Wednesday, January 18, 2017

Alor Street, The Night When I'am Coming


Wow, susah menapikan Alor Street yang heboh ini. Mumpung ke KL, pastilah saya jadwalkan kesana. Dan... sebagaimana diketahui, kawasan ini memang jreng dikunjungi saat malam tiba.

Thursday, January 12, 2017

Naik Skyway Cable Car Go Genting Highland


Sebagaimana yang sudah diagendakan, sayapun berangkat ke Genting Highland tanggal 3 Januari 2017 saat liburan backpacking ke Kuala Lumpur ketika itu

Lumayan keren mengingat di Palembang gak ada skyway cable car. Pagi-pagi saya naik LRT dari Stasiun Pasar Seni menggunakan kartu My Rapid KL saya menuju KL Sentral. Saya mencari tiket Go Genting di KL Sentral, tiket bus Go Genting beli di lantai 2 KL Sentral dekat konter Air Asia. Supaya praktis sekaligus beli tiket awana skyway cable car seharga 12,3 RM (bus: 4,3 RM, tiket skyway 8 RM). Keduanya saya beli Sekalian tiket pulang ( total 24,6 RM). Dapat jadwal bus jam 9.00 waktu Kuala Lumpur. Saya beruntung, karena ada penumpang bus jam 08.30 belum datang, eh saya yang sudah antri manis disuruh maju naik bus.




Perjalanan selama 1 jam saya tempuh dalam bus itu. Melewati jalan berkelok dan berliku, namanya juga Genting Higland, lokasinya jauh di atas bukit, dataran tinggi Genting yang masuk dalam negara bagian Pahang dan Selangor. Konon Kawasan Genting Highland didirikan pada tahun 1960an oleh pengusaha dari China, Lim Goh Tong.

Kawasan ini berkembang pesat. Tidak saja perusahaan perkebunan, perusahaan kertas, kawasan wisata, juga kawasan judi di Malaysia. Saya sih gak tertarik yang terakhir tadi, saya tertarik dengan kereta Gantung alias skyway cable carnya. Ternyata, beneran asyik naik cable car ini. Sebab saya solo backpacking, saat berangkat satu cable car saya isi sendiri. Kebetulan liburan anak sekolah di Malaysia sudah usai, tinggal para pelancong yang gak begitu ramai.







Naik skyway cable car ini gak lama, hanya sekitar 15-20 menit. Yah lumayanlah untuk memandang panorama Genting Highland yang di bawah sambil melamun. Gak kerasa, eh udah nyampe. Begitu pintu skyway terbuka, saya disambut Syahruh Khan, he wajahnya Indiahe, yang membawa foto jepretan fotografer mereka saat saya naik skyway cable car tadi. Mehong boook, 1 foto saya yang lagi duduk dadah di kereta tadi harus saya tebus 37 RM. Aidah, kalau tau gak mau saya difoto. Yah sudahlah. Dengar foto yang gak ditebus mau mereka recycle, kesian juga, saya ambil deh itung-itung foto kenangan. Foto selfie gak ada yang beres hasilnya wkkk.

Sebab tiket bus pulang saya jam 4 sore, saya punya waktu 4 jam lebih disana. Setelah muter-muter liat area toko-toko area fashion di lantai 2, sempat ngopi di starbuck (cari warung kopi gak ada soalnya), akhirnya, saya ke area snow worlds di lantai 2A. Dingin pake banget, wong area buat main salju (salju buatan). Nah harganya 34 RM setelah diskon 10% karena membuat kartu member (dueh, emang mau kesini lagi?, aamiin ajalah).







