Search This Blog

Wednesday, July 29, 2015

Lebaran dan Kerepotan itu

Faktanya, lebaran itu syahdu meski menyambutnya begitu merepotkan. Lebaran juga ritual yang tak bisa tidak harus dirayakan sebab tanpanya ada yang tak lengkap dengan puasa ramadhan kita. Betapa repotnya aku, kau, dan dia, kalau tidak bisa disebut kita. 


Lihatlah perputaran uang menurut Bank Indonesia sejak puasa hingga lebaran tahun ini mencapai 132 Trilyun. Lihatlah, beberapa hari menjelang lebaran betapa repotnyo manusia di kotamu mempersiapkan lebaran. Tak cukup persiapan hidangan, juga pakaian dan membersihkan atau perbaharui rumah. Hidangan, dari kue hingga lauk-pauk, dari yang kering hingga basah. Pasar tradisional penuh hingga jalanan macet. Begitu pula mall dan aneka toserba. 

Setelah lebaran tiba, kesibukan itu tak juga reda. Mall semakin ramai, hanya pasar tradisionil yang sepi barang beberapa hari. Entah apa alasan mereka yang memadati mall. Meski ada satu dua yang mengenakan baju koko atau seragam busana muslim anak dan orang tua, kukira alasan mereka kesana bukan untuk berlebaran atau bermaaf-maafan dengan pegawai mall. Mereka bebelanja. Mungkin menghabiskan sisa anggaran lebaran. Anak-anak menghabiskan angpau lebaran. Transaksi yang terjadi. Perputaran uang di mall. 

Betapa dahsyatnya lebaran. Tetap saja, dia dirindukan. Hanya, jika kerepotan itu tak berganti substansi, hanya repot menyiapkan makanan/hidangan, pakaian, tanpa yang lain, alangkah sia-sianya. Masihkah kita bertemu lagi lebaran tahun depan? 

Ilalang di kepala seperti mengingatkan bahwa lebaran tahun depan belum tentu ada bagi kita. Sebab seperti yang kau tau, masa depan adalah rahasia Illahi. Maka setiap kali terbangun dari tidur, duduklah sebentar sambil berdoa dan merenung bahwa hakekat kita terbangun dari tidur karena Allah masih memberi kita nyawa, hidup. Alasannya, 3 hal :
  1. Kita masih diberi kesempatan untuk beramal-shaleh. 
  2. Masih diberi kesempatan bertaubat. 
  3. Masih diberi kesempatan untuk mengembalikan jika ada hak orang lain yang kita ambil.
Jika lebaran tahun depan masih menjadi milik kita maka semoga ia tiba dengan kemeriahan yang tak terlalu merepotkan, tapi kebersahajaan. Kebersahajaan yang indah karena telah ditempa oleh gemblengan. Tidak saja gembelengan ramadhan, juga gemblengan bahwa masa depan adalah rahasia Illahi. Salam. 


No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Pesona Labu Kuning, Menjalar di Tanah dan Merambah di Hati Penggemarnya

Sumber Foto : pixabay.com Dalam bayangan saya akan hari tua. Ada sebuah rumah kayu mungil dengan halaman luas. Pada halaman luas itu ...