Sepot Kemuning Dari Mas Umar


Suatu sore yang hampir gelap, setelah hujan reda. Saya tengah memandangi sepot (Bunga) Kemuning pemberian Mas Umar. Sebuah pot keramik agak besar berisikan Kemuning dibonsai yang sedang mekar. Gerombolan bunganya yang kecil, putih dan harum menambah indah suasana sore. Hujan yang baru reda, bau tanah basah, dan keindahan untaian bunga nan harum dari pot kemuning itu.

Saya jadi teringat si pemberi tanaman itu, Mas Umar. Itu nama yang saya berikan. Saya tidak tau siapa namanya yang sebenarnya. Pokoknya saya sebut dia Mas Umar. Rambutnya nyaris botak, karena itu saya sebut dia Umar (Untung Masih Ada Rambut). Tentu saja dia tidak protes saya sebut begitu, wong cuma saya sebut dalam hati. Saya tidak sempat menanyakan namanya.

Pada suatu siang menjelang sholat Johor berjamaah di kantor saya. Tengah saya akan memasuki toilet perempuan di masjid kantor, tiba-tiba saya nyaris ditabrak di pintu toilet oleh seseorang. Saat saya menoleh ke arah penabrak itu, saya melihat seorang laki-laki sedang memperlihatkan muka meringis dan memegang perutnya,
"Maaf mbak, saya darurat sakit perut. Toilet laki-laki sudah terisi. Tolong ya....", demikian kata-kata yang meluncur dari orang itu. Saya tidak sempat menjawab. Badan saya, saya geser memberinya jalan. Secepat kilat, orang itu sudah melesat ke dalam toilet. Tak lama terdengar suara khas benda meluncur ke toilet diiringi suara kecipak air kran.

"Alhamdulillah, terimakasih banyak ya mbak", itu kata-kata yang meluncur dari bibir orang itu, setelah ia menyelesaikan hajatnya di toilet.
"Tiba-tiba saja saya mengalami mules hebat saat akan antri wudhu di masjid ini", sambungnya lagi. Saya perhatikan orang itu. Hampir sebaya saya, mungkin lebih muda sedikit. Perawakanya tinggi, tidak gemuk, juga tidak kurus. Wajahnya agak bulat, berkacamata, dan rambutnya nyaris botak. Lumayan ganteng kalau tidak botak, ujar saya dalam hati. Diapun berlalu setelah saya mengangguk. Saat itu saya hanya membathin, paling tidak dia sudah terhindar dari musibah malu karena buang air besar di celana, kalau saja tadi tidak menyerobot saya di pintu toilet tersebut.

Itulah pertemuan pertama saya dengan Mas Umar. Setelah kejadian itu, saya sempat beberapa kali bertemu dengannya pada jam sholat Johor di masjid kantor saya. Ya masjid kantor saya, karena berdekatan dengan beberapa kantor lain, sering juga didatangi pegawai lain di sekitar kantor kami untuk berjamaah bersama. Setiap kali bertemu, dia mengangguk sopan, diriingi senyum tipis. Atin, teman saya sempat bertanya, "Siapa sul....?" Saya jawab saja, mas Umar. Teman saya mengangguk-angguk, mengira nama si botak itu betul-betul Umar.

Tiba-tiba, sekitar 3 bulan setelah kejadian di pintu toilet masjid kantor, mas Umar menghampiri saya setelah selesai shalat Johor berjamaah.
"Mbak saya mau pindah kantor, mutasi ke kota asal saya di Jawa..."
"Titip ini ya mbak, buat mbak", katanya sambil menunjuk sepot kemuning yang sedang mekar di pojok masjid. Tentu saja saya jadi bingung. Atin, teman saya yang usil sibuk mencubiti lengan saya,
"Wah terimakasih, kenapa diberikan ke saya...?" tanya saya tidak sadar
"Gak tau saya mbak, saya gak sempat mikir lagi. Entah mengapa saat melihat bunga ini saya ingin memberikannya ke mbak. Tolong diterima ya...", begitu imbuhnya lagi. Saya tidak sempat berkata apa-apa, apalagi menanyakan siapa namanya, dia sudah berlalu.

