Umroh Journey

Sebagai penyuka travelling, perjalanan adalah hal yang menyenangkan buat saya. Sebagaimana pesan yang sering saya tulis dimana saja, Life's a journey. Senyatanya, dari sekian banyak perjalanan yang telah saya lalui, saya ingin mengatakan ....Tiada perjalanan paling indah, kecuali ke Baitullah. Ya perjalanan ke Baitullah, Umroh. Umroh Journey.

Alhamdulillah, saya bersama teman-teman sekerja mendapat Reward dari Bapak Gubernur kami, Bapak Alex Noerdin untuk melaksanakan Ibadah Umroh. Maka pada tanggal 13 s/d 21 Mei 2014 kami sebanyak 21 orang berangkat ke Tanah suci menggunakan Garuda Indonesia ke Jakarta yang dilanjutkan dengan Qatar Airways.

Rabu, 14 Mei 22014 kami tiba di Madinah dan check-in di Hotel Golden Anshar Madinah pukul 12.00 siang waktu Saudi. Subhanallah. begitu keluar Hotel kami langsung terhubung dengan halaman halaman Masjid Nabawi. Memanjatkan doa sejak masuk Kota Madinah, begitu pula memasuki Masjid Nabawi dan Sholat Johor disana.

Selanjutnya, sulit diungkapkan dengan kata-kata. Praktis di hotel kami hanya mandi dan istirahat malam sebentar setelah sholat Isha. Melangkahkan kaki ke Masjid Nabawi adalah syahdu. Melaksanakan sholat disana seperti merasakan bayangan Rasulullah Muhammad SAW. Sebab konon, Masjid Nabawi adalah masjid kesayangan beliau. Dan Rawdah adalah bagian di samping Masjid Nabawi dimana kami tertunduk memohon doa dalam sujud terakhir kami. Betapa harum dan wangi Rawdah hingga air mata tak lagi bisa dibendung saat saya melantunkan doa disana. Memohon ampunan atas dosa-dosa yang telah dilakukan dan mengharap pelukan-Nya agar selalu di jalan yang lurus.


Sabtu, tanggal  17 Mei 2014, pukul 11.00 waktu Saudi kami berangkat menuju Mekah menggunakan Bus. Sebelumnya berpamitan pada baginda Rasul dengan melakukan ziarah lagi ke Rawdah. Kami  tiba di Mekah pas adzan maghrib. Di perjalanan kami singgah di Bier Ali untuk mengambil miqot. Check-in di  Hotel Pulman ZamZam Makkah. Disanalah kami menginap selama berada di Kota Mekah.

Umroh pertama (Thawaf, Sai dan tahalul) kami laksanakan setelah  makan malam dan sholat Isha yaitu pukul 10.00 malam. Menyaksikan Kab'bah untuk pertama kali adalah getaran hebat. Tak ada yang tak menitikkan air mata melihat Kiblat di hadapan mata. Inilah tempat dimana manusia seluruh penjuru dunia mengarahkan tubuhnya saat sholat. Subhanallah. Kami menyelesaikan umroh pertama pukul 02.00 dinihari  waktu Saudi. 






Umroh Mabruroh
Tak ada syaratnya kecuali 5 pilar. Niat umroh Lillahi ta'ala (semata-mata karena Allah Ta'ala), memulai dengan taubat, memohon ridho kedua orang tua, keluarga dan kerabat, menggunakan harta yang halal, dan mengetahui ilmu-ilmu manasik. Tak ada tanda khusus apakah umroh yang kita lakukan itu mabrur atau tidak. Ukurannya adalah relatif bagi orang per orang. Hanya, bagi saya.... Umroh mabruroh itu memang akan tercapai jika kita menggunakan 5 pilar tadi. Lalu, saat disana, pasrahlah kita pada Allah SWT, mohon ampun atas dosa-dosa, berjanji tidak akan melakukan hal-hal yang dilarang dan tidak diridhoi Allah SWT, serta sejak saat itu bertekad menjadi manusia yang Akhlakul Kharimah. Saat di Rawdah dan beberapa tempat di Mekkah yang disebut di'ijabah, doa saya adalah agar saya diampuni dosa-dosanya, dijadikan insan yang lembut jiwa (mengingat saya cukup keras hati), santun dan dijadikan insan yang disayangi Allah SWT karena Ridho-Nya. Setelahnya barulah saya berdoa agar dipanggil lagi ke Baitullah segera bersama keluarga saya.

Sungguh, saya tidak tau apakah Umroh saya mabruroh. Saya kira, ukuran Mabrur bukanlah karena kita berhasil mencium Hajar Sawad (demi Allah, ada banyak orang Indonesia yang menjadi Joki Hajar Aswad. Syyukurlah kami sudah diberi tau pembimbing agar tidak memaksakan diri mencium Hajar Aswad, apalagi sampai terperangkap Joki. Bila Allah berkehendak, kita seperti terbang tiba mencium Hajar Aswad, demikian kata Ustadzah Wati pembimbing kami di Madinah) atau karena kita berhasil sholat dan berdoa di tempat-tempat yang di'ijabah, tapi lebih kepada bagaimana  kita berserah diri. Bagaimana kepasrahan kita kepada Allah SWT. Bagaimana kita betul-betul bertekad dan berusaha agar ibadah Umroh itu membekas, membentuk kita menjadi manusia yang baik di hadapan Allah SWT. Wallahu'alam bishwab. Biarlah Allah SWT yang tahu. Salam.


Comments

  1. Alhamdulilah ya Bu, selalu rindu ingin kesana lagi

    ReplyDelete

Post a Comment

Hanya tulisan biasa, hasil kontemplasi soal apa saja. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Popular Posts