Jauh datang ke Genting Highland, eh saya ketemu dua cewek Dian dan Ori asal Medan (Ori rupanya bertugas di PLN Palembang) dan sedang liburan juga ke Kuala Lumpur. Nah kan solo bacpacking itu asyik-asik aja, asal rajin sok akrab nanya-nanya ketemu wong kito juga disana. Dengan dua kakak adik yang baik hati ini jadi teman saya main di snow world juga teman pulang di cable car. Kami malah lanjut bareng ke Putrajaya seusai dari Genting highland (keep dulu ya Putrajaya buat tulisan selanjutnya). Jadwal bus pulang saya majukan demi bareng Dian dan Ori, jadi jam 14.00. Rupanya memang boleh selama penumpang lain ada yang gak muncul saat bus jam tsb harus berangkat.


Begitulah tentang Genting Highland. Kalau liburan ke Kuala Lumpur, jangan lupa ke Genting Highland. Dijamin seru, kata orang Malaysia, seronoknye. Salam.

Saturday, January 7, 2017

Jalan-jalan ke Petaling Street


Jalan Petaling atau Petaling Street adalah salah satu kawasan pecinan fenomenal ketika traveling ke Kuala Lumpur. Gak sah ke KL kalau belum kesini, katanya. Bener juga sih apalago dekat hotel ini.

Thursday, January 5, 2017

Monday, January 2, 2017

(Buku) Orhan Parmuk di Malam Tahun Baru Twin Tower Petronas


Entah kenapa saya ngebet pengen liat twin tower petronas dengan latar kembang api tahun baru. He, maka hari pertama traveling saya ke Kuala Lumpur ini sayapun kesana.


Nekad bingit ya. Padahal di Palembang saya nyaris gak pernah ikut-ikutan acara tahun baru kecuali ngumpul di rumah dengan keluarga ditemani jagung, entah bakar atau rebus, pempek, sate kalau kebetulan ada. Seperti ada hentakan-hentakan tak henti, hehe, yang meminta saya kesana. Ditemani kerabat saya Rina, kamipun bergerak kesana.

Betul saja, hentakan-hentakan itu bukan tanpa alasan. Kembang apinya sih cuma seiprit, gak sebanyak di Palembang kalau tahun baru, tapi saya dapat sesuatu. Saya menemukan aura yang istimewa manakala sudah dapat posisi uenak duduk di pelataran spot KLCC, taman yang menghadap twin tower petronas. Mau tau? Ya aura kosmopolitan persaudaraan antarbangsa. Bagaimana semua kalangan berbaur duduk dengan nyaman dan saling sapa ramah meski suasana sangat ramai dan sempit.

Buat saya itu mengharukan. Yang keturunan india, keturunan tionghoa, bule ekspatriat dan turis backpacker, bahkan mereka yang berasal dari Kampuecha, myanmar atau vietnam (dugaan saya dari bahasa mereka), dan tentu saja sodara-sodara Indonesia saya entah turis atau tki, berkumpul bersama dengan damai dan riang. 

Di sebelah kanan saya, pasangan muda keturunan india. Di depan saya ibu agak tua yang saya duga dari Kampuecha tadi, sementara anak gadisnya berkumpul bersama teman-temannya di belakang saya. Di sebelah kiri saya, seorang perempuan bule sedang membaca buku. Ketika sesekali buku itu diletakkan, terlihatlah judulnya "Snow", karya Orhan Parmuk.

Saat itu juga saya tercenung, diantara ratusan orang yang sedang menunggu jatuhnya kembang api dari atas twin tower petronas itu, ada juga yang tak main-main memanfaatkan waktu menunggunya dengan sastra post modern yang lumayan buat saya. Betapa kontras dengan suasana gaduh suara trompet yang entah kenapa telah ditiup terus menerus padahal belum teng jam 12 malam. Beda ya dengan di Indonesia.


Buku Orhan Parmuk itu mencekat saya. Betapa lama saya tak menyantap buku-buku bagus padahal saya bisa sempatkan sih kalau saya mau. Sekaligus menggugah saya bahwa selera orang bisa sama bisa berbeda. Tak semua penikmat sastra dan buku itu betah menyendiri saat membaca buku, kadangkala mereka ingin membaca saat suasana ramai dan meriah. Entahlah.  Yang jelas buku Orhan Parmuk itu mengingatkan saya, seharusnya saya bawa satu saja buku di rak yang dibeli tapi belum sempat terbaca itu. Katanya liburan mau sambil baca buku, ah rencana doang. Salam.

