Etika dan Pengentasan Kemiskinan Ala Daun dan Semut

Mbah Darmo terkekeh sambil melinting rokok kegemarannya. Baru saja ia keluar dari rumahnya setelah meninggalkan pesawat televisi. Ia reflek menduduki bangku kayu, di bawah pohon jambu. Sembari ia terkekeh, ia mengepulkan asap rokok membentuk huruf "O" yang jadi keahliannya sejak muda. Di dalam rumah, televisi masih menayangkan berita tentang rencana studi banding para wakil rakyat ke Athena, kota Zeus dan Pilatus. Beberapa hari sebelumnya, iapun melakukan hal yang sama. Meninggalkan televisi sambil terkekeh saat tayangan berita studi banding pemberantasan kemiskinan ke Amerika.

Kenapakah mbah Darmo begitu...!? tak jelas jawabannya. Laki-laki tua itu tampak masih asyik dengan rokoknya. Sesekali angin bertiup menggetarkan kulit keriputnya. Tak lama, beberapa helai daun (seperti ada yang menyuruhnya) jatuh ke tanah. Gerakannya ritmis dan lembut. Tanpa suara, lalu berada di ujung kaki mbah Darmo.

Mbah Darmo, mematikan asap rokoknya. Spontan ia meraih si daun jatuh dan memandanginya begitu rupa. Ia tertegun. Saat kepalanya mendongak pada batang jambu di atasnya, ia dibuat terkesima. Serombongan semut berjalan beringan. Cepat, sigap dan kompak. Mbah Darmo kembali tertegun. Entah apa yang ia pikirkan.

Daun begitu beretika. Santun dan penuh kasih. Tanpa banyak bicara telah menyumbangkan nafas kehidupan dengan oksigen fotosintesisnya. Tak banyak menuntutu. Berjuang bagi kehidupan hingga masa gugurnya tiba, nyaris tanpa suara, Bukankah itu sangat beretika. Sementara para semut yang tangguh dan kompak telah bertahun-tahun berjuang untuk kesejahteraan kaumnya. Tanpa keributan apalagi gontok-gontokkan. Hidup saling melengkapi dan bahu membahu hingga selalu ada rumah dan pangan yang cukup buat mereka. Bukankah mereka telah mampu berjuang memerangi kemiskinan bagi kaumnya. Maka, mengapa manusia repot-repot berwacana belajar etika ke Athena. Belajar pengentasan kemiskinan ke Amerika. Bukankah pembelajaran itu ada pada dirinya sendiri. Ada di dekat mereka, kalau saja mereka membuka mata.

Begitulah gumaman mbah Darmo sambil terkekeh lagi. Angin yang tadi berhembus sepoi pada mbah Darmo ikut terkekeh. Kalau tidak begitu, tidak seru mbah, bisisknya. Kapan lagi jalan-jalan gratis ke luar Negeri, hahaha.

Comments

  1. dalam banyak hal memang kita perlu belajar pada perilaku binatang...

    ReplyDelete
  2. ---I’m not a junker – Dislike to Spammers Bloger---
    --------Wanna find a good bloger, best friends--------
    Assalamualaikum…

    Halo Ibunda Elly S yg selalu bijaksana dan mendayu-dayu dalam tulisannya
    ^____^
    Masih ingat saya? Kyknya nggak ya? Yayalah, emg saya ini siapa?

    Hohoho
    Hehehe… Blogger baru yang mati ditelan bumi.

    ----------------------------------------------
    Analoginya bagus bgt, bunda..
    Salut...

    Satu hal yang berkecamuk dlm otak saya...
    "Mereka" mungkin gak akan bisa berperiilaku sebagai seorang mukhlis layaknya "makhluk tiada gerak" itu jika mereka aja gak menyadari bahwa akan datang waktu dimana helai "daun" mereka di arsy bakal tumbang....

    Saya yakin, Ibunda Elly paham apa maksud saya,,,Hehehehhe

    Dan jujur, untuk belajar etika, kdg saya juga mikir gini mba.
    Buat apa belajar jauh2 ke Yunani....
    kalau mau bener2 belajar etika..Kenapa gak datang saja ke pesantren..
    Hidup di sana seminggu aja..Insya ALLAh..etika bakal berputar beberapa puluh derajat..

    Sy mungin juga sama seperti Mbah darmo, yg ketika melihat TV, saat liat commentnya seorang pemimpin di bidang "itu", saya hanya tertawa geleng-geleng....
    Haduh....
    haduh....

    Hohohoho...

    -I’m not a junker–Dislike to Spammers Bloger-
    --Wanna find a good bloger, best friends--

    ReplyDelete
  3. sama dengan seiri, keren deh tulisannya. sentilannya maut!!! undangan buat kolaborasi mbak,,,

    ReplyDelete
  4. di sebuah kehidupan memang kita di wajibkan untuk beljar dari berbagai hal
    kita harus belajar dari lawan2 kita agar kita semakin matang

    ReplyDelete
  5. kali ini mbah Darmo tersenyum manis ,... namanya begitu hidup dalam tulisan ini,


    nice poem kawan,..

    ReplyDelete
  6. entah sampai kapan.. kemiskinan akan terus berlangsung disini.. semoga kita bisa lebih bermanfaat..

    ReplyDelete
  7. TIAP JENGKAL BUMI MENYIMPA PELAJARAN KLO QT PEKA YA MBA... YA SAYANGNYA LEBIH BANYAK YANG PEKA DEH KAYAKNYA,,,, ATAU MUNGKIN SEKEDAR INGIN MEMANFAATKAN AJI MUMPUNG PLUS NGABISIN ANGGARAN ????

    ReplyDelete
  8. TIAP JENGKAL BUMI MENYIMPAN PELAJARAN KLO QT PEKA YA MBA... YA SAYANGNYA LEBIH BANYAK YANG NGGA PEKA DEH KAYAKNYA,,,, ATAU MUNGKIN SEKEDAR INGIN MEMANFAATKAN AJI MUMPUNG PLUS NGABISIN ANGGARAN ????

    ReplyDelete
  9. hihihi,....benar kapan lg jalan2 keluar negri,gratis dibayarin uang rakyat pula :D

    bagus bgt mba,aku suka membacanya...penggambaran semut dan daun :)
    yg sabngat indah.
    setiap selesai berkunjung ke rmh virtual mba elly aku merasa sellau belajar lebih peka,blog ini mengajarkan ku hal-hal kecil yg berarti besar :)

    mksh ya mba....

    ReplyDelete
  10. Pembelajaran dari dunia semut yan sangat menarik untuk di ambil manfaatnya.

    Dengan Mengatasi Permasalahan Yang Kecil; Maka' Kita Dapat Mengatasi Permasalahan Yang Besar.

    Sukses selalu.

    Salam ~~~ "Ejawantah's Blog"

    ReplyDelete

Post a Comment

Hanya tulisan biasa, hasil kontemplasi soal apa saja. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Popular Posts