Search This Blog

Saturday, March 17, 2012

Angin Pukul Lima Sore

Jam di dinding itu berdentang lima kali. Tak terelakkan, pukul lima sore tiba disana. Udara lembab. Lembab yang sekaligus pengap. Butir-butir keringat seolah tersumbat di permukaan pori-pori kulitnya. Seperti sumbatan rasa yang menyesakkan dadanya. Sedang dia cuma menatap ke dinding kamar sambil mendesis, lupakan saja...

Entah telah kali ke berapa kata-kata itu terucap dari bibirnya. Entah telah berapa purnama dia benamkan sebuah nama kedalam lubang gelap agar dia tak lagi mengingatnya. Kenyataannya, dia tak pernah benar-benar bisa tak mengingatnya. Meski telah dihalau dan dibuang, tetap saja ingatan padanya ada. Kadang muncul saat gelap telah tiba. Kadang tiba-tiba ada saat dia tersentak dari mimpi yang tak berupa. Kadang muncul pada senyum matahari yang muncul dari balik jendela kamarnya. 

"Beginilah aku..."
"Kadang ingin muncul, kadang ingin  menghilang..."
"Kadang ingin berbanyak-banyak, kadang ingin sendiri.."

 Kata-katanya terngiang lagi. Tepat ketika dia teringat kata-kata itu, tiba-tiba saja dia merasakan tamparan keras di wajahnya disertai suara-suara,

"Bah, kenapakah lagi kau menunggunya, sedang ia sudah berkata bahwa ia begitu... !?"
"Untuk apa menunggu orang yang tak ingin ditunggu....?"

Yah untuk apa ? Ia tergugu sendiri di sudut kamarnya. 

"Sudahlah. Entah harus menunggu atau tak menunggu, lepaskanlah..."
"Ambilah seekor kupu-kupu yang hinggap di bajumu, lalu terbangkan ia..."
"Setelahnya, meski kau suka rupanya, meski kau suka gerakan hinggapnya yang lucu,  lupakan.."
"Tak perlu berumit-rumit kata..."
"Tak tak perlu sebuah alasan untuk menunggu atau tak menunggu..."
"Kau hanya perlu membebaskan diri dari kerumitan..."

Ia kembali tergugu hingga puluhan kata tak berjeda hinggap padanya. Sebab semua titik akan kembali noktahnya semula. Sebab bumi itu bundar. Sebab sebentar lagi senja pasti ditelan kegelapan dan kegelapan akan menjelma menjadi cahaya menyingsing saat fajar tiba. Semua akan kembali pada titik semula. Jadi, bukankah tak ada alasan membiarkan kesesakan dan sumbatan itu...!?

Tepat ketika kata-kata itu memenuhi kepalanya, angin pukul lima sore itu kembali menampar wajahnya. Tamparan yang membuat kedua sudut matanya basah. Entah kenapa.

Begitulah kisah janggal seseorang yang ditampar angin pukul lima sore. Sebab angin pukul lima sore itu sangat istimewa. Ia hanya ada pukul lima sore. Dan, hanya tiba untuk dia. Kenapakah ? Sebab angin itu adalah angin yang cemburu. Begitukah ? Kenapakah ia cemburu ? Tak seorangpun tau. Dia pun tak tau. Mungkin suatu saat angin pukul lima sore itu akan mengatakannya. Kau tunggu saja.

No comments:

Post a Comment

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Menelusuri Rempah/ Bumbu Pada Kuliner Sumatera Selatan

Sumber Foto : faktualnews.com Jika rempah-rempah adalah daya tarik atau pemikat datangnya Portugis dan Belanda ke Indonesia pada zama...