Tak Ada Bunga Yang Tak Layu

Tak ada bunga yang tak lewati masa kuncup, mekar, dan layu. Bila kuncup itu mendebarkan, mekar itu menggetarkan, maka layu itu (entah apa sebutannya) pasti tiba. Sebab itulah tahapan yang pasti terjadi padanya. Ya..., tak ada bunga yang tak layu.

Bunga yang saya maksudkan ini hanya semantik. Sebuah cara menggambarkan kehidupan. Entah kita laki-laki atau perempuan, pada intinya kita melewati 3 fase kehidupan. Tumbuh. Mekar. Lalu, layu. Setelah masa kanak-kanak berakhir, kita pasti akan lalui masa remaja. Lalu masa dewasa dimana kita ditempa kehidupan. Setelahnya, entah kita menemui masa tua atau tidak, ajal akan tiba pada kita.   

Rasanya, semua tahapan itu punya nilai sendiri bagi setiap manusia. Rasanya pula, ketika layu itu tiba, he, kalau boleh memilih, saya ingin layu dengan cara indah yang saya suka.  Layu tapi jiwa tegak. Memandang hidup dengan penerimaan dan pemahaman. Lembut. Syahdu. Menjalani hari-hari dengan senyum di jiwa. 

Tersenyum saat melihat matahari muncul dari balik jendela sambil mereguk secangkir kopi. Membolak-balik  foto-foto dari album bersama keluarga sambil meringis atau tertawa. Berlibur ke tempat indah dimana  matahari muncul dan tenggelam dari balik laut. Bertemu dan bercengkrama dengan para keluarga dan sahabat kapan saja sempat.

Begitulah. Sekali lagi, tak ada bunga yang tak layu. Tapi layulah dengan cara indah. Tentu saja cuma racauan saya. Salam.

Comments

  1. layu dengnan cara yang indah

    saya suka itu, mbak

    ReplyDelete

Post a Comment

Hanya tulisan biasa, hasil kontemplasi soal apa saja. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Popular Posts