Search This Blog

Thursday, January 24, 2013

Muslimah, "Tunjukkan, Jangan Katakan!"

Entah siapa yang dulu mengatakannya, mirip-mirip tips menulis Anton Chekov, tapi dengan pengejawantahan lain. Tunjukan, jangan katakan. Kalimat ini sesungguhnya punya makna dalam. Baca saja kalau kau mau..

Sesungguhnya setiap manusia adalah Rahmatan Lil 'Alamin bagi lingkungan sekitarnya, sepanjang dia membawa kebaikan, kemanfaatan dan kebarokahan. Pada diri tiap manusia, terdapat contoh yang bisa diambil hikmah bagi orang lain di sekitarnya. Maka supaya dunia ini tidak makin chaos, kenapa tidak kita terapkan "Tunjukkan, jangan katakan". Artinya, apablila kita menganggap A adalah baik, maka kenakanlah A itu dengan baik dan syar'i. Kita tak perlu berteriak-teriak mempropagandakan A atau berteriak-teriak memprotes orang yang menurut kita tidak mengenakan A dengan baik.

Kenapa...? sebab menilai orang lain adalah hal yang paling besar mudharatnya. Apalagi karena manusia adalah mahluk yang lemah, subjektif. Ketika kita memprotes cara berhijab orang lain, padahal menurut orang-orang di sekitar kita cara kita berhijab masih jauh dari benar, bahkan lebih parah dari yang kita protes, apa jadinya coba..?  Meski mengenakan rok panjang dan lebar, tapi bokong melambai kemana-mana. Lirikan mata kita kemana-mana. Fatal bukan !?

Saya teringat sebagian muslimah yang saya kenal. Muslimah yang betul-betul mencoba kaffah. Baju mereka longgar. Hijab mereka lebar. Tidak menyolok. Senyum mereka tidak menggoda, tapi menebar kasih sayang ke semesta. Mereka nyaris tak pernah menilai hijab orang lain. Tak pernah berkoar-koar soal hijab yang benar. Tak pernah pula memprotes soal hijab yang salah. Dan mereka tetap mengenakan hijab secara kaffah. Salut. Mereka inilah yang yang telah menerapka "Tunjukkan, jangan katakan".

Begitulah. Tunjukkan, jangan katakan. Mencapainya adalah perjuangan. Salam.

No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Sia-sia, Mampus kau Dikoyak-koyak Sepi

Demi apa, pagi -pagi tadi saya sudah baca puisi. Ya demi komunitas Kompasianer Palembang  (Kompal) yang mendampuk saya sebagai salah satu d...