Search This Blog

Friday, December 31, 2010

Sepi dan kosong Yang Syahdu


Sepi. Sepenuhnya tak ada suara, kecuali suara hati sendiri. Kosong. Tak ada siapapun. Tak ada keriuhan. Bahkan tak ada Dalai Lama, Bunda Teresa atau siapapun. Hanya ada si Dia. Sepi dan kosong yang sengaja ia jelang dan ia bentuk di setiap penghujung tahun. Sepi dan kosong yang syahdu, kataya.

Thursday, December 30, 2010

Sajak Secangkir Kopi



Secangkir kopi buatmu luruh

Matahari pelan-pelan naik meski mendung

Mendung yang tak buat kau redup

Sebab secangkir kopi dalam mendung berimu sauh


Sajak secangkir kopi ini telah buat kau berseri

Lengkapi elegi akhir tahun ini

Tinggal beberapa kabut pagi lagi

Tunggu saja ia tiba dua hari lagi



Gambar diambil dari sini

Tuesday, December 28, 2010

Bila Esok Itu Tak Ada

Seseorang menekuri malam yang meninggi. Pada tekuran kesekian, benaknya dipenuhi beberapa hal yang tiba-tiba hinggap dan tak mampu ia tolak. Bayangkanlah bila esok itu tak ada. Bayangkanlah bila ini malam adalah saat terakhir kita bersama raga. Bayangkanlah bila hanya ada hari-hari kemarin, tak ada esok. Terbayangkankah....?

Tak ada jawaban kecuali monolognya di ujung malam. Ya.... bila terbayangkan, resapilah. Bila ia bayangan tak jelas arah, tanyalah kenapa pada jiwa. Bila ia bayangan menakutkan, buanglah rasa takut itu. Bila ia bayangan yang indah kepasrahan, sambutlah. Apapun itu syukurilah. Setidaknya kita masih diberi kesempatan untuk memikirkan seandainya esok itu tak ada.

Bila esok itu tak ada buat saya, he, begitulah monolognya, tentu saja dia ikhlas. Ikhlas telah merengkuh hari-hari kemaren yang penuh warna meski mungkin tak sempurna. Sebab tak selamanya lengkung langit bisa dijadikan tempat menengadah bagi manusia.. Akan ada saatnya ia tertutup pada sebagian manusia yang telah tiba masanya. Mungkin tertutup pada dia, padamu, pada siapa saja. Maka, mari berjuang agar saat esok itu tak ada buat kita, si lengkung langit tersenyum untuk kita. Salam.

Sunday, December 26, 2010

Malam Ini, Jangan Lupa Nonton Bola Ya

Ponsel saya berdering, baru saja, dengan nada khas tanda tibanya pesan singkat. He, benar saja sebuah pesan dari si bonek sohib saya,

"Malam ini, jangan lupa nonton bola...."

"Ya, kalau gak ketiduran. Sudah di Bukit Jalil ya ?" balas saya

"Iya dong. Doakan 3-1", jawabnya lagi

Begitulah pesan terakhir itu tidak lagi saya balas. Malas saja. Namanya juga bukan pengemar bola. Kalaupun saya sampai nonton bola, paling sekedar ingin tau skor, siapa pencetak gol, siapa nama kiper. Biar tidak ketinggalan berita kalau terjadi obrolan atau diskusi bola di kantor, he.

Tapi malam ini, berhubung sudah final AFF Indonesia melawan Malysia, saya siap-siap untuk nonton bola. Sudah pasti juga mendoakan supaya Indonesia menang melawan Malaysia. Skor berapa sajalah. Saya sudah menyiapkan adonan bakwan yang tinggal digoreng, sukun yang sudah dipotong-potong plus kacang kulit untuk penganan nonton bola nanti.

Ya, meneruskan pesan si bonek teman saya tadi, malam ini jangan lupa nonton bola. Semoga pertandingannya berjalan tertib dan lancar. Semoga Tim Garuda menang melawan Harimau Melayu, amin. Anda, sudahkah bersiap-siap....?

Thursday, December 23, 2010

Back To Root, Komering

Tiga Gadis Komering, 1929

Tak kan kokoh sebatang pohon bila akarnya lemah, apalagi bila tak berakar. Begitulah nasehat seorang kerabat. Maka diapun mencari akarnya. Ya, meski terserak dan tercabut, akar itu masih ada. Hanya perlu dijaga agar kokoh, tertanam kuat di tempatnya.

Dimanakah tempatnya ? Di jiwa. Di nilai-nilai budaya peninggalan zaman lampau yang ditegakkan. Sejenak dia tergugu dan merasa malu. Betapa lama ia telah tercabut dari akar karena ketidakpedulian. Sejak itu, tanpa ragu dia menunjukkan akarnya. Komering. Komering. Komering. Sebuah daerah di Sumatera Selatan dengan bahasa dan budaya khas yang melekat. Ya dia kembali ke akarnya. Back to root, komering. Sebagaimana kearifan lokal yang teruang dalam sajak lama Komering,

"Adat lembaga sai ti pakaisa buasal jak Belasa Kapampang, Sajaman rik tanoh pagaruyung pemerintah bunda kandung, Cakak di Gunung Pesagi rogoh di Sekala Berak, Sangon kok turun temurun jak ninik puyang paija, Cambai urai ti usung dilom adat pusako"


Terjemahannya berarti "Adat Lembaga yang digunakan ini berasal dari Belasa Kepampang (Nangka Bercabang, Sezaman dengan ranah pagaruyung pemerintah bundo kandung di Minang Kabau, Naik di Gunung Pesagi turun di Sekala Berak, Memang sudah turun temurun dari nenek moyang dahulu, Sirih pinang dibawa di dalam adat pusaka, Kalau tidak pandai tata tertib tanda tidak berbangsa

Begitulah tentang dia yang kembali pada akarnya. Kau, carilah akarmu. Jangan sampai zaman melindasmu hingga tercerabut dari akar. Salam

Tuesday, December 21, 2010

Tak Seorangpun, Hanya Kau


Malam yang makin meninggi. Lampu yang telah dipadamkan. Di kegelapan seseorang menerawang. Cahaya bulan di tingkap angin sinari wajahnya seperti membawanya ke sebuah tempat maha luas. Jiwanya basah. Kedua sudut matanya basah, entah kenapa. Tapi itu bukan kesedihan. Itu sebuah kelegaan yang menyeruak. Sebuah rasa tiba-tiba muncul begitu saja diantara penat dan lelah di ujung malam,

"Tak seorangpun, hanya kau....." desisnya tertahan di tenggorokan.

Ya, adakah yang mampu menolak rasa itu bila ia tiba...? Tak ada. Sebab Ialah Sang Maha, sebuah kekuatan yang tak seorangpun bisa menampiknya.


Gambar diambil dari sini

Friday, December 17, 2010

Sebatang Serai, Dari Kuliner Thailand Hingga Manado dan Sumsel

Seorang putri dari kerajaan zaman lampau di Hindia Belakang tengah bersiap meningalkan tanah airnya bersama sang pangeran. Sepasukan armada sudah disiapkan, layar telah terkembang. Di tangannya sebuah guci keramik siap dibawa serta. Guci yang didalamnya telah diletakkan beberapa batang serai dengan akarnya, juga beberapa genggam tanah hitam subur. Tak lama sang putri dan pangeran berlayar meningalkan tanah air mereka dengan guci keramik berisikan serai. Sejarah yang terlupakan.

He, kisah di atas hanya ada di pikiran saya saja. Saya yang tengah merenung sambil memandang sebatang serai di halaman belakang rumah saya. Ya, serai, bumbu Indonesia yang aromanya khas. Serai (Cymbopogon nardus), salah satu bumbu yang selalu terdapat dalam beberapa masakan Indonesia, bahkan di Asia tenggara. Ingat Tom Yam, hm, masakan Thailand itu sangat terasa aroma serainya (ditambah daun jeruk baunya makin menggoda). Dalam kuliner Manado, serai juga dominan (kemarin baru mencoba sup ikan khas Manado di beautika sekitar Dr.Moestopo) ) berpadu aromanya dengan beberapa pucuk daun kemangi. Dalam dunia kuliner Sumatera Selatan, seraipun hampir selalu ada dalam hampir semua masakan, terutama pindang.

Ya Tom Yam, Sup Ikan Manado, dan Pindang Sumsel adalah beberapa contoh masakan yang didominasi oleh aroma serai. Sama sedapnya. Setelah merenung iseng tadi, saya jadi berpikir, mungkin saja serai telah dibawa oleh nenek moyang kita dari hindia belakang dulu (Indochina), hehe. Maka, wajar jika 'taste" Tom Yam, Sup Ikan Manado, dan Pindang Sumsel memiliki sebuah garis kesamaan meski masing-masing punya ciri khas sendiri. Anda, pasti kenal serai. dengan aneka fungsi dan manfaatnya. Bisa jadi masakan di daerah anda juga didominasi oleh serai. Selamat pagi. Salam.

Saturday, December 11, 2010

Melati Pagi Ini

Dia masih setia dengan wanginya. Segar dengan beberapa tetes embun yang masih menempel. Sederhana. Tak banyak menuntut pada dunia. Tak minta dilihat, tapi wanginya yang tulus selalu menuntun kita untuk menoleh padanya meski ia bersembunyi di balik belukar. Melati pagi ini, menginspirasi dan menenangkan jiwa. Cukuplah ia saja tuk tiba pada kesimpulan bahwa dunia ini indah. Bahwa ketulusan dan penerimaan pada segala yang menjadi milik kita (meski sederhana ), selalu membuat indah. Salam.

