Search This Blog

Saturday, October 31, 2020

Kepada Blogger Pencuri Resep, Blog Resep Enak Nusantara Dan Lain Sebagainya

Kelakuan lama ya, copy paste punya orang, tulisan lalu ditulis ulang dan diterbitkan di blognya tanpa menyebutkan  sumber. Ya setua hasrat mencuri para pencuri dan plagiat tidak kreatif. Mau eksis ngeblog tapi gak bisa menulis, lalu comot tulisan orang.

Rupanya bukan sekadar konten tulisan, resep masakan pun dicomot lalu dimuat ulang di Blog dengan Judul Blog Resep Masakan Nusantara, Resep Masakan Sederhana dan lain sebagainya. 

Sebab saya senang memasak, apalagi menggali sumber resep tradisional kampung saya dan kadang memodifikasi dengan kuliner populer dan menjadi resep kreasi saya, maka sejak April 2020 saya membuat laman di Cookpad. Tempat saya menerbitkan resep masakan saya. sebagian ada hasil recook. Sebagian memang resep kreasi saya dengan menggali resep tradisional yang saya kenal sejak saya masih kecil yang saya modifikasi sesuai selera saya. 

Resep-resep di Cookpad saya rupanya juga dicomot juga tanpa izin. Kejadian comot dan caplok itu  itu terus terjadi. 

Orang sekarang, maunya bikin blog kumpulan resep tapi malas  ke dapur, mungkin gak bisa memasak, mungkin memang gak suka dapur, tapi mau dapat untung dari hoby orang memasak, lalu dia buat Blog kumpulan resep nusantara. Sayang, isinya resep orang semua. Resep yang dicaplok tanpa izin dan tanpa menyebutkan sumber asli resep dimana dia mencaplok. 

Pencaplokan tanpa izin dan tanpa menyebutkan sumber link resep saya juga terjadi pada resep saya. Banyak resep saya di laman Cookpad saya dicaplok tanpa izin.

Hal lebih menjengkelkan, dia buat-buat seolah sumber resep si Anu, si Fulan dan tanggal resep seolah terbit jauh sebelum resep saya publish di Cookpad. Sebuah kejahatan digital, mencuri konten orang, memundurkan tanggal konten yang sudah dia buat, lalu mengedit isinya dia ganti dengan resep saya. Maka seolah sayalah yang mencontek konten mereka, bukan main.

Ya begitulah. Buat saya pribadi tanpa perlu pembuktian saya tau resep yang mereka contek itu resep saya. Sebab saya yang membuat resep. Saya tau bahan-bahan yang saya pakai, wong saya yang belanja, saya yang masak, saya yang memfoto dan saya yang menerbitkan resep pertama kali.

Bahan, langkah cara membuat, foto setiap langkah saya tulis seperti kebiasaan saya menulis resep di Cookpad. Foto hasil masakan memang saya buat dengan nama saya dan Cookpad. Ya saya yang masak, saya yang memfoto dan memberi nama foto itu.

Suatu hari ada tantangan dari Cookpad untuk membuat masakan Asia dan menggunakan bahan pilihan yang sudah ditentukan. Maka saya pilih udang, saos tiram dan saya buat kreasi resep Tom Yum Goong yang saya padukan dengan Sambal Tigo Palembang (asal saya dan tempat saya tinggal). Saya buat resep Tom Yum Goong Plus Sambal Tigo Palembang. Saya masak hari itu tanggal 12 September 2020 dan saya terbitkan di Cookpad hari itu juga tanggal 12 September 2020.

Link Resep tersebut ada di Cookpad saya






Beberapa bulan kemudian, saya iseng menulis nama resep saya di search engine Google, Tom Yum Goong Sambal Tigo Palembang dan tampil gambar resep yang saya buat. Tapi, ketika saya klik beberapa bukan Cookpad tapi blog pribadi seseorang




 Ada lagi blog lain tapi sepertinya pemilik blognya sama saja, 



Aneh dia bisa mengarang sumber resep Mollie Coleman, Blake Mitchell, yang entah siapa, apakah bule? sejak kapan bule tau Sambal Tigo Palembang. Sejujurnya tidak banyak orang tau Sambal Tigo Palembang kecuali Wong Palembang atau Wong Sumsel, itupun generasi lama macam saya.

