Search This Blog

Tuesday, October 11, 2011

Hujan, Menderaslah...!

Tepat ketika kelopak matanya redup, hujan turun. Deras, deraslah. Muntahkan tangisan langit hingga tetesnya tak lagi bersisa. Maka bumi yang kerontang ini menerima limpahanmu. Persis seperti kepasrahan seorang perempuan sambil ia mendesis,

"Hujan, menderaslah....!

Di sudut itu, seekor kucing meringkukkan bulu. Hawa dingin bercampur limpahan hujan membuatnya terpaksa lari ke lebih sudut. Seorang anak kecil menangis sebab hujan membuatnya mimpi buruk. Ayah, dimana ? tanyanya sambil bermimpi. Perempuan itu hanya terpaku. Tak tau harus menjawab apa kecuali mendesiskan lagi hal yang sama,

"Hujan, menderaslah...!"

Kenapakah ?, sebuah tanya muncul begitu saja. Tak ada jawaban. Tak ada penjelasan. Hanya gumaman yang terdengar samar,

"Sebab hujan membuatku punya alasan tuk segera menarik selimut. Mematikan lampu dan memeluk si kecilku hingga lupa pada segala...."

"Hujan, menderaslah..." gumamnya lagi


Sudahlah. Jangan tanya. Sebab saya tak bisa berkata apa-apa lagi melainkan meninggalkan perempuan itu. Tentu saja melesat dimana angin kan membawa saya.

3 comments:

  1. Msim ujan klo mlm ska kdinganan bu hehe...

    ReplyDelete
  2. assalamualaikum..
    hujan inilah yang kelak membuat kita merindukannya kala kemarau datang lagi
    salam

    ReplyDelete

Tulisan hasil kontemplasi. Mohon maaf, komentarmu perlu saya cerna dulu untuk menghindari riweh dan tidak spam. Terimakasih.

Pesona Labu Kuning, Menjalar di Tanah dan Merambah di Hati Penggemarnya

Sumber Foto : pixabay.com Dalam bayangan saya akan hari tua. Ada sebuah rumah kayu mungil dengan halaman luas. Pada halaman luas itu ...