Tuesday, December 7, 2010

Angin Yang Tak Tergambar


Siang menjelang sore yang teduh menghampirinya. Pada sebuah tempat menanti, seperti biasa. Tempat minum kopi yang menyenangkan. Disampingnya, seorang gadis ayu duduk memegang telepon genggam. Wajahnya teduh, juga ramah. Angin menerpa wajah si ayu, meriapkan rambutnya ke kiri dan ke kanan.

Friday, December 3, 2010

Hujan Sepenuh Hari


Bukan lagi ia sepenggalan hari. Bukan pula hujan Sepetikan gitar seperti dulu. Ini hari, hujan begitu meraja. Sebab ia menyirami bumi sepenuh hari. Sejak pagi hingga kegelapan terbentuk, ia terus basahi bumi.

Seseorang ditelan hari diiringi hujan sepenuh hari ini. Seperti lecutan manis yang membuat ia terjaga. Terjaga yang membuatnya asyik bergelut dengan beberapa pekerjaannya hingga usai. Sebab hujan sepenuh hari ini seakan menyandera. Ya, hujan sepenuh hari ini lumayan membuatnya lega. Setidaknya sepertiga persiapan pekerjaannya untuk minggu depan telah ia lakukan diiringi deraian hujan. Hujan sepenuh hari ini, adalah rahmatNya yang meimpahi bumi. Bak seloka yang tak pernah putus mensyahdukan semesta.

Begitulah kisah hujan sepenuh harinya. Hari ke-3 Bulan Desember yang menghujan dengan indah. Kau, bagaimana Khabarmu kawan ? Bagaimana harimu ? Apakah juga dikawani oleh hujan ? Apapun, semoga menyenangkan dan membawa kebarokahan. Salam.

Gabar diambil dari sini

Tuesday, November 30, 2010

Gumaman "Sebelas"

Ia bergumam menjelang pukul sebelas (malam). Sebelas gumaman sebelum memejamkan mata. Geram. Gemetar. Retak. Parah. Lelah. Kuyu. Kesal. Lemah. Kusam. Marah. Tapi lega. Pas sebelas. Gumaman diantara rasa lelah dan mata yang mengantuk. He, oleh-oleh perjalanan yang manis. Kenapa sebelas ? Entahlah. Mungkin karena ia suka angka sebelas. Kau, semoga gumamanmu indah, meski mungkin tak sebelas. Salam.

Wednesday, November 24, 2010

Rindu


Satu kata saja, rindu. Rindu teramat kuat yang pernah ia rasakan. Rindu pada suasana leyeh-leyeh, sambil tertawa ringan. Rindu minum kopi di balik awan (hiks, sampai rela merogoh kocek lebih dalam demi secangkir kopi). Rindu mendiskusikan rumor politik terkonyol yang muncul di tv pagi hari. Rindu menatap hujan yang memunculkan ide cerita di kepala. Rindu pada taman bunga mungil di samping rumahnya. Rindu yang tak mampu untuk sekedar dipupuskan sebab waktu yang tak lagi bersisa. Maka biarlah ia merindu. Rindu biru yang penuhi benaknya. Rindu ini, tetap saja hanya sebuah rasa (Rasa yang sering muncu tiba-tiba). Adakah yang juga sedang merindu ......?

Sunday, November 21, 2010

Mimpi Yang Tak Berbentuk

Seseorang tengah terpekur, tadi pagi. Duduk sendiri di samping kolam sisi kanan rumahnya. Suasana senyap mengendap-endap ia resapi dengan segenap jiwa. Angin bertiup sepoi-sepoi. Bau melati yang tumbuh di tepi kolam mewangikan dirinya. Kecipak air kolam karena ikan-ikan yang sesekali meloncat. Matanya terpejam. Suasana sejuk, wangi dan lembut itu membuainya.

Sambil matanya terpejam, di benaknya muncul lagi mimpinya yang tak berbentuk semalam. Ya, sebuah mimpi tak berbentuk menghampirinya. Mimpi yang baginya tak berbentuk sebab tak jelas ujung pangkalnya. Anehnya, meninggalkan kesan mendalam. Ia sedang berada di sebuah tempat berangin, sendiri. Tiba-tiba, entah apa sebabnya dengan jarinya ia melepaskan sebuah gerahamnya, lalu tanggal. Tanpa rasa sakit. Dengan sekali hentakkan saja gerahamnya terlepas. Aneh. Kelihatannya geraham dalam mimpinya itu adalah geraham tak berdaya yang sudah lama membusuk.

Maka mengapakah ia memikirkan mimpi tak berbentuk itu ? entahlah. Mungkin hanya reaksi alam bawah sadarnya. Sebuah pesan untuk mawas diri, bahwa sesuatu yang telah ia pasrah kan dalam dirinya pada waktunya akan menarik diri. Apakah itu ? entahlah.

Angin terus bertiup. Sang melati masih melepaskan wanginya yang lembut. Saat seseorang itu saya pandangi lagi, barulah saya tersadar. Kedua sudut matanya basah. Tangisan bahagiakah ? Tangisan pasrahkah ? Tangisan pahamkah ? Pertanyaan yang tak ada jawabannya untuk saya. Sungguh. Saat ia saya tingalkan, ia masih saja terpejam dengan kedua sudut mata yang basahnya. Tentu saja tak ada yang bisa saya lakukan. Angin telah menerbangkan saya menjauh darinya. Saya (setiupan bunga ilalang ini) hanya bisa berbisik padanya, " Kawan, doa saya menyertaimu. Salam....."

Wednesday, November 17, 2010

Rasa " Pengorbanan"

Entah mengapa, dia suka sekali aroma bandara. Terutama bandara internasional. Aroma penjuru dunia terhirup disana. Ya, tempat dimana semua jalur penerbangan dunia bertemu. Belum ada jawabannya kecuali senyum tipis yang muncul di wajahnya, Saat ini pukul 19.11 WIB, di bandara Soeta.

Saturday, November 13, 2010

Kelebayan Yang Memabukkan

Lebay. Itulah hal yang ia rasakan saat ini. Lebay, istilah remaja yang sudah menjadi istilah kita semua untuk menggambarkan level "berlebihan" terhadap sesuatu. Bila kita menanggapi sebuah masalah dengan sangat berapi-api, mendayu-dayu, tidak proporsional, kita akan disebut lebay. Maka baginya, kehebohan kasus komentar Marzuki Alie atas bencana Mentawai, kehebohan salaman Tifatul Sembiring juga telah memasuki taraf "lebay". Sekedar berdebat, mengolok-olok, menghujat, memojokkan untuk kepengtingan masing-masing tanpa ada solusi. Begitulah kelebayan yang dia rasakan. He, mungkin dia sedang lebay juga.

Ya, bisa jadi dia memang sedang lebay. Lebay menghayati secangkir kopinya hingga rasa maknyus itu menjalari seluruh syaraf-syaraf tubuhnya dan memabukkan. Mau, melihat kelebayannya silahkan lihat disni, juga disini.

Mohon maaf bila kelebayannya menonjok tembok lebay anda. Salam lebay untuk anda semua. Hari sabtu dan minggu, mari kita gunakan untuk berlebay-lebay ria dengan keluarga. Selamat berakhir pekan. Salam.

Friday, November 12, 2010

Tanpa Kata, Hanya Secangkir Kopi Dalam Gelap

Secangkir kopi , cuma itu temannya. Saat itu lampu sengaja ia padamkan. Kegelapan terbentuk menyelubungi suasana. Diam yang ritmis, tapi hangat. Suasana yang pada saat-saat tertentu ia suka. Tanpa kata, hanya secangkir kopi dalam gelap. Ia nikmati suasana itu dengan penuh semangat dan mendalam sebagaimana kedalaman rasa tiap regukan kopinya.

Di dinding, cahaya dini hari yang menyingsing tiba pada selapis kaca. Cahaya yang membentuk keremangan di wajahnya. Sebelah tangannya mengangkat cangkir kopi, matanya terpejam. Maka ketika mereguk secangkir kopi dengan mata terpejam itulah sekelebatan pikirang muncul di benaknya.

"Tak bisakah dunia berhenti sejenak saja dari gunjang-ganjing yang menyesakkan ini ?"

Tentu saja tak ada jawaban untuk monolog dalam keremangan itu. Sebab hanya ada dia dan secangkir kopi dalam gelap.

Hari makin menyingsing. Ketika cahaya telah cukup menerangi, ia melihat secangkir kopinya telah tandas. Pada cangkir kopi yang berisi selapisan ampas itu, entah mengapa ia seperti melihat sebuah seringai. Rupanya seringai si Angin Selatan yang bergumam,

"Santailah sedikit kawan. Pandanglah dunia dengan senyum di jiwa, maka dunia akan selalu terlihat indah dan damai...".

Tak ada jawaban. Hanya desisan, "Pret...!". He, gumaman yang tak jelas.

Cangkir kopi dalam gelap yang telah tandas itu diam-diam lalu tersenyum. Begitulah dunia tanpa kata dengan secangkir kopi dalam gelap miliknya. Dunia yang cuma bergumam. Selamat pagi dunia, katanya.

Monday, November 8, 2010

Hujan Tampar Wajahku

Hujan tampar wajahku. Duniaku melesat meski ragu. Di sudut itu seorang anak kecil bermata sayu sedang menggigil, giginya gemeretuk. Di televisi, manusia-manusia berbalut debu merapi terlihat kuyu. Berita evakuasi korban letusan merapi yang mengharu biru. Tak cukup itu, pemakaman masal korban merapi hilangkan bengalku. Hujan ini tak hanya tampar wajahku, juga tampar jiwaku. Hujan ini, buatku pilu................

