Search This Blog

Monday, August 30, 2010

Tiga Helai Daun dan Seutas Kabel Listrik di Langit Tsabitha


Langit biru dengan sapuan awan. Disana ada tiga helai daun yang bagi saya kadang terlihat bak tiga ekor burung, dan seutas kabel listrik. Itulah langit Tsabitha. Entah kenapa saya menyukai foto tiga helai daun dan kabel listrik di langit Tsabitha itu.

Ya, meski langit kita sama kita bisa melihat hal-hal berbeda di langit kita. Seperti saat ini, sambil menuliskan ini saya menatap langit. Karena menulis sambil menatap langit dari jendela kamar yang terkuak, saya melihat susunan genteng atap tetangga dan antene tv di langit. Kau, mungkin berbeda pula yang kau lihat.

Kembali ke langit Tsabitha, he saya jadi teringat apa yang saya suka ketika saya kecil dulu. Betapa sukanya menatap langit biru. Betapa sukanya saya menatap langit ketika burung-burung berterbangan. Apalagi memandang langit saat setelah hujan, biasanya ada pelangi yang indah. Meski langit di foto hasil jepretan Tsabitha tidak memiliki burung-burung yang berterbangan. Tidak juga berhiaskan pelangi, tetap saja saya suka.

Barulah saya sadar, saya suka nuansa yang dihadirkan tiga helai daun yang tidak sengaja terbidik oleh si kecil Tsabitha (tentu saja, namanya juga bidikan anak kecil). Sayapun suka nuansa yang dimunculkan kabel listrik semrawut yang tertangkap kamera itu. Ya, tiga helai daun yang kelihatan acuh tak acuh. Tak acuh karena harus bersaing dengan kabel listrik yang semrawut. Daun melambangkan kehidupan alamiah di muka bumi. Sedangkan kabel listrik melambangkan gencarnya pembangunan (infrastruktur) disana. Keduanya saling berlomba. Perlombaan yang bagaimanapun kita harapkan harmoni prosesnya. Semoga saja, meski kita harus berjuang keras mencapainya.

Itulah tentang tiga helai daun dan seutas kabel listrik di langit Tsabitha. Kau, bagaimana dengan langitmu disana ? Masihkah indah ? Masihkah kau suka...?

(Palembang, 29 Agustus 2010)

Friday, August 27, 2010

Ramadhan, Bulan Menuju CahayaNya


Simbur ke kiri
simbur ke kanan
Matahari pagi di tanganku
rembulan di kiriku
bulan purnama di mukaku
berangkatlah cahayaku nanti......

Begitulah sepengggal syair lama dalam adat leluhur, yang entah kenapa bagi saya agak terdengar magis. Entahlah. Mungkin karena ia menyebut cahaya. Sebagaimana cahaya di atas cahaya yang mutlak adalah milikNya. Cahaya kita berangkat padaNya. Juga berasal dariNya.

Cahaya seribu bulan adalah milik bulan penuh barokah, Ramadhan. Maka tentu saja wajar bila kita selalu mendambakan Ramadhan. Adalah hal yang wajar pula bila kita bersedih manakala harus berpisah dengan Ramadhan.

Ya, Ramadhan, bulan barokah dimana kita diberiNya kesempatan untuk melihat ke jiwa kita. Sebuah kesempatan dimana kita menempa diri, mensucikan jiwa. Kita diberi kesempatan yang hakekatnya adalah perjalanan menuju cahayaNya. Sebagaimana cahaya sebagai sinar yang menerangi dari kegelapan. Seandainya di bulan Ramadhan kita mampu menempa diri kita. Tempaan itu mampu membentuk diri kita menjadi mahluk yang "Ramhmatan lil 'alamin", tentu Ramadhan kita itu akan jadi penerang bagi seribu bulan lainnya. Begitulah para tetua kita mengajarkan. Maka mari manfaatkan Ramadhan. Mari jadikan malam Seribu Bulan ini sebagai ajang bagi kita menuju CahayaNya. Mari kita renungkan bila berkenan.


