Search This Blog

Saturday, June 16, 2012

Paulo Coelho Ketika Lampu Dipadamkan

Mungkin saya sedang kehilangan ide, tapi sungguh tiba-tiba sesuatu di kepala saya seperti beteriak-teriak minta dikeluarkan. Sesuatu yang spontan saya beri judul "Paulo Coelho, Ketika Lampu Dipadamkan". Dan tak bisa ditawar, harus saat ini juga. Baca saja kalau kau mau..

Kejadiannya kemarin, saat perjalanan pulang saya ke Palembang. Di tengah rasa lelah dan kekesalan karena saluran entertaiment di layar monitor di hadapan saya dihentikan menjelang saaat landing, tiba-tiba saya melihat sesuatu yang agak lain di sebelah kiri saya. Seseorang, kebetulan laki-laki, kebetulan pula lumayan ganteng, sedang membolak-balik halaman sebuah buku dengan seksama.

Cahaya jatuh di halaman buku yang sedang ia baca. Pencahayaan yang membentuk bayangan yang bagi saya indah dan unik. Bayangan cahaya jatuh pada halaman buku yang sedang terbuka. Tentu saja, sebab lampu cabin telah dipadamkan dan si pembaca buku itu menyalakan lampu baca yang cahayanya tepat jatuh di halaman buku yang ia baca.  Sayang moment yang bagi saya menarik itu tak bisa saya abadikan.

Semangatnya yang begitu besar membaca meski lampu telah dipadamkan membuat saya penasaran. Hm, buku apa sih yang dia baca? Ketika dia mebolak-balik lagi buku itu hingga sampul depan terlihat, tahulah buku apa yang dia baca. Nama penulis jelas terlihat karena ukuran hurufnya cukup besar, Paulo Coelho. Entah apa judul buku itu.

Begitulah. Hampir mirip dengan kejadian yang dulu saya lihat diisni. Kali ini, nuansanya agak beda. Semoga akan semakin banyak orang yang gemar memanfaatkan waktu untuk membaca buku.  Ya, membaca buku dimana saja dan kapan saja saat ada jeda waktu. Mungkin suatu saat akan ada yang begitu bersemangat membaca buku saya seperti si pembaca Paulo Coelho ketika lampu telah dipadamkan di pesawat kemarin itu, hehe. Salam.

No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Sia-sia, Mampus kau Dikoyak-koyak Sepi

Demi apa, pagi -pagi tadi saya sudah baca puisi. Ya demi komunitas Kompasianer Palembang  (Kompal) yang mendampuk saya sebagai salah satu d...