Sunday, November 7, 2010

Nole Me Tangere

Ya Nole Me Tangere. Kata-kata itu tentu saja bukan mantera. Itu kata-kata milik Jose Rizal, sesorang yang pernah dikisahkan guru sejarah saya sebagai pahlawan dari Philiphina. Nole me tangere, kata guru saya artinya adalah "Jangan ganggu saya". Konon kata-kata itu memiliki kekuatan dahsyat saat muncul di zamannya. Ya, ia tak sekedar untaian kata-kata melainkan sebuah pesan moral melawan penjajah ketika itu.

Entah kenapa kata-kata itu muncul di benak saya. Tak ada alasan yang jelas. Hm, ya...ya...ya, mungkin hanya kebosanan saya pada suasana usik-mengusik yang tertangkap tanpa sengaja oleh saya. Di sebuah komunitas, saya menemukan aroma tersebut. Orang mengusik orang lain entah memang ingin mengkritisi atau sekedar ingin tenar. Sebagai contoh, mengusik fiksi di kompasiana sebagai sampah. Mengusik sang pengusik. Mengusik seseorang bernama Agnes Davonar. Dan lain sebagainya. Akhirnya....., jengah saya tiba.

Meskipun, jujur saja, di satu sisi usikkan itu membukakan mata saya. Saya yang selama ini hanya menulis tanpa menoleh ke tulisan orang lain jadi tau beberapa nama. Saya jadi tau siapa itu Agnes Davonar. Ya, sebuah pengusikkan pada dasarnya akan melahirkan sikap kritis. Tapi, di sisi lain, saya merasa tersesat. Tersesat pada lorong pengap. Rasanya jiwa saya jadi kerdil kalau saya menghirup aroma pengusikkan itu. Entahlah.

Tidak sehat buat saya bila saya harus sibuk mengusik orang lain. Tidak sehat buat jiwa saya bila saya sibuk mengkritisi karya orang lain tapi lengah terhadap karya saya sendiri. Lebih baik saya mengkritisi diri saya sendiri. Bukankah tiap orang punya kelemahan dan kekurangan. Jadi, kenapa harus mengusik orang lain.

Sekedar ajakan saja, marilah setiap kita berkarya sebaik-baiknya tanpa harus mengusik orang lain. Mencamkan pada diri bahwa orang lain punya eksistensi diri yang harus kita hormati. Jadi, mari menyadari bahwa setiap orang pada dasarnya tak ingin diganggu. Seperti pesan Jose Rizal, "Nole me tangere". Tentu saja ini cuma pendapat pribadi. Bila ada orang lain yang begitu bersemangat mengusik orang lain, pasti itu haknya. Karenanya dunia ini jadi penuh warna. Salam.

Saturday, November 6, 2010

Jus Mangga Ishoma


Bagi pekerja kecil seperti saya, Ishoma (Istirahat Makan dan Sholat) bisa juga digunakan untuk selingan membuka blog. Ya, blogging kalau sedang mood dan tidak begitu sibuk bisa saya lakukan setelah sholat Johor. Segelas jus mangga adalah pilihan lumayan buat saya. Bisa menurunkan rasa sebah setelah makan siang. Menyegarkan, juga meringankan langkah saat blogging. Jus mangga ishoma yang segar.

Maka ketika melesat dengan segelas jus mangga ishoma, cukup banyak hal yang saya temui. Ide-ide lucu, mendatangkan ispirasi lalu bisa jadi kisah untuk diposting. Jus mangga ishoma, jelas lumayan segar dan mendatangkan ide. Sesekali berselingkuh dengan jus mangga, semoga tidak membuat secangkir kopi saya jadi cemburu, hehe.

Anda suka jus mangga....? Tergantung selera ya. Suka atau tidak, kalau mau bolehlah membaca hasil perlesatan saya dengan segelas jus mangga ishoma, dalam kisah "Perempuan Dengan Segelas Jus Mangga". Selamat berkahir pekan. Semoga suasana menyenangkan bisa anda nikmati bersama keluarga. Saalam......

Tuesday, November 2, 2010

Penulis, Bukan Pilihan Untuk Para Pemalas

Tiba-tiba saja sebuah pertanyaan yang telah lama mengendap di kepala muncul kembali. Apakah (menjadi) penulis adalah pilihan hidup para pemalas...? He, tentu saja saya menjawab tegas, tidak. Penulis, bukan pilihan untuk para pemalas. Bila seorang pemalas ingin menjadi penulis, pasti "Kemalasan"nya akan menghambat pencapaian cita-cita. Maka mengapakah profesi Penulis diidamkan oleh sebagian besar para pemalas...? Nah, kalau ini mungkin sedikit mendekati kebenaran.

Pikiran di atas memang tidak muncul tiba-tiba. Beberapa orang di sekitar saya sering mengatakan keinginan mereka ingin menjadi seorang penulis. Ketika saya perhatikan, kelihatannya itu hanya sebuah cara untuk menutupi kekurangan. Mungkin juga sebuah cara untuk menutupi sebuah kemalasan, tiidak bisa bekerjasama dengan orang lain. Sikap negatif yang selalu berusaha mencari kambing hitam. Cenderung selalu menyalahkan orang lain dan menyalahkan kondisi bila menemui hal yang tidak menyenangkan. Maka bayangkanlah bila orang-orang berpikiran negatif dan pemalas seperti itu bercita-cita menjadi penulis. Bagaimanakah hasilnya ? Bagaimanakah mutu tulisannya...!?

Bagi saya (profesi) penulis (selain membutuhkan kejujuran hati nurani), pasti membutuhkan perjuangan dan kerja keras. Bila menjadi penulis adalah cara hidup, sebuah profesi (bukan sekedar menulis di blog di waktu senggang seperti saya) maka harus dilakukan dengan sebuah kesungguhan dan kejujuran pada hati nurani. Sebab pikiran negatif akan menghasilkan sesuatu yang berjiwa negatif pula (pasti tidak menarik membacanya). Dan kemalasan akan menjauhkan rezeki. Kemalasan akan menimbulkan ketumpulan pikiran. Menjadi penulis mungkin memang lebih santai, tidak terikat waktu. tetap saja harus rajin mengasah kekuatan "kepenulisannya". Kalau tidur saja, mungkin tulisannya kurang berjiwa, hambar, dan jelas tidak sejiwa dengan situasi yang ada.

Kawan, tulisan ini hanya uneg-uneg saja dan tidak menggenaralisir. Jelas, hanya cocok untuk kasus yang saya temui. Ya, saya yang sedang sedih melihat orang-orang berjiwa kerdil di sekitar saya yang menatap dunia dengan penuh kesombongan. Berhenti bekerja hanya karena sikap keras yang tidak bisa bekerjasama dengan orang lain, juga rasa malas. Lalu dengan santainya berkata"Ingin menjadi penulis saja". Hiks, betapa nelangsanya saya mendengar pernnyataan itu.

Monday, November 1, 2010

Selamat Datang "Sweet November"


Tulisan ini jelas tak berkaitan dengan film "Sweet November" yang diperankan Keanu Reeves. Ini hanya tentang manisnya bulan November dalam kenangan seseorang. November yang baginya terasa indah. Tidak hanya hari kelahiran, juga karena hari pernikahannya digelar di bulan November.

Maka ketika hari ini menyapanya, tanpa dinyana ia disambut dengan sebuah pemandangan indah. Di halamannya mekar 3 kuntum mawar hingga ia berdesah "Kenapa hari ini begitu manis...?". Jawabannya, karena sudah tiba di november. November yang manis, sweet november.

Ya, selamat datang November. Semoga kemanisan itu merahmati seru sekalian alam, desahnya seraya bangkit lalu tersenyum. Meski masih berkutat dengan hari-hari yang terasa berat di 2 (dua) bulan menjelang akhir tahun, meski berita duka menyeruak dari berbagai pelosok negeri, ia begitu bersemangat. Dalam senyumnya ia mendesis, "Kusambut kau November dengan segenap jiwa...". Hiks, betapa melankolisnya.

Sunday, October 31, 2010

Kedai Kopi Starbuck Ala Newsoul


Secangkir kopi selalu mantap dan mengalirkan ide bagi penggemar setianya. Begitupun bagi saya. Maka salahkanlah sakit perut yang tadi pagi tiba, bila ide ini muncul. Salahkan pula toilet saya yang ketika saya duduk disana selalu mendatangkan berjuta ide. Begitulah ide ini bermula. Setelah minum kopi, sudah otomatis (saya pasti) ke toilet. Saat sedang melamun disana, tiba-tiba muncul ide ingin mendirikan kedai kopi Starbuck ala Newsoul.

Ya, kedai kopi seperti Starbuck dengan penyesuaian-penyusuaian sebagaimana selera saya. Kedai kopi sederhana dimana orang bisa memesan berbagai jenis kopi kegemaran mereka dengan suasana santai. Boleh berlama-lama disana, sambil membaca atau sambil menulis. Ada perpustakaan. Ada jaringan internet. Tentu saja, disediakan pula toilet yang nyaman dan bersih.

He, entah kapan sejumput ide ini menjadi kenyataan. Mungkin harus menunggu saya pensiun. Alamak, masih lama. Rasanya sudah tidak sabar lagi. Ada yang punya ide tentang kedai kopi ala Newsoul ini....?

Saturday, October 30, 2010

Tanggal Berapakah Hari Ini....?


Dia terbangun. Tadi pagi, ketika bau nasi goreng tiba di penciumannya. Matanya mengerjab. Iapun bangkit sambil memeriksa tubuhnya, he, masih lengkap. Lalu menghampiri kaca, wajahnya masih sama. Mematikan lampu, kemudian membuka jendela. Matahari sudah menyambutnya. Tiba-tiba, ia baru merasakan kepalanya pusing. Ia merebahkan dirinya kembali di tempat tidur sambil bergumam, tanggal berapakah hari ini....?

