Search This Blog

Sunday, March 18, 2012

Seberapa Kuat Karaktermu...?

Tiba-tiba saja pertanyaan itu muncul lagi. Muncul begitu saja saat sebuah sore terbentuk dan secangkir kopi sedang mengepulkan asapnya ke wajah saya. Sesungguhnya, seberapa kuat karaktermu...? Itulah pertanyaannya. Pertanyaan siapa ? Ah, siapa lagi...

Saya tergelak. He, entah harus mulai dari mana. Sebab omongan soal 'Karakter" ini agak kurang sreg buat saya. Bagi saya, karakter itu lebih menggambarkan sikap, juga tabiat. Tetapi akhir-akhir ini jadi digambarkan sebagai sebuah hal yang melekat kuat pada sesuatu (mahluk hidup ataupun tak hidup). Sebuah ciri khas. Sebuah keunikan. Seperti itulah menurut dia.

Dia berkata,
"Sesungguhnya, kau cukup berkarakter..."

Kau yang dia maksudkan adalah saya, huehehehe. Kenapa begitu. Entahlah, katanya saya cukup percaya diri dengan apa yang saya yakini. Saya percaya diri dengan apa yang saya lakukan. Saya percaya diri dengan gaya saya yang seadanya. Mungkin saja. Mungkin juga. Selebihnya, saya kira dia hiperbola. Barangkali pula,  itu hanya sebuah eufimisme untuk menghindari berkata yang sebenarnya  Sebenarnya..., mungkin dia ingin berkata bahwa saya keras kepala. Saya terlalu percaya diri dengan selera saya sendiri. Ya, saya kira begitu, hahahaha.

Begitukah "Karakter" itu ? Entahlah. Istilah karakter memang tidak memiliki bentuk baku. Namanya juga istilah, tergantung situasi dan kondisi. Jika saya suka lalu terpana pada sebuah ruangan yang seolah-olah memanggil-manggil minta dimasuki, maka dalam hati saya berkata 'Ruangan ini berkarakter'. Atau..., saya akan berkata 'Saya suka karakter ruangan ini..'  Nah..., karakter itu hanya soal selera bukan. Omongan menyangkut selera memang tidak punya bentuk baku.   

Maka jika ada yang bertanya pada kita 'Seberapa kuat karaktermu...?' Tidak usah terlalu rumit. Seberapa kuat karakter kita sangat tergantung sebarapa kuat rasa percaya diri kita. Mungkin juga tergantung seberapa keras ego kita. Mungkin. Kitalah yang tau dimana batasnya.

Itulah jawaban yang saya berikan padanya sore itu. Dia hanya tertunduk. Gerakannya melemah. Mungkin dia sedang memikirkan cara menghempaskan rambut saya agar memberi karakter yang dia suka, hehe. Begitulah dia. Kau tau siapa dia ? Ya, angin itu. Angin selatan di sisi kanan saya. Salam. 

No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Menelusuri Rempah/ Bumbu Pada Kuliner Sumatera Selatan

Sumber Foto : faktualnews.com Jika rempah-rempah adalah daya tarik atau pemikat datangnya Portugis dan Belanda ke Indonesia pada zama...