Search This Blog

Saturday, July 28, 2012

Hati-hati, Emosi Itu Komoditi

He, entah harus mulai darimana. Baiklah, saya cuma ingin mengatakan bahwa segala yang berkaitan dengan hasil olahan emosi itu, biasanya tidak rasional. Hal yang karena ketidakrasionalannya sering disalahgunakan banyak orang/pihak untuk melakukan pembuaian atau bahkan penipuan. Karenanya, berhati-hatilah kita.

Emosi itu...., tentu saja banyak bentuk turunannya. Kecenderungan untuk senang, suka marah, benci, atau tersentuh lalu iba pada sesuatu adalah hasil kerja emosi. Kenderungan-kecenderungan yang pada akhirnya membuat kita mudah digiring pada opini yang disebar orang/pihak tertentu ke hal yang mereka inginkan. 

Ketika masyarakat memperlihatkan selera sukanya (yang juga saya golongkan emosi) pada hal-hal yang galau dan lebay, beberapa pihak menangkap ini sebagai peluang. Lihatlah iklan alay beberapa provider seluler (mulai dari mawar dan marwan hingga kisah setan dan jin yang gagal menggoda manusia yang diputar untuk sesi ramadhan ini, hehe). Ini yang saya maksud pembuaian. Tentu sah-sah saja.

Ketika kita sering mudah terpancing pada berita menyedihkan dan mengharukan yang disebar media sosial, maka pembuaian dan bahkan penipuan itu mudah terjadi. Lihatlah ketika kisah hidup prihatin Pak Raden yang di hari tuanya harus mengamen disiarkan di beberapa televisi, tiba-tiba di twitter muncul akun yang menyebarkan nomor rekening bagi yang ingin menyumbang untuk PakRaden, padahal Pak Raden tidak punya nomor rekening itu. Banyak lagi contoh lain. 

Hal terkini yang saya lihat adalah berita pembantaian Muslim Rohingya di Burma, mengenaskan memang. Banyak yang terpancing emosi. Sedih dan marah. Hal yang manusiawi. Hanya, entah kenapa saya memantapkan diri saya untuk tak mudah percaya pada apapun yang ditebar di media sosial. Sebab kebanyakan adalah hal tak jelas yang sering sekedar memancing kekisruhan dan perseteruan masa atau mungkin juga penipuan. Pun ketika kantor berita besar dunia memuat gambar penyiksaan perempuan dan anak-anak di Afganistan, reaksi saya tetap sama. Menebalkan sisi waspada saya. Sudah lama saya begini, maaf.     

Begitulah. Bagi banyak orang/pihak emosi manusia adalah sebuah komoditi mereka untuk mencari keuntungan. Pada titik tertentu mungkin sah-sah saja.  Selebihnya, berhati-hatilah kita. Hal sejenis pernah saya tulis DISINI. Tentu saja cuma pikiran saya. Mohon maaf kalau tidak berkenan. Salam.

No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Menelusuri Rempah/ Bumbu Pada Kuliner Sumatera Selatan

Sumber Foto : faktualnews.com Jika rempah-rempah adalah daya tarik atau pemikat datangnya Portugis dan Belanda ke Indonesia pada zama...