Search This Blog

Thursday, March 21, 2013

FB dan Twitter, Bukan Halaman Pribadi

Sesekali ini, melesat sejenak itu memang asyik. Ini sore yang ke sekian dalam bulan ini dimana langit pukul 5 sore tak bisa dinikmati. Agak memburamkan warna bulan ini, seandainya bisa ia diberi warna. Maka baiklah, saya beri waktu diri saya melesat sejenak. Judulnya, FB dan Twitter, Bukan Halaman Pribadi. Bacalah kalau kau mau..


Ya socmed keroyokan sebangsa FB dan Twitter itu sebetulnya bukan halaman pribadi, bagi saya. Sebab media sosial dimana orang-orang berinteraksi bersama-sama dalam jaringan pertemanan atau perfollow'an itu adalah tempat tumplek pleg banyak orang dengan aneka pendapat. Gesah, galau, perlebayan, pengumuman, promosi jualan, dan lain sebagainya. 

Sebagai arena tumplek-pleg bersama, maka tanyalah diri kita masing-masing, benar-benar bebaskah kita mengutarakan apapun isi kepala kita di wall dan timeline? Saya kira bebas, tapi tak benar-benar bebas. Sebab ketika tombol share kita tekan entah kepada publik atau teman, maka sejak saat itu kata-kata yang kita tuangkan tersebut adalah milik keroyokan. Akan ada reaksi. Entah sekedar jempol, komentar pujian dan persetujuan, bisa juga sebuah protes.

Sesungguhnya protes orang atau protes anda atas status orang lain di FB dan twitter itu biasa, tidak aneh. Itulah komunikasi dua arah pada socmed keroyokan.Bila ada orang yang berkata bahwa wall FB dan timeline Twitter itu seumpama kampung halaman orang dan orang lain tidak boleh protes atasnya, hehe, buat saya itu lebay. Lebay juga irrasional. Kalau memang tidak boleh ada protes, ya kenapa dishare. Simpan saja untuk diri anda sendiri. Tulis di blog pribadi, tulis di buku diary. Atau kalau tetap ingin dishare, setting cuma anda yang bisa membaca, hihi. Beres kan. FB itu ajang narsis, Twitter ajang pisuh-pisuhan, kata teman saya

Seperti itulah kira-kita. Selebihnya tinggal pandai-pandai kita saja bermain rasa dan logika. Bagaimana supaya orang tidak muak membaca status anda. Jangan sering-sering menggalau dan mendesah-desah ria yang tak perlu, seandainya bisa. Jika tak bisa, maka jangan marah kalau ada yang protes, entah mengkonter langsung dengan komentar atau menulis protesnya di tempat lain. Ada aksi, ada reaksi, sudah hukum alam. Salam.  

No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Menelusuri Rempah/ Bumbu Pada Kuliner Sumatera Selatan

Sumber Foto : faktualnews.com Jika rempah-rempah adalah daya tarik atau pemikat datangnya Portugis dan Belanda ke Indonesia pada zama...