Search This Blog

Tuesday, August 7, 2018

Pada Sebuah Bekal Makan Siang


Jika tidak karena pesanan Online makan siang saya kemaren, maka tidaklah tulisan ini terbit. Mau tau, lanjut baca saja...


Nah lanjut ya. Kemarin saat jam makan siang sudah lewat 1 jam dan perut tidak bisa kompromi, saya mengklik aplikasi pesanan online. Pas jari-jemari saya memilih-milih halaman pilihan dengan tulisan rekomendasi itu, mata saya terhenti pada tulisan "Ayam Jeletot Mbakyu X". Entah kenapa saya mau pesan itu.

Kelihatannya enak dan menggugah. Maka sret saya pilih pada pilihan paling atas, kelihatannya paling laris. Paket makan siang kekinian, ayam geprek jeletot. Butuh hampir 1 jam untuk menunggu makanan itu tiba di meja saya. Taraaaa, ini dia


Wew cuma ayam geprek dengan sambal pedas dengan level kepedasan suangat pedas, telor mata sapi dan dengan mie goreng. Makanan apa ini ? Teman-teman di ruangan nyeletuk ini menu anak muda bu. Seketika teringat menu kekinian di warung Up Normal. Bedanya paket ini lebih murah. 

Sambil makan saya bergumam, menu begini sih bikin sendiri juga bisa. Terbayang sambal tempe, sambal cenge, ikan seluang goreng, telor di kulkas banyak tinggal goreng kalau mau. Mie instan juga ada stocknya sebab anak saya suka dan tinggal buat kalau mau. Betapa sering bahan sayuran di refrigerator layu dan membusuk tanpa sempat dimasak karena belanja sekadar memenuhi ketakutan, takut pengen masak tapi gak ada bahan, huhu.

Sebab pikiran-pikiran itulah maka dinihari tadi saya oprek-oprek sedikit di dapur, bikin telor mata sapi, bikin mie goreng instan lalu dimasukkan ke dalam wadah sehingga siang ini saya makan dengan menu ini. 


Masih ada satu masakan yang tidak dimasukkan ke wadah, sayur asam sisa (semalam, uh). Commuter alias Penglaju  seperti saya, kerja di Palembang dan tinggal di Palembang coret sudah masuk Kabupaten Banyuasin, pergi pagi sekali dan pulang malam hari, membuat saya hanya sempat memasak untuk makan malam. Harus dipaksa masak shubuh juga. Entah akan sanggup berapa kali masak shubuh, jangan tanya.

Beginilah waktu berpendar. Jika dulu saat masih sendiri setiap jam makan siang tiba saya tinggal ke warung atau cafe kegemaran, sekarang perhitungannya banyak. Uang kuliah anak, nabung buat liburan keluarga dll. 

Besok bikin tumis buncis pake ebi ah. Eh mau mampir ke lapak Kompasiana saya, yuk DISINI.
Salam 🙏

No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Menelusuri Rempah/ Bumbu Pada Kuliner Sumatera Selatan

Sumber Foto : faktualnews.com Jika rempah-rempah adalah daya tarik atau pemikat datangnya Portugis dan Belanda ke Indonesia pada zama...