Tulisan singkat ini dalam rangka ikut postingan kolaborasi yang digagas Trimatra tanggal 27-8-2010 dengan tema: Ramadhan Seribu Bulan.

Wednesday, August 25, 2010

Adakah Kau Jera ?


Adakah ia jera......? Entahlah. Ia tak pernah menjawab. Ia hanya diam ketika ditanya. Sesekali ia akan menggeleng atau mengangguk. Itupun cuma lewat hembusan angin. Tentu saja. Sebab ia hanya sehelai daun. Daun yang sering melambai pada saya ketika angin menggerakkannya.

Apakah ia jera...? Saya kira tidak. Sebab daun-daun di pepohonan selalu ada meski ia tumbuh dan gugur sepanjang masa sang pohon. Para daun tak pernah jera. Selalu menyapa saya meski saya tak mengubrisnya. Selalu setia pada tetes-tetes embun yang membasahi dan pada sinar mentari meski pada akhirnya ia menguning hingga gugur ke bumi dan membusuk.

"Adakah kau jera...? tiba-tiba saja sang daun balik bertanya pada saya
"Pada hal yang telah kau lakukan manakala hasilnya tak memuaskan atau tak menguntungkan bagimu atau bahkan merugikanmu...? imbuhnya lagi.
Tentu saja saya tak menjawab. Saya terdiam untuk waktu yang cukup lama, tadi pagi kawan.

Sayapun sedikit merenung. Rupanya sang daun mengajarkan banyak hal indah. Katanya, jera hanya bagi mereka yang sering menyesali keadaan. Padahal keadaan tak boleh disesali. Bukankah pada setiap keadaan mengandung hikmah. Jera hanya bagi mereka yang menilai hidup ini sebagai ladang untung rugi. Sedangkan hidup, dalam setiap celah rangkaianya, bukankah mengandung hikmah. Tak ada kata jera. Hanya berusaha agar hal yang sama bisa dilakukan dengan cara yang lebih baik, bermanfaat dan barokah. Begitulah pesan sang daun.

Kawan, adakah kau jera akan sesuatu...? He, jawab saja bila berkenan. Jangan sungkan kawan.

Sunday, August 22, 2010

Ruqayyah, Anak SMP Sebelah Rumah


Lengguhannya hampir setiap pagi saya dengar. Sebagaimana sebuah lengguhan, teriakan kecil tak jelas, tentu saja saya tak paham apa yang dilengguhkan. Hal yang ditangkap oleh telinga saya cuma satu, lengguhan itu terdengar seksi. Seksi sebab nyaring yang khas, tidak sengau, agak berat. Nyaris seperti nyanyian jazzy Iga Mawarni. Itu lengguhan Rugayyah. Ya, dia masih SMP. Ya, anak SMP di sebelah rumah saya.

Ketika suatu pagi intip apa yang dilakukan Ruqayyah, he, rupanya ia sedang melatih intonasi suaranya. Ia berlatih membaca puisi hasil ciptaaannya sendiri. Ruqayyah melakukannya setiap pagi, di kebun belakang rumah. Penontonnya adalah beberapa tanaman cabai, beberapa cungdiro (tomat kecil dalam bahasa Palembang), dan beberapa rumpun ilalang. Tentu saja, seorang penonton rahasia, saya.

Secara tak disadari, saya simpati sekaligus kagum pada Ruqayyah. Bayangkan saja, di usia dini dia telah berjuang mengejar cita-citanya dengan penuh semangat. Pagi-pagi sekali, ketika anak-anak lain di rumah itu masih terlelap, Ruqayyah sudah sibuk. Ia sibuk mencuci piring, membantu mencuci pakaian, memasak air, dan menyapu halaman (sambil melengguh seksi itu). Dia melakukannnya dengan gembira. Kegembiraan yang diliputi rasa syukur. Ya, sejak kecil Ruqayyah sudah ditinggal kedua orang tuanya hingga sang bibi (tetangga saya itu) mengajaknya untuk tinggal bersamanya. Dan Ruqayyah tak pernah mengeluh, dia melakukan semua hal dengan penuh cinta dan keikhlasan. Keikhlasan dan kecerdasan juga keluguan seorang anak SMP, baru kelas 1.

