Search This Blog

Thursday, June 7, 2012

Sebongkah Batu Sore Itu

Warnanya hitam. Hitam dan basah setelah hujan turun tadi. Ia teronggok begitu saja di sisi kanan pintu rumah. Tepat di tepi rimbun melati yang sedang memekarkan kuntum-kuntum putihnya. Entah kenapa sebongkah batu itu begitu menarik perhatianku. Seperti ada desau angin yang membuat kepalaku tertunduk dan tertumbuk di batu itu. Maka sore yang biasa-biasa saja itu mendadak jadi sore yang tak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Kalau saja kau bisa merasakannya.


Sementara, di sebuah sore yang lain. Sore yang berangin. Dia muncul di hadapanku. Tak ada senyum di wajahnya. Rambut sebahunya terlihat tak rapi. Langkahnya gontai. Dengan sekali hempasan dia duduk di kursi sambil memainkan asbak rokok yang terbuat dari batu granit.

"Rasanya aku ingin  menjadi sebongkah batu ..."   
"Lho, kenapa..."
"Sebab batu itu abadi..."
"Mau seratus tahun ke depan dia tetap batu..."
"Dihantam hujan, banjir, badai, api, dia tetap batu..."
"Kalau aku batu, tak perlu pusing dengan segala tetek bengek urusan dunia yang memusingkan ini.."
"Dasar gelo, bilang saja sedang pusing.." jawabku asal pula. 


Perbincangan yang janggal. Tapi begitulah dia. Bukan dia bila tak mengatakan hal-hal yang janggal. Dia unik. Tapi..., dia miliki hati yang tulus. Dia spontan dan apa adanya. Mungkin itu alasan kenapa aku suka dia. Beberapa bulan setelah itu, dia meninggalkan negeri yang disebutnya memusingkan kepala ini, sebuah beasiswa  telah ia dapatkan. Maka ia meninggalkan pekerjaannya. Meninggalkanku. Meninggalkan negeri ini demi beasiwa tugas belajar di Jepang

"Akhirnya, ketemu jalan juga kau ya..." 
"Masih mau jadi batu gak...?
"Hahahaha, eh, batu disini bagus-bagus loh. Beneran.."
"Mudah menemukan sebongkah batu indah disini..."
"Di pinggir kolam, di tepi rumah..."
"Di taman kota, di  TPU, di pinggir jalan...."  


Tiba-tiba ponselku berdering. Sebuah pesan singkat dari istriku. Ia minta di jemput jam 5 ini. Pesan singkat yang membuyarkan lamunanku pada perbincangan janggal tentang sebongkah batu. Mau tak mau  sebongkah batu yang tadi seperti memaksaku memandangninya kutinggalkan. Sebelum beranjak, kupandangi lagi dia. Desisan tak tertahan keluar dari mulutku,

"Bisa saja ini kau...."
"Mungkin saja angin atau badai telah membawamu kemari..."
"Mungkin saja kau telah menjadi sebongkah batu. Apapun. Tapi, sudahlah. Tenanglah kau di alam sana...."

Ya tak ada yang bisa kulakukan selain mengenangnya. Dia, seseorang yang pernah menjadi sahabat istimewaku telah telah berpulang setahun setelah kedatangannya ke Negeri Tirai Bambu itu. Pahamkah kau arti sahabat istimewa? Syukurlah kalau kau paham. 

Apakah ia telah benar-benar menjadi batu ? entahlah. Kebodohan macam apa hingga aku harus percaya. Tak ada waktu lagi memikirkannya. Hidup harus berlanjut. Sebongkah batu yang teronggok di tepi rimbun melati sore itu serta merta kuraih dan kumasukkan dalam sakuku. Entah akan kusimpan dimana ia. Dan entah akan jadi apa.   
  

No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Sia-sia, Mampus kau Dikoyak-koyak Sepi

Demi apa, pagi -pagi tadi saya sudah baca puisi. Ya demi komunitas Kompasianer Palembang  (Kompal) yang mendampuk saya sebagai salah satu d...