Sunday, April 22, 2012

Dan Bunga-bungapun Berganti

Pagi di sebuah halaman rumah. Seseorang berdiri menatap apa yang ada sambil menghembuskan nafas panjang. Aneka tanaman  tumbuh di seluruh sisi. Tumpah ruah begitu saja. Bunga-bungaan dan beberapa tanaman hias di depan beranda. Sebatang belimbing di pojok kanan, sedang tak berbuah. Anggrek tanah terlihat jengah bercampur dengan alokasia dan kadaka. Ah, kenapa halaman ini berubah ?

"Dimanakah Anggrek Bulanku ?"
"Dimanakah Golden Showerku...?"

Tak ada jawaban dan angin-angin jahil mempermainkan rambutnya.

"Dimanakah Suplir pemberian Tante Laksmi...?"
"Dimanakah sepot Kemuning itu..?"

Ia masih akan bertanya lagi, dan tak jadi. Sebab terdengar suara-suara,

"Berhentilah lebay Soel.."
"Apa kau lupa halaman yang sedang kau injak ini bukan halaman rumahmu yang dulu..."
"Apa kau lupa, sudah hampir 3 tahun kau kembali pada halaman rumah ibumu..."

Suara angin jahil itu. Mungkin sang angin mulai bosan mendengar pertanyaan-pertanyaannya. Sebagaimana biasanya, hanya angin itu yang bisa memberi kesadaran saat ia tiba-tiba merasa jengah atau amnesia seperti tadi.

Oh, pagi yang janggal. Kenapa ia bisa lupa bahwa halaman rumahnya telah berganti. Pantas saja bunga-bungapun berganti. Sudahlah. Meski halaman rumah berganti dan bunga-bungapun berganti, bukankah ini tetap bumi yang sama. Bumi dimana angin itu selalu setia padanya. Selamat Hari Bumi. Salam.

No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Warung Tekko Palembang, Restauran Keluarga Dengan Kearifan Lokal Sumatera Selatan

Siapa yang bisa menolak kelezatan semangkuk Sup Iga yang hangat, pedas dan rasa nampol lezatos ...? Tak ada. Saya, wah jangan ...