Search This Blog

Thursday, January 5, 2017

Baju Kurung dan Selamat Pagi Cikgu


Cikgu ada dimana-mana. Baju kurung warna cantik dengan bahan silk lembut dan motif bunga.

Tentu saja, sebab saya kat Malaysia, Kuala Lumpur selama 6 hari liburan. Maka sepanjang saya melihat perempuan berbaju kurung, ilalang di kepala saya seketika berkata "ah ada Cikgu". 

Betapa kuat pengaruh si Ipin dan Upin pada saya. Tiap kali saya melihat perempuan berbaju kurung, ingatan saya langsung pada tokoh "Cikgu" di kartun Ipin dan Upin itu dan seketika saya berkata dalam hati "Selamat Pagi Cikgu!".

Senangnya hati saya melihat perempuan berbaju kurung. Ingatan saya juga langsung terbawa pada pada masa kecil saya. Almarhumah ibu saya dulu juga suka berbaju kurung. Sebab Palembang itu ada pengaruh Melayu juga maka Baju Kurung juga menjadi pakaian tradisional selain Kebaya. Sekarang sudah jarang perempuan Palembang berbaju kurung.

Bahwa Perempuan Malaysia masih setia berbaju kurung, itu menyentuh hati saya. Senang melihatnya. Saya perhatikan baju kurung tak hanya dipakai oleh perempuan tua, perempuan muda juga. Barangkali Pemerintah Malaysia memang menganjurkan perempuan Malaysia untuk terus berbaju kurung. 

Setia pada tradisi itu sesuatu yang membanggakan bagi saya. Jika perempuan Malaysia setia pada Baju Kurung, maka Perempuan Indonesia, lebih khusus Perempuan Palembang, terutama yang tradisional macam saya, setia pada kain tradisional kami macam jumputan/pelangi dan songket, apapun bentuknya. Bisa syal atau scarf. Berbentuk rocela (rok celana), cardigan dll. 

Setia pada budaya dan tradisi, entah bentuk/model pakaian atau setia pada kain/tenun tradisional adalah hal yang pantas dikembangkan, kata saya sih. Sebab budaya dan tradisi akan terus bertahan oleh kesetiaan kita itu.

Salam Baju Kurung. Salam kain Jumputan dan Pelangi Palembang juga😚





No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Sia-sia, Mampus kau Dikoyak-koyak Sepi

Demi apa, pagi -pagi tadi saya sudah baca puisi. Ya demi komunitas Kompasianer Palembang  (Kompal) yang mendampuk saya sebagai salah satu d...