dibalik kebodohan saya, dibalik segudang pe-er kementrian Pemberdayaan Perempuan, dan diantara kepulan asap kopi saya, saya berharap semoga kinerja kementerian Pemberdayaan Perempuan meningkat lebih baik. Semoga para perempuan Indonesia membaik kondisinya, memiliki keberdayaan yang tinggi.


Jadi, mari sambut bu menteri kita. Semoga dibalik rambut sasaknya yang agak kaku dan kurang friendly dimata beberapa teman saya, saya berharap beliau sukses mengkomandoi Kementrian Pemberdayaan Perempuan. Dengan begitu menyumbang bagi Kemajuan Pembangunan Manusia Indonesia. Demikian sedikit renungan bodoh saya pagi ini. Silahkan pula direnungkan bila anda berkenan. Kalau mau, ayo bikin kopi, teh atau susu dulu supaya lebih segar. Selamat pagi semua.

Friday, October 23, 2009

Strawberry's Award Yang Menyegarkan

Kenapa kita suka dengan strawberry dan segala olahannya (jus, milkshake, bahkan yoghurt rasa stawberry)....? Barangkali karena rasa manis kecutnya yang menyegarkan. Strawberry itu manis menyegarkan. Di ujung kecapan, ada sedikit rasa asam. Itu yang membuat rasa manisnya beda. Nendang banget, kata anak muda sekarang.

Mungkin itu pulalah alasan kenapa Mbak Fanny Fredlina sangat menyukai strawberry. Sepanjang hari, inginnya seperti sebuah kesegaran saat menikmati segelas jus strawberry. Keinginan yang wajar dan sederhana. Seperti halnya keinginan saya, sepanjang hari adalah seperti hangat dan maknyusnya secangkir kopi, hehe.

Ya, sebagaimana teman-teman blogger yang lain, saya mendapat penghargaan dianugrahi mbak Fanny award strawberry ini (Selasa, 20 Oktober 2009). Sebuah award dalam rangka selamatan postingan beliau sudah mencapai 500. Angka postingan yang fantastis bagi saya. Selamat ya mbak. Dan terimakasih sudah membagi saya award keren ini. Semoga saya tertular untuk terus aktif mengupdate postingan.

Inilah awardnya :



Dan..., karena kata mbak Fanny kalau mau dibagikan lagi harus memenuhi syarat dan ketentuan yang berlaku. Terpaksa saya harus agak selektif. Mudah-mudahan penilaian saya tidak salah. Award ini saya berikan kepada para blogger yang telah lama aktif di jagad blogosphere ini, (barangkali sudah aktif sejak 3,4 atau 5 tahun lalu) hingga postingannya super banyak, mencapai 500 postingan.

Inilah sahabat blogger super aktif itu :
  1. Sang Georgetterox "Vicky Laurentina"
  2. Football Lover
Semoga berkenan. Semoga dapat terus menyebarkan ide dan inspirasinya. Selamat malam sahabat. Mari Lanjutkan hari kita.

Thursday, October 22, 2009

Serenade Sore Kali Ini


Serenade sore kali ini memekat di benak. Nadanya terdengar tak riang. Melengking dan menyayat di ujung. Warnanya, tak seperti biasa. Tidak jingga, tapi agak kelabu. Menandakan langit akan menjadi gelap. Ayo cepatlah berbenah, katanya mengingatkan. Dia sang angin selatan yang menampar-nampar wajah di sisi kanan.

Serenade sore kali ini, seperti mengurungkan niat untuk menghabiskan hari hinga ke ujung. Ia sepenuhnya seperti menghimbau, pulanglah segera. Pintu disana menanti untuk kau buka. Pintu yang menantikan hawa kepulanganmu.

Ya, serenade sore kali ini dinikmati dengan terburu-buru. Segalanya jadi terlihat kelabu. Seakan menggiring ke jalan pulang. Berpacu dengan waktu. Seolah pintu yang katanya menanti tadi tidak akan membuka lagi bila sore ini pudar.

"Jegrek...", pintu dibuka. Ia seketika menangis, tepat saat adzan maghrib berkumandang. Entah mengapa. Barangkali menangisi sang pintu yang telah lama menantinya. Tak lama, ia menutup kembali pintu. Pintu yang seakan menelannya. Maka serenade sore inipun berakhir. Betapa keseharian telah menyita hari begitu rupa. Semoga perjalanan hari ini menoreh kebarokahan meski tak banyak, bisik si angin selatan di sisi kanan.

Gambar diambil dari sini

Wednesday, October 21, 2009

Lompatan Ruang dan Waktu


Saya sedang sedikit terkesima pada sesuatu. Lalu merenungi sesuatu itu sejenak di sudut ruangan saya, sekarang kawan. Ini soal ruang dan waktu yang terasa melompat-lompat menghampiri saya. Ruang dan waktu yang kadang datang dan pergi seperti menampar wajah saya, anda, kita semua.

Coba anda sedikit telisik keberadaan ruang dan waktu milik anda. Bukankah ia kadang melompat-lompat. Kadang dengan irama lembut menggoda. Kadang dengan irama menghentak yang riang. Kadang pula iramanya keras mengagetkan. Hal yang kadang membuat kita terkesima.

