Search This Blog

Thursday, February 24, 2011

Untuk Kau Yang Melintas dalam Kabut



Untuk kau yang melintas dalam kabut. Jangan takut. Sebab sinar mentari yang hangat sebentar lagi muncul dan menyambut. Kau kan rasakan kabut itu tak menelan bahkan mengrengkuhmu ketika matamu berkedut. Perlintasanmu akan indah sebab kabut menjagamu sejak subuh baru terbentuk.

Jangan merunduk. Sebab kabut meski suramkan mata selalu setia padamu. Bahkan ketika manusia sedang terlelap dibalik selimut. Kabutlah yang selalu setia menjagamu di perlintasan serut. Kabut telah meyampakkan segala jengah yang terbentuk ketika subuh. Maka, kenapakah kau takut melintas dalam kabut ? Jangan. Jangan takut. Sebab kabut hanya sebuah tanda bahwa udara dingin kepada kaum malas. Bukankah ia juga menawarkan sebuah keteduhan dan konsentrasi untuk memulai perjuangan lebih dini !?

Jangan, jangan takut. Sebab akulah kabut. Kabut yang menjagamu ketika awal hari terbentuk. Hari dimana kau bisa memulai perjuangan lebih dini, lebih teduh dan lebih syahdu. Juga tanpa terik dan peluh.


Tuesday, February 22, 2011

Ilalang Menari Indie


Ilalang menari tepat ketika angin bertiup mengehembuskannya. Tarian suka, tarian duka, tarian jengah, tarian segala. Maka bila kau suka tarian ilalang, nantikanlah ia. Sebentar lagi ia akan menari indie. Ya, indie. Konon, tarian indie ebih pas bagi ilalang. Sebab lebih mudah, lebih bebas dan lebih lepas. Flashhhhhhh.......

Bagi yang berminat menyaksikkan ilalang menari indie, silahkan pesan dari sekarang. Sebentar lagi akan diterbitkan. Jangan sampai ketingalan. Salam.

Thursday, February 17, 2011

Newsoul Dan Batik


Newsoul dan batik, hm, sulit dipisahkan. Ya, sebagai penyuka Batik saya tak pernah bosan mengenakan bahan tradisional itu. Batik, selalu saya suka dan selalu saya cintai. Hari Jum'at adalah hari kerja yang paling menyenangkan buat saya. Bukan saja karena besoknya libur akhir pekan. juga karena hari itu saya bisa mengenakan batik. Ya, sejauh ini batik selalu menarik dan manis buat saya.

Bagaimana dengan anda, anda suka batik...? Kalau suka, jangan sungkan klik iklan batik di wall FB saya. Hehe, kapan lagi promosi. Ini bukan sembarang promosi. Dengan mengenakan busana batik, anda telah membantu jutaan pengrajin batik di seluruh penjuru negeri. Dengan membeli batik dari iklan di FB saya, anda telah membantu saya mewujudkan cita-cita saya. Apa itu...? banyak. Salah satunya adalah menjaga kecintaan kita pada "Batik Indonesia". Salam.

Wednesday, February 16, 2011

Caligi dan Caligula



Caligi dan Caligula menyesap secangkir kopi pada sebuah sore yang bermandikan cahaya. Sebentar lagi, ketika malam mulai naik nanti, cahaya akan makin sempurna dengan munculnya sang bulan. Caligi tersenyum menatap Caligula. Sudut bibirnya membentuk lengkung dengan seringai janggal. Di depannya Caligulapun sedang tersenyum. Sebab kekuasaan kerajaan makin meluas. Cita-citanya telah terkabul, sebab itu ia tersenyum.

Sementara di sekitar istana mereka, beberapa budak tak bisa tersenyum pada wajah mereka sendiri. Senyum itu telah sirna. Sirna karena titah Caligi dan Caligula yang haus ingin berkuasa. Caligi dan Caligula memaksa peraturan mereka di harus berlaku di kediaman budak-budak mereka. Titah mereka tak bisa dibantah. Merekapun tak bisa menghargai ghirah dan harga diri budak-budaknya. Sebab....Caligi dan Caligula telah lama terperosok pada rayuan setan yang sering memuj-muji mereka sebagai mahluk berkuasa yang suka menolong sesamanya. Padahal, Caligi dan Caligula tidaklah berniat menolong melainkan supaya sang budak merasa terus tak berdaya dan membuat mereka memandang bangga perbuatan bijak mereka sambil tersenyum.