Saat saya tengah mengingat kejadian itu di sore setelah siangnya saya diberi sepot kemuning itu, Bejo suami saya pulang. Mata Bejo tertumbuk pada sepot kemuning itu, mungkin keharuman sang kemuning telah menuntun matanya mencari sumber bau harum tersebut.
"Baru beli...?" tanya Bejo sambil meletakkan tas kerjanya
"Dikasih orang.."
"Kok sepertinya aku kenal pot tanaman ini...." ujar Bejo lagi saat dia perhatikan wujud pot beserta tanaman kemuning tersebut.
"Seperti pot yang ada di rumah si X", Bejo menyebut nama seseorang
"Siapa X...?"
"Itu temannya mas Budi"
"Kemarin mas Budi sempat cerita mas X itu baru dapat musibah, istrinya di kampung minggat dengan laki-laki lain. Lalu mas X mengurus mutasi lagi, kembali ke kampungnya..."
"Ah pot bunga dengan tanaman kemuning dimana-mana kan hampir sama" jawab saya merasa aneh
"Ukiran keramiknya, bentuk potnya, sampe lekuk kawat tanaman ini sama banget sul" tandas Bejo lagi. Entah kenapa kali ini Bejo jadi begitu bersemangat menceritakan orang lain, tidak seperti biasanya. Saat itu saya tidak begitu perduli. Saya masih saja memandangi sepot kemuning itu. Lagi-lagi entah kenapa, jauh di lubuk hati saya ada perasan iba menyayat dalam saat mata saya menatap tanaman itu.

Setelah perasaan iba campur aneh saya agak reda, saya tanya lagi Bejo bagaimana ciri-ciri, perawakan si X tersebut. Jawaban Bejo cukup mengagetkan saya, persis sama dengan mas Umar yang memberi saya sepot kemuning itu. Saya betul-betul tidak habis pikir. Saat akan ke kamar mandi, Bejo masih sempat berujar,
"Sul, saya baru ingat wajah kamu agak mirip dengan istri si X..."
"Bener...., saya sempat liat foto mereka yang dipajang di ruang tamu...", sambung Bejo lagi saat saya memperlihatkan mimik tak percaya.

Begitulah. Entahlah kebenarannya. Wajah pasaran seperti saya, memang banyak mirip dengan orang lain. Saya malas memikirkan kebenarannya. Hal yang saya tau Mas Umar telah memberi saya sepot kemuning miliknya untuk saya rawat, untuk saya pelihara. Itu saja. Titik.

Kini Kemuning dalam pot itu sudah hampir setahun saya rawat. Bunganya makin semarak, dan semakin harum. Demi masa, bila benar kisah yang dialami mas Umar adalah kisah si X teman dari teman suami saya itu, saya hanya berdoa agar dia dikuatkan, diberiNya ketabahan. Semoga kisah lain yang indah sudah bersamanya kini. Rasanya itulah harapan paling logis yang bisa saya lepas saat kisah aneh ini muncul.

Sepot kemuning dari mas Umar sekarang sudah beranak pinak. Sudah saya pecah anaknya dan saya pindah ke dua buah pot lain. Sepot kemuning utama dari mas Umar itu masih saya pandangi. Saya letakkan di pojok kanan beranda depan. Bila angin menghampirinya, maka keharuman kemuning itu menyebar ke seluruh penjuru yang dihembuskan sang angin. Setiap kali wanginya tiba di penciuman saya, saya memanjatkan doa agar mas Umar (meski saya tidak tau nama sebenarnya, apalagi bin nya) diberi kebahagiaan dan keharuman hidup sebagaimana harum kemuning yang telah diberikannya ini. Semoga keharuman dan keindahannya semakin membahana dan mengiringi kemudahan langkah mas Umar agar menata hidup lebih baik. Amin.....!

Gambar diambil dari sini

Comments

  1. Waaaah... sepot kemuning yang manis. Dijaga tuch bulik.

    ReplyDelete
  2. Pas liat kemuning pasti deh... ingatan melayang ke Mas Umar.
    Mas Umar atau Mas Agus (Agak gundul sedikit).

    Jadi Mas Umar nitip kemuning itu karena.......
    ah,... nggak tau deh.

    ReplyDelete
  3. Wow ...hampir ngak percaya deh baca ceritanya.
    Mudah2an sepot kemuning akan selalu mengingatkan yang diberi akan arti sebuah kesetiaan.

    nice sharing mbak.

    ReplyDelete
  4. sepot kemuningnya indah ya seperti bunga anggrek. :d

    ReplyDelete
  5. beberapa kebetulan yang merangkai sebuah kisah sendu, Kasihan juga mas Umar.....

    ReplyDelete
  6. kok disebut kemuning ya, padahal kembangnya putih :)

    ReplyDelete
  7. ada banyak hal yang bisa didapat dari hidup mbak...

    ReplyDelete
  8. Sepot kemuning yg bersejarah...

    Mbak, UMAR = Untung Masih Ada Rambut? Hahahaha... Kenapa ya para Umar kok kebanyakan ganteng? Contohnya? Zinedine Zidane, Bruce Willis... [yah kok jadi cerita selebriti?]

    ReplyDelete
  9. qeqeqeqeq yg bikin ketawa mbak elly kreatif bgt kasih nama UMAR -(Untung Masih Ada Rambut, red) hehe.
    but over all yg penting kemuningnya msh terselamatkan karena dirawat oleh org yg tepat. postingan yg menginspirasi mbak... maaf lama ngga silaturrahim. Salam

    ReplyDelete
  10. Tau gak mbak pikiran aku habis baca nih postingan???
    Aku malah niat berdiri dekat pintu masuk toilet untuk nungguin org super kebelet, truss saya silahkan duluan,,he,he...siapa tahu beruntung dapat kemuning juga,,ho,ho,ho

    ReplyDelete
  11. @all (Yans, Stiawan, Sewa mobil, Kabasaran, Pasang Iklan Gratis, Noor's blog, Sang Cerpenis, Sibaho, Yunna, Fanda, Ibnu Mas'ud, Rosi, becce) terimakasih komentarnya. Kisah di atas hanya rekaan (fiktif) belaka. Sampai sekarang, meski ingin, saya belum punya tanaman kemuning. Ya, hidup kadang memuat banyak misteri. Baho, bunganya memang putih. Mirip melati, hanya lebih mungil. Tapi buah (dari bunga menjadi buah)nya yang telah tua berwarna kuning mendekati jingga. Bulat mungil beruntaian, berwarna kuning. Itulah kenapa disebut kemuning.

    ReplyDelete
  12. bunga kemuningnya bagus.
    pastinya karena emang udah dirawat sebegitu baiknya ya ^^

    ReplyDelete
  13. Saat aku baca tulisan mbak Elly ini, aroma wangi bunga kemuning yg ada di depan rumahku tercium sampai ke dalam rumah lho...
    Semoga Mr.X dapat merasakan kembali keindahan kemuning dan keharumannya...

    ReplyDelete
  14. aku suka banget kemuning...baunya harum, bunganya juga indah mbak :)

    ReplyDelete
  15. Sepot kemuning. Bila dihampiri angin maka keharumannya menyebar ke seluruh penjuru. Halaman rumah bunda pun semakin wangi.

    SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA

    ReplyDelete
  16. @all (Clara, Reni, Zahra, Ivan) terimakasih komentarnya. He, itulah kisah tentang sepot kemuning dari Mas Umar. Semoga ada hikmahnya.

    ReplyDelete
  17. suburnya kemuning di taman mbak dari mas umar semoga jadi perlambang juga buat si pemberi...

    yah, semoga ada hikmahnya. ambil indahnya...

    ReplyDelete
  18. Putaran kehidupan memang demikian, bila kita menanam satu kebaikan maka kita akan mendapatkan kebaikan yang lain yang lebih dari apa yang pernah kita berikan, itu janji-NYA
    Selamat Sayang ...Kalau Kemuningnya sudah subur dan ada anaknya, sebaiknya dipindah ke pot lain dan dibagi keteman yg punya hobby sama bunga tersebut, insya Allah keihlasan akan berbunga makin banyaaaaaaaaaaaaaaak, with love....nelli l yunara

    ReplyDelete
  19. selamat atas award2nya ya bunda,selamat hari sumpah pemuda

    ReplyDelete
  20. hemmm,...jadi ngelantur dedh... klo sesuatu dikaitkan dengan yg hidup itu lebih berarti dan selalu muncul dibenak ketika kita tak menginginkannya ada, seperti itukah kisah kemuning itu???

    ReplyDelete
  21. muka pasaran? aja-aja ada ibu satu ini ^^
    dijago bu bunganyo biar tetep edop (iyolah :D)

    ReplyDelete
  22. sepot kemuning....apakah berwarna kuning?
    alhamdulillah kalo sudah beranak-pinak. semoga semakin sehat dan bertambah banyak.
    akan semakin indah kan?

    ReplyDelete
  23. mau donk bu sepot kemuningnya............
    ntar kalaus aya ke palembang tak ambil nih

    ReplyDelete
  24. wew, kebetulan yg bukan kebetulan ini *doh, ngomong apa sih saya ini? mwehehe*

    ReplyDelete
  25. @Trimatara, siip
    @Nelli L.Yunara, thanks sobat.
    @A.Flamboyant, gpp, ini kemuning spesial.
    @Ayas, hehe.
    @Elsa, ya, semoga sukses juga disana
    @Mas ichang, boleh mas (nanti sy carikan).

    ReplyDelete
  26. @Pipit, kebetulan cuma fiksi (kok tadi gak ketauan nongolnya ...?)

    ReplyDelete
  27. assalamualaikum..
    sepotnya pasti menarik ya mbak...
    salam

    ReplyDelete
  28. uhmmm setuju ibu masih jaga kemuning itu dengan baik,,,kalo dah ga bisa urus bu kasih ke sayah ajah yah hihaihaihia dirumah banyak bunga juga hiahiha

    met malem buuu

    ReplyDelete
  29. Sepot kuning yang indah
    kalo di Bali suka di pake bunga untuk canang (bunga untuk sembahyang)

    ReplyDelete
  30. Subhanallah... sebuah kisah begitu besar hikmahnya.

    ReplyDelete

Post a Comment

Hanya tulisan biasa, hasil kontemplasi soal apa saja. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Popular Posts