Kemarin, esok atau lusa kita berada di suatu tempat. Bahkan dalam sehari kita berada di tiga tempat berbeda. Terbangun di tempat tidur, mandi, lalu terbang ke suatu tempat. sarapan disana. Makan siang di tempat lain lagi, dan malam hari yang larut tiba lagi di tempat asal kita. Begitulah lompatan ruang dan waktu yang kadang menyapa kita.

Dan, lebih dari itu, kadang rasanya jauh melintasi ruang dan waktu yang sebenarnya. Seperti gejala dejavu. He, ada saat dimana saya tiba-tiba merasa sedang berada di kastil tua mengenakan gaun indah dan anggun, dengan sedikit kerut di kening. Menjelma menjadi Marrie Antoinnete nan jelita dan penuh gelora, atau menjadi si Atuzah di gubuk reotnya. Kadang berdejavu sedang mengenakaan jubah tua Madam Teresa bersama-sama anak-anak miskin di Calcuta. Kadang rasanya sedang di podium berbicara dengan berapi-api penuh semangat, menjadi Winnie Nelson Mandela.

Tidak saya pahami penjelasan ilmiahnya. Meski teori tentang ini seabrek, saya lebih suka merenunginya dengan versi saya sendiri. Barangkali energi yang terkirim dari semangat perempuan-perempuan itu, yang tertuang dalam buku-buku tentang mereka, tidak sengaja menghampiri saya. Pikiran seperti gelombang energi yang dikirimkan kepada semesta, dan akan memantul kembali ke alam ini, menghampiri kita. Ya, ruang dan waktu milik kita berputar dan berpendar mengirimkan energinya.

Apapun itu, mari lanjutkan aktivitas kita. Kita dengan lompatan ruang dan waktu milik kita. Mari pendarkan energi positif kita, meski hanya sedikit saja. Mudah-mudahan energi positif itu akan memantul kembali pada kita, memberi sedikit warna pada semesta ini, dan bermanfaat pada dunia. Mari, menyambut pelantikan SBY-Budiono, lanjutkan pikiran dan prilaku posisitf kita. Kita adalah apa yang kita pikirkan. Mari sambut dunia kita.

Gambar diambil dari sini

Sunday, October 18, 2009

Gerbong Baru Kabinet dan Sayur Lodeh Komering Ala Newsoul


Semua sudah tau ya, Republik Tercinta ini sedang kasak-kusuk menyiapkan kabinet baru. Kabinet baru, seperti sebuah gerbong baru kereta api. Tentu harus disiapkan sebaik mungkin, supaya jalannya kereta api lancar. Masing-masing lok harus mengikuti arah kepala lok, kalau tidak gerbong tentu kacau.

Para calon menteri ibarat sebuah lok kereta api. Seyogyanya harus seirama dengan kepala lok. Harus juga diukur kapasitasnya, jangan sampai terlalu berat atau terlalu ringan. Ya, para calon menteri sudah dipanggil ke istana. Mereka sedang menjalani fit and proper test. Ya, tentu dalam rangka mengukur irama dan kapasitas tadi.

Saya sendiri, sebagai warganegara biasa, pasti mendukung rangkaian kegiatan tersebut. Sambil leyeh-leyeh di rumah, mengingat ini weekend. Sambil masak, nonton tv, lalu ngobrol ringan dan makan bersama keluarga. Semuanya dalam rangka mendukung kegiatan di atas,

Hari ini saya melakukan kegiatan leyeh-leyeh yang sangat domestik. Bermula dengan ke pasar pagi, mencari kebutuhan dapur. Lalu dari hasil pencarian di pasar itu, saya memasak menu istimewa, tentu ala saya. Ya, saya membuat sayur Lodeh Komering ala Newsoul. Komering itu kampung asal orang tua saya (di Sumatera Selatan). Saya sebut Lodeh Komering, karena sayurannya adalah sayuran favorit kampung komering. Labu kuning plus daunnya, ditambah daun kacang, labu siam, dan sedikit embel-embel lain (jamur kuping, bunga sedap malam kering).

Hasilnya sayur lodeh yang warnanya beraneka. Saat saya pandang, hehe, kok warna-warni ya. Persis gerbong kabinet baru kita, warna-warni, dari berbagai unsur. Nyam...., lumayan. Harmoni rasa yang pas, menurut saya. Ringan tapi menyehatkan, mengingat saya tidak suka menggunakan MSG, cukup diberi santan encer. Mudah-mudahan Gerbong Kabinet Baru kita, yang dari berbagai unsur itu, nanti harmoni juga. Saling melengkapi dan kompak seperti Sayur Lodeh Komering ala Newsoul ini. Analog yang lain, pasti banyak. Ini cuma sekelebat pikiran di benak saat tadi menyantap masakan sederhana saya hari ini.

Sebelum pamit, sekalian saya tampilkan beberapa award dari sahabat.
Award dari mbak Fanda di Curhat Fanda (Minggu, 11 September 2009).


Award istimewa ini saya hibahkan lagi buat para sahabat yang lain :
Semoga berkenan. Selamat sore kawan. Mari lanjutkan hari kita. Mari sambut Gerbong kabinet Baru kita dengan penuh semangat. Lanjutkan........

Friday, October 16, 2009

Bocah Yang Menatap Dunia Dengan Cilukba


Bocah itu tak hirau saat sang angin terus menghempas tubuh mungilnya. Ia tetap berdiri kokoh di pingiran pantai tak rapi itu. Ini peristiwa di suatu tempat, entah dimana, pada suatu ketika. Dan, entah apa yang dipikirkan sang bocah saat ia menutup wajah dengan kedua tangannya. Ia tengah bercilukba menatap dunia.