Hm, betapa sebuah kelelahan dan kepusingan bisa membuat seseorang lupa tanggal dan hari. Begitulah. Ia teringat, sampai pukul enam sore kemarin ia masih di kantor. Menunggu bossnya, hendak mendiskusikan rencana roadshow ke lapangan. Siangnya baru selesai menggelar rapat teknis draft akhir dari pihak konsultant. Sambil menunggu sang boss, ia tersedak di kursi. Di punggungnya angin terasa mengumpul sangat banyak membuat tubuhnya menggigil. Tak ada yang diingatnya lagi selain pulang ke rumah setelah adzan maghrib berkumandang.

Sesampainya di rumah, makan. Lalu masuk ke kamar dan terjatuh di tempat tidur hingga bau nasi goreng membangunkannya. Kepalanya masih dipenuhi hal yang sama, tanggal berapakah hari ini....? Rasanya ingin akhir bulan ini berakhir saja. Sebab disana terjadwal beberapa hal yang memusingkan kepalanya. Ah, bulan-bulan terakhir yang berat. Segalanya berpacu dengan waktu.

Tak lama, ponselnya berdering. Nada khas panggilan dari seseorang,
"Kok belum datang..?"
"Memangnya kenapa..." jawabnya sambil meringis
"Jam 8 kan pernikahan Ema adikku, gimana sih...."
"Memangnya, tanggal berapa hari ini...", jawabnya lagi. Masih sambil menahan sakit kepalanya.

Tak ada jawaban. Panggilan ponsel itu ditutup sepihak dengan suara cukup tergesa. Lupa tanggal yang menjengkelkan bagi si penelpon rupanya. Maka siapakah yang bisa menjawab tanyanya tadi, tanggal berapakah hari ini.....?

Gambar diambil dari sini

Wednesday, October 27, 2010

Merapi dan Mbah Maridjan Penuhi Janji


Mbah Marijan sang juru kunci tak bergeming ketika orang-orang menyarankannya untuk mengungsi saat "Wedhus Gembel" Merapi mulai meletup. Sebab janji telah terpatri. Sebagaimana janji Merapi pada Mbah Marijan Sang Juru Kunci bahwa di letusan kemarin (Selasa, 26 Oktober 2010) keduanya akan bersama ke haribaanNya. Merapi tiba pada janji yang telah tercatat pada catataNya akan meletus pada tanggal tersebut. Begitu pula Mbah Marijan, ia tiba pada janji untuk menghadapNya. Janji bahwa setelah hari letusan itu ia tak akan lagi menjaga Merapi.

Maka siapakah yang bisa menolak janji padaNya....!? Tak ada. Janji Merapi telah tiba. Semoga janji Merapi berupa musibah letusan ini bisa memperkuat persaudaraan kita. Mari berdoa agar (alm.) Mbah Marijan dan semua handai taulan kita yang menjadi korban letusan Merapi diterima disiNya. Mari kibarkan duka untuk Merapi dan Mbah Marijan.


Foto diambil dari sini

Saturday, October 23, 2010

Etika dan Pengentasan Kemiskinan Ala Daun dan Semut

Mbah Darmo terkekeh sambil melinting rokok kegemarannya. Baru saja ia keluar dari rumahnya setelah meninggalkan pesawat televisi. Ia reflek menduduki bangku kayu, di bawah pohon jambu. Sembari ia terkekeh, ia mengepulkan asap rokok membentuk huruf "O" yang jadi keahliannya sejak muda. Di dalam rumah, televisi masih menayangkan berita tentang rencana studi banding para wakil rakyat ke Athena, kota Zeus dan Pilatus. Beberapa hari sebelumnya, iapun melakukan hal yang sama. Meninggalkan televisi sambil terkekeh saat tayangan berita studi banding pemberantasan kemiskinan ke Amerika.

Kenapakah mbah Darmo begitu...!? tak jelas jawabannya. Laki-laki tua itu tampak masih asyik dengan rokoknya. Sesekali angin bertiup menggetarkan kulit keriputnya. Tak lama, beberapa helai daun (seperti ada yang menyuruhnya) jatuh ke tanah. Gerakannya ritmis dan lembut. Tanpa suara, lalu berada di ujung kaki mbah Darmo.

Mbah Darmo, mematikan asap rokoknya. Spontan ia meraih si daun jatuh dan memandanginya begitu rupa. Ia tertegun. Saat kepalanya mendongak pada batang jambu di atasnya, ia dibuat terkesima. Serombongan semut berjalan beringan. Cepat, sigap dan kompak. Mbah Darmo kembali tertegun. Entah apa yang ia pikirkan.

Daun begitu beretika. Santun dan penuh kasih. Tanpa banyak bicara telah menyumbangkan nafas kehidupan dengan oksigen fotosintesisnya. Tak banyak menuntutu. Berjuang bagi kehidupan hingga masa gugurnya tiba, nyaris tanpa suara, Bukankah itu sangat beretika. Sementara para semut yang tangguh dan kompak telah bertahun-tahun berjuang untuk kesejahteraan kaumnya. Tanpa keributan apalagi gontok-gontokkan. Hidup saling melengkapi dan bahu membahu hingga selalu ada rumah dan pangan yang cukup buat mereka. Bukankah mereka telah mampu berjuang memerangi kemiskinan bagi kaumnya. Maka, mengapa manusia repot-repot berwacana belajar etika ke Athena. Belajar pengentasan kemiskinan ke Amerika. Bukankah pembelajaran itu ada pada dirinya sendiri. Ada di dekat mereka, kalau saja mereka membuka mata.

Begitulah gumaman mbah Darmo sambil terkekeh lagi. Angin yang tadi berhembus sepoi pada mbah Darmo ikut terkekeh. Kalau tidak begitu, tidak seru mbah, bisisknya. Kapan lagi jalan-jalan gratis ke luar Negeri, hahaha.

Wednesday, October 20, 2010

Tersesat

Rasanya ia baru saja memasuki rumahnya (setelah terseok-seok pulang dari tugas lapangan). Ya rumahnya. Maka mengapakah ia merasa tersesat !? Ia pandangi sudut rumahnya, masih rumah yang sama. Ia pandangi kamarnya, masih kamar yang sama. Ia pandangi wajahnya, masih wajah yang sama. Maka mengapakah ia merasa tersesat ...!?

Sompret, kampret, bangsat, ia mengumpat. Dunia yang ia diami selama ini tetap dunia yang sama. Hanya saja, kekacauan semakin bertambah. Orang hidup dengan kekacauan yang berusaha ditularkan kepada orang lain. Kebencian yang disebarkan dan ditebarkan.

Ia terhenyak. Begitulah kesesakkan yang melanda jiwa ketika menemukan hal yang menjengkelkan. Link menjengkelkan yang diberikan temannya masih saja ada, bahkan bertambah. Maka, sekali lagi ia merasa tersesat.

Sunday, October 17, 2010

Atta Dan Wina, Ketika Kemayaan Menggamit Mahligai Kenyataan


Sore tengah bersiap menjadi malam. Di batasnya ada senja yang menjingga. Dua pasang anak manusia saling pandang dengan tersenyum samar. Mahligai keduanya siap menyamudra. Atta dan Wina, dua hati bertaut di dunia maya.

Undangan mereka sudah saya terima. Sayang, hajat baik itu tak bisa dipenuhi, maka inilah pengganti diri atas undangan tersebut. Anggap saja kado dari sesama sahabat. Sebagaimana janji saya dengan seorang teman, Fanny Fredlina.

Begitulah bila sebuah kemayaan akhirnya menjadi mahligai nyata. Siapakah yang bisa meramalkan jalan hidup manusia !?. Tidak ada. Tapi, he, tetap saja pandangan saya tidak berubah. Kalian yang bercinta di dunia maya, berhati-hatilah. Jangan percaya pada sang maya sebelum melihat sang nyata. Atta dan Wina, hubungan mereka nyata. Awalnya saja mereka berkenalan di dunia maya. Keduanya serius. Silaturrahim mereka berlanjut di dunia nyata.

Senjapun tiba. Maka dengan diri diiringi senyum sang senja, dari lubuk hati terdalam saya mengucapkan: "Selamat menempuh hidup baru Bang Atta dan Wina". Kayuhlah bahtera. Menyamudralah dengan cinta. Doa kami menyertai kalian. Semoga menjadi keluarga yang sakinah mawaddah wa rohmah hingga akhir masa.

Friday, October 15, 2010

Batam, Diantara Semarak Pantun dan Wangi Parfum


O......Raja Ali Haji pahlawan Negeri Gurindam
kami datang meski tak bersampan
O..... Para Hang pahlawan tak gentar geram
kami datang meski hanya kelana berawan

Batam, angan saya menggelora diantara semarak pantun dan wangi parfum. Begitulah bila sebuah perhelatan digelar disana. Pantun mengalir deras bak aliran Sungai Panas dan Sekupang. Pembukaan rapat diselingi pantun. Acara diskusi diselingi pantun. Penyampaian pleno dimulai dengan pantun. Bahkan penutupan acarapun disemarakkan oleh pantun. Semuanya berpantun. Panitia berpantun. Peserta yang datang dari berbagai penjurupun (belajar) berpantun. Dan diantara gempita pantun, merebaklah wangi parfum. Katanya, Batam adalah sentra penjualan parfum cukup besar di tanah air.