Begitulah. Jadi kepada kawan blogger yang mencomot resep saya tanpa izin, saya maklumi mungkin anda kepepet. Saya tidak akan lebay. Saya silahkan anda menerbitkan ulang resep saya asal menyebutkan link sumber yaitu link resep saya. Banyak kok yang menerbitkan ulang resep saya tidak saya masalahkan karena dia menyebut sumber resep saya.  

Selamat Hari Blogger Nasional buat semua blogger. mohon maaf telat. Harapan saya, para blogger baik yang lama maupun yang baru bisa lebih kreatif, lebih jujur membuat konten. Demi rasa perbloggeran yang lebih indah. Salam.

Melihat Kesombongan Kritikus dan Perjuangan Jatidiri Mantan Pesohor dalam "Birdman, The Unexpected Virtue of Ignorance"




Source: amazon.com

Bahwa kehidupan seorang manusia adalah perjuangan sepanjang hayat, semua kita tau. Termasuk para seniman, sastrawan, tukang asongan, pegawai kantoran, pegawai publik (ASN), para artis beken dan para pesohor lain. Adalah bullshit jika hidup datar saja, sukses melulu, bahagia sepanjang hayat, tanpa cibiran dan penolakan dst. Birdman, membawa saya melihat hal tersebut.

Beginilah pikiran-pikiran di kepala seusai melihat sebuah film. Sebuah film yang saya saksikan di Netflix kemarin dan saya tonton ulang pagi ini dari laptop butut saya. Judulnya, "Birdman  or The Unexpected Virtue of Ignorance".

Adegan Birdman


Inti cerita yang saya tangkap dari menyaksikan film itu adalah di bawah ini,

Film ini berkisah tentang mantan aktor hebat, Riggan Thomson (diperankan Michael Keaton), yang dalam fiml itu adalah pemeran film animasi "Birdman". Birdman yang sukses sampai dbuat 3 sekuel. Riggan  Thomson kini  sedang mencoba bangkit dan beralih profesi menjadi sutradara sekaligus pemain teater, semacam Broadway di New York. 

Sebuah usaha yang penuh perjuangan. Perjuangan sebab Riggan sendiri dibayang-bayangi sosok Birdman yang tak lepas dari dirinya. Birdman yang menghantui pikiran Rigan.

Pertunjukan berjudul "What We Talk About Love" juga penuh dinamikanya sendiri, mulai dari salah satu pemeran utama pria diganti karena tak disukai Riggan. Penggantinya walau aktingnya bagus sangat eksentrik dan bertingkah suka-suka, Mike Shiner. Diperankan apik oleh  Edward Norton.

Belum leagi pasang surut hubungan antara Riggan dengan mantan istrinya, anak perempuannya, Sam,  yang mantan pecandu, yang oleh Riggan dijadikannya asisten. Sam yang sesekali masih suka menghisap ganja, diperankan dengan apik oleh Emma Watson.

Hal penting adalah tentang ketidakpedulian sekaligus penolakan seorang kritikus teater bernama Tabitha Dickinson. Dickinson yang menganggap Riggan hanya pesohor payah yang mencoba peruntungan di teater.  Bagi Dickinson, teater itu sakral dan hanya boleh diisi oleh orang-orang bermutu yang sudah lulus uji dari dia.

Inilah latar kenapa judul film ini Birdman or The Unexpected Virtue Ignorance . Film yang dibuat pada Tahun 2014 di Amerika Serikat dan katanya memenangkan banyak penghargaan, cari sendiri ya.


Buat saya film ini keren. Keren karena berisi banyak dialog segar, jujur apa adanya tapi menggedor-gedor jiwa. Sesekali saya membiarkan diri saya keluar dari dialog rutin di kantor, di rumah dengan keluarga atau bahkan di WAG yang saya ikuti.  

"Popularitas adalah sepupu jalang dari gengsi...", kutipan tokoh Mike, entah mengutip siapa

"Setip menit orang brengsek lahir..." Mike mengutip pemikiran P.T Barnum saat menciptakan sirkus

"Kau tidak bisa membedakan antara cinta dan kekaguman..." ucapan mantan istri, Sylvia kepada Riggan

"Orang menjadi kritikus, saat dia tidak bisa menjadi artis. Seperti halnya orang menjadi informan saat dia tak bisa menjadi serdadu..." Ucapan Mike kepada Tabitha Dickinson, kritikus teater terkenal yang sekaligus temannya agar memberi kesempatan kepada Riggan. 

Tepat ketika Dickinson menilai buruk Riggan dengan berkata, 

"Dia Badut Hollywood yang memakai kostum burung..." 