Saat ia melepaskan kedua tangan yang menutupi wajahnya itu, ia mersaakan kelegaan. Entah kenapa. Mungkin inilah sensasi yang dirasakan setiap bocah saat tengah bercilukba. Sebuah kelegaan. Saat menutup wajah dengan kedua tangan, sang bocah melepaskankan harapannya,

"Tuhan, aku ingin sepatu baru. Sepatuku sudah mengeluarkan jempolku bila ia kupakai..." , pekiknya lirih. Tak ada jawaban. Hanya terdengar gemuruh ombak dan deru sang angin.
"Tuhan kembalikan bapak pada kami. Sudah tiga purnama ia tak kembali sejak ia pergi melaut di suatu malam..." lirih bocah itu lagi
"Tuhan, sembuhkan emak. Kasihan emak yang sakit harus berjuang mencari ikan sisa dari teman-teman bapak untuk dijual supaya kami bisa makan....." jerit hatinya lagi semakin lirih.

Demikianlah Bocah yang tengah bercilukba menatap dunia. Angin di pantai tak rapi itu tak berhenti menghantam tubuh mungil sang bocah saat ia telah selesai bercilukba. Kini mata bening sang bocah lebih jelas menatap dunia di depannya. Gelombang laut yang sesekali bergulung, dan perahu nelayan. Adakah bapak ada disana....?, sang bocah bertanya sendiri sambil berharap pertanyaannya dijawab Tuhan dengan kata "ya". Sang angin tak kuasa menahan sesaknya, lalu menjawab diam-diam, "Amin...."

Gambar diambil dari sini

Wednesday, October 14, 2009

Musuh Besar Yang Bersemayam di Jiiwa



Kisah Musuh Besar yang bersemayam di Jiwa ini bermula kira-kira satu jam yang lalu. Saat itu angin selatan yang biasanya mendampingi saya sedang mendayu-dayu menyapu wajah saya kawan. Tepat setelah jadwal makan malam ini usai. Ia cukup membuat sejuk suasana. Saat tengah merasakan sejuk ini, tiba-tiba hp butut saya menyanyikan nada khasnya, nada tibanya pesan singkat. Benar saja, gambar amplop tertutup berwarna kuning terpampang di layar hp.

"Liat gak komentar si Malaranggeng di tv X sul....? Menjengkelkan, pengen kugampar mukanya !", demikian isinya. He, maaf isi pesan itu memang agak pedas. Saya sendiri tidak paham apa yang dia maksudkan, tv saya matikan sejak adzan maghrib tadi. Begitulah kalau si Beno sedang meradang. Saya sudah terbiasa menghadapinya. Beno ini teman sepermainan saya sejak kecil. Ya, ia sekedar melepaskan kejengkelannya pada saya sahabatnya. Biasanya setelah melepaskan uneg-uneg Beno akan plong lagi.

Pesan singkat Beno tadi jadi mengingatkan saya pada semua kelakuannya. Dia memang mudah sekali meledak-ledak. Begitu banyak hal/kondisi di dunia ini yang tidak memuaskan Beno. Menurut Beno seharusnya seperti ini, kejadiannya malah seperti itu. Termasuk terhadap dirinya sendiri. Beno maunya seperti itu, dapatnya yang seperti ini. Begitulah. Beno menjadi kecewa kepada sekelilingnya. Beno bahkan kecewa terhadap kondisi yang ada pada dirinya.

Ingatan pada Beno ini membuat saya jadi merenungi diri saya sendiri. Diantara renungan tersebut, saya ingat lagi pesan si orang bijak yang mengatakan Kita adalah apa yang kita pikirkan. Bila kita memikirkan sesuatu dengan ruwet, rumit, maka kita akan mendapatkan kerumitan di benak kita. Sebaliknya, bila kita lapang dada, ikhlas dengan apa yang ada (tapi tetap gigih, tawakal dan istiqamah mencapai kondisi yang lebih baik), maka kedamaian dan kebahagiaan akan menghampiri jiwa kita.

Ternyata musuh paling besar bagi diri kita, adalah diri kita sendiri. Musuh besar yang bersemayam di jiwa kita adalah pikiran kita sendiri. Mungkin ini pulah alasan kenapa para orang tua kita sering berpesan supaya kita, sebelum kita berinteraksi dengan orang lain, sebelum kita berinteraksi dengan dunia luar, menaklukanlah diri kita dahulu. Berdamailah dengan pikiran yang bersemayam di benak kita. Itulah pesan lama, kearifan para orang tua kita.

Saya sedang merenungi pesan indah itu kawan. Silahkan anda renungi pula bila berkenan. Angin selatan ini makin melenakan saya. Mata saya mulai sayup. Selamat malam kawan, selamat beristirahat.

Gambar diambil dari sini

Monday, October 12, 2009

Sebuah Rakor Penanggulangan Kemiskinan Yang Manis


Seseorang sedang merenung. Dan renungannya disampaikan oleh sang angin Selatan kepada saya, baru saja. Baiklah, saya targetkan 30 menit untuk menuliskan renungan seseorang itu sambil menghilangkan rasa sebah setelah makan siang. Anda lihat judul diatas. Itulah yang ingin diceritakan seseorang. Sebuah Rakor Penanggulangan Kemiskinan Yang manis.