Maka tanpa bisa dicegah, pantun asal jadi seketiba berkelebat di kepala saat saya tiba di Batam, salah satu sudut Provinsi Kepulauan Riau. Kota yang saya sebut negeri para Hang. Tak cukup dengan Hang Tuah, ada Hang Jebat, juga Hang Nadim. Sete;ah mendarat di bandara penuh sesak dengan taksi yang bermurah hati menawarkan harga damai dan melintasi kawasan sepi, akhirnya tiba di kawasan Nagoya, Sungai Jodoh. Entah kenapa namanya begitu.

Tak heran bila kota ini sering dijadikan tempat rapat skala nasional. Bukan saja karena semarak pantun dan parfum. Bukan saja karena kawasan Jodoh-Nagoya dipenuhi oleh hotel bintang tiga dan empat yang cukup representatif sebagai tempat pertemuan. Tapi, mungkin, lebih disebabkan karena lokasi kota Batam sangat strategis. Konon disukai oleh para wisata(wan) dinas yang tinggal menyebrang ke Negeri Singa (Singapura) untuk berbelanja. Tentu saja, tidak berlaku untuk saya yang harus segera pulang.

Adakah pantun kan semakin semerbak di negeri Para Hang itu dengan semakin merebaknya wangi parfum...? Entahlah. Semoga saja. Semoga parfum menjadikan "rasa" berpantun itu tetap ada dan menggelora. Semoga pantun tak kalah harum dan merona dibanding sang parfum.

O.....Batam Negeri Gurindam
kami menggolak rasa yang memantun
O.....Negeri Para Hang budaya nan memendam
kami pamit menggamit semerbak parfum

Gambar diambil dari sini

Sunday, October 10, 2010

Musim Telah Berganti


Buku-buku pelajaran sekolah, dulu mengatakan bahwa negeri kita adalah negeri dengan 2 musim. Musim kemarau dan musim hujan. Kini, he, rasanya tidak cocok lagi. Musim itu telah berganti. Bukan lagi musim hujan dan musim kemarau. Melainkan musim debat dan musim bencana. Ramai dan meriah tapi tanpa solusi. Menggelora di semua sudut hingga tiba bencana yang bertubi-tubi. Banjir, gempa bumi, aneka kecelekaan, aneka kehebohan dan kegegeran di banyak institusi.

Begitulah negeri dengan musim yang kini terasa asing. Negeri dengan aneka perngeyelan. Mereka yang berada di dalam sistem banyak salahnya. Sementara, yang diluar sistem banyak bacotnya. Yang di dalam sistem bertahan merasa benar dengan aneka argumen. Yang diluar sistem ngotot menyalahkan. Ketika masih di luar sistem begitu lantang memperotes ini dan itu. Saat sudah masuk ke dalam sistem, begitu tenangnya. Lupa pada perjuangan yang dulu dia teriakkan. Hal yang diingat cuma perjuangan untuk kaum/golongannya sendiri.

He, betapa musim yang aneh ini begitu memuakkan. Seperti memandang sekumpulan burung saat senja yang tiba-tiba terlihat bak sekawanan burung nazar. Entah kenapa. Ups, hanya lengguhan seseorang dari balik secangkir kopi. Selamat pagi.

Wednesday, October 6, 2010

Pagimu "i" Mendiksi




Bekumu jadi puisi

Jengahmu jadi diksi

Tatapanmu elegi

Renungmu tak bertepi



Hujan meriap sendiri

Kau yang sibak nurani meski ngeri

Dan senyummu tetap berseri

Hadapi, jangan lari

Monday, October 4, 2010

Ballada Laki-laki Pemberes Tali

Si Pemberes Tali. Begitulah orang-orang menjulukinya. Ia, kebetulan laki-laki, yang tak bisa diam bila melihat tali. Entah rafia, entah nylon, tali apa saja. Ia benci melihat benda itu tergeletak tidak menentu. Tidak saja karena membuat suasana berantakan. Juga karena sebuah rasa. Rasa jengah yang tak jelas. Entah mengapa, ia gelisah bila menemukan tali tergeletak. Dengan sekali hentakkan ia akan membereskannya. Ia akan menggulung tali itu dengan rapi lalu menyimpan sang tali di kotak. Begitulah.

Hingga sebuah hari tiba padanya. Hari dimana semua kotak penyimpanan tali miliknya telah terisi. Tak ada lagi tempat untuk menyimpan tali. Bak diturunkan dari langit, sore itu ia mememukan seutas tali (agak besar) tergeletak di lantai ruang makan. Nalurinya muncul. Serta merta diraihnya tali itu sambil ia mereka-reka akan dimanakah ia menyimpan si tali.

Otaknya berputar. Seakan ada yang membisiki, tali itu dibawanya keluar rumah. Ia berjalan ke halaman. Tepat di bawah pohon nangka tua langkahnya terhenti. Kepalanya mendongak ke atas sambil berbisik lirih "Tak ada tempat lagi, kuletakkan saja tali ini di dahan nangka...". Iapun mengambil tangga.

Laki-laki itu tampak sedikit sibuk. Srat, sret srut, pyar....buk...! Sebuah suara berdebam terdengar dengan keras. Si lelaki pemberes tali terkapar di lantai dengan lidah menjulur. Rupanya sebelum menggantungkan talinya ke dahan nangka, ia mengikatkan tali itu pada lehernya. Itulah hari dimana ia merasa dunia begitu dungu. Hari dimana ia merasa dirinya dungu bak tali yang sering dibereskannya. Semua yang dilakukannya terasa salah. Segala yang dilihatnya terasa janggal. Maka terjawablah sudah mengapa selama ini ia selalu gelisah bila melihat tali. Mungkin karena takdirnya berakhir diujung seutas tali. Oh...., misteri kehidupan.

Sunday, October 3, 2010

PesanNya di Lengkung Langit



Tengah ia bersiap akan keluar rumah, tiba-tiba saja tatapannya tertuju di lengkung langit. Lengkung langit yang tak lagi biru melainkan berawan gelap. Mendung. Pertanda akan hujankah ? Entahlah. Cuaca memang tidak bisa diduga. Setengah jam sebelumnya langit sangat terang benderang.

Sambil sedikit menggerutu, iapun mereka-reka langkah. Mau tidak mau, antisipasi menghadapi hujan deras yang akan turun harus dilakukan. Ia lalu mengangkat jemuran di belakang rumah. Memasukkan beberapa pot tanaman hias indoor yang tadi ia keluarkan. Menelpon Dewi, sahabatnya, kalau ia tidak jadi pergi arisan kelompok (perempuan kinnyis-kinyis, he, begitulah ia menyebutnya) yang selalu mengajaknya bergabung arisan. Apa lagi.....? Ah, membuka tutup gentong di bawah talang air. Lumayan untuk menyiram tanamannya pada hari-hari selanjutnya.

Hujanpun turun bak tangisan langit. Lalu mereda dengan sendirinya hingga ia terlupa. Beberapa jam setelah itu, ketika ia sedang menyeduh secangkir kopi kegemarannya, hp yang ia letakkan di meja berdering.

"Ya halo......"
"Apa, Dewi kecelakaan....."
"Tempat arisan kebakaran karena konslet listrik........"

Ia melunglai. Pandangannya gelap sejenak. Setelah beberapa puluh menit barulah pandangannya terang. Sambil menyesap kopi untuk menenangkan diri, ia teringat bahwa tadinya ia pun berencana ikut dalam acara arisan tersebut. Untunglah tidak jadi. Ternyata, langit mendung yang ditatapnya dengan menggerutu itu telah menyelamatkannya dari sebuah musibah. Betapa pesaNya menyebar dalam banyak hikmah dan dimana saja. Bahkan di lengkung langit. Hidup yang penuh misteri. Begitulah ia berbisik sambil bersiap ke rumah sakit membesuk sahabatnya tadi.

Friday, October 1, 2010

Selamat Datang Oktober


Oktober kita tiba, sebuah suara tiba-tiba saja menyergap benaknya. Ya, oktober tiba. Bulan penuh kisah bagi banyak orang. Bulan indah. Bulan ceria. Apalagi, hm....bulan ketika Bejo melamarnya, hehe. Ya, selamat datang oktober. Mari sambut sang Oktober, serunya gembira. Sayang, tak ada apapun yang layak ia persembahkan kecuali secangkir kopi. Kopi yang dibuatnya ketika menyibak selimut. Hm, selimut yang disibak ketika bangkit dari tempat tidur setelah flu yang menyerangnya.

Oktober, mari jalin kisah indah lagi sebagaimana kisah manis yang menggetarkan langit. Sebagaimana kisah sendu yang uraikan air mata sendu nan bahagia jiwa-jiwa yang lega. Dan selama secangkir kopi selalu hangat dengan rasa semriwing yang menggoda, sang Oktober akan selalu hangat dan indah. Semoga. Salam.

Tuesday, September 28, 2010

Revolusi Cawan-cawan Kopi


Dini hari tadi, ketika terdengar kokok pertama ayam jantan dari kompleks sebelah seorang laki-laki tertegun menatap cawan kopinya. Cawan-cawan kopi yang entah kenapa seperti memberinya senyuman. Seperti memompa semangatnya hingga ia mereguk kopinya lagi dan lagi. Ya, telah bercawan-cawan ia mereguk cairan hitam kegemarannya itu ditengah deru angin dan limpahan hujan. Matanya mengerjab. Ia tersenyum. Apakah setara nilai "melek" karena bercawan-cawan kopi dengan "kepuasan jiwa" yang didapatnya ? Entahlah.

Di samping kanan cawan-cawan kopinya tergeletak laptop yang masih hangat, tanda belum lama digunakan. Di dalam laptop itu tersimpan beberapa file tulisan yang baru saja ditulisnya. Tulisan disebabkan revolusi. Revolusi cawan-cawan kopi, demikian ia menyebutnya. Disebutnya begitu karena cawan-cawan kopi itulah yang merevolusikan jiwanya.