Itulah Ruqayyah, anak SMP sebelah rumah yang membuat saya terpana. Saya doakan dia mencapai cita-citanya kelak. Semoga lengguhan seksinya setiap pagi ini akan membawa berkah baginya, amin. He, saya kira para tanaman (cabe, cungdiro, dan ilalang) penonton setia lengguhan seksi Ruqayyah itu juga menadahkan tangan ke langit mendoakan Ruqayyah.

Begitulah sedikit kisah saya pagi ini. Tulisan di atas adalah sebuah partisipasi atas Gerakan SEO Positif "Anak SMP" yang disponsori oleh MANAJEMEN EMOSI, sebagaimana yang diinformasikan beberapa sahabat. Trimatra, terimakasih atas ajakan positif ini. terimakasih pula atas awardnya.

.

Demi lebih memanjangkan amal gerakan positif ini, award di atas saya hibahkan kembali kepada beberapa sahabat :
1. Fanda
2. Anazkia
3. Inuel
Semoga berkenan ya. Selamat pagi kawan.

Gambar dari sini

Friday, August 20, 2010

Bra Hitam Yang Sendu

Jumát tiba lagi. Seperti biasanya, hari Jumát adalah hari dengan bra hitam bagi seseorang (perempuan). Sebab hari itu dia mengenakan batik. Batik gelap yang membutuhkan manset hitam. Tak cukup itu, dilengkapi pula dengan bra hitam. Supaya serasi, katanya.

Kali ini, bra hitam itu terlihat tak berseri. Sebab suasana agak diliputi kegeraman bagi seseorang itu. Pagi menjadi mendayu-dayu karena berita televisi yang begitu romantis. Berita tentang ide norak Ruhut menyangkut sang presiden. Berita perampokan berbagai toko emas di beberapa kota. Hingga akhirnya (berita) kita dilecehkan oleh Malaysia. Lengkaplah sudah kegeramannya.

Kegeraman yang berubah menjadi sendu sebab awan hitam tergantung di langit. Langit mendung. Mendung yang menciptakan kesenduan bagi seseorang itu. Maka bra hitam itupun terlihat sendu baginya. Kesenduan yang membuatnya segera menarik benda itu dan mengenakannya dengan sekali gerakan. Selesai.

Tak sampai duapuluh menit seseorang itu telah siap melesat. Melesat ke dunianya. Meletakkan tas kerja. Memasukkannya ke dalam lemari. Mengeluarkan laptop dan membukanya. Memeriksa email yang masuk. Memeriksa kesiapan timnya untuk rapat hari berikutnya. Dan lain sebagainya.

Begitulah. Dan bra hitam yang sendu itupun tenggelam bersama hari. Entah apakah ia masih terasa sendu bagi seseorang itu atau tidak, tak lagi penting barangkali. Tentu saja, sebab sang bra hitam telah terlupakan oleh seseorang itu. Ia telah betul-betul melesat. Melesat melupakan kegeramannya akan berita televisi tadi pagi sekali. Dari balik meja ini, saya cuma berharap semoga kesenduannya sirna. Semoga harapan saya tidak berlebihan. Selamat pagi kawan.

Wednesday, August 18, 2010

Ilalang Basah


Kegelapan masih terbentuk di setiap penjuru sebuah kota. Di salah satu sudutnya, di dekat kolam yang tak terawat, beberapa rumpun ilalang tumbuh. Ketumbuhan yang seperti menantang setiap pandangan, kalau saja manusia menoleh padanya. Saya katakan ia menantang sebab ia seperti berkata "Aku ada sebagaimana angin berhembus pada tanah basah". Ilalang itu basah. Embun dini hari telah membasahinya.

Sang ilalang basah sedang tersenyum. He, senyum yang tak terlihat karena ditutupi kegelapan. Seseorang tengah berjalan dalam gelap. Tiba-tiba kaki seseorang itu menginjak sang ilalang basah. Injakan yang entah mengapa membuat seseorang itu terjerembab. Rupanya helaian daun ilalang basah telah membelit kaki seseorang itu, entah bagimana caranya, hingga ia terjerembab.