Betapa berat Riggan menghadapi kritikus yang bahkan tak memberinya kesempatan, menonton prapertujukan tidak tapi menilainya banyak

"Apa yang terjadi pada kritikus sehingga kau membenci? tanya Riggan padanya
"Aku membenci semua yang kau wakili, merasa berhak, tak siap, tak berpengalaman, egois dan anak manja..." ujar Dickinson kepada Riggan

"Kau bukan aktor, tapi pesohor. Mari kita pahami itu.." kata Dickinson
"Kau tak bisa datang dan berpura-pura kau bisa menulis, menyutradarai dan berakting..."

"Untuk masuk ke teater, kau harus melewatiku dulu..."
"Aku akan membuat ulasan terburuk yang pernah ada", ancam Dickinson lagi
 
"Belum berpengalaman, itu label/cap. Kurang semarak, itu cap. Kurang menarik, itu juga cap...
"Kau ini pemalas, kau belum menontonnya... " kata Riggan saat ia menemui Dickinson

"Kau keliru menganggap kebisingan di kepalamu sebagai pengetahua sejati..." lanjut Riggan

Film ini hanya berlatar setingg ruang pemain, ruang ganti, lorong-lorong gedung teater, sebuah cafe, dan halaman serta jalanan Kota New York, yang digambarkan bagian belakang gedung teater. Musiknya pun simple, mayoritas hanya dentuman ringan drum tapi terasa pas (hanya ada sebuah lagu  yang saya lupa judulnya). Sederhana tapi kaya dan bernas. Bernas menyentil kita. 

Ya betapa banyak orang mengkritik karena tidak suka, bukan karena hal tersebut tidak bagus. Betapa banyak orang menolak, karena merasa berseberangan dan menganggap orang lain tidak mampu, egois, dan lain sebagainya padahal belum melihat pekerjaannya. Berapa banyak orang menolak hal yang hanya berdasarkan pengamatan dari jauh dan kecurigaan bahwa pesohor, orang lain, tidak menguasai substansi, tidak cerdas seperti yang diharapkan. Bahwa teater hanya untuk seniman teater dan artis hanya orang beken yang kemampuannya di bawah rata-rata tapi tertolong oleh dongkrak sosmed mereka.

Mungkin banyak orang memiliki prestasi hasil dongkrak-an sosmed mereka, tapi tidak semua. Setidaknya Riggan menggambarkan bahwa dia adalah salah satu pesohor yang berjuang dan bernas. Riggan yang tidak punya facebook, IG ataupun twitter. Riggan yang oleh Sam anaknya, dianggap tidak ada karena  Riggan  tidak punya akun sosmed sama sekali. Riggan bahkan membenci penulis blog, twitter dsb, haha.  

Film ini berakhir happy ending yang keren dan tidak lebay. Ditutup dengan pertunjukan teater yang sukses meski ada sedikit kecelakaan Riggan menggunakan Pistol asli pada pertunjukkannya. Hal yang tidak diharapkan sebelumnya, Dickinson sang kritikus akhirnya menonton pertunjukan tersebut dan membuat ulasan bagus yang tidak terduga. Ulasan keren berjudul The Unexpected Virtue of Ignorance" tentang pertunjukkan Rigan pada Kolom "Artis This Weekend".

"Thomson (Riggan Thomson) tanpa sadar melahirkan suatu bentuk seni baru surealisme super..." tulis Dickinson dalam ulasannya. Ya, walau scenenya tidak banyak, pemeran Tabitha Dickinson, Linsay Duncan apik juga. 

Begitulah film sederhana tapi menggedor jiwa dan bernas ini. Salut buat Sutradara  film ini, Alejandro Gonzales Inarritu, telah membuat film apik bagi saya. 

Film ini membuat saya bisa mengisi waktu menunggu dengan berkesan dan senyum kepuasan di sudut  jiwa saya. Tepat ketika saya menunggu 6 (enam) jam proses autolysis adonan rot saya. Proses saat protein glutenin di  terigu membentuk gluten.  

Dari balik wadah plastik saya mengadon adonan roti itu  kemarin, pikiran tentang film ini mengendap di kepala saya. Lalu usai ketika bau roti dari oven menyeruak, dan roti sobek saya jadi.


Selamat menonton bagi yang belum. Maafkan ulasan ini penuh bocoran. Salam.

