Search This Blog

Sunday, January 5, 2014

Lipstick Setan

Lipstcik Setan tiba-tiba saja muncul pada pagi hari hampir seminggu yang lalu. Sempat agak tercekat saat menemukannya. Ia, gumpalan memori lama. Gumpalan yang terbuka saat bertemu dengan kerabat lama setelah belasan tahun berlalu. Lipstick Setan. Baca saja kalau kau mau..

Siang hari yang aku lupa hari apa. Hal yang kuingat adalah hari itu adalah bagian dari masa penempaan diri. Sebab kuliah sudah selesai sedang jatah bulanan sudah distop orang tua. Maka sambil mencari pekerjaan, aku menjadi agen kosmetik yang cukup terkenal di masa itu. Pada hari hebat itulah istilah "Lipstick Setan" itu muncul. 

Perempuan hampir setengah baya sibuk memilih aneka lipstick. Satu dua dipandang lalu dilepaskan. Beberapa yang lain dia komentari,
"Aku item sih, maunya yang soft..."
"Tapi yang ini bikin wajahku kuyu dan pucat.."

Pemilihan lipstick itu belum berakhir sampai disitu. Aneka lipstick dilihat dan dipertimbangkan lagi. Terus saja begitu. Kesabaranku hampir hilang, he, susahnya mencari uang. Mungkin karena kehilangan ide, kusodorkan padanya lipstick yang warnanya cukup menyala. Dan .... ia membuatku terpana,

"Ah, gak mau aku yang ini", katanya sambil menampik lipstick itu
"Gak cocok buatku, aku jadi kayak setan nanti.."

Katanya, sebab dia hitam, rambutnya megar dan gemuk, maka menurutnya lisptick warna menyala hanya akan membuatnya tampak seperti setan. Hohoho, jadi lisptick yang menyala itu lipstick setan!? Lalu perempuan-perempuan yang memakai lipstick warna menyala itu kau angap seperti setan? Prettttt.

"Setan itu ada di dirimu jika kau anggap begitu, dengan atau tanpa listick ini.." 
Kata-kata yang akan kukatakan padanya, seandainya akal sehatku sudah lenyap. Untunglah kata-kata itu kutelan sendiri. Maka kutinggalkan perempuan rumit itu dengan nyanyian parau di kepala. Sambil berjalan saat itu, kubayangkan lagi wajahnya seandainya ia memakai lipstick warna menyala. Rambut keritingnya  meriap. Tubuh hitam besarnya melangkah. Mungkin ia akan menyeringai dengan bibir warna terang menyala itu. Hehe, barangkali memang tak cocok buatnya. Tapi, tetap saja, istilah setan itu berlebihan. Kukira yang membuat tampangnya agak menyeramkan adalah sorot matanya. Bukan karena dia hitam, atau gemuk atau karena memakai lipstick warna terang menyala. 

Saat aku bertemu lagi dengan perempuan yang menyebut "Lipstick Setan" itu, ah, penampilannya tak banyak berubah. Masih hitam. Masih gemuk. Hal yang membedakan adalah kerut-kerut di wajahnya semakin jelas. Rambutnya sudah mulai memutih. Hanya, rambut kriting mengembangnya itu tak lagi berkibar karena dia ikat seperti sanggul kecil. Dia tak menggunakan lispstik sama sekali. Sejujurnya, buatku dia dia masih agak menyeramkan sebab dia jarang tersenyum dan enggan melembutkan pandangan matanya. Entahlah.

Begitulah. Betapa manusia membuat penilaian dan batasan untuknya, lalu terperangkap dan tak tak bisa bergerak dalam batasan yang dibuatnya sendiri.

No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Sia-sia, Mampus kau Dikoyak-koyak Sepi

Demi apa, pagi -pagi tadi saya sudah baca puisi. Ya demi komunitas Kompasianer Palembang  (Kompal) yang mendampuk saya sebagai salah satu d...