"Soel, bangun...!", suara ilalang muncul membangunkannya yang sedang menulis sepenggal fragmen yang sedang ditulisnya.

Ia tak menjawab. Lihatlah, dia masih sibuk menyelesaikan tulisannya. Sambil tersenyum, ia mendesis,

"Wahai Caligi dan Caigula, jangan terlalu bangga memberikan ikan pada orang lain. Sebab orang lain tak menginginkan ikan, mereka inginkan kail...."

"Sayangnya, kail, adalah sebuah benda yang tak disukai oleh manusia sejenis Caligi dan Caligula untuk diberikan kepada orang lain. Sebab Caligi dan Caligula hanya suka melihat orang lain terus lemah dan merasa dirinya tak berdaya ...."

Begitulah desisannya hingga ilalang jadi terpana ketika itu. Kenapakah judulnya Caligi dan Caligula...? Entahlah. Tak jelas jawabannya. Siapakah Caligi dan Caligula...? Tak jelas juga siapa. Mungkin hanya tokoh rekaannya. Mugkin pula dia sedang menceritakan dirinya sendiri. Ya ya ya, siapapun bisa menjadi Caligi dan Caligula dengan cara yang tidak mereka sadari. Saya cuma berpesan, jangan tiru mereka. Salam.

Saturday, February 12, 2011

Mimpi Seorang Aili

Ketika sebuah pagi tiba, Aili sedang tersenyum menatap matahari dari kamarnya. Aili, seorang gadis kecil yang pendiam tapi ia lincah. Di kepalanya muncul aneka tanya sekaligus mimpi. Pertanyaan tentang Tuhan. Pertanyaan tentang surga dan neraka yang tak puas jika hanya ditanyakan pada ayah-ibu, uwak dan guru agama. Aili kecil bertanya pada sesuatu yang menurutnya bersemayam di langit ketika sore yang jingga tiba sambil ia duduk di bawah pohon jambu. Tak jelas apakah langit memberi kepuasaan akan pertanyaannya. Hanya saja, ketika ia bertanya itu ada suara yang bergema di jiwanya. Seperti menjawab,

"Tuhan adalah Maha Segala. Tak seperti yang kau kira tapi keMahaannya akan kau rasa...."
"Jangan hiraukan sorga dan neraka. Berbuat baik bukan karena inginkan surga tapi karena itulah yang harus kau lakukan. Jangan berbuat jahat, bukan karena takut neraka tapi karena itulah yang seharusnya..."

Maka Ailipun tersenyum. Senyum pertanda ia puas dengan jawaban itu. Senyum kanak-kanak yang polos dan bersahaja. Aili yang suka berlari-lari keci juga memanjat pohon. Kadang ia kadang melompat menangkap kupu-kupu dan belalang. Sesekali ia tersenyum sambil ia menyeka peluhnya. Lalu akan tiba di rumah dengan seekor capung diletakkan pada sebatang lidi yang direkatkan oleh gatah nangka.

Angin berhembus. Bunga mekar. Daun jatuh. Aili berkembang dan tumbuh dengan pikirannya. Sementara, dunia berlari begitu cepat, jelas tak sesederhana yang ia kira. Kini ia tak mengerti kenapa ada kasus Cikeusik dan Temanggung. Kenapa manusia menjadi begitu beringas dan menakutkan. Hal-hal yang sudah tak ingin lagi ia pikikan sebab rasanya telah kelu. Betapa dunia telah berubah tak seperti yang dipikirkannya. Betapa aneh.

Flash....., sudahlah. Aili membuang bayangan Cikesik dan temanggung dari kepalanya. Ia ingin tersenyum saja sambil membayangkan mimpinya dulu. Mimpi tentang dunia di luar sana yang diidamkannya. Ya, mimipnya sejak kanak-kanak dulu. Mimpi melanglang buana ke penjuru dunia yang hingga kini belum tercapai. Sebab ia cuma buruh kecil di negeri ini. Buruh yang tidak bisa berharap banyak untuk melancong ke luar negeri sebab disibukkan dengan urusan mengejar kebutuhan sandang dan pangan untuk keluarga. Melancong adalah sebuah mimpi yang jauh. Kasihan Aili.