Saturday, August 22, 2020

Menelusuri Rempah/ Bumbu Pada Kuliner Sumatera Selatan

Sumber Foto : faktualnews.com
Jika rempah-rempah adalah daya tarik atau pemikat datangnya Portugis dan Belanda ke Indonesia pada zaman dahulu, maka rempah-rempah juga berjasa besar pada perkembangan farmasi, kosmetik juga kuliner di dunia, termasuk Indonesia. Termasuk pula kuliner di Sumatera Selatan. Mengulasnya, seperti kita dibawa ke masa lampau itu.

Sunday, August 2, 2020

Sia-sia, Mampus kau Dikoyak-koyak Sepi

Demi apa, pagi -pagi tadi saya sudah baca puisi. Ya demi komunitas Kompasianer Palembang  (Kompal) yang mendampuk saya sebagai salah satu dewan juri pada agenda Lomba Baca Puisi Kompal dalam rangka Hari Puisi Nasional yang jatuh pada tanggal 26 Juli kemaren.  

Tuesday, June 23, 2020

Pesona Labu Kuning, Menjalar di Tanah dan Merambah di Hati Penggemarnya

Sumber Foto : pixabay.com

Dalam bayangan saya akan hari tua. Ada sebuah rumah kayu mungil dengan halaman luas. Pada halaman luas itu ada banyak pepohonan, juga perdu dan semak produktif. Tentu saja dengan tanaman merambat dan menjalar. Baik menjalar dan merambat di para-para, maupun merambat di tanah. Entah bila saya miliki rumah mungil dari kayu dengan halaman luas seperti itu.

Saturday, June 13, 2020

Pertempuran 2 (Dua) Perempuan Dalam Korean Series TV The World Of The Married

Sumber Foto : kompas.com

Pagi cinta. Apa kabarmu? Semoga baik-baik saja semua pembaca setia blog ini. Situasi Juni biasanya agak hujan yang berbunga-bunga. Juni saya kali ini agak lain. Hujan dan bunga-bunganya kadang muncul, kadang tenggelam. Hujan yang membasahi sebatang pohon kayu tua itu....? Haha, wislah. Pasti tak sabaran pengen mendengar cerita saya tentang The World Of The Married ini. Silahkan baca.

Tuesday, May 26, 2020

Smart "Pasca" Cooking, Jangan Ada lagi Gulai Malbi dan Rendang Hangatan yang Hancur

Semua benda di sekitar kita, semua piranti di rumah kita bisa menjadi smart tools asal kita tau caranya. Smart tols sangat tergantung pada kita, tuan pemiliknya kan.

Friday, April 17, 2020

(Smoothie Red Velvet Strawberry) Tuhan, Ini Lebih Enak dari Dalgona



Sebab kondisi penanganan Covid-19 ini membuat saya kena imbasnya juga. Imbas enak dan tidak enak. Hal tidak enaknya, kita tepiskan dulu. Salah satu imbas enak (positif) nya adalah, he, saya jadi punya banyak waktu di rumah dan tambah rajin memasak. 

Wednesday, April 1, 2020

5 Cara Maksimalkan Diri Ketika #DiRumahAja Saat Pandemi Covid-19

Beginilah situasi saat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang harus membatasi pergerakan guna mengurangi penyebaran virus Corona. 

Sunday, March 1, 2020

Alis Lintah Atau Alis Sinchan si Bonga

Entah kenapa disebut alis lintah. Mungkin karena bentuknya yang ganjil, menyerupai lintah yang kekenyangan. Entahlah.

Thursday, February 27, 2020

Saya Locavore, Ayo Kamu Juga Dong

Mencari Bumbu Khas di Pasar Peunayong Banda Aceh

Suka makanan yang tergolong pangan lokal, itu saya. Suka makanan khas Palembang dan Sumsel secara umum, apalagi makanan dengan resep bari, itu saya juga. Suka makanan khas berbagai daerah di nusantara yang dibuat dari pangan (lokal) khas setempat, ah itu saya banget. Maka saya kira perlahan-lahan saya atau siapapun yang seperti itu saya mulai menjadi bagian dari Gerakan Locavore. Mau tau, lanjut baca ya.

Kepada Blogger Pencuri Resep, Blog Resep Enak Nusantara Dan Lain Sebagainya

Kelakuan lama ya, copy paste punya orang, tulisan lalu ditulis ulang dan diterbitkan di blognya tanpa menyebutkan  sumber. Ya setua hasrat ...