Mau tak mau seseorang itu berusaha mencari tahu gerangan apa yang telah membuatnya terjerembab. Ia merogoh saku kanannya, mengeluarkan ponsel. Dengan cahaya ponsel ia melihat benda yang telah membelit kakinya tadi. Ternyata serumpun ilalang yang rumpunnya cukup besar dan helaian daun hampir setengah meter. Ilalang itu basah. Saat ia pandangi lagi, ilalang itu seperti sedang tersenyum padanya. Sebuah senyum yang seolah berkata " Hati-hatilah melangkah dalam kegelapan wahai manusia......"

Sungguh, seseorang itu sedikit tertegun. Betapa kehidupan i ni maha luas. Keluasan yang juga membutuhkan pandangan luas untuk memahaminya. Sebagaimana hal yang didapatnya dini hari ini. Pada setiap kondisi, seperti kegelapan yang masih terbentuk ini, ada hak setiap zat yang harus dihargai. Pelajaran yang didapatnya dari sang Ilalang Basah.

Seseorang itu lalu melangkah lagi setelah melurukan ilalang basah yang tadi telah diinjaknya. Sambil baejalan sekelebat pikiran memenuhi benaknya. Ya, mungkin harus bermusyawarah dengan warga sekitar. Jalan setapak menuju jalan raya di dekat kolam ini harus dibersihkan. Biarlah para ilalang tumbuh di pinggir kolam saja, jangan di jalanan. Akhirnya....., bukankah adanya ilalang basah tadi sejatinya cuma mengatakan bahwa selain harus berhati-hati melangkah di kegelapan, manusia seyogyanya harus menjaga kebersihan dan keharmonian lingkungannya. He, mungkin saja. Selamat pagi kawan.

Monday, August 16, 2010

Kasihan Sekali Kamu Soel !


Kasihan sekali kamu Soel!. Itulah kata-kata yang keluar dari bibir Dewok. Masih ingat Dewok ? Itu sepupu gondrong saya yang ditinggal istrinya (Kisahnya pernah saya ceritakan disini). He, kemarin siang dia muncul lagi. Kali ini tanpa pemberitahuan. Dia mucul begitu saja. Seperti setiupan angin selatan yang sering menghampiri saya. Tak cukup itu, penampilannyapun sangat mengagetkan saya. Pakaiannya rapi. Rambutnya, wow, tak lagi gondrong.

"Ïni sekedar ganti cashing atau softwarenya juga berubah nih "tanya saya iseng. Dia hanya tersenyum. Lalu tersenyum lagi selang 2 menit berganti membuat saya tak kuat menahan tawa.
"Orang kan bisa berubah Soel.....", Dewok menjawab pelan. Saya masih saja tertawa. Sungguh saya tak kuat menahan tawa melihat perubahan Dewok yang terlihat asing di mata saya. Saya terus terpingkal-pingkal hingga keluarlah kalimat sakti Dewok.
"Kasihan Sekali kamu Soel... !

Kata-kata terakhir Dewok menyadarkan saya bahwa Dewok seseungguhnya tak pernah benar-benar berubah. Mungkin dia telah sedikit berubah. Perubahan yang hanya kasat mata. Selain itu, karakter aslinya tetap sulit dirubah. Yah....Dewok tetaplah Dewok yang sering lari dari masalah dengan cara mengasihani orang lain. Dewok tidak berusaha memecahkan masalah untuk mencari tau kenapa orang lain tidak bersikap sebagaimana yang diharapkannya. Ia selalu saja, menutup masalah dengan cara mengasihani orang lain. Kasihan bagi Dewok adalah sebuah kondisi macet. Kondisi yang nantinya akan ditinggalkannya.