Kenapa saya sebut manis, karena diselenggarakan di sebuah hotel megah berbintang 4 yang sangat elit di sebuah kota. Itu kejadian manis. Jadwal tentatif yang padat, simple dan sistematis, sangat manis dalam pandangan saya.

Rakor tersebut berlangsung dengan manis. Jadwal yang sesuai dengan rencana. Tidak sampai 2 hari, rakor usai dan menghasilkan kesimpulan yang cukup memuaskan. Itu juga hal yang manis bagi saya. Pada jam makan siang saya makan dengan lahap, semua makanan tersedia dan ditata dengan manis. Menunya seabrek, membuat saya cukup kewalahan memilih dan mencobanya.

Rakor itupun usai. Saya puas. Diantara kepuasan saya, ada sesuatu yang tertinggal di benak. Teman saya berkata, kenapa kita membahas penanggulangan kemiskinan di tempat mewah dengan cara yang mewah ini...? Saya tidak menjawab langsung. Setelah meringis cukup lama,
"Ah, kau. Kalau membahas soal kemiskinan di tempat kere dimanalah menariknya. Gak ada semangatnya kita para aparat ini...", jawab saya sambil menghabiskan puding pencuci mulut. Teman saya manggut-manggut.
"Dimana-mana seperti ini kondisinya, terima saja...", timpal saya lagi. Teman saya manggut-manggut lagi sembari menghabiskan Rujak Latah (entah kenapa hotel itu menamakannya Rujak Latah!?) yang tadi dia ambil.

Ya r
akor itu memang manis. Tapi entah kenapa, saya kini meringis. Betapa kontras antara kondisi si miskin dengan kondisi rapat pembahasan soal si miskin ini. Dan dimana-mana situasinya seperti itu. Entah apa jadinya Republik tercinta ini. Jangan tanya. Saya tidak tau kenapa kalimat itu meluncur begitu saja dari benak saya. Saya masih merenunginya kawan.

Begitulah renungan seorang anak manusia di sebuah kota. Entah siapa dia. Bisa jadi dia adalah saya, anda, atau siapapun. Sayapun ikut merenunginya, sambil meneruskan suasana hati yang sejak kemarin berbunga-bunga ini. Silahkan direnungkan bila anda berkenan. Selamat siang kawan.


Gambar diambil dari sini

Sunday, October 11, 2009

Hati Yang Berbunga-bunga dan Bunga Melati


Pas sekali, antara yang saya pikirkan dengan pemandangan yang baru saja saya lihat. Tentang Hati yang berbunga-bunga, dan he kebetulan saat pagi sudah agak meninggi ini pandangan saya bertumbuk pada perdu kecil mungil nan indah di beranda depan. Apa lagi kalau bukan si melati putih. Hati yang berbunga-bunga dan bunga melati.

Ingatkah anda pada pesan para tetua kita tentang pentingnya mengendalikan diri. Kalau saya rubah sedikit redaksinya, hal yang paling penting untuk kita lakukan dalam hidup kita adalah mengendalikan pikiran kita. Ya pengendalian diri lebih berarti pengendalian pikiran. Pikiran tidak perlu terlalu dikekang dan dikungkung, sesekali biarkan ia mengembara menemukan air jernih di oase jiwanya. Tetapi pikirannyapun jangan perbolehkan untuk menjajah kita

Kita adalah apa yang kita pikirkan. Begitukan kata-kata si orang bijak. Bila kita memikirkan hal yang rumit-rumit, hal yang sulit, hal-hal negatif yang membuat sedih, kecewa dan marah yang berlarut-larut maka hati kitapun akan menjadi berduri. Sebaliknya, bila kita memikirkan hal-hal yang membahagiakan, kita memikirkan apa hal positif yang bisa kita lakukan, memikirkan hal-hal yang ceria, maka hati kitapun akan menjadi berbunga-bunga.

Begitulah. Hati saya sedang berbunga-bunga saat ini kawan. Tidak saja karena baru diingatkan seorang teman di Facebook (Rahmadsyah Nurdin) tentang hal ini, juga karena baru saja menatap indahnya si melati putih tadi. Melati putih itu seperti sedang tersenyum pada saya, juga pada dunia. Hati yang berbunga-bunga dan bunga melati, klop sekali.

Bagaimana perasaan hati anda saat ini ? Bisa beraneka ya jawabannya. Bila saat ini pikiran anda sedang rumit, resah, merasa kecewa, atau marah, mari positifkan pikiran kita. Buang jauh kesedihan, kekecewaan, apalagi kemarahan. Mari jadikan hati kita berbunga-bunga. Demikian sedikit soul jouney saya hari ini. Selamat pagi semua.

Friday, October 9, 2009

Kelatahan-kelatahan Kita Saat Musibah Tiba


Musibah tiba, ganti berganti. Ganti tempat, ganti korban, begitulah. Dan agak saya sayangkan sebetulnya manakala musibah tiba, hanya sedikit dari kita yang bisa tanggap dengan kepekaan kemanusiaan yang benar. Hanya sedikit yang memainkan logika secara benar, lalu memberikan empati yang bermanfaat pada kondisi tersebut. Sebagian besar dari kita sibuk bermain dengan kelatahan-kelatahan kita sendiri.