Sunday, January 1, 2017

Serunya Ritual Annanthanann di Batu Caves


Akhirnya sampai juga saya di Kuil Batu Caves yang kesohor ini. Setelah melewati jalan yang hampir macet, tiba juga saya disana dihantar Rina Zulyana, sang Engineer yang berkerja di Malaysia saudara dalam Komunitas Jolma Komering yang sudah bak adik saya sendiri. Saya diantar beliau dengan kereta (Baca: Mobil) pribadinya.


Rame boooo. Tentulah, rupanya hari ini tanggal 1 Januari 2017 ada ritual Ananthanann di Kuil Batu Caves. Itu kata seorang gadis India berbaju sari kepada saya. It's Anannanthanann, a ceremony to pray for God with food, begitu kira-kira katanya. Kalau tak tepat, maafkanlah.

Maka seronoklah jalan itu.  Maksud saya adalah tempat itu menjadi meriah, ramai tapi tetap khikmad.


Ibu-ibu dan perempuan muda serta anak-anak gadis dan anak kecil berhidung mancung mengenakan baju Sari hari ini. Tengah saya terkagum-kagum itu, ada rombongan para lelaki dengan tutup kepala khas berlari-lari kecil masuk dan keluar sebuah lorong kuil sambil membaca mantera-mantera.



Sementara, di pojok kanan, ada meja menyajikan hidangan yang sepintas saya lihat jenis kari dan nasi briani dimana para keluarga India di wilayah Malaysia yang menghadiri acara itu makan bersama. Aih, betapa beruntungnya saya menyaksikan upacara Ananthanann ini.


Seru juga terlihat khidmad dan memukau. Bye Batu Caves. Bagaimana Ananthanann ini terasa memeriahkan dan menghidmatkan wisata di Batu Caves, indah.

How to go to Batu Caves?
Ada banyak cara. Dengan teksi bisa, dengan KTM atau LRT bisa. Stasiun sentralnya adalah KL Sentral. Nah kalau mau menggunakan KTM atau LRT bisa dari KL Sentral. Lihat DISINI. Ini dia:
Batu Caves is one of the “must visit” for tourists visiting Kuala Lumpur. Fortunately, using KL Sentral as the base, going to Batu Caves is very easy and straight forward because the Port Klang to Batu Caves Line KTM Komuter Train Line connecting KL Sentral directly to Batu Caves.

How to take KTM Komuter Train from KL Sentral to Batu Caves

KTM Komuter Train Map from KL Sentral Station to Batu Caves Station
Taking KTM Komuter Train from KL Sentral Station to Batu Caves Station
Start your journey journey at KL Sentral by heading to the KTM Komuter Train ticket counter to purchase your train ticket. The ticket fare is only RM2.00 to go from KL Sentral to Batu Caves (one way) and head to the platform for Perlabuhan Klang (Port Klang) – Batu Caves line. Of course, catch the train heading to the Batu Caves direction (not Perlabuhan Klang direction).

Timetable for KTM Komuter Train from KL Sentral to Batu Caves

KTM Komuter Train Frequency:
Every 15 minutes (during peak hours)
Every 20-30 minutes (during off peak hours)
Journey Duration (Length) from KL Sentral to Batu Caves Station: 26 minutes
First Train Departure from KL Sentral: 6.54am
First Train Arrival at Batu Caves: 7.20am
Last Train Departure from KL Sentral: 11.24pm
Last Train Arrival at Batu Caves: 11.50pm
The complete timetable for KTM Komuter Train from KL Sentral to Batu Caves can be downloaded here.