Tapi, entah kenapa, harapannya melanglang buana ke beberapa penjuru dunia yang dididamkannya tak pernah sirna. Dan entah kenapa, ia merasa akan segera melancong ke penjuru dunia yang ia idamkan. Entah kapan. Maka mari kita dooakan Aili. Semoga mimpinya menjadi kenyataan. Semoga hidupnya berkah. Kenapakah ...? Sebab ia layak didoakan, Sedang para angkara saja perlu kita doakan supaya bertobat dan diampuni perbuatannya, mengapa tidak dengan Aili. Setidaknya ia bukan manusia munafik yang berbuat baik karena mengejar sorga. Dan ia tidak pernah mengganggu siapapun apalagi berbuat angkara. Karena itukah kita layak mendoakannya ? Entahlah. Bagaimana menurutmu kawan ? Salam.

Wednesday, February 9, 2011

Jangan Kirimi Aku Bunga, Kirim Saja Nafas Cintamu



Jangan kirimi aku bunga. Kirimi saja aku nafas cinta. Jangan kirimi aku mawar, kirimi saja aku desahan angin ketika pagi dan sore tiba dari mulutmu. Sebab mawarmu menusukkan durinya. Sedang nafas cintamu selalu menyejukkan jiwa.Seperti sejuknya embun pada dahan ilalang pada pagi yang ungu.

Jangan kirimi aku bunga, kirimu saja aku nafas cintamu. Sebab kau semesta. Selalu saja aku tak bisa berpaling darimu. Aku ada pada dirimu. Menjadi ada hanya karena kau ada.

Saturday, February 5, 2011

Menyunting Rasa




Seperti matahari yang telah hilang ditelan kegelapan malam. Seperti angin yang menerbangkan ilalang ketika belalang hinggap padanya. Seperti kau yang sedang mengernyitkan dahi entah oleh sebab apa. Seperti dia yang sedang jengah pada sesuatu yang tak jelas. Maka telah kusunting rasa ketika malam ini tiba.

Seseungguhnya menyunting rasa bisa dilakukan dengan apa saja. Dengan menjelajahi sebuah tempat, tempat apa saja. Dengan memanjakan lidah ewat makanan, makanan apa saja. Dengan mendengarkan musik, musik apa saja. Dengan memancing ke tempat sepi yang kau suka. Bahkan dengan hanya menutup mata dan telinga saat hening, sepi dan syahdu ada.

Intinya, mari lakukan apa saja yang menyenangkan agar rasa indah kembali memenuhi rongga jiwa. Lakukan apa saja sepanjang tidak menganggu orang lain dan tidak menistakan alam semesta. Sebab bila sesuatu telah melenyapkan jengah di jiwa, saat itu juga kita telah berhasil menyunting rasa. Saat itu juga senyum akan mengembang, dan dahi yang tadi berkernyit akan hilang. He, coba saja.

Begitulah. Hanya postingan setelah menyunting rasa ke kolam kegemaran saya. Gambar di atas adalah oleh-olehnya. Saya jepret setelah pulang dari sana. Memancing rasa saya. Hiks rupanya ada artis yang anggota dewan telah tiada, Adjie Massaid. Semoga arwahnya tenang di alam sana. Salam.

Thursday, February 3, 2011

"Cafe Karnak" Di Kepala Saya

Betapa angin telah menyergap rasa. Betapa rasa telah terkungkung oleh semua endapan hari yang menjelaga. Betapa itu melelahkan dan membuat jengah. Betapa ingin, ketika rasa terkungkung dan jengah itu tiba, saya sedang berada di Cafe Karnak. Sebuah tempat dimana saya bisa menyesap secangkir kopi kegemaran saya. Tempat dimana saya bisa menulis dengan rileks, kapan saja saya mau. Sebuah cafe sebagaimana dulu sang Naguib Mahfouz telah menghabiskan hari-harinya.

Maka "Cafe karnak" itu segera saja saya hadirkan di kepala saya. Saya segera terbang kesana. Menghirup secangkir kopi. Menulis dengan bebas tanpa harus terganggu oleh jam kerja yang menyiksa. Juga, bercengkerama bersama handai tolan dan kerabat disana. Ah, indahnya.