Ya, lihatlah di sekeliling kita, betapa kita telah semakin kehilangan kepekaan kita. Kita sibuk membahas hal-hal yang sebetulnya kurang bermanfaat, sesuatu yang cenderung mengada-ada. Di facebook, di mail-mail elektronik, di kantor, di warung kopi, kita sibuk membahas video berisi rekaman mata yang nampak di langit yang konon katanya direkam beberapa jam setelah gempa. Entah diyakini sebagai mata siapa ? Mata Tuhan, kenapa Tuhan memperlihatkan mataNya ? dan sejak kapan Tuhan bisa terekam video manusia ? apakah dianggap sebagai mata Malaikat ? Entahlah.

Sebagian lagi sibuk mengaitkan gempa di sumbar dengan penggalan Kitab Suci. Katanya jam dan menit saat terjadinya gempa adalah 17.16 WIB, lalu dihubungkan dengan QS 17:16 (Qur'an Surat Al Ishra ayat 16) tentang azab yang menimpa suatu kaum. Sekali lagi entahlah. Cuma, bagi saya kelihatannya kita terlalu memaksakan kesan. Pada rekaman CCTV di hotel Ambacang terjadinya gempa adalah Pukul 17.17 (hampir 17.18) WIB.

Masih ingatkah kita pada kejadian Situ Gintung. Begitu musibah melanda, para caleg dari berbagai parpol latah membuka posko lengkap dengan bendera partai, bahkan atribut kampanye lain. Kini, karena gempa yang melanda Sumbar dan Jambi ini tidak lagi pada masa kampanye, kelatahan posko parpol itu tidak muncul lagi.

Ini hanya sedikit contoh kelatahan-kelatahan kita saat musibah tiba. Contoh lain masih banyak. Kembali ke soal latah ini, saya meyakini, bahwa di luar logika dan akal sehat, kitapun harus percaya pada hal ghaib. Tapi, hiks, bukan dengan cara mengada-ada seperti ini. Sayapun percaya bahwa musibah juga bisa berarti teguran atau bahkan azab dari Tuhan, tapi bukan dengan cara memaksakan kesan seperti ini. Apalagi, janggal saja rasanya bila di tengah musibah kita masih sanggup menjudge para korban gempa dengan pikiran latah.

Sementara itu, di luar kelatahan-kelatahan ini, ada seorang anak manusia yang sedang berjuang menyelamatkan diri dari reruntuhan akibat gempa, bertaruh nyawa sampai ia harus memotong/menggergaji kakinya sendiri. Barangkali masih ada lagi korban gempa itu yang juga sedang berjuang dengan cara sangat memilukan tapi dengan semangat untuk hidup yang begitu besar di tengah kelatahan-kelatahan kita ini.
Bagaimana menurut anda....? Mohon maaf ya bila ada yang tidak berkenan dengan tulisan ini. Tapi marilah kita renungkan bersama.

Gambar diambil dari sini

Thursday, October 8, 2009

Sebuah Orkestra Hari Milik Tante Laksmi

Bagi Tante Laksmi, begitu orang-orang di komplek elit itu menyebutnya, sepanjang hari adalah seperti alunan orkestra. Detik ke menit, menit ke jam, jam merangkak hari. Semuanya memiliki irama dan nadanya sendiri. Dan pagi tadi, orkestra hari Tante Laksmi dimulai oleh bunyi alarm hp. Irama alarm yang menghantak, kontras dengan rasa malas yang menggelayut di benak. Duapuluh menit setelahnya adzan shubuh berkumandang dari sebuah masjid yang cukup jauh. Syahdu, terdengar lamat-lamat, menghentak jiwa, pelan tapi mantap. Dan duapuluh menit setelah suara adzan itu, ah, tante Laksmi menyetel Jason Miradznya. Lagu itu ia suka. Iramanya ceria.

Tidak terasa pagi telah menjadi siang, dan siangpun menjelang sore. Begitu banyak aktivitas yang telah dilakukan Tante Laksmi hari ini hingga ia terduduk sejenak di sudut ruang kantornya. Kantor Sebuah Kelompok sosial yang ia tekuni bersama rekan-rekan wanitanya sebagai pengisi waktu. Yayasan" Cinta Kain Indonesia", itulah namanya. Tiba-tiba hpnya yang super canggih berdering dengan nada khusus, nada untuk nomor tak dikenal.
"Betul ini ibu Laksmita Sastraadmaja...?, tanya suara diujung telpon tergopoh-gopoh dan parau
"Iya betul, ada apa...?
"Maaf bu, pak Andy suami ibu mengalami kecelakaan..."
"Kecelakaan....? dimana ?" sambar tante Laksmi terkejut dan tidak sabar
"di Venezia bu, dalam perjalanan mobil menuju bandara. Seyogyanya pesawatnya berangkat ke Jakarta 3 jam yang lalu......."
Dan kalimat itu tidak sempat terselesaikan. Seketika Tante Laksmi lunglai. Ia tidak tau, sebab tidak sempat bertanya, siapa penelpon tadi. Penglihatannya gelap.

