Pekat......!

Bukankah siang belumlah waktu yang pekat sebab ia baru sepertiga hari. Tetapi, entah kenapa, siang ini dia merasa pekat. Ya, dia yang sedang memekat. Segala yang dilihatnya menjadi pekat. Secangkir kopi jam 6 pagi tadi, pekat. Segelas jus mangga, terlihat pekat. Semangkuk kecil cuka pempek, pekat juga. Dan, sekitar jam 10 tadi, semangkuk mie celor, he, pekat rasanya. Pekat tapi nikmat. Ya, segalanya menjadi pekat.

Dunia dalam kepekatan. Kepekatan yang tiba-tiba seperti memeluknya begitu erat. Erat yang juga pekat. Ya kau sang pekat, iringi saja langkahku agar memekat rasanya. Rasa yang kutoreh dengan sedikit keringat bahkan setetesan air mata. Sebab hidup adalah perjuangan. Dan Perjuangan adalah sebuah kepekatan. Pekat yang mengkristal dari segala rasa.

Kau, memekatkah rasamu.....? sebuah tanya muncul begitu saja di benaknya, entah kepada siapa. Tentu saja tak ada jawaban. Cuma setiupan sepoi dingin yang dirasakannya. He, itu jawaban tak berbentuk si Angin Selatan, seperti biasa bila ia enggan. Enggan itu, ah itu kepekatan juga. Diapun berdamai dengan sang pekat sambil berbisik, selamat siang kawan .....!

Comments

  1. Kenapa Bunda? gerangan apa yang membuat siangmu temaram bahkan gelap kemudian pekat? Sabarlah Bunda, insya Allah bersama sabar akan ada sinar yang kan memberikan terang.

    ReplyDelete
  2. selamat siang mba ^^

    pekat.....? saya suka teh yang pekat,tapi mulai harus menguranginya hehe....

    * terima kasih doa dan suportnya dikolom kmntr saya mba,alhmdulilah terlewati lagi...

    ReplyDelete
  3. @Abi, hehehe, ini karena rasa sebah (kenyang, capek), gejalanya seperti ini. Setelah sholat, hm, enteng lagi. Terimakasih supportnya
    @Senja, iya, padahal kita harus pilih makanan yang sehat ya. Ok, sama-sama kawan.

    ReplyDelete
  4. dalem banget kata-katanya...
    tapi koq udah bolak-balik bacanya, gak ngerti2...

    aku selola itu ya???

    ReplyDelete
  5. apakah singmu dipekatkan polusi, bu?

    ReplyDelete
  6. Pekat rasaku sepertinya mulai sedikit mengabu-abu, terusik hembusan angin kebimbangan...

    ReplyDelete
  7. ada apakah gerangan mbak????
    semoga pekat segera berlalu...

    ReplyDelete
  8. semoga pekat itu spt kopi jam 6 tadi, pekat tapi nikmat hehehe

    ReplyDelete
  9. semoga hari esok tidak lagi menjadi pekat..

    ReplyDelete
  10. Semoga hari bunda tidak dialami kepekatan lagi dan Semoga kepekatan itu berganti dengan sebuah kejernihann.. :)

    ReplyDelete
  11. hello -
    duh,, kalimatnya bernilai seni tinggi banget neeh..
    penuh makna dan multi intrepretasi...
    i like it...

    http://andrysianipar.com

    ReplyDelete
  12. semoga pekatnya sedikit memudar ketika hari berganti

    ReplyDelete
  13. waduha d mslh bu? terangi pekatmu dengan tuhan.. btw, skg emang dah pekat bu,, 1/2 12 mlm huhuhu

    ReplyDelete
  14. @Arif Chasan, he, selamat pagi sobat
    @Sang Cerpenis, iya betul mbak
    @Seiri hanako, mungkin juga sobat
    @Noor, hehe, bisa aja
    @Siroel, pekat sebah kawan. Amin.
    @Aulawi Ahmad, bener nian. Apalagi mie celor 26, tambah nikmat, hehe
    @Isti, siiip. Pekat itu kadang indah juga lho
    @Laksamana Embun, amin mBun
    @Andry Sianipar, balo juga sobat, terimakasih
    @Ladyonthemirror, ya semoga, amin
    @Ayas, hehe, pekatku adalah suasana yang mengental di jiwa, bisa juga kesal, sedih atau bahkan senang. Apa kabar Yas ?

    ReplyDelete
  15. cogito ergo sum: saya berpikir maka saya ada
    kepekatan itu sebuat konsep sebab dia abstrak...
    dan kebetulan ketika manusia punya indra maka dia tahu apa itu pekat...
    melihat dgn hati mungkin jauh lebih menyenangkan...hahahahahaha

    ReplyDelete
  16. heheh jadi ikut ikutan manggil bunda

    ReplyDelete
  17. dunia memang terkadang pekat bagai malam tak berbintang tetapi kadang begitu terang bagai siang penuh mentari, bukan begitu bunda? :D salam kenal dari makassar yah :D

    Download Kumpulan e-Book Gratis

    ReplyDelete
  18. Halo mbak Elly, sori baru sempat mampir. Jus mangganya masih ada? Mau dong...nemenin mbak Elly ngejus (kalo ini gak bikin sakit maag deh..)

    ReplyDelete
  19. salam kenal ...makasih bacaannya,,,tukeran info blog yuk

    ReplyDelete
  20. bila siang saja sudah pekat, bagaimanakah lagi dia bisa jadi terang dari sebuah kepaktan...?
    have a great day..^_^

    ReplyDelete
  21. tak maksud hati untuk memekatkan
    tapi dingin ini memang pekat..

    ReplyDelete
  22. selamat sore Mbak.. apa kabar? sore ini tampak kelam mau hujan kayaknya.. semoga kepekatan malam nanti akan tergantikan sinar rembulan yang tersenyum di balik awan.. lho..lho.. koq jadi ikut2an puitis? hehe.. sory nih Mbak.. aku gak pinter bikin kata2 romantis spt Mbak Elly.. Salut deh buat Mbak Elly dengan kekuatan kata2 puitisnya..

    ReplyDelete
  23. @ntoniniez,iya betul, hehe
    @aaSlamdunk, hm panggil apa aja deh
    @My Blog, salam kenal juga sobat
    @Fanda, hei Fan, jus mangganya masih ada kok
    @@Ardi, salam kenal juga sobat
    @Arif Chasan, selamat pagi sobat, sukses ya
    @Windflower, ya pekatku adalah rasa yang mengental, tidak berarti gelap lho mbak
    @Hendriawanz, betul hen. Selamat pagi sobat
    @Rita Asmara, selamat pagi mbak Rita. Hm, bisa aja. Selamat beraktivitas, sukses ya

    ReplyDelete
  24. Ada apakah gerangan sahabat, hingga semunya berubah pekat dan hitam kelam,,,,?

    moga terang itu hadir kembali yak,,
    adakah resah..?hmmm

    met pagi,,:)

    ReplyDelete
  25. @Hdsence, hehehe, pekatku adalah rasa yang mengental. Tidak berarti gelap ataupun hitam. Cuma catatan karena rasa sebah (kenyang. Bayangkan sepanjang hari itu saya melihat segalanya yang pekat (kental), kopi pekat(kental). Cuka pekat (kental). Jus mangga, inipun cairan yang kental (pekat). Mie celor, ah ini juga makanan yang kuahnya kental (pekat). Maka sepanjang hari itu saya merasa pekat, begitulah kawan. Selamat pagi, selamat beraktivitas ya.

    ReplyDelete
  26. syukurlah bu ternyata sudah enteng lagi sekarang

    ReplyDelete
  27. Kopi semakin pekat pasti enak, tapi jangan kehidupan ini yang pekat! Perlu senyuman untuk mencairkan kepekatan hidup ini!

    ReplyDelete
  28. yuhuiii, samar2 ku ambil makna pekat itu...dan rasanya , aromanya, ujudnya memang pekat. kenapa mereka membuat pekat kehidupan yaaa ^heran^

    ReplyDelete

Post a Comment

Hanya tulisan biasa, hasil kontemplasi soal apa saja. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Popular Posts