Ya, bila jiwa meronta akan ketimpangan yang ada, hanya ada satu kata yang tepat "Lawan". Bila realitas kehidupan sisakan kekacauan di masyarakat, hanya ada satu kata "Lawan!". Iapun melawan. Ia meronta. Ia berevolusi merontokkan geramnya meski hanya berupa tulisan ditemani bercawan-cawan kopi.

Semoga ia tidak tersesat, begitulah bisik diam-diam beberapa cawan kopi yang memandanginya dengan sendu. Dan lelaki itu tertunduk dengan mata terkatup. Ketika orang-orang bergegas menuju tempat kerja, lelaki itu ambruk. Kantuk akhirnya menyerangnya. Adakah revolusi cawan-cawan kopinya akan hasilkan perubahan sebagaimana yang diinginkannya ....? He, entahlah kawan. Mungkin tergantung pada sisi mana kita memandangnya.

Friday, September 24, 2010

Tentang Istana Yang Sombong dan Tuli

Dia menunduk. Tangan kanannya menggenggam secangkir kopi. Kopi pagi yang isinya tinggal setengah. Tak lama, ia mengangangkat wajah. Matanya tampak berkilat-kilat. Kilatan yang biasanya adalah pertanda, ia sedang berjelaga. Berjelaga, istilahnya sendiri yang mungkin bisa diartikan sedang geram akan sesuatu. Ya, sesuatu telah membuat jiwanya meronta. Meronta karena himpitan aneka huru-hara di Negeri My Oh My tercintanya. Sesuatu tentang Istana Yang Sombong dan Tuli.

Dengan tidak berpanjang kata, inilah segenap jelaganya tentang Istana Yang sombong dan Tuli itu. Klik saja bila berkenan kawan. Saya menyingkir dulu. Biasa, melanjutkan aktivitas pagi ini. Sebab dunia terus berputar. Putaran mencari sesuap nasi dan sedikit kebarokahan. Selamat pagi semua.

Sunday, September 19, 2010

Newsoul Tentang "Chicken Soup for The Soul"



Rasanya sejak tahun 90'an seri tulisan Chicken Soup sudah banyak beredar. Tetap saja, saya tidak terlalu akrab dengan jenis tulisan ini. Saya tidak begitu menggemari jenis tulisan Chicken Soup, meski mungkin pernah membacanya. Maka ketika seorang teman, Anazkia, mengajak menulis buku keroyokan dengan jenis tulisan chicken Soup, he saya jadi nyengir kuda. Bingung. Artinya, saya harus mulai mengakrabkan diri dengan jauh jenis tulisan ini.

Tidak semua tulisan yang menggugah atau yang bersifat inspirasi bisa digolongkan sebagai jenis Chicken Soup For The Soul. Seri tulisan ini memiliki lisensi khusus. Rasanya seperti itu. Daripada dilanda penasaran sayapun ke toko buku mencari buku dengan kategori Chicken Soup ini. Tentu saja mudah sekali didapat (Seperti gambar di atas). Di halaman awal saya disambut oleh Puisi Maya Angelou berjudul "Wanita Hebat". Puisi yang membuat saya mual, entah kenapa. Saya buka isinya lebih lanjut. Beberapa tulisan saya baca selintas. Hehe, bahasanya terlalu mendayu-dayu. Buku itu akhirnya saya letakkan. Insyaallah lain waktu akan saya baca.

Kenapa saya mual ? Apa yang salah dengan buku yang saya baca ini ? Apa yang salah dengan pengertian saya tentang "Chicken Soup For The Soul" selama ini. Segera saja saya searching ke wikipedia. Chicken Soup for the Soul adalah sebuah seri buku, biasanya menampilkan kumpulan cerita inspirasional padat dan pendek dan essai motivasi. Lisensi seri ini dikelola oleh Jack Canfield dan Mark Victor Hansen. Disebut Chicken Soup For The Soul, karena jenis tulisan ini ditujukan sebagai penggugah jiwa. Sebagaimana sup ayam (chicken soup) yang sangat baik dan dibutuhkan bagi mereka yang sedang lemah/sakit.

Ya, tidak ada yang salah dengan seri Chicken Soup For The Soul, kecuali gaya tulisannya yang terlalu mendayu-dayu buat saya. Asli, ini karena selera saya memang buruk, haha. Hanya saja secara secara tidak saya sadari mungkin tulisan saya, meski berbeda gayanya, sudah mengarah ke jenis tulisan Chicken Soup For The Soul. Mungkin beberapa teman lain telah sering pula membuat jenis tulisan Chicken Soup For The Soul dengan gayanya masing-masing.

Begitulah sedikit ulasan tentang Chicken Soup For The Soul. Siapapun bisa membuat jenis tulisan ini dengan gayanya masing-masing. Saya, tentu saja ala "Newsoul" dan tidak dengan bahasa yang mendayu-dayu. Sekarang, cari inspirasi dulu ah untuk pesanan Anazkia.

Friday, September 17, 2010

Sajak Pagi Para Ulat


Serupa deru kemarau, dedahan kuranggas
Seperti rintik hujan dedaunan kutebas
Setiupan aku membuatku terhempas
Sejak itu aku bebas lepas

Bila dedaunan tak lagi bersisa
maka kuhempaskan diri di bilah lepas.
tergolek disini hingga kupahami makna bebas lepas
dan kau mentari pagi menerangi dengan sinar membias.

Tuesday, September 14, 2010

Doa Setangkai Ilalang Jalang



Di ketinggian menatap matahari terbenam, setangkai ilalang sedang tersenyum. Senyum lirih dari bisikan paling lirih di muka bumi. Senyum yang tak sekedar senyum. Ia sebuah doa. Doa jalang dari ilalang jalang.

"Tuhan, hentikkan ankara para jalang. Sebab telah banyak ankara ditumpahkan para jalang yang tersesat di muka bumi ini. Ada pendeta berniat membakar Al Qur'an. Ada Oknum yang dianggap muslim menusuk seorang pendeta dan mengganggu peribadatan sebuah gereja. Demi kedamaian di bumimu yang semakin tua ini, hentikan mereka Tuhan....."

Itulah doa paling jalang di muka bumi ini. Doa dari setangkai ilalang jalang. Tapi ilalang jalang itu, mungkin lebih bernyali dibanding para pengecut yang menjadi pemimpin di muka bumi ini. Semoga Dia mengabulkan doa setangkai ilalang jalang itu, amin.

Sunday, September 12, 2010

Serenade Sri Gemurah

Ketika bulan Syawal sudah tanggal tiga, dia terlihat muram. Wajahnya kosong. Tatapannya hampa walau ia selalu tersenyum. Diam-diam daun jambu yang bayangannya jatuh di kolam menatapnya tanpa berkedip. Suasana sepi meski tak mencekam. Sri Gemurah, nama asal saja yang diberikan si daun jambu, sedang bertekuk lutut di dalam kamarnya.

Sri Gemurah gundah. Usia sudah meninggi, idaman hati belum juga pasti. Sri Gemurah menghela nafas jengah. Tak berapa lama, Sri Gemurah menarik tas sandang mungilnya. Tepat ketika "Ping" pesan ponsel Ontarionya bergema. Teman-temannya mengajak melatih pita suara di rumah karaoke langganan. Senyumnya segera mengembang. Senyum bahagiakah ? Entahlah.

Aduhai, Sri Gemurah dadanya bergemuruh. Mengapakah kau begitu rumit, tanya si daun jambu. Akankah terus kau kibarkan targetmu atas sang idaman. Lelaki tampan, kaya, dan lembut....??? Bukankah sang idaman sejatinya tak bisa ditarget serupa itu. Berdoa sajalah agar Dia memilihkan orang yang tepat untuk berada di sisimu. Berdoalah yang ikhlas. Berlakulah tulus dan Ikhlas. Dengan begitu langkahmu akan menjadi lebih ringan dan kau akan terlihat bersahaja.

Begitulah nyanyi sunyi si daun jambu. He, entah kenapa terdengar bak serenade malam untuk Sri Gemurah. Apakah Sri Gemurah paham makna "Laku tulus dan bersahaja"......??? Sekali lagi, entahlah.

Thursday, September 9, 2010

Menyongsong Sang Fitri


Ufuk timur masih gelap di tempat saya berdiri. Tapi sebentar lagi matahari akan menyembul dari balik pepohonan. Hari yang bergerak sangat cepat. Tidak terasa, besok Sang Fitri kan tiba. Meski kemarin kantor memberi dispensasi boleh pulang siang tadi, tetap saja ini hari terasa bak melompat. Seakan waktu yang ada tak cukup untuk mempersiapkan segala sesuatunya. Urusan yang itu belum beres, urusan yang lain sudah menanti. Beginilah hari-hari menjelang kedatangan Sang fitri.

Sang Fitri sebentar lagi kan tiba. Anak-anak sudah girang dengan persiapan baju barunya. Para ibu, sibuk berkutat dengan segala persiapan menyongsong Sang Fitri ini. Kue kering, meski hanya seadanya tetap perlu dipersiapkan. Saya, he, cukup beli saja. Selain itu, kue basah (maksuba, lapis legit, dan delapan jam) juga perlu dibuat. Nah yang ini saya kami buat sendiri, minta tolong adik saya. Ketika kue kering sudah tersusun rapi di toples barulah memikirkan kue basahnya. Cukup menyibukkan.