Duapuluh menit setelahnya, matanya mengerjab-ngerjab perlahan. Ia menguatkan dirinya duduk pelan-pelan di sudut ruangan. Dalam benaknya yang sedang kacau, Tante Laksmi masih bisa mengingat bahwa Andy suaminya kemarin lusa pamit berangkat ke Padang. Katanya dalam rangka menyampaikan bantuan kemanusiaan korban gempa disana mewakili kantor, sekaligus mewakili perkumpulan sosialnya. Kenapa sekarang ada di Venezia...? Ia telah membohongiku, tapi kenapa......? Seribu tanya tak terjawab mengendap di benak Tante Laksmi. Ya, ia baru teringat. Tiga hari sebelum kepergian suaminya, Tante Laksmi secara tak sengaja membaca sebuah pesan singkat yang janggal isinya di hp sang suami. "Jadi kan sayang kita pergi...? Pasportku sudah siap. Awas kalau gak jadi, aku bisa marah besar...". Begitulah isi pesan janggal yang tak sempat ia tanyakan ke suaminya. Astaga, dia benar-benar telah mengbohongiku, jerit perih hati Tante Laksmi lagi.

Kini Tante Laksmi tergugu di sudut ruangan. Yang ia rasakan adalah sebuah hentakan besar dan menghancurkan. Seperti hentakkan godam menghantam kepalanya. Nadanya riuh-besar. Menggelegar, meremukkan, dan merobohkan. Seperti nada sebuah gempa yang sedang ramai dibicarakan. Ya....nada gempa itu menghantam jiwanya kini. Tante laksmi roboh lagi. Betapa hidup adalah sebuah misteri. Inilah sebuah orkestra hari yang kadang tak bisa ia duga, apalagi ia kendalikan irama dan nadanya.

Catatan :
Kepada pemilik nama Laksmita, maaf pinjam namanya. Jelas ini bukan kisah anda, bukan juga kisah siapapun. Ini cuma kisah rekaan yang dibisikkan angin sore yang usil.

Tuesday, October 6, 2009

Si Ulil Jahil Yang Makin Ingin Membara



Masih Ingat Ulil tokoh animasi Kak Seto...? Ya Ulil, ulat yang jahil. Ulat, sebagaimana kita tau adalah hewan kecil yang senang menggeliat di dedaunan dan dahan. Tapi Ulil yang saya maksud ini ya benar-benar Ulil. Ini Ulil Abshar Abdalla. Ulil yang ini, bagi saya jahil juga. Jahil, karena pendapat-pendapatnya sering membuat merah telinga para uwak dan paman saya. Bukan hanya itu kini Ulil makin ingin membara.

"Saya meletakkan Islam pertama-tama sebagai sebuah organisme yang hidup, sebuah agama yang berkembang sesuai dengan denyut nadi perkembangan manusia. Islam bukan sebuah monumen mati yang dipahat pada abad ke-7 masehi, lalu dianggap tak boleh tersentuh tangan sejarah". Itulah alinea pembuka tulisan Ulil Abshar Abdalla yang berjudul "Menyegarkan Kembali Pemahaman Islam" , dimuat di Harian Kompas pada tanggal 18 November 2002 (Ulang tahun saya ke sekian). Sebuah kado manis untuk Ultah saya. Ini anggapan ge-er saya sendiri lho, wong dia saja tidak kenal saya.

Sebagai sebuah tulisan yang saya anggap kado, dulu tulisan itu saya renungkan sekali. Waktu itu saya sering terperangah, terperangah tidak senang pada tulisan, pendapat sang Komandan JIL ini. Ternyata...., kurun waktu hampir tujuh tahun bisa membuat saya berubah. Kini, saya agak sedikit memahami kejahilan pikirannya. Entahlah. Mungkin saya sedang agak bosan saja dengan kekakuan saya sendiri selama ini. Ijtihad saya, dulu, mungkin saya pandang secara keliru.

Sekarang si Ulil ini, konon kabarnya, mencalonkan diri sebagai Calon Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama. Mungkin dia ingin makin membara ya. Bagi saya pribadi, sesekali NU dipimpin oleh orang muda dengan pikiran segar, kenapa tidak. Cuma, saya agak tidak setuju saat dia bilang pengawasan ceramah (ketika heboh soal teroris) perlu dilakukan. Pendapatnya yang itu, bagi saya berlebihan.

Baiklah, tanpa harus setuju seratus persen dengan pemikiran bung Ulil ini, saya setuju Islam atau agama apapun selalu memberi ruang pada umatnya untuk berpikir jernih, berpikir dengan hati nurani. Islam sebagaimana agama lain manapun, haruslah memberi keyakinan pada umatnya sebagai pilihan terbaik tanpa harus mengatakan pilihannya yang paling baik dan menganggap pihak lain salah/keliru. Wallahu a'lam bishawab. Tolong dipahami dengan santai ya. Kalau mau, direnungkan juga boleh kok.

Gambar diambil dari sini

Monday, October 5, 2009

Setia Sampai Mati


Entah mengapa kata-kata ini muncul di benak. Mungkin karena beberapa hari yang lalu si Itik Bali mengomentari postingan Hari Ini Dengan Para Buaya saya. Kata Itik Bali, kurang-lebihnya begini "... buaya jadi bulan-bulanan untuk menunjukkan sifat playboy, sehingga muncul istilah buaya darat, ada yang suka bilang dasar buaya lo!. Padahal, masih menurut Itik, buaya adalah mahluk super setia. Sampai mati sang buaya akan setia pada pasangannya.