Ya, sebuah tempat dimana saya bisa singgah, kapan saja. Menulis sambil menghabiskan secangkir kopi. Sebuah tempat minum kopi yang menyenangkan sebagaimana cafe sang Naguib Mahfouz. Betapa saya menginginkan suasana itu. Entah bila "Cafe Karnak" dalam kepala saya ini bisa menjadi kenyataan. Entahlah.

Rupanya pergolakan di negeri Fir'aun itu telah membawa saya pada sebuah endapan rasa . Rasa terdalam saya tentang "Cafe Karnak". He, seandainya Cafe karnak itu masih ada (dengan sang Naguib Mahfouz di dalamnya), pastilah sangat mencekam sekaligus menggelora suasana disana. Begitulah. Selamat Imlek bagi yang merayakan. Gong xi fat cai. Salam.

Wednesday, February 2, 2011

Kenapa Komering dan Korea ?

Tak bisa dijelaskan, tiba-tiba saya suka serial Korea. Padahal jelas-jelas saya tak suka sinetron dan segala jenisnya. Ada apakah...? Kenapakah...? Setelah lama saya bertanya-tanya dan merenungkannya, rupanya...., rupanya karena saya memiliki sebuah sisi yang serupa dengan sisi yang ada si serial Korea. Rupanya karena saya memiliki darah Komering. Kekomeringan saya telah membuat saya suka serial Korea. Begitulah. Saya seperti melihat masa kecil saya saat melihat adegan para perempuan dan laki-laki korea dalam serial itu bicara.

Betulkah ? He, tentu saja tak betul. Ini cuma anggapan pribadi saya saja. Patriakart yang kuat pada adat Komering, padahal saya benci, telah menimbulkan sisi romantisme saya hingga saya menatap serial Korea tanpa berkedip. Betapa akar patriakart itu telah tertanam kuat pada saya, mungkin hingga ke sel-sel darah merah dan urat syaraf saya. Betapa aneh dan menakutkannya. Hiks, rupanya perjuangan saya masih panjang kawan. Karena saya tak bisa membuang akar saya hingga ke akar-akarnya. Sebab akar itulah yang membuat saya tetap berdiri dengan kokoh. Bukankah begitu kawan ? Selamat pagi. Salam.

Tuesday, February 1, 2011

Februari, Aku Kembali

Seperti sebuah lambaian yang memanggil-manggil. Seperti bayangan bulan yang merindukan malam. Seperti secangkir kopinya yang selalu ingin dia reguk. Dia tertegun, lalu tersenyum. Sebab pandangannya tak bisa puas dengan hanya melintas. Dia perlu singgah. Dia perlu berada disana untuk beberapa lama. Duduk sambil tersenyum. Merenug sejenak dan mereguk kopinya lagi. Ya disana.

Dan sana adalah sini. Sebab yang dia maksudkan disana adalah disini, tempat ini. Blog ini. Sebab dia yang berkata "Februari, Aku Kembali....!" adalah saya. Saya yang menyebut diri saya sebagai soul si Newsoul. Jiwa saya seperti terlahir kembali. Begitulah selalu, seperti biasanya. Maka saya kembali ke sini.

Hah...., leganya. Leganya bisa kembali kesini. Setelah saya menyelesaikan janji saya disana. Kau tau kan. Tidak ? Tentu saja kalau kau tidak pernah singgah kesana. Sesekali, singgahlah kesana kawan. Akan kau lihat betapa saya telah menjadi sangat nekad di sana. Kenekatan yang harus saya telan dengan agak terbengkalainya blog ini, hoho. Bayangkan, rupanya blog ini sudah turun kelas (dari PR 4 menjadi 3). Sudahlah, toh selama ini saya juga tidak sempat melakukan apa-apa dengan PR tersebut, hihi. Toh saya telah mendapat pelajaran berharga disana. Begitulah.

Selamat datang Februari. Dengan bangga saya berkata padamu, "Februari, aku kembali !". Selamat berjumpa lagi kawan. Saya berjanji, akan setia lagi diisni untukmu. Semoga Februari ini membawa cahaya dan barokah buat kita semua, amin. Salam.

5 Cara Maksimalkan Diri Ketika #DiRumahAja Saat Pandemi Covid-19

Beginilah situasi saat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang harus membatasi pergerakan guna...