Monolog Kelambu

Bila malam tiba, ia dan kelambu adalah seperti Mimi-Mintuna dan cangkangnya. Seperti kau dan jaketmu. Kelambu adalah tirai dimana sesuatu di kepalanya seperti menari. Kadang bertutur seperti nyanyian tak jelas. Muncul dan hilang sendiri tanpa bisa berhenti. Maka petik, petiklah monolog kelambu ini....


"Di lampu merah sore tadi, seorang bayi menangisi ibunya, tak jelas siapa yang menggendongnya ..."  "Sekuntum mawar merekahkan kelopak merah muda, di taman yang entah dimana.."
"Kupu-kupu biru terbang rendah lalu hinggap bukan di kuntum bunga tapi di tiang bendera.."
"Sepasang kepodang terbang beriringan di sela-sela dahan jambu halaman tetangga..."
"Di tempat kerja, sepasang bajingan dan sundal menari atas nama cinta, buta..."

"Membuat sesuatu yang disebut muak itu tak lagi berupa...." 

"Udaraku pengap. Seperti mencekik leher dan merangsek segala.."
"Hujan seperti sia-sia. Hujan tak bisa menghibur sebab ia tak bawa pelangi .."

Suara-suara makin terdengar canggung dalam kelambu..

"Apakah kau lelah Perempuan berkelambu..?"
"Jeda saja. Ambil libur panjang ke pulau jauhhhh.."

Tak ada jawaban. Sebab ia cuma monolog. Suara-suara muncul lalu hilang sendiri. Mengapung di langit-langit kelambu. Kadang terdengar indah hingga matanya mengerjab. Kadang...., ia tertegun sambil gerahamnya gemeretuk. Kadang pula, tak ada suara melainkan terlihat sedikit kilau di sudut matanya. Kilau yang tiba setelah kebasahan di sudut matanya reda.  

Tiba-tiba muncul sebuah suara dengan nada tinggi dan berulangkali. Muncul dari ponsel yang terletak di aats bantal. Sebuah pesan singkat tiba padanya. 'Jangan lupa, besok senam pagi jam 7'. 


Monolog ini terhenti. Perempuan berkelambu ini memiringkan tubuh lalu memejamkan matanya.

Comments

  1. "sementara itu di tempat yang lain, seorang perempuan merenung..mengapa orang dengan mudah menerima kemunafikan dan penghianatan sebagai alasan untuk pembenaran"... like your monolog mbak...

    ReplyDelete

Post a Comment

Hanya tulisan biasa, hasil kontemplasi soal apa saja. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Popular Posts