Search This Blog

Saturday, January 11, 2014

Melesatlah


Halaman riuh itu tak ada pagi ini. Sebab hujan engan berhenti dan secangkir kopi tak mampu menyibak muramnya langit. Maka melesat adalah piilhan manis.

Melesatlah selagi bisa. Sebab berkutat dalam rumah hanya membuatmu tersandera layar-layar berkedip entah hp atau laptop dan pc. Untuk apa, kukira ada batas dimana FB, twitter, entah apalagi tak lagi menarik. Sedang merapikan naskah belum memantik rasa di kepalamu. Jadi, melesatlah segera.

Melesatlah. Halaman depan dan samping rumah menanti. Lihatlah pot-pot yang isinya mulai gersang. Barisan bunga melati di dekat pagar kayu itu. Anggrek tanah yang sudah sebulan tak memunculkan bunga ungunya. He, Stephanot Ungu sudah mulai tinggi, bisa kau lilitkan di tiang carport itu. Ah, si Lily Putih perlu belaian tanganmu hingga ia bisa jadi Ratu lagi di halaman ini.

Melesatlah. Jika halaman bunga tak mampu memantik rasa, ada banyak tempat lain untuk melesat. Ada banyak tempat dimana orang-orang berkumpul untuk ngopi bersama. Ada banyak gerai tempat mata memuaskan pandangannya yang disebut window shopping. Bukalah pagar itu. Keluarlah, untuk apa disini.

Sebab melesat adalah pintu dimana jengah bisa bisa berganti wajah menjadi sumringah

2 comments:

  1. bener juga, biasanya kalo bosen harus jalan2 ke luar, biar ada suasana baru :D

    ReplyDelete

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Menelusuri Rempah/ Bumbu Pada Kuliner Sumatera Selatan

Sumber Foto : faktualnews.com Jika rempah-rempah adalah daya tarik atau pemikat datangnya Portugis dan Belanda ke Indonesia pada zama...