Baiklah, itu cuma contoh saja betapa kiasan, istilah, pemeo, perlambang, kadang tidak sesuai dengan faktanya. Kembali lagi ke soal SETIA ini, saya jadi berpikir tadi apa itu setia...? Ya, setia bagi saya adalah kondisi konsisten terhadap sesuatu, tidak berpaling dari sesuatu. Sesuatu itu bisa suami, istri, pacar, teman, apresiasi terhadap sesuatu, selera terhadap sesuatu. Seperti itulah. Setia itu kondisi yang lebih besar tuntutannya daripada Loyal. Ini menurut saya lho. Saya yakin anda pasti punya pendapat sendiri.

Bagi saya setia itu harus sampai mati. Tapi mati ini yang sering tidak sama antara saya dan orang lain. Mungkin bagi orang lain mati itu ajal menjemput. Bagi saya mati lebih berarti matinya kisah, matinya cerita, matinya asa. Misal seseseorang bilang setia pada pacarnya. Maka saat hubungan pacaran itu usai, mereka tak harus saling setia lagi karena hubungannya sudah usai. Setia juga harus dilakukan secara ikhlas. Jangan setia padahal melakukannya terpaksa, tentu akan menimbulkan masalah di kemudian hari. Jangan bilang setia padahal tidak, lebay namanya.

Bagaimana menurut anda....? Apakah anda seorang yang setia ? dan harus sampai matikah ? Silahkan direnungkan.
Saya sendiri, setia sampai mati lho sama Bejo saya. Saya juga setia sampai mati pada selera saya, hehe. Selamat siang semua. Mari lanjutkan aktivitas kita.

Gambar diambil dari sini

Saturday, October 3, 2009

Tadi Pagi Ia Mekar


Cuma sekuntum. Sekuntum itu sudah cukup menambah indahnya mosaik pagi tadi. Bilakah aku juga seperti ini...? Tak perduli apa, tak hirau duka. Tak sibuk meratapi nestapa. Selalu menebar keindahan kepada hari. Menebar senyum pada dunia. Begitulah seorang perempuan muda terpekur menatap sekuntum dendrobium ungu. Tadi pagi ia mekar.

Dendrobium ungu dan perempuan muda itu sebenarnya sama-sama mahluk yang sedang mekar. Bedanya dendrobium selalu memberikan senyum indahnya pada dunia, perempuan muda itu, he, tergantung suasana hatinya. Itulah bedanya.

Tiba-tiba hp perempuan muda itu bergetar tanda ada pesan singkat tiba. Benar saja, gambar amplop kuning tertututp tampil di layar hpnya,
"Aku baik-baik saja, sinyal baru ada. Alhamdulillah, masih dilindungiNya"
perempuan muda itu tak sadar melompat kegirangan, sambil mengucapkan "Alhamdulillah" yang tertahan. Setelah dua hari menanti kabar, akhirnya sang pujaan memberi kabar. Ternyata sang pujaan hati selamat dari musibah gempa itu.

Di sebelah kiri si Angin Selatan, sebelum menyampaikan cerita ini ke saya, sempat mencibir, "Huh, yang dihiraukan cuma pacarnya saja, Orang yang lain yang jadi korban, dia tidak perduli"
Begitulah gerutu si angin usil. Sedang Dendrobium ungu yang mekar tadi tetap memandang perempuan muda itu sambil tersenyum. Angin yang usil itu sesekali meliukkan dahannya, malah semakin membuat indah senyum sang bunga.

Tiba-tiba lagi, hp perempuan muda itu bergetar kembali, malah dengan dering khasnya, tanda ada telpon yang masuk. Maka terjadilah percakapan ini,
"Maaf baru bisa menghubungi kid (dik yang dibalik), sinyal baru ada" ujar sang penelpon
"gak apa-apa, yang penting kanda selamat. Bagaimana keadaan disana ? "
"Parah kid, hotel tempatku menginap rusak berat. Banyak bangunan rusak, korban jiwa juga banyak"
"Yah, musibah bisa datang kapan saja. Di kantor kami sedang menggalang dana bantuan untuk bencana disana"
"Baguslah. Kami juga begitu. Musibah ini adalah musibah untuk kita semua......."

Itulah isi sebagian percakapan telpon itu. Kelihatannya percakapan itu masih terus berlanjut. Angin selatan yang usil tadi lalu manggut-mangut, entah apa maksudnya. Barangkali sang angin menyesali diri telah mencibir tadi. Entahlah. Sang bunga ungu yang sedang mekar, makin merekahkan senyumnya. Perempuan muda itu, wajahnya kini merona Ia terlihat sumringah. Ia menyunggingkan senyum. Indah merekah seperti dendrobium ungu itu.

Demikianlah kisah rona dendrobium ungu dan perempuan muda yang sedang merekah senyumnya. Keduanya tengah mekar pagi tadi.
Dan pagi tadi sang perempuan muda telah sedikit belajar dari si bunga ungu tentang keikhlasan senyum. Betapa senyum iklhas di dada tidak boleh terhenti, sebab setelahnya asa akan selalu ada. Begitukah wahai angin selatan ? Sang angin kembali manggut-manggut. Heh, betul-betul angin.

