Malam Tertimpa Hujan Di Sebuah Makam

Malam telah tiba, membentuk bayangan hitam di sebuah makam. Tiba-tiba langit menumpahkan hujan, tak bisa ditahan. Malampun tunduk pada kedatangan hujan. Maka tertimpalah malam oleh sang hujan. Gerimiciknya membuat malam semakin dingin. Pilu. Membekukan perasaan gelisah mereka yang resah.

"Hujanku tiba lagi.......", sang malam berbisik sendiri
"Ya, meski kau tak minta....." jawab hujan diantara rinainya
"Kapan saja kau ingin, jangan sungkan..." bisik sang malam lagi

Dalam bisikannya, rupanya sang malam menangis. Menangis dalam diamnya yang terkulai. Sementara itu, di alam kuburnya (bukan di dalam kubur ya), seseorang yang konon ulama sedang menangis pula. Menangis dalam isakan paling menyayat yang bisa terdengar oleh para malaikat.

"Kenapa kau menangis..." tanya malaikat
dia tak menjawab
"Apa yang kau tangisi....? tanya sang malaikat lagi
"Hamba menangisi darah yang tertumpah karena hamba tuan", terbata-bata diapun menjawab
"Darah siapa...?
"Darah mereka yang sia-sia.....yang tertumpah di makam hamba......"
Malaikat menyimak
"Betapa sentimentilnya mereka. Tak seharusnya mereka membuang energi untuk hamba yang sudah tak bernyawa....." sang ulama berkata lagi
"Seharusnya energi mereka digunakan untuk berjuang agar tak ada lagi manusia di sekitar mereka yang kelaparan......, agar tak ada lagi para anak-anak terlantar dan para pesakitan akhirnya meregang nyawa karena tak ada biaya untuk berobat......"
"Untuk perjuangan seperti itulah energi mereka seharusnya diberikan, bukan buat hamba yang telah wafat ini..." sang ulama kembali terguguk berlinangan air mata.

Tentu saja malaikat tak menjawab. Cuma berdehem, entah apa maknanya. Begitulah sebuah malam yang tertimpa hujan di sebuah makam. Saya pamit dulu kawan, hendak merenungkan kisah ini. Siapapun silahkan merenungkannya bila berkenan.

Comments

  1. Mengapa tiba-tiba, seolah serentak, kebrutalan aparat kembali dipamerkan di hadapan kita? Kesabaran rakyat seakan kembali ditantang. Belum lama kita belajar berani bicara, kita akan kembali dibungkam, dibikin kecut sampai tak berdaya?! ~SITOK SRENGENGE~

    ReplyDelete
  2. selamat malam mba,....

    benar,...dialam sana kyai itu pasti begitu pilu,akhh kisah ini kian menambah daftar panjang luka bangsa ini.

    * apa kabar mba ? aku memutuskan kembali... aku memutuskan memaksakan apa yg bisa membuatku tersenyum,menulis....meski tangan dan kakiku terikat aku masih berharap pikiran dan imajinasiku tetap mengembara dan merdeka. Dalam bait-bait tulisan....rindu tulisanmu mba.

    ReplyDelete
  3. Malaikat berdehem..
    Maksudnya apa ya mba???

    Salam Sillaturrahmi.. salam kenal mba dari saya..

    ReplyDelete
  4. miris sekali ,,,sejak pagi tak henti-henti ku ucap istigfar melihat mereka yang terluka.

    semoga yang yang kuasa memberikan ganjaran yang adil atas apa2 yang mereka kerjakan.

    @ada tag mbak di trimatra ^_^

    ReplyDelete
  5. Turut prihatin...bangsa ini tak henti dirundung masalah ya bunda.

    ReplyDelete
  6. sepertinya muka anak negeri telah berubah menjadi serigala lapar yang suka menumpahkan darah, dimana sembunyi nurani dimana berhenti

    ReplyDelete
  7. sudut pandang yang menarik. siapa yang diuntungkan? sungguh bodoh !

    ReplyDelete
  8. @Yans, hm, puisis Sitok yang hebat
    @Senja, alhamdulillah. Teruslah menulis sobat, sayapun rondu padamu
    @Girant, mungkin berdehem melihat tingkah kita
    @Trimatara, saya juga miris Tri. Ok, segera kesana
    @Ivan, iya van, menyedihkan ya
    @Munir Ardi, betul sobat
    @Sibaho, yah, begitulah kita sobat

    ReplyDelete
  9. saya merenungi ini dari sisi ia yang di alam kubur. sedang di resonansi, saya merenungi ibu pertiwi yang menangis, mbak ...
    saya sedih, mbak Elly.

    ReplyDelete
  10. @Annie, ya kita semua sedih mbak. Syukurlah kelihatannya sudah ada jalan damai, kesepakatan dalam mediasi hari ini. Mungkin tangisan sang ulama diijabahNya.

    ReplyDelete
  11. baru mo posting di blog aku ... eh sudah ada yang ngepost .. hehehehe .... tetap semangat blogger Indonesia .. ^_^

    ngemeng2 masalah hujan meteor ..dah lama juga aku nggak liat.. dulu waktu kuliah 2002 - 2004 .. kalo malam aku sering ketemu 1 2 meteor yang masuk atmosfer bumi .. ada yang cuman pendek tapi ada juga yang panjang apinya ...tergantung besar kecil meteor sech .. kalo gede maka akan membuat garis api (bintang jatuh) yang lumayan panjang .. ^_^

    ReplyDelete
  12. Tragedi yang tak akan dilupakan oleh anak bangsa.
    Tragedi yang telah mengoyak rasa perikemanusiaan.
    Tragedi yang terjadi di negeriku... semoga dapat menjadikan pelajaran berharga utk kita semua.

    ReplyDelete
  13. semoga menjadi pengalaman yang sangat berharga...

    ReplyDelete
  14. -_-_-_-_-_-_- cosmorary.com -_-_-_-_-_-_-
    *******Salam ‘Blog’!!*******


    Teman. Cosmorary.com dihack. Saya tidak bisa masuk ke dashboard saya.
    Sepertinya password sudah diganti sama yang nghack.
    Jiks...BIngung mau gimana...
    Dan yang lebih parah lagi...SEMUA articles saya hancur berantakan, check COSMORARY.com
    ARTIKELNYA semua berubah dalam bahasa INGGRIS yang hancur sekali GRAMMARnya....
    Phew.....
    Tapi, saya sudah melaporkan ke pihak yang berwajib
    Proses mungkin membutuhkan minimal 3 hari-2 minggu.
    Tapi saya bakal tetep blogwalking,
    dan mohon saya tunggu blogwalking teman2 ke Cosmorary.com ya...
    Walaupun di hack....
    Ya sembari menunggu proses selesai.


    -_-_-_-_-_-_- cosmorary.com -_-_-_-_-_-_-

    ReplyDelete
  15. saya merenung sejenak
    karena memang kejadian ini membuat hati pilu
    sepertinay memang sentimentil
    tetapi masyarakat merindukan sosok yg mereka anggap penuh kasih dan bijaksana
    yang semakin sulit ditemukan pada pemimpin2 kita saat ini

    Selamat Malam Mbak, dulu saya pernah kesini..sekarang saya kembali
    :)

    ReplyDelete
  16. @all (Cabal 81, Catatan Kecilku, Buwel, A-chen, Aviorcief, Munir Ardi, Lyna Riyanto, semua) terimakasih komentarnya. Lyna, banyak pikiran mengarah kesana. Tapi pengkultusan manusia ini sebuah hal yang miris bagi saya. Apalagi sampai mengeluarkan banyak korban.

    ReplyDelete

Post a Comment

Hanya tulisan biasa, hasil kontemplasi soal apa saja. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Popular Posts