Arrival at Batu Caves KTM Komuter Station

Batu Caves KTM Komuter Station is located on the left side of Batu Caves across the car park area. Upon arrival, just walk across the car park to get to the main entrance.
What a great Batu caves. See you next time Batu Caves, Salam.

Thursday, December 29, 2016

Traveling Kaum Tua, Why Not ?

Hehe, gak sengaja gw baca celetukan anak-anak muda soal itu. Obrolan yang membuat saya senyum-senyum cantik, sendiri. Siapa lagi yang muji😃

Thursday, December 22, 2016

Perempuan, Yuk Pahami Makna Amar Ma'ruf Nahi Mungkar Yang Benar

Kenapa Perempuan ?, karena saya perempuan. Alasan lain, karena kalimat itu saya temukan begitu menyolok. Tertampang terang benderang pada bio akun twitter seorang perempuan yang lagi heboh menyoal Ahok dan soal pahlawan Non Muslim di Uang kertas baru. Cari sendiri namanya ya.

Friday, December 16, 2016

Memori si Opi-opi

Ruangan yang sepi sebab sejak pindah rumah di area Palembang coret saya selalu datang pagiiii sekali tuk menghindari macet, demi. 


Friday, November 25, 2016

Perempuan, Yuk Buat Tandatangan Digital

Perempuan, gak zamannya lagi sekadar larut dalam dunia medsos, bisnis online, atau belanja online tanpa paham apa sebetulnya hal paling penting dipahami dalam sosial media dan transaksi online. Yupz, bener, tandatangan digital. Mau kan punya tandatangan digital.nah ini dia....

Wednesday, November 23, 2016

Cinta Yang Tak Pernah Usai

Sebab dia bak cahaya.  Tanpanya hidup gelap, tanpa warna. Tanpanya, hidup bak perjalanan meliwati jalan lenggang yang tak riang.

Friday, November 18, 2016

14 Blogger Cantik Angkatan 2009, Lupakan Batasan Usia


Sebab cantik itu relatif, maka saya buat batasan sendiri soal cantik. Tulisan ini jelas subjektif dan punya visinya sendiri. Sebetulnya sejak lama pengen nulis tentang Cantik ini, malah keinget Cantik itu Luka, hahaha. Baca saja..

Sunday, November 13, 2016

Kisah Dibalik Secangkir Kopi Pagi Ini

Sebuah pesan singkat wa tiba di pagi yang gemah ripah loh jinawi dengan secangkir kopi dan sepiring nasi goreng ini,
"Soel udah bangun...?"

Saturday, November 12, 2016

Akhirnya, www.ellysuryani.com

Sudah lama rencana mengganti domain blog saya yang puanjanggg ini menjadi www.ellysuryani.com. Akhirnya, alhamdulillah terlaksana juga.

Thursday, November 10, 2016

Ada Apa Dengan Keimanan Kita!?

Keimanan sedang marak dibahas. Tidak saja di warung kopi, juga di obrolan sosial media macam fb, twitter, grup-grup whatsapp, ya kau taulah.


Saturday, October 29, 2016

Festival Kopi Al Munawar, Ngopi di kampung Arab

Jauh ya ngopi di Kampung Arab. Gak kok, cuma perlu tek ketek ketek, naik perahu ketek dari dermaga Benteng Kuto Besak nyampe deh.

Wednesday, October 19, 2016

PNS Gol.IV, Gak Malu Pake Baju Harga 50 Rebu

Jika saja ada yang tanya, ada gak baju saya yang harganya 50 rebu? Jawabnya, ada, banyak. Bahkan banyak juga yang di bawah 50 rebu, hahaha.

Sunday, October 16, 2016

Festival Pempek Palembang

Buat wong Plembang, Pempek itu bukan hal yang aneh. Bangun tidur, tersaji pempek. Buka jendela, eh sudah ada warung menjual pempek.

Saturday, October 8, 2016

Seperdu Mawar dan Menikah Titik Dua

Tentang dua hal yang entah kenapa masuk di kepala dan seperti memanggil-manggil minta dituliskan.