Maka jangan heran bila fisik semakin lelah. Untunglah masih bisa diatur agar persiapannya sederhana dan praktis. Biasanya saya mulai sangat sibuk mulai hari ke-3 menjelang kedatangan Sang Fitri. Karena kue kering dan basah sudah selesai. Hari ini tinggal mempersiapkan ketupat dan aneka gulainya. Pempek, alhamdulillah, ada kakak saya yang mengantarkan pempek.

Begitulah kesibukan menyongsong kedatangan Sang Fitri. Semoga saat tiba Idul Fitri besok kami sekeluarga masih diberi kesehatan dan karunia. Begitu pula anda sekalian. Semoga Sang Fitri membawa kebarokahan buat kita semua. Selamat menyongsong Idul Fitri 1 Syawal 1431 H. Dari lubuk hati yang paling dalam, kami sekeluarga mengucapkan "Maaf lahir dan Bathin".

Tuesday, September 7, 2010

Seribu Tulisan

Seribu cinta membersit
Seribu kasih di mayapada
Seribu getaran langit
Seribu gelombang rasa

Ketika dihadapkan pada angka seribu (1.000) maka yang ada di benak saya adalah sebuah angka yang besar. Seribu malam, banyak malamnya. Seribu puisi, hm puisi yang banyak. Seribu bulan, hm malam Lailatul Qadar. Seribu, bukanlah sekedar angka. Ia sebuah pencapaian yang panjang.

Begitupun dengan makna seribu postingan. Sebuah proses yang menggetarkan dan memakan waktu yang lama. Itulah makna seribu postingan dari sahabat blogger kita, Sang Cerpenis, yang beberapa waktu lalu merayakan postingan ke-1000. Seribu (1.000) tulisan, hebat. Dan beliau memberikan kita award indah ini.



Terimaksih sobat. Semoga semangat seribu postingan itu menular hingga sayapun mampu mencapai seribu postingan. Bagi saya, jika saya mencapainya, semoga itu seribu tulisan yang melegakan hati nurani. Sudah berapakah tulisan anda ?

Sunday, September 5, 2010

Akankah Bang Toyib Pulang Lebaran ini ....???


Bila burung saja pulang ke sarang ketika senja sebelum lebaran, apalagi kita manusia. Maka, akankah Bang Toyib pulang lebaran ini....??? entahlah. Semoga saja. Tulisan ini adalah repost dari tulisan saya yang dimuat di Kompasiana (dengan judul yang sama, disini/ tanggal 18 Agustus 2010). Semoga bermanfaat.

Lebaran masih beberapa hari lagi, entah kenapa tiba-tiba saja saya teringat Bang Toyib. Padahal, he, kenal juga tidak. Ya, Bang Toyib, tokoh antah berantah perantau yang sudah 3 kali lebaran tidak pulang-pulang. Setiap kali bulan Ramadhan dan lebaran, nama Bang Totib begitu fenomenal.

Saya jadi ingat lagi lagunya,

“Tiga kali puasa, tiga kali lebaran, abang tak pulang-pulang sepucuk surat tak datang….”

Owh, lagu yang sungguh mendayu-dayu sekaligus lucu.

Seketika lagu itu mengingatkan saya juga pada lagu Kucing Garong dan Keong Racun. Begitulah tokoh antah berantah yang ada di lagu-lagu lucu kita. Siapapun mereka, marilah kita doakan agar Bang Toyib juga para kucing garong dan keong racun dapat merasakan lebaran yang syahdu bersama keluarga. Siapapun yang memiliki kemiripan karakter seperti mereka, baik laki-laki maupun perempuan, semoga ramadhan tahun ini bisa sedikit membukakan mati hati mereka. Semoga saja.

Akankah Bang Toyib pulang lebaran nanti ? Entahlah. Sangat tergantung bagaimana mereka meramadhankan jiwa mereka. Bila ramadhan kali ini mampu meramadhankan jiwa mereka, mungkin saja. Apapun jawabannya, mari kita berdoa agar para Bang Toyib pulang lebaran ini.


Saturday, September 4, 2010

Lingkaran Kehilangan dan Diketemukan

Sedang hujan disini. Lumayan deras bak tangisan langit. Hujan yang seperti membuka keinginan saya untuk menulis. Baiklah, selagi niat itu terbuka tentu saja ia harus dipenuhi. Tak memakan waktu lama, sayapun sudah di hadapan laptop butut ini.

Ini tentang sebuah lingkaran. Lingkaran Kehilangan dan diketemukan. Konon, begitulah perjalanan aneka dzat dan ma'rifat di dunia fana ini. Tidak ada sesuatu yang benar-benar hilang melainkan ia akan ditemukan, meski ditemukan oleh orang lain. Persis di sebuah titik hingga merangkai sebuah lingkaran sebagaimana siklus kehidupan.

Ketika kita kehilangan benda kesayangan kita, hakekatnya benda itu tidaklah hilang. Entah kapan dan dimana Ia akan ditemukan oleh orang lain. Bahkan ketika kita dengan sengaja menghilangkan sesuatu yang menjadi milik kita (dengan kata lain membuangnya), itupun tidak akan benar-benar hilang. Entah kapan dan dimana, akan ada yang memungutnya. Bukankah begitu kawan.

Maka hal yang harus kita ingat adalah jangan dengan sengaja membuat orang lain secara terpaksa kehilangan sesuatu yang menjadi miliknya. He, itu namanya merampok milik orang lain. Jangan memungut benda atau sesuatu yang masih menjadi milik orang lain, itu namanya mencuri. Tentu saja kehilangan yang seperti itu akan menimbulkan rasa tidak enak, tidak ikhlas pemiliknya. Hanya......, bila kita kembalikan lagi bahwa semua benda/dzat yang menjadi milik kita adalah titipanNya, maka siapapun tentu harus bersiap-siap bahwa sewaktu-waktu akan kehilangan hal/benda yang menjadi miliknya.

Inilah sedikit renungan singkat tentang lingkaran kehilangan dan diketemukan. Sebuah renungan yang sudah lama mengendap di kepala. Untunglah hujan ini membantu saya mengeluarkannya. Lumayan plong. Terimakasih pada hujan deras yang mengguyur kota saya hingga telah membukakan endapan renungan ini. Bila berkenan, silahkan pula direnungkan. Selamat sore kawan.

Friday, September 3, 2010

Lugu


Aku lugu, lebih dari yang kau kira
aku tak tau banyak hal yang sangat kau tau
tetap saja, aku tak ingin tau
sebab itulah aku lugu, bahkan lebih dari yang kukira

Begitulah keluguan beberapa tangkai ranting yang menjuntai ke udara. Baru saja ia bergesah pada saya. Ia mendengar banyak hal yang berputar di udara, tetap saja ia tak tau. Keluguan yang dibaluti kesombongankah ? Entahlah. Sepanjang yang saya tau keluguannya tetap saja indah. Sebab itu keluguan berbalutkan kebersahajaan. Sesuatu yang saya suka.

He, kadang rasanya ingin jadi lugu saja. Lugu untuk tidak tau apa-apa gonjang-gonjang di negeri tercinta. Dengan begitu tidak memusingkan kepala ini. Andai saja bisa. Dan bila ketenangan di negeri tercinta ini identik dengan keluguan, maka marilah kita melugu (menjadi lugu) saja, hehe. Selamat sore ranting lugu. Salam takzim saya padamu.

Wednesday, September 1, 2010

Secawan Kopi Panas dan Sepasang Kelopak Mata Berkantung

Aku secawan kopi panas
matamu berkantung
aku kepulkan asap
wajahmu kuyu

Cawanku menatapmu lekat
kau masih saja kuyu
ketika ku tandas tak bersisa
kelopak matamu masih berkantung

Telah beribu cawankah aku kau teguk hingga kelopak matamu berkantung...???
Telah beribu jelagakah menusuk pandangan hingga wajahmu kuyu...???
Telah berjuta nestapakah kau rasa hingga kau tampak tak ber"asa"...???
Telah latahkah dirimu dirimu hingga tak mampu tuk sekedar berjeda....???

Maaf, cuma pertanyaan bodoh dari si kopi panas yang tak paham makna mata berkantungmu.

Monday, August 30, 2010

Tiga Helai Daun dan Seutas Kabel Listrik di Langit Tsabitha


Langit biru dengan sapuan awan. Disana ada tiga helai daun yang bagi saya kadang terlihat bak tiga ekor burung, dan seutas kabel listrik. Itulah langit Tsabitha. Entah kenapa saya menyukai foto tiga helai daun dan kabel listrik di langit Tsabitha itu.

Ya, meski langit kita sama kita bisa melihat hal-hal berbeda di langit kita. Seperti saat ini, sambil menuliskan ini saya menatap langit. Karena menulis sambil menatap langit dari jendela kamar yang terkuak, saya melihat susunan genteng atap tetangga dan antene tv di langit. Kau, mungkin berbeda pula yang kau lihat.

Kembali ke langit Tsabitha, he saya jadi teringat apa yang saya suka ketika saya kecil dulu. Betapa sukanya menatap langit biru. Betapa sukanya saya menatap langit ketika burung-burung berterbangan. Apalagi memandang langit saat setelah hujan, biasanya ada pelangi yang indah. Meski langit di foto hasil jepretan Tsabitha tidak memiliki burung-burung yang berterbangan. Tidak juga berhiaskan pelangi, tetap saja saya suka.

Barulah saya sadar, saya suka nuansa yang dihadirkan tiga helai daun yang tidak sengaja terbidik oleh si kecil Tsabitha (tentu saja, namanya juga bidikan anak kecil). Sayapun suka nuansa yang dimunculkan kabel listrik semrawut yang tertangkap kamera itu. Ya, tiga helai daun yang kelihatan acuh tak acuh. Tak acuh karena harus bersaing dengan kabel listrik yang semrawut. Daun melambangkan kehidupan alamiah di muka bumi. Sedangkan kabel listrik melambangkan gencarnya pembangunan (infrastruktur) disana. Keduanya saling berlomba. Perlombaan yang bagaimanapun kita harapkan harmoni prosesnya. Semoga saja, meski kita harus berjuang keras mencapainya.

