Search This Blog

Saturday, August 8, 2015

Tidak Mudah Jadi Perempuan-3

Tuhan pasti bertujuan baik, manusia membiaskannya. Tuhan pasti  punya niat mulia, manusia memelintirnya sehingga jadi hina. Maka ketika Tuhan mengatur pola hidup perempuan dan laki-laki, seharusnya tidak diplintir manusia demi kenikmatan duniawi. Tidak mudah jadi perempuan, ketika laki-laki mengambil untung dengan memelintir kata-kata Tuhan sekehendaknya.


Lihatlah kasus kartun di atas, alamakkkkk. Konon, kartun di atas mengambarkan kasus KPK yang sedang dialami Gubernur Sumut dan istri mudanya, pasangan Gatot - Evi. Kasusnya bisa dilihat disini. Gambar pertama menggambarkan sang gubernur dengan istri pertama. Gambar di sebelahnya, mengambarkan sang Gubernur dengan istri muda yang sedang heboh diberitakan. Istri pertama mengantarkan sang suami ke kursi gubernur, istri kedua mengantarkan gubernur ke kasus KPK, ohhh.

Saya pernah bertemu tokoh asli gambar pertama, perempuan berbaju merah yang dibuat kartun di atas, setahun yang lalu dalam acara rakor yang diselenggarakan Kemendikbud di Bali. Beliau hadir sebagai Bunda PAUD Sumatera Utara. Sosoknya tinggi, langsing. Saya salut pada perhatiannya yang besar terhadap pendidikan anak usia dini. Salut dengan penampilan sederhana dan bersahajanya, jilbab lebar, nyaris tanpa make-up. Saya yakin beliau sekarang baik-baik saja. Hanya, entah kenapa saya miris melihat televisi dan koran rajin memberitakan kasus KPK sang suami dengan istri muda (yang meski berjilbab tetap terlihat molek dan montok itu), terutama  senyum keduanya saat diwawancarai pers, wew.

Jika tuntunan agama memerintahkan perempuan untuk menjaga penampilannya di dalam dan di luar rumah, menutup aurat, tidak bemake-up tebal, tidak berlebihan memakai perhiasan, seharusnya laki-laki yang memiliki istri demikian menghargai dan menjaga harga diri istrinya dengan menjaga kehormatan dan memberinya kesetiaan. Jika laki-memiliki istri yang istiqamah, sederhana dan bersahaja tapi tidak bisa menundukan syahwatnya untuk melirik dan mengkhayalkan menggandeng perempuan seksi semok disampingnya, maka itulah kecelakaan dan penodaan agama. Ketika istri telah mencoba menjauhi duniawi, berjilbab lebar, berbaju longgar, tak bermake-up, tak memakai perhiasan, menjauhi urusan remeh temeh mudharat lain, seharusnya diimbangi dengan suami yang juga menjauhi syahwat duniawi ketika berada di luar rumah. Ketika istri sudah berpola hidup kualitas istri nabi, suami juga harus berkualitas setara sufi kalau tak bisa disebut setara nabi. Jika tidak, kehancuran yang terjadi. Kasus kartun di atas mungkin salah satu contoh. Wallahu'alam bishawab.

Tidak mudah jadi perempuan, terutama di dunia dimana hanya perempuan yang dituntut sempurna, sementara laki-laki tidak. Bahkan dianggap wajar mbalelo, misal tertarik perempuan lain yang seksi dengan alasan agama membolehkan beristri lebih dari satu. Di luar kasus kartun di atas, tidak mudah jadi perempuan ketika perempuan berbaju seksi maka sebagian bajingan berkata mereka layak diperkosa. Berbaju seksi bisa diperkosa, berhijab sungguh-sungguh juga tak membuat hidup dihargai dan dilindungi laki-laki. 

Tidak mudah jadi perempuan, sebab dunia ini mbalelo. Hanya, tetaplah lurus. Tetaplah waras. Mendengarkan nurani adalah salah satu cara menjadi waras. Salam.

No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

5 Cara Maksimalkan Diri Ketika #DiRumahAja Saat Pandemi Covid-19

Beginilah situasi saat Corona Virus Disease 2019 (COVID-19) melanda dunia, termasuk Indonesia. Semua orang harus membatasi pergerakan guna...