Friday, October 2, 2009

Newsoul Berbatik Menyambut Pengukuhan Batik Sebagai Warisan Budaya Dunia









Batik kita dikukuhkan UNESCO sebagai salah satu warisan budaya dunia (World Heritage) pada hari ini. Maka sebagaimana janji para blogger (mbak Fanda, Trimatra, mbak Reni, semua pokoknya) saya menampilkan batik pada postingan hari ini. Tentu saja mengupload gambar saya memakai batik. Gambar ini diambil saat bertugas menjaga stand kantor saat Pameran Sriwijaya Expo tahun ini. Seperti yang anda lihat saya memakai batik. Bahkan di blogger user profile pun saya menggunakan batik. Begitu cintanya saya pada batik kita.

Thursday, October 1, 2009

Newsoul Soal Gempa di Sumbar, Stop Menghujat Bencana Sebagai Sebuah Hukuman Atas Dosa


Sebagaimana kita ketahui bersama, baru saja terjadi gempa di Sumatera barat dan jambi. Mencekam dan memporak-porandakan. Tidak hanya itu, meninggalkan luka yang menganga di benak. Ya, luka karena miris akan suatu kondisi.

Sudah lama saya agak miris dan masgul dengan kondisi ini. Alih-alih kita bergerak cepat atau melakukan tindak preventif penyiapan bencana alam tiba, kita larut saja dalam kondisi pasrah bahkan menghujat. Setiap kali bencana alam menimpa negara kita, entah di pelosok mana, di penjuru mana di tanah air tercinta ini, kita dengan mudahnya menyalahkan Tuhan. Tuhan marah karena dosa-dosa yang telah kita lakukan. Bahkan ada yang tanpa malu-malu menghujat daerah yang sedang dilanda gempa sebagai daerah para pendosa sehingga Tuhan murka.


Sungguh, gerah rasanya melihat situasi kita sendiri yang seperti itu. Bahwa letak negara kita di pertemuan dua lempeng tektonik telah menyebabkan negara kita rawan gempa, telah kita ketahui bersama. Seharusnya kita menyiapkan diri, mempelajari tanda-tanda alam, menyiapkan teknologi penanggulangan bencana sedini mungkin. Bukan dengan berpangku tangan, bermalas-malasan, lalu akhirnya menyalahkan Tuhan. Ya Tuhan mungkin memang murka pada kita, pada kebodohan dan kelalaian kita. Bukankah kita seharusnya berusaha semaksimal yang kita bisa sebelum menyebutnya sebagai taqdir. Dengan begitu agak enak bagi kita untuk berkata bahwa anugrah dan bencana adalah kehendakNya. Entahlah.

Sore ini saya tergugah pada sebuah link yang dikirimkan teman saya di FB, si Saut Situmorang yang katanya doyan ngebir itu menyangkut kejadian Gempa di Sumatera Barat. Meski saya tidak pernah mengawani Saut ngebir (mengingat keyakinan yang berbeda, bertemupun baru satu kali di acara bedah bukunya), saya tau teman saya itu lebih solutif tindakannya dan lebih logis tentu saja.

Ini link yang dikirimkan Saut tadi.

Tentu saja banyak sekali informasi seputar penanganan aman gempa. Setidaknya tindakan yang dilakukan teman saya itu lebih masuk akal bagi saya daripada sekedar larut dalam penghujatan dosa dan dosa. Jadi mari stop menghujat bencana alam sebagai hukuman atas dosa-dosa, mari kita cari jalan keluar untuk menangani bencana ini. Dan tentu saja mari kita menjalankan hidup ini dengan benar sebagaimana keyakinan kita masing-masing agar Dia tidak semakin murka pada kita.

Gambar diambil dari sini

Oktober Kita Telah Tiba Sayang



Oktober kita telah tiba sayang. Begitu gesah seorang perempuan kepada suami tercinta. Sang suami manggut-manggut, sambil mereguk segelas teh manis buatan sang istri. Sang istri tampak asyik menghirup cappucinnonya. Begitulah gesah di meja kecil tadi pagi, di sebuah rumah mungil mereka di suatu noktah di bumi ini. Dan, he, jangan tanya dimana dan siapa mereka ya.

Oktober kita telah tiba sayang. Semoga ini Oktober ceria, Oktober nan kuat dan tangguh. Seperti oktober-oktober lalu milik kita. Pada setiap Oktober ada keceriaan meliputi perempuan itu. Begitulah. Bila orang lain menamakan bulan September adalah September Ceria, maka bagi perempuan itu Bulan Ceria adalah Oktober. Sebab sang Oktober menandakan datangnya sang Libranya. Sang Libra yang selalu klop menjadi sahabat penguatnya. Dan Oktober juga bulan istimewa bagi sang suami tercinta. Demikian kesan oktober yang sama-sama istimewa bagi mereka berdua.

Oktober Kita Telah Tiba Sayang. Begitulah isi pesan singkat sang sahabat penguat kepada perempuan itu. Astaghfirullah, saya tertegun. Saya berharap sahabat penguatnya itu perempuan, semoga saja. Baiklah, mau tidak mau Oktober ini telah tiba. Ia memang kuat juga lembut, dan penuh warna. seperti warna daun-daun berguguran itu. Maka mari sambut oktober kita ini kawan. Tidak usah hiraukan siapa mereka. Selamat pagi, selamat beraktivitas.

Gambar diambil dari sini

Pesona Labu Kuning, Menjalar di Tanah dan Merambah di Hati Penggemarnya

Sumber Foto : pixabay.com Dalam bayangan saya akan hari tua. Ada sebuah rumah kayu mungil dengan halaman luas. Pada halaman luas itu ...