Itulah tentang tiga helai daun dan seutas kabel listrik di langit Tsabitha. Kau, bagaimana dengan langitmu disana ? Masihkah indah ? Masihkah kau suka...?

(Palembang, 29 Agustus 2010)

Friday, August 27, 2010

Ramadhan, Bulan Menuju CahayaNya


Simbur ke kiri
simbur ke kanan
Matahari pagi di tanganku
rembulan di kiriku
bulan purnama di mukaku
berangkatlah cahayaku nanti......

Begitulah sepengggal syair lama dalam adat leluhur, yang entah kenapa bagi saya agak terdengar magis. Entahlah. Mungkin karena ia menyebut cahaya. Sebagaimana cahaya di atas cahaya yang mutlak adalah milikNya. Cahaya kita berangkat padaNya. Juga berasal dariNya.

Cahaya seribu bulan adalah milik bulan penuh barokah, Ramadhan. Maka tentu saja wajar bila kita selalu mendambakan Ramadhan. Adalah hal yang wajar pula bila kita bersedih manakala harus berpisah dengan Ramadhan.

Ya, Ramadhan, bulan barokah dimana kita diberiNya kesempatan untuk melihat ke jiwa kita. Sebuah kesempatan dimana kita menempa diri, mensucikan jiwa. Kita diberi kesempatan yang hakekatnya adalah perjalanan menuju cahayaNya. Sebagaimana cahaya sebagai sinar yang menerangi dari kegelapan. Seandainya di bulan Ramadhan kita mampu menempa diri kita. Tempaan itu mampu membentuk diri kita menjadi mahluk yang "Ramhmatan lil 'alamin", tentu Ramadhan kita itu akan jadi penerang bagi seribu bulan lainnya. Begitulah para tetua kita mengajarkan. Maka mari manfaatkan Ramadhan. Mari jadikan malam Seribu Bulan ini sebagai ajang bagi kita menuju CahayaNya. Mari kita renungkan bila berkenan.


Tulisan singkat ini dalam rangka ikut postingan kolaborasi yang digagas Trimatra tanggal 27-8-2010 dengan tema: Ramadhan Seribu Bulan.

Wednesday, August 25, 2010

Adakah Kau Jera ?


Adakah ia jera......? Entahlah. Ia tak pernah menjawab. Ia hanya diam ketika ditanya. Sesekali ia akan menggeleng atau mengangguk. Itupun cuma lewat hembusan angin. Tentu saja. Sebab ia hanya sehelai daun. Daun yang sering melambai pada saya ketika angin menggerakkannya.

Apakah ia jera...? Saya kira tidak. Sebab daun-daun di pepohonan selalu ada meski ia tumbuh dan gugur sepanjang masa sang pohon. Para daun tak pernah jera. Selalu menyapa saya meski saya tak mengubrisnya. Selalu setia pada tetes-tetes embun yang membasahi dan pada sinar mentari meski pada akhirnya ia menguning hingga gugur ke bumi dan membusuk.

"Adakah kau jera...? tiba-tiba saja sang daun balik bertanya pada saya
"Pada hal yang telah kau lakukan manakala hasilnya tak memuaskan atau tak menguntungkan bagimu atau bahkan merugikanmu...? imbuhnya lagi.
Tentu saja saya tak menjawab. Saya terdiam untuk waktu yang cukup lama, tadi pagi kawan.

Sayapun sedikit merenung. Rupanya sang daun mengajarkan banyak hal indah. Katanya, jera hanya bagi mereka yang sering menyesali keadaan. Padahal keadaan tak boleh disesali. Bukankah pada setiap keadaan mengandung hikmah. Jera hanya bagi mereka yang menilai hidup ini sebagai ladang untung rugi. Sedangkan hidup, dalam setiap celah rangkaianya, bukankah mengandung hikmah. Tak ada kata jera. Hanya berusaha agar hal yang sama bisa dilakukan dengan cara yang lebih baik, bermanfaat dan barokah. Begitulah pesan sang daun.

Kawan, adakah kau jera akan sesuatu...? He, jawab saja bila berkenan. Jangan sungkan kawan.

Sunday, August 22, 2010

Ruqayyah, Anak SMP Sebelah Rumah


Lengguhannya hampir setiap pagi saya dengar. Sebagaimana sebuah lengguhan, teriakan kecil tak jelas, tentu saja saya tak paham apa yang dilengguhkan. Hal yang ditangkap oleh telinga saya cuma satu, lengguhan itu terdengar seksi. Seksi sebab nyaring yang khas, tidak sengau, agak berat. Nyaris seperti nyanyian jazzy Iga Mawarni. Itu lengguhan Rugayyah. Ya, dia masih SMP. Ya, anak SMP di sebelah rumah saya.

Ketika suatu pagi intip apa yang dilakukan Ruqayyah, he, rupanya ia sedang melatih intonasi suaranya. Ia berlatih membaca puisi hasil ciptaaannya sendiri. Ruqayyah melakukannya setiap pagi, di kebun belakang rumah. Penontonnya adalah beberapa tanaman cabai, beberapa cungdiro (tomat kecil dalam bahasa Palembang), dan beberapa rumpun ilalang. Tentu saja, seorang penonton rahasia, saya.

Secara tak disadari, saya simpati sekaligus kagum pada Ruqayyah. Bayangkan saja, di usia dini dia telah berjuang mengejar cita-citanya dengan penuh semangat. Pagi-pagi sekali, ketika anak-anak lain di rumah itu masih terlelap, Ruqayyah sudah sibuk. Ia sibuk mencuci piring, membantu mencuci pakaian, memasak air, dan menyapu halaman (sambil melengguh seksi itu). Dia melakukannnya dengan gembira. Kegembiraan yang diliputi rasa syukur. Ya, sejak kecil Ruqayyah sudah ditinggal kedua orang tuanya hingga sang bibi (tetangga saya itu) mengajaknya untuk tinggal bersamanya. Dan Ruqayyah tak pernah mengeluh, dia melakukan semua hal dengan penuh cinta dan keikhlasan. Keikhlasan dan kecerdasan juga keluguan seorang anak SMP, baru kelas 1.

Itulah Ruqayyah, anak SMP sebelah rumah yang membuat saya terpana. Saya doakan dia mencapai cita-citanya kelak. Semoga lengguhan seksinya setiap pagi ini akan membawa berkah baginya, amin. He, saya kira para tanaman (cabe, cungdiro, dan ilalang) penonton setia lengguhan seksi Ruqayyah itu juga menadahkan tangan ke langit mendoakan Ruqayyah.

Begitulah sedikit kisah saya pagi ini. Tulisan di atas adalah sebuah partisipasi atas Gerakan SEO Positif "Anak SMP" yang disponsori oleh MANAJEMEN EMOSI, sebagaimana yang diinformasikan beberapa sahabat. Trimatra, terimakasih atas ajakan positif ini. terimakasih pula atas awardnya.

.

Demi lebih memanjangkan amal gerakan positif ini, award di atas saya hibahkan kembali kepada beberapa sahabat :
1. Fanda
2. Anazkia
3. Inuel
Semoga berkenan ya. Selamat pagi kawan.

Gambar dari sini

Friday, August 20, 2010

Bra Hitam Yang Sendu

Jumát tiba lagi. Seperti biasanya, hari Jumát adalah hari dengan bra hitam bagi seseorang (perempuan). Sebab hari itu dia mengenakan batik. Batik gelap yang membutuhkan manset hitam. Tak cukup itu, dilengkapi pula dengan bra hitam. Supaya serasi, katanya.

Kali ini, bra hitam itu terlihat tak berseri. Sebab suasana agak diliputi kegeraman bagi seseorang itu. Pagi menjadi mendayu-dayu karena berita televisi yang begitu romantis. Berita tentang ide norak Ruhut menyangkut sang presiden. Berita perampokan berbagai toko emas di beberapa kota. Hingga akhirnya (berita) kita dilecehkan oleh Malaysia. Lengkaplah sudah kegeramannya.

Kegeraman yang berubah menjadi sendu sebab awan hitam tergantung di langit. Langit mendung. Mendung yang menciptakan kesenduan bagi seseorang itu. Maka bra hitam itupun terlihat sendu baginya. Kesenduan yang membuatnya segera menarik benda itu dan mengenakannya dengan sekali gerakan. Selesai.

Tak sampai duapuluh menit seseorang itu telah siap melesat. Melesat ke dunianya. Meletakkan tas kerja. Memasukkannya ke dalam lemari. Mengeluarkan laptop dan membukanya. Memeriksa email yang masuk. Memeriksa kesiapan timnya untuk rapat hari berikutnya. Dan lain sebagainya.

Begitulah. Dan bra hitam yang sendu itupun tenggelam bersama hari. Entah apakah ia masih terasa sendu bagi seseorang itu atau tidak, tak lagi penting barangkali. Tentu saja, sebab sang bra hitam telah terlupakan oleh seseorang itu. Ia telah betul-betul melesat. Melesat melupakan kegeramannya akan berita televisi tadi pagi sekali. Dari balik meja ini, saya cuma berharap semoga kesenduannya sirna. Semoga harapan saya tidak berlebihan. Selamat pagi kawan.

5 Cara Maksimalkan Diri Ketika #DiRumahAja Saat Pandemi Covid-19

Beginilah situasi saat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang harus membatasi pergerakan guna...