Search This Blog

Friday, February 8, 2013

Stephanot Ungu

Di sudut itu Stephanot Ungu tumbuh. Masih tunas muda yang entah kapan merimbun dan memanjat. Kutanam di sebelah kiri dan kanan tiang besi itu. Entah bila dia munculkan warna ungunya..

Maka kupejamkan mata. Membayangkan dia telah berdaun lebat. Memanjat kiri dan kanan tiang besi carport tepat di pintu pagar menuju pintu rumah. Memunculkan kuntum-kuntum bunga ungunya. Membentuk lengkungan berbunga ungu. Lengkungan yang akan menaungi kepala siapa saja yang lewat di bawahnya. Naungan yang dulu kita sebut pergola. 

Betapa lama aku merindukan pergola yang ditumbuhi Bunga Stephanot Ungu itu. Kukira, telah sangat lama. Tak apa. Hanya perlu bersabar. Menunggu tanaman itu tumbuh dan tumbuh. Jika hari itu masih milikku, tentu aku masih diberiNya kesempatan melewati pergola yang diitumbuhi Stephanot Ungu itu. Hari dimana aku melintas dibawah lengkungan Stephanot Ungu itu.

Sambil menunggu ia tumbuh. Setiap hari sesuatu di kepalaku bertiak kencang. Dia minta aku menuliskan ini dan itu tentang Stepahnot Ungu. Sepetik puisi. Sebuah kisah liris tentang dua orang yang ingin saling memeluk hangat di bawah pergola berbunga Stephanot Ungu. Dan lain sebagainya.

Masih kusimpan dan kuendapkan. Seperti perempuan yang menyimpan janin dalam rahimnya. Terus bergerak. Terus tumbuh. Begitupun kisah Stephanot Ungu di kepalaku. Suatu hari, mungkin setelah Stepahnot Ungu itu betul-betul meng"Ungu"kan pergola itu, kisah-kisah itu akan kumunculkan. Tunggu. Tunggulah saja..


No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Sia-sia, Mampus kau Dikoyak-koyak Sepi

Demi apa, pagi -pagi tadi saya sudah baca puisi. Ya demi komunitas Kompasianer Palembang  (Kompal) yang mendampuk saya sebagai salah satu d...