Dewok yang tengah jatuh cinta pada seorang perempuan sebagamana yang kemarin diceritakannya, mungkin telah sedikit berubah. Dia terlihat ceria. Semangat hidupnya muncul kembali. Diapun berpenampilan rapi. Itu melegakan. Hanya, bagi saya, perubahan Dewok lebih terlihat sebagai sebuah sensasi (pengaruh) cinta. Bila suatu saat masalah besar mendera, dia akan berkata lagi "Kasihan sekali kamu.....". Kasihan sekali kondisi ini dan sebagainya. Begitulah. Dewok.

Dan sesunguhnya, sambil saya menuliskan kisah ini, sayapun sedang masgul. Masgul karena takut penyakit Dewok menular pada saya. Hehe, sayapun pernah mengatakan "Kasihan Sekali Kamu Wok!" padanya. Bedanya, kasihan saya lebih bermakna sebuah kemakluman. Bukan kalimat pesimis yang menganggap macet. Lebih dari apapun, meski saya menganggap kelakuan Dewok patut dikasihani saya tetap optimis suatu saat nanti dia akan berubah. Entah kapan. Semoga saja. Semoga pula, he, Dewok tak sewot membaca tulisan ini. Maaf ya wok.

Saturday, August 14, 2010

Meminta Yang Tidak Meminta


Pagi yang lenggang menerpanya. Dia yang sedang beristirahat sejenak dari rutinitas domestik di hari sabtu. Hari tidak bekerja tapi tetap bekerja di rumah. Maka kesempatan pagi yang lenggang ini mau tidak mau menyusupkan kembali bisikan si Angin Selatan kemarin sore. Tentang Meminta yang tidak meminta.

Ya meminta yang tidak meminta. Sadar atau tidak sadar kita pernah melakukanya. Kita meminta padaNya tapi dengan cara yang seperti tidak sedang meminta. Kita meminta padaNya tapi tapi hati kita tidak padaNya. Kita meminta dengan penuh kesombongan. Seringpula kita melakukannya dengan penuh ketergesaan, sekedar melepaskan rutinitas wajib. Bukankah sholat kita adalah hakekatnya adalah lantunan do'a dan pinta kita padaNya. Tapi kita melakukannya asal saja. Bagaimanakah Dia akan mengabulkan pinta kita...???

Maka mintalah padaNya dengan penuh kesungguhan. Sebuah permintaan yang benar-benar meminta. Maka mudah-mudahan Dia akan mendengarkan pintamu. Bahkan pada sesama kita, mintalah sesuatu dengan kesungguhan. Mintalah pada jiwanya. Mintalah sebagai sebuah permintaan yang mengalir dari jiwa kita. Bila kau lakukan dengan kesungguhan dan ketulusan, biasanya jiwanya pun kan mendengar pintamu. Begitulah bisikan si Angin Selatan padanya, baru saja.

Maka jangan lakukan lagi meminta yang tidak meminta. Mari meminta dengan sebenarnya pinta. Meminta padaNya dengan sebuah kesungguhan. Mintalah dengan penuh harapan baik. Mintalah dengan jiwa kita. Jangan pernah berpaling ketika sedang meminta. Diapun tak akan berpaling. Gesah ini, sekali lagi cuma bisikan si angin selatan. Boleh kita renungkan bila berkenan. Selamat menunaikan ibadah puasa Ramadhan bagi yang menjalankan. Selamat pagi kawan.

Friday, August 13, 2010

Tentang Tangisan Seekor Kolibri

Pernahkan kau dengar kicau burung kolibri ? Jika pernah berbahagialah sebab kau telah dapatkan kesempatan mendengar kicauan indah. Ya, kolibri, burung mungil berdada kekuningan yang suaranya cukup merdu. He, kicauan yang sering membuai saya saat sedang menikmati secangkir kopi di pagi hari.

Pada sebuah malam, entah kenapa, sang kolibri menangis. Dia menangis dalam diam dan gelap. Mau tau tentang kisah tangisannya, silahkan klik disini. Setelahnya mudah-mudahan kau paham kenapa sang kolibri itu menangis. Selamat siang semua.

Tuesday, August 10, 2010

Ramadhan Berkat


Dia mendekat ketika senja memekat
Senyumnya pada jingga pun lekat
Lekat dan dan pekat hilangkan sekat
Dia, Ramadhan yang berkat

Selamat menjalankan ibadah Bulan Suci Ramadhan 1431 H
Sobat, maaf lahir dan bathin.......

Sunday, August 8, 2010

Bunga Yang Tak sekedar Bunga


Bungakah sang bunga bila harumnya membuat semesta merana....?
Bungakah sang bunga bila indahnya menabur nestapa....?
bungakah sang bunga bila lembutnya melenakan sang fana....?
Bungakah sang bunga bila semaraknya melukai jiwa kelana...?

Itulah tanya sang kelana yang merana, nestapa, juga fana akan hadirnya sang bunga. Pertanyaan yang entah siapa sanggup menjawabnya. Hanya bisa direnungkan sang bunga. Sebab bunga yang sebenarnya tak membuat semesta merana. Bunga yang sebenarnya bunga tak menabur nestapa. Bunga yang sebenarnya bunga tak menambah lena sang fana. Pun, bunga yang sebenarnya bunga tak melukai jiwa siapapun.

Saya bergidik demi mendengar gesah sang kelana yang merana, nestapa, dan fana itu. Sebab dia menginginkan bunga yang sempurna. Bunga yang tak sekedar bunga dalam bingkainya. Hm, beratkah permintaan sang kelana...??? Entahlah sobat. Begitulah jawaban si angin selatan dari sisi kanan. Adakah yang bisa menjawabnya....?

Friday, August 6, 2010

Sunia Baharani


Adalah Sunia Baharani nama yang berarti Si Tenang dan hening, rani (ratu) dari keluarganya. Ya, Sunia dalam bahasa Komering (asal orang tua kami) adalah tenang. Tidak terasa Sunia Baharani sudah semakin besar. Kelas 3 SMP. Tubuhnya semakin tinggi. Ah, dia mulai remaja sekarang. Remaja yang kreatif. Hiks, Lihatlah betapa isengnya Rani memfoto kaki (kaki dirinya dan teman-temannya). Kaki itu organ penting karena kekokohan pijakannya, begitulah seloroh Rani.

Hampir semua kerabat mengatakan kalau Rani (begitulah kami memanggilnya) adalah duplikat saya. Hm, padahal wajah kami tidak mirip. Herannya mereka tetap mengatakan kalau Rani sangat mirip saya. Kata mereka, kelakuan saya ketika masih kecil persis Rani. Rani agak tomboy. Rani sangat ekspresif menunjukkan sikapnya. Tidak suka berpura-pura. Bila tidak suka sesuatu, he, langsung terlihat dari sorot matanya. Matanya yang melotot, hiks. Itu beberapa sifat Rani yang sama dengan saya. Tapi Rani tergolong pintar dan cerdas (yang ini saya tidak tau apakah ketika kecil saya juga begitu). Mungkinkah karena beberapa persamaan tersebut yang membuat Rani dikatakan duplikat saya ? Entahlah.

Maka semalam ketika bermalam di rumah saudara lelaki (kakak) saya, sayapun membutikan penilaian mereka. Saya perhatikan Rani begitu rupa. Cara tidurnya, perawakannya. Ternyata, tidak sekedar sifat kami yang sama. Gaya tidur Rani sangat mirip saya. Bahkan bentuk badan, dari pinggang hingga ke bentuk kakinya sangat mirip saya. Pantas saja para kerabat menyebut Rani sebagai duplikat saya.

Itulah Sunia Baharani, anak perempuan dari saudara lelaki saya. Kenapa duplikat saya muncul pada anak abang saya dan bukan muncul di anak saya....? Entahlah. Cara kerja Tuhan memang tidak bisa ditebak. Sambil terkesima memandangi Rani tidur, semalam saya berdoa untuk hal terbaik bagi keponakan saya itu. Semoga Rani kelak menjadi anak yang barokah bagi kedua orang tuanya, juga bermanfaat dan barokah pada sesama, amin. Semoga do'a saya untuk Rani diijabahNya. Apakah anda punya juga keponakan yang sangat mirip dengan anda....?

Tuesday, August 3, 2010

Senyuman Sepuluh Detik Saja

Bila jemari saja bisa tersenyum, marilah kita tersenyum. Sebab senyum memudahkan langkah. Bila jemari saja bisa berangkulan dengan mesranya, maka rangkulah atmosfirmu sobat. Rengkuh dengan jiwa yang tersenyum. Sebab senyum itu menghidupkan lagi sesuatu yang mati seperti disini. Maka tersenyumlah meski untuk sepuluh detik saja.

Gambar dari sini

Sunday, August 1, 2010

Ngopi Di Bawah Bendera Reformasi


Tidak ada bedanya ngopi sebelum masa reformasi dan ngopi di masa reformasi. Rasa kopinya tetap sama. Secangkir kopi saya tetap saja rasanya semriwing. Kental, tidak begitu manis. Tetap saja, biasanya saya nikmati sembari nonton berita televisi. Hal yang membedakan mungkin hanya nuansanya.

Ya di bawah bendera reformasi minum kopi bisa disertai taste reformis yang rasanya lumayan janggal. Pesawat televisi yang kita saksikan sembari minum kopi kini menyajikan aneka berita yang tak terduga. Tokoh yang nampak baik, tiba-tiba saja ditampilkan sebagai pesakitan di televisi saat kita sedang minum kopi. Sering terjadi, tiba-tiba muncul berita penangkapan teroris saat kasus lain sedang hangat-hangatnya dibicarakan sehingga kasus tersebut terlupakan. Bahkan televisi cukup sering menayangkan presiden kita sedang curhat soal ini itu dengan wajah sendu, entah kenapa. Itu cukup romantis.

Romantisme lainnya adalah masalah korupsi. Lihatlah kasus korupsi di masa reformasi terlihat begitu banyak. Apakah memang lebih banyak ? Bisa ya, bisa juga tidak. Masa reformasi mungkin saja menciptakan peluang untuk korupsi semakin besar bahkan meluas sampai ke berbagai penjuru dan kalangan (He, reformasi yang dibarengi Otda). Masa reformasi ini juga telah menjadikan semua kasus korupsi begitu mudah terlihat, begitu banyak disajikan di televisi. (Mungkin juga akhirnya malah menginspirasi untuk ditiru). He, yang ini pengaruh kebebasan pers yang sumbatnya mulai dibuka.

Reformasi tentu saja sebuah proses panjang untuk bisa menemukan bentuknya yang pas. Saya masih ingat ketika tahun 1998 para mahasiswa mampu menumbangkan Orba, saya yang sedang dalam perjalanan melaksanakan tugas luar menitikkan air mata seraya mengucap alhamdulillah. Artinya reformasi ini adalah hasil perjuangan panjang yang dulu kita perjuangkan. Seyogyanya harus kita syukuri dengan cara mengisinya secara baik. Siapapun kita, marilah kita melaksanakan tanggung jawab kita dengan kesungguhan dan kejujuran.

Begitulah sobat. Semoga postingan kolaborasi yang digagas Trimatra ini bermanfaat. Di bawah bendera redormasi, mari kita bersatupadu untuk menjadikan masa reformasi ini penuh makna dan barokah. Salah satu caranya, ya kita jalankan saja pekerjaan kita masing-masing (siapapun kita) dengan penuh kejujuran dan tanggung jawab. Rasanya tidak terlalu muluk dan cukup masuk akal menurut saya. Dengan begitu, semoga reformasi ini membuahkan hasil baik sebagaimana yang kita harapkan. Dan saya....., harapannya tetap bisa ngopi dengan maknyus tanpa berita janggal yang mengagetkan lagi. Bukankah saya layak berharap....!?

Kepada Blogger Pencuri Resep, Blog Resep Enak Nusantara Dan Lain Sebagainya

Kelakuan lama ya, copy paste punya orang, tulisan lalu ditulis ulang dan diterbitkan di blognya tanpa menyebutkan  sumber. Ya setua hasrat ...