Search This Blog

Tuesday, June 23, 2020

Pesona Labu Kuning, Menjalar di Tanah dan Merambah di Hati Penggemarnya

Sumber Foto : pixabay.com

Dalam bayangan saya akan hari tua. Ada sebuah rumah kayu mungil dengan halaman luas. Pada halaman luas itu ada banyak pepohonan, juga perdu dan semak produktif. Tentu saja dengan tanaman merambat dan menjalar. Baik menjalar dan merambat di para-para, maupun merambat di tanah. Entah bila saya miliki rumah mungil dari kayu dengan halaman luas seperti itu.

Diantara tanaman yang menjalar dan merambat di tanah, ada si Labu Kuning. Ya Labu Kuning  Cucurbita moshata durch, tanaman yang akrab dengan lidah kita. Warnanya yang kecoklatan jingga akan memenuhi tanah dengan daunnya dan ranting mulai layu dan mengering. 

Jika masa itu tiba, tentu saja saya akan memanennya dalam keceriaan. Kemudian menyimpannya dengan bahagia seperti bahagianya saya menyimpan setandan pasang tanduk matang baru dipanen. Seperti saya menyimpan bebarapa rumpun ubi kayu yang baru dicabut dan dibersihkan. Mereka semua sumber pangan yang bersahaja. Kapan saja dibutuhkan, bisa diolah menjadi banyak makanan. 

Labu kuning ini lekat di ingatan saya. Saya mengingat zaman dulu ibu saya akan membuat kolak labu kuning sebagai salah satu menu buka puasa kami. Lain waktu Ayuk (kakak perempuan) saya tertua menambahkan labu kuning kukus yang dihancurkan ke dalam kue, entah cake atau bolu pandan. Saya ingat juga nyai, nenek saya dulu sering membuat gulai labu kuning. Gulai santan pedas yang kadang dicampurnya dengan sayuran lain. Kadang diberi ikan kering, ikan salai. Kadang diberi udang kecil-kecil. Resep yang lalu diturunkan ke anak, menantu, bahkan ke cucunya. 

Turun ke saya juga ...? sudah pasti. Tentu saja tidak seperti menurunkan ilmu kebal atau ilmu pikat seperti di film-film, hehehe. Saya, ayuk-ayuk, adik-adik, sepupu memperhatikan para nenek, ibu, bibi-bibi kami memasaknya. Jika enak, diingat kuat-kuat cara memasaknya. Sebagian ada yang mencatat resepnya. Sebagian ada bereksperimen memodifikasi lagi resep-resep tersebut. Ya, kira-kira seperti itu.

Penasaran mau tau beberapa contoh resep Labu Kuning ala keluarga besar kami? Berikut 2 (dua) buah resep Labu Kuning, resep keluarga saya yang sudah saya publish di Cookpad.Indonesia. Yaitu; Kolak Rempah Labu Kuning, dan Gulai Pedas Labu Kuning Ikan Salai. Boleh dicoba kalau suka.  

Labu kuning bisa juga kita beli di pasar. Pasar tradisional dan pasar modern sekarang banyak dijual Labu Kuning. Sebab penggemar labu kuning itu banyak. Selain karena rasanya yang enak, juga kaya serat dan beta caroten. Konon labu kuning mengandung senyawa anti kanker membuat labu kuning begitu disukai. Padagang juga suka karena komoditi labu kuning termasuk buah klimakterik yang cukup panjang masa simpannya tanpa pendingin. Cukup disimpan di suhu ruang, dijaga jangan sampai kulitnya pecah atau terluka dan tidak tergenang air di lantai, aman. 

Tetap saja saya mendambakan labu kuning milik sendiri. Saya tanam sendiri. Saya liat bagaimana dia tunas, tumbuh menjalar, berbunga, buah tumbuh hingga panen. Entah bila tiba masa dimana saya punya rumah kayu mungil dengan halaman luas. Diantara halaman itu Labu Kuning tumbuh dan menjalar dengan bahagia hingga ia menua dan siap saya panen. 

Labu Kuning juga disukai di seluruh penjuru dunia. Lihat saja begitu banyak ragam masakan dengan bahan dasar Labu Kuning alias Pumkin ini. Lihat DISINI.

Begitulah. Labu Kuning itu pesonanya luar biasa bagi saya. Menjalar di tanah dengan bersahaja, dan merambah di hati penggemarnya dengan setia. Salam.

1 comment:

  1. Sudah lamo dak makan kolak labu kuning. Seingat dulu waktu masih kecik, galak dikolak itu.

    ReplyDelete

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Pesona Labu Kuning, Menjalar di Tanah dan Merambah di Hati Penggemarnya

Sumber Foto : pixabay.com Dalam bayangan saya akan hari tua. Ada sebuah rumah kayu mungil dengan halaman luas. Pada halaman luas itu ...