Search This Blog

Tuesday, May 17, 2011

Puisiku Hilang Semalam

Aku menghirup aroma secangkir kopi hingga jadi puisi. Di kamarnya, dia sedang meraut tetes air mata menjadi  kisah liris. Di tempatmu, entah dimana, kau sedang terkulai oleh malam yang menelikungmu.
 
Maka percayakah kau, puisiku adalah kisahnya pada malammu yang terkulai ? Ya, mungkin saja. Sebab di langit pikiran dan perasaan kita sering berkumpul dan saling bersendagurau.

Ketika pagi tiba, kusadari puisiku tak ada. Kukira ia telah kugantungkan dalam lemari. Kucari lagi, tetap tak ada. Rupanya ia pergi dibawa angin semalam sebelum sempat kusimpan dalam sakuku.  Sudahlah, kutuliskan saja sisa-sisa aromanya. Semoga ia tak kehilangan kisah lirisnya. Dan kau, hei, bangunlah kawan. Salam.

4 comments:

  1. yah sayang banget nh mbak, aroma kopi nya belum bisa ikut ngerasain. Hehe.
    Ayo pada bangun.

    ReplyDelete
  2. selamat siang *sambilkriyipkriyip

    ReplyDelete
  3. Tak kusadari aku juga sering kehilangan puisi, itulah kalau tidak segera di real kan! Salam!

    ReplyDelete
  4. ok juga,,,

    terus bagaimana kelanjutan nya?

    jgn lupa backlink balik ya

    ReplyDelete

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Sia-sia, Mampus kau Dikoyak-koyak Sepi

Demi apa, pagi -pagi tadi saya sudah baca puisi. Ya demi komunitas Kompasianer Palembang  (Kompal) yang mendampuk saya sebagai salah satu d...