Kenari Jaya

Entah kenapa memakai nama Kenari? Apakah mereka tupai atau bajing sehinga suka kenari? He, tak sempat pula kutanyakan kenapa namanya Kenari Jaya. Tak penting membahas nama. Kenari Jaya, bacalah kalau kau mau..

Kenari Jaya, pertama kesana tak meninggalkan kesan mendalam kecuali umpatan dalam kepala. Pak tua yang bertugas mencuci kendaraan bututku tak bekerja dengan baik. Ada banyak kotoran masih melekat di di dinding luar kendaraanku. Maka siang itu kutinggalkan Kenari Jaya dengan  suara mencicit.

Kenari Jaya, punyakah aku pilihan lain? Punya, kalau mau. Ada banyak tempat cucian mobil di kota ini. Ada BIMS, ada Daniel Car Wash, dan lain-lain. Entah kenapa masih saja aku kembali kesana. Mungkin sebab aku tak punya banyak waktu. Selain itu, letaknya sangat strategis buatku. Cuma menikung satu lorong dari rumah, sampai kesana. Maka aku kesana lagi dan dan lagi. Kali itu yang bertugas membersihkan mobil bututku adalah anak muda bertubuh kecil. Dia cekatan dan cepat.

Kenari Jaya, kemarin adalah kali kesekian aku kesana. Hari masih pagi. Meski masih pagi, ada banyak mobil sedang dicuci. Hanya satu petugas yang sedang free, ah, bapak tua itu. Si Koko, seperti biasa sigap mengatur mobil yang datang. Kukatakan padanya,
"Ada petugas lain?"
"Tidak ada", katanya
Sudahlah, aku pasrah. Kurelakan mobilku dicuci pak tua itu lagi. 

Kenari Jaya, sementara menunggu aku ke kantin sebelah. Kantin sedang penuh. Suasana riuh. Aku berbaur dengan pengunjung lain yang rata-rata para siswi Sekolah Perawat di Gedung sebelah. Aku duduk di sudut dimana mataku bisa memandang mobil-mobil sedang dicuci. Mobilku meluncur ke hanggar cucian. Saat itulah kulihat dengan seksama bahwa pak tua itu ternyata kakinya pincang. Seketika niat untuk memesan makanan jadi lenyap, entah kenapa.

Kenari Jaya, masih menungu di sudut kantin itu. Perasaanku campur baur. Terdengar suara-suara ilalang di kepala,
"Kau lihatlah, meski dia tua dan bahkan pincang, dia tetap semangat berkerja.."
"Tentu saja bukan untuk menabung supaya bisa berlibur..."
"Bukan pula supaya bisa membayar tagihan kartu kredit..."
"Tapi supaya keluarganya bisa makan.."

Kenari Jaya, suasana kantin masih gaduh. Tapi tak ada lagi suara ilalang di kepala. Dia mulai hening. Aku menggumam sendiri. Pak tua itu sibuk mencuci mobilku. Kulihat ada noda warna kuning di bemper belakang. Seandainya noda kuning itu luput dari pak tua pincang itu, aku rela. Tinggal membersihkan sedikit dengan lap yang kupunya di rumah nanti. Sudahlah.

Kenari Jaya, pak tua itu hampir selesai. Kuhampiri meja si Koko dan kubayar jasa cucian mobil itu. Setelahnya kuhampiri pak tua itu. Hm, noda kuning itu sudah dibersihkan rupanya. Kuberi pak tua itu tips seadanya. Dan oh, beliau jadi lebih telaten menyelesaikan pekerjaanya. Kukira, bukan karena uang seadanya itu tapi ... karena beliau menghargai arti sebuah empati. 

Kenari Jaya, terimakasih Tuhan telah memberiku kesempatan untuk melamun dan merenung disini. Renungan remeh temeh. Meski remeh temeh, setidaknya aku jadi betapa sulit untuk bertahan hidup bagi pak tua yang kakinya pincang itu. Siapakah yang memikirkan kaum tua cacat seperti pak tua ini di tengah lembaga berembel-embel "Sosial" yang begitu banyak? Pantaskah aku menuntut hasil kerja sempurna dari pak tua itu. Menuntut sempurna dari dunia yang tak sempurna!? Betapa mata jiwa harus sering meluaskan padangannya.

Kenari Jaya, selain itu, aku jadi tau kenapa cucian mobil ini mampu bertahan di tengah lesunya bisnis cucian mobil. Lihatlah di wilayah sekitar tempat tinggalku, sudah 3 usaha cucian mobil menutup usahanya, Kenari Jaya di jalan Bambang Utoyo ini bertahan. Kukira karena mereka bisnis yang tak sekedar bisnis. Bisnis yang ada empatinya, mau memperkerjakan orang cacat seperti pak tua itu.

Kenari Jaya, kudoakan agar pak tua pincang itu diberi kesehatan dan berlimpah rezekinya.

Comments

  1. kalau melihat hal yang kurang didunia ini, kita selalu saja terbawa suasana. hebatnya lagi bsia menceritakannya ya yuk!

    ReplyDelete
  2. 'Aamiin... Hiks, kenapa saya jadi mau mewek ya Bu?

    ReplyDelete

Post a Comment

Hanya tulisan biasa, hasil kontemplasi